Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 25 September 2010

Meluhurkan Batin



Meluhurkan Batin

Oleh (Alm) Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera




Saya akan menjelaskan tentang bagaimana kita harus betul-betul berdiri di atas kaki sendiri, untuk mencari Dhamma, mempelajarinya, menghayatinya kemudian mengamalkan, mengembangkan sampai menjadi orang yang sukses melaksanakan Dhamma, yaitu minimal mencapai pannya atau kebijaksanaan.

Saya akan menceritakan suatu masalah. Pada kira-kira 10-15 tahun yang lampau, keadaan masyarakat kita di Indonesia oleh kantor statistik digambarkan bahwa 80% masyarakat kehidupannya masih di bawah standard, masih miskin. Jadi penghidupannya sangat bergantung kepada majikan yang murah hati, untuk memberikan pekerjaan. Hidupnya morat-marit, kadang kerja menjahit, satu minggu kemudian menjadi pelayan, satu minggu lagi menjadi petani, satu minggu lagi tarik becak, dan sebagainya. Jadi kehidupannya di bawah standard, tergantung sekali kepada majikan-majikan. Tetapi sayang sekali, pemerintah belum pernah mengadakan statistik tentang kemiskinan batin, kemiskinan rohani. Mana pernah pemerintah mencatat, oh orang ini miskin rohani, miskin dengan pengetahuan agama; tidak pernah sama sekali pemerintah membuat statistik tentang hal itu. Setelah Lu Shen Yen datang ke Indonesia, baru kelihatan berapa banyak jumlah orang yang berpengetahuan Dhamma amat minim. Hampir seperti perumpamaan saya dengan 80% rakyat Indonesia yang keadaan kehidupannya di bawah standard, yang terpaksa harus tergantung kepada majikan-majikan, bos-bos.

Sekarang saya mengamati ternyata orang yang miskin Dhamma, miskin pengertian yang benar tentang Dhamma itu masih banyak sekali. Kalau ada hal-hal yang baru, mungkin karena dipropagandakan dengan hebat sekali, seperti orang buta kalau diberkahi bisa melihat, yang tangannya bengkok diberkahi bisa menjadi lurus, yang lumpuh diberkahi bisa kembali berjalan seperti biasa, dan sebagainya. Kemudian banyak orang datang untuk meminta berkah rejeki, berkah keselamatan, berkah umur panjang dan sebagainya. Jadi saya nilai hal yang demikian itu tidak beda dengan pengemis. Dalam hal ini yaitu pengemis keselamatan, pengemis keejahteraan, pengemis macam-macam. Saya bandingkan demikian, karena untuk meraih kesejahteraan kehidupan di bidang materi dan rohani, memang jarang sekali orang yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kebanyakan dari mereka itu mau bergantung, minta tolong, minta belas kasihan dari yang dianggap lebih daripada dirinya.

Nah, bagaimana kalau kebetulan hidup saudara sedang susah, menderita kekurangan, dll, lalu ada yang menawarkan atau menjanjikan, "Ah kamu jangan repot-repot, diberkahi saja oleh orang yang hebat ini pasti beres!" Apakah mental saudara akan goyah kalau terjadi yang demikian? Ingatlah bahwa Sang Budha pernah memberikan nasehat kepada kita yang bunyinya, "Atta hi attano natho", artinya, "Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri". Jadi kita harus berjuang untuk meraih sukses, dengan mempraktekkan Dhamma, berusaha berdiri di atas kaki sendiri, percaya kepada diri sediri. Berusaha berdiri di atas kaki sendiri dan percaya kepada diri sendiri itu dengan apa?

Sang Buddha sudah memberi petunjuk yang jelas sekali agar kita dapat berdiri di atas usaha kita, yang sudah terang dan jelas sekali akan membawa kepada kesuksesan. Apa itu? Yaitu: saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya. Dengan 5 bala atau Panca Bala ini, kita akan berjuang sampai 'ajimat' yang akan kita jadikan pelindung yang betul-betul pelindung, tumbuh secara alamiah di dalam batin kita. Bukan dengan menengadahkan tangan meminta berkah keselamatan, berkah rejeki, dll kepada siapa-siapa.

Pada waktu di Muntilan, saya dikunjungi oleh seorang umat dari daerah lain. Katanya, "Bhante, saya rindu sekali dengan Bhante. Sekarang saya minta berkah kepada Bhante". Saya berkata, "Bagaimana romo?" "Saya minta supaya selamat sepanjang hidup, istri saya juga selamat, anak saya lulus, pekerjaan saya (sebagai tukang las) bisa maju, anak-anak saya semuanya menurut, baik-baik, nanti kalau kawin dapat istri yang baik", Pokoknya yang serba selamat, serba baik, dan serba tidak kekurangan. Itu yang diminta. Bagaimana saya tidak tertawa cekikikan di belakang panggung saya. tetapi toch saya berkahi juga. Nah, inilah tipe orang menggantungkan diri kepada orang lain, bukan berdiri di atas kaki sendiri. Andaikata romo itu, mengembangkan Panca Bala, yaitu saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya, pasti harapannya akan tercapai; minimal yang disebut "Nekkhamma Sankappa". Nekkhamma-sankappa itu sudah merupakan wujud permulaan dari 'ajimat' pelindung diri kita yang sebenarnya.

Saddha itu akan tumbuh dari melakukan sila dengan baik. Saya kira kalau saudara melakukan sila dengan sungguh-sungguh, keyakinan saudara akan berkembang, karena saddha itu memang harus tumbuh melalui sila. Kemudian Viriya, artinya tidak jemu-jemunya berjuang, melatih diri, tekun, ulet, rajin, tidak putus asa dan bahkan lebih dari itu, berani menghadapi resiko apapun untuk menjalani kebaikan. Kemudian Sati, adalah penuh waspada, berhati-hati sekali, sadar selalu. Kalau ada gejala yang tidak baik jangan cenderung. Itu bisa diatasi dengan kewaspadaan, kesadaran penuh, dan juga tentunya pengertian, sehingga baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam meditasi kita tetap memiliki perhatian, kewaspadaan, dan kesadaran. Itu faktor yang sangat menunjang, menjaga jangan sampai batin melamun, berkeliaran atau berkelana kepada keasyikan gerak-gerik pikiran yang selalu ada pada kita. Yang disebut keasyikan itu adalah ngelantur kepada masa lampau atau ngelantur kepada cita-cita yang akan datang.

Sedangkan kalau samadhi, itu adalah usaha untuk memusatkan batin kepada satu obyek, sehingga kesadaran dengan obyek itu manunggal jadi satu. Ketiga unsur ini yaitu viriya, sati, dan samadhi dikatakan sebagai sarana untuk meningkatkan pikiran kita, meningkatkan batin kita. Bukan dengan minum obat mencerdaskan otak atau vitamin-vitamin, bukan! Tetapi untuk meningkatkan batin, yang paling utama adalah: viriya, sati, dan samadhi. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan pannya. Pannya biasanya dikembangkan denngan Vipassana. Dan memang, pannya itu tumbuh dari sila dan samadhi. Kalau saudara-saudara pada lain kesempatan sempat melaksanakan latihan vipassana, ini adalah baik sekali untuk mengembangkan kebijaksanaan. Di sana saudara akan melihat bahwa segala sesuatu, jasmani/materi, batin, perasaan, ingatan, bentuk-bentuk pikiran itu nampak jelas selalu mengalami perubahan. Dia timbul karena ada syarat, sebab, dan kondisinya. Tetapi setelah dia timbul dia tidak bisa bertahan, kemudian memudar dan akhirnya lenyap. Dalam vipassana, kita akan berusaha melihat ini dengan jelas. Ini menjadi syarat tumbuhnya pannya atau kebijaksanaan.

Andaikata kita sudah dapat memiliki viriya, sati, samadhi, pannya, maka di situlah akan tumbuh secara alamiah apa yang disebut Nekkhamma Sankappa. Jadi batin saudara secara alamiah akan mampu bersikap melepaskan kemelekatan kepada benda-benda, kepada jasmani, kepada istri/suami, kepada harta, kepada apa saja. Kemelekatan akan jauh berkurang. Dengan istilah lain, batin saudara sudah mampu melepaskan, tidak lagi terikat. Kalau batin sudah mencapai yang demikian maka saudara akan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak lagi tertarik untuk berebutan minta berkah keselamatan atau berkah apapun. Karena berkah yang sebenarnya itu sudah dapat direalisasi secara alamiah di dalam batin yang sudah dikembangkan hingga mencapai Nekkhamma Sankappa. Kita akan membuktikannya nanti. Kalau belum sampai yang demikian, sulit untuk membayangkan. Nekkhamma Sankappa ini akan muncul secara alamiah sekali.

