Ilustrasi Kehidupan
By Bhante Aggacitto
Hidup itu memang sudah banyak masalah, baik besar maupun kecil tetap akan ada namanya masalah.
Maka dari itu berusahalah untuk tidak menambah lagi masalah, meskipun hidup sudah banyak masalah coba tersenyumlah, hadapilah dan selesaikanlah, agar hidup semakin tidak bermasalah.
Seperti halnya "Air laut.... Meskipun banyak sungai Ƴα̍Ϟƍ besar maupun kecil, meskipun banyak kotoran menyiramnya ia tetap tenang dan tegar dengan penuh kerendahan untuk menerimanya.
Ia tidak pernah mempermasalahkan meskipun itu tidak menyenangkan, walaupun demikian air laut tetap pada prinsipnya untuk selalu menawarkan semua rasa menjadi satu rasa"
Hendaknya kita perlu merenungkan dan belajar banyak dari air laut, meski rasanya tidak enak kita minum tetapi sifatnya memiliki nilai lebih Ƴα̍Ϟƍ luar biasa bagi kehidupan.
Sent from BlackBerry® on 3
Selasa, 26 November 2013
Sabtu, 23 November 2013
Bagaimana Cara Menghilangkan Dendam/marah
108. Bagaimana Cara Menghilangkan Dendam/marah.
Para bhikkhu, ada lima cara untuk bebas dari dendam, yang dengannya seorang bhikkhu dapat menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya. Apakah yang lima itu?
Jika muncul suatu dendam terhadap siapa pun, maka orang seharusnya mengembangkan cinta kasih (metta) terhadapnya … atau kasih sayang (karuna) … atau ketenang-seimbangan (upekkha). Dengan cara itu orang dapat menghilangkan dendam terhadap orang itu.
Atau orang seharusnya tidak memperhatikan dan tidak memikirkan dia. Dengan cara itu orang dapat menghilangkan dendamnya.
Atau orang dapat menerapkan 'fakta kepemilikan kamma' terhadap orang itu:
"Orang terhormat ini adalah pemilik perbuatan-perbuatannya, pewaris perbuatan- perbuatannya; perbuatan-perbuatannya
adalah kandungan (dan dari situ dia telah muncul), keluarganya dan pelindungnya. Apa pun perbuatan yang dia lakukan - baik atau buruk- dialah yang akan menjadi pewarisnya."
Inilah lima cara untuk bebas dari dendam, yang dengannya seorang bhikkhu dapat menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya.
Anguttara Nikaya (V, 161)
Para bhikkhu, ada lima cara untuk bebas dari dendam, yang dengannya seorang bhikkhu dapat menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya. Apakah yang lima itu?
Jika muncul suatu dendam terhadap siapa pun, maka orang seharusnya mengembangkan cinta kasih (metta) terhadapnya … atau kasih sayang (karuna) … atau ketenang-seimbangan (upekkha). Dengan cara itu orang dapat menghilangkan dendam terhadap orang itu.
Atau orang seharusnya tidak memperhatikan dan tidak memikirkan dia. Dengan cara itu orang dapat menghilangkan dendamnya.
Atau orang dapat menerapkan 'fakta kepemilikan kamma' terhadap orang itu:
"Orang terhormat ini adalah pemilik perbuatan-perbuatannya, pewaris perbuatan- perbuatannya; perbuatan-perbuatannya
adalah kandungan (dan dari situ dia telah muncul), keluarganya dan pelindungnya. Apa pun perbuatan yang dia lakukan - baik atau buruk- dialah yang akan menjadi pewarisnya."
Inilah lima cara untuk bebas dari dendam, yang dengannya seorang bhikkhu dapat menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya.
Anguttara Nikaya (V, 161)
Label:
Anguttara Nikaya,
Sutta
Selasa, 01 Oktober 2013
Sutra hati (PRAJNA PARAMITA HRDAYA SUTRA)
PRAJNA PARAMITA HRDAYA SUTRA
( SUTRA HATI )
ARYAVALOKITESVARO BODHISATTVO GAMBHIRAYAM PRAJNA-PARAMITAYAM CARYAM CARAMANO
VYAVALOKAYATI SMA: PANCA SKANDHAS TAMS CA SVABHAVA SUNYAN PASYATI SMA'
IHA SARIPUTRA!
RUPAM SUNYATA,SUNYATAIVA RUPAM.
RUPAM NA PRTHAK SUNYATA, SUNYATAYA NA PRTHAG RUPAM.
YAD RUPAM SA SUNYATA, YA SUNYATA TAD RUPAM.
EVAM EVA VEDANA - SAMJNA - SAMSKARA - VIJNANANI.
IHA SARIPUTRA!
SARVA-DHARMAH SUNYATA-LAKSANA, ANUTPANNA-ANIRUDDHA AMALAVIMALANONA NA PARIPURNAH.
TASMAC CHARIPUTRA!
SUNYATAYAM NA RUPAM NA VEDANA NA SAMJNA NA SAMSKARA NA VIJNANAM.
