Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Senin, 27 Desember 2010

Antara Lidah Dan Sendok

 
Antara Lidah Dan Sendok
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera
 

Bagaikan lidah yang dapat merasakan setiap rasa sayur yang melewatinya, demikian pula orang bijaksana dapat mengerti Dhamma walaupun baru sejenak mengenalnya (Dhammapada Bala Vagga 65).

Di dalam Dhammapada dikatakan ada dua jenis perkenalan dengan Dhamma. Yang pertama adalah perkenalan biasa-biasa, selanjutnya tetap biasa-biasa saja. Diibaratkan seperti sendok. Sendok tidak pernah kepedasan. Tidak pernah begitu menyentuh lombok langsung berteriak kepedasan. Kenapa? Karena sendok tidak punya rasa. Menyendok sambal bisa, kuah juga mau. Apa saja boleh diambil dengan sendok. Menyendok yang baik dan menyendok yang jelek bisa pula. Sendok tidak bereaksi, karena dia tidak pernah merasakan rasa apapun yang menempel di tubuhnya.

Begitu juga dengan umat yang termasuk jenis ini. Datang ke vihara, ikut puja-bhakti, baca paritta, dan meditasi. Termasuk ngantuk dan melamunnya... Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, satu bulan, dua bulan, setahun, dua tahun sampai sepuluh tahun mengenal Dhamma tetapi masih tetap biasa-biasa.

Ketika ditanya, setelah mengenal Dhamma selama sepuluh tahun apakah masih emosi? Jawabnya, masih. Apakah setelah mengenal dhamma sudah bisa meditasi? Belum. Beginilah jenis yang pertama, selalu mengantarkan sayur ke dalam mulut, tapi tiada pernah merasakan.

Namun ada jenis perkenalan dengan Dhamma yang mulanya biasa-biasa, selanjutnya makin menggebu-gebu. Ibaratnya lidah. Lidah itu luar biasa. Seandainya satu butir nasi dimasukkan ke dalam hamburger yang kita makan, pasti kita akan dapat merasakan nasi itu. Karena lidah kita sudah terbiasa dengan rasanya, meskipun cuma satu butir. Itulah kehebatan lidah. Luar biasa.

Demikian pula dalam mengenal Dhamma. Menjadi umat Buddha bukan dilihat sudah berapa lama sudah jadi umat Buddha. Itu bukan jaminan. Tetapi, yang penting adalah sudah seberapa jauh kita merasakan nikmatnya Dhamma.

Sabbam rasam dhammaraso jinati. Dari seluruh rasa, rasa Dhammalah yang paling unggul (Dhammapada Tanha Vagga 354)

HANYALAH OBJEK

Sudahkah kita merasakan Dhamma? Sudahkah kita merasakan manfaat Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari?

Perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sejenak, perkenalan dengan Dhamma kadang hanya sepintas, kesannya itu. Nah, kita termasuk lidah ataukah sendok?

Kalau salah satu dari kita setelah mengenal Dhamma langsung merasakan manfaatnya, maka berbahagialah dia. Karena dia adalah "lidah" yang bermanfaat. Tetapi kalau sampai sudah duduk capek, namakara sampai dahinya hafal, ketika ditanya mengenai Agama Buddha masih tidak mengerti, kita mesti memperbaikinya karena masih kualitas sendok.

Darimanakah kita bisa mendapatkan Dhamma? Sebetulnya Dhamma ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dhamma bukan hanya ada di buku-buku. Dhamma bukan hanya yang dibagikan oleh para bhikkhu. Satu contoh, kalau kita pergi ke vihara lalu melihat Buddharupang, maka itu sebetulnya adalah pelajaran Dhamma. Banyak orang yang sudah bernamakara berkali-kali kepada Sang Buddha tetapi nggak mengerti maksudnya. Kebiasaan? Wah, itu salah total.

Kebiasaan sebetulnya sering menimbulkan penyimpangan. Pernah di sebuah vihara terdapat kebiasaan aneh, setiap puja-bhakti harus ada anjing hitam yang diikat di bawah pohon bodhi di halaman vihara. Padahal, asal mulanya hanya karena bhikkhu kepala vihara senang memelihara anjing hitam dan selalu mengikatnya ketika sang bhikkhu melaksanakan puja-bhakti. Ketika bhikkhu kepala vihara meninggal, kebiasaan itu diteruskan tanpa tahu alasannya.

Itulah kebiasaan yang menyimpang. Kita juga sering begitu. Ketika ditanya, kenapa bernamakara? Biar dapat berkah sang Buddha? Oh....

Tidak ada pelajaran dalam Agama Buddha yang mengatakan bahwa dengan namakara bisa dapat berkahnya Sang Buddha. Tidak ada. Kita bernamakara, Sang Buddha tidak tersenyum. Kita tidak namakara, Sang Buddha tidak apa-apa. Tetapi bernamakara atau tidak, itu berhubungan dengan diri kita sendiri.

Pada saat kita bernamakara, sebetulnya pikiran, ucapan, dan perbuatan kita diarahkan kepada hal positif. Kita berusaha berkonsentrasi sehingga bernamakara tiga kali. Dengan bernamakara, kita membutuhkan waktu minimal setengah sampai satu menit untuk punya pikiran, ucapan, dan perbuatan benar. Kalau tiap hari melakukan kegiatan namakara, maka dalam satu bulan kita bisa punya tiga puluh menit pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Satu tahun tiga ratus enam puluh menit.

Makin banyak kita namaskara, makin banyak kita menanam kamma baik. Patung Sang Buddha hanyalah sebagai obyek, sasaran, atau sarana kita untuk menanam pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Begitu pula bernamakara pada seorang bhikkhu. Itu bukan namakara buat bhikkhunya. Bukan namakara sama jubahnya. Tetapi bhikkhunya sebagai obyek untuk menanam kamma baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ketika kita bernamakara pada Buddharupang, yang posisinya bumisparsa mudra, sebetulnya ini menunjukkan bahwa kita harus bertekad jangan sampai patah semangat sebelum mencapai cita-cita. Apapun yang menghalangi harus kita hadapi untuk mencapai tujuan akhir. Sebelum cita-cita tercapai jangan pantang mundur. Sekolah mau men-DO, tidak bisa. Kita harus berjuang keras sampai tidak ada kesempatan men-DO kita.

Kita harus bertekad, harus teguh, harus kuat. Kenapa? Karena kita melihat contohnya, Sang Buddha guru kita. Kalau guru kita berani bertekad kuat tidak akan beranjak dari meditasinya sebelum mencapai cita-cita (kesucian -red), maka kita pun juga sebagai murid-muridnya harus bisa. Ini adalah salah satu mudra. Ada banyak mudra, tapi yang diterangkan hanya satu mudra. Supaya kita sebagai umat Buddha tidak ada kata patah semangat. Harus selalu bersemangat. Kalau punya cita-cita, tetaplah teguh. Seperti yang dilakukan Sang Buddha.

SEKOLAH KEDUKUNAN

Lalu soal baca paritta. Tidak jarang di antara kita ada yang mau membaca paritta untuk hal yang aneh-aneh.
Bhante, paritta apa supaya tidak digigit anjing? Baca saja "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Kalau supaya nggak dicopet? "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Itulah parittanya.

Kenapa? Kadang-kadang kita suka aneh-aneh. Supaya tidak digigit anjing pakai paritta ini, agar tidak dicopet baca paritta itu. Jadinya kita seperti menghapal "mantra-mantra". Seperti sekolah kedukunan saja. Padahal Agama Buddha bukan begitu.

Sebenarnya membaca paritta juga mengarahkan kita supaya punya pikiran baik, ucapan baik, dan perbuatan baik. Sama seperti namakara tadi. Ini kalau kita tidak mengerti artinya. Tapi kalau mengerti, lain lagi.

Misalnya dalam paritta Abhinhapaccavekkhana disebutkan aku akan mengalami usia tua, aku belum bisa mengatasi usia tua, aku akan mati, dan aku belum bisa mengatasi kematian. Berarti kita bisa tua dan bisa meninggal. Padahal sekarang masih muda, masih belum meninggal. Mumpung masih muda, masih belum meninggal, kita harus mengembangkan kebaikan, belajar banyak paritta, belajar Dhamma, dan melaksanakannya dengan baik. Semangat hidup akan muncul untuk memanfaatkan setiap momen kehidupan dalam mengembangkan diri.

Inilah salah satu manfaat menjadi "lidah-lidah" Dhamma. Sebagai lidah, kita langsung bisa merasakan rasa asin, manis, dan asam. Demikian pula sebagai umat Buddha, walaupun baru sekali kita mengenal Dhamma tetapi kalau kita mengerti intinya bahwa Dhamma adalah pembawa semangat kehidupan, sehingga tidak akan pernah ragu, tidak pernah patah semangat, maka hidup kita akan selalu diisi dengan prestasi, hasil gemilang dari usaha dan perjuangan kita.

Jadilah lidah yang baik. Janganlah menjadi sendok yang tidak pernah mengetahui rasa makanan. Sehingga biar hanya sebentar ngenal Dhamma, bisa memanfaatkannya dengan baik. Semoga kita berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.

Jumat, 24 Desember 2010

Antara Kaya & Miskin

 
 
Antara Kaya & Miskin
Oleh Samanera Dhirayatano
 

 
Empat makanan Keinginan manusia

Pattakamma Sutta, Samyutta Nikaya menyebutkan bahwa terdapat empat hal di dunia ini yang selalu diagung-agungkan, dicita-citakan dan selalu di harapkan oleh setiao orang, tetapi hal itu sangat sulit untuk di dapatkan. Empat hal tersebut adalah:

1. Harapan untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma.
2. Cita-cita untuk menjadi orang yang terpandang di dalam masyarakat.
3. Harapan agar mempunyai umur yang panjang dan selalu sehat.
4. Setelah meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia, yaitu terlahir di alam surga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataannya keempat tersebut memang selalu di harapkan oleh setiap orang. Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan memang tidak sulit, tetapi untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma merupakan hal yang tidak mudah. Demikian juga setelah mendapatkan kekayaan kita mempunyai harapan agar kita menjadi orang yang terpandang. Jika seseorang mengumpulkan kekayaan dengan jalan yang benar, maka dia akan dihormati oleh masyarakat, dan tentunya akan membawa efek kepada keluarga dan juga kepada gurunya. Perbuatan baik yang telah kita tanam menyebabkan seseorang mendapat kesehatan dan umur panjang, tetapi menurut agama Buddha tidak ada sesuatu yang terbentuk bersikap kekal. Oleh karena itu, setelah memdapatkan hal-hal tersebut diatas, maka harapan terakhir adalah dapat terlahir kembali di alam-alam yang membahagiakan. Jadi disini sudah jelas bahwa Sang Buddha menasehatkan kepda kita bahwa kekayaan atau harta materi bukanlah satu-satunya jalan tujuan dalam hidup kita, dan dalam mengumpulkan materi seseorang diharapkan untuk memperhatikan norma-norma etika dan norma-norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma. Lalu bagaimanakah pandangan agama Buddha mengenai kekayaan ini ditinjau dari orangnya? Apakah syarat-syaratnya sehingga seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang kaya? Apakah ukurannya, definisi atau batasannya sehingga sseorang dapat mengatakan dirinya kaya atau justru merasa bahwa dirinya masih miskin? Pada bahasan-bahasan berikutnya akan diterangkan lebih lanjut tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.

Batasan kaya dan miskin menurut ajaran agama Buddha.

Sesungguhnya ukuran atau batasan “kaya dan miskin” itu bersifat psikologis, bersifat kejiwaan dan berlaku relatif di dalam diri masing-masing manusia. Bisa saja antara satu orang dengan orang lain mengartikan batasan antara kaya dan miskisn ini secara berbeda, namun demikian hendaknya kita tetap memiliki target atau patokan sehingga kita dapat mengatakan sebagai “kaya” atau “miskin”.

Lebih lanjut manusia ditinjau dari batasan kaya dan miskin ini dapat dibagi menjadi empat macam kelompok manusia atau empat golongan. Empat penggolongan itu adalah:

A. Orang kaya yang miskin
Manusia kelompok pertama ini memang kaya dalam hal materi, dia memiliki harta dan kekayaan. Tetapi justru dengan kekayaan yang dia miliki itu dia merasa tidak bisa tenang. Yang dipikirkan oleh orang-orang seperti ini adalah bagaimana merubah dan menambah kekayaan. Kekayaan atau harta di nomor satukan, tidak peduli apapun yang dilakukan asalkan hal itu bisa mendatangkan harta dan kekayaan. Bahkan untuk menggunakan kekayaan sendiri saja dia merasa sayang. Dia tidak menggunakan kekayaannya, baik untuk dirinya sendiri dan tidak membagi-bagikan kekayaan kepada orang lain untuk mendapatkan kebajikan (napas attanamsukheti pineti napas vibhajati napas punnakaroti). Kalau dia menggunakan kekayaan itu hanya untuk menanamkan kekayaan itu hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi tidak untuk menanamkan kebajikan (attanamsukheti pineti napas vibhajati napas punnamkaroti). Orang seperti ini biasanya keluarganya berantakan, meskupun kaya dalam hal materi tetapi keharmonisan di dalam keluarganya sudah tidak ada lagi. Hubungan antara suami istri dan anak sudah tidak terpikirkan lagi, karena harta dan kekayaan menurut mereka lebih penting daripada semua itu. Orang seperti ini tidak akan hidup bahagia di alam-alam berikutnya, karena walauun kaya tetapi orang ini tidak bisa menggunakan kekayaannya dengan benar, dia ia akan terlahir dialam menyedihkan. Orang seperti ini dapat dikatakan juga sebagai manusia yang berasal dari tempat yang terang menuju ketempat yang gelap (joti Tamo Parayano).

B. Orang kaya yang kaya
Kelompok orang yang kedua ini adalah orang-orang kaya didalam materi, dia memiliki harta dan kekayaan yang jauh mnelimpah itu dia mampu mengembangkan kebajikan dan mendapatkan kebahagiaan. Dia bisa menggunakan kekayaan untuk menikmati bagi dirinya sendiri dan untuk kepentingan orang lain, demi menanam kebajikan (attanamsukheti pineti samvibhajati punnamkaroti). Orang-orang dalam kelompok ini adalah orang yang terpuji, karena dia tidak melekat pada kekayaan ( adinnavadassanani) dan tahu menggunakan kekayaan untuk jalan kebebasan (nissaranapanna). Sebagai orang yang kaya dia bisa hidup dengan seimbang, tahu akan berapa banyak uang atau kekayaan yang telah didapatkan dan tahu berapa banyak kekayaanyang harus digunakan (samavijikata). Dia tidak hidup dengan kikir (ajjadumarika) dan juga sebaliknya, dia tidak jatuh dalam gaya hidup yang bersifat konsumerisme, hidup dengan glamour, dan penuh dengan foya-foya (udumbarakhatika). Orang-orang semacam ini akan hidup bahagia, keharmonisan dalam keluarganya selalu terjaga dan dalam masyarakatpun ia akan dihormati dan disegani dengan sendirinya empat macam dalam kehidupannya yang sekarangpun akan diperolehnya, yaitu; kebahagiaan karena dapat memiliki kekayaan (atti sukha), kebahagiaan karena dapat menikmati apa yang telah diperolehnya (bhoga sukha), kebahagiaan karena dapat memenuhi kebutuhannaya sendiri sehingga tidak terjatuh dalam hutang (anavajja sukha). Karena dia bisa mengerti akan kegunaan kekayaan dan menggunakan dengan jalan yang benar, maka ia akan terlahir dialam-alam yang membahagiakan. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari tempat yang terang dan menuju ketempat yabng terang pula (joti-joti parayano).

C. Orang miskin yang kaya
Orang yang tergolong dalam kelompok ketiga ini adalah orang yang tidak memiliki harta atau kekayaan materi yang melimpah, tetapi meskipun demikian dia tidak merasa putus asa atau merasa rendah diri karenanya. Biarpun miskin dia ttetap bekerja dengan usaha dan semangaat yang tinggi (uttanaviriyadhigatehi), dengan keringat sendiri (sedavakkhotehi), dan dengan jalan Dhamma (Dhammakehidmammaladdhehi). Dia tetap menjalankan kehidupannya sehari-hari sesuai dengan nroma-norma dalam masyarakat dan norma-norma keagamaan (Dhammacari), Orang seperti ini adalah orang-orang yang memiliki batas-batas kepuasan (santutthi), dia cukup merasa puas dengan apa yang telah didapat sesuai dengan jalan kebenaran dan puas dengan apa yang telah dimilikinya. Meskipun hanya memiliki sedikit harta dan tidak kaya dia tetap menjaga moral (sila) dan melakukan usaha-usaha yang dapat menimbilkan manfaat untuk orang lain serta bermanfaat untuk kedua-duannya. Dia juga tetap menjaga keharmonisan didalam kelaurgannya dan tidak melupakan kawajiban-kewajiban sebagai seorang perumah tangga, seperti; kewajiban kepada pemerintah untuk membayar pajak (rajabali), kewajiban untuk menjamu tamu sesuai dengan kemampuan( atithibali), kewajiban terhadap keluarga (nathibali), kewabijan terhadap para dewa 9devatabali), kewajiban kepada para leluhur yang telah meninggal (pubbhapetabali), kewajiban-kewajiban lainnya. Orang-orang yang seperti ini biarpin miskin harta dalam kehidupannya yang sekarang tetapi dia bisa memperoleh dan menggunakan dari sedikit yang dimilikinya dengan benar maka dia akan dapat terlahir di alam-alam yang bahagia. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari tempat yang gelap tetapi menuju ketempat yang terang (tamo joti parayano).

D. Orang miskin yang miskin
Kelompok orang yang terakhir ini adalah orang-orangyang benar-benar miskisn, dia miskin harta atau untuk tidak memiliki kekayaan tetapi juga miskin batinnya (tingkat spiritualnya rendah). Dari kemiskiannya itu justru timbul kebencian (dosa) dan iri hati (issa) begitu melihat orang lain yang kaya. Dia juga tidak bisa menerima kenapa dirinya menjadi miskin dan orang lain bisa kaya. Baginya nasehat-nasehat orang yang bijaksana tidaklah ada gunanya dan dia akan cenderung bergaul degnan orang jahat yang sepaham dengan dirinya. Keharmonisan didalam keluarganyapun tidak bisa diharapkan lagi karena orang-orang semacam ini moralnya (sila) sudah tidak terjaga lagi, bahkan untuk melakukan pelanggaan terhadap pelaksanaan sila itu sendiri sering terjadi. Pertengkaran dalam keluarga sering terjadi, cekcok antara suami istri dan anak sudah menjadi sarapan tiap pagi. Mereka tidak pernah mau berusaha dan berjuang keras dengan semangat yang tinggi (napas utthanaviriyadhigatehi) untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan usaha-usaha yang tidak sesuai dengan jalan Dhamma (adhammikehidhammaladdhehi) untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan usaha-usaha yang tidak sesuai dengan jalan Dhamma (adhammikehidhammaladdhehi) sering dilakukan. Kebanyakan dari mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah mau pedulu dengan orang lain. Yang ada hanyalah kebencian dan iri hati begitu melihat orang lain bahagia. Orang-orang yang seperti ini akan terlahir kembali di alam-alam yang menyedihkan, dapat dikatakan mereka adalah orang-orang yang pergi ke tempat yang gelap dari tempat yang gelap (tamotama parayano).

Bagaimana seharusnya dengan diri kita?

Dalam situasi perkembangan perekonomian yang semakin memuncak, dimana persaingan antar manusia dalam mendapatkan harta atau kekayaan semakin ketat, manusia cenderung semakin serakah dan menjadi makhluk yang mementingkan dirinya sendiri (egois).

Pada dasarnya kekayaan itu sendiri dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu kekayaan materi yang bisa dicuri, dan kekayaan batin yang tidak bisa dicuri. Sangiti sutta menyebutkan kekayaan batin yang tidak dapat dicuri oleh siapapun itu adalah kekayaan ariya yang disebut juga ‘satta ariya dhana’ atau ‘tujuh kekayaan ariya’, yaitu Keyakinan (saddha), kemoralan (sila), malu untuk berbuat jahat (hiri) takut akan akibat dari perbuatan jahat (ottapa), pengetahuan Dhamma atau pendidikan (sutta), Kedermawanan atau kemurahn hati (caga), dan Kebijaksanaan (panna). Tujuh macam kekayaan Dhamma tersebut jauh lebih baik dari kekayaan materi dan ‘satta ariya dhana’ merupakan kekayaan yang terbaik dan tertinggi (anuttaramuttmam dhanagam) Sang Buddha memberikan anjuran kepada kita semua untuk mengembangkan kesejahteraan batin.

Kekayaan itu bersikap netral, baik dan tidaknya tinggal bagaimana seseorang menggunakannya.

Dalam ajaran Sang Buddha tidak ada larangan bagi kita untuk menjadi kaya, tetapi bagaimana cara memperoleh dan cara menggunakan kekayaan itu sendiri harus sesuai dengan kebenaran atau sesuai dengan ajaran Dhamma.

Jika kekayaan digunakan untuk kejahatan maka hal itu akan menjadi tidak bermanfaat, tetapi jika kekayaan digunakan untuk berbuat kebajikan ini akan sangat bermanfaat. Kekayaan materi bukanlah satu-atunya tolak unsur kebahagiaan, maka dari itu sebagai orang yang kaya jadilah ‘orang kaya yang kaya’ dan jika masih merasa menjadi orang miskin, jadilah ‘orang miskisn yang kaya’.

Dalam Dhammapada, Sukha Vagga XV-204 Sang Buddha mengatakan, “Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga” (arogya parama labha, santutthi paramamdhanam). Maka dari itu singkirkan kebencian (dosa) dengan kepedulian terhadap orang lain dan pengembangan cinta kasih kepada semua makhluk (metta), jauhkan diri dari keserakahan (lobha) terhadap harta atau kekayaan materi dengan memiliki batas-batas kepuasan (santithi)m dan berusahalah untuk hidup secara sederhana (apicchata) atau tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan materi.

[ Dikutip dari Artikel Berita Dhammacakka Edisi : 30 Juli 2000 ] 

Selasa, 21 Desember 2010

Cerpen Buddhis: Cinta Yang Terpuruk

 
Cinta Yang Terpuruk
Oleh : NTD

Indahnya matahari terbenam tidak membuatku bahagia. Aku berdiam sendiri di kamar, termenung dan sempat terlintas ucapannya di siang hari. "Aku tidak bermaksud untuk menghianatinya juga menduakannya, Mengapa ia berpikir demikian? Mengapa ia berpikir bahwa selama ini aku berpura-pura padannya? "Tanpa kusadari, pipiku sudah basah dengan air mata.Aku belum sempat menjelaskan persoalan ini dengannya tadi siang, tapi besok aku akan menemuinya di kampus.

"Tedy ! Tedy ! Aku ingin bicara denganmu." Aku tahu ia terpaksa, tapi masalah ini harus aku bicarakan dengannya.
"Ada apa, Rit?"


"Aku mau bicara tentang masalah itu, kau salah paham, Tedy!"
"Sudah jelas kok masalahnya Rit, Kamu menduakan aku, temanku sendiri yang melihat kamu jalan berdua dengannya sambuk bergandengan malam minggu kemarin, aku si percaya kamu 60% tapi....."
 

"Ted, aku tuh sama dia ngak ada apa-apa. Hubungaku dengannya, maksudku Budi tak lebih dari teman, percaya deh. Masalah dia menggandengku, mungkin.... dia takut aku hilang atau entahlah!" Kulihat wajahnya dengan amarah, tapi aku ingat dengan ajaran Sang Buddha karena kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian juga. makadari itu aku harus menjelaskan semua padannya. Aku tidak ingin dia berpikir buruk tentang diriku. Aku tahu bahwa aku telah berbuat salah padanya.

"Rit, benarkah semua ini?" Aku hanya mengganguk. "Oh, Rita, aku percaya padamu."
"Jadi.........."
"Yah, masalah kita selesai. Anggap sajaini tidak pernah terjadi."
"Oh Tedy, aku sayang sekali sama kamu." Tedy hanya tersenyum dan kemudian mengajaku masuk ke ruang kuliah.

Sudah sekian lama kami berhubungan, memang selalu ada kendala. Oragn tua Teddy tidak setuju dengan hubnungan kami karena alasan perbedaan agama. Tapi kami tetap mempertahankan cinta kami, sampai aku mengetahui bahwa aku sudah dijodohkan dengan Budi oleh orang tuaku. Budi memang baik dan seDhamma,tapi aku tidak menyukainya. Memang selama ini, dia tdak tahu kalau aku sudah berhubungan dengan Tedy selama 3 tahun. Aku dan Budi memang jarang bertemu dan mengenai acara pertunangan kami akan diadakan minggu depan. Oh, bagaimana ini? Aku tak bisa meninggalkan Tedy tapi aku juga tak bisa melanggar perintah orang tuaku.

Sewaktu aku sedang berpikir, kudengar suara mama memanggil. "Rit, ada Tedy tuh !"
"Iya, Ma, Rita segera turun." AKu turun dan menghampiri Tedy.
"Hai Rit! Aku tidak ganggu kamu kan ?"
"Tidak kok, Ted. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untukmu."
"Rit, aku mau kasih tahu4kamu, bahwa massa perusuh telah sampai dipintu gerbang kompleks perumahan kamu. Aku harap kamu tetap disini. Aku takut mereka akan..."
"Ted, jangan diteruskan! Terima kasih, Ted, Kamu sudah kasih tahu aku."
"Tapi apakah kamu nggak takut, Rit? Soalnya, selalu wanita yang menjadi korban bila terjadi kerusuhan!"


"Ted, bukannya aku tidak takut, tapi aku percaya pada karmaku sendiri. Kalau memang karmaku buruk, aku tidak dapat menghindarinya."
"Tapi, Rit, bolehkan aku disini bersamamu?" Aku khawatir sama kamu."
Aku hanya tersenyum, hatiku sangat bahagia karena perhatiannya yang tidak kudapatkan dari Budi. Tiba-tiba telephone rumah berbunyi dan aku yang mengangkatnya, karena keluargaku sedang mendengarkan berita kerusuhan yang sedang terjadi. Rupannya telephone dari Budi, aku sangat kecewa padannya, ia mengabarkan kalau ia sedang berada di Sdyney bersama keluargannya saat ini. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara Tedy.
"Rit, mereka makin bertindak brutal. Lihat keadaan rumah tetanggamu!" "Aku takut akan terjadi sesuatu pada diri kita semua."