Memang kalau kita belum mencapai tingkatan yang demikian maka jelas keadaan batin kita masih tetap tergolong dalam kondisi duniawi. Bisa menangis, tertawa, sedih, rindu, cemas, was-was, takut, dendam, sakit hati, tersinggung; bila dipuji senang, bila dicela tersinggung. Itu kondisi duniawi. Kalau kita umpamanya melekat kepada cinta, rindu, benci, sedih, takut, cemas, was-was, kemana pun kita pergi akan selalu direbut oleh semut-semut; semut api, semut yang ganas sekali, semut yang kalau menggigit pedes sekali rasanya. Kalau belum mencapai Nekkhamma Sankappa, apalagi yang lebih tinggi, pikiran kita itu selalu dicengkeram, dikuasai oleh apa yang dinamakan Panca Niwarana, yaitu nafsu menyenangi, nafsu membenci, malas, lesu, emoh rasanya berjuang meningkatkan batin untuk mencapai sukses dalam Dhamma, artinya menyerah kalah. Belum lagi kalau takut-takut, was-was, cemas, bimbang dan ragu. Panca niwarana ini selalu menggerogoti kita, sehingga banyak orang yang angkat tangan, menyerah kalah karena tidak mengerti sarana apa yang harus digunakan untuk mengatasinya. Sesungguhnya, panca niwarana ini dapat diatasi atau bahkan dijinakkan atau dihancurkan dengan meditasi. Maka itu, meditasi memegang peranan yang sangat penting. Apakah itu meditasi ketenangan (Samatha Bhavana) ataukah Meditasi Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Kalau tidak berhasil maka pikiran akan tetap semrawut, tetap memiliki kondisi duniawi. Kalau pikiran sudah semrawut dan tidak bersih, walaupun kita sudah banyak berdana, banyak sembahyang, sudah sering-sering memuja, sudah ciacai (tidak makan daging), bahkan walaupun kita sudah menjalankan sila, 5 sila, 8 sila, 10 sila, 75 sila, 227 sila, mungkin lebih, tetapi kalau pikiran masih semrawut, masih belum bersih, belum tenang, belum stabil, belum damai, belum mantap, masih goyah, kita akan mudah tersinggung, mudah dendam. Itu ciri-ciri orang yang belum stabil, belum bersih. Maka orang-orang yang demikian dikatakan tidak terjamin mutlak mesti masuk surga. Syukur-syukur kalau lahir kembali jadi manusia. Memang kalau banyak berbuat jahat kita akan lahir di neraka, kalau pikiran baik kita akan lahir di surga, tetapi kalau pikiran lebih mantap, itu lain lagi halnya, lebih tinggi! Jadi pesan saya, berusahalah untuk membersihkan pikiran, dengan sarana kewaspadaan, perhatian, dan kesadaran.

Kita harus sadar/waspada, "Oh, kok baru disinggung sedikit, saya marah". Kita melihat marah itu muncul di dalam batin, lewat di dalam batin. Seperti misalnya kita berada di kamar yang bersih lalu ada ular masuk, kita melihat ular itu, lalu kita usir. Juga umpamanya pada waktu malam hari, secara refleksi kita melihat atau menginjak tali, lalu tali itu bergerak, kita terkejut karena kita pikir itu ular. Nah terkejut itu pun adalah gangguan pikiran. Jadi untuk membersihkan pikiran itu adalah luar biasa banyak usaha yang dikerahkan. Apalagi timbul rindu, kita "sadar". Oh, ini rindu timbul, ini racun! Benci timbul, wah ini api yang sangat panas.

Ada cerita di pulau Bali waktu gunung Agung meletus. Lahar yang panas sekali entah berapa derajat panasnya mengalir ke suatu tempat, sehingga meskipun hewan-hewan menjangan lari ke tempat yang lebih tinggi, lahar yang mengalir di pinggirnya pun dapat membakar menjangan itu.

Api yang kita gunakan untuk memasak tidak seberapa panas, tetapi api yang dikeluarkan oleh lahar gunung Agung itu panas sekali, namun api dari bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik, itu adalah racun api yang tiada taranya. Bila racun yang kasar kita makan, nanti malamnya atau seketika itu juga kita akan meninggal. Tetapi racun yang lebih halus, tidak demikian! Dia memakan sedikit demi sedikit sisa umur kita. Pelan-pelan dia merongrong. Itu racun yang halus. Tetapi pikiran yang jahat ini, yang merasa rindu, sedih, cemas, takut, was-was, benci, dendam, dan sebagainya itu jauh lebih dasyat daripada racun yang paling dahsyat yang kita kenal di dunia ini. Mengapa? Karena dia membuat kita menderita bukan saja pada kehidupan ini, tetapi kita bertumimbal lahir, bentuk-bentuk pikiran yang kotor itu tetap meracuni kita, membuat diri kita panas, menderita, sengsara selama hidup, sepanjang hidup di mana saja kita lahir.

Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh mengerahkan tenaga, untuk melepaskan segala bentuk-bentuk racun yang paling dahsyat yang paling hebat itu. racun atau api yang paling dahsyat adalah kebodohan dan kemelekatan. Dari situlah asal mulanya. Itulah yang sebenarnya rajanya racun, rajanya magic, rajanya jin, rajanya setan, yang memiliki kekuatan amat dahsyat. Rasanya kita orang tidak mampu menghadapinya. Namun Sang Buddha sudah memberikan petunjuk: kembangkan pannya/kebijaksanaan dengan mencoba melihat bahwa segala bentuk-bentuk pikiran itu hanyalah anicca, dukkha, anatta, sunyata, tathata, paticcasamuppada. Artinya mereka selalu berubah-ubah, mereka hanya problem, hanya masalah yang tiada habis-habisnya. Memang kadang-kadang mereka memberikan kepuasan, tetapi sering sekali tidak memuaskan. Dan bagaimana pun indahnya sesuatu itu, tetap ia tidak bisa dimiliki, karena ia hanya sesuatu yang timbul karena ada sebab, ada kondisi, dan dia tidak mungkin bertahan, ia akan lenyap, lebur.

Kembangkan pandangan ini terus-menerus. Dengan mengembangkan pandangan ini terus menerus, secara alami sang hati kita akan berubah dari aspek yang selalu mengalami perubahan atau lahir & mati (aspek sankhara), menjadi aspek sang hati yang tidak mengalami perubahan atau lahir dan mati (aspek visankhara). Itu bukan ada kekuatan dari langit yang membantu, tidak! Tetapi persisnya berkembang secara alamiah. Jadi usahakan untuk betul-betul mengerti bahwa semua materi, jasmani, bentuk-bentuk pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran; itu sebenarnya adalah termasuk dalam aspek yang pertama. Semuanya itu adalah sankhara. Tetapi kalau kita mengamati terus-menerus, hingga kita tahu jelas bahwa semua itu mengalami lahir-mati, lahir-mati, nanti sang hati yang mengamati itu akan berubah secara alamiah menjadi mencapai aspek visankhara. Artinya, setelah sang hati melihat perubahan-perubahan, anicca, dukkha, anatta, jasmani akan menjadi tua, akan mati, dan itu tidak dapat dipungkiri; sang hati tetap bisa tersenyum, "yach, sekarang saya sudah tua, tidak lagi seperti dulu! Saya maklum bahwa ini adalah kejadian yang alamiah, saya tidak kecewa, saya tidak menyesal". Badan jasmani ini akan sakit, mungkin mengalami sakit yang kronis, mungkin yang menjengkelkan sekali. Kalau kaki lumpuh tidak bisa berjalan, itu menjengkelkan sekali. Meskipun kaki lumpuh, tetapi sang hati rela menerima lumpuh itu. Mungkin kalau kita sakit, dokter bilang sudah tidak ada harapan bisa sembuh, dokter sudah angk at tangan. Dan kita sadar bahwa sebentar lagi kita akan meninggal, entah besok, entah lagi dua hari. Kita tahu itu, tetapi batin kita tidak takut, tidak gentar, tidak menyesal, tidak menangisi. Itulah aspek sang hati yang lebih luhur yang disebut visankhara atau asankhara. Kalau batin kita sudah dewasa, kita tidak akan mengemis, merengek-rengek, mengemis, minta apa-apa, minta segala-galanya, minta didoakan, minta blessing. Tidak lagi! Saudara akan diam, tenang, tersenyum menghadapi peristiwa apapun yang akan terjadi.

Kebanyakan dari kita umumnya 'kesengsem', melekat sekali dengan cara-cara kehidupan duniawi ini, seolah-olah kita tidak bisa lepas dari kondisi duniawi ini. Kita menyenanginya dan kita melekat padanya. Begitulah pada umumnya keadaan kehidupan kita. Tetapi tahukah, sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini? Hidup ini hanya sementara. Orang bijaksana mengatakan bahwa kita ini hanya melancong, hidup ini hanya kesempatan untuk belajar mengerti tentang hidup dan kehidupan. Bukan hidup untuk makan, untuk bersenang-senang, untuk berfoya-foya, untuk plesir, umpamanya kawin terus, mumpung masih hidup, mumpung ada uang, dan sebagainya. Bukan itu tujuannya! Kehidupan ini mempunyai tujuan yang jauh lebih mulia daripada itu. Kehidupan ini bertujuan untuk meningkatkan batin kita, dari bodoh menjadi bijaksana, dari rendah menjadi luhur.

Letak kebahagiaan itu adalah pada lenyapnya kebodohan dan kemelekatan. Di mana sang aku lenyap, di situlah bahagia. Jadi ini harus disadari. Karena itu kita harus bangkit, meningkatkan kehidupan kita agar menjadi luhur. Itu tujuannya.

Untuk mendewasakan batin, jelas adalah dengan sila, samadhi, pannya. Dengan meditasi ketenangan (samatha) atau dengan vipassana. Itu jelas demikian!

Kalau kita bermeditasi dengan obyek pernafasan misalnya, perhatian kita adalah kepada nafas, masuk-keluar, masuk-keluar. Tetapi bila batin kita tidak dijaga dengan sarana-sarana yang ampuh, batin kita akan mengembara. Kalau pernafasan itu diumpamakan sebagai sumbu dari lampu lentera, maka api yang tidak dijaga dengan baik dan ampuh itu akan mudah ditiup angin, goyah, dan bisa mati. Kalau saudara bermeditasi, mengambil perumpamaan sumbu sebagai pernafasan, api sebagai sang hati atau sang batin. Sekarang lampu lentera ini kita tutup dengan kaca sehingga kalau ada angin datang dari Timur, Barat, Utara, Selatan, ia tidak mampu menggoyangkan dan mematikan lampu itu, melainkan tetap menyala dengan tenang. Apakah yang ampuh dan baik untuk menjaga sang hati ini? Yaitu viriya, sati, samadhi. Ia menjaga kalau ada keasyikan pikiran muncul menggoda, sehingga konsentrasi kita bisa berjalan mulus. Semua gangguan-gangguan akan dicegah dengan viriya, sati, dan samadhi. Dengan demikian api sang hati ini menjadi mulus, menyala terang, dengan sangat terang sekali. Lebih-lebih kalau kita kelak bisa melatih Vipassana Bhavana, itu lebih ampuh lagi, yaitu bisa mengembangkan pannya, mengembangkan keseimbangan, sampai bisa mencapai yang disebut Gotrabhu Nyana. Dimana kita bisa melihat Dhamma dalam 2 aspek, yaitu aspek Sankhara dan aspek Visankhara. Itu dapat dilihat dengan jelas, sehingga kita akan dikatakan mempunyai Mata Dhamma. Artinya bisa melihat Dhamma dalam kedua aspeknya.

Pada hakikatnya, Dhamma itu dapat ditinjau dari 2 sudut. Dari sudut yang pertama, dia merupakan makanan atau obat bagi kita untuk menyembuhkan kotoran-kotoran batin, kejahatan-kejahatan pikiran untuk disembuhkan menjadi baik, menjadi suci, menjadi bersih. Alat satu-satunya adalah Dhamma. Ditinjau dari sudut lainnya, Dhamma ini adalah alam semesta dengan segala isinya. Maka oleh karena itu kita perlu mengetahui 4 aspek daripada Dhamma. Aspek yang pertama dari Dhamma adalah Alam semesta dengan segala isinya. Aspek kedua adalah Hukum-hukum Alam. Aspek yang ketiga adalah sikap perbuatan kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum-hukum alam. Aspek yang keempat adalah Buah atau akibat yang terjadi karena tingkah laku tersebut di atas. Kalau sesuai maka buahnya adalah kebahagiaan. Tetapi kalau tidak sesuai atau bertentangan, buahnya adalah penderitaan.

Mengapa kita melakukan sila? Karena sila itu menggiring kita supaya perbuatan kita sesuai dengan hukumalam. Mengapa meditasi? Karena meditasi itu menggiring kita supaya batin kita sesuai dengan hukum alam. Inti daripada Dhamma itu terletak pada sang hati. Jadi walaupun diri kita ini adalah Dhamma, dunia itu adalah Dhamma, tapi inti dari Dhamma itu terletak pada sang hati. Maka oleh karena itu kita harus mengerti tentang sang hati, tentang inti dari Dhamma ini. Seperti apa yang telah saya katakan tadi, sang hati ini mempunyai 2 aspek. Aspek yang pertama yaitu hati yang terombang-ambing oleh perasaan; sekarang girang, sebentar sedih; sekarang benci, nanti hilang kebenciannya, sekarang rindu, nanti bermusuhan. Itu semua diombang-ambingkan oleh kondisi duniawi. Sang hati yang demikian itu tergolong sankhara. Sedangkan satunya lagi adalah sang hati yang tidak diombang-ambingkan oleh keadaan yang berubah-ubah atau kondisi duniawi. Seperti yang saya katakan, jasmani boleh tua, tapi kita tidak sedih karena tua, tidak kecewa, menyesal. Itulah yang disebut aspek visankhara.

Jadi kita harus berusaha meningkatkan sang hati dengan belajar mengerti ketidakkekalan dari bentuk-bentuk jasmani dan bentuk-bentuk batin yang tergolong sankhara, untuk kita kembangkan terus secara alamiah, hingga akhirnya menjadi berstatus visankhara.

Berbicara tentang sankhara, ada 2 macam. Yang pertama adalah yang tergolong duniawi atau Lokiya Sankhara. Yang kedua disebut Dhamma Sankhara. Ini sama halnya dengan apa yang disebut Samutti Sacca dengan Paramatha Sacca. Coba kita perhatikan kayu yang diukir, dibentuk demikian rupa sehingga menjadi meja altar. Meja Altar itu kita yang memberikan nama, membentuknya. Manusia yang membentuk demikian. kayu yang asalnya dari hutan itu sekarang disulap menjadi meja. Kayu hutan itu dikeringkan dulu, atau pohon itu direbahkan dulu, ditebang, digergaji, dibuat papan, dibuat balok-balok kecil, dikeringkan, kemudian dibuat meja. Kayu itu adalah Dhamma Sankhara. Meja adalah Lokiya Sankhara. Tetapi kalau bentuknya begitu disebut papan tulis. Papan tulis adalah sulapan dari manusia, dibentuk oleh manusia, itu Lokiya Sankhara. Bahannya adalah Dhamma Sankhara. Dhamma Sankhara maupun Lokiya Sankhara, dua-duanya berbarengan mengalami lahir-mati, lahir-mati, lahir-mati. Yang disebut Dhamma Sankhara misalnya adalah Dhatu, Panca khanda, Dua belas ayatana, unsur-unsur padat, cair, panas, udara, dan lain-lain. Tetapi kalau sudah disebut air, itu Lokiya Sankhara. Jadi yang telah dibentuk, dibuat, dikhayalkan atau 'disulap' oleh manusia.

Kalau Dhamma Sankhara dan Lokiya Sankhara ini kita misalkan film yang diputar di layar putih. Filmnya itu adalah Dhamma Sankhara, gambar yang di layar putih itu adalah Lokiya Sankhara. Jadi kalau diputar, ia kelihatan hidup. Karena kelihatan hidup, kita lupa bahwa film itu sendiri terdiri dari potongan-potongan gambar. Apabila ada yang menyedihkan, kita ikut sedih, kalau ada pemainnya ganas, kita ikut benci, kalau ada yang menyanyi, kita ikut gembira. Kita diombang-ambing oleh gambar yang berputar itu. Padahal kalau kita melihat gambar yang sepotong-sepotong, hati kita tidak akan ikut tergerak untuk sedih, gembira, dan lain sebagainya. Maka berusahalah untuk tidak tertarik, tergiur, atau kesengsem dengan perputaran Lokiya Sankhara itu. Jangan! Itu hanya konsep, itu hanya ide, itu hanya khayalan, itu hanya sulapan.

Masih berkenaan dengan sankhara, ia dapat pula ditinjau dari sudut pandangan lain. Yang pertama adalah sankhara yang diikuti atau disertai dengan kemilikan, keakuan, atau kemelekatan. Dan sankhara dari sudut pandangan lain adalah sankhara yang tidak diikuti atau disertai oleh kemilikan, kemelekatan, dan keakuan. Siapakah itu, sankhara yang masih disertai oleh kemilikan, keakuan, dan kemelekatan? Adalah orang-orang awam. Pokoknya kalau orang awam, apapun selalu disertai dengan "aku", milikku, kepunyaanku, dan juga kemelekatan. Tetapi bagi orang yang sudah suci seperti para Arahat, apapun yang timbul dan lenyap, yang terjadi berkenaan dengan proses itu, tidak pernah muncul keikutsertaan dari aku, milikku, dan kepunyaanku. Kemelekatannya telah hancur, rasa kepunyaannya sudah hancur, rasa keakuannya sudah terhapus, habis. Itulah pandangan sankhara dari sudut pandangan lain.

Akhirnya, kita harus berjuang untuk belajar Dhamma, untuk menghilangkan sang aku, rasa kemiilikan, dan rasa kemelekatan yang sangat dahsyat itu. Berbicara tentang kemelekatan, ia dapat digolongkan dalam 4 macam. Yang pertama adalah kemelekatan kepada nafsu-nafsu indera, termasuk kemelekatan kepada bentuk-bentuk yang dilihat, kepada suara-suara, kepada makanan yang dikecap oleh lidah, yang dirasakan oleh sentuhan kulit, yang dirasakan melalui kontak pikiran. Yang kedua adalah kemelekatan terhadap pandangan keliru, pengertian salah, teori-teori salah, pendapat keliru, atau kepercayaan keliru. Yang ketiga adalah kemelekatan kepada tradisi-tradisi, baik itu upacara, kebiasaan, atau apa saja yang bersifat takhayul. Yang keempat adalah kemelekatan kepada apa yang kita anggap sebagai "Aku", seperti: jasmani, perasaan, ingatan, pikiran, kesadaran. Juga kepada benda-benda seperti kekayaan, uang, anak, istri, dan segala sesuatu yang kita anggap sebagai milikku atau kepunyaanku yang mutlak. Kalau kita melekat kepada hal-hal tersebut, inilah kemelekatan yang paling dahsyat. Kemelekatan inilah sumber segala-galanya, sumber derita, sumber malapetaka, sumber kegoncangan, sumber racun, sumber api yang dahsyat, sumber problem, sumber konflik, dan sebagainya. Kita harus berjuang untuk menghapuskan kemelekatan ini. Memang berat sekali, tetapi kita harus berjuang mencapai tujuan kita yaitu kebahagiaan Nibbana.

