Judul Asli : The Buddhist View of
Death.
Interview dengan Bhante Gunaratana oleh Shramaneri Sudhamma dan Margot Born.
Disadur dan diterjemahkan oleh: Divisi Penterjemah Pusdiklat Buddhis
Bodhidharma.
Ketika api
kehidupan dan kesadaran tidak lagi eksis, maka itulah yang dinamakan kematian.
Kematian dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1. Ketika karma seseorang telah selesai pada kehidupan ini.
2. Ketika masa hidup seseorang telah selesai pada kehidupan ini.
3. Ketika keduanya, yaitu karma dan masa hidup seseorang telah selesain pada
kehidupan ini.
4. Ketika kehidupan berakhir karena kecelakaan dan penyebab yang tidak normal.
Kematian bukanlah
akhir dari suatu keberadaan, namun kematian hanyalah menutup satu bab dan
membuka bab berikutnya seketika. Kematian dna kelahiran kembali, keduanya
selalu terjadi pada saat yang bersamaan.
Terdapat dua macam kematian, yaitu kematian yang bersifat konvensional dan
kematian akhir. Kematian konvensional sendiri mempunyai dua sisi yaitu kematian
dari waktu ke waktu dan kematian yang sesungguhnya.
Kematian Waktu Ke Waktu Dan Kematian “Sesungguhnya”
Pada kematian dari waktu ke waktu, anda seakan-akan tetap ada, namun pada
kenyataan pikiran dan jasmani seperti sel-sel dalam tubuh anda mati setiap
saat, dan semua itu diperbaharui – terlahir kembali. Memahami kebenaran ini
adalah langkah penting dalam mempersiapkan diri dari kematian sesungguhnya.
Bila kita telah memahaminya, kita akan mengerti bahwa ‘kematian sesungguhnya’
hanyalah tahap berikutnya.
Kita maju selangkah untuk mempersiapkan kematian sesungguhnya dengan
memandangnya secara logika. Anda hanya perlun membuka mata dan melihat
sekeliling anda. Anda akan melihat pohon-pohon, tumbuhan, dan serangga mati
setiap saat. Jika anda hidup selama 40 tahun misalnya dan menghitung jumlah
teman, relasi, dan sanak famili yang telah meninggal, seharusnya suatu hari
anda duduk dan merenung “Teman-teman saya satu persatu telah meninggal,
berikutnya adalah giliran saya.” Jdai itulah cara lain dalam memandang
kematian.”
Car lain dalam memandang kematian secara logika adalah memahami baha kit semua
erbentuk dari unsur-unsur yang tidak kekal. Kita terbentuk dari tanah, air, api
dan udara. Semua elemen-elemen yang membentuk jasmani kita merupakan objek dari
ketidakkekalan dan kematian. Jadi aoa yang dihasilkan dari elemen-elemen itu
akan menjadi tidak kekal juga. Tidak ada yang dapat menghentikannya.
Mempersiapkan kematian yang penuh damai.
Saat kita memahami kematian sesungguhnya, kita seharusnya berpikir, “Saya akan
meninggal, lalu apa yang harus saya banggakan? Saya telah berintimidasi akan
kematian, saya tak mempunyai alasan apapun untuk bangga terhadap apapun. Saya
tak punya alasan untuk menyimpan dendanm terhadap siapapun. Cepat atau lambat
saya akan mati. Saya tak punya alasan apapun untuk menggengam atau
mempertahankan sesuatu. Sekuat apapun saya menggengamnya, semuanya akan
terlepas juga pada waktunya. Jadi saya pun tidak perlu serakah. Dengan tidak
menggengam keserakahan, kematian saya akan lebih damai.”
Langkah berikutnya adalah berpikir, “Saya sadar saya akan mati, saya pikir akan
lebih baik bagi saya untuk mati dalam kedamaian, jadi biarlah saya coba
mempersiapkannya. Biarkan saya merasakan damai setiap saat.” Namun bukan
berarti Anda berbaring di tengah jalan dan menanti truk menggilas Anda, atau
meneguk racun ataun memutuskan untuk bunuh diri. Bukan itu caranya mendapatkan
kedamaian. Kita harus hidup selama mungkin. Kita harus melakukan apa yang
seharusnya kita lakukan.
Untuk dapat meninggal dengan tenang kita harus mempersiapkan kedamaian pikiran
kitaa. Kematian yang damai adalah kematian yang tanpa rasa sakit. Di saat kita
bermeditasi, kita mengalami sakit pada fisik, cntohnya sakit pada lutu. Kita
dapat menggunakan sakit ini untuk mempersiapkan diri dari rasa sakit di akhir
hidup kita. Sakit pada lutut seperti rasa sakit akibat kanker. Saya rasa bila
kanker menggerogoti sistem syaraf kita, kita akan selalu dalam kesakitan. Tak
peduli apa yang kita coba lakukan, rasa sakit itu tetap ada.
Karena itulah kita harus mempersiapkan pikiran kita dengan melatih meditasi
pada perasaan-perasaan yang muncul dan mengendalikannya. Kita harus
memperahtikan apa yang kita rasakan, perasaan apapun seperti sakit gigi, sakit
pada leher, dan lainnya. Jika kita merasakan rasa sakit itu, kita
berkonsentrasi pada rasa sakit tersebut. Ketika rasa sakit itu datang kita
fokuskan pada rasa sakit itu. Kita amati ketika rasa sakit itu muncul,
memuncak, dan akhirnya berlalu.
Jadi sebelum kematian itu terjadi, kita belajar untuk menerimanmya dan bertahan
dalam rasa sakit, mengamati dan tidak marah pada rasa sakit itu. Semakin kita
kesal pada rasa sakit itu, semakin kita merasakan sakit itu. Semakin kita
rileks, rasa sakit tersebut akan semakin berkurang. Saya mengenal beberapa
teman yang meninggal dengan kondisi fisil yang sangat menderita, dengan rasa
sakit yang mematikan. Mereka menolak segala macam pengobatan, mereka bahkan
menjelaskan penyakitnya pada para pengunjung yang datang untuk memberikan
kekuatan, simpati dan belas kasih.
Namun ketika sang pasien dapat mengatasi rasa sakit itu, yang terjadi adalah
sebaliknya, sang pasienlah yang akhirnya memberikan pengunjung itu simpati,
belas kasih dan kekuatan. Jadi rasa sakit bukanlah penghalang buat seseorang
untuk dapat meninggal dengan damai.
Namun pada orang-orang yang tidak dapat mengatasi rasa sakitnya, obat-obatan
diperlukan. Namun kita sebaiknya terlebih dahulu meningatkan toleransi terhadap
rasa sakit itu dengan mengkondisikan pikiran dan mempersiapkannya menerima rasa
sakit fisik tersebut. Kita dapat mengkondisikan pikiran dengan baik dan secara
halus mencoba menyaranakan orang tersebut bermeditasi. Kita dapat melantunkan
sesuatu yang damai untuk mencoba membantu mereka menenangkan pikiran. Memberi
mereka instruksi dalam melakukan meditasi.
Anda ingat seorang ibu yang hendak melahirkan yang sedang merasakan kesakitan,
mereka diajarkan untuk berkonsetrasi pada nafas. Mereka mempertahankan irama
nafas. Saat mereka mendorong bayi untuk keluar, mereka fokus pada nafas, pada
tubuh dan pada dorongan. Kita dapat menggunakan hal tersebut untuk membantu
orang yang sekarang karena kesakitan. Ibu-ibu tersebut melahirkan bayinya
dengan sedikit ras sakit karena mereka telah terlatih untuk itu. Jadi kita
dapat melatih pikiran untuk menerima rasa sakit itu.
Jadi demikianlah, mengapa kita harus melatih pikiran kita. Daripada mengatasi
sakit pada fisik terlebih dahulu, sebaiknya kita belajar bagaimana
memperlakukan pikiran kita terlebih dahulu. Saat jasmani tenang, pikiran pun
tenang, demikian pula sebaliknya. Kedua hal tersebut selalu saling berhubungan
satu dengan yang lainnya.
Meditasi ditemukan jauh sebelum obat-obatan ditemukan. Namun kini orang-orang
tidak lagi memperhatikan cara0cara spiritual, mereka langsung memilih narkotik
dan obat-obat penahan sakit yang kemungkinan besar mempunyai efek samping yang
sangat berbahaya pada penderita terutama bila digunakan dalam jangka panjang.
Cara-cara spiritual tidak akan menimbulkan efek samping, kalaupun ada yaitu
akan meningkatkan kualitas hidup Anda, memberikan citarasa yang berbeda bagi
hidup Anda. Ketika Anda melewati rasa sakit itu, semua itu akan membawa efek
kedamaian.
Ketika seseorang mendekati kematian, mereka seringkali merasa sangat menyesal
dan bersalah. Itulah alasan lain bagi seseorang merasa takut akan kematian. Ketika
ia tahu bahwa ia akan terlahir kembali, ketika ia sadar bahwa ia telah
melakukan banyak kesalahan, semua yang telah ia perbuat selama ini datng
bagaikan kilatan-kilatan cahaya. Untuk itulah bagi orang yang penuh cinta
kasih, ketika seseorang menjelang kematian, bantulah mereka agar meninggal
dengan tenang dengan mengingatkan mereka akan hal-hal yang baik yang pernah
mereka lakukan. Cntohnya bagi mereka yang mempunyai anak, kita dapat
mengingatkan dia betapa mereka telah berbuat banyak buat sang anak dan juga
hal-hal baik lainnya yang mereka lakukan untuk orang lain. Apapun yang ia
lakukan, menanam pohon, membersihkan jalan dan lainnya.
Kedua kita dapat meminta mereka untuk membayangkan objek yang penuh damai,
seperti sosok Buddha. Cobalah untuk menghalangi semua pikiran-pikiran negatif.
Ketiga, bila Anda mengenal para Bhikkhu aatu pendeta, minta mereka datang dan
memberikan ceramah. Walaupun selama ini orang tersebut benci akan ceramah
tersebut, namun pada saat ini mereka akan mendengarkannya, bahkan dengan
sungguh-sungguh, karena sudah tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan.
Kematian Akhir
Anda lelah akan kematian dan kelahiran, dari waktu ke waktu, satu kehidupan ke
kehidupan berikutnya. Satu kehidupan dimulai, kehidupan lainnya berakhir. Kita lelah
akansemua ini. Lalu kita menginginkan kematian tanpa terlahir kembali.
Kematian akan mengakibatkan kelahiran karena adanya suatu keinginan atau hasrat
untuk terlahir kembali. Selama anda memiliki hasrat tersebut, Anda akan
terlahir kembali. Bila hasrat tersebut musnah, anda tidak akan terlahir
kembali.
Itulah yang akan membawa kita pada tahap akhir pencerahan.
Kematian akhir adalah kematian dari orang yang telah mencapai pencerahan.
Mereka mempunyai pemikiran seperti ini, “Baiklah, saya telah melakukan apa yang
seharusnya saya lakukan. Tidak ada lagi yang harus saya lakukan”. Dengan
pikiran seperti ini mereka dapat meninggal kapan saja. Apa yang saya lakukan
sekarang mungkin sebagai pekerjaan ekstra sebagai tambahan dari pekerjaan utama
saya. Pekerjaan tambahan itu adalah pelayanan kepada dunia ini.
Dalam beberapa kasusu, seseorang masih berhasrat untuk terlahir kembali.
Mungkin mereka ingin terlahir di tempat yang lebih baik, jika dia hidup dalam
ketentraman, mempunyai seorang istri yang ideal, mungkin dia akan berpikir,
“Saya ingin bersama dengan istri saya bahkan dalam kehidupan berikutnya. Saya
ingin terlahir kembali dan memiliki kehidupan yang sama seperti yang saya
lalui, memiliki kesamaan emosinal, kepuasan spiritual yang membuat hidup ini
sangat damai. Jadi, biarkan saya memiliki hidup seperti ini lagi.” Dengan
demikian tak peduli betapa mulia orang tersebut, Ia akan memiliki kehidupan
yang sama lagi, karena ia masih memiliki hasrat untuk terlahir kembali.
Bagi orang yang telah tercerahkan, mereka bahkan tidak memiliki hasrat. Mereka
menyadari bahwa walaupun tercipta secara mental, semua itu adalah Sankhara
(Corak-corak mental, terkondisi dan tidak kekal). Apapun jenis sankhara itu,
tak peduli begitu sempurnanya itu muncul, tetap adalah tidak kekal. Lebih dari
itu, seorang yang telah tercerahkan menyadari bahwa kematian mereka telah
berakhir, mereka tidak akan mengalami kematian lagi. Jadi inilah kematian
terakhir. Tidak akan ada lagi kelahiran, tidak ada lagi kematian. Tiada ada
apapun yang melampaui hal ini. Jadi itulah yang dimaksud “Kematian Akhir”.
(Dikutip dari
Majalah Bodhidharma)