Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Senin, 14 Februari 2011

Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu


Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Shanti Bhadra Mahathera



Dalam bahasa Pali umat Buddha laki-laki disebut Upasaka, sedangkan wanita disebut Upasika. Kata "upasaka" berarti seseorang yang mengenal dekat dan akrab Tiratana (Tiga Permata) —Buddha (orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna), Dhamma (ajaran), dan Sangha (persaudaraan dari orang yang meninggalkan keduniawian). Ketika seseorang menerima Tiga Perlindungan atau menganggapnya sebagai pedoman hidup, umumnya dapat dikatakan sebagai seorang umat Buddha.
 
Saat menerima ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidup, dia harus menjalani suatu bentuk latihan, yaitu kemoralan (Sila). Lima bentuk latihan sebagai dasar dari kemoralan (Sila). Kelima Sila itu dilaksanakan dengan pengendalian diri, bukan dengan diperintah. Dan melakukan Sila itu berdasarkan pengertian untuk mengurangi kadar dari tiga akar kejahatan yakni lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan).

Dengan melatih diri menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukan; dan berdasarkan ini memupuk diri dengan kemurahan hati (alobha), cinta kasih (adosa), dan pengertian benar (amoha).

Lima Pencapaian
Sang Buddha telah menunjukkan bahwa seorang upasaka yang mempunyai lima hal berikut ini dengan baik dapat diumpamakan seperti bunga teratai merah (paduma), teratai putih (pundarika), dan permata (ratana). Kelima hal tersebut adalah:
  1. Saddha (keyakinan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha
  2. Sila (kemoralan, etika).
  3. Tidak yakin pada Kotuhala Mangalika (menerima sesuatu yang baik dan buruk yang ia anggap sebagai pertanda keberuntungan dan kemalangan).
  4. Yakin pada Hukum Kamma (Hukum sebab dan akibat).
  5. Nabahida dakkhinineyyan gaveseti (pencarian di manapun, di luar ajaran Sang Buddha, untuk berdana baik segi materi maupun non materi; dan mengulurkan tangan pertama-tama pada kebenaran, sebagai pengamalan ajaran Sang Buddha).
Melalaikan hal-hal tersebut berarti menodai upasaka yang dapat diumpamakan seperti orang buangan (chandala), noda (malan), dan orang dari keturunan rendah (patikuttha).

Sepuluh Pengertian
Dalam Milinda Panha (pertanyaan Raja Milinda), Bhikkhu Nagasena dalam percakapannya dengan Raja Yunani, menjelaskan garis besar sepuluh kualitas seorang upasaka.
  1. Dia selalu menginginkan kesejahteraan Sangha. Dhamma menempati kedudukan yang utama dalam kehidupannya.
  2. Dia selalu memberi dengan kemurahan hati.
  3. Bila dia melihat tanda kemunduran dari ajaran Sang Buddha (sasana), dia berbuat dengan sekuat tenaga untuk menolong dan menegakkan kembali.
  4. Dia terbebas dari takhyul tentang pertanda dan tanda-tanda yang memberikan keberuntungan atau kemalangan. Dan ia memiliki pengertian yang benar.
  5. Kalaupun ada kejadian dalam kehidupannya, ia tidak memikirkan orang lain selain Sang Buddha sebagai Gurunya.
  6. Dia tertib, dalam ucapan dan perbuatannya.
  7. Dia rukun dan harmonis dalam hubungan antar manusia.
  8. Dia tidak bersifat iri hati.
  9. Dia tidak menggunakan agama Buddha untuk menipu orang lain atau untuk memperoleh nama dan kemashyuran.
  10. Dia menerima Perlindungan (berpedoman pada) Buddha, Dhamma, Sangha.
Manfaat dan Bantuan
Dalam percakapan dengan Mahanama, salah seorang saudara sepupu Sang Buddha, Beliau menguji delapan tanda seorang upasaka yang melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan memberikan berkah serta bantuan kepada orang lain. Delapan ciri tersebut adalah:
  1. Dia memiliki kepercayaan dan menanamkannya pada orang lain.
  2. Dia memiliki kebajikan dan disiplin serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  3. Dia memiliki kemurahan hati dan menjelaskan perbuatan baik tersebut kepada orang lain.
  4. Dia senang bertemu dengan bhikkhu dan juga mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama.
  5. Dia gemar mendengarkan diskusi Dhamma dan mendorong ketertarikannya pada Dhamma itu kepada orang lain; dan dia memulainya untuk berbuat demikian.
  6. Dia menunjang Dhamma yang telah ia dengarkan dan merenungkan dalam batin pada waktu senggang untuk memperdalam pengertiannya. Dia menganjurkan orang lain berbuat demikian.
  7. Dia mengkaji dan menerapkan Dhamma secara terus menerus dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  8. Dia mempraktikkan Dhamma dalam kehidupannya sehari-hari, mendorong dan membangkitkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Seorang Upasaka seharusnya tidak melakukan sejumlah pekerjaan yang merugikan orang lain. Yaitu menghindari lima jenis perdagangan:
berdagang peralatan perang, budak, daging/binatang, makanan yang dapat memabukkan, dan racun.

Dua Upasaka Pertama
Tapussa dan Bhallika adalah dua pedagang bersaudara yang pertama kali mempersembahkan makanan sejenis gandum dan madu kepada Sang Buddha setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Mereka juga menjadi upasaka pertama yang menerima Dua Perlindungan pada Buddha dan Dhamma. Saat itu belum ada Sangha.

Tercatat, mereka bertemu Sang Buddha lagi setelah empat atau lima bulan di Rajagaha. Mereka mendengarkan ajaran Sang Buddha. Dan Tapussa mencapai tingkat kesucian yang pertama (Sotapana) dan tetap sebagai upasaka. Sedang Bhallika mencapai Arahat dan kemudian menjadi anggota Sangha.

Perubahan Besar
Kisah tentang upasaka pertama yang menerima Tiga Perlindungan sangat menarik. Di kota kuno Benares, tinggal seorang pedagang kaya yang mempunyai seorang putra bernama Yasa. Dia dibesarkan di lingkungan yang mewah. Bosan dengan hidupnya dalam sangkar kemewahan, dia menempuh hidup dengan kesenangan indera yang melemahkan dan dangkal. Dia mengungkapkan dirinya demikian,
Aduh, letih aku dalam kesibukan duniawi, apakah gunanya semua nafsu dan kesakitan ini, datang, datanglah kedamaian, kedamaian yang indah, ke dalam dadaku(Goethe)
Pada suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dengan sembunyi-sembunyi dan berangkat menuju Sarnath (Taman Rusa), mencari kedamaian dan ketenangan batin.

Ketika itu Sang Buddha tinggal di Sarnath bangun di pagi hari dan berjalan mondar-mandir di suatu ruangan terbuka. Saat Beliau melihat seorang pemuda —Yasa datang mendekatinya, Beliau duduk dan menunggunya. Yasa datang kepada Sang Buddha, memberikan hormat, dan duduk di dekatnya. Sang Buddha tahu bahwa pikiran Yasa sedang tak menentu. Diawali dengan uraian tentang kehidupan sehari-hari, perlahan-lahan Sang Buddha mengantarkannya menuju khotbah yang lebih berkembang dan mendasar tentang Empat Kesunyataan Mulia.

Seperti halnya kain yang masih bersih tanpa noda hitam atau kotoran, akan mudah dicelup warna, demikian juga dengan setiap rangkaian, kesucian dan kemurnian pandangan Dhamma —bangkit dalam pikiran Yasa. Dan dia mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Tidak lama kemudian, Ayah Yasa datang mencarinya. Sang Buddha menjumpainya dengan senyum yang memancarkan cinta kasih, menghibur dan membuatnya gembira dengan sebuah khotbah yang dalam maknanya. Pada akhir khotbah ayah Yasa berkata, Luar biasa, luar biasa, Sang Bhagava.

( Dikutip dari Majalah Jalan Tengah No.58 ) 

Sabtu, 12 Februari 2011

Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma

 
Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma
Oleh Pandita D. Henry Basuki


Menurut para ahli sejarah, seseorang itu dapat dikatakan sebagai orang baik atau tidak, nanti kalau sudah mati. Pada saat hari kematiannya itulah akan menjadi cermin bagi seseorang dikatakan baik atau tidak sepanjang perjalanan hidupnya. Artinya perhatian dan penghormatan yang diberikan oleh sanak keluarga, kerabat jauh atau dekat, pengakuan dari warga masyarakat, serta penghargaan dari bangsa dan negara, terhadap seseorang pada hari kematiannya itulah dapat menjadi ukuran seberapa besar kebaikan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Semakin besar jasa kebajikannya, semakin besar pula perhatian, penghormatan, pengakuan dan penghargaan ditujukan kepadanya.

Lain dengan pendapat para ahli ilmu kemanusiaan. Para ahli ilmu kemanusiaan menyanggah pendapat ahli sejarah, bahwa seseorang dapat dinilai sebagai orang baik atau tidak nanti sesudah meninggal dunia, pernyataan itu tidak seluruhnya tepat, benar dan pasti. Sebab kalau kebaikan seseorang hanya dapat dilihat apabila nanti setelah ia meninggal dunia, kemudian bagaimana dengan seseorang yang masih hidup dan apa yang dapat untuk dinilai dalam perjalanan hidupnya sebagai orang baik atau tidak ?

Maka menurut para ahli ilmu kemanusiaan, seseorang dinilai sebagai orang baik atau jahat, dapat diamati melalui pola pikir, gaya hidup, dan kecenderungannya. Dalam bahasa seni hidup kemanusiaan, atau menurut bahasa tubuh dalam ilmu kejiwaan, sekurang-kurangnya terdapat tiga hal bisa dijadikan alat bantu untuk mengukur seseorang itu baik atau tidak. Rumusnya sebagai berikut, pertama miraga, kedua mirama, dan ketiga mirasa.
  1. Miraga, meliputi hal-hal yang bersifat fisik, jasmaniah. Artinya secara lahiriah dapat dilihat dengan mata terbuka secara nyata. Pendek kata bagaimana cara menata diri. Ini semua merupakan pantulan dari dalam lubuk hatinya.
  2. Mirama, adalah hal-hal yang mengandung unsur gerak. Artinya gerak gerik tubuh, maupun anggota badan jasmani. Dapat dilihat dari bagaimana seseorang cara berjalan, cara duduk, cara makan, cara tertawa, cara tidur. Singkatnya saja seluruh gerak gerik anggota tubuh menggambarkan watak dan kecenderungan perilaku seseorang.
  3. Mirasa, artinya jalan pikiran, termasuk cara bicara dan apa yang dibicarakannya. Dari cara bicara seseorang bisa dengan mudah diprakirakan termasuk golongan kaum terpelajar atau kaum kurang ajar. Adapun menurut bahasa Dhamma, mano kamma, vaci kamma, dan kaya kamma. Seseorang terpuji maupun tercela adalah berasal dari apa yang ia lakukan, ia ucapkan, dan apa yang ia pikirkan.
Pesan para ahli kemanusiaan, untuk menyimpulkan seseorang itu baik atau tidak, hendaknya dilihat dari semua sisi dengan teliti dan telaten. Sebab banyak kebaikan ditunjukkan oleh seseorang akan tetapi segera ternyata, kebaikannya itu untuk menutupi kejahatannya. Atau sebaliknya menurut ukuran dari satu sisi orang itu jelas-jelas culas jelek dan jahat, akan tetapi bila dilihat dari sisi lain ternyata positif, menunjukkan angka-angka besar bernilai kebaikan. Oleh karena itu menurut para ahli ilmu kemanusiaan, tiga aspek tersebut itu tadi merupakan cermin pribadi seseorang tanpa kecuali. Melalui tiga aspek itu pula dapat dinilai sejauh mana kebaikan maupun kejahatan seseorang dalam dirinya.

Sungguh obyektif pesan Dhamma, lihatlah segala sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun dengan jelas, dan lihatlah sesuatu itu apa adanya, jangan hanya dilihat apa nampaknya. Kata Buddha, segala sesuatu yang dilihat dari sisi yang berbeda dengan jelas, teliti dan telaten, akan menghasilkan sebuah kesimpulan spektakuler, bukan hanya merupakan sebuah keputusan sepihak dari satu sisi bersifat popular.

Cermin kepribadian dalam beragama

Ternyata banyak juga yang masih belum paham betul arti sesungguhnya apa yang dimaksud sebagai pemeluk agama atau pengikut agama. Sehingga membingungkan juga orang-orang yang nampaknya sudah beragama itu, tetapi pola pikir, gaya hidup dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai umat beragama. Ada perbedaan cukup jelas bahwa meskipun sudah sebagai pemeluk agama belum tentu ia sebagai pengikut agama yang dianutnya. Yang dimaksud pengikut adalah mereka yang mendengar nasehat-nasehat, mengikuti petunjuk-petunjuk, serta meniru perilaku para pendiri agama yang dianutnya. Tetapi pemeluk, meskipun sudah memeluk, belum tentu mengikuti petunjuk-petunjuknya, meniru perilaku pendiri agamanya. Untuk itu, meskipun sebagai pemeluk, belum tentu sekaligus sebagai pengikut. Misalnya, Sang Buddha telah meninggalkan bentuk keakuan, atau kekuasaan. Sementara umat-umatnya malah sibuk mencari apa saja yang sudah ditinggalkan oleh Sang Buddha, ke-Aku-an dan kekuasaan.

Selain miraga, mirama, dan mirasa, bagaimana mengukur tinggi rendahnya kadar keimanan umat beragama. Terdapat tiga hal paling tidak bisa menjadi tolok ukur tinggi rendahnya kadar keimanan seseorang dalam beragama secara individu maupun sosial. Tiga hal dimaksud adalah, pertama menjadi umat beragama di tempat ibadah, kedua menjadi umat beragama di rumah, dan ketiga menjadi umat beragama di masyarakat. Pada umumnya belum semua umat beragama dapat mewujudkan tiga aspek hidup beragama di tempat ibadah, di rumah, dan di masyarakat, dengan penuh rasa tanggung jawab secara pribadi, ataupun terhadap keluarganya.

Ada saja seseorang dalam beragama hanya aktif di tempat ibadah, di rumah, atau di masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuka agama yang amat menonjol di masyarakat akan tetapi keluarganya sendiri justru tidak terurus dengan baik secara agama. Anak pertama pemabuk, anak yang kedua penyabung ayam. Anak ketiga penjudi, sedangkan perilaku anak keempat dan seterusnya semua yang terlarang diterjang. Atau ada seseorang yang bukan main tekunnya ibadah di rumah, bahkan tidak pernah putus (barang satu menit) hubungannya dengan tuhannya, tetapi bertahun-tahun bicara dengan gaya bahasa tidak baku terhadap ayah dan ibu kandung sendiri, dan tidak saling tegur sapa dengan mertuanya yang memberi istri. Karena itu adalah umat beragama paling ideal terpuji kualitas tinggi, apabila bisa menerapkan ketiga cara beragama tersebut secara simultan dan pasti dalam hidup sehari-hari.

Dalam pandangan agama-agama, dan terutama menurut pandangan Buddhis terdapat empat tingkat pola dasar pendidikan moral yang amat berpengaruh pada pembentukan watak jiwa kepribadian seseorang dalam beragama. Empat hal tersebut adalah : etika, estetika, dogma, dan keempat doktrin.
  1. Etika : adalah meliputi budi pekerti, sopan santun, tata krama dalam pergaulan.
  2. Estetika : meliputi aspek-aspek keindahan seni.
  3. Dogma : dimaksud di sini adalah cara menumbuhkan hakekat keyakinan melalui tahu, mengerti dan mengalami sendiri.
  4. Doktrin : di sini adalah hal-hal yang serba logika.
Dalam bahasa Dhamma, dana, sila, samadhi dan pañña. Dari dana, sila, samadhi yang utuh, sebagai wujud nyata dari kerelaan peduli, terhadap orang lain secara santun penuh cinta kasih dan kasih sayang. Memberi karena welas, dan tidak menuntut dibalas. Menjadi manusia yang penuh metta dan pañña seimbang.

Akan tetapi kaum intelek mengatakan agama Buddha anti dogma, yang harus diajarkan adalah hal-hal yang bersifat doktriner imajiner saja, dogma adalah fanatik sempit. Dari cara pandang itu, akibatnya, banyak umat Buddha yang serba logika, tapi lupa akan nilai-nilai etika. Lantaran kurang peduli dengan keindahan seni, pergi ibadah pakai baju mini. Padahal dari dogma yang berdasarkan tahu, mengerti, dan mengalami sendiri akan timbul dari keyakinan yang tidak mudah goyah secara kontekstual.

Kalau saja ketiga-tiganya dapat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik, terhadap umat-umat beragama, dan kepada masyarakat luas. Pasti dapat diharapkan pertumbuhan anak-anak kelak tahu sopan santun, mengerti budi pekerti, bisa praktek tata krama. Perkembangan umat beragama akan menjadi mantap tidak mudah goyah, meyakini agama sendiri yang terbaik, tidak dengan menjelek-jelekkan agamanya orang lain. Perilaku masyarakat akan mencerminkan watak penuh kepedulian sosial yang merata, serta bisa melestarikan keindahan lingkungannya.

[ Artikel Berita Dhammacakka, edisi : 17 Desember 2000 ]

Jumat, 11 Februari 2011

Bahagia Dalam Dhamma

Bahagia Dalam Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro



Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa benci.
 

Dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat pesat dewasa ini, hampir merambah ke semua sendi-sendi kehidupan. Tetapi bagaimanapun canggihnya teknologi, masih belum bisa menyentuh sisi yang justru merupakan aspek inti dalam kehidupan, yakni aspek batiniah. Justru belaian dari keindahan dan kegemerlapan materi telah membuat mabuk kepayang umat manusia, yang dijanjikan dengan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kebutuhan materi tersebut sehingga memberikan dampak buruk dengan menurunnya daya tahan manusia lahir maupun batin.

Sesungguhnya belaian keindahan dan kegemerlapan duniawi tidak hanya terjadi dewasa ini, melainkan telah terjadi juga dua puluh lima abad yang lampau, dimana saat Pangeran Siddhattha dilahirkan, dan pada saat pertapa Gotama melaksanakan sammasamadhi di Buddha Gaya. Saat Beliau menjalankan praktek pertapaannya, mara berdatangan untuk menghalang-halangi dan menggoda pertapa Gotama dalam usaha untuk Mencapai Penerangan Sempurna. Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi Pertapa Gotama adalah salah satu manusia yang memiliki daya tahan batiniah yang tertinggi sehingga dapat melepaskan diri dari belaian keindahan dan tercapailah kesempurnaan sejati menjadi Buddha.

Perjuangan yang dilakukan oleh Pertapa Gotama merupakan tumpuan dan contoh otentik yang kini diwariskan kepada kita semua untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, agar kita mencapai apa yang kita dambakan. Karena semua yang dilakukan oleh umat manusia dengan penuh kekuatan hati dan pikiran; dengan perjuangan yang gigih, semangat dan tekad yang membara adalah untuk satu tujuan "Hidup Bahagia". Tetapi hendaknya kita selalu ingat apa yang telah diperjuangkan oleh Pertapa Gotama, bahwa majunya materi bukanlah jaminan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki. Hal itu telah terbukti jelas pada kehidupan saat ini.

Melimpah ruahnya materi yang dimiliki seseorang bila tidak hati-hati dalam memanfaatkannya, justru akan menambah keserakahan dan kebencian, walau dalam prakteknya mereka selalu mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak. Tetapi mereka lupa pada nilai-nilai spiritual yang lebih berharga daripada nilai materi itu sendiri, sehingga pada saat prakteknya mereka sering menekan, memojokkan dan mengorbankan kehidupan orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu ingat dengan apa yang telah disabdakan oleh Guru Agung Buddha Gotama dalam Dhammapada ayat 197 dan 199) yang berbunyi, "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci. Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan."

Begitu jelas bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh justru dengan mengikis dan melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita yakni, ketidaksukaan atau benci, dendam, irihati, keserakahan, congkak, mau menang sendiri, berpegangan pada pandangan salah dan lain-lainnya. Kemudian kita mengembangkan nilai-nilai kebajikan yakni, toleransi yang mendalam dan tanpa pamrih, cinta kasih dan kasih sayang, simpati dengan keberhasilan orang lain, berpegang teguh pada nilai spritual, berpandangan dan berpikiran benar dan berkeyakinan pada hukum kebenaran (Dhamma).

Terdapat orang yang memberikan argumentasi demikian, apakah bukan dengan melimpah ruahnya materi sehingga seseorang dapat memuaskan nafsu-nafsu keinginannya dan di situlah rasa bahagia dapat diperoleh ? Karena, ibarat seseorang yang ingin sekali makan makanan yang khusus (bubur sarang walet ...), dan ia memiliki banyak uang untuk membeli makanan itu sebanyak-banyaknya sehingga memuaskan keinginannya, maka di situlah kebahagiaan diperoleh.

Argumen dan alasan tersebut sangat masuk akal dan nampaknya benar sekali, tetapi kita harus ingat dengan yang Sang Buddha ajarkan dalam Empat Kesunyataan Mulia tentang berhenti dan lenyapnya dukkha (dukkhanirodha), bahwa bahagia dapat diperoleh dengan terhentinya dukkha dan dukkha akan hilang dan lenyap dengan padamnya nafsu keinginan (tanha). Kemudian bagaimana dengan pemuasan keinginan, apakah bukan malah menambah kuatnya cengkraman keterikatan dalam dirinya, dan menumbuhkan dukkha lara yang mendalam ? Seperti seorang pemuda yang bertemu dengan seorang gadis belia nan molek dan akhirnya tertarik dan menyenangi gadis belia tersebut. Setiap hari bahkan setiap saat pemuda tersebut dirundung oleh keinginan untuk selalu bertemu dan bergandengan dengan sang gadis itu, dan sekali dua kali ia tercapai keinginannya sehingga sang pemuda tersebut semakin cinta dan sayang yang mendalam kepada sang gadis molek itu, bahkan ia ingin sekali memilikinya. Pada suatu ketika tanpa diduga dan dikira sang gadis tersebut dipinang oleh seorang pemuda lain untuk dijadikan istri. Maka apa gerangan yang terjadi pada pemuda yang pertama tadi ? Sang pemuda menjadi kecewa, jengkel, kesal dan marah. Intinya ia menderita batin yang begitu dalam, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Apakah yang menyebabkan sang pemuda menderita ? Apakah karena mencintai dan mengasihi gadis belia itu ? Tidak. Pemuda itu menderita karena keterikatannya atau kemelekatannya sendiri yang mencengkeram batinnya. Kemudian bagaimana dengan gadis belia itu ? Gadis belia tersebut adalah sunyata atau hakekat yang ada. Gadis belia adalah fenomena alam, sama halnya dengan indahnya ombak di samudera lepas yang kita lihat. Siapa saja yang melihat pasti menyenangi dan mencintai, tetapi siapa yang ingin memiliki bersiap-siaplah untuk menderita. Maka dengan kata lain pemuda itu tidak cinta yang sesungguhnya pada gadis itu, karena cinta yang sejati adalah cinta yang universal. Cinta sejati adalah tidak terikat apalagi harus memiliki.

Bagaimana dengan pemuda kedua dan gadis belia itu yang menjadi suami-istri ? Itulah manfaatnya kita belajar Dhamma (hukum kebenaran), maka dengan menyelami Dhamma kita akan mengetahui tentang rahasia kehidupan yang pelik, unik dan rumit ini. Mengapa seseorang menjadi suami-istri ? Karena mereka memiliki kesamaan-kesamaan atau kecocokan kamma, itulah jodoh. Kesamaan yang dimaksud adalah Saddha (keyakinan), Sila (moralitas), Caga (kemurahhatian) dan Pañña (kebijaksanaan). Oleh karena itu, marilah kita memahami dan menghayati Dhamma, agar kita selalu hidup bahagia.

Berkeyakinan pada Dhamma nan agung. Tanpa nafsu, tenang dan penuh bahagia.
Berkeyakinan pada Sangha nan agung. Ladang pembuat jasa yang tiada bandingnya.

[ Dikutip dari Artikel Berita Dhamamcakka Edisi 09 Juli 2000 ]

Kamis, 10 Februari 2011

Asal Usul Pujian : NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA

 
Asal Usul Pujian :
NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA


Demikianlah yang telah saya dengar: Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang menetap di dekat Savatthi di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Saat itu brahmana Janussoni sedang keluar dari Janussoni melihat pertapa Pitolika sedang mendatanginya dari jarak tertentu dan melihatnya, ia berkata demikian kepada pertapa Pitolika: "Tuan, saya datang atas kehadiran pertapa Gotama".

"Bagaimana menurutmu, Vacchayana? Apakah pertama Gotama memiliki kebijaksanaan yang luhur? Apakah menurutmu Beliau bijaksana?"

"Namun, sipakah saya ini, Tuan, sehingga saya seyogiannya mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur atau tidak? Tentu saja hanya orang seperti Beliau yang dapat mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur".

"Tak diragukan lagi, dengan pujian yang luhur bahwa yang terhormat Vacchayana memuji pertapa Gotama".

"Namun, siapakah saya ini, Tuan, sehingga saya segoyianya memuji pertapa Gotama? Dipuji oleh yang patut dipuji itulah Yang Mulia Gotama, pemimpin para dewa dan manusia".

Ketika hal ini telah diucapkan, brahmana Janussoni turun dari kendaraannya yang serba putih, dan setelah merapikan pakaian atasnya ke bahu, setelah bernamaskara kepada Sang Bhagava, beliau memuji Sang Buddha tiga kali dengan pujian berikut:

"Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa"

Serta merta, kalimat yang merupakan ekspresi pujian dan pujian ini cukup luas diketahui, sehingga beberapa umat awam, beberapa umat Buddha dan beberapa brahmana serta sedikitnya seorang Raja, telah mengucapkan kata-kata pujian ini. Oleh karena itu, bilamana saat ini kita membacakan kta-kata ini, ini merupakan rangkaian suara sejak masa lalu, sejak zaman sang Buddha masih hidup. Kita dapat membacakannya seperti brahmana ini melakukannya:

NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASSA !

Sebanyak tiga kali di dalam bahasa Pali, atau dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, yang artinya : "Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna".

[Dikutip dari Mutiara Dhamma XIV ]  

Bagaimana Menemukan Kebahagiaan Sejati

 
 

 
“Kebahagiaan merupakan hadiah yang harus dicari
diperjuangkan oleh umat mansuai dengan penuh kesabaran;
Setengah jalan telah kita tempuh, kini marilah terus maju,
Tujuan sudah berada di depan kita.”
 
Apakah anda ingin bahagia? Jawabannya pasti “ya”. Kita semua – tanpa kecuali – ingin bahagia, walaupun pengertian mengerti kebahagiaan itu sendiri dan cara untuk mencapainya berbeda-beda.

Seorang penulis berkata, ‘Bahagia, menurut kebanyaan orang merupakan tujuan yang paling banyak dicari. Bagi orang-orang yang bernasib kruang baik, kebahagiaan seperti ujing dari pelangi yang berupa pot emas. Mereka mengejar pelangi selama hidupnya seperti mengejar bayangan masing-masing karena tidak mungkin mengejar sesuatu yang letaknya di dalam diri kita sendiri.

Kebahagiaan berada dalam jalan mencapainya dan bukan pada tujuan yagn hendak dicapai. “Ia bahagia jika memiliki cita-cita yagn tinggi dan mulia. Ia bahagia jika dapat memperkaya kehidupannya, membiarkan orang-orang lain hidup damai, memberikan sumbangan agar dunia menjadi tempat tinggal yagn lebih baik. Ia bahagia jika pekerjaan, kewajiban, dan tugas sehari-harinya diliputi oleh kasih sayang.”

Setiap maunsia mengharapkan kebahagiaan. Mereka bekerja siang malam untuk mendapat kebahagiaan walaupun sekejap saja. Tetapi, betapapun keras usaha mereka, seringkali tujuan merek abahkan bertambah jauh, mengapa hal ini dapat terjadi?

Mencari Kebahagiaan

Kehidupan modern adalah perjuangan untuk memperoleh imbalan materi, kesenangan, dan kemewahan. Corak hidup ini membawa kegelisahan dan stress, bukan kebahagiaan. Dalam hidup seseorang terdapat momen-momen pentign di masa semua materi memiliki nilai yang kecil jika dibandingkan dengan kesenagnan bathin akibat pelepasan ari hal-hal duniawi.

Dalam kehidupan awam, pentingnya kesejahteraan ekonomi untuk mencapai hidup layak tak dapat diabaikan. Kita tidak dapat menganggap orang-orang dapat berbahagia jika mereka kelaparan dan hidup dalam keadaan yang menyedihkan. Kemiskinan dan kehidupan di daerah kumuh dapat melumpuhkan kebahagiaan manusia. Sungguh menyedihkan jika sebuah keluarga besar harus hidup, makan, tidur, dan “bereproduksi” di suatu pondok yang kecil di daerah yang kumuh. Keadaan menyedihkan dari lingkungan dan kehidupan para penghuninya sering menjadikan daerah tesebut sebagai lokasi pertumbuhan kegetiran dan kejahatan kecuali daerah itu merupakan kumpulan dari orang-orang suci yang mencari kedamaian di dalam kemiskinan.

Bagaimanapun juga, kaya dan miskin, kebahagiaan dan kesengsaraan adalah istilah-istilah yang saling berhubungan. Seseorang dapat saja kaya tetapi tidak bahagia, orang lain mungkin miskin tapi bahagia. Kekayaan adalah berkah jika digunakan dengan benar dan bijaksana. Tetapi bagian yagn tragis dari kaum miskin adalah keegoisan mereka akan benda-benda materiil. Jika idaman mereka tidak terpenuhi, mereka hidup di dalam kebencian. Tragedi dari si kaya adalah kemelekatan pada harta mereka. Karena itu kebahagiaan tidak ditemukan pada kedua pihak, baik miskin maupun kaya.

Sejumlah orang menganggap bahwa seorang teman hidup yang cocok dan menyenangkan adalah sumber kebahagiaan. Hal ini mungkin saja terjadi. Lainnya menganggap bahwa anak-anak adalah sumber kebahagiaan lain, tetapi hal inipun bukan keadaan yang stanil. Seorang teman hidup dapat meninggal atau meninggalkan mereka, sementara itu ada anak-anak yang lebih banyak menimbulkan penderitaan dari pada kebahagiaan bagi orang tua mereka.

Kita harus belajar untuk puas dan bahagia dengan apa yang telah kita dapat, betapapun sedikitnya. Bahkan kita harus gembira dan puas dengan keadaan kita sekarang walaupun tidak sesuai dengan keinginan itu.

Seorang Istri Tanpa Anak

Suatu ketika terdapat pasangan miskin yang tidak mempunyai anak. Walaupun mereka bahagia dalam hal-hal lain, sang istri sangat menginginkan anak sendiri. Sang suami menyarankan untuk mengadopsi seorang anak tetapi sang istri tetap menginginkan anak yang beerasal dari darah dagingnya sendiri. Mereka mencoba segala rencana tetapi tidak berhasil; sang istri bertambah tertekan dan rasa gelisah dna kekurangan bertambah kuat dan mulai mempengaruhi bathinnya. Tetapi sang suami berangsur-angsur mulai melihat perubahan pada diri istrinya. Sang istri berpura-pura hamil, lalu ketika ia pulang, ditemukannya sang istri sedang menggendong sebuah buntelan kecil dengan gembira. Ia memeriksa buntalan tersebut dan ternyata hanya merupakan sepotong kayu kecil. Sang istri merawat “bayi”nya, memakaikan baji seperti layaknya seorang ibu. Ia bahkan membuat ranjang bayi yang hangat dan menina-bobokan “bayi”nya. Sebenarnya ia mulai berprilaku seperti seseorang anak kecil yang bermain dengan bonekanya. Sang suami yang sangat khawatir dengan keadaan istrinya, membawanya ke psikiater terkenal. Psikiater tersebut memeriksanya dengan seksama dan mencapai kesimpulan yang megnejukan tapi sangat manusiawi, yaitu wanita tersebut akhirnya menemukan kebahagiannya dengan membayangkan sesuatu yang tak dapat diraihnya dalam kenyataan. Sang psikiater memberi nasehat bahwa merenggut kebahagiaannya akan jauh lebih kejam daripada berusaha menyadarkannya dan membuang potongan kayu tersebut.

Kita melihat disini bahwa kadang-kadang keputusan kita mengenai orang lain harus didasari oleh perasaan dan bukan intelegensi semata-mata. Sambil lalu juga dapat dikatakan jika kita menginginkan sesuatu melewati batas, akan mempengaruhi bathin kita dan menganggu kestabilan perasaan kita.

Keadaan menyenangkan dalam lingkungan politik, ekonomi, dan sosial seseorang berperan penting bagi kebahagiaannya dalam masyarakat. Sir Philip Gibbs dalam bukunya, Jalan Pelepasan, berkata “Apa yang dicari oleh manusia dalam pencarian abadinya tentang kebahagiaan, adalah sejumlah sistem pemerintahan dan masyarakat yang akan memberikan setiap individu suatu kesempatan penuh dan adil untuk mengembangkan kepribadiannya sepenuhnya: melalui pekerjaan yang menyenangkan dan secukupnya; melalui keamanan bagi diri sendiri, keluarga, serta teman-temannya; seseorang yagn peka dan dermawan tak ada bahagia jika rakyat di sekitarnya menderita; melalui kesenangan minimum yang sepantasnya, dan kebebasan berpikir dan bertindak yang dibatasi hanya oleh kdoe etik untuk tidak merugikan ettangga-tetangganya. Dalam kebebasan berpikir dan bertindak tersebut, ia berkesempatan berpikir untuk berpetualang dan bersenang-senang; untuk menikmati keindahan, lebih mendalami pengetahuan, mengendalikan diri sendiri dan sekelilingnya, mencapai segala sesuatu yang bermanfaat untuk pikiran dan tubuh.

Agama Buddha mengajarkan kita untuk mengadopsi cara-cara yang benar dan tidak merugikan untuk meraih kebahagiaan. Tidak ada artinya berbahagia di atas penderitaan orang atau makhluk lain. Hal ini diuraikan oleh Sang Buddha sebagai berikut: ’Dapat hidup tanpa merugikan pihak lain adalah berkah utama.’

Unsur-unsur Kebahagiaan

Dalam usaha untuk mencapai hidup yang bahagia dan mempunyai arti, kita harus melatih rasa belas kasihan dan kebijaksaan kita, dua hal yang dapat menuntun manusia menuju puncak kesempurnaan manusiawi. Jika kita ingin mengembangkan segi perasaan saja tanpa pikiran, akan membuat kita menjadi sitolol yang berhati emas, sementara berkembangnya pikiran tanpa perasaan akan membentuk pribadi pintar berhati batu tanpa perasaan. Menurut Sang Buddha, rasa belas kasihan dan kebijkasanaan harus dikembangkan bersama-sama oleh manusia untuk mencapai kebebasan. Hidup yang baik adalah hidup yang dilandasi oleh cinta dan bimbingan oleh pengetahuan.

Apakah rasa belas kasihan itu? Rasa belas kasihan adalah cinta, kemurahan hati, keramahan dan toleransi. Belas kasihan tersebut berperan pada cinta dan perhatian terutama jika berada dalam situasi yang menguntungkan.

Dan aapa pula kebijaksanaan itu> Kebijaksanaan adalah pikiran yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, berperan dalam sifat-sifat mulia dari pikiran. Jika seorang pria melihat seorang wanita cantik dan terpikat olehnya, maka ia berharap untuk dapat melihatnya kembali. Ia memperoleh kenikmatan dan kepuasan dari kehadiran wanita tersebut. Tetapi jika situasi berubah dan ia tidak dapat melihatnya lagi, ia tidak boleh bertindak bodoh dan tidak masuk akal. Keadaan tak menyenangkan ini adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh manusia. Jika ia tidak memiliki kemelekatan, ia akan bebas dari penderitaan tersebut. Walaupun tidak ada bantahan terhadap kebahagiaan yang diperoleh dari kesenangan indria, sebenarnya kesenangan hidup bersifat singkat dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Menyadari hal ini adalah bijaksana. Kebahagiaan meliputi unsur-unsur yang sederhana dan merupakan keadaan pikiran. Hal ini tak dapat ditemui dalam benda-benda materi disekitar kita, seperti harta, kekuasaan, atau popularitas. Orang-orang yang mengumpulkan harta melebihi yang diperlukan selama hidupnya, akan kecewa pada saat mereka menyadari bahwa semua uang didunia ini tidak dapat membeli kebahagiaan, dan semuanya sudah terlambat. Pengejaran kesenagnan tak dapat disamakan dengan pengejaran kebahagiaan. Kesenangan berlalu begitu saja dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Kesenangan dapat dibeli, tetapi kebahagiaan tidak. Kebahagiaan berasal dari dalam diri kita, berdasarkan kebaikan dan suara hati. Tak seorangpun yang bahagia jika ia tidak puas dengan dirinya sendiri. Pengejaran ketenanga bathin hanya dapat dilakukan melalui pengembangan bathin atau meditasi. Banyak yang harus dilakukan, dan baru sedikit yang dikerjakan.Hanya dengan memahami dan membersihkan diri sendiri, benih-benih kejaikan kita yang tersembunyi dapat tumbuh dan menunjukkan sifat-sifat manusiawi kita. Tugas ini tidak mudah dan memerlukan ketekunan, ketegaran hati dan usaha. Kebahagiaan adalah parfum yang tak dapat kita semprotkan kepada orang-orang lain tanpa kecipratan sedikit untuk diri sendiri.

Jika anda ingin hidup damai dan bahagia, biarkanlah orang lain untuk hidup damai dan bahagia pula. Tanpa prinsip tersebut tidak mungkin ada kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Dan jangan mengharapkan terima kasih dari orang lain. Dale Carnegie berkata, “Jika kita ingin menemukan kebahagiaan, jangan memikirkan terima kasih dan marilah berdana karena kepuasan yagn terkandung didalamnya.”

Manusia umumnya tidak menghargai segala sesuatu yang mudah didapat. Tetapi baru menghargainya jika sesuatu tersebut diambil. Udara dan organ-organ tubuh kita semuanya seperti sebagaimana mestinya dan kita bahkan menyalahgunakannya, kadang-kadang sudah terlambat. Seperti seekor ikan yang tidak mengetahui betapa berharganya air sampai ia dikeluarkan dari air.

“Menurut pengamatan saya, manusia merasa bahagia jika mereka berkeinginan untuk bahagia,” kata Abraham Lincoln.

Anda tak dapat memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hanya dengan membaca paritta, tetapi perlu disertai dengan bekerja. Percaya akan dewa dan membacakan paritta untuk berkah perlindugnan tidak ada salahnya, tetapi anda pun harus mengunci pintu rumah anda, karena tidak ada jaminan bahwa dewa tersebut akan menjaga rumah anda sampai anda pulang. Anda tidak boleh mengabaikan tanggung jawab anda. Jika anda berbuat sesuai dengan etika moral, pasti akan tercipta surga di dunia ini. Tetapi jika anda melanggarnya, anda dapat merasakan api neraka di dunia ini. Manusia menggerutu jika mereka tak dapat hidup wajar sesuai dengan hukum karmma dan menciptakan masalah mereka sendiri. Jika setiap orang mencoba untuk hidup terhormat, kita semua dapat menikmati kebahagiaan surgawi didunia. Tidak perlu menciptakan surga sebagai imbalan bagi kebajikan atau nereka untuk menghukum perbuatan jahat. Kebajikan dan kejahatan memiliki balasannya masing-masing. Salah satu pertanyaan yang paling membingungkan umat manusia adalah apakah benar-benar ada tempat yang disebut ‘surga; dan ‘neraka’. Manusia tidak memiliki pengertian yang jelas tentang konsep ini.

Dimanakah surga dan neraka> Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang gemar berkhotbah tentang sruga dan neraka. Salah satu umatnya yang merasa bosan mendengar hal ini terus , suatu hari berdiri dan bertanya: ‘Katakan dimana adanya surga dan neraka? Jika engkau tidak dapat menjawab, berarti engkau pembohong!’. Sang bhikkhu menjadi takut dan terdiam. Hal ini semakin menambah amarah umat tersebut dan ia terteriak; ‘Jawab atau kupukul kau!” Sang bhikkhu cepat-cepat memutar otaknya dan menjawab, ‘Neraka ada disekitarmu sekarang, bersama amarahmu’.

Menyadari kebenaran yang ada, umat tersebut menjadi tenang, dan mulai tertawa. Kemudian ia bertanya: ‘Lalu dimanakah surga?’ yang dijawab oleh Sang bhikkhu, ‘Surga ada di sekitarmu sekarang, bersama gelak tawamu.’ Surga dan neraka terjadi dalam hidup kita dan muncul di dalam setiap bagian di dunia dimana terdapat makhluk hidup, tanpa terpisah-pisah.

Dimanakah Kebahagiaan?

Dimanakah kita mencari kebahagiaan? ‘Didalam dirimu’, kata Sang Buddha. Tak seorangpun yang membantah bahwa kebahagiaan adalah keadaan hidup yang paling diinginkan. Kebahagiaan tidak terjadi demikian saja. Kebahagiaan adalah keadaan pada saat sadar yang tidak tergantung pada nafsu jasmani. Pria yang Puas Tanpa Baju.

Seorang raja Timru yang sangat tidak bahagia menemui seorang ahli filsafat. Ahli tersebut mensehatkan Sang Raja untuk mencari pria yang paling bahagia dan senang dalam kerajaannya dan mengenakan baju. Setelah pencarian yang lama Sang Raja akhirnya menemukan pria tersebut tetapi ia tidak memiliki baju. Seorang penulis terkenal berkata: [Berpedoman pada Sang Buddha] Jika engkau ingin menemukan pria yang paling senang dan bahagia di dunia ini, carilah pangeran dalam pakaian pengemis.

Keinginan yang tak terpuaskan adalah penyebab utama ketidak-bahagiaan. Singkirkan keinginan, dan anda akan bebas dari ketidak bahagiaan anda. ‘Aku hanya mengajarkan satu hal, kata sang Buddha ‘penyebbab dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Seperti laut yang memiliki satu rasa, begitu juga halnya dengan ajaran-Ku yang berhubungan dengan dukkha dan lenyapnya dukkha. Aku akan menunjukkan anda jalan dari khayal menuju nyata, dari gelap ke terang, dan dari kematian menuju kekekalan.’

Damai atau kepuasan juga bergantung pada kebutuhan seseorang. Anjing menyukai tulang bukan rumput. Sapi menyukai rumput bukan tulang. Begitu pula, sejumlah orang lebih menyukai kegembiraan dari pada damai; bagi orang lain damai lebih penting dari pada kegembiraan. Seperti makanan yang lezat bagi seseorang, tetapi dapat merugikan orang lain; obat yang menyembuhkan penyakit seseorang dapat menyebabkan kematian bagi orang lain. Kesenangan seseorang dapat menyusahkan orang lain.

Kebahagiaan adalah keadaan bathin yang dapat diperoleh melalui pengembangan pikiran. Sumber-sumber luar seperti harta, popularitas kedudukan sosial, dan nama besar hanya merupakan sumber kebahagiaan sementara dan bukan sumber sejati dari kebahagiaan. Sumber yang sejati adalah pikiran yang terkendali dan dikembangkan. Pendapat bahwa ketenangan bathin tak dapat dicapai adalah salah. Setiap orang dapat mengembangkan kedamaian dan ketenangan di dalam dirinya melalui pembersihan pikiran.

[Sumber: How to live without fear and worry. Dikutip dari Buddha Cakkhu No.24/XIII/92 ]