Sebagai penutup, cita-cita kita untuk mencapai Nirwana atau Nibbana, kelihatannya memang tidak mungkin, apalagi yang sudah berkeluarga dan berkecimpung dalam duniawi, kelihatan sepintas lalu tidak mungkin. Dan ada yang mengkhayalkan bahwa Nibbana itu kosong, tidak ada, seperti kekosongan. Itu pandangan yang keliru. Di dalam Nibbana segalanya masih utuh, saudara masih utuh. Kalau pun Dhamma itu utuh tapi dia bisa mengalami Nibbana sekarang, tidak usah menunggu mati, dan segala sesuatu masih utuh tidak perlu hilang, tapi tentu ada pengecualiannya. Yang hilang hanyalah kebodohan, rasa kemilikan, keakuan, dan kemelekatan tentang keakuan. Sang hati tidak goyah mengalami rugi, mengalami untung, mengalami dipisuhi, mengalami difitnah, hati tidak tergoyahkan. Hati yang tidak tergoyahkan itu sejuk. Kalau kebencian, dendam, dan sebagainya itu hilang maka saudara mengalami Nibbuto. Batin tidak lagi panas membara, tetapi sejuk, damai. Itulah Nibbuto, atau sama dengan Nibbana yang sebentar-sebentar.

Kalau seorang Arahat masih hidup itu disebut Nibbana yang masih dengan sisa hidup, kalau yang sudah meninggal dunia berarti Nibbana tanpa sisa hidup. Ini bukan propaganda/promosi tetapi supaya kita bergiat mencari Nibbana itu setapak demi setapak. Kalau tadinya dengan istri bertengkar saja, tetapi sekarang sudah bisa berhenti bertengkar, itu adalah Nibbuto —Nibbuto dari bertengkar.

Latihan ini bukanlah untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan diri sendiri. Kita sendirilah yang akan mencicipinya. Ingat, berdirilah di atas kaki sendiri, jangan menjadi pengemis Dharma, jangan menjadi pengemis keselamatan, pengemis rejeki, dan sebagainya. Harus bersikap apa adanya. Kalau mengerti bahwa dunia ini fana, tidak kekal, berubah-ubah, ada kalanya muda, sehat, ada kalanya sakit, itu wajar. Terimalah dengan baik. Inilah berkah yang sebenarnya.

[ Dikutp dari Mutiara Dhamma VII ]

Rabu, 22 September 2010

Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana




Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Dr. Sunanda Putuwar





Theravada1 dan Mahayana adalah dua aliran besar dalam agama Buddha seperti halnya Katholik dan Protestan dalam agama Kristen. Di kedua aliran Theravada dan Mahayana tersebut terdapat banyak sub aliran yang mempunyai aneka ragam cara praktek ritual. Setiap aliran mempunyai kitab suci dan banyak pengikutnya. Maka tidaklah mungkin menyebutkan semua persamaan dan perbedaannya secara rinci. Tulisan ini akan menunjukkan ciri yang umum dan mendasar saja. Ciri yang sebaliknya, saya serahkan kepada pembaca mencarinya sendiri.

Pada jaman Sang Buddha, tidak ada aliran Theravada ataupun Mahayana. Semua ajarannya dikenal dengan Buddhasasana (ajaran Sang Buddha). Tetapi menurut sejarah perkembangan agama Buddha, pandangan sekte mulai muncul setelah Sang Buddha Parinibbana. Hingga Pasamuan Agung (Konsili) Kedua yang berlangsung pada abad ke-5 sebelum Masehi, belum ada uraian tentang adanya sekte. Catatan hanya menunjukkan keberadaan ajaran berbahasa Pali saja "Sekitar permulaan era agama Kristen, suatu kecenderungan bentuk baru muncul dalam agama Buddha…"2

Penyebaran kitab Berbahasa Sansekerta akhirnya mencapai puncak dalam pengenalan dua tradisi agama Buddha yang berbeda :



Perbedaan pandangan dari mereka yang menguraikan setiap bagian tulisan itu menggambarkan pandangannya, dan umat menerimanya untuk diakui. Akan tetapi, kedua aliran Theravada dan Mahayana sama-sama menghormati Buddha Gotama dan mempraktekkan ajarannya.






Selama pemerintahan Raja Asoka di India (abad ke 3 SM), agama Buddha menyebar luas dan sampai ke luar negeri, raja Asoka mengirim duta agama Buddha ke Srilanka , Nepal, Suvarnabhumi (Asia Tenggara) untuk menyebarkan agama Buddha berbahasa Pali. Sedangkan yang lain pergi ke daerah Utara (China) melewati Asia Tengah dan menyebarkan agama Buddha berbahasa Sansekerta.

Selama lebih dari 2000 tahun , dua aliran agama Buddha ini tumbuh dengan kokoh secara terpisah satu dengan yang lainnya. Karena pemisahan geografik para penyebarnya, kesempatan untuk saling mempengaruhi antara keduanya sangat sedikit. Keadaan itu menyebabkan tumbuhnya tembok batas ketidaktahuan dan prasangka di antara kedua aliran ini.

Saat ini, orang dapat mengenali secara geografik bahwa China, Hong Kong, Jepang, Korea, Mongolia, Taipeh (Taiwan), Tibet, Vietnam, dan sebagian besar Nepal sebagai negara Buddhis Mahayana. Sedang Birma (Myanmar), Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan sebagian kecil Nepal dan beberapa bagian India sebagai negara Buddhis Theravada. Dalam dekade Belakangan ini, baik agama Buddha Mahayana maupun Theravada menyebar ke Eropa, Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, dan beberapa negara di Benua Afrika.

The World Fellowship of Buddhist, didirikan pada tahun 1940, mengajak semua pengikut Sang Buddha dari berbagai aliran untuk mengadakan konferensi setiap dua tahun sekali.

Pada Halaman W,F.B. Refiew, The Middle Way (sebuah majalah Buddhis yang juga berarti Jalan Tengah, terbit di Inggris), dan penerbitan lainnya, dikatakan bahwa kini umat Buddha dari berbagai negara telah menawarkan pandangan intelektual dan spiritualnya di bawah sistim pendidikan, ilmu pengetahuan, dan tehnologi komunikasi yang modern. Study perbandingan yang obyektif tentang agama Buddha menjadi semakin penting dalam masyarakat akademik di belahan Timur maupun Barat.


Seluruh naskah aliran Theravada menggunakan bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai di sebagian India (Khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Cukup menarik untuk dicatat, bahwa tidak ada filsafat atau tulisan lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravada, yang disebut kitab suci Ti Pitaka, oleh karenanya, istilah "ajaran agama Buddha berbahasa Pali sinonim dengan Agama Buddha Theravada. Agama Buddha Theravada dan beberapa sumber lain berpendapat, bahwa Sang Buddha mengajarkan semua ajarannya dalam bahasa Pali, di India, Nepal dan sekitarnya selama 45 tahun terakhir hidupnya, sebelum Beliau mencapai Parinibbana.

Seluruh naskah aliran Mahayana pada awalnya berbahasa Sansekerta dan dikenal sebagai Tripitaka. Oleh karena itu istilah Agama Buddha berbahasa Sansekerta sinonim dengan agama Buddha Mahayana. Bahasa Sansekerta adalah bahasa klasik dan bahasa tertua yang dipergunakan oleh kaum terpelajar di India, selain naskah agama Buddha Mahayana, kita menjumpai banyak catatan bersejarah dan agama, atau naskah filsafat tradisi setempat lainnya ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Secara umum, para Bhikkhu dari aliran Theravada maupun Mahayana tidak menyediakan waktunya untuk mempelajari ajaran di luar ajaran yang dianutnya. Namun demikian walaupun mereka mengetahui sedikit ajaran yang lain, mereka rupanya menghafalkan ajaran yang terdapat dalam kitab suci yang dianutnya (terutama Theravada). Alasan untuk tidak mempelajari ajaran yang lain, karena isi setiap kitab suci satu aliran amat banyak. Jika kitab suci kedua aliran tersebut dikumpulkan menjadi satu, kira-kira tiga set buku Encyclopedia Britannica.

Alasan lain, jelaslah berkenaan dengan pandangan psikologi bahwa seseorang akan lebih memperhatikan ajaran yang dianutnya. Tujuan utama sebagian besar bhikkhu dari kedua aliran ini adalah praktik, bukan pemujaan.. Dari semua alasan di atas, hanya sedikit bhikkhu yang menyediakan waktu dan tenaganya untuk membuka mata pada ajaran yang lain selain ajaran yang dianutnya.




Para penganut aliran Mahayana menghormati Buddha Sakyamuni dan berbagai Boddhisattva (seperti Maitreya, Avalokitesvara atau Kuan Yin). Mahayana (khususnya di Tibet) memuja semua Buddha terdahulu atau Adi Buddha, Amitabha, Vairocana, Askyobhya, Amoghasiddhi, dan Ratnasambhava, Tantra dan Mandala adalah termasuk praktik dalam Mahayana Tibet.

Sedangkan Theravada tidak mengabaikan adanya berbagai makhluk spiritual di jagad raya ini. Para penganutnya hanya memuja Buddha yang disebutkan dalam Tipitaka, khusunya Buddha Sakyamuni, yang dikenal juga sebagai Buddha Gotama. Theravada tidak memuja para Bodhisatva walaupun mereka memberikan rasa hormat karena kebijaksanaan dan kasih sayangnya yang besar.

Semangat bakti terlihat sangat menonjol di vihara-vihara Mahayana, khususnya di negara-negara yang sangat di pengaruhi oleh kebudayaan China. Hal ini tidak terpopuler di negara-negara Buddhis Theravada kecuali Thailand.

Di Vihara-Vihara Mahayana, para pemuja menggunakan gambar dan relik (termasuk abu kremasi) dari anggota keluarganya yang sudah meninggal. Relik ini kemudian digunakan sebagai obyek sembahyang dan pemujaan. Umat Buddha Mahayana mempersembahkan bunga, dupa, lilin, buah dan makanan, yang secara harfiah untuk menghormati roh dari orang yang telah meninggal. Tradisi ini tersimpan dalam ingatan para anggota keluarga yang telah meninggal.

Pali Sutta diucapkan di Vihara-Vihara, Theravada sedangkan syair-syair suci Sansekerta diucapkan di Vihara-Vihara Mahayana. Sebagai Tambahan dalam Bahasa Pali dan Bahasa Sansekerta logat seperti Birma, China, Jepang, Newari, Thai dan sebagainya dipergunakan tergantung pada kebudayaan setiap penganutnya.

Secara keseluruhan, Vihara-Vihara Mahayana terkesan meriah dan indah, dihiasi dengan gambar beraneka warna, patung dan hiasan lainnya. Vihara-vihara Theravada biasanya tampak sederhana dan miskin dekorasi dibandingkan dengan vihara-vihara Mahayana. Hal yang sama, ritual Mahayana jauh lebih meriah susunannya daripada praktik ritual Theravada.




Semua Vihara berisi berbagai macam simbol yang sakral, sebagian besar adalah patung Buddha Sakyamuni. Ditambah lilin, bunga, dan dupa yang biasa dipersembahkan, sebagai simbol-simbol ajaran (seperti bunga untuk anicca atau ketidakkekalan).

Juga umum dari kedua aliran tersebut simbol bendera Buddhis, gambar Sang Buddha, pohon Bodhi, dan Patta. Di Vihara-vihara Mahayana orang mendapatkan bermacam-macam simbol sakral lainnya yang juga dipandang sebagai perlengkapan spiritual termasuk ikan terbuat dari kayu, kepala naga, kendi, genta, tambur, dan sebagainya.

Kecuali genta dan tambur, yang kadang-kadang juga terdapat di vihara-vihara Theravada di Thailand. Orang sulit memperoleh perlengkapan keagamaan yang bermacam-macam di vihara Theravada, karenanya praktik ritual Theravada tidak begitu sulit dibandingkan dengan Mahayana.

Bhikhu-bhikkhu Tibet mengenakan jubah berwarna coklat tua atau merah hati, disesuaikan dengan tubuhnya. Di China, Korea, Taipeh (Taiwan) dan sebagainya, para Bhikkhu mengenakan jubah berwarna kuning jingga (kuning kunyit).

Para Bhikkhu Mahayana Vietnam setiap harinya menganakan ao trang (jubah coklat) dan ao luc binh (jubah tidak resmi atau untuk bekerja), dan dalam kesempatan resmi mereka mengenakan ao hau (jubah upacara bagian luar). Para Samanera mengenakan ao nhut binh (jubah berwarna coklat atau warna langit/pelengkap pakaian). Itulah jubah berwarna kuning kunyit dengan sedikit perbedaan bentuk.

Bhikkhu-bhikkhu Theravada selalu menggunakan civara dan antara vasaka dua kain panjang, yang dikenakan sebagai jubah. Pada kesempatan resmi, sanghati, kain panjang jubah yang dilipat dengan rapi dikenakan dibahu kiri (seperti memakai selendang). Jubahnya dapat berwarna kuning kunyit, kuning kulit kayu, kuning kemerahan atau merah hati.

Di Jepang, para bhikkhu menggunakan jubah berwarna putih dengan sedikit jubah lapis berwarna kuning kunyit di luar jubah warna putih.



Para penganut agama Buddha Theravada bertujuan mencapai Nirvana (Nibbana) dengan menjadi Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi, juga disebut Savaka Buddha). Theravada menekankan bahwa pencapaian Arahat adalah tujuan terakhir hidup ini, setelah itu tidak ada kelahiran lagi.

Sedangkan Mahayana menekankan bahwa terdapat kelahiran kembali bagi seorang Arahat, seperti Sariputra, Moggalana, dan orang-orang suci lainnya, dan juga menekankan bahwa benih-benih Kebuddhaan ada pada semua orang. Aliran Mahayana bertujuan untuk mencapai Kebuddhaan (menjadi Sammasambuddha) dengan mengikuti jalan Bodhisatva. Mahayana memandang Bodhisatva sebagai makhluk yang telah mencapai penerangan sempurna , sedang Theravada menyatakan bahwa Bodhisatva adalah makhluk yang belum mencapai penerangan sempurna.

Untuk para penganutnya, Theravada lebih menekankan pada penanaman kebijaksanaan, pengertian dan pengamalan daripada kepercayaan dan cinta kasih. Sebaliknya, Mahayana lebih banyak menekankan pada kepercayaan dan kasih sayang daripada pengamalan, pengertian, dan kebijaksanaan. Walaupun adanya perbedaan penekanan tersebut, kedua aliran sama-sama menerima semua kebajikan (paramita) tersebut dan berbagai ajaran Sang Buddha yang penting lainnya.


Pureland Buddhist (Sekte Sukhavati, salah satu aliran Mahayana) mempercayai adanya penyelamatan kerena keyakinan. Sutra Bunga Teratai (Saddharma Pundarika Sutra) mendukung ajaran ini. Orang sulit menemukan adanya penekanan pada kepercayaan dalam aliran Theravada.


Para bhikkhu hidup tidak menikah, baik dalam Theravada maupun Mahayana. Menurut catatan sejarah Theravada, Sangha Bhikkhuni tidak ada lagi karena berbagai macam sebab di India dan di berbagai belahan dunia lainnya kira-kira 500 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana. Tidak ada bhikkhuni lagi dalam Theravada kecuali mereka yang menjalani sepuluh sila atau Anagarika, yang tidak menerima penahbisan secara penuh.

Sebaliknya, Mahayana mempertahankan bahwa Sangha bhikkhuni tidak pernah lenyap dari dunia ini. Pada aliran Mahayana terdapat Samaneri (calon bhikkhuni dan Sangha Bhikkhuni adalah pasamuan para bhikkhuni). Sebagian orang berpendapat bahwa Mahayana lebih mengutamakan pengikutnya, sedangkan Theravada lebih menekankan pada pertapaan atau kebhikhhuan.

Sejumlah sesepuh Mahayana( yang menyatakan dirinya sebagai seorang yang menjalani kehidupan pertapa dari aliran Mahayana tertentu dan berjubah ala bhiksu). Di Tibet, dan banyak pula sesepuh-sesepuh Mahayana demikian di Jepang yang menikah dan menjalani kehidupan berkeluarga.

Sebagian besar kependetaan Mahayana diberbagai bagian dunia seperti China, Korea, Vietnam dan Taiwan dan sebagainya adalah para bhikkhu oeh karenanya mereka membujang. Semua Bhikkhu Theravada juga membujang.

Dalam praktek yang nyata sedikit perbedaan diantara keduanya. Selain, sebagian besar bhikkhu-bhikkhu Mahayana menjalani vegetarian, tetapi pada umumnya mereka makan setelah tengah hari. Sebaliknya, sebagian besar bhikkhu Theravada tidak menjalani vegetarian baik sarapan dan makan siang akan tetapi mereka tidak makan setelah tengah hari.

Keduanya mempunyai alasan berakar dari sejarah tradisi dan kebudayaan dari penganutnya untuk melakukan atau tidak melakukannya.


Di kedua Nikaya atau sekte, umat awam suka berdana meteri untuk kepentingan vihara. Dalam Theravada, umat awam membungkukkan diri di depan para bhikkhu atau beranjali dan para bhikkhu memberkahi mereka dengan berkata "Semoga anda berbahagia" dan seterusnya. Akan tetapi bhikkhu Theravada tidak membalas kembali salam umat dengan cara yang sama, juga tidak dengan beranjali.

Di dalam Mahayana pun, umat awam menghormatinya dengan membungkukkan diri kepada para bhiksu atau dengan beranjali bersama. Tetapi dalam kebiasaan ini (khusunya Vietnam dan Jepang) para bhikkhu membalas kepada umat awam dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh pemberi hormat. Begitulah, perbedaan kebudayaan para penganut yang ada di berbagai negara dari yang jelas nampak dalam praktek religius masyarakat.

Sesungguhnya, sepanjang mengenai pelaksanaan praktek moral, sedikit sekali perbedaan kedua aliran agama Buddha ini. Sebagai contoh, menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong dan mabuk-mabukan (Pancasila Buddhis) adalah prektek utama bagi umat Buddha dari kedua aliran ini. Sebagian besar Vinaya lainnya hampir serupa. Dimana ada perbedaan di antara mereka, itu dikerenakan mereka menambah kekayaan filsafat agama Buddha dan atau kerena perbedaan budayanya.

Sebagian besar umat Buddha baik dari Theravada maupun Mahayana merupakan para dermawan yang tulus. Dan keduanya berpendapat bahwa para bhikkhu adalah guru spiritual mereka. Namun, karena keakraban mereka dengan para bhikkhu sesuai dengan aliran yang dianutnya yang mereka kenali dengan bentuk dan corak jubahnya, umat awam merasa lebih dekat dengan bhikkhu dari aliran mereka sendiri.

Selain itu, ada beberapa contoh dimana umat awam yang saleh dalam hal menyampaikan kedermawanannya kepada para bhikhhu, setidak-tidaknya dalam tertentu tingkat ;


Kadang-kadang, dermawan dari salah satu aliran itu mengundang para bhikkhu dari Mahayana dan Theravada ke rumahnya, berdana makanan dengan hidangan yang terbaik dan setelah itu memohon berkah. Perwujudan dan kesalehan demikian menunjukkan praktek teladan seorang umat awam, tanpa mengabaikan atau mempunyai prasangka terhadap aliran lainnya.


Demikianlah, pernyataan persatuan dan kemurnian itu terwujud sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang sesungguhnya.


KESATUAN DAN SERASI

Baik umat Buddha Theravada maupun Mahayana merupakan umat yang penuh damai dan terbuka pikirannya, menganut metta atau cinta kasih dan kebijaksanaan. Untuk memperkuat kesatuan yang lebih serasi di antara penganut ke dua aliran besar itu, kita harus mengerti dan mau mempelajari satu sama lain. Dengan cara ini, kita dapat melarutkan jurang pemisah dalam pengetahuan kita.

Para bhikkhu dan pandita serta pemimpin dari kedua aliran itu harus meluaskan pengertian dan kemauannya untuk bekerja sama (baik dalam hal material maupun spiritual), mempelajari atau mendengar lebih banyak pengetahuan selain dari kebiasaan yang mereka miliki. Di jaman sekarang ini, penting artinya agar kita dapat bekerja sama, mengatasi persoalan bersama, dalam mencapai Kebuddhaan atau Nibbana.

Tidak ada masalah, apa aliran agama Buddha yang dianut seseorang. Jika ia mempraktekkan ajaran dengan baik, dia akan mendapat hasil yang baik, pengetahuan akan kesunyataan. Melihat kebenaran, menembus makna Kebuddhaan.

Barang siapa mempraktekkan ajaran-Ku, dia telah melihat aku, demikian sabda Sang Buddha.


Dunia terasa semakin kecil sehubungan dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Sebagai akibatnya, umat mulai bersama-sama mencari segi-segi ilmiahnya. Banyak di antara mereka yang mengadakan diaalog tentang paham ajaran mereka dengan baik bersama-sama semua aliran, tidak hanya aliran khusus yang mereka anut.

Jika kita, baik penganut/umat Mahayana maupun Theravada tidak cukup mengetahui kebiasaan aliran lainnya, kita akan ketinggalan. Kita juga tidak siap ambil bagian dalam dialog antar agama. Persatuan di antara aliran-aliran agama Buddha akan bermanfaat bagi semua umat Buddha.

Jika kita menambah pengetahuan dan menghargai aliran lain, serta jika kita benar-benar mulai melihat semua umat Buddha sebagai satu kesatuan umat beragama, kemungkinan untuk bekerjasama, belajar bersama, dan saling menopang akan bertambah.

Oleh karena itu, baik perorangan maupun kelompok, kita seharusnya berusaha untuk saling mempelajari satu sama lain dan mencapai kesatuan, baik spiritual dan sosial.

Resiko dalam mendiskusikan dan mempelajari aliran lain adalah anda mungkin dapat merasa goyah terhadap kebiasaan dan praktik aliran yang anda anut. Pandangan itu mungkin akan mempengaruhi keyakinan dan praktek anda.

Sebagai akibatnya, pandangan konservatif pada aliran yang anda anut mungkin akan membuat anda tidak memilih Mahayana saja ataupun Theravada saja. Bagi mereka ini mungkin tidak tahu di mana tempat yang sesuai baginya.. Kebebasan anda mungkin menyebabkan anda gelisah dan merasa sukar. Akan tetapi, baik Theravada maupun Mahayana tentu akan menyambut anda dengan sepenuh hati sebagai rasa cinta kasih dan hormat pada saudara. Dalam hal ini, diri anda adalah guru bagi keputusan dan pertimbangan anda sendiri.

Kebesaran hati dinyatakan dengan perbuatan yang benar, bukan dengan kata-kata yang tinggi. Kebijaksanaan diwujudkan dengan perbuatan bijak, bukan dengan kesombongan. Sebagai pengikut Sang Buddha yang maha welas asih, kita perlu menunjukkan cinta kasih dan kasih sayang yang sama kepada umat Buddha, umat agama lain bahkan kepada semua makhluk hidup lainnya.

Sebagai umat atau penganut Buddha, kita adalah orang yang menunjukkan tentang kebijaksanaan Sang Buddha yang universal, akan tetapi karena adanya pandangan sekte, hal tersebut kadang-kadang menjadi berkurang nilainya.

Kita harus lebih mengembangkan cinta kasih, kasih sayang, dan kebijaksanaan di antara kita sebagai umat Buddha, sebelum kita dapat memberikan teladan cinta kasih kepada dunia.

Vietnam memberikan sebuah contoh yang bagus dalam pembauran antara tradisi Mahayana dan Theravada. Di Vietnam, terdapat kesan saling tidak tertarik dan keanekaragaman di antara kita, dengan pengetahuan empiris dan saling menghargai. 

SARAN

Dengan tujuan seperti tersebut di atas, saya menganjurkan kepada para bhikkhu Mahayana dan Theravada untuk saling mempelajari dan memahami tradisi masing-masing dengan baik. Dan menjelaskan kepada para umatnya bahwa Mahayana dan Theravada hanya merupakan dua aliran yang berbeda, bukan sekte yang asing bagi agama Buddha. Keduanya berasal dari Sang Buddha, Yang Maha Bijaksana dan Maha Welas Asih, yang tak terbatas bagi semua makhluk.

"samagganam tapo sukho". Persatuan merupakan kebahagiaan demikianlah Sang Buddha menyabdakan.

Untuk melengkapi bagian akhir tulisan ini para bhikkhu dan umat awam Theravada di Burma, Sri Lanka, Thailand dan lainnya hendaknya memperluas programnya dalam pertukaran pelajaran dengan para bhikkhu dan pemimpin umat Mahayana dari China, Korea, Jepang, Mongolia, Taiwan, Tibet, Vietnam, dan sebagainya. Demikian pula negara-negara Mahayana seperti China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya harus memberi kesempatan lebih banyak kepada para bhikkhu dan pemimpin umat Theravada untuk mempelajari agama Buddha Mahayana.

Para Bhikkhu Mahayana dan Theravada hendaknya mendorong untuk mempelajari, mengajar , bertemu, dan juga hidup bersama sedikitnya dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian mereka dapat mengembangkan rasa persaudaraan yang lebih besar dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dengan cara ini, setiap aliran mempunyai kesempatan untuk menjelajahi ajaran lainnya dan menguji pandangannya secara kritis tentang kebiasaan, teori dan paraktiknya.

Secara pribadi, saya pernah mempelajari dan mengajar Theravada dan Mahayana dan saya hidup bersama dengan para bhikkhu dari kedua aliran itu cukup lama. Saya melihat bahwa keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam praktik yang saya saksikan sendiri maupun dari para bhiksu kenalan saya. Dari pengalaman yang menguntungkan itu, saya memberikan saran-saran ini.

Haruskah seseorang mempelajari ajaran lain lebih banyak daripada ajaran yang dianutnya sendiri? Tidak perlu! Jika seseorang ingin mencurahkan dirinya semata-mata untuk praktek spiritual dan mencapai Nibbana atau Kebuddhaan, masing-masing ajaran mempunyai petunjuk yang cukup untuk mencapai tujuan itu.

Memepelajari ajaran lainnya penting bagi mereka yang ingin memperluas pengertian atau pengetahuannya dan jika ia berhadapan dengan penganut ajaran lainnya. Seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang ajaran lainnya dapat menyakitkan hati orang lain, walupun tanpa ada maksud melakukan hal itu. Seseorang dapat berbuat demikian melalui tingkah laku atau ucapan tertentu dengan suatu lelucon atau sindiran. Jika seseorang ingin dirinya dan keyakinannya dihargai, dia juga harus menghormati dan menghargai orang lain.



Di satu sisi, Theravada dianggap lebih konservatif daripada Mahayana, dimana Theravada memelihara ajaran Sang Buddha tanpa banyak menambahkan pandagnan atau pendapat pribadi. Sebaliknya, Mahayana dianggap lebih terbuka daripada Theravada dalam menginterpretasikan ajaran-ajaran Mahayana membuat pembagian yang besar dalam filsafat Buddhis, seperti filsafat Madhyamika dan Yogacara. Keduanya baik yang konservatif ataupun yang terbuka mempunyai nilai tersendiri dan harus dihormati satu dan yang lainnya.

Yang penting, bahwa hal-hal tersebut di atas lazim diakui dan ditekankan dalam Theravada dan Mahayana secara agama dan filsafat, Theravada dan Mahayana menerima;


Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan (Paticcasamupada)

Dan doktrin atau ajaran inti lainnya, meskipun perluasan komentarnya berbeda-beda.
Sesunguhnya hanya ada satu yana atau kendaraan. Tujuan terakhir sesungguhnya yang dari semua umat Buddha adalah sama, apakah itu disebut Nibbana atau Kebuddhaan. Sang Tathagatha pernah bersabda "Semua makhluk adalah anak-anak-Ku."3

Di zaman kemajuan dunia sekarang ini hak asasi, kesamaan dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain harus diakui dan dihormati dengan bertindak sebagai seorang Buddhis yang baik dan mau bekerjasama.
 

Menghadapi Stress Dengan Agama Buddha




Menghadapi Stress Dengan Agama Buddha

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera




Kemajuan jaman ibarat pisau bermata ganda. Di satu sisi ia memberikan kemudahan hidup bagi masyarakat yang telah siap sehingga dapat memanfaatkannya. Di sisi yang lain sesungguhnya ia pun dapat memberikan akibat negatif untuk mereka yang belum siap mental menghadapi perubahan lingkungan yang sedemikian cepat. Ada tuntutan-tuntutan jaman dan konflik-konflik yang harus dihadapi seseorang untuk memenuhi tuntutan jaman itu akhirnya dapat menjerumuskan orang yang lemah pengertian batinnya pada kondisi stress.

Hakekat dari pengertian batin sebagai bekal yang paling pokok dalam menghadapi dampak negatif kemajuan jaman ini adalah memiliki kemampuan melihat hidup sebagaimana adanya, bahwa hidup tidak kekal dan hanyalah proses belaka. Pengertian ini biasanya telah dimengerti oleh hampir setiap orang secara teoritis tetapi pada kenyataannya orang jarang siap mental bila menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam usaha menyesuaikan antara pengertian batin (baca: teori) yang dimiliki dengan penerapannya pada kehidupan yang sesungguhnya inilah peranan Agama Buddha diperlukan. Agama Buddha adalah gabungan antara tradisi penghormatan kepada Sang Guru Agung, Buddha Gotama, dengan Ajaran Luhur Sang Buddha yang berisikan kiat-kiat untuk menghadapi kenyataan hidup yang kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan tujuan Agama Buddha secara umum adalah agar orang yang mengikuti dan melaksanakan Ajarannya akan memperoleh kebahagiaan duniawi, surgawi dan sebagai tujuan tertinggi adalah tercapai kebebasan mutlak yaitu Nibbana (=Nirwana) sebagai Tuhan Yang Mahaesa dalam pengertian Agama Buddha.

PEMBAHASAN
Pengertian batin untuk melihat hidup sebagaimana adanya ternyata lebih mudah diucapkan dan dinasehatkan kepada orang lain daripada untuk membantu diri kita sendiri dalam mengatasi kenyataan hidup yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Bila menjumpai orang lain yang sedang menderita, kita akan lebih mudah menjadi penasehat yang tampaknya amat bijaksana untuk membantu orang tersebut agar mampu menerima kepahitan hidup. Sebaliknya, bila tiba giliran kita yang menerima penderitaan akibat perubahan yang tidak diinginkan, kadang nasehat tulus dari seorang kawan dapat dianggap sebagai pelecehan atas kondisi yang sedang kita alami.

Untuk mengubah pengertian benar yang masih teoritis menjadi praktis itulah Sang Buddha dalam berbagai kesempatan sepanjang hidup Beliau telah menjelaskannya kepada para umatNya tentang tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bila tahapan ini diikuti sungguh-sungguh maka hasil nyata yang dapat dialami sebagai awal pencapaian adalah hidup bahagia dan bebas dari stress. Kebahagiaan awal ini kemudian dapat dilanjutkan untuk dapat mencapai bentuk-bentuk kebahagiaan yang lebih tinggi sehingga akhirnya tercapailah kebahagiaan tertinggi yaitu Tuhan Yang Mahaesa (=Nibbana/Nirwana).

Secara ringkas, tahapan-tahapan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

TAHAP PERTAMA :
SUMBER STRESS ADALAH KEINGINAN
Manusia hidup pasti tidak akan pernah terlepas dari keinginan. Memiliki keinginan adalah wajar sejauh kita tidak menjadi budak keinginan kita sendiri. Oleh karena itu, keinginan dapat menjadi salah satu sumber stress. Stress dapat timbul bila orang bersikap terlalu kaku pada keinginannya sendiri tanpa memiliki kesadaran bahwa kadang orang harus menyesuaikan diri antara keinginan dengan kenyataan yang dihadapi. Dengan kata lain, orang sering tidak siap dan tidak berkeinginan menghadapi perubahan. Padahal, setiap saat dan di setiap tempat ada kemungkinan orang akan mengalami perubahan. Perubahan dalam hidup ini dapat merupakan perubahan ke arah yang menggembirakan ataupun sebaliknya. Menghadapi perubahan yang menggembirakan, orang tidak akan mempermasalahkan seperti bila sedang menghadapai perubahan yang tidak menyenangkan. Dalam masalah ini, perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang membuat orang tidak bahagia karena tidak sesuai dengan keinginannya. Perubahan dapat dirasakan mengarah pada hal yang tidak membahagiakan karena disebabkan oleh niat orang untuk tidak ingin berkumpul dengan yang tidak disenangi dan berpisah dengan yang dicinta. Perubahan ini terjadi dalam bentuk yang seluas-luasnya, misalnya dalam hubungan dengan sesama manusia, dengan benda maupun dengan suasana serta masih banyak yang lainnya. Stress muncul karena orang tidak ingin melihat perubahan ke arah yang tidak menggembirakan itu terwujud sebagai kenyataan. Orang bahkan ingin memaksakan kenyataan seperti keinginannya. Tentunya hal ini tidaklah mungkin dapat terjadi.

Pada dasarnya terdapat dua macam keinginan yang dominan dalam kehidupan ini yaitu ingin selalu bersama dengan hal-hal atau kondisi yang menyenangkan dan yang lainnya adalah ingin tidak pernah menjumpai hal-hal atau kondisi yang tidak menyenangkan. Tentu saja bila kedua macam keinginan ini dapat terpenuhi maka bahagialah kehidupan orang tersebut. Namun, karena hidup selalu berubah maka orang kadang, kalau tidak dapat dibilang sering, mengalami kekecewaan. Bila kekecewaan ini bertambah banyak kuantitas maupun kualitasnya maka stress dan akibat-akibat negatif lainnya akan muncul.

Dewasa ini masalah stress dan akibatnya serta juga cara-cara menanggulanginya telah ramai dibicarakan di seluruh dunia. Banyak ahli menuliskan pendapatnya tentang stress. Salah satu diantaranya adalah Peter G. Hanson. Menurut hasil penelitian Hanson, beberapa di antara sumber stress dalam masyarakat adalah terutama karena memiliki kondisi yang tidak seimbang pada bidang-bidang keuangan, pribadi, kesehatan dan pekerjaan. Hanson mengartikankeuangan sebagai kondisi memiliki ketrampilan kerja yang dapat dijual, memiliki cukup uang untuk mencapai tujuan, dan jaminan keuangan jika nanti terserang penyakit, resesi, atau kehilangan pekerjaan. Pribadi adalah berarti memiliki teman sejati (tidak perlu banyak) dan keluarga, misalnya perkawinan atau hal yang serupa. Kesehatan yang dimaksudkan adalah kesehatan lahir batin yang dinyatakan oleh dokter dan bukan pendapat pribadi. Sedangkanpekerjaan berarti adalah tampil efisien dengan integritas dan mendapatkan rasa hormat dari lingkungan, dalam hal ini apabila sebagai seorang pelajar berarti segi pendidikan.

Bila orang mengalami perubahan atau kegagalan pada salah satu atau lebih dari keempat hal di atas maka ia memiliki potensi untuk mengalami stress, kecuali bila pengertian batinnya telah matang.

TAHAP KEDUA :
KEINGINAN DAPAT DIKENDALIKAN
Apabila sumber stress diketahui maka sesungguhnya jalan untuk mengatasinya telah terjawab setengahnya. Telah disadari bahwa keinginan yang tidak fleksibel justru akan menjerumuskan seseorang ke dalam jurang stress. Semakin kukuh keinginan seseorang, semakin besar pula kemungkinan stress yang akan dihadapinya. Untuk itulah, orang perlu memiliki wawasan berfikir bahwa dalam hidup ini sering keinginan tidak dapat menjadi kenyataan sedangkan kenyataan tidak jarang amat berbeda dari keinginan yang dimiliki. Wawasan ini berguna untuk melunakkan keinginan sehingga akhirnya dapat diubah dan disesuaikan dengan kenyataan. Bila keinginan telah sesuai dengan kenyataan maka stress pun akan dapat dihalau jauh-jauh dari hidup ini.

TAHAP KETIGA :
CARA MENGENDALIKAN KEINGINAN
Untuk mengendalikan keinginan agar stress dapat diusir dari kehidupan ini, ada beberapa langkah dalam Agama Buddha yang harus ditempuh, yaitu:

a. Kerelaan
Dalam Agama Buddha, kerelaan atau keikhlasan meliputi dua macam yaitu kerelaan materi dan non-materi. Kerelaan materi akan lebih mudah dilakukan karena lebih kelihatan secara indriawi. Kerelaan materi juga menjadi awal untuk mencapai tahap yang lebih tinggi lagi. Kerelaan materi dapat berbentuk bantuan sandang, pangan, papan, obat-obatan maupun keuangan.

Kerelaan non-materi atau kerelaan batin agak lebih sulit dilakukan. Kerelaan non-materi dapat dikatakan sebagai bentuk kerelaan yang lebih tinggi daripada kerelaan materi. Kerelaan ini membutuhkan sikap mental untuk tidak mementingkan diri sendiri. Memiliki sikap mental mengharapkan semoga semua makhluk hidup berbahagia. Memperhatikan sekeliling dan siap membantu mereka dengan tenaga, ucapan maupun pikiran yang dimiliki. Beberapa bentuk kerelaan non-materi adalah nasehat, pengendalian diri dan peka pada kondisi lingkungan.

Melaksanakan kedua bentuk kerelaan di atas secara bersama-sama akan menumbuhkan kebahagiaan dalam hati si pelaku. Perasaan menjadi lebih ringan dan bahagia karena mempunyai ingatan bahwa dirinya telah mampu mengisi kehidupan ini dengan sesuatu yang berguna yaitu 'melakukan perbuatan baik' kepada fihak lain secara aktif. Kebahagiaan yang muncul karena orang telah mampu mengatasi dirinya ataupun keinginannya sendiri untuk mengembangkan rasa kebersamaan di jaman orang tidak lagi terlalu memperhatikan lingkungannya. Perasaan ini akan menambah semangat hidup dan ketenangan batin serta dapat membebaskan diri dari stress.

b. Kemoralan
Kemoralan adalah usaha mencegah berkembangnya bahkan -kalau dapat- menghilangkan perbuatan atau kebiasaan buruk yang telah dimiliki dan berusaha agar diri sendiri tidak melakukan keburukan yang telah dilakukan oleh orang lain.

Kemoralan juga akan memberikan ketenangan batin karena kemoralan menjaga segala perbuatan yang dilakukan lewat badan, ucapan dan pikiran agar 'terbebas dari kesalahan'. Manusia pada dasarnya berhasrat untuk melaksanakan segala bentuk keinginannya baik keinginan luhur maupun tidak baik. Namun dengan pengertian akan kemoralan maka orang kemudian akan mampu memilih perbuatan yang pantas dilakukan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan maupun ukuran kemoralan yang lainnya. Semakin tepat pilihannya, semakin diterima pula seseorang dalam lingkungannya, semakin besar pula keyakinan pada dirinya sendiri bahwa ia 'terbebas dari kesalahan'.

Bila keinginan telah terbiasa dikendalikan, maka bila dalam kehidupan ini orang menjumpai kenyataan yang bertentangan dengan keinginannya, ia akan dengan lapang dada dan penuh pengertian akan mampu menerima kenyataan tersebut. Ia tenang menghadapi kenyataan.

Dalam pengertian Agama Buddha, apabila kerelaan adalah unsur aktif untuk berbuat kebaikan maka kemoralan adalah unsur negatif yaitu mencegah kejahatan. Kedua unsur ini masing-masing bekerja aktif untuk mengendalikan keinginan seseorang, menundukkan keinginan seseorang. Kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena mereka bekerja saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama, hidup bahagia dan bebas dari stress sebagai awal pencapaian yang lebih tinggi. Dengan demikian, umat Buddha selalu dianjurkan untuk melaksanakan kedua hal pokok ini.

Dalam menyimpulkan hasil penelitiannya Dr. Claire Weekes menyatakan bahwa menganut salah satu agama tertentu dapat mencegah serta mengatasi stress disamping memiliki pekerjaan yang sesuai dan keberanian dalam menghadapi resiko hidup.

c. Ketenangan batin
Langkah yang ketiga ini digunakan untuk mengatasi stress langsung dari sumbernya yaitu pikiran. Dalam pikiran itulah terletak bermacam-macam keinginan. Ketenangan batin dicapai melalui latihan meditasi. Meditasi dapat digunakan untuk mengendapkan dan menyusun segala bentuk keinginan dalam latihan berpikir dengan benar. Manusia mampu melatih setiap gerakan badan dan ucapan sesuai dengan kemauan, demikian pula terhadap pikiran. Sarana melatih pikiran itulah yang disebut dengan meditasi. Meditasi mengarahkan batin seseorang untuk dapat menyadari bahwa hidup adalah saat ini, bukan masa lalu maupun masa yang akan datang. Pada masa lalu orang pernah hidup tetapi sudah tidak hidup, di masa datang orang akan hidup tetapi belum hidup; di masa ini, saat inilah orang hidup dan sedang hidup. Bila batin telah mencapai tahap ini, batin akan mampu memisahkan antara keinginan yang diperlukan saat ini dari keinginan yang dapat ditunda atau bahkan keinginan yang perlu dihilangkan. Dengan demikian, maka orang akhirnya dapat menundukkan keinginannya sendiri dan terbebaslah ia dari stress.

Pada hakekatnya meditasi adalah menyadari segala sesuatu yang sedang dilakukan, diucapkan dan terutama segala yang dipikirkan. Meditasi bukanlah berdoa, mengatur pernafasan maupun mengosongkan pikiran. Dalam melaksanakan meditasi dibutuhkan beberapa persyaratan dasar yaitu posisi tubuh yang benar, waktu meditasi yang sesuai, tempat meditasi yang memenuhi persyaratan, obyek meditasi yang cocok dan juga guru yang mampu mengarahkan meditasi sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Bila ketenangan batin tercapai maka stress pun tidak mempunyai kesempatan muncul dalam kehidupan ini. Dr. Vernon Coleman juga mengarahkan para pasien stress-nya untuk melakukan relaksasi terutama dengan meditasi walaupun tidak harus mengikuti satu bentuk institusi tertentu.

d. Kebijaksanaan
Kemampuan meditasi bukan hanya untuk menghasilkan ketenangan batin saja tetapi dapat dikembangkan ke arah pengertian batin yang hendak dicari sebagai obat tertinggi dalam menanggulangi stress.

Menurut Sang Buddha, ada dua macam kebijaksanaan yaitu kebijaksanaan duniawi yang berupa teori dan kebijaksanaan mutlak yaitu tercapainya tujuan tertinggi dalam Agama Buddha, Nibbana/Nirwana. Kebijaksanaan duniawi adalah pengertian dasar bersifat filosofis dan teoritis untuk mendorong pelaksanaannya agar orang dapat membuktikan kebenarannya. Apabila telah dilaksanakan maka setahap demi setahap orang akan mendekati tujuan akhir yaitu kebijaksanaan mutlak.

Pencapaian kebijaksanaan mutlak dengan melatih ketenangan batin berpandangan terang. Sasaran latihan ketenangan batin tahap akhir ini adalah agar orang setelah mampu memisahkan antara keinginan yang pokok dan sampingan, kini di arahkan untuk menyadari bahwa keinginan itulah yang menjadi dasar ketidakpuasan dalam hidup ini. Keinginan itu pulalah yang menjadi salah satu sebab munculnya stress dalam hidup ini. Sedangkan sumber keinginan adalah karena tidak menyadari bahwa hidup akan selalu berubah dan hanyalah proses. Tahap ini menjadi tahap akhir dan menjadi tahap tertinggi dalam Agama Buddha. Untuk menguraikan tahapan ini membutuhkan suatu latihan dasar dari ketiga tahap sebelumnya, oleh karena itu dalam kesempatan ini tahap terakhir ini hanya diuraikan secara singkat untuk memberikan gambaran sepintas dahulu. Dalam kesempatan lain, mungkin akan dibicarakan secara khusus dan mendalam.

Sesungguhnya bila hanya untuk mengatasi stress saja ketiga tahap di atas sudah lebih dari cukup. Bila hendak mengatasi masalah hidup yang sesungguhnya yaitu untuk mencapai Tuhan Yang Mahaesa (=Nibbana/Nirwana) maka tahap keempat adalah tahap yang harus dilaksanakan.


PENUTUP
Istilah 'stress' kelihatannya baru muncul dalam beberapa dekade belakangan ini, tetapi sesungguhnya sejak jaman Sang Buddha hidup bahkan mungkin jauh sebelumnya itu kondisi stress ini telah dialami umat manusia. Oleh karena itu, Ajaran Sang Buddha bukan hanya berisikan petunjuk untuk mengembangkan kebahagiaan yang telah dimiliki, namun juga berisikan kiat-kiat untuk memperbaiki situasi lahir batin yang sedang dihadapi. Apabila kondisi lahir batin dapat diselaraskan dengan kenyataan hidup, maka terbebaslah orang dari stress.
Kini, pengertian untuk mengatasi stress sebagai fenomena era globalisasi dan teknologi telah diberikan, tinggal dilaksanakan. Sesungguhnya menurut Sabda Sang Buddha:
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.
( DHAMMAPADA VIII, 14 )
[Dikutip dari website Samaggi-phala WWW.samaggi-phala.or.id ]