Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Rabu, 24 Oktober 2012

Relik

 

Relik / Saririka Dhatu


Relik dalam agama Buddha disebut juga Saririka Dhatu. Istilah ini terdiri dari dua kata yaitu: 'Saririka' yang artinya jasmani dan 'Dhatu' yang artinya susunan. Jadi Relik sebenarnya merupakan sisa jasmani dari seseorang yang dipercaya telah mencapai tingkat tertinggi dalam pelaksanaan Ajaran Sang Buddha Gotama. Relik ini bisa merupakan rambut, gigi, kuku, bulu, tulang maupun abus sisa kremasi. 
Relik merupakan suatu realita yang tidak mudah untuk didefinisikan serta sulit dipahami oleh alam pemikiran manusia nan terbatas.
 
Bagaimana terjadinya Relik?
Para pelaksana Buddha Dharma yang tekun dalam mempelajari dan melaksanakan Dharma, khususnya dengna melatih meditasi, mereka akan menggunakan energ pikirannya secara maksimal untuk berkonsentrasi. Akibanya, energi pikiran murni yang mereka pancarkan itu terserap oleh bagian-bagian tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun tubuhnya diliputi oleh energi pikiran yang dahsyat ini. Karena itulah, ketika mereka meninggal dunia, beberapa bagian tubuhnya yang telah banyak menyerap energi ini menjadi berubah bentuk, mengkristal. Inilah yang disebut Relik.

Apakah kelebihan Relik?
Relik, memiliki kekuatan yang sulit untuk diterangkan secara logika pada saat ini. Kekutan Relik juga sulit dicarikan tandingannya. Telah banyak dialami oleh para pemiliknya baha butiran Relik bisa tumbuh lebih besar, warnanya bisa berubah lebih transparan bahkan bisa seperti berlian, bisa bertambah jumlahnya dan bahkan bisa lenyap sama sekali.
Relik yang memiliki energi positif dan suci dipuja oleh para dewa dan manusia. Banyak orang berkeyakinan bahwa dengan memiliki Relik, maka gelombang pancaran energinya akan memberikan kondisi karma baiknya berbuah dalam bentuk lebih mudah memperoleh kesuksesan, kemakmuran, kesembuhan untuk segala penyakit, keselamatan, keseimbangnan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, kebijaksanaan, kebajikan, persaudaraan, kesabaran dengan tekad dan sesuai dengan karmanya masing-masing serta berbagai bentuk kebahagiaan lainnya yang tak terhingga.
 
Bagaimana mengetahui kekuatan Relik?
Seseorang ang mempunyai ketajaman bathin tentunya akan dapat merasakan getaran energi  yang terpancar dari butir relik, bahkan ia pun akan dapat melihat dalam bathinnya cahaya terang Relik tersebut  sesuai dengan sifat pancaran energinya.

Cara menghormati Relik
Umat yang ingin memberikan rasa hormatnya kepada benda peninggalan orang suci ini dapat menaburkan bunga (jenis bunga yang disarankan adalah bunga melati) atau beranjali sambil bertekad sesuai dengan keinginannya atau berdoa: "Semoga semua makhluk hidup berbahagia". Masa sekarang ini juga dikenal adanya Parita Relik untuk menghormati Relik dan Paritta untuk mengundang Relik yang dapat dipanjatkan sesuai dengan keperluan.
 
Parita Relik
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa. (3x)
Aham Vandami Dhatuyo,
Aham Vandami Sabbaso,
Buddhang Dhammang Sanghang,
Evang Dhatuyo Chatari Sa Samma,
Danta. kesa, loma, nakhagi,
chak ahang vandami dhatuyo.

Menghormaat Relik yang ada di alam semesta
Demikian juga relik para suci yang lain.
Buddha Dhamma Sangha
Yang kita hormati ada 4 hal yaitu:
Gigi, Rambut, bulu, kuku,
semua itu yang kami hormati.
Mengundang Relik
Phra Brom Sari rika Dhatu,
Phra Savaka dhatu
Iti pi so Visesei, isese Buddha Namei
Imena Buddha tang so - i
isotang Buddha puti - i.

Selasa, 23 Oktober 2012

Nibbana

Nibbana

Nibbana merupakan sesuatu yang tak dipahami oleh pemikiran biasa. Usaha menjelaskan Nibbana dalam bahasa keduniawian akan mengalami kegagalan, karena Nibbana tidak bersifat duniawi, malah berlawanan. Mengatakan bahwa Nibbana sama dengan ini dan sama dengan itu ibarat menggambarkan kucing sama dengan harimau.

Nibbana bukanhlah kemusnahan. Mungkinkah Sang Buddha meninggalkan kerajaan, istri, anak, dan keluarga hanya untuk mencapai sesuatu yang musnah? Nibbana bukan suatu keberadaan. Nibbana berada di luar keberadaan dan ketidak beradaan, di mana kedua aspek itu bersyarat, mutlak, dan tidak dapat digambarkan sebagai keberadaan maupun ketidak beradaan.

Nibbana ya Nibbana. Sabda Sang Buddha dalam Udana:

"Itulah tempatnya dimana tiada tanah maupun air, tiada api maupun udara, bukan dunia ini pun bukan dunia lain, tanpa matahari maupun bulan. Aku nyatakan pada kalian, disana tidak ada yang datang maupun pergi, tak ada yang tetap maupun timbul, tanpa awal tanpa akhir,tanpa perkembangan, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan yang mutlak.

Saat dalam kedalaman dan keheningan pikiran, Yang Suci Bijaksana mencapai kebenaran, Ia terlepas dari kegembiraan dan rasa sakit, dari yang berbentuk dan tidak berbentuk. Di mana air, tanah, dan udara tidak ditemukan. Tiada bintang maupun matahari yang bersinar, bulan tidak lagi memancarkan cahayanya. Namun, kegelapan tidak ada disana."

Setelah Parinibbana, Sang Tathaghata tidak dapat dikatakan ada, juga tidak dapat dikatakan tidak ada. Tidak dapat pula dikatakan ada baik kedua-duanya ada dan tidak ada. Tidak bisa pula dikatakan ada atau tidak ada. Di dalam Milanda Panha disebutkan, "Tidak di tempat yang terlihat di timur, selatan, barat, atau utara, di atas, di bawah, atau di luar di mana Nibbana berada, walau demikian Nibbana adalah milik orang yang mengatur hidupnya dengan benar, berbicara dengan benar, dan memiliki pengertian benar di manapun dia hidup."

Nibbana bukanlah sesuatu yang tercipta dengan sendirinya, juga bukan sesuatu yang diciptakan.

"Di mana tidak terdapat 4 unsur air, tanah, api, dan angin, di situlah Nibbana."

"Di mana ke-4 unsur yang mengikat, membentang, membakar, dan bergerak tidak lagi ditemukan, di situlah Nibbana."

"Oh, para bhikkhu, seperti sungai-sungai yang mencapai samudra dan derasnya hujan yang jatuh dari langit, tak ada kekurangan atau kelebihan yang dapat teramati pada samudra, demikian pula bahwa banyak para bhikkhu yang memasuki Nibbana tak bersisa, tak ada kekurangan atau kelebihan di dalam Nibbana," kata Sang Buddha.

Dinyatakan dalam Visudhi Maggha:

"Kesedihan memang ada, tak ada yang disedihkan, tidak ada pelaku pelaku di sana, tidak ada hasil perbuatan ditemukan, Nibbana ada, tetapi tak ada si 'pencari'. Jalannya ada, tetapi si penempuh tidak sesungguhnya ada"

Nibbana berada di luar jhana , karena di sana api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin beserta semua gangguan yang menyertai, hambatan dan penderitaan berakhir. Demikianlah, Nibbana sendiri abadi, bahagia, dan patut didambakan Laksana seorang yang menderita penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal, dan Nibbana seperti kebahagiaan saat penyakitnya telah disembuhkan. Kebahagiaan sementara didapatkan ketika ia menggaruk, tetapi kuku yang segera menginfeksi menjadi sebab yang memperpanjang penyakit penyakit tersebut. Seperti itulah kerinduan akan nafsu membawa kepuasan sementara yang akan memperpanjang lingkaran kelahiran kembali.

Begitulah Nibbana di mana 108 kemelekatan, usia tua, penyakit, kematian, penyesalan, rasa sakit, keputusasaan dan kesedihan, dihentikan sepenuhnya. Demikianlah, saat kondisi tertinggi tercapai, kita akan memahami bagaimana kehidupan bahagia yang kita rindukan itu tak pernah diperoleh. Mimpi kita akan berakhir. Tidak akan ada lagi angan-angan. Prahara berakhir. Perjuangan hidup selesai. Proses alamiah akan berhenti. Maka, sang roda kereta kehidupan akan patah. Keinginan untuk hidup berakhir. Dasar sungai akan mengering. Tiada air lagi yang mengalir.

Tidak akan roda yang patah itu bergulir. Inilah akhir kesedihan. Inilah pelepasan akhir. Yang tersisa hanya NIBBANA.

Senin, 22 Oktober 2012

Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha

Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha
 

No
Nama Buddha
Sifat Utama
1
  Tanhankara
  Maha Perwira
2
  Medankara
  Maha Mulia
3
  Saranankara
  Maha Welas-asih
4
  Dipankara
  Cahaya Cemerlang
5
  Kondanna
  Junjungan Manusia
6
  Mangala
  Yang Maha Agung
7
  Sumana
  Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8
  Revata
  Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9
  Sobhita
  Yang Penuh Kebajikan
10
  Anomadassi
  Manusia Utama
11
  Paduma
  Obor Semesta Alam
12   Narada   Pembimbing Yang Tiada Taranya
13   Padumuttara   Makhluk Yang Tiada Taranya
14   Sumedha   Yang Paling Mulia
15   Sujata   Pimpinan Jagad Raya
16   Piyadassi   Maha Junjungan Umat Manusia
17   Atthadassi   Yang Penuh Kasih-sayang
18   Dhammadassi   Penghalau Kegelapan
19   Siddhatta   Yang Tiada bandingnya Didunia
20   Tissa   Pemberi Karunia Yang Utama
21   Phussa   Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22   Vipassi   Yang Tiada Saingannya
23   Sikhi   Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24   Vessabhu   Penyebar Kebahagiaan Sejati
25   Kakusandha (Krakucchanda)   Penunjuk Jalan Para Musafir
26   Konagamana (Kanakamuni)   Yang Berusaha Tanpa Akhir
27   Kassapa (Kasyapa)   Cahaya Sempurna
28   Gotama (Gautama)   Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)
29
  Matteya (Maitreya)
  Yang Penuh Dengan Cinta-kasih

Senin, 08 Oktober 2012

Karma Buruk Dan Homoseksualitas


 Oleh Yang Mulia Bhikkhu George

Bhiksu George (Amerika Serikat) yang berasal dari Amitabha Buddhist Centre memberikan kotbah Dharma tentang Karma dan tumimba lahir pada tanggal 29 Januari 1999 di aula PUB. Pada waktu pembahasan tanya jawab, salah satu dari teman saya bertanya secara tertulis : Apakah dilahirkan berbeda, seperti menjadi homoseksual merupakan karma buruk pada kehidupan masa lampau? Beliau duduk buat seketika, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati hati dan kemudian menjawabnya. Saya telah merangkum pembicaraannya tetapi bukan dicatat kata demi kata melainkan sebaliknya.
 
"Dalam agama Buddha, kita tidak menghakimi atau menilai, kita tidak menilai seseorang dari warna kulit, kebangsaan, atau dengan pilihan seksualitasnya. Bagaimanapun, pada umumnya, kebanyakan kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan ini merupakan akibat yang dihasilkan dari karma buruk yang kita pernah lakukan." Ketika Dalai Lama di Amerika Serikat, banyak sekali reporter yang menanyakan pandangannya terhadap bhiksu yang merupakan gay dan umat Buddha yang gay. 
 
Beliau menjawab mereka: "Sebahagian dari mereka merupakan monogami dan ada sebagian lagi yang ganas, layaknya heteroseksual, pertanyaan berikutnya?" Kita mesti berpengertian bahwa semakin banyak kesulitan yang kita hadapi didalam kehidupan ini, semakin banyak kesempatan bagi kita untuk mempraktekkan kebaikan. Jika seseorang itu sangat senang dan merasa puas akan kehidupannya, maka dia mempunyai sedikit kesempatan untuk mempraktekkan kebajikan. Oleh sebab itu, seseorang yang mempunyai kehidupan yang sulit mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menyadari sifat dasarnya (his true nature) dan mempraktekkan jalan yang benar bila dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kesulitan. 
 
Komentar Bro Kelvin Wong:(Dari Milis Heartland, Singapura) 
Sebenarnya beliau tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tetapi bagaimanapun saya merasa bahwa jawabannya cukup memadai, karena kita perlu berpikir sendiri untuk mendapatan pengertian tentang kebenaran. Walaupun saya tidak berpikir bahwa pandangan Dalai Lama itu begitu liberal, seperti apa yang saya baca. Alasannya cukup mudah karena tidak semua gay mempunyai masalah kehidupannya dengan status seksualitasnya. Ada yang tidak mempunyai begitu banyak masalah karena mereka masih muda, walaupun sebenarnya banyak diantara kita mempunyai masalah tentang itu. 
 
Bagaimana pula dengan masyarakat dimana homoseksuality merupakan bahagian dari kebudayaan, seperti pada masa zaman Yunani kuno? Apakah ketertarikan mereka terhadap pria merupakan hasil dari perbuatan karma buruk? Dapatkah kita berpendapat sama bahwa mengatakan perempuan yang lahir di masyarakat yang mempunyai sistem yang menentukan ayah sebagai kepala keluarga atau di masyarakat yang memiliki sifat patriotik yang berlebihan itu berdasarkan utang dari karma buruk mereka? Jadi apakah karma buruk menciptakan penderitaan bagi setiap wanita? Jadi terlahir sebagai gay tidak selalu merupakan akibat langsung dari buah hasil karma buruk kita ( lebih dari itu). Itu hanya memberikan kesempatan kepada karma buruk yang dilakukan pada kehidupan lalu untuk berbuah pada masyarakat yang seperti ini. 
 
Bagaimanapun, saya berpikir bahwa kita tidak seharusnya terlalu khawatir tentang isu ini karena kita telah berada disini. Itu tidak dapat membantu walaupun kita mengetahui sebab mengapa kita seperti ini, itu lebih penting bila dapat membentuk masa depan kita sekarang. Lebih lanjut, kita sepatutnya bangga karena kita telah membersihkan karma buruk kita, dan meninggalkan karma yang baik agar dapat menerima buahnya dimasa yang akan datang. 
 
Apa yang benar adalah kita mempunyai kesempatan yang lebih untuk mempraktekkan kebajikan. Penderitaan adalah Bodhi dan Bodhi adalah penderitaan. Orang yang mempunyai kehidupan yang baik pada masa sekarang, mungkin sedang menikmati buah dari karma baiknya dari masa lalu. Tetapi bila dia tidak lagi membuat kebajikan (karena dia tidak melihat adanya suatu keperluan untuk berbuat seperti itu).; dia hanya akan menghabiskan buah karma baiknya dan apa yang tertinggal hanya merupakan buah yang buruk. Jadi jangan hanya melihat menjadi gay dari sudut pandang negatif, kita seharusnya senang menjadi gay, memiliki kesempatan yang lebih untuk menjadi orang normal untuk mengerti Dharma.

Ketika Kematian Itu Datang




Judul Asli : The Buddhist View of Death.
Interview dengan Bhante Gunaratana oleh Shramaneri Sudhamma dan Margot Born.
Disadur dan diterjemahkan oleh: Divisi Penterjemah Pusdiklat Buddhis Bodhidharma.

Ketika api kehidupan dan kesadaran tidak lagi eksis, maka itulah yang dinamakan kematian. Kematian dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

1. Ketika karma seseorang telah selesai pada kehidupan ini.
2. Ketika masa hidup seseorang telah selesai pada kehidupan ini.
3. Ketika keduanya, yaitu karma dan masa hidup seseorang telah selesain pada kehidupan ini.
4. Ketika kehidupan berakhir karena kecelakaan dan penyebab yang tidak normal.
Kematian bukanlah akhir dari suatu keberadaan, namun kematian hanyalah menutup satu bab dan membuka bab berikutnya seketika. Kematian dna kelahiran kembali, keduanya selalu terjadi pada saat yang bersamaan.

Terdapat dua macam kematian, yaitu kematian yang bersifat konvensional dan kematian akhir. Kematian konvensional sendiri mempunyai dua sisi yaitu kematian dari waktu ke waktu dan kematian yang sesungguhnya.

Kematian Waktu Ke Waktu Dan Kematian “Sesungguhnya”

Pada kematian dari waktu ke waktu, anda seakan-akan tetap ada, namun pada kenyataan pikiran dan jasmani seperti sel-sel dalam tubuh anda mati setiap saat, dan semua itu diperbaharui – terlahir kembali. Memahami kebenaran ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan diri dari kematian sesungguhnya. Bila kita telah memahaminya, kita akan mengerti bahwa ‘kematian sesungguhnya’ hanyalah tahap berikutnya.

Kita maju selangkah untuk mempersiapkan kematian sesungguhnya dengan memandangnya secara logika. Anda hanya perlun membuka mata dan melihat sekeliling anda. Anda akan melihat pohon-pohon, tumbuhan, dan serangga mati setiap saat. Jika anda hidup selama 40 tahun misalnya dan menghitung jumlah teman, relasi, dan sanak famili yang telah meninggal, seharusnya suatu hari anda duduk dan merenung “Teman-teman saya satu persatu telah meninggal, berikutnya adalah giliran saya.” Jdai itulah cara lain dalam memandang kematian.”

Car lain dalam memandang kematian secara logika adalah memahami baha kit semua erbentuk dari unsur-unsur yang tidak kekal. Kita terbentuk dari tanah, air, api dan udara. Semua elemen-elemen yang membentuk jasmani kita merupakan objek dari ketidakkekalan dan kematian. Jadi aoa yang dihasilkan dari elemen-elemen itu akan menjadi tidak kekal juga. Tidak ada yang dapat menghentikannya.

Mempersiapkan kematian yang penuh damai.

Saat kita memahami kematian sesungguhnya, kita seharusnya berpikir, “Saya akan meninggal, lalu apa yang harus saya banggakan? Saya telah berintimidasi akan kematian, saya tak mempunyai alasan apapun untuk bangga terhadap apapun. Saya tak punya alasan untuk menyimpan dendanm terhadap siapapun. Cepat atau lambat saya akan mati. Saya tak punya alasan apapun untuk menggengam atau mempertahankan sesuatu. Sekuat apapun saya menggengamnya, semuanya akan terlepas juga pada waktunya. Jadi saya pun tidak perlu serakah. Dengan tidak menggengam keserakahan, kematian saya akan lebih damai.”

Langkah berikutnya adalah berpikir, “Saya sadar saya akan mati, saya pikir akan lebih baik bagi saya untuk mati dalam kedamaian, jadi biarlah saya coba mempersiapkannya. Biarkan saya merasakan damai setiap saat.” Namun bukan berarti Anda berbaring di tengah jalan dan menanti truk menggilas Anda, atau meneguk racun ataun memutuskan untuk bunuh diri. Bukan itu caranya mendapatkan kedamaian. Kita harus hidup selama mungkin. Kita harus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Untuk dapat meninggal dengan tenang kita harus mempersiapkan kedamaian pikiran kitaa. Kematian yang damai adalah kematian yang tanpa rasa sakit. Di saat kita bermeditasi, kita mengalami sakit pada fisik, cntohnya sakit pada lutu. Kita dapat menggunakan sakit ini untuk mempersiapkan diri dari rasa sakit di akhir hidup kita. Sakit pada lutut seperti rasa sakit akibat kanker. Saya rasa bila kanker menggerogoti sistem syaraf kita, kita akan selalu dalam kesakitan. Tak peduli apa yang kita coba lakukan, rasa sakit itu tetap ada.

Karena itulah kita harus mempersiapkan pikiran kita dengan melatih meditasi pada perasaan-perasaan yang muncul dan mengendalikannya. Kita harus memperahtikan apa yang kita rasakan, perasaan apapun seperti sakit gigi, sakit pada leher, dan lainnya. Jika kita merasakan rasa sakit itu, kita berkonsentrasi pada rasa sakit tersebut. Ketika rasa sakit itu datang kita fokuskan pada rasa sakit itu. Kita amati ketika rasa sakit itu muncul, memuncak, dan akhirnya berlalu.

Jadi sebelum kematian itu terjadi, kita belajar untuk menerimanmya dan bertahan dalam rasa sakit, mengamati dan tidak marah pada rasa sakit itu. Semakin kita kesal pada rasa sakit itu, semakin kita merasakan sakit itu. Semakin kita rileks, rasa sakit tersebut akan semakin berkurang. Saya mengenal beberapa teman yang meninggal dengan kondisi fisil yang sangat menderita, dengan rasa sakit yang mematikan. Mereka menolak segala macam pengobatan, mereka bahkan menjelaskan penyakitnya pada para pengunjung yang datang untuk memberikan kekuatan, simpati dan belas kasih.

Namun ketika sang pasien dapat mengatasi rasa sakit itu, yang terjadi adalah sebaliknya, sang pasienlah yang akhirnya memberikan pengunjung itu simpati, belas kasih dan kekuatan. Jadi rasa sakit bukanlah penghalang buat seseorang untuk dapat meninggal dengan damai.

Namun pada orang-orang yang tidak dapat mengatasi rasa sakitnya, obat-obatan diperlukan. Namun kita sebaiknya terlebih dahulu meningatkan toleransi terhadap rasa sakit itu dengan mengkondisikan pikiran dan mempersiapkannya menerima rasa sakit fisik tersebut. Kita dapat mengkondisikan pikiran dengan baik dan secara halus mencoba menyaranakan orang tersebut bermeditasi. Kita dapat melantunkan sesuatu yang damai untuk mencoba membantu mereka menenangkan pikiran. Memberi mereka instruksi dalam melakukan meditasi.

Anda ingat seorang ibu yang hendak melahirkan yang sedang merasakan kesakitan, mereka diajarkan untuk berkonsetrasi pada nafas. Mereka mempertahankan irama nafas. Saat mereka mendorong bayi untuk keluar, mereka fokus pada nafas, pada tubuh dan pada dorongan. Kita dapat menggunakan hal tersebut untuk membantu orang yang sekarang karena kesakitan. Ibu-ibu tersebut melahirkan bayinya dengan sedikit ras sakit karena mereka telah terlatih untuk itu. Jadi kita dapat melatih pikiran untuk menerima rasa sakit itu.

Jadi demikianlah, mengapa kita harus melatih pikiran kita. Daripada mengatasi sakit pada fisik terlebih dahulu, sebaiknya kita belajar bagaimana memperlakukan pikiran kita terlebih dahulu. Saat jasmani tenang, pikiran pun tenang, demikian pula sebaliknya. Kedua hal tersebut selalu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Meditasi ditemukan jauh sebelum obat-obatan ditemukan. Namun kini orang-orang tidak lagi memperhatikan cara0cara spiritual, mereka langsung memilih narkotik dan obat-obat penahan sakit yang kemungkinan besar mempunyai efek samping yang sangat berbahaya pada penderita terutama bila digunakan dalam jangka panjang. Cara-cara spiritual tidak akan menimbulkan efek samping, kalaupun ada yaitu akan meningkatkan kualitas hidup Anda, memberikan citarasa yang berbeda bagi hidup Anda. Ketika Anda melewati rasa sakit itu, semua itu akan membawa efek kedamaian.

Ketika seseorang mendekati kematian, mereka seringkali merasa sangat menyesal dan bersalah. Itulah alasan lain bagi seseorang merasa takut akan kematian. Ketika ia tahu bahwa ia akan terlahir kembali, ketika ia sadar bahwa ia telah melakukan banyak kesalahan, semua yang telah ia perbuat selama ini datng bagaikan kilatan-kilatan cahaya. Untuk itulah bagi orang yang penuh cinta kasih, ketika seseorang menjelang kematian, bantulah mereka agar meninggal dengan tenang dengan mengingatkan mereka akan hal-hal yang baik yang pernah mereka lakukan. Cntohnya bagi mereka yang mempunyai anak, kita dapat mengingatkan dia betapa mereka telah berbuat banyak buat sang anak dan juga hal-hal baik lainnya yang mereka lakukan untuk orang lain. Apapun yang ia lakukan, menanam pohon, membersihkan jalan dan lainnya.

Kedua kita dapat meminta mereka untuk membayangkan objek yang penuh damai, seperti sosok Buddha. Cobalah untuk menghalangi semua pikiran-pikiran negatif. Ketiga, bila Anda mengenal para Bhikkhu aatu pendeta, minta mereka datang dan memberikan ceramah. Walaupun selama ini orang tersebut benci akan ceramah tersebut, namun pada saat ini mereka akan mendengarkannya, bahkan dengan sungguh-sungguh, karena sudah tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan.

Kematian Akhir

Anda lelah akan kematian dan kelahiran, dari waktu ke waktu, satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Satu kehidupan dimulai, kehidupan lainnya berakhir. Kita lelah akansemua ini. Lalu kita menginginkan kematian tanpa terlahir kembali.

Kematian akan mengakibatkan kelahiran karena adanya suatu keinginan atau hasrat untuk terlahir kembali. Selama anda memiliki hasrat tersebut, Anda akan terlahir kembali. Bila hasrat tersebut musnah, anda tidak akan terlahir kembali.

Itulah yang akan membawa kita pada tahap akhir pencerahan.

Kematian akhir adalah kematian dari orang yang telah mencapai pencerahan. Mereka mempunyai pemikiran seperti ini, “Baiklah, saya telah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Tidak ada lagi yang harus saya lakukan”. Dengan pikiran seperti ini mereka dapat meninggal kapan saja. Apa yang saya lakukan sekarang mungkin sebagai pekerjaan ekstra sebagai tambahan dari pekerjaan utama saya. Pekerjaan tambahan itu adalah pelayanan kepada dunia ini.

Dalam beberapa kasusu, seseorang masih berhasrat untuk terlahir kembali. Mungkin mereka ingin terlahir di tempat yang lebih baik, jika dia hidup dalam ketentraman, mempunyai seorang istri yang ideal, mungkin dia akan berpikir, “Saya ingin bersama dengan istri saya bahkan dalam kehidupan berikutnya. Saya ingin terlahir kembali dan memiliki kehidupan yang sama seperti yang saya lalui, memiliki kesamaan emosinal, kepuasan spiritual yang membuat hidup ini sangat damai. Jadi, biarkan saya memiliki hidup seperti ini lagi.” Dengan demikian tak peduli betapa mulia orang tersebut, Ia akan memiliki kehidupan yang sama lagi, karena ia masih memiliki hasrat untuk terlahir kembali.

Bagi orang yang telah tercerahkan, mereka bahkan tidak memiliki hasrat. Mereka menyadari bahwa walaupun tercipta secara mental, semua itu adalah Sankhara (Corak-corak mental, terkondisi dan tidak kekal). Apapun jenis sankhara itu, tak peduli begitu sempurnanya itu muncul, tetap adalah tidak kekal. Lebih dari itu, seorang yang telah tercerahkan menyadari bahwa kematian mereka telah berakhir, mereka tidak akan mengalami kematian lagi. Jadi inilah kematian terakhir. Tidak akan ada lagi kelahiran, tidak ada lagi kematian. Tiada ada apapun yang melampaui hal ini. Jadi itulah yang dimaksud “Kematian Akhir”.

(Dikutip dari Majalah Bodhidharma)