Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Rabu, 08 April 2015

Berbakti bukan pasrah

Berbhakti bukan pasrah

Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukanlah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri, tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.

Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan.

Sadhu! sadhu! sadhu!

Referensi:

-Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.

-Saddatissa. 1999. Sutta Nipāta. Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.

-Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.

Manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila

Manfaat menjalankan Uposatha dan Atthasila.

Hari Uposatha, umumnya jatuh setiap tanggal 1, 8, 15, 23 dalam penanggalan bulan.
Pada hari-hari ini, umat awam yang berbakti, berusaha melatih diri dengan menjalankan Atthasila, membawa persembahan ke vihara dan mengisi waktu mereka di vihara dengan belajar dhamma dan meditasi.
 
Atthasila (8 sila) terdiri dari :
Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari membunuh makhluk lain)

Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengambil apa yang tidak diberikan)

Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari aktivitas seksual).
* Perhatikan, ini berbeda dengan pancasila biasa, dimana hanya hubungan seks yang tidak benar, sementara dalam atthasila, sama sekali tidak melakukan aktivitas seksual.

Musavada veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berkata yang tidak benar)

Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari mengkonsumsi minuman keras dan zat lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan)

Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari makan pada waktu yang tidak tepat). *yaitu tidak makan setelah lewat tengah hari sampai dengan esok paginya.

Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari menari, bernyanyi, mendengarkan musik, pergi melihat hiburan, memakai perhiasan, memakai parfum, dan memakai kosmetik)
Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami (saya mengambil sila menahan diri dari berbaring di tempat yang tinggi dan mewah)

Tujuan dari melatih sila-sila diatas adalah untuk mencegah kita melakukan karma buruk dan untuk mengurangi keinginan duniawi, kemelekatan terhadap hal-hal yang memanjakan nafsu kita.
 

Melihat diri sendiri

Introspeksi Diri...

Seekor burung kecil sedang sibuk untuk persiapan pindah, lalu bertemu dengan tetangganya.

Tetangga : "Mau kemana ?"

"Saya mau pindah ke hutan yg di sebelah timur"

"Disini hidupmu khan lumayan baik, mengapa mau pindah ?"

"Semua burung disini tidak suka dengan suaraku. Mereka katakan suaraku sangat jelek. Jadi aku harus pindah"

"Sebenarnya kamu tidak perlu pindah tetapi "hanya" perlu mengubah suara nyanyianmu. Jika tidak bisa mengubah/memperbaikinya, walaupun pindah ke hutan manapun, tetap tidak akan ada gunanya"

Burung kecil, akhirnya menyadari kesalahannya.

Dalam kehidupan sehari 2x, kita harus introspeksi diri.

Jangan selalu menyalahkan lingkungan atau mengkritik orang yg tidak cocok dengan kita.

Sekali waktu, perlu melihat ke dalam diri sendiri.

Orang yg tidak bisa introspeksi diri, kemana pun pergi, akan menemui masalah yg sama & akhirnya akan kelelahan & tidak tahu harus pergi ke mana lagi.

Kalau burung bisa sadar...bagaimana dengan kita..??!!

Senin, 06 April 2015

Risiko sebuah Ucapan

Resiko sebuah Ucapan...
Bagaimana seekor rusa yang baik bisa mati hanya karena sebuah OPINI, ikuti ceritanya :

1. Sepulang dari sawah, rusa rebahan di kandang dengan wajah cape dan nafas yang berat.
Datanglah seekor anjing, rusa lalu berkata : "Aah teman lama, saya sungguh cape dan besok ingin istirahat sehari dengan baik."

2. Anjing lalu pergi, bertemu kucing di sudut tembok dan ia berkata: "Tadi saya bertemu rusa dan dia besok ingin istirahat dulu, sudah sepantasnya sebab bos kasih kerjaan terlalu berat."

3. Kucing lalu cerita kepada kambing dan berkata: "Rusa komplain bos kasih kerja terlalu banyak dan berat, jadi besok tidak mau kerja lagi."

4. Kambing bertemu ayam dan berucap: "Rusa tidak senang bekerja untuk bos lagi, sebab mungkin ada bos lain yang lebih baik."

5. Ayam bertemu monyet dan berkata : "Rusa tak akan kerja untuk bos nya dan ingin mencari kerja di tempat bos yang lain."

6. Saat makan malam, monyet bertemu bos dan berkata : "Bos, tolong ajari rusa dengan baik, akhir-akhir ini ia telah berubah sifatnya dan ingin meninggalkan bos untuk bekerja kepada bos lain."

7. Mendengar ucapan monyet, bos lalu membunuh rusa karena dinilai telah berkhianat kepadanya...

Itu mengapa ada kalanya suatu ucapan sebaiknya berhenti hanya sampai telinga kita. Hendaknya dipikirkan baik2 tentang resiko, manfaat dan akibatnya kalau ucapan itu akan diteruskan.

Minggu, 05 April 2015

Bahagia ada di Dalam Diri Kita

Bahagia ada di Dalam Diri Kita
Oleh Bhante Pannyavaro

Orang miskin makan makanan yang sederhana sudah nikmat sekali.
Tetapi, bagi orang yg kaya raya, makan makanan yang mewah baru merasa nikmat.

Kalau kita periksa, di dalam makanan yang sederhana & makanan mewah itu, adakah kebahagiaan disana?
Tidak ada!
Senang & nikmat ada di dalam batin.

Kalau orang kaya kita beri makanan yang sederhana menjadi kecewa & jengkel. Apakah kecewa & jengkel itu ada dalam makanan itu? Ternyata tidak ada! Kecewa & jengkel ada di dalam batin.
Kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri. Kita tidak perlu mencarinya jauh

Agama apapun tidak bisa menghadiahkan kebahagiaan, tapi hanya menunjukkan caranya. kita sendiri yang harus melaksanakannya. Semua itu bergantung kepada kita sendiri.

Siapa yang membuat bahagia? Kita sendiri.
Siapa yang membuat tidak bahagia? Kita sendiri juga.
Kebahagiaan bergantung pada perubahan yang kita lakukan di dalam diri

Kalau kita berani mengubah sikap hidup, menghancurleburkan keserakahan, keakuan; tidak hanya untuk menjaga gengsi, tetapi benar-benar ingin menghancurkan nafsu keburukan, maka kebahagiaan akan muncul dalam batin kita.

jika kebahagiaan sudah muncul di dalam batin, kita akan merasa bahagia setiap saat.

Cobalah renungkan, kebahagiaan ada di dalam diri kita, tidak ada dalam makanan, tidak ada dalam pakaian, tidak ada dalam rumah yang bagus, juga tidak ada di dalam mobil yang berganti-ganti.

Apa saja yang kita hadapi, bisa membuat kita menderita, karena penderitaan itu kita yang membuatnya sendiri.
Sebaliknya, kita juga bisa untuk tidak membuat penderitaan.

Jadi kalau menghadapi apapun, buatlah agar tidak menjadi menderita karena kita sendiri yang bisa membuat menjadi penderitaan atau tidak menjadi penderitaan.
(Bhikkhu Sri Pannavaro)