NA CAKSUH - SROTRA - GHRANA -JIHVA - KAYA - MANAMSI.
NA RUPA - SABDA - GANDHA - RASA - SPARASTAVYA - DHARMAH.
NA VIDYA NAVIDYA NA VIDYA - KASAYO NAVIDYA - KSAYO YAVAN NA JARA - MARANAM NA JARA - MARANA - KSAYO NA DUHKHA - SAMUDAYA - NIRODHA - MARGA, NA JNANAM NA PRAPTIH ( NA BHISAMA).
TASMAD APRAPTITVAD BODHISATTVANAM PRAJNAPARAMITAM ASRITYA
VIHARATY ACITTAVARANAH, CITTAVARANA - NASTITVAD ATRASTO VIPARYASATIKRANTO NISTHA - NIRVANAH.
TRYADHVA - VYAVASTHITAH SARVA - BUDDHAH PRAJNA - PARAMITAM ASRITYA - NUTTARAM SAMYAKSAMBODHIM ABHISAMBUDDHAH.
TASMAJ JNATAVYAM PRAJNA PARAMITA MAHA MAN TRO MAHA VIDYA MANTRO'NUTTARA MANTRO'SAMA SAMA MANTRAH!
SARVADUHKHA PRASAMANAH, SATYAM AMITHYATVAT PRAJNA PARAMITAYAM UKTO MANTRAH.
TADYATHA: GATE GATE PARAGATE PARA SAMGATE, BODHI SVAHA!
Terjemahannya:
Sang Bodhisattva Avalokitesvara sedang bersamadhi, merenungkan Prajnaparamita yang dalam dan luhur. Beliau memandang dari atas ke bawah; tertampaklah, bahwa panca skandha (lima kelompok kehidupan) itu sebenarnya kosong.
Duhai Sariputra, rupa (bentuk jasmani) adalah kekosongan (sunyata) dan sunyata itu rupa; sunyata tidak berbeda dari rupa, rupa juga tidak berbeda dari sunyata; rupa apapun juga, itulah sunyata; sunyata apapun juga, itulah rupa. Ini pun berlaku bagi vedana (perasaan), samjna (pencerapan), samskara (bentuk-bentuk mental), dan Vijnana (kesadaran).
Disinilah, duhai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.
Maka itu, duhai Sariputra, dimana terdapat sunyata, di situ tiada rupa, tiada vedana, tiada samjna, tiada samskara, tiada vijnana; tiada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan bathin; tiada bentuk-bentuk suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa, sentuhan-sentuhan, bentuk-bentuk pikiran; tiada unsur (dhatu) penglihatan dan selanjutnya, hingga kita tiba pada tiada unsur kesadaran (vijnana-dhatu); tiada kegelapan bathin (avidya), tiada akhir kegelapan bathin dan seterusnya, hingga kita sampai pada tiada hari tua dan kematian, tiada akhir hari tua dan kematian; tiada derita (dukha), tiada asal mula derita (dukkha-samudaya), tiada akhir derita (dukha-nirodha), tiada jalan (marga), tiada pengetahuan (jhana), tiada pencapaian dna tiada bukan pencapaian.
Maka, duhai Sariputra, berkat kebebasan dari keuntungan pribadi apapun juga, seorang Bodhisattva yakin akan prajnaparamita (kesempurnaan kebijaksanaan luhur). Ia bebas dari segala rintangan. karena bebas dari segala rintangan, Ia bebas dari perasaan takut dan dengan mengatasi sumber-sumber kegelisahan akhirnya Ia mencapai Nirvana.
Para Buddha dari tiga jaman (lampau, mendatang, dan sekarang) mencapai Anuttara Samyak-Sambodhi karena mereka telah yakin akan Prajnaparamita. Maka itu orang harus mengetahui bahwa Prajnaparamita adalah Maha Mantra, Mantra yang Maha Gemilang, Mantra yang Maha Agung, Mantra yang tak ada bandinagnnya! Dan dapat melenyapkan segala macam penderitaan. Sungguh demikian, tiada kekliruan sedikitpun. Oleh karena itu Beliau senang menerangkan Mantra Prajnaparamita serta berkata :
"Gate gate paragate para-samgate Bodhi svaha!"
( Lewat, lewat, lewat ke Pantai Seberang, tiba di Pantai Seberang, Kesadaran Agung, semoga demikian!)
Keterangan:
Prajnaparamita Hrdaya Sutra ( Sutra Hati ) dalam bahasa Tionghoa disebut Poandjiak Pooloobit Too Sim Keng. Naskah dalam bahasa Sansekerta diatas ditemukan di Gua Batu Dun Huang, Tiongkok. Bersama dengan Vajracchedika Sutra ( Sutra Intan ), Prajanparamita Hrdaya Sutra merupakan kitab-kitab yang dianggap keramat oleh umat Buddha Aliran Utara. Kedua Sutra ini berdasarkan Ajaran Sunyata, ialah kelanjuatn doktrin Anