Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)
Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Uttamo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Uttamo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Hidup Selalu Berorganisasi


Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering mendengar kata "organisasi". Istilah "organisasi" itu sendiri berasal dari dua suku kata. Yaitu, "organ" yang berarti bagian dari tubuh dan "sasi" yang berarti tindakan untuk membagi-bagi sesuai dengan kapasitas masing-masing. 

Di dalam suatu masyarakat, organisasi itu mutlak diperlukan. Suatu organisasi adalah milik kehidupan. Jangankan kita manusia yang sudah berbudaya, binatang pun sebetulnya mempunyai organisasi. Misalnya: ada sekelompok gajah maka gajah yang paling hebatlah yang akan menjadi pemimpinnya. Dialah yang akan mengatur gajah-gajah yang lain. Itu adalah suatu organisasi. Kemudian, di dalam kehidupan manusia sehari-hari, misalnya dalam sebuah rumah tangga, itu pun mempunyai organisasi, yang tentu saja disini harus ditunjang oleh komunikasi. Contohnya kalau suatu hari akan datang tamu dari luar kota yang akan menginap di rumah kita, tentu ibu kita (yang dulunya meskipun tidak sempat sekolah) akan mengaturnya, misalnya pembantu A disuruh ke pasar untuk membeli makanan dan minuman, sedangkan pambantu B disuruh menyiapkan kamar dan tempat tidur. Ini sudah merupakan suatu organisasi yaitu pembagian tugas. Tidak mungkin misalnya pembantu B yang bisu yang disuruh ke pasar tetapi pembantu A yang bisa menawar harga dengan baiklah yang akan disuruh ke pasar. Ini sebetulnya adalah organisasi. Dengan demikian setiap masyarakat, baik masyarakat manusia maupun masyarakat binatang mempunyai organisasi.

Suatu vihara juga merupakan suatu organisasi, merupakan suatu masyarakat yang mempunyai tujuan dan cita-cita tertentu. Untuk mengatur jalannya organisasi ini maka dipilihlah seorang ketua beserta seksi-seksinya. Dalam lingkup yang lebih luas, ketua dan seksi-seksi tersebut dapat dibagi lagi sesuai dengan kebutuhan. Di dalam suatu organisasi, seorang ketua sebetulnya berfungsi sebagai perancang. Seorang ketua harus bisa mencetuskan ide-idenya untuk memajukan organisasinya dan bekerjasama dengan seksi-seksi lainnya.

Sebagai umat Buddha, kita harus berpikir realistis! Kunci hidup di dalam agama Buddha adalah "Hidup adalah saat ini!" Tadi pagi (misalnya pukul 10:00), kita memang pernah hidup tetapi kita sudah tidak hidup pada pukul 10:00 tadi pagi. Begitu juga nanti sore, kita akan hidup tetapi belum hidup. Yang hidup adalah saat ini, bukan satu menit yang lalu dan bukan satu menit yang akan datang. Yang penting adalah saat ini, saat inilah kita berjuang semaksimal mungkin! Saya teringat ketika Bhante Paññavaro mengatakan sebuah pepatah bahwa:
"Di dalam kehidupan kita tidak perlu menginginkan jabatan, kita tidak perlu menginginkan pangkat... Tetapi kalau kita sudah diberi jabatan, sudah diberi tanggung-jawab maka kita harus mengerjakannya dengan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi kata "mundur"! pokoknya harus selesai!" 

Kalau kita melihat pada ajaran Sang Buddha, kita akan menemukan bahwa Sang Buddha membagi generasi penerus itu dalam tiga hal, yaitu:
* generasi penerus (anak) yang mempunyai hasil yang sama dengan generasi sebelumnya (orangtua). Misalnya serah-terima antara pengurus vihara yang terdahulu kepada pengurus yang baru. Kepengurusan yang baru menerimanya misalnya dalam kondisi seperti "ini", karpetnya "ini", Buddha rupam-nya juga "ini". Setahun kemudian, pengurus yang "ini" menyerahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan seperti "ini", tidak ada perubahan dan tidak berusaha untuk memperbaiki atau mengembangkan yang sudah ada. Ini adalah generasi penerus yang sama dengan generasi sebelumnya. Tipe generasi penerus seperti ini tidak disarankan oleh Sang Buddha.
* generasi penerus (anak) yang lebih jelek daripada generasi sebelumnya (orangtuanya). Misalnya dalam periode kepengurusan yang sebelumnya, bekas-bekas lem cuma menempel di pintu saja. Setahun kemudian dalam periode kepengurusan yang baru, bekas-bekas lem ternyata sudah ada di semua tembok dan bekas-bekas lilin juga menempel disana-sini. Setahun kemudian diserahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan yang demikian. Jadi dapatnya bagus, diserahkannya lebih jelek! Ini juga tidak disarankan oleh Sang Buddha.
*generasi penerus (anak) yang lebih baik daripada generasi yang sebelumnya (orantuanya). Misalnya: kalau dulu vihara hanya mempunyai sebuah kipas angin maka dalam kepengurusan yang baru sudah diganti dengan AC Split. Kegiatan-kegiatan vihara yang mengarah kepada kemajuan juga terus ditingkatkan, seperti: latihan membaca Dhammapada, yang dulunya hanya dilakukan kalau mau perlombaan dan Waisak saja, sekarang menjadi 2x seminggu, supaya dapat menghasilkan umat Buddha yang bermutu. Jadi harus ada kreativitas! 

Setiap pergantian pengurus, pengurus yang baru hendaknya bisa menentukan targetnya: apakah mau meneruskan, membangun, merusak atau bagaimana? Apalagi kita sudah mendapat sorotan dari luar negeri. Berdasarkan pengamatan beberapa bhikkhu asing yang datang dan meninjau vihara-vihara yang ada di Indonesia, mereka menyimpulkan bahwa Indonesia itu mempunyai vihara yang cukup baik, mempunyai generasi muda yang cukup banyak dan pembinaan bhikkhu yang baik, tetapi sayangnya, belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Vihara hanya dijadikan sebagai pusat pertemuan dan hura-hura, tidak ada minat untuk mendalami dan mempraktekkan Dhamma. Bahkan kita mempunyai kebiasaan kalau sedang banyak problem, baru pergi ke vihara. Jadi umat Buddha di Indonesia ini datang ke vihara hanya untuk hiburan. Padahal ini adalah suatu anggapan atau kebiasaan yang salah.

Berbeda halnya kalau kita melihat di negara-negara Buddhis misalnya Thailand. Pada hari Sabtu atau libur, para generasi muda disana mempunyai kebiasaan untuk datang ke vihara. Dengan pakaian putih-putih, mereka ikut membantu membersihkan vihara, menjalankan athasila, berdiskusi Dhamma dan bermeditasi. Mereka tidak mempunyai anggapan bahwa hari Sabtu dan libur itu adalah hari untuk jalan-jalan, nonton atau hura-hura. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan di benak kita: "Kalau semua generasi muda Buddhis begitu, apakah nanti tidak berat jodoh?" Dari beberapa pengalaman, ternyata mereka yang sering datang ke vihara dan menjalankan athasila itu justru cepat mendapat jodoh. Mengapa demikian? Karena mereka saling bertemu dan berkenalan. Bersama-sama mereka melatih meditasi dan mendengarkan Dhamma, sehingga mereka menjadi akrab satu sama lain. Jadi mereka berpacaran di vihara dengan gaya vihara, tidak lirik-lirikan dan sebagainya. Bahkan mereka mengalami kemajuan batin yang pesat, disamping mendapatkan pasangan hidup.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa vihara bukan sekedar tempat pemujaan begitu saja! Vihara adalah tempat belajar Dhamma. Kalau vihara itu memang tidak ada pelajaran Dhamma, ramainya memang kalau sedang banyak problem/masalah saja. Ternyata vihara adalah tempat pemberian Dhamma dan Dhamma itu diperlukan baik dalam keadaan susah maupun senang. Oleh karena itu, kalau kita bisa mengajak teman-teman kita untuk datang ke vihara, sebetulnya kita telah mempunyai jasa yang besar yaitu memperkenalkan kebenaran kepada mereka yang belum kenal. Terutama bagi mereka yang telah ditunjuk sebagai pengurus suatu vihara.

Kalau kita ditunjuk sebagai pengurus atau ditunjuk untuk menjabat satu jabatan tertentu, sebetulnya kita harus berterima-kasih. Mengapa demikian? Karena kita diberi kesempatan untuk berbuat baik. Dengan kita menjadi pengurus walaupun nanti menyerahkannya kepada pengurus yang berikutnya sama dengan yang kita terima sebelumnya, itupun sudah termasuk berbuat baik yaitu 'melestarikan agama Buddha'. Contohnya kalau Saudara menyelenggarakan kebaktian dan mengundang penceramah, ini sebetulnya adalah berdana Dhamma. Bila ada 5 orang yang mengikuti kebaktian, Saudara sudah berdana Dhamma kepada 5 orang. Apalagi kalau ceramah tersebut dikasetkan dan dijual kemana-mana. Telah dikatakan oleh Sang Buddha bahwa "sabba Danam, Dhamma Danam Jinati" ; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bisa ceramah ataupun menjadi bhikkhu, tetapi dengan Saudara menjadi pengurus yang baik, itu pun sudah termasuk dana Dhamma. Dengan demikian, di dalam agama Buddha segala sesuatunya bisa menjadi konsep untuk mengenalkan Dhamma kepada orang lain, baik melalui seksi bursa (misalnya: ceramah-ceramah yang baik dikasetkan dan dijual), melalui seksi puja bhakti, dll.

Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: "Apakah hal tersebut tidak bertentangan dengan Dhamma?" Tidak! Karena kita tidak menarik mereka untuk menjadi umat Buddha. Kita tidak bertujuan untuk mengisi KTP orang lain dengan agama Buddha tetapi kita menarik mereka untuk mengenal Dhamma/kebenaran. Umpamanya kalau Saya mengatakan bahwa benda ini adalah "meja", semua agama akan mengakui bahwa ini adalah "meja" dan bukan "roti" misalnya. Karena kebenaran itu adalah milik semua orang! Jadi kita mengajak mereka datang ke vihara itu berarti kita mengajak mereka untuk mengerti Dhamma, kebenaran yang tidak dapat ditolak oleh semua orang.

Kebenaran apakah yang tidak bisa ditolak oleh semua orang? Kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh semua orang adalah "Empat Kesunyataan Mulia" bahwa "Hidup adalah dukkha, berkumpul dengan yang dibenci dan berpisah dengan yang dicinta adalah dukkha!" Karena itulah "Empat Kesunyataan Mulia" ini menjadi kurikulum dasar Sang Buddha di dalam mengajarkan Dhamma. Empat Kesunyataan Mulia ini diajarkan pertama kali oleh Sang Buddha ketika Beliau membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta. Selama 45 tahun Sang Buddha mengajar, pada hakekatnya semua mengenai Empat Kesunyataan Mulia. Bahkan hal ini berlangsung sampai sekian tahun pengembangan agama Buddha yang akan datang. Tidak ada yang lain selain Empat Kesunyataan Mulia.

Kalau Saudara mau memperkenalkan agama Buddha kepada orang lain, kenalkanlah dari Empat Kesunyataan Mulia! Karena kalau Saudara mengenalkannya dari sudut tradisi seperti patung, lilin dan dupa; mereka pasti akan menolak. Tetapi kalau dari Empat Kesunyataan Mulia, tidak ada yang bisa menentangnya. Umpamanya duduk di lantai, kita merasa kesemutan. Ini berarti kita berkumpul dengan yang dibenci yaitu kesemutan, dan berpisah dengan yang dicinta yaitu rasa enak duduk di lantai. Ini adalah milik semua orang, bukan milik agama tertentu saja. Hukum Kesunyataan inilah yang kita berikan kepada mereka, karena mereka pun pasti mengalaminya! Tidak mungkin ada makhluk yang tidak pernah mengalami dukkha. Dan Sang Buddha sendiri telah menjelaskan sebab-sebab dukkha dan cara mengatasi dukkha sehingga hidup bisa menjadi lebih bahagia.

Selain mempertahankan umat, kepengurusan suatu vihara perlu mempunyai program untuk memperbanyak umat Buddha, yaitu dengan mengenalkan Dhamma kepada mereka yang belum kenal. Adapun hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan disini adalah:
* teknik promosi
Promosi ini penting sekali! Hendaknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita mempromosikan ajaran Sang Buddha ini kepada masyarakat. Teknik promosi ini ada bermacam-macam, misalnya dengan koran yang merupakan media massa. Umpamanya pada hari Waisak kita membuat artikel mengenai makna Waisak dan kita muat di beberapa media massa sehingga masyarakat bisa mengenal agama Buddha. Itu adalah promosi. Untuk bisa berhasil maka promosinya harus kuat.
* produk jasa
Vihara harus menjadi tempat yang bisa menghasilkan produk jasa, misalnya: untuk latihan baca paritta/Dhammapada, diskusi Dhamma, meditasi, belajar bahasa Inggris, badminton, dsb. Atau ikut melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti; ikut berpartisipasi mengaspal jalan, sehingga lingkungan merasa bahwa umat Buddha juga ada manfaatnya.
*perhatian
Perhatian harus diberikan bukan hanya untuk umat yang ada saja tetapi juga kepada umat yang belum pernah datang maupun yang sudah pernah datang tetapi tidak datang lagi. Mereka yang belum datang/tidak datang lagi, kita ajak untuk datang ke vihara. Mereka yang sudah datang ke vihara juga kita rawat dan kita berikan perhatian. Misalnya: dengan mengadakan acara keakraban, kemping Dhamma, dsb. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai terjadi pengelompokkan-pengelompokkan sehingga mereka yang baru datang juga mempunyai teman. Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman atau tidak diperdulikan, karena ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan di masa yang akan datang mereka tidak mau datang lagi. 

Disinilah letak peranan dan fungsi Dhammaduta. Dhammaduta bukan ditujukan untuk umat di lingkungan vihara saja tetapi lebih luas lagi, misalnya di tempat kost, tetangga, dll. Mereka itulah yang menjadi obyek ke-dhammaduta-an kita! Minimal mereka bisa mengerti Dhamma tanpa menjadi umat Buddha. Oleh karena itu, tugas seorang pengurus sebetulnya adalah melakukan Dana Dhamma. Kalau setiap pengurus dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, sebetulnya pengurus tersebut sudah melakukan Dana Dhamma.

Kalau kita perhatikan riwayat hidup Sang Buddha, sebetulnya ajaran Sang Buddha adalah ajaran yang aktif. Ketika Sang Buddha menyuruh 60 orang Arahat untuk pergi mengajarkan Dhamma, Sang Buddha mengatakan: "... Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama..." Ini berarti kalau pada masa itu terdapat 60 orang Arahat maka juga terdapat 60 tempat. Karena kalau bergabung, itu tidak efisien. Padahal Sang Buddha itu sangat efisien. Bahkan senyum-Nya pun efisien.

Kalau kita mau mengenalkan Dhamma kepada orang lain, itu pun perlu efisien! Supaya efisien, tidak buang-buang waktu; setiap pengurus harus produktif sesuai dengan tanggung-jawabnya. Masing-masing harus menjadi Dhammaduta. Orang yang terdekat dengan kita adalah orang yang menjadi sasaran kita untuk mengenalkan Dhamma.

Selama perjalanan hidup Sang Buddha, Beliau tidak pernah pasif atau hanya menunggu saja. Setiap pagi Beliau mencari dan melihat melalui mata batin-Nya siapa yang hari itu dapat mencapai kesucian. Itu berarti Beliau mengajarkan kita untuk aktif! Kalau kita yang mengaku sebagai muridnya Sang Buddha tidak aktif, maka sebetulnya kita belum menjadi umat Buddha yang sesungguhnya, karena masih menyimpang dari ajaran Sang Buddha.

Begitu juga ketika Sang Buddha telah mencapai kesucian/Nibbana. Beliau berjalan dari Bodhgaya menuju Benares untuk mengajarkan Dhamma kepada 5 orang pertapa yang akan menjadi muridnya. Ketika Sang Buddha selesai ceramah, hanya 1 orang saja yang mencapai kesucian yaitu Bhante Añña Kondañña. Tetapi Sang Buddha tidak putus asa atau membiarkan saja hal tersebut. Beliau kemudian ceramah lagi sehingga Bhante Vappa dan Bhaddiya mencapai kesucian. Kemudian Beliau ceramah lagi sehingga Bhante Mahanama dan Assaji juga mencapai kesucian. Akhirnya kelima pertapa itu semuanya dapat mencapai kesucian. Itu adalah sistem Sang Buddha; dan sebagai murid-murid Sang Buddha, teladan Beliau harus kita ikuti!

Cobalah Saudara mulai merenungkan: "Berapa biji saya mau menanam jagung supaya saya bisa panen banyak?" Kalau Saudara menanamnya cuma satu: pada diri Saudara sendiri; panen jagungnya juga cuma satu. Tetapi kalau Saudara menanamnya banyak: tidak hanya pada diri Saudara sendiri, tetapi juga pada orangtua, pada tetangga, dll.; tanaman jagung Saudara juga banyak, sehingga bila musim kelaparan tiba, Saudara tidak perlu khawatir. Inilah "Sabba Danam, Dhamma Danam Jinati"; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Karena kehidupan itu tidak pasti, kematian itu pasti... tidak ada lagi kesempatan untuk menunda menanam kebajikan! Kita jangan hanya menunggu! Ingatlah bahwa waktu itu sangat pendek. Hidup adalah SAAT INI, bukan yang telah lampau dan bukan pula yang akan datang. Karena itu, "Saat ini" harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kalau Saudara ditunjuk sebagai pengurus, janganlah Saudara berpikir: "Kenapa harus saya?" tetapi justru Saudara harus berpikir sebaliknya: "Untung saya yang diberi kepercayaan... Untung saya yang diberi kesempatan untuk berbuat baik!" Jadilah pengurus yang lebih baik daripada pengurus yang sebelumnya! Ciptakanlah suatu kondisi supaya Dhamma menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh umat Buddha. Jangan sampai mereka mempunyai konsep bahwa datang ke vihara itu kalau sedang kesusahan saja. Karena sebetulnya setiap segi kehidupan itu adalah Dhamma!

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering mendengar kata "organisasi". Istilah "organisasi" itu sendiri berasal dari dua suku kata. Yaitu, "organ" yang berarti bagian dari tubuh dan "sasi" yang berarti tindakan untuk membagi-bagi sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Di dalam suatu masyarakat, organisasi itu mutlak diperlukan. Suatu organisasi adalah milik kehidupan. Jangankan kita manusia yang sudah berbudaya, binatang pun sebetulnya mempunyai organisasi. Misalnya: ada sekelompok gajah maka gajah yang paling hebatlah yang akan menjadi pemimpinnya. Dialah yang akan mengatur gajah-gajah yang lain. Itu adalah suatu organisasi. Kemudian, di dalam kehidupan manusia sehari-hari, misalnya dalam sebuah rumah tangga, itu pun mempunyai organisasi, yang tentu saja disini harus ditunjang oleh komunikasi. Contohnya kalau suatu hari akan datang tamu dari luar kota yang akan menginap di rumah kita, tentu ibu kita (yang dulunya meskipun tidak sempat sekolah) akan mengaturnya, misalnya pembantu A disuruh ke pasar untuk membeli makanan dan minuman, sedangkan pambantu B disuruh menyiapkan kamar dan tempat tidur. Ini sudah merupakan suatu organisasi yaitu pembagian tugas. Tidak mungkin misalnya pembantu B yang bisu yang disuruh ke pasar tetapi pembantu A yang bisa menawar harga dengan baiklah yang akan disuruh ke pasar. Ini sebetulnya adalah organisasi. Dengan demikian setiap masyarakat, baik masyarakat manusia maupun masyarakat binatang mempunyai organisasi.

Suatu vihara juga merupakan suatu organisasi, merupakan suatu masyarakat yang mempunyai tujuan dan cita-cita tertentu. Untuk mengatur jalannya organisasi ini maka dipilihlah seorang ketua beserta seksi-seksinya. Dalam lingkup yang lebih luas, ketua dan seksi-seksi tersebut dapat dibagi lagi sesuai dengan kebutuhan. Di dalam suatu organisasi, seorang ketua sebetulnya berfungsi sebagai perancang. Seorang ketua harus bisa mencetuskan ide-idenya untuk memajukan organisasinya dan bekerjasama dengan seksi-seksi lainnya.

Sebagai umat Buddha, kita harus berpikir realistis! Kunci hidup di dalam agama Buddha adalah "Hidup adalah saat ini!" Tadi pagi (misalnya pukul 10:00), kita memang pernah hidup tetapi kita sudah tidak hidup pada pukul 10:00 tadi pagi. Begitu juga nanti sore, kita akan hidup tetapi belum hidup. Yang hidup adalah saat ini, bukan satu menit yang lalu dan bukan satu menit yang akan datang. Yang penting adalah saat ini, saat inilah kita berjuang semaksimal mungkin! Saya teringat ketika Bhante Paññavaro mengatakan sebuah pepatah bahwa:
"Di dalam kehidupan kita tidak perlu menginginkan jabatan, kita tidak perlu menginginkan pangkat... Tetapi kalau kita sudah diberi jabatan, sudah diberi tanggung-jawab maka kita harus mengerjakannya dengan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi kata "mundur"! pokoknya harus selesai!" 

Kalau kita melihat pada ajaran Sang Buddha, kita akan menemukan bahwa Sang Buddha membagi generasi penerus itu dalam tiga hal, yaitu:
* generasi penerus (anak) yang mempunyai hasil yang sama dengan generasi sebelumnya (orangtua). Misalnya serah-terima antara pengurus vihara yang terdahulu kepada pengurus yang baru. Kepengurusan yang baru menerimanya misalnya dalam kondisi seperti "ini", karpetnya "ini", Buddha rupam-nya juga "ini". Setahun kemudian, pengurus yang "ini" menyerahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan seperti "ini", tidak ada perubahan dan tidak berusaha untuk memperbaiki atau mengembangkan yang sudah ada. Ini adalah generasi penerus yang sama dengan generasi sebelumnya. Tipe generasi penerus seperti ini tidak disarankan oleh Sang Buddha.
* generasi penerus (anak) yang lebih jelek daripada generasi sebelumnya (orangtuanya). Misalnya dalam periode kepengurusan yang sebelumnya, bekas-bekas lem cuma menempel di pintu saja. Setahun kemudian dalam periode kepengurusan yang baru, bekas-bekas lem ternyata sudah ada di semua tembok dan bekas-bekas lilin juga menempel disana-sini. Setahun kemudian diserahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan yang demikian. Jadi dapatnya bagus, diserahkannya lebih jelek! Ini juga tidak disarankan oleh Sang Buddha.
*generasi penerus (anak) yang lebih baik daripada generasi yang sebelumnya (orantuanya). Misalnya: kalau dulu vihara hanya mempunyai sebuah kipas angin maka dalam kepengurusan yang baru sudah diganti dengan AC Split. Kegiatan-kegiatan vihara yang mengarah kepada kemajuan juga terus ditingkatkan, seperti: latihan membaca Dhammapada, yang dulunya hanya dilakukan kalau mau perlombaan dan Waisak saja, sekarang menjadi 2x seminggu, supaya dapat menghasilkan umat Buddha yang bermutu. Jadi harus ada kreativitas! 

Setiap pergantian pengurus, pengurus yang baru hendaknya bisa menentukan targetnya: apakah mau meneruskan, membangun, merusak atau bagaimana? Apalagi kita sudah mendapat sorotan dari luar negeri. Berdasarkan pengamatan beberapa bhikkhu asing yang datang dan meninjau vihara-vihara yang ada di Indonesia, mereka menyimpulkan bahwa Indonesia itu mempunyai vihara yang cukup baik, mempunyai generasi muda yang cukup banyak dan pembinaan bhikkhu yang baik, tetapi sayangnya, belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Vihara hanya dijadikan sebagai pusat pertemuan dan hura-hura, tidak ada minat untuk mendalami dan mempraktekkan Dhamma. Bahkan kita mempunyai kebiasaan kalau sedang banyak problem, baru pergi ke vihara. Jadi umat Buddha di Indonesia ini datang ke vihara hanya untuk hiburan. Padahal ini adalah suatu anggapan atau kebiasaan yang salah.

Berbeda halnya kalau kita melihat di negara-negara Buddhis misalnya Thailand. Pada hari Sabtu atau libur, para generasi muda disana mempunyai kebiasaan untuk datang ke vihara. Dengan pakaian putih-putih, mereka ikut membantu membersihkan vihara, menjalankan athasila, berdiskusi Dhamma dan bermeditasi. Mereka tidak mempunyai anggapan bahwa hari Sabtu dan libur itu adalah hari untuk jalan-jalan, nonton atau hura-hura. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan di benak kita: "Kalau semua generasi muda Buddhis begitu, apakah nanti tidak berat jodoh?" Dari beberapa pengalaman, ternyata mereka yang sering datang ke vihara dan menjalankan athasila itu justru cepat mendapat jodoh. Mengapa demikian? Karena mereka saling bertemu dan berkenalan. Bersama-sama mereka melatih meditasi dan mendengarkan Dhamma, sehingga mereka menjadi akrab satu sama lain. Jadi mereka berpacaran di vihara dengan gaya vihara, tidak lirik-lirikan dan sebagainya. Bahkan mereka mengalami kemajuan batin yang pesat, disamping mendapatkan pasangan hidup.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa vihara bukan sekedar tempat pemujaan begitu saja! Vihara adalah tempat belajar Dhamma. Kalau vihara itu memang tidak ada pelajaran Dhamma, ramainya memang kalau sedang banyak problem/masalah saja. Ternyata vihara adalah tempat pemberian Dhamma dan Dhamma itu diperlukan baik dalam keadaan susah maupun senang. Oleh karena itu, kalau kita bisa mengajak teman-teman kita untuk datang ke vihara, sebetulnya kita telah mempunyai jasa yang besar yaitu memperkenalkan kebenaran kepada mereka yang belum kenal. Terutama bagi mereka yang telah ditunjuk sebagai pengurus suatu vihara.

Kalau kita ditunjuk sebagai pengurus atau ditunjuk untuk menjabat satu jabatan tertentu, sebetulnya kita harus berterima-kasih. Mengapa demikian? Karena kita diberi kesempatan untuk berbuat baik. Dengan kita menjadi pengurus walaupun nanti menyerahkannya kepada pengurus yang berikutnya sama dengan yang kita terima sebelumnya, itupun sudah termasuk berbuat baik yaitu 'melestarikan agama Buddha'. Contohnya kalau Saudara menyelenggarakan kebaktian dan mengundang penceramah, ini sebetulnya adalah berdana Dhamma. Bila ada 5 orang yang mengikuti kebaktian, Saudara sudah berdana Dhamma kepada 5 orang. Apalagi kalau ceramah tersebut dikasetkan dan dijual kemana-mana. Telah dikatakan oleh Sang Buddha bahwa "sabba Danam, Dhamma Danam Jinati" ; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bisa ceramah ataupun menjadi bhikkhu, tetapi dengan Saudara menjadi pengurus yang baik, itu pun sudah termasuk dana Dhamma. Dengan demikian, di dalam agama Buddha segala sesuatunya bisa menjadi konsep untuk mengenalkan Dhamma kepada orang lain, baik melalui seksi bursa (misalnya: ceramah-ceramah yang baik dikasetkan dan dijual), melalui seksi puja bhakti, dll.

Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: "Apakah hal tersebut tidak bertentangan dengan Dhamma?" Tidak! Karena kita tidak menarik mereka untuk menjadi umat Buddha. Kita tidak bertujuan untuk mengisi KTP orang lain dengan agama Buddha tetapi kita menarik mereka untuk mengenal Dhamma/kebenaran. Umpamanya kalau Saya mengatakan bahwa benda ini adalah "meja", semua agama akan mengakui bahwa ini adalah "meja" dan bukan "roti" misalnya. Karena kebenaran itu adalah milik semua orang! Jadi kita mengajak mereka datang ke vihara itu berarti kita mengajak mereka untuk mengerti Dhamma, kebenaran yang tidak dapat ditolak oleh semua orang.
Kebenaran apakah yang tidak bisa ditolak oleh semua orang? Kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh semua orang adalah "Empat Kesunyataan Mulia" bahwa "Hidup adalah dukkha, berkumpul dengan yang dibenci dan berpisah dengan yang dicinta adalah dukkha!" Karena itulah "Empat Kesunyataan Mulia" ini menjadi kurikulum dasar Sang Buddha di dalam mengajarkan Dhamma. Empat Kesunyataan Mulia ini diajarkan pertama kali oleh Sang Buddha ketika Beliau membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta. Selama 45 tahun Sang Buddha mengajar, pada hakekatnya semua mengenai Empat Kesunyataan Mulia. Bahkan hal ini berlangsung sampai sekian tahun pengembangan agama Buddha yang akan datang. Tidak ada yang lain selain Empat Kesunyataan Mulia.

Kalau Saudara mau memperkenalkan agama Buddha kepada orang lain, kenalkanlah dari Empat Kesunyataan Mulia! Karena kalau Saudara mengenalkannya dari sudut tradisi seperti patung, lilin dan dupa; mereka pasti akan menolak. Tetapi kalau dari Empat Kesunyataan Mulia, tidak ada yang bisa menentangnya. Umpamanya duduk di lantai, kita merasa kesemutan. Ini berarti kita berkumpul dengan yang dibenci yaitu kesemutan, dan berpisah dengan yang dicinta yaitu rasa enak duduk di lantai. Ini adalah milik semua orang, bukan milik agama tertentu saja. Hukum Kesunyataan inilah yang kita berikan kepada mereka, karena mereka pun pasti mengalaminya! Tidak mungkin ada makhluk yang tidak pernah mengalami dukkha. Dan Sang Buddha sendiri telah menjelaskan sebab-sebab dukkha dan cara mengatasi dukkha sehingga hidup bisa menjadi lebih bahagia.

Selain mempertahankan umat, kepengurusan suatu vihara perlu mempunyai program untuk memperbanyak umat Buddha, yaitu dengan mengenalkan Dhamma kepada mereka yang belum kenal. Adapun hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan disini adalah:
* teknik promosi
Promosi ini penting sekali! Hendaknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita mempromosikan ajaran Sang Buddha ini kepada masyarakat. Teknik promosi ini ada bermacam-macam, misalnya dengan koran yang merupakan media massa. Umpamanya pada hari Waisak kita membuat artikel mengenai makna Waisak dan kita muat di beberapa media massa sehingga masyarakat bisa mengenal agama Buddha. Itu adalah promosi. Untuk bisa berhasil maka promosinya harus kuat.
* produk jasa
Vihara harus menjadi tempat yang bisa menghasilkan produk jasa, misalnya: untuk latihan baca paritta/Dhammapada, diskusi Dhamma, meditasi, belajar bahasa Inggris, badminton, dsb. Atau ikut melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti; ikut berpartisipasi mengaspal jalan, sehingga lingkungan merasa bahwa umat Buddha juga ada manfaatnya.
*perhatian
Perhatian harus diberikan bukan hanya untuk umat yang ada saja tetapi juga kepada umat yang belum pernah datang maupun yang sudah pernah datang tetapi tidak datang lagi. Mereka yang belum datang/tidak datang lagi, kita ajak untuk datang ke vihara. Mereka yang sudah datang ke vihara juga kita rawat dan kita berikan perhatian. Misalnya: dengan mengadakan acara keakraban, kemping Dhamma, dsb. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai terjadi pengelompokkan-pengelompokkan sehingga mereka yang baru datang juga mempunyai teman. Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman atau tidak diperdulikan, karena ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan di masa yang akan datang mereka tidak mau datang lagi. 

Disinilah letak peranan dan fungsi Dhammaduta. Dhammaduta bukan ditujukan untuk umat di lingkungan vihara saja tetapi lebih luas lagi, misalnya di tempat kost, tetangga, dll. Mereka itulah yang menjadi obyek ke-dhammaduta-an kita! Minimal mereka bisa mengerti Dhamma tanpa menjadi umat Buddha. Oleh karena itu, tugas seorang pengurus sebetulnya adalah melakukan Dana Dhamma. Kalau setiap pengurus dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, sebetulnya pengurus tersebut sudah melakukan Dana Dhamma.

Kalau kita perhatikan riwayat hidup Sang Buddha, sebetulnya ajaran Sang Buddha adalah ajaran yang aktif. Ketika Sang Buddha menyuruh 60 orang Arahat untuk pergi mengajarkan Dhamma, Sang Buddha mengatakan: "... Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama..." Ini berarti kalau pada masa itu terdapat 60 orang Arahat maka juga terdapat 60 tempat. Karena kalau bergabung, itu tidak efisien. Padahal Sang Buddha itu sangat efisien. Bahkan senyum-Nya pun efisien.

Kalau kita mau mengenalkan Dhamma kepada orang lain, itu pun perlu efisien! Supaya efisien, tidak buang-buang waktu; setiap pengurus harus produktif sesuai dengan tanggung-jawabnya. Masing-masing harus menjadi Dhammaduta. Orang yang terdekat dengan kita adalah orang yang menjadi sasaran kita untuk mengenalkan Dhamma.

Selama perjalanan hidup Sang Buddha, Beliau tidak pernah pasif atau hanya menunggu saja. Setiap pagi Beliau mencari dan melihat melalui mata batin-Nya siapa yang hari itu dapat mencapai kesucian. Itu berarti Beliau mengajarkan kita untuk aktif! Kalau kita yang mengaku sebagai muridnya Sang Buddha tidak aktif, maka sebetulnya kita belum menjadi umat Buddha yang sesungguhnya, karena masih menyimpang dari ajaran Sang Buddha.

Begitu juga ketika Sang Buddha telah mencapai kesucian/Nibbana. Beliau berjalan dari Bodhgaya menuju Benares untuk mengajarkan Dhamma kepada 5 orang pertapa yang akan menjadi muridnya. Ketika Sang Buddha selesai ceramah, hanya 1 orang saja yang mencapai kesucian yaitu Bhante Añña Kondañña. Tetapi Sang Buddha tidak putus asa atau membiarkan saja hal tersebut. Beliau kemudian ceramah lagi sehingga Bhante Vappa dan Bhaddiya mencapai kesucian. Kemudian Beliau ceramah lagi sehingga Bhante Mahanama dan Assaji juga mencapai kesucian. Akhirnya kelima pertapa itu semuanya dapat mencapai kesucian. Itu adalah sistem Sang Buddha; dan sebagai murid-murid Sang Buddha, teladan Beliau harus kita ikuti!

Cobalah Saudara mulai merenungkan: "Berapa biji saya mau menanam jagung supaya saya bisa panen banyak?" Kalau Saudara menanamnya cuma satu: pada diri Saudara sendiri; panen jagungnya juga cuma satu. Tetapi kalau Saudara menanamnya banyak: tidak hanya pada diri Saudara sendiri, tetapi juga pada orangtua, pada tetangga, dll.; tanaman jagung Saudara juga banyak, sehingga bila musim kelaparan tiba, Saudara tidak perlu khawatir. Inilah "Sabba Danam, Dhamma Danam Jinati"; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Karena kehidupan itu tidak pasti, kematian itu pasti... tidak ada lagi kesempatan untuk menunda menanam kebajikan! Kita jangan hanya menunggu! Ingatlah bahwa waktu itu sangat pendek. Hidup adalah SAAT INI, bukan yang telah lampau dan bukan pula yang akan datang. Karena itu, "Saat ini" harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kalau Saudara ditunjuk sebagai pengurus, janganlah Saudara berpikir: "Kenapa harus saya?" tetapi justru Saudara harus berpikir sebaliknya: "Untung saya yang diberi kepercayaan... Untung saya yang diberi kesempatan untuk berbuat baik!" Jadilah pengurus yang lebih baik daripada pengurus yang sebelumnya! Ciptakanlah suatu kondisi supaya Dhamma menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh umat Buddha. Jangan sampai mereka mempunyai konsep bahwa datang ke vihara itu kalau sedang kesusahan saja. Karena sebetulnya setiap segi kehidupan itu adalah Dhamma!

Selasa, 08 Maret 2011

Berdana Dengan Pengertian




Berdana Dengan Pengertian
Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera
 

Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian 'bersih' disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. 'Barang bersih' artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana.... Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian 'bersih' disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. 'Barang bersih' artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana.... Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.samaggi-phala.or.id ]