Tiba-tiba empat orang masuk melompat pagar rumahku. Mereka berwajah menyeramkan dan penuh dengan kebencian. Tedy langsung menutup pintu rumahku dan menguncinya. Para perusuh berteriak sambil berusaha mendobrak pintu.
"Rit, cepat sembunyi ! Pintu ini akan didobrak, aku tidak bisa menahannya. Cepat, Rit, Cepat !"
"Tapi Ted, bagaimana dengan kamu? Mereka akan memukul bahkan dapat membunuhmu !"
"Aku tidak peduli, Rit. Akut tidak peduli, Cepat!Kamu harus sembunyi!""Aku akan mengorbankan diriku asalkan kamu selamat, Rit"
"Baiklah, aku akan mengikuti kehendakmu, Ted" Dengan berat hati aku meninggalkannya.
Kemudian papa turun dari loteng dengan tiba-tiba dan menghampiriku. "Rit, cepat sembunyi diatas bersama mama dan adikmu, papa akan menyusul."
"Papa mau kemana ?"
"Papa akan membantu Tedy, ia tidak bisa menghadapi musuh sendirian. Ayo cepat Rit!"
"Baik, pa, tapihati-hati yah Pa!" Kulihat papahanya tersenyum lalu pergi meninggalkanku dan aku bergegas ke atas bersama mama dan adikku. Sayup-sayup terdengan suara gaduh dan teriakan kesakitan dibawah. Rupannya sudah terjadi perkelahian dibawah. kemudian suara dibawah menjadi hening4. Aku khawatir dengan keadaan papa dan Tedy. Tanpa pikir panjang aku segera turun walau mama mencegahku. Dibawah aku melihat pemandangan yang mengenaskan karena kulihat papa duduk lemas dengan luka-luka memar dikepada dan sedikit luka goresan pada tangannya, tetapi yang terparah adalah Tedy dengan sekujur tubuh berlumuran darah.


"Rit, bantu papa untuk meluruskan tubuh Tedy!"
Aku membantu Papa meluruskan tubuh Tedy dilantai dan kuletakkan kepalannya dipangkuanku. Air mataku keluar melihat keadaan Tedy. "Ted, kamu tidak apa-apakan ?" Kulihat senyumnya yang damai.
"Aku tidak apa-apakok, kamu ngak usah khawatir, aku sangat bahagia dapat melindungi orang yang sangat kucintai."


"Ted, kamu akan baik-baik saja, kamu tenang aja deh! Aku akan telephone Ambulans."
"Rit, jangan tinggalkan aku!" Genggaman tangannya semakinkuat. "Aku ingin selalu disisimu, Rit, membahagiakanmu, melindungimu,"
"Ted,jangan banyak bicara ya, darahmu keluar terus."
"Rit,biarkan aku dipangkuanmu menjelang ajalku. Rit, janji yah sama aku kalau kamu nggak akan sedih setelah kepergianku."
"TEd....!
"Berjanjilah padaku, Rit, kamu akan membuka lembaran cinta baru, menikahlah dengan Budi!" "Tedy, dari mana kamu tahu itu sayang?"
"Mamamu memberitahukan aku tadi selagi aku datang dan acara pertunangan akan dilaksanakan minggu depan."
"Tedy aku tidak mencintainya, aku mencintai kamu, Ted"
Tedy hanya tersenyum dengan suara yang terputus, ia berkata "Rit.... Aku juga mencintai kamu"
Lalu tangannya terlepas dari genggamanku dan......
"Ted, Tedy !" aku menangis dan kemudian kuletakkan keduatangannya diatas dadanya sambil kuucapkan "Sabbe Sankhara Anicca", semua itu tidak kekal adannya.

Dua bulan pun berlalu, aku tidak dapat melupakannya, cintanya yang tulus selalu kusimpan dalam hati. "RIta, sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi!" "Aku tidak bisa Bud! Ia orang yang baik,cintannya tulus,Bud! Aku tidak bisa begitu saja melupakan Tedy. Kamu tahu kan!" Aku tahu Budi kecewa, tapi itu lebih baik, aku tidak ingin memberinya harapan kosong karena aku tidak akan menihak dengannya. Aku akan melanjutkan kuliahku yang tertunda karena kerusuhan Mei lalu.

(Dikutip dari majalah Dhammacakka)

Jumat, 17 Desember 2010

Tujuan Pengembangan Insight



Tujuan Pengembangan Insight

Oleh: Alm. Yang Arya Bhikkhu Girirakkhito Mahatera




Saat ini nampak jelas sekali para umat mulai seius mengembangkan Dhamma di dalam diri sendiri. Dan kemudian tentu kehausan itu akan ilanjutkan dengan menerapkan ajaran-ajaran Dhamma di dalma diri masing-masing. Sesungguhnya, kalau kita belajar Dhamma adalah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan alam, lingkungan, keadaan, dan kondisi-kondisi yang ada Sebagai individu, manusia, kita tidak jemu-jemu menghadapi situasi/kondisi yang berubah-ubah, yang perubahannya terus berlansung atnnnnnpa pernah behenti; dan kita harus senantiasa berusaha untuk mnejadi harmonis dengan keadaan, lingkungan dan kondisi yang ada. Justru agama, seakan-akan mempunyai harga mati dalam bagaimana menjadikan diri kita ini agar selalu selaras, esimbang, dan harmonis dengan alam maupun linkungan. Jadi agama tidak lagi berpikir atau memcoba membantah, tau mengoreksi kebenaran ajaran agama yang diyakini masing-masing umat, meskipun Sang Buddha mengatakan bahwa silakan periksa, pelajari dan teliti; kalau cocok boleh terus dipakai, kalau tidak ditinggalkan. Dan dari berbagai disiplin ilmu sudah sepakat mengatakan bahwa agama seakn-akan sudah – kalau seperti barang – punya harga mati, harga pas, jadi tidak ada tawar-menawar lagi. Memang demikian. Misalnya agama Buddha, Sang Guru Agung Buddha Gautama menjelaskan tentang apa manusia itu, yang terdiri atas kelompok jasmani, kelompok perasaan, kelompok pikiran, kelompok ingatan, dan kelompok kesadaran. Proses dari tiap-tiap kelompok ini terjadi di dalam diri kita, yang berada ditengah-tengah alam semesta atau dunia ini, yang senantiasa berubah. Tahun 1900-an dengan sekarang tahun 1994-an itu keadaannya sudah berubah.


Sementaar itu, dari perkembangan berbagai disiplin ilmu, kini mulai gencar mempertanyakan apakah agama bisa memenuhi keperluan hidup dalam segala aspeknya? Misalnya, apakah agama sanggup membuat kesejahteraan, kemajuan dalam kehidupan manusia yang begitu banyak aspeknya? Sekarang penduduk Indonesia jumlahnya sudah semakin banyak, ero globalisasi sudah demikian gencar, keterbukaan Indonesia dalam beberapa bidang sudah nampak jelas sekali. Namun kita harus mengakui bahwa sampai sekarang Pemerintah indonesia belum mampu mengatur manusia yang beigtu banyak itu. Lain halnya seperti negara tetangga kita, Singapura, di mana penduduknya relatif sedikit, kemudian pendidikan hidup yang berdisiplin itu sudah sejak lama sekali ditanamkan, serta mayarakatnya dalam kondisi yang kemamurannya hampir mearata. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang supir disana, berapa gaji supir di sana, yaitu 1500 Dolar Sinagpura. Kalau dikruskan, sekitar satu setengah juta Rupiah. Kalau di sini, tidak ada gaji supir yang ssdemikian itu. Karena dengan 1500 Dolar itu baru memenuhi standar kehidupan di sana, walaupun tidak mewah, tetapi tida miskin. Mereka mampu untuk sewa listrik, beli air untuk minum, mandi, cuci, dan sebagainya. Dengan demikian mereka dapat hidup layak. Begitulah keadannya, dan kalau kita lihat disiplinnya, memang sudah maju sekali, terutama bekersihannya. Kalau kita badingkan dengan di sini tentu jauh sekali. Mereka di sana sudah bisa menyesuaikan diri dengan peraturan dan hukum yang berlaku ash, yang tentunya sesuai dengan ajaran agama yang mereka peluk; juga belajar harminis dengan hukum-hukum alam yang diajarkan oleh agama mereka masing-masing.


Oleh karena itu, tiap ajaran agama mempunyai peraturan, yang umum, yang pokok, kemudian yang tambahan. Semuanya adalah untuk menjadikan kita harmonis, seimbang, selaras, dan tidak konflik dengan kepentingan bersama, terutama dengan alam. Kalau misalnya alam kondisi panas terik, lalu kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang panas terik itu, sehingga kita menjadi menderita, kemudian mengeluh, tidak tahan, dan gelisah. Itu berarti bahwa kita belum mampu harmonis dan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.


Saya kira gejala ini sangat nyata kelihatan di kalangan kita umat Buddha, sehingga tatkala di suatu waktu ada pertemuan dari orang-orang tertentu di suatu tempat, kelihatan sekali batin para umat di sana tidak harmonis, tidak seimbang; pokoknya minimal ‘dislike’ dalam hati. Karena orang-orang yang hadir di sana, mereka itu adalah kritikus-kritikus bhikkhu yang getol sekali. Mereka itu seakan-akan menjadi polisinya bhikkhu, begitulah. Sebenarnya bhikkhu itu tidak punya “CPM”, tetapi kalau militer punya CPM. CPM itu diangkat dengan resmi oleh yang berwenang dan dididik; pun cara ngeprit pelanggaran yang ada tidak sembarangan, tetapi mengerti aturannya. Tetapi oarng-orang ini rupa-rupannya mereka belajar Dhamma Vinaya, kemudian merasa mengerti, namun bersekutu dengan belum tercapainya keharmonisan kejiwaan; sehingga mereka menjadi kritikus-kritikus uang kadang-kadang menimnulkan akibat-akibat yang minimal dapat menjadi konflik. Kadang-kadang mereka mengerti “KUHP”-nya bhikkhu –kitab “KUHP”-nya para bhikkhu adalah Vinaya. Mungkin dia menghafal, apalgai yang pernah menjadi Bhikkhu, kemudian lepas jubah, itu mereka tahu. Lalu kemampuan menghafal peraturan itu dijadikan atau menjadikan dirinya CPM sukarela yang tanpa ‘beslit’ begitulah kira-kira.


Pengembangan Insight tau Pandangan Terang melalui latihan-latihan Vipassana, itu bukan bertujuan untuk menjadikan kiat pintar mengerti Dhamma, lalu kemudian untuk berdebat, untuk melihat kesalahan orang lain, atu untuk memojokkan orang lain, atau untuk memamerkan pengertian benarnya masing-masing. Bukan beitu maksudnya. Justru dengan Vipassana atau mengerti Dhamma itu, adalah agar kita mengatur batin kita supaya tetap segera harmonis, seimbang, selaras, dan tak ada konflik dengan keadaan, lingkungan, hukum alam, serta kondisi-kndisi yang ada.


Itulah topic yang ingin saya perbicarakan dan bahas di sini, sebagai suatu injeksi, yang mudah-mudahan dapat lebuh menyembuhkan penyakit-penyakit yang kurang perlu aad di dlam batin kita sekarang.


Jadi sekarang, kita mesti berupaya membuat persahabatan kita di dalam Buddh Dhamma ini agar benar-benar bisa mengenyam dan menikmati ketentraman dan keselarasan; kemudian bisa dengan cepat mengeliminir kesalah-fahaman, konflik, dan sebangsanya. Berusaha untuk secepat kilat bisa menuntaskan semua problem, dengan kata lain kiat akhirnya dapat muncul menjadi pribadi-pribadi yang sanggup menjadi problem solvre. Kita tahu “How to solve the problem of life”. Itulah kiranya tujuan yang kita gantungkan dala cita-cita kita. Dan kalau batin kita suadh dewasa maka ‘like and dislike’ itu bisa diturunkan, dikurangi. Itu merupakan ciri-ciri sat hasil yang kita raih. Bagaimanapun kikuknya saudara anggap orang lain menyalahi aturan, apakah Dhamma, apakah Vinaya, kalau seseorang sudah mempunyai Insight, dia tidak lagi usil menjadi polisi. Tidka! Karena apa? Karena dia memaklumi bahwa dunia adalah dunia, sorga adalah sorga, neraka adalah neraka, dunia yang campuran bik dan buruk adalah dunia yang campuran baik dan buruk. Itulah kondisi dunia. Jadi kalau kita belum mengerti, - isi dunia saja belum mengerti-, kita tinggal di dunia, bergaul dengan kawan-kawan yagn masih duniawi, dan kondisi duniawi ada yang baik dan ada yang buruk; lalu kiat masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang baik dan buruknya, kapan kita bisa meningkat?


Perlu diingat dan diketahui bahwa memiliki kualitas mental yang memadai amatlah penting untuk menghadapi kejadian, problem, kondisi, situasi yan berubah-ubah dan sangat rawan ini. Pejabat pemerintah harusnya mempunyai kualitas mental yang tangguh. Para rohaniwan agama juga harus mempunyai mental yang memadai. Tidak boleh sepihak. Kemudian kualitas mental masyarakat juga harus ditingkatkan. Kita jangan malu mengakui bahwa kualitas mental kita, kualitas disiplin kita, ketaatan kepaad peraturan, masih jauh daripada apa yang disebut baik. Maka oleh karena itu, kita harus berusaha meningkatkan kedewasaan kualitas mental ini.


Kalau orang yang mentalnya sudah dewasa ‘like dan dislike’ – kalau dia diumpamakan biji tumbuh-tumbuhan-, dia itu tidak bisa tumbuh di atas lantai yang licin. Walaupun dia disiram dengan air, dia tidak bisa tumbuh. Tetapi kalau tanah gembur kemudian ada hujan turun, dia mudah tumbuh. Rumput pun tumbuh. Jadi mental itu ada kualitasnya; seperti tanah yang gempur, dilempar biji apa saja kalau ada hujan akan tumbuh. Ada mental yang udah digosok dan diproses, sehingga seperti kaca yang jernih dan bersih, atau seperti tegel yang mengkilat. ‘Like dan dislike’ dengan antek-anteknya itu, seolah-olah tidak bisa melekt pada batin orang yang demikian. Secara alami sekali, mereka tidak melekat. Maka itu, kita melihat ada orang yang cepat sekali tersinggung, cepat sekali emosi, cepat sekali konflik. Pokoknya tidak selesai-selesai dan tidak habis-habisnya tersinggung dan membuat konflik.Ada saja yang dipermasalahkan. Nah berbeda dengan orang yang bathinnya sudah dewasa, yang saya umpamakan batinnya sudah digodok, digembleng, diasah, dilap hingga licin dan bersih sekali. Terutama dualisme itu yaitu ‘like and dislike’, merasa diuntungkan atau dirugikan, merasa ddihargai atau diremehkan; itu sulit melekat kepada batin orang sedemikian. Maka sikapnya pun menjadi dewasa sekali.


Kita sekarang amat memerlukan orang-orang seperti itu, terutama kalau kita mendambakan Buddha Dhamma ada manfaatnya, ada kegunaannya; yakni dengan memproses pikiran itu, yang sering saya katakan dari cengeng, mudah tersinggung, mudah melekat kepada dualisme, menjadi sehat, kuta, stabil, mantap. Jadi ke arah sana fokus kita, tujuan kita belajar Buddha Dhamma, sehingga itu menjadi modal dasar ynag dirumuskan oleh pemerintah. Dalam pembangunan bangsa ini, kita harus punya modal iman dan takwa yang kuat, moral etik yang tinggi; kemudian digabung, disekutukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, ketrampilan, dan keuletan, maka kdua-duannya ini akan menjadi sarana untuk membangun pribadi-pribadi, manusia-manusia Indonesia yang diharapkan.


Namun memang kecenderungan manusia itu berbeda-beda. Diantara pada bhikkhu juga ada yang lebih cenderung ke pertapaan aatu meditasi saja, tidak mau campur dengan organisasi atau dengan masalah-masalah duniawi. Pokoknya pertapaan saja, tinggal ditempat sepi, kemudian meditasi, Ini lalu oleh kemajuan perkembangan dunai masa kini, mendapat sorotan yang negatif. Bahkan pernah kita ini dituduh: “Wah, apa Walubi ( Perwalian Umat Buddha Indonesia bukan Perwakilan, red) itu hanya mengajarkan umatny sembahyang saja, meditasi saja, dan kalau khotbah, yang dikhotbahkan bagaiaman mencapai sorga, tetapi sama sekali lupa dengan lingkungan, ada orang miskin, ada rumah kumuh, dan sebagainya. Menurut pandangan yang ada, penerapan agama di Indonesia harus dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab dijelaskan disana, “agama tidak bisa membuat rumah, tidak bisa membeli mobil”. Untuk membuat kemakmuran, supaya kain banyak, supaya sepatu modelnya banyak, keperluan hidup banyak; itu bukan agama yang mengerjakan, tetapi ketrampiran, teknoligi dan ilmu pengetahuan. Begitu juga dalam aspek kesehatan dan sebagainya. Kita tidak perlu berdebat dan membantah di sana.


Jadi diharapkan agama itu tidak eksklusif. Sekarang kita menganut agama Buddha, Buddha Dhamma, seperti saya sekarang ini sebagai bhikkhu, sudah mulai diminta oleh pemerintah: “Anda jangan hanya mengajarkan meditasi saja”. Usahakan meningkatkan kemiskinanm dari yang dulu income-nya kecil sekarang menjadi bertambah. Namun sudah jelas pula, mental agama adalah modal dasar. Jadi kita harus ditangan kanan memegang Buddha Dhamma, di tangan kiri memegang seluk beluk dan hal ikhwal pembangunan bangsa. Jelas sekali sekarang demikian.


Jadi kiat para penganut agama Buddha tidak boleh lalai, tidak boleh tutup tertelinga telingga atau mata kita, tetapi kiat harus ‘well informed’ tentang masalah-masalah yang ‘up to date’, yang sekarang ini. Sebenarnya saya merasa paling bangga dengan keadaan umat Buddha, terutama dikota-kota besar, karena mereka berpotensi sekali di dalam ikut andil memakmurkan dan mensejahterakan bangsa ini. Bahkan Bapak Presiden, kalau memberikan penghargaan, kebanyakan kepada orang-orang umat buddha yang dengan diam-diam sudah membantu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kami drai umat Buddha dengan diam-diam sudah banyak mengangkat kemiskinan dengan memberikan mereka pekerjaan.


Memang kita mengharapkan bahwa simpatisan atau penganut agama Buddha semakin banyak. Tetapi dengan semakin banyak muncul orang-orang baru ini, mungkin saja lalu kembali muncul kerawanan, problem tentang kecengengan kejiwaan itu. Sebenarnya yang tua-tua yang harus lebih mengalah. Itu memang sudah hukum pergaulan. Coba kalau kakak dengan adik, siapa yang harus mengalah? Kakaklah ynag harus mengalah, Tetapi sekarang kok terbalik. Umpamanya ada adik yang mengalah, yang kakak-kakaknya malah galak sekali. Jangan sampai terjadi yang demikian.


Bagi saya, yang bagaimana saja teman-teman pengabdi ini, yang cengeng, yang dewasa, yang mudah tersinggung, yang kalem, saya bisa sekali menerima, karena saya ekstra menjaga dan melestarikan diri. Maka oleh kaerna itu, sejak saya senang mengadakan latihan Vipassana, itu tidak lain maksudnya adalah untuk meningkatkan kejiwaan para umat yang sudah mendapat kesempatan dan mempunyai minat ke arah peningkatan itu. Yang penting jangan jadi jaksa, jangan jadi polisi, atau menjadi mata-mata untuk menyelidiki kesalahan orang lain. Itu tolong dielminir. Jangan karena persoalan sedikit saja, sudah ramai. Kog senang sekali melihat dan menceritakan kesalahan, kelemahan, dan kekuarang orang lain? Kecenderungan demikian sepertinya sudah berurat berakar, mendarah-daging. Cobalah kita kerahkan tenaga dan kemauan untuk mengeliminir kecenderungan itu.


Terdapatnya perpercahan-perpecahan di tubuh organisasi, itu juga tdak lain dan tidak bukan, sebabnya adalah kekurangan kedewasaan kejiwaan dan kualitas mental. Jadi sekarang kita harus mempunyai seni atau keahlian untuk mengelimir hal-hal yang demikian itu.


Sekarang ini, kita lepas dari rasa kesal, rasa kurang simpati. Kalau ada rasa kesal atau rasa kurang simpati, kurang setuju, atau kurang sreg, itu ‘kan cuma perasaan. Perasaan yang muncul disebabkan karena kejiwaan belum dewasa, masih ada ego, masih inginmenaruh pandangan sendiri, konsep sendiri, dan sebagainya di depan. Kalau secara sederhana, itu adalah ciri-ciri dari demokrasi, ciri-ciri dari pluralisme, ciri-ciri dari keadaan yang berbeda-beda. Tetapi kemudian, bagaimana agar yang berbeda-beda ini bisa mengkondisikan semangat bersatu. Jadi pluralisme agama di Indonesia itu mengkondisikan para pemimpin berusaha untuk mengatur, membimbing agama ini, supaya tetap bersatu dan rukun. Metodenya: jangan membicarakan tentang doktrin, jangan berdebat tentang perbedaan; kita hanya mengacu kepada kepentingan bersama. Pemerintah lebih lihat lagi. Para pemimpin agama itu sering-sering dikumpulkan, diajak pergi ke propinsi-propinsi, bahkan yang terakhir ini diajak ke Singapura dengan gratis. Bayangkan! Begitu pandainya merukunkan agama-agama yang berbeda-beda, tetapi mempunyai kepentingan yang sama. Jadi kepentingan yang sama itulah yang diacu, yang dipacu, sehingga bisa rukun-rukun selalu.


Naqh, kita juga harus begitu. Dahulukan kepentingan bersama untuk mencapai tujuan dan cita-cita bersama. Kalau ada gangguan, rintangan, godaan, atau bahkan malapetaka yang menhadang, hal itu wajar terjadi. Tetapi kalau kita teguh dengan tujuan demi kepentingan bersama, hal-hal itu akan dapat diatasi secara alami. Saya harap umat Buddha berhati-hati, agar bertindak denagn sehalus-halusnya, belajar melangkah dengan memperhitungkan proses alaminya itu sendiri. Mudah-mudahan konflik-konflik itu tidak perlu ada.


Saya mengharapkan supaya saudara-saudara mengintegrasikan diri, sungguh-sungguh membulatkan tujuan, membulatkan acuan, dan sebagainya, sehingga dengan demikian, rintangan-rintangan yang akan melemahkan posisi dan kondisi kita akan dapat dieliminir. Dan kalau ada perebdaan-perbedaan dan sedikit konflik, itu adalah wajar sekali. Lautan yang luast itu tidak selamannya tenang. Tiba-tiba ada angin puyuh, lalu gelombang itu besar, ia kemudian akan berubah. Laut kembali tenang. Kalau kita sering dihajar ikeh bukti-bukti kondisi yang berubah-ubah demikian rupa itu, maka kesadaran kita juga akan maju, akan bisa memaklumi keadaan yang kadang-kadang dengan tiba-tiba munculnya angin ribut. Sebagai penumpang di kapal "Walubi" (Perwalian Umat Buddha Indonesia bukan Perwakilan, red) ini, mudah-mudahan saudara tidak mabuk, tidak muntah, tidak rebah, dan kemudian kapok naik kapal . Jangan sampai kapok. Kalau kapok, kita tiadk akan bisa menyeberangkan umat Buddha dengan tujuan yang diharapkan. Sebab sekarang, kita ini ibaratnya berangkat naik kapal itu, kadang-kadang gelombangnya besar. Mudah-mudahan kita semua tahan, tidak mabuk, tidak pingsan, dan semoga semuanya tetap sehat dan akhirnya membawa agama Buddha dan umat Buddha ini kepada tingkat dan tujuan yang diharapkan.


[Dikutip dari Mutiara Dhamma VI ]

Rabu, 15 Desember 2010

Umat Buddha Dan Solusi Kemarahan





Umat Buddha Dan Solusi Kemarahan
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera




TIPE UMAT BUDDHA

Dapat diterangkan di sini bahwa tipe atau jenis umat Buddha itu ada bermacam-macam. Jenis kelompok umat yang pertama adalah: Umat Buddha KTP. Jadi ke mana-mana disombongkan: Ini lho, KTP saya: Buddhis!" Kalau mereka ditanya, bagaimana riwayat Sang Buddha? Jawabnya: "Ah, itu bukan urusan saya. Itu urusannya para bhikkhu dan para Dharmaduta. Pokoknya saya Buddhis. Ditanya viharanya di mana. Jawabnya: "Bukan urusan saya. Itu urusannya orang-orang yang mau jadi bhikkhu. Ditanya buku parittanya apa, dijawab: Buku paritta bukan urusan saya. Saya susah membaca paritta". Paritta apa saja yang dihafal? Jawabnya: Untuk apa menghafal paritta? Lidah saya keseleo-keseleo! Jadi kamu Buddhis-nya apa? K-T-P! Toh kalau KTP-nya Buddhis, juga bisa masuk surga, cukup. Kalaupun mau ditambah sedikit, pokoknya Buddhisnya sampai dupa. Kalau saya sudah bisa pegang dupa, acung-acung dupa, jungkir balik di depan patung, saya sudah Buddhis: Patung apakah itu? Tidak tahu. Pokoknya saya ikut yang lain. Nah, ini golongan yang pertama. Amat menderita, Saudara.

Golongan yang kedua adalah golongan yang lebih baik daripada yang pertama, yaitu yang disebut umat Buddha bergaya "Kapal Selam". Saudara tentu pernah nonton film "The Man From The Atlantis", bukan? Di sana mereka selalu menggunakan kapal selam. Saudara perhatikan kebiasaan kapal selam; kalau ada bahaya, dia turun, biar aman. Kalau mau ketemu pejabat, dia naik. Nanti kalau santai-santai, nganggur-nganggur: turun. Kalau mau jalan-jalan: naik. Nah, itu cerita film The Man From The Atlantis. Ternyata  cerita itu bukan hanya ada di televisi, tetapi di vihara cerita itu bisa terjadi. Ada acara Waisak: muncul. Tidak ada bhikkhu: tenggelam. Ada bhikkhu: naik. Ini tipe yang kedua.

Tipe yang ketiga adalah tipe yang paling ideal, yaitu umat Buddha yang memang betul-betul mempelajari Dhamma dan melaksanakan Dhamma. KTP-nya Buddhis, rajin datang ke vihara untuk berpuja-bakti, mendengar Dhamma, serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. 

JENIS UKIRAN KEMARAHAN DAN SOLUSINYA

Di Bali saya lihat umat Buddhanya telah menunjukkan satu kekompakan/persatuan di dalam mengembangkan Buddha Dhamma. Ternyata orang Bali, umat Buddha di Bali, bukan hanya terkenal bisa mengukir kayu, mengukir barang-barang, meja-kursi, tapi juga bisa mengukir prestasi di dalam memajukan umat Buddha. Oleh karena itu saudara tidak sia-sia menjadi orang Bali. Bisa mengukir, tidak hanya mengukir patung, tapi juga mengukir prestasi untuk memajukan agama Buddha. Dan saya harap, ukirannya jangan berhenti sampai di sini. Ini hendaknya semakin dikembangkan, sehingga ukiran prestasi atau kebajikan saudara itu semakin banyak, ke mana akhirnya manfaat kebajikan ini juga menjadi milik saudara.

Berbicara tentang ukiran yang positif perlu saudara kembangkan, tetapi yang negatif jangan dikembangkan. Apakah yang negatif itu? Sang Buddha di dalam Anguttara Nikaya I ayat 283, bercerita tentang seni mengukir. Beliau bercerita demikian. Saudara-saudara, ada jenis tukang ukir yang bermacam-macam. Yang pertama adalah tukang ukir yang mengukir di batu karang. Jadi ada batu karang yang besar, diukir. Saya tadi baru saja datang dari Tanah Lot, di sana saya melihat batu karang yang besar sekali, dan seperti diukir dindingnya. Begitu juga ketika ke Gunung Kawi, saya melihat gunung batu yang diukir. Ini kepandaian orang Bali dalam hal mengukir. Sang Buddha mengatakan, ada orang-orang yang seperti orang yang bisa mengukir batu cadas, batu karang. Bayangkan, saudara. Batu karang yang teguh, yang kuat, seperti candi Gunung Kawi, diukir. Itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya, bahkan ratusan tahun. Kalau itu ukiran yang positif, tentu kita akan merasa senang dan bahagia. Tetapi seperti saya katakan tadi, yang diceritakan Sang Buddha ini adalah jenis ukiran yang negatif. Orang yang mengukir seperti mengukir di batu karang itu adalah diumpamakan orang yang kalau sudah jengkel, marah, atau benci, ia menyimpan kejengkelan atau kebenciannya itu bukan untuk waktu 1-2 hari, bukan untuk waktu 1-2 bulan, tetapi bertahun-tahun jengkelnya masih ada. Itu seperti orang mengukir di batu karang, seperti mengukir Gunung Kawi. Dari jenis yang pertama ini, saya ingin bertanya, apakah saudara punya Gunung Kawi" di dalam diri saudara? Apakah masih tersimpan kejengkelan saudara yang 10 hari yang lalu? Yang 10 tahun yang lalu?

Suami rewel, langsung dikatakan: "Memang kamu sudah rewel sejak bertahun-tahun lalu". Demikian juga dengan sang suami, bila melihat istrinya akan ke vihara make-up-nya saja lama sekali, lalu suami mengatakan: Ayo cepat, ini sudah mau mulai kebaktiannya. Kamu pasang gincu saja, masa begitu? Jambonnya itu terlalu muda. Hapus. Ganti yang merah tua. Wah, itu terlalu merah, kayak bikang ambon! Hapus. Ganti yang muda lagi. Berkali-kali ganti sampai tissu satu dus habis untuk menghapus pemerah bibir. Suaminya jengkel, kemudian mengatakan: Kamu ini dari sejak menikah sampai sekarang punya anak-cucu, begini terus.

Kalau saudara masih mengucapkan kata-kata seperti itu, hati saudara itu seperti Gunung Kawi, seperti batu karang di Tanah Lot yang diukir, sehingga tidak bisa hilang kejengkelan, dendam saudara itu, baik kepada pasangan hidup maupun kepada yang lain. Kalau sekarang kepada pasangan saja tidak bisa memafkan sampai bertahun-tahun, apalagi sama teman. Kalau di vihara kita melihat teman berbisik-bisik, tertawa cekikikan-cekikikan, saudara berkata: Awas kamu ya, kamu menggosipkan saya. Pokoknya selama kamu belum meninggal, saya tidak akan pernah mau datang ke vihara. Jangan harap saya akan menginjakkan kaki di rumahmu". Itu namanya kita mengukir Gunung Kawi di dalam diri kita. Apakah saudara demikian? Saudara sendiri yang bisa menjawabnya.

Jenis ukiran yang kedua, bukan mengukir di batu karang, atau di dinding batu, tetapi mengukir di pantai. Tadi saya juga mengunjungi Pantai Sanur. Saya cemplungkan kaki saya di pasir pantai, kemudian saya minggir. Tidak lama, jejak telapak kaki saya hilang kena ombak. Tapi hilangnya setelah ombaknya beberapa kali. Nah, saudara, Sang Buddha pun mengumpamakan demikian; seperti orang mengukir di atas pasir. Ada ukirannya, ada gambarnya, bisa bertahan untuk waktu yang sementara. Kalau yang pertama tadi, waktunya tidak terhingga, sampai mendarah daging menulang sumsum kebenciannya tidak bisa hilang. Tapi, kalau yang mengukir di atas pasir, ini lain ceritanya. Jengkel sama temen, jengkel sama pasangan hidup, itu wajar. Pasangan hidup masih punya kesalahan, itu wajar. Namanya saja manusia yang masih punya rasa kebencian. Tetapi kalau kita seperti mengukir di pasir, hendaknya janganlah untuk waktu yang lama.

Jenis berikutnya yaitu jenis yang ketiga. Kalau yang pertama adalah mengukir di batu karang, jenis yang kedua mengukir di pasir, maka yang ketiga adalah yang ideal, yaitu mengukir di atas air. Saudara nanti boleh mencoba di bak mandi saudara. Tulis huruf A. Bekas garisnya ada, tetapi langsung hilang. Demikian pula hendaknya apabila timbul kejengkelan, kemarahan, ketidaksenangan di dalam hati kita, hendaknya jangan ditahan seperti batu karang, bahkan juga jangan ditahan seperti lukisan di pasir, tetapi hendaknya seperti kita melukis di atas air. Cepat hilang kejengkelan itu. Nah, saudara, tiga jenis kejengkelan, tiga jenis ukiran inilah yang mulai kita renungkan sekarang.

Idealnya kita tentu mau menjadi umat Buddha yang terbaik, bukan? Saya yakin tidak ada yang ingin menjadi umat Buddha yang jelek-jelek, tetapi pasti yang baik. Bahkan kalau bisa, yang terbaik. Menjadi umat Buddha yang sungguh-sungguh mau mendengar Dharma, melaksanakan Dharma dengan baik, bukan hanya umat Buddha KTP atau Kapal Selam. Demikian pula dengan kesabaran, hendaknya seperti melukis di atas air. Tapi sekarang, bagaimanakah caranya? Seseorang bisa jengkel, marah, atau tidak senang itu karena ada sebabnya. Apakah yang menjadi sebab kejengkelan/kemarahan?

Kalau kita marah kepada pembantu di rumah, apakah sebabnya? Apakah karena pembantu kurang pintar? Ataukah saudara yang kurang pintar? Tentu saudara menjawab, Pembantu yang kurang pintar. Kenapa demikian? Karena kalau dia pintar, dia sudah jadi boss seperti saudara semua. Jadi, yang kurang pintar itu siapa? Kita sendiri! Kalau misalnya ada pembantu yang menutup pintu saja lupa terus, setiap hari mesti disuruh; kemudian kita omeli;Kamu ini betul-betul bodoh ya, bodoh kayak kerbau. Masa diberitahu untuk menutup pintu saja setiap hari tidak pernah ingat?

Kalau saudara renungkan baik-baik pembantu yang lupa-lupa terus itu mungkin memang otaknya kurang lancar. Kalau saudara omeli sampai setengah jam itu, sebetulnya saudara menjadi seperti dia. Karena dengan ngomel-ngomel, saudara sendiri jadi tidak menutup pintu, pintunya terbuka terus. Padahal kalau sudah tutup pintu itu, sudah selesai masalahnya.

Jadi kalau saudara ngomel, saudara marah, berarti saudara tidak menyadari bahwa kemampuan orang itu jauh di bawah saudara. Berarti yang kurang pintar bukan dia, tetapi saudara sendiri yang kurang pintar memahami kenapa kok dia membuat kesalahan itu. Makanya secara Dharma, alam sudah menunjukkan bahwa kalau satu jari menunjuk orang lain, maka tiga jari menunjuk kepada diri sendiri. Kalau kita menunjuk: Kamu kurang pintar!" Berarti 1 jari menunjuk dia, 3 jari menunjuk ke kita; berarti kita ini 3 kali lebih "kurang pintar daripada dia. Maka dari itu belajarlah dari alam, supaya tidak gampang-gampang kita menunjuk orang lain: kamu bodoh, kurang pintar, buruk, dan sebagainya. Jadi yang pertama harus kita renungkan bahwa sebetulnya mengapa saya marah? Mengapa saya jengkel dengan dia? Itu semua sesungguhnya adalah karena keinginan saya sendiri. Jadi penyebab dari kejengkelan, ketidaksenangan, atau kemarahan, sesungguhnya adalah karena KEINGINAN sendiri.

