Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)
Tampilkan postingan dengan label dasar agama Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dasar agama Buddha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2015

Fanatisme dan Keyakinan (Saddha)




Fanatisme dan Keyakinan (Saddha)





Ini adalah salah satu topik yang dalam aplikasinya masih sangat rancu. Kerancuan itu dapat terjadi karena batas diantara keduanya sangat tipis, namun bila yang satu menuju ke sebuah kebaikan maka yang lainnya akan memberikan sebuah kerugian besar. Tulisan ini didasarkan pada sabda-sabda Sang Buddha sebagaimana tercantum di dalam kitab suci Tripitaka namun dengan bahasa yang sederhana sesuai kapasitas pemahaman pribadi saya.

Keyakinan yang dinamakan Saddha, adalah iman atau kepercayaan yang berdasarkan kebijaksanaan. Keyakinan dalam ajaran Sang Buddha bukan berdasarkan atas rasa percaya semata atau bahkan rasa takut, tapi keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan (ehipassiko). Kegembiraan tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang hanya memiliki keyakinan yang didasari atas rasa takut atau karena kepercayaan yang membuta. Karena sesungguhnya kegembiraan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki pengertian benar dan kebijaksanaan.

Seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha bahwa seseorang yang bermoral dan berwatak baik akan belajar bahwa demikianlah seharusnya cara hidup seorang siswa yang mematahkan kecenderungan buruk, mencapai kesempurnaan lewat jalan kebijaksanaan dan pemusatan pikiran bersih dari dorongan yang keliru .Setelah ia sendiri memahami dan menyadari akan tujuan yang lebih luhur dari hidup ini, lalu berpikir untuk melaksanakannya sendiri (Puggala-Pannatti, III, 1). Sariputra (salah seorang siswa utama Sang Buddha) juga mengungkapkan bahwa keyakinan yang baik itu harus diuji dengan mengendalikan indra. Dengan keyakinan ini, semangat, kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan berkembang terus menerus. "Sebelumnya aku hanya mendengar hal-hal ini, sekarang aku hidup dengan mengalaminya sendiri. Kini dengan pengetahuan yang dalam aku menembusnya dan membuktikan secara jelas" (Samyutta Nikaya . V, 226).

Setelah melihat uraian di atas, kita sudah mengetahui bahwa Saddha adalah sebuah keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan dengan pengertian yang benar serta penuh kebijaksanaan. Iman semacam itu dikategorikan sebagai iman yang rasional (akaravati-saddha). Sebuah iman yang dewasa tentu saja akan berbeda dengan iman yang kekanak-kanakan atau membuta. Iman yang kekanak-kanakan atau membuta inilah yang dikenal sebagai Fanatisme. Sang Buddha juga pernah menyampaikan bahwa seseorang yang kuat dalam keyakinan tetapi lemah dalam kebijaksanaan akan memiliki keyakinan yang fanatik dan tanpa dasar.

Sedangkan seseorang yang kuat dalam kebijaksanaan tetapi lemah dalam keyakinan akan mengetahui bahwa ia bersalah jika berbuat kejahatan, tetapi sulit untuk menyembuhkannya bagaikan seseorang yang penyakitnya disebabkan oleh si obat sendiri. Bila keduanya seimbang, seseorang akan memiliki keyakinan hanya bila ada dasarnya (Visuddhimagga. 129).

Dalam Brahmajala-sutta tercatat bagaimana Sang Buddha mengajarkan siswanya agar bersikap kritis terhadap penganutan agama Buddha sendiri: "Para Bhikkhu, jika ada orang berbicara menentang aku, atau menentang Dharma atau menentang Sangha, janganlah karena hal itu engkau menjadi marah, benci, atau menaruh dendam. Jika engkau merasa tersinggung dan sakit hati, hal itu akan menghalangi perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika engkau merasa jengkel dan marah ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang menentang kita, bagaimana engkau dapat menilai sejauh mana ucapannya itu benar atau salah?... Jika ada orang yang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Aku, atau Dharma atau Sangha, engkau harus menjelaskan apa yang keliru dan menunjukkan kesalahannya dengan menyatakan berdasarkan hal ini atau itu, tidak benar, itu bukan begitu, hal demikian tidak diketemukan di antara kami dan bukan pada kami. Sebaliknya pula, Bhikkhu, jika orang lain memuji Aku, memuji Dharma, memuji Sangha, janganlah karena hal tersebut engkau merasa senang atau bangga atau tinggi hati. Jika engkau bersikap demikian maka hal itu itu pun akan menghalangi perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika orang lain memuji Aku, atau Dharma atau Sangha, maka engkau harus membuktikan kebenaran dari apa yang diucapkan dengan menyatakan berdasar hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian terdapat di antara kami, ada pada kami" (Digha-Nikaya. I, 3).

Setelah membaca semua sabda-sabda Sang Buddha di atas, apa yang sekarang muncul di dalam benak anda sekalian? Bagi saya pribadi, ajaran Sang Buddha lebih menitik-beratkan pada pengembangan religiusitas mental dan batin kita ketimbang sebuah keberAGAMAan. Sebagaimana dikatakan oleh Bodhidharma, bahwa Buddha tak dapat ditemukan dalam kitab suci. Ia mengajarkan untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dengan kesadaran dan kesucian yang sempurna, karena di situlah kita akan bertemu dengan Buddha. Mungkin banyak diantara anda yang sering melihat orang-orang di sekeliling anda yang kuat menganut agamanya secara lahiriah, tapi tidak seiring dengan perkembangan religiusitas mental dan batinnya. Orang bisa saja sangat taat beribadah, namun di dalam rumahnya ia menyiksa istrinya dan di luar rumahnya ia seorang lintah darat.

Boleh jadi orang gigih menganut agama dengan motivasi tertentu seperti dagang, karier atau tuntutan calon mertua. Orang yang militan dalam kegiatan organisasi agama, namun mengobarkan kebencian dan permusuhan, tidak peduli dengan kesulitan orang lain, tidak jujur, tidak adil, tentunya tidak religius. Sebaliknya ada orang yang tidak begitu cermat menaati aturan agama (bukan mengenai nilai moral yang universal) atau bahkan ia juga tidak mengenal agama sama sekali, namun ia cinta pada kebenaran, lurus, tidak munafik, tidak egois, tidak serakah dan suka menolong, maka ia bisa disebut religius.

Jadi sekarang pilihan berada di tangan anda. Karena sesungguhnya Sang Buddha sudah membabarkan secara lengkap dan sempurna mengenai perbedaan antara Saddha & Fanatisme.

Artikel ini sendiri bersumber dari tulisan Bapak Khrisnanda Wijaya-Mukti dalam bukunya yang sangat indah dan berjudul
"Wacana Buddha-Dharma". Buku tersebut dan juga nasehat mama saya, telah sangat banyak membantu saya keluar dari kesalahan pandangan saya sebagai seorang siswa Sang Buddha. Saya sendiri mengenal Buddha-Dharma pada tahun 1997 (kemudian menerima Tisarana & Pancasila pada tahun yang sama). Namun bukan kedamaian yang saya temukan akan tetapi "debat kusir" yang tak perlu serta berkepanjangan dengan famili dan para sahabat yang kebetulan non-Buddhis.

Puncaknya adalah tahun 2003, saat saya mendapat kesempatan menjadi seorang Dharmaduta, karena pada saat itu saya justru lebih banyak melakukan ADharma (dengan cara melakukan musavada tentang keyakinan-keyakinan selain Buddhis kepada para umat). Nasihat mama saya pun hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Tahun 2004 saya mendapatkan buku yang sangat berharga itu, yang juga kemudian menyadarkan saya akan kebenaran nasehat mama saya selama ini. Seperti Angulimala, saya akhirnya membuang "pedang" saya dan menggantinya dengan sebuah teratai kebenaran. Keindahan lain yang saya rasakan adalah saat saya bisa mengenalkan Buddha-Dharma kepada rekan-rekan non-Buddhis, karena kini saya datang kepada mereka dengan kedamaian.

Teman-teman sekalian, jadikan Buddha-Dharma sebagai pembebasmu dan bukan sebagai belenggumu, karena sesungguhnya Sang Buddha pun juga sudah menguraikan bahwasanya kebanggaan berlebihan (beragama Buddha) juga adalah salah satu penghalang kita dalam mencapai kemenangan (Nibbana). Selamat berbuat kebajikan dan semoga semua mahkluk selalu hidup berbahagia, Saddhu.

(Refernsi Buku "Wacana Buddha-Dharma" karya Bapak Krishnanda Wijaya-Mukti)

Kamis, 27 Maret 2014

INTISARI AGAMA BUDDHA : Kamma atau Hukum Sebab Akibat

INTISARI AGAMA BUDDHA

Merupakan karya tulis Ven. Narada Mahathera
dengan judul asli “ Buddhism in Nutshell.”
Penerbit : Yayasan Dhamma Phala, Semarang

KAMMA ATAU HUKUM SEBAB AKIBAT

Dunia telah membuktikan kenyataan yang telah kita lihat ketidak seimbangan itu. Kita menyaksikan perbedaan – perbedaan berbagai macam jalan kehidupan serta tingkah laku makhluk – makhluk yang hidup di alam semesta. Kita dapat melihat seseorang dilahirkan dalam keadaan berlebihan, dikarunia dengan pikiran, kepribadian dan tubuh yang sempurna ; sedangkan orang lain dilahirkan dalam keadaan sengsara dan menyedihkan. Bisa terjadi orang yang bajik dan saleh selalu bernasib buruk. Ia tetap miskin dan sengsara meskipun ia selalu berlaku jujur dan bajik. Sebaliknya, ada orang lain yang berwatak jahat, kejam dan korup, tetapi selalu mujur, dikaruniai dengan segala bentuk kesenangan.



Timbul berbagai pertanyaan dalam diri kita, mengapa seseorang mempunyai kedudukan rendah, sedang orang lain mempunyai kedudukan mulia ? Mengapa seseorang harus direnggut dari tangan ibu yang penuh kasih sayang sewaktu ia masih kanak – kanak, sedangkan orang lain meninggal dalam usia remaja atau pada usia delapan puluh atau seratus tahun ? Mengapa seseorang memiliki fisik lemah dan berpenyakitan, sedang orang lain memiliki tubuh yang kuat dan sehat ? Mengapa seseorang berwajah tampan, dan orang lain berwajah buruk, menakutkan, sehingga orang lain ngeri dan takut melihatnya ? Mengapa seseorang dibesarkan dalam kemewahan, sedang orang lain dibesarkan dalam kemiskinan dan kesengsaraan ? Mengapa seseorang terlahir sebagai jutawan, sedang orang lain terlahir sebagi pengemis ? Mengapa seseorang memiliki kecerdasan luar biasa, sedang orang lain begitu tolol ? Mengapa seseorang terlahir dengan sifat saleh, sedangkan orang lain terlahir dengan kecenderungan – kecenderungan kriminal ? Mengapa ada orang yang berbakat sebagai ahli bahasa, artis, ahli matematika atau ahli musik sejak lahir ? Mengapa ada orang yang buta, tuli dan cacat sejak lahirnya, mengapa ? Inilah beberapa pertanyaan yang membingungkan orang – orang. Bagaimana kita harus menerangkan “ ketidakadilan “ dunia, perbedaan – perbedaan di antara umat manusia ini ? Apakah semua fenomena itu terjadi secara kebetulan ?
Dalam dunia ini tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Menyatakan bahwa sesuatu terjadi secara kebetulan adalah sama salahnya dengan menyatakan buku ini ada dengan sendirinya tanpa ada faktor – faktor lain sebelumnya. Sesungguhnya, tak ada sesuatu yang terjadi pada manusia tanpa alasan dan yang tidak dikehendaki.

Apakah hal – hal ini disebabkan oleh sesuatu makhluk yang tak bertanggung jawab ?
Huxley menulis : “ Apakah kita berpendapat bahwa ada seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil “.

Menurut Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini maha kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran, perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ; lalu bagaimana manusia harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan dan pemikiran – pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu ?
“ Sewaktu memberi hukuman dan anugrah, ia sedikit banyak juga harus mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? ”.
“ Menurut asas – asas theologie, manusia diciptakan bukan atas dasar keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka, mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan – keinginan, harapan – harapan, cita – cita, usaha – usaha atau doa sujudnya. Inilah fatalisme theologi “. ( Spencer Lewis ).

Sebagaimana Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran theis. Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan bertolak belakang dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana dan serba kuasa “.

Menurut Schopenhauer “ Barang siapa menganggap dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia akan kembali ke ketiadaan itu lagi ; suatu kekekalan telah lewat sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan “.
“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir yang mutlak “.

Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta, Prof.J.B.S. Haldane menulis : “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara keseluruhan dan bahwasanya terdapat suatu kekosongan intelektual yang harus diisi dengan mendalilkan seorang dewa. Dan barangkali seorang pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan “.

Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa. Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan kesengsaraan yang akan terjadi di dalamnya. Karenanya, ia bertanggung jawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia – sia memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggung jawab akan akibat – akibat dosa itu.

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan ? kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik – kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai faktor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak bertanggung jawab atas perbedaan – perbedaan besar yang terdapat di antara individu – individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan – perbedaan yang besar ini. Sesungguhnya, faktor keturunan lebih masuk akal atas persamaan – persamaan mereka daripada atas perbedaan – perbedaan. Benih fisik – kimiawi dengan panjangnya kira – kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan – perbedaan batin, intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang kriminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru – guru besar.

Menurut agama Buddha, perbedaan – perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat dari perbuatan lampau kita dan perbuatan – perbuatan kita sekarang. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma kita sendiri.

Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan berdasarkan hukum sebab akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya sendiri. Disinilah Sang Buddha tidak memaksa supaya kita percaya. Hal ini malah kita diminta untuk datang dan buktikan terlebih dahulu. Semua hal ini bagaikan Beliau menerangkan masalah Bakteri, Virus dan sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya mereka dengan melihat dan menyaksikan sendiri dengan menggunakan microscope elektrone. Kalau kita ingin melihat dengan mata daging ini sudah pasti Hukum Kamma yang begitu rumit dan susah dilihat akibatnya. Tetapi semua ini telah dibuktikan kebenarannya itu oleh para Suciwan. Dengan kekuatan batin yang tenang didalam Jhana IV. Jadi secara tegas siapapun yang mampu mencapai Jhana IV. Mereka pasti bisa membuktikan kebenaran itu.
Pada suatu ketika, seorang pemuda bernama Subha datang menemui Sang Buddha dan bertanya kepada Beliau, “ Mengapa dan apa sebabnya di antara umat manusia ada yang memiliki keadaan rendah dan ada yang memiliki keadaan mulia ? Mengapa ada manusia yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang, ada yang sehat dan ada yang berpenyakitan, ada yang berwajah tampan dan ada yang berwajah buruk, ada yang berkuasa dan yang tertindas, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang hina dan ada yang mulia, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana ? “

Sang Buddha menjawab : “ Semua makhluk memiliki kammanya sendiri, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, terlindung oleh kammanya sendiri. Kammalah yang membuat semua makhluk menjadi berbeda, hina atau mulia “.

Selanjutnya Sang Buddha menerangkan sebab perbedaan – perbedaan tersebut sesuai dengan hukum Sebab Akibat.
Dari sudut pandangan agama Buddha, perbedaan – perbedaan batin, intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan oleh perbuatan – perbuatan kita sendiri yang dilakukan di waktu lampau dan di waktu sekarang.

Secara harfiah kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik ( Kusala Cetana ) dan yang buruk ( Akusala Cetana ) . Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah hukum kamma.
Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan di waktu lampau ; kita akan menjadi akibat dari apa yang kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau ; kita tidak mutlak hanya menjadi akibat dari apa kita lakukan sekarang. Misalnya seorang kriminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari dan sebaliknya.
Agama Buddha mengkaitkan perbedaan ini dengan kamma, tetapi tidak menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma saja. Apabila segala sesuatu disebabkan oleh kamma, maka seorang penjahat akan selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat. Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh dengan sendirinya.

Menurut agama Buddha, terdapat lima hukuman atau proses ( Niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu :
•  Kamma niyama atau hukum sebab dan akibat : perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat – akibat yang sesuai.
•  Bija niyama atau hukum benih ( hukum fisik organik ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebu atau madu, dan lain – lain. Teori ilmiah tentang sel – sel dan gen – gen ( plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar dapat dianggap berasal dari hukum ini.
•  Utu niyama atau hukum fisik ( inorganik ), yaitu fenomena angin dan hujan menurut musim.
•  Citta niyama atau hukum pikiran ( hukum psikis ), yaitu proses – proses kesadaran ( citta vitthi ), kekuatan pikiran dan lain – lain.
•  Dhamma niyama atau hukum alam, yaitu : fenomena alam yang terjadi pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran terakhir, gaya tarik bumi, dan lain – lain.

Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum serba lengkap ini, atau proses yang merupakan hukum itu sendiri.
Karena itu, kamma hanyalah merupakan salah satu dari lima hukum yang berlaku dalam alam semesta. Kamma adalah hukum itu sendiri, tetapi dengan demikian tidak berarti harus ada seseorang pemberi hukum. Kamma bekerja dalam bidangnya sendiri tanpa campur tangan atau pengaruh dari apapun. Misalnya, tak ada orang yang memutuskan bahwa api itu harus membakar. Tak ada orang yang memerintahkan bahwa air harus mencari permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air harus terdiri dari H2O dan sifat dingin harus menjadi salah satu sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu. Berapa jauh ia dapat membelokkannya tergantung pada usaha dirinya sendiri.

Perlu diingatkan di sini, bahwa fraseologi seperti anugrah dan hukuman jangan dimasukkan dalam pembicaraan mengenai kamma. Kamma dalam agama Buddha tidak mengakui Dewa Maha Kuasa yang memerintah warganya dan memberikan anugrah atau hukuman. Umat Buddha percaya bahwa kesedihan dan kebahagiaan yang dialami seseorang merupakan akibat wajar dari perbuatan – perbuatan baik dan buruknya sendiri. Disini perlu dinyatakan bahwa kamma memiliki dua prinsip, kelangsungan dan balas jasa.
Sifat yang terdapat dalam hukum kamma adalah kemampuan yang menghasilkan akibat sebagaimana mestinya. Sebab menghasilkan akibat ; akibat menerangkan sebab. Benih menghasilkan buah ; buah menghasilkan benih, karena keduanya saling berhubungan. Begitu juga, kamma dan akibatnya saling berhubungan ; “ akibat berkembang di dalam sebab “.

Seorang umat Buddha yang benar – benar yakin akan kamma tak akan berdoa pada makhluk lain untuk diselamatkan, tetapi dengan penuh keyakinan ia bergantung pada dirinya sendiri untuk mencapai kesuciannya, karena hukum kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.

Ajaran kamma inilah yang memberi hiburan, harapan, kepercayaan pada diri sendiri dan keberanian moral. Keyakinan dalam hukum kamma inilah “ yang mengabsahkan usaha, mengorbankan semangat, untuk selalu berbuat bajik, toleran dan berhati – hati “. Keyakinan yang teguh dalam ajaran hukum kamma ini juga mendorong untuk berbuat baik dan menjadi orang baik tanpa merasa takut akan hukuman atau tergoda oleh anugerah apapun. Ajaran kamma inilah yang dapat menerangkan persoalan – persoalan mengenai penderitaan, misteri yang dinamakan nasib atau takdir dalam ajaran – ajaran lain dan terpenting adalah menerangkan “ ketidaksamaan di antara umat manusia “. Kamma dan tumimbal lahir diterima sebagai dalil.

TUMIMBAL LAHIR

Selama kekuatan kamma masih ada, selalu akan terjadi tumimbal lahir. Makhluk – makhluk merupakan perwujudan nyata dari kekuatan yang tak terlihat ini. Kematian hanya merupakan akhir sementara dari fenomena yang tidak langgeng ini. Kehidupan organik telah berakhir, tetapi kekuatan kamma yang telah menggerakkannya sampai sekarang ini belum hilang. Karena kekuatan kamma tidak terganggu oleh kehancuran badan jasmani, maka datangnya saat pikiran kematian ( Cuti Citta ) sekarang ini mempersiapkan kesadaran baru dalam kelahiran berikutnya.

Kamma yang berakar pada kebodohan dan nafsu keinginan menjadi syarat bagi tumimbal lahir. Kamma lampau menentukan kelahiran sekarang dan kamma sekarang bergabung dengan kamma lampau, menentukan kelahiran berikutnya. Keadaan sekarang adalah akibat dari keadaan yang lalu dan menjadi sebab dari akibat yang akan datang. Sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab. Dalam suatu lingkaran sebab akibat, sebab awal tak dapat diketahui. Menurut teori pertama, kehidupan mempunyai awal ; sedang menurut teori kedua, kehidupan tak mempunyai awal.

Dari sudut pandangan ilmiah, kita merupakan produk langsung dari bersatunya sperma dan sel telur orang tua kita. Demikianlah hidup mendahului hidup. Mengenai asal mula protoplasma kehidupan yang pertama, atau koloid, para ilmuwan tetap berdiam diri.

Menurut agama Buddha kita lahir dari rahim perbuatan ( Kammayoni ) . Orang tua hanya semata – mata menyediakan satu sel yang amat kecil. Demikianlah perwujudan mendahului perwujudan. Pada saat terjadinya kehamilan, tenaga kamma lampau mempersiapkan kesadaran – kelahiran yang memberi gaya hidup kepada janin itu. Tenaga kamma yang tak terlihat yang berasal dari kehidupan lampau inilah yang menghasilkan fenomena mental dan kehidupan dalam suatu fenomena fisik yang sudah ada, melengkapi trio yang membentuk manusia.

Untuk lahirnya seorang makhluk di suatu tempat harus ada seorang makhluk yang mati di tempat lain. Kelahiran seorang makhluk, sesungguhnya berarti munculnya lima khandha ( kelompok kehidupan ) atau fenomena psiko – fisik dalam kehidupan sekarang ini yang dapat disamakan dengan kematian seorang makhluk dalam suatu kehidupan lampau. Seperti misalnya dalam contoh sehari – hari : timbulnya matahari di suatu tempat dan terbenamnya di tempat lain. Pernyataan yang membingungkan ini dapat dimengerti lebih baik dengan membayangkan kehidupan ini seperti gelombang dan bukan seperti suatu garis lurus. Kelahiran dan kematian merupakan dua fase dari satu proses yang sama. Kelahiran mendahului kematian dan sebaliknya, kematian mendahului kelahiran. Rangkaian kelahiran dan kematian yang tetap dalam kaitannya dengan arus kehidupan masing – masing individu membentuk apa yang secara tehnis dikenal sebagai Samsara – pengembaraan berulang – ulang.

Apakah asal mula kehidupan itu ? Sang Buddha menyatakan : “ Awal proses samsara ini tidak dapat dipahami. Makhluk pertama yang digelapi oleh kebodohan dan dibelenggu oleh nafsu keinginan, berkelana dan tunggang langgang di dalam kehidupan tak menentu. “

Arus kehidupan ini mengalir terus tanpa akhir, ad – infinitum selama terus diisi dengan lumpur kebodohan dan nafsu keinginan. Hanya bilamana kedua hal ini hancur seluruhnya, maka arus samsara ini akan berhenti mengalir. Tumimbal lahir berakhir seperti halnya dengan para Buddha dan Arahat. Awal mula kehidupan ini tidak dapat dipastikan, karena taraf dimana kekuatan hidup ini masih belum dipenuhi dengan kebodohan dan nafsu keinginan tidak dapat diketahui. Sang Buddha hanya menunjukkan permulaan arus kehidupan makhluk – makhluk. Terserah kepada para ilmuwan untuk berspekulasi tentang asal mula dan evolusi dalam semesta.
Sang Buddha tidak mencoba memecahkan semua persoalan etika dan filsafat yang membuat bingung umat manusia. Beliau pun tidak berurusan dengan teori – teori dan spekulasi – spekulasi yang tidak membawa kepada kemajuan batin dan pada penerangan sempurna. Beliau juga tidak menuntut kepercayaan membuta dari para pengikut-Nya tentang sebab awal. Beliau semata – mata hanya memperhatikan persoalan penderitaan dan penghancurannya.

Tetapi bagaimana kita bisa percaya bahwa ada suatu kehidupan lampau ? Sumber keterangan mengenai tumimbal lahir yang amat diyakini oleh umat Buddha adalah Sang Buddha sendiri. Beliau telah mengembangkan pengetahuan yang menjadikan Beliau mampu melihat kehidupan – kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang.

Dengan mengikuti petunjuk – petunjuk Beliau, para siswa-Nya juga mengembangkan pengetahuan ini, sehingga mereka mampu melihat sebagian besar kehidupan lampau mereka sendiri.
Bahkan sebelum zaman Sang Buddha, resi – resi India sudah terkenal akan kemampuannya telinga-dewa dan mata-dewa mereka dan kepandaiannya membaca pikiran serta mengingat kelahiran – kelahiran lampau.
Ada juga beberapa orang yang mungkin sesuai dengan hukum perhubungan, mendadak dapat memiliki kemampuan mengingat kehidupan serta perjalanan hidup mereka yang lampau. Hal seperti ini memang jarang, tetapi beberapa peristiwa yang telah dibuktikan kebenarannya itu, merupakan kejadian yang cukup baik untuk menjelaskan paham mengenai kehidupan lampau. Begitu juga mengenai pengalaman – pengalaman beberapa ahli ilmu jiwa modern yang dapat dipercaya dan kejadian – kejadian aneh tentang kepribadian ganda yang berubah – ubah.

Dalam keadaan dihipnotis, beberapa orang dapat menceritakan pengalaman – pengalaman dalam kehidupan lampau mereka ; sedangkan beberapa orang lainnya dapat membaca kehidupan lampau orang – orang lain dan bahkan dapat mengobati berbagai penyakit.

Kadang – kadang kita memperoleh pengalaman aneh yang hanya dapat diterangkan melalui teori tumimbal lahir.
Sering kita bertemu dengan orang – orang yang belum pernah kita kenal, namun secara naluri kita merasa bahwa mereka pernah dekat dengan kita. Betapa seringnya kita mengunjungi tempat – tempat tertentu dan merasa seolah – olah kita sudah biasa dan tidak asing lagi dengan lingkungan itu.

Sang Buddha menyatakan : “ Melalui pengalaman dulu dan kesempatan – kesempatan dalam hidup sekarang, kenangan lama tumbuh kembali bagaikan bunga teratai muncul dari dalam air “. Pengalaman – pengalaman beberapa ahli ilmu jiwa yang dapat dipercaya, fenomena – fenomena ajaib, komunikasi roh, kejadian aneh tentang kepribadian ganda dan sebagainya, dapat menjelaskan tentang persoalan tumimbal lahir ini.

Dalam dunia ini terlahir beberapa manusia sempurna seperti para Buddha, orang – orang jenius. Apakah mereka tiba – tiba saja sempurna ? Dapatkah mereka merupakan hasil dari satu kehidupan saja ?
Bagaimana kita akan menerangkan tentang pribadi – pribadi besar seperti Buddhaghosa, Panini, Kalidasa, Homer dan Plato, manusia – manusia genius seperti Shakespeare, anak – anak ajaib seperti Pascal, Mozart, Beethoven, Raphael, Ramanujan dan lain – lain. Fakor keturunan saja tidak dapat menjelaskan kehadiran mereka.

Dapatkah karier mereka menanjak demikian tingginya bila mereka tidak mengalami kehidupan dan pengalaman serupa dalam kehidupan mereka yang lampau ? Apakah hanya karena kebetulan bahwa mereka dilahirkan dari orang tua tertentu sehingga berada dalam lingkungan – lingkungan yang menguntungkan tersebut.

Kesempatan hidup beberapa tahun dalam dunia ini atau paling sedikit lima tahun, sudah pasti tidak dapat merupakan persiapan yang cukup untuk mencapai kepandaian itu. Bila orang percaya akan kehidupan sekarang dan yang akan datang, maka cukup masuk akal untuk percaya akan adanya kehidupan lampau. Saat sekarang merupakan anak dari saat yang lampau dan selanjutnya menjadi orang tua dari saat mendatang.

Bila ada alasan – alasan untuk percaya bahwa kita pernah hidup pada waktu lampau, maka pasti tak ada alasan untuk tidak percaya bahwa kita akan tetap hidup setelah kehidupan kita nampaknya berakhir.
Seorang penulis barat menyatakan : “ Apakah kita mempercayai adanya suatu kehidupan lampau atau tidak, hal tersebut merupakan satu – satunya hipotesa yang masuk akal yang menjembatani jurang tertentu dalam pengetahuan manusia tentang berbagai fakta kehidupan sehari – hari “. Nalar kita memberitahukan bahwa paham tentang kehidupan lampau dan kamma ini sajalah yang dapat menerangkan tingkat – tingkat perbedaan yang ada di antara anak kembar ; bagaimana orang seperti Shakespeare dengan bekal pengalaman yang amat terbatas mampu menulis dengan kecepatan yang mengagumkan tentang berbagai macam karakter dalam adegan – adegan sandiwaranya yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Mengapa karya orang – orang jenius selalu melampaui bekal pengalamannya sendiri ?

Perlu dicamkan apakah ajaran tumimbal – lahir ini dibenarkan atau tidak, namun hal itu diterima sebagai suatu fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Sang Buddha selanjutnya menyatakan : “ Sebab dari kamma ini adalah avijja atau ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia . Karena itu kebodohan merupakan sebab kelahiran dan kematian ; pengetahuan ( vijja ) tentang Empat Kebenaran Mulia berakibat berhentinya proses kelahiran dan kematian ini. “

Percayakah kita terhadap tumimbal lahir ?

Hal ini harus anda jawab sendiri. Adakah hari esok ? Besok itu ada dan menjadi hari ini. Sekarang ini ada karena kelanjutan dari hari kemarin. Jadi dengan tegas terlihat kemarin itu ada, sebagai persamaan dari kehidupan yang lampau. Sekarang ini adalah kehidupan kita sekarang dan besok ada karena adanya sekarang yang mana menunjukkan dengan adanya hidup sekarang masih ada kelanjutan dalam kehidupan yang mendatang !!!

Hasil metode analitis ini diterangkan dalam Paticca Samuppada.

Senin, 24 Maret 2014

Hukum Karma (Hukum Sebab Akibat)

Attana hi katam pipam, attana samkilissati
attana akatam papam, attanava visujjhati
suddhi asuddhi paccattam, nanno annanam visodhaye."

"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seseorang pun yang dapat menyucikan orang lain."

Sabbe satta kammasakka, kammadayada, kammayoni, kammabandhu, kammapatisarana, yam kammam karissanti, kalyanam va papakam va, tassa dayada bhavissanti (semua mahluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri, terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri, lahir dari perbuatan mereka sendiri, berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri, tergantung pada perbuatan mereka sendiri. Perbuatan apa pun yang mereka lakukan, baik ataupun buruk, perbuatan itulah yang akan mereka warisi).


Hukum Kamma adalah hukum yang menyatakan bahwa suatu perbuatan akan menghasilkan akibat yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Barang siapa yang berbuat kebaikan akan mendapat kebaikan dan barang siapa yang berbuat jahat akan mendapat akibat yang menyakitkan. Hukum Kamma mengajarkan kita bahwa setiap mahluk bertanggungjawab atas perbuatannya masing-masing.Sesuai dengan benih yang ditabur

Begitulah buah yang akan dipetiknya

Pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan

Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula

Taburkanlah biji-biji benih, dan

Engkau pulalah yang akan merasakan buah daripadanya

(Samyutta Nikaya)

Ada karma baik dan ada karma jahat bila tiba saatnya akan matang sendiri ibarat apa yang kita tanam itu yang akan kita petik dikemudian hari....

(Sutta Nipata 663-664)


Renungan :
Karma itu, seperti buah yg tergantung pada cabang pohon.
Menunggu kematangannya pada waktu yg tepat, pada kondisi yg tepat.
Dan saat buah itu matang, ia akan jatuh menghantam tanah dibawahnya.

Sekeras apa buah itu menghantam tanah, tergantung seberapa berat dari buah itu sendiri. Seberat apa karma yg berbuah, sesakit apa derita yg hrs kita rasakan, tergantung dari berat karma yg telah kita lakukan. Tidak lebih, tidak kurang. 

Lalu apa yg harus kita lakukan?
Apakah tidak ada cara utk menghapus karma?
Kita tidak bisa menghapus karma dalam sekejap,
tapi bisa membuatnya menjadi lebih ringan.
Perbanyaklah berbuat kebajikan.
Sekecil apapun kebajikan itu, jika dilakukan dgn hati tulus, akan lebih besar karma baiknya.

Seperti halnya segelas air garam yg sangat asin,
Jika ditambah dgn air tawar, sampai gelas itu tak mampu lagi menampung.
Dan air mulai berceceran keluar, lama kelamaan air yg asin akan mengalir keluar dan yg tersisa di gelas hanyalah air tawar saja. 

Seperti itulah seharusnya yg kita lakukan dalam kehidupan kali ini.
Entah sudah berapa karma buruk yg telah kita lakukan.
Dan skrg, di kehidupan ini, di saat kita berkesempatan bertemu dengan hukum buddha ini,
seharusnya kita banyak berbuat kebajikan utk mengurangi karma-karma buruk kita. 
Dan ingatlah, jika ada karma buruk yg terjadi pada Anda, janganlah membalasnya,
krn disaat Anda gak bisa terima, kesal, benci dan marah, disitu karma baru diciptakan.

Mungkin kedengarannya sangat susah utk dijalankan.
Seberapa banyak dari kita yg bisa tetap baik dan bersahabat dgn org yg telah mencuri, menipu, memfitnah kita atau menyakiti kita? 

Tapi pernahkah kita mencoba utk tetap bertahan tdk membalas, mencoba utk mengontrol perasaan kecewa dan marah?
Cobalah sekali saja, tutup rapat-rapat mulut kita disaat hendak marah, kita akan tau, mengalahkan diri sendiri jauh lebih susah daripada mengalahkan sepuluh ribu musuh..

Selasa, 30 Oktober 2012

Upacara dan Perayaan Dalam Agama Buddha




Upacara dan Perayaan Dalam Agama Buddha

Kapankah Tumimbal Lahir Dimulai?
Kesadaran kita yang berlanjut dari kehidupan yang sati ke kehidupan yang selanjutnya tidaklah berawal - Proses ini tidak terbatas dan terus menerus. Setiap momen dalam kesadaran kita merupakan kelanjutan dari momen sebelumbnya. Siapa diri kita, dan apa yang kita pikirkan dan rasakan sekarang, tergantung dari siapa kita kemarin. Kesadaran kita sekarang adalah kelanjutan dari kesadaran kita sebelumnya. Suatu momen dalam kesadaran kita diakibatkan oleh  momen sebelumnya. Keberlangsungan ini dapat dilacak kembali sampai kita masih kecil, bahkan sewaktu kita masih dalam kandungan ibu kita. Bahkan sebelum kita dilahirkan, arus kesadaran kita telah ada di tubuh yang lain.
Dengan menggunakan contoh garis bilangan, melihat ke kiri sebelum posisi nol, tidak ada angka negatif yang pertama, dan lihat ke kanan banyak terdapat angka-angka yang tidak ada habisnya - satu per satu dapat selalu ditambahkan. Seperti arus kesadaran kita yang tidak memiliki awal dan akhir, kita semua sudah mengalami berjuta-juta kali kelahiran, dan kesadaran kita akan terus menerus ada. Dengan menyucikan arus kesadaran kita, kita dapat membuat keberadaan kita di masa yang akan datang menjadi lebih baik.

Bersujud
Bersujud di hadapan patung Buddha bukanlah memuja berhala. Ini merupakan ungkapan rasa hormat yang mendalam. Sujud merupakan pernyataan bahwa Buddha telah mencapai Penerangan Sempurna dan Tertinggi. Dengan melakukan ini seseorang dapat menekan keinginan, perasaan menang sendiri, dan menjadi lebih siap mempelajari ajaran Buddha.

Beranjali
Meletakkan kedua telapak tangan di depan dada (anjali) merupakan suatu tradisi untuk menyatakan penghormatan tertinggi kepada Tiga Permata. Ketika seorang umat Buddha menyapa yang lain, mereka mengatupkan kedua telapak tangan seperti sekuntum bunga teratai yang kuncup, sedikit membungkukkan badan, dan dengan perlahan berkata “Sekuntum teratai (simbol kesucian dalam Agama Buddha) untukmu, seorang Buddha di masa depan.” Salam ini memberikan pengakuan adanya benih-benih Penerangan Sempurna atau benih Kebuddhaan di dalam diri orang lain oleh karenanya kita mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan untuknya. Meletakkan kedua telapak tangan juga mempunyai efek pemusatan dan penenangan pikiran.

Pradaksina
Pradaksina merupakan kegiatan mengelilingi sebuah obyek pemujaan seperti stupa (sebuah bangunan bersejarah tempat menyimpan reliks suci), pohon Bodhi (pohon di mana Buddha duduk di bawahnya saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna), atau Pratima Buddha, sebanyak tiga kali atau lebih sebagai wujud sikap hormat. Ini dilakukan dengan meditasi berjalan searah jarum jam; seseorang menjaga agar tetap berada di sisi kanan obyek pemujaan.

Persembahan
Memberikan persembahan di altar merupakan wujud bakti, yang menunjukkan penghormatan dan pemujaan kepada Tiga Permata. Setiap benda yang dipersembahkan memiliki makna masing-masing.

Cahaya
Persembahan cahaya mengingatkan kita pada pancaran sinar Kebijaksanaan yang menghalau kegelapan dan ketidaktahuan di dalam usaha mencapai Penerangan Sempurna. Ini mendorong kita mencari cahaya Kebijaksanaan. 
Menghormati Budha, kita mempersembahkan lilin dan pelita :
Kepada-Nya, yang merupakan cahaya, kami persembahkan cahaya.
Dengan lampu-Nya yang agung, kami nyalakan pelita dalam diri kami
Pelita Bodhi (Penerangan Sempurna) bersinar dalam hati kami.

Bunga
Persembahan bunga-bunga yang segar dan indah, yang segera akan menjadi layu, tidak lagi wangi dan pudar warnanya mengingatkan  kita pada ketidakkekalan semua benda, termasuk kehidupan kita. Ini mendorong kita untuk menghargai setiap momen dalam hidup kita dan tidak terikat padanya.
Menghormati Buddha, kita mempersembahkan bunga: Bunga-bunga yang saat ini segar dan mekar dengan indahnya,
Bunga-bunga yang esok akan memudar dan berguguran,
Demikianlah tubuh ini, seperti bunga, akan lapuk juga.

Dupa
Persembahan dupa wangi yang dibakar memenuhi udara di sekelilingnya melambangkan jasa kebajikan dan efek penyucian dari tingkah laku yang bermanfaat. Ini mendorong kita untuk melawan semua setan (godaan) dan membangkitkan hal-hal yang baik.
Menghormati Buddha, kita mempersembahkan dupa: Dupa yang wanginya meresap di udara
Keharuman hidup yang sempurna, lebih manis daripada dupa
Menyebar ke segala penjuru di seluruh dunia.

Air
Persembahan air melambangkan kesucian, kemurniaan, dan ketenangan. Ini mendorong kita untuk melatih tindakan, ucapan dan pikiran kita untuk mendapatkan sifat-sifat di atas.

Buah-buahan
Buah-buahan melambangkan buah dari pencapaian spiritual yang membawa kita menuju buah akhir, yaitu penerangan sempurna, yang merupakan tujuan akhir semua umat Buddha. Ini mendorong kita untuk berusaha mencapai Penerangan Sempurna bagi kebahagiaan semua makhluk.

Puja
Puja dilakukan dengan membaca secara beralun untuk mengulang ajaran Buddha. Disamping membantu daya ingat, puja mempunyai efek menenangkan, baik bagi pembacanya maupun pendengarnya. Puja seharusnya dilakukan dengan hikmat, penuh perhatian, dan energi. Seperti meditasi, puja membantu seseorang berkonsentrasi dan mengembangkan keadaan batin yang tenang.
Ucapan-ucapan Buddha juga dapat dibacakan dengan penuh perhatian pada Tiga Permata, di kala muncul rasa takut dan godaan, baik yang muncul dari luar maupun dari dalam diri seseorang, sehingga godaan itu dapat diatasi. Ini bis terjadi karena Tiga Permata bebas dari segala macam kotoran dan rintangan seperti ketamakan, amarah, dan ketidaktahuan. Puja bisa dilakukan dalam segala bahasa. Bahasa-bahasa yang populer antara lain adalah Pali (Pali merupakan bahasa yang digunakan Buddha), Sanskerta, Mandarin, Tibet, Thai, Inggris dan sebagainya.
Umat perumah-tangga biasanya melakukan puja di pagi dan sore hari. Tujuan melakukan puja pagi adalah mengingatkan seseorang untuk sadar akan ajaran yang telah diulang, sepanjang hari . Tujuan melakukan Puja sore hari adalah untuk melihat kembali apakah sepanjang hari tersebut ia telah melakukan apa yang telah ia tetapkan di pagi harinya. Walaupun pilihan puja berbeda-beda dari satu tradisi ke tradisi yang lain, beberapa isi puja yang umum meliputi: Pernyataan Perlindungan, Pancasila, Pujian pada Tiga Permata, Sutra, Mantra, Penghormatan pada para Buddha dan Bodhisattva, Pengakuan Kesalahan, Bergembira dalam Jasa Kebajikan, dan Penyaluran Jasa Kebajikan.

Mantra
Mantra adalah ungkapan suci yang pendek atau suku-suku kata yang melambangkan ajaran atau sifat-sifat tertentu (contohnya mantra enam suku kata “Om Mani Padme Hum” yang melambangkan Welas Asih). Mantra yang melambangkan Kebenaran dalam berbagai aspek dapat kita lafalkan. Melafalkan Mantra membantu membawa pikiran ke arah ketenangan dan kedamaian serta dapat menyucikannya. Setiap mantra khusus dapat menumbuhkan sifat-sifat positif dalam pikiran, seperti Welas Asih, Kebijaksanaan, Semangat......

Penghormatan kepada para Buddha dan para Bodhisattva
Penghormatan pada nama para Buddha dan Bodhisattva (contohnya: “Namo Amitofo” atau hormat kepada Buddha Amitabha, dan “Namo Ta Ce Ta Pei Kun She In Phu Sa” atau hormat kepada Bodhisattva Avalokitesvara dengan Welas Asih-Nya yang agung), bisa dilafalkan untuk mengingatkan kembali permohonan kebajikan dan sifat-sifat yang mereka lambangkan. Dengan melakukan hal ini, akan mengingatkan kita juga dapat mencapai kesempurnaan dalam berbagai sifat, seperti Mereka.

Hari Waisak
Waisak adalah peristiwa tahunan yang terpenting bagi umat Buddha. Pada saat itu diperingati Kelahiran, Pencapaian Penerangan Sempurna dan Parinirvana dari Buddha. Ketiga peristiwa ini jatuh pada bulan purnama, bulan kelima penanggalan bulan. Peristiwa ini dihormati oleh jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Ini merupakan perayaan untuk kegembiraan dan kebaikan bagi semua. Ini juga merupakan kesempatan untuk melihat kembali perkembangan spiritual kita.
Bagi beberapa umat Buddha, ibadah Waisak dimulai pagi-pagi benar ketika mereka berkumpul di vihara untuk melaksanakan delapan sila. Yang lain mungkin bergabung dengan ibadah umum untuk mengikuti upacara dengan mengambil tiga perlindungan, menjalankan lima sila, membuat persembahan di altar dan memanjatkan pujian. Mereka juga mengikuti prosesi dan pradaksina, serta mendengarkan khotbah Dharma.
Di beberapa vihara, umat Buddha mengambil bagian dalam upacara pemandian patung bayi Pangeran Siddharta (Buddha saat Beliau masih seorang pangeran) yang diletakkan di kolam bertaburan bunga. Air yang wangi di gayung dengan sendok besar dan dituangkan ke patung itu. Ini melambangkan penyucian perbuatan-perbuatan jahat seseorang dengan perbuatan baik.
Beberapa umat Buddha juga melaksanakan vegetarian di hari ini dengan mengingat ajaran Cinta Kasih universal. Pada hari ini vihara-vihara dihias indah dengan bendera Buddhis dan lampu-lampu, dan altar dipenuhi bunga-bunga, buah-buahan dan persembahan lainnya.

Hari Upavasatha
Saat Upavasatha (Uposatha) atau bulan baru dan bulan purnama (tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan), banyak umat Buddha berkumpul di vihara untuk bermeditasi, membuat persembahan, mengulang khotbah Dharma, dan melakukan penghormatan pada Tiga Permata. Beberapa umat Buddha juga melaksanakan vegetarian pada hari-hari tersebut, sebagaimana mereka menjalankan delapan sila.

Hari Ullambana
Ullambana adalah perwujudan rasa hormat umat Buddha kepada leluhur mereka dan cinta kasih mereka kepada semua makhluk yang menderita di alam sengsara. Peringatan Ullambana pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan bulan, didasarkan pada kejadiaan saat Maudgalyayana (Mogallana), seorang pengikut Buddha, melalui kekuatan meditasinya menemukan bahwa ibunya dilahirkan kembali di alam sengsara. Karena sedih, ia meminta bantuan Buddha yang kemudian menasehatinya untuk membuat persembahan kepada Sangha, kaerna jasa kebajikan dair perbuatan itu dapat membebaskan penderitaan ibunya dan juga makhluk lain di alam sengsara. Membuat persembahan untuk membebaskan penderitaan orang yang telah meninggal dan makhluk lain di alam sengsara menjadi perayaan umum yang populer.
Ullambana diperingati dengan mempersembahkan kebutuhan-kebutuhan Sangha, mengulang khotbah Dharma, dan melakukan perbuatan-perbuatan amal. Jasa kebajikan dari perbuatan-perbuatan ini akan dilimpahkan kepada semua makhluk.

Upacara Perpindahan Cahaya
Dalam upacara ini, umat memegang sebatang liling yang menyala sambil berjalan berkeliling batas tepi vihara, objek suci, atau bangungan bersejarah dengan meditasi berjalan. Mereka memanjatkan mantara atau nama Buddha sebagai pujian kepada-Nya. Upacara ini melambangkan cahaya Kebijaksanaan (menyebarkan Kebenaran) ke segala penjuru dunia untuk menghalau sisi gelap ketidaktahuan. Secara pribadi ini memiliki makna menyalakan lampu Kebijaksanaan dalam diri seseorang.
Nyala api yang dapat dipindahkan ke lilin lain yang tak terhitung banyaknya tanpa memadamkan nyalanya sendiri, melukiskan bahwa Kebijaksanaan dapat dibagikan tanpa mengurangi bagian orang yang membagikan. Terbakarnya sumbu disertai lelehnya lilin mengingatkan kita pada ketidakkekalan dan perubahan-perubahan semua benda yang terkondisi, termasuk hidup kita sendiri. Merenngkan hal ini dapat membantu kita menghargai setiap momen dalam hidup tanpa menjadi melehat padanya. Perhatian dapat dilatih dengan menjaga agar nyala lilin tidak padam. Ini menggambarkan penjagaan pikiran dari faktor-faktor negatif yangmerusak kehidupan spiritual. Dalam upacara ini, semangat dapat ditumbuhkan dengan melihat secercah api kecil yang menerangi lautan kegelapan, sampai lautan cahaya yang saling membagi penerangan bagi semua.

Upacara Tiga Langkah Satu Sujud
Dalam upacara ini, para pengikut biasanya berbaris sebelum terbitnya matahari untuk pengitari batas tepi vihara, membungkukkan badang sekali setiap tiga langkah, sambil memanjatkan mantra-mantra atau nama Buddha sebagai penghormatan bagi-Nya. Pada setiap sujud, Buddha dapat divisualisasikan sedang berdiri di atas telapak tangan kita yang terbuka dan kita sambut dengan hormat. Telapak tangan yang terbuka melambangkan bunga teratai, lambang merekahnya kesucian (walaupun akar-akar bunga teratai beradai di lumpur kejahatan, bunganya mekar dengan kesucian dan bersih dari lumpur). Setiap sujud merupakan penyampaian rasa hormat kepada Buddha (atau pada seluruh Buddha dan Bodhisattva yang tidak terhitung jumlahnya). Latihan ini membantu pemurniaan pikiran, menekan ego, dan mengurangi rintangan-rintangan sepanjang jalan spiritual sambil seseorang menyesali tindakan-tindakan buruk yang lalu dan mengingnkan perkembangan spiritual. Dengan perhatian penuh para perbuatan, ucapan dan pikiran selama latihan, konsentrasi dan ketenangan dapat dicapai.
Upacara yang panjang ini mengingatkan seseorang kepada perjalanan menuju Penerangan Sempurna yang panjang dan sukar. Tetapi ini juga mengingatkan kita bahwa sejauh kita telah bertekad, seluruh rintangan akan dapat ditanggulangi. Keteguhan dalam melengkapi latihan ini walaupun ada rintangan juga dapat membantu memperkuat keyakinan kepada Buddha dan ajaran-ajaranNya yang menuntun kita menuju Penerangan Sempurna.
Merekahnya fajar pada akhir upacara melambangkan cahaya Kebijaksanaan menghalau kegelapan kebodohan karena seseorang telah maju selangkah dalam perjalanan menuju Penerangan Sempurna.

(Dikutip dari Buku Menjadi Pelita Hati. Judul Asli Be A Lamp Uppon Yourself. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Seksi Penerbit Pemuda Vihara Vimala Dharma, Bandung)

Senin, 29 Oktober 2012

Trikaya

Trikaya

Dalam doktrin Trikaya, menurut Buddhisme Tradisi Mahayana, seorang Buddha memiliki 3 tubuh:
  1. Nirmanakaya (Tubuh Perubahan)
    Tubuh ini dipakai seorang Buddha untuk mengajar manusia biasa. Setiap kali dunia membutuhkan seorang Manussa Buddha, maka ia akan dilahirkan ke dunia dengan memakai badan jasmani seperti manusia biasa. Dan memberikan pelajaran di tengah-tengah kehidupan manusia. Tubuh ini musnah setelah kehidupannya dalam badan jasmani ini berakhir.
  2. Sambhogakaya (Tubuh Cahaya)
    Tubuh ini hanya dapat dilihat oleh para Bodhisattva dalam menerima Ajaran Buddha. Seorang Buddha akan menyadari kebuddhaannya setelah memiliki tubuh ini.
  3. Dharmakaya
    Dharmakaya merupakan sesuatu yang kekal, pebuh rahmat, mengatur sendiri, murni, tidak berubah dan bebas. Ia tidak datang dari sesuatu tempat dan tidak pergi kemanapun. Ia tidak menonjolkan diriNya dan juga tidak dapat musnah, tenang, agung, dan kekal untuk selama-lamanya.

    Tidak ada sesuatu tempat di alam semesta ini yang tidak dikuasai Dharmakaya. Alam semesta menjelma dan berubah, tetapi Dharmakaya tetap kekal untuk selama-lamanya.

    Sang Dharmakaya Buddha dikenal sebagai Sanghyang Adi Buddha

Minggu, 28 Oktober 2012

TiRatana (Tiga Permata)

TiRatana

TiRatana (bahasa Pali) atau TriRatna (bahasa Sansekerta) berarti tiga permata / tiga mustika, yang terdiri dari :
  1. Buddha Ratana
  2. Dhamma Ratana
  3. Sangha Ratana
Buddha Ratana

Kata Buddha berasal dari kata Budh yang artinya bangun atau sadar. Buddha bukanlah nama diri seperti nama seseorang, melainkan merupakan sebuah gelar kesucian bagi mereka yang telah mencapai kesempurnaan. Jadi Buddha itu berarti orang yang telah sadar / bangundari kegelapan bathin atau orang yang telah mencapai atau mendapatkan penerangan sempurna (Bodhi), yang menjadi guru manusia dan para dewa.

Sifat utama seorang Buddha adalah Maha Panna ( bijaksana), Maha Parisuddhi (suci), dan Maha Karuna (pengasih dan penyayang). Buddha yang menjadi guru kita saat ini adalah Buddha Sakyamuni,, memiliki sifat utama dalam hal bijaksana; karena itu beliau disebut juga Sakyamuni, yang artinya suku Sakya yang bijaksana.

Kemampuan seorang Buddha antara lain adalah memilik 6 kekuatan gaib (Abhinna), yaitu memiliki kekuatan gaib, telinga dewa, penembus hati orang lain,ingatan pada kelahiran-kelahiran yang masa lalu, mata dewa, dan kemampuan untuk melenyapkan semua ikatan Abhinna pertama hingga kelima.

Selain itu seorang Buddha memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai sifat manusia dengan penuh bijaksana. Menguraikan kesalahan mereka yang sedang berada di jalan kehidupan yang salah dan membimbing mereka mencapai kesucian. Seorang Buddha juga memiliki kemampuan utnuk membimbing para dewa atau Brahma untuk menghapuskan kegelapan bahtin mereka, dalam usahannya mencapai kesucian. Selain manusia dan para Dewa, hewan-hewan juga tunduk dan mengasihi Sang Buddha.

Buddha dapat dibedakan atas 4 jenis :

1. Sammasambuddha
Tingkat ke-BUDDHA-an ini dicapai dengan usaha / kekuatan sendiri dan dapat mengajarkan Dhamma kepada para dewa dan manusia. Terdiri dari Pannadhika Buddha ( Sammasambuddha sempurna dalam kebijaksanaan), Saddhadhika Buddha (Sammasambuddha sempurna dalam keyakinan), Viriyadhika Buddha (Sammasambuddha sempurna dalam semangat)

2. Pacceka Buddha
Tingkat ke-BUIDDHA-an ini dicapai dengan usaha / kekuatan sendiri, tetap tidak menurunkan ajaran / tidak mengajarkan Dhamma kepada para Dewa dan Manusia.

3. Sutta Buddha
Tingkat ke-BUDDHA-an ini dicapai setelah mendengarkan Dhamma yang langsung diberikan oleh Sammasambuddha dan melasanakannya.

4. Anu/Savaka Buddha
Tingkat ke-BUDDHA-an yang dicapai dengan melaksanakan Dhamma / ajaran Sammasambuddha.


Dhamma Ratana

Dhamma (bahasa Pali) atau Dharma (bahasa Sansekerta) bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah berarti ajaran, agama. Falsafah, hukum, pandangan hidup, ilmu jiwa, peraturan-peraturan dan lain lain. Dhamma yang diuraikan dalam ajaran Sang Buddha bukanlah ciptaan Sang Buddha,tetapi adalah hukum kesunyataan, hukum-hukum alam yang telah berlaku di alam semesta ini. Buddha adalah seorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna sehingga mampu melihat jalannya hukum-hukum Kesunyataan ii. Kemudian mengajarkan kepada kita, agar kita dapat menyesuaikan diri dalam memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hidup serta kesucian. Untuk penyesuaian ini Sang Buddha membuat Sila untuk ditaati umat Buddha.

Menjelang wafatnya Sang Buddha, Beliau bertanya kepada Y.A Ananda sebagai berikut : "…banyak mana daun yang ada dalam genggamanku dibandingkan dengan daun yang ada di hutan?, kemudian Y.A Ananda menjawab : " ?daun yang ada di hutan jauh lebih banyak, Bhante?".

Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut : "?demikianlah Dhamma yang telah kuberikan hanyalah sebagian kecil saja tetapi amat berguna untuk mencapai pembebasan,Nibbana?.".

Dua macam Dhamma
1. Pannati Dhamma: kenyataan yang bukan ada dengan sendirinya,keberadaannya karena dibuat / diberikan nama sesuai dengan keinginan manusia, misalnya kalung, kuali, dll
2. Paramattha Dhamma: Kenyataan tertinggi?
a. Sankhata Dhhamma, Yang mempunyai ciri-ciri "Muncul, berubah, lenyap" atau "Berawal, berubah dan berakhir"
b. Asankhata Dhamma, Yang mempunyai ciri-ciri "Tidak muncul, tidak berubah, tidak lenyap" atau "Tidak berawal, tidak berakhir"

Tiga aspek Dhamma bila ditinjau dari mutu, adalah:
1. Kusala Dhamma = Keadaan baik
2. Akusala Dhamma = Keadaan yang tidak baik.
3. Abyakata Dhamma = Keadaan yang netral, tidak baik dan tidak jahat
Tiga aspek Dhamma ditinjau dari pelaksanaan,
1. Pariyatti Dhamma = Belajar Dhamma-Vinaya dengan tekan.
2. Patipatti Dhamma = Melaksanakan Dhamma dan Vibnaya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pativedha Dhamma = Penembusan Dhamma meditasi dan mencapai pembebasan Nibbana.


Sangha Ratana

Sangha merupakan persamuan para Bhikkhu / Bhikkhuni

Sangha dapat dibedakan atas dua kelompok,
1. Ariya -Sangha, yakni Persaudaraan Bhikkhu-Bhikkhuni yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat.
2. Magga-Sangha ( Sammuti-Sangha), yakni Persaudaraan Bhikkhu-Bhikkhuni yagn belum mencapai tingkat kesucian. Umat Buddha yang melepaskan ikatan duniawi untuk menjalankan sila-sila tertentu, sebagai suatu usaha untuk mempercepat tercapainnya kesucian.

Selain bertugas untuk memelihara keutuhan Ajaran Sang Buddha, Sangha juga bertugas untuk menyebarkan Dhamma / Ajaran Sang Buddha. Oleh sebab itu, Sangha juga dapat disebut sebagai wakil Sang Buddha dari masa ke masa. Setiap orang yang menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni dengan sendirinya menjadi anggota Sangha.

Sangha di Indonesia terdiri atas 3 kelompok, yaitu:
1 Sangha Agung Indonesia
    a. Sangha Agung Sangha Theravada Indonesia
    b. Sangha Agung Sangha Mahayana Indonesia
    c. Sangha Agung Sangha Wanita Indonesia
    d. Sangha Agung Sangha Tantrayana Indonesia
2 Sangha Theravada Indonesia
3 Sangha Mahayana Indonesia
Setelah Perwalian Umat Buddha (WALUBI) dibubarkan, maka ketiga Sangha yang ada di Indonesia membentuk Konfrensi Agung Sangha Indonesia atau yang disebut dengan KASI yang hingga kini merupakan pemberi fatwa tertinggi umat Buddha di Indonesia.