Coba saudara yang sudah punya pasangan hidup, tanyakan,Kenapa saudara sayang sama pasangan hidup saudara. Kenapa saudara kadang-kadang ingin selalu dekat dengan pasangan hidup saudara? Kadang-kadang inginnya hanya ngomong-ngomong bersama dengan pasangan hidup saudara. Kenapa? Karena pasangan hidup saudara bisa memberikan apa yang saudara inginkan. Wah, kalau saya ngomong-ngomong dengan dia, cocok sekali. Sehingga, karena ngomong-ngomong terus, lalu lupa ke vihara! Atau Wah, saya ini kalau jalan berduaan dengan dia, senang sekali, karena saya itu bisa mengikuti jalan cepat. Kalau ingin jalan lambat sambil nonton-nonton toko, dia bisa ikut pelan, bisa mengikuti keinginan saya. Saya ketemu dengan teman-teman, dia bisa saya ajak dan tidak memalukan saya. Wah, saya bahagia.

Tetapi sebaliknya, dengan pasangan hidup juga bisa jengkel. Kenapa? Karena pasangan hidup saudara tidak memuaskan keinginan saudara sendiri. Diajak ngomong-ngomong: Bagaimana ya, situasi politik zaman sekarang? Langsung pasangan hidupnya menjawab: Iya, situasinya tidak enak. Coba, harga bawang sekarang naik. Ditanya: Bagaimana keadaan vihara sekarang, apakah banyak kemajuan? Jawabnya: Ya, cukuplah. Tapi umat vihara yang dulu itu pernah pinjam sendok, tidak dikembalikan. Padahal sendoknya antik, itu. Bagaimana ya caranya kita minta kembali sendoknya sama dia? Wah, ini sudah tidak cocok. Yang ditanya tentang vihara, jawabannya tentang sendok. Yang ditanya soal politik, jawabannya bawang merah, bawang putih. Sudah tidak karuan ini. Ah, malas saya ngomong-ngomong sama dia, enakan ke vihara, pelarian. Daripada di rumah jengkel terus, stress, lebih baik ke vihara saja, dengar-dengar Dhamma atau kadang-kadang di vihara ngaco-ngaco saja, bisa juga begitu. Nah, saudara, mengapa kita jengkel dengan pasangan hidup kita? Karena kita tidak ingin pasangan hidup kita itu melakukan demikian. Sebaliknya kalau jalan; saya ingin cepat, pasangan hidupnya pelan. Saya ingin pelan sambil nonton-nonton toko, dia malah ngebut, mau cari toilet! Bagaimana ini? Wah tidak cocok. Lebih baik jalan sendiri saja. Kenapa? Karena keinginan tidak tercapai. Begitu juga kalau ketemu teman-teman, diajak ngomong-ngomong. Teman-teman bertanya, Bagaimana ini pasangan hidupmu, bahagia ya, hidup rukun-rukun? Langsung sang istri pasang muka merengut: Rukun apa. Itu kan hanya di depan umum. Kalau di belakang, dia ngomel-ngomel terus sama saya, malah pernah mukulin saya juga, koq. Sang suami lalu berpikir, Wah, ini menjatuhkan martabat dan gengsi. Bisa repot. Ini memalukan saya. Sehingga istri tidak diajak jalan-jalan lagi.

Nah, dari contoh-contoh tersebut, jelaslah kenapa kita senang sama orang, kenapa kita tidak senang sama orang. Itu semua karena keinginan kita. Kalau keinginan tercapai, saya senang. Kalau keinginan tidak tercapai, saya tidak senang. Bukan hanya dengan pasangan hidup atau orang, dengan benda, rumah/tempat, dengan musik, bacaan, apa saja, semuanya tergantung kepada kesenangan saudara. Kalau kesenangan tercapai, saudara senang, cinta, bahagia. Kalau kesenangan atau keinginan tidak tercapai, saudara jengkel, emosi, marah. Kalau demikian, dapat kita simpulkan bahwa marah adalah karena keinginan kita, setuju?

Kalau sekarang marah itu adalah karena keinginan, maka begitu kita marah, hendaknya kita segera menyadari: "Ini keinginan saya. Saya ingin apa sih? Saya ingin dia pintar seperti ini. O..., lalu saya lihat kemampuannya, dia tidak bisa, ya sudah. Keinginan saya, saya turunkan. Tidak usah terlalu menuntut. Kalau kita hanya memegang keinginan saja, Pokoknya dia harus bisa menuruti omongan saya, maka kita akan menderita. Menderita karena keinginan kita sendiri.

Dengan bisa memaklumi kekurangan orang lain, dan mengubah cara berpikir atau keinginan kita, kita dapat mengurangi kemarahan. Jangan terlalu menuntut terhadap orang lain, karena semua orang, semua barang, semua benda itu ada kelemahannya, ada kekurangannya.

Jadi kalau saudara marah, ingat baik-baik: "Ini toh karena keinginan saya. Lalu bagaimana renungannya supaya tidak sering marah? Bagaimana mengendalikan kemarahan? Kita merenungkan demikian: Dia punya kekurangan, tetapi juga punya kelebihan; demikian pula dengan saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diri saya. Nah, inilah mantranya. Mantra agar tidak marah. Kalau kita mulai jengkel atau marah kepada seseorang, kita merenungkan atau langsung mengatakan: Dia memang punya kekurangan, tapi juga punya kelebihan. Begitu pula dengan saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diri saya. Melakukan perenungan ini, kalau pagi bangun tidur diulang 5 kali, malam mau tidur diulang 5 kali. Dan mulai membaca mantra ini sejak hari ini. Kenapa demikian? Saya 'kan belum marah sama dia? Itu memang benar. Tapi ini untuk siap-siap menghadapi munculnya marah itu. Sama seperti saudara belum ketemu maling, tapi saudara sudah belajar kungfu. Jangan belajar kungfu kalau malingnya sudah datang. Keburu benjol semua kepala saudara. Belajar kungfu itu kalau malingnya belum datang, otomatis jurusnya keluar. Demikian juga dengan kemarahan. Jangan menunggu akan marah, baru merenungkan mantra itu. Mulailah sejak sekarang, mumpung belum marah. Walaupun saudara adalah pasangan hidup yang serasi, saudara hendaknya mulai berpikir demikian. Walaupun di pergaulan saudara tidak ada masalah, mulailah saudara berpikir begitu. Sehingga nanti kalau ketemu teman di organisasi yang menjengkelkan, saudara akan berpikir: Walaupun dia punya kekurangan, toh dia juga punya kelebihan. Saya akan mengingat-ingat kelebihannya.

Dengan demikian maka kejengkelan kita bisa kita kurangi, karena sumber kejengkelan adalah pikiran kita, keinginan kita sendiri. Karena kita ingin dia sempurna, dan tidak ingin dia tidak sempurna. Siapakah yang sempurna dalam dunia ini? Tidak ada yang sempurna. Inilah yang perlu kita renungkan di dalam hati. Jangan ngomong dia punya kelebihan dulu, karena kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Kesalahan orang sedikit saja nampak, tetapi kebaikannya meskipun banyak, tidak nampak. Karena itu kesalahan pada orang lain lebih mudah dilihat daripada kelebihan dia. Karena itu kita ngomong dulu kekurangannya pada mantra perenungan kita: Memang dia punya kekurangan, tapi dia pasti punya kelebihan. Begitu pula saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diriku. Ini direnungkan terus. Kalau direnungkan terus, maka dalam waktu 1 tahun saya akan melihat ukiran-ukiran di Gunung Kawi, yang berupa kejengkelan-kejengkelan, emosi, kebencian, kemarahan, semuanya menjadi hancur, lumat, rata dengan tanah. Tidak ada lagi emosi di dalam diri saudara.

Tetapi ukiran-ukiran Gunung Kawi yang baik-baik, dengan mengenalkan Dharma kepada lingkungan, keluarga, rekan-rekan dan kerabat saudara, akan terus berjaya untuk waktu yang tak terbatas. Dan kalau saudara bisa mengembangkan hal ini —ukiran yang positif bisa dipertahankan, ukiran yang negatif tidak dilakukan—, maka kebahagiaan akan menjadi milik saudara. Kebahagiaan tidak hanya saudara alami di dalam kehidupan ini, tetapi kebahagiaan juga akan saudara alami setelah kehidupan saudara hidup di duni aini. Artinya saudara pun akan bisa terlahir di surga karena kebaikan saudara. KTP saudara Buddhis, juga bisa lahir di surga. Umat Buddha kapal selam juga bisa lahir di surga. Umat Buddha yang sungguh-sungguh, akan terlahir di surga untuk waktu yang lama dan berkali-kali.

Oleh karena itu lakukanlah kebaikan, karena kebaikan yang dilakukan akan membuahkan kebahagiaan, baik di dalam kehidupan ini, maupun di dalam kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.


Semoga semua makhluk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, sesuai dengan kondisi karma masing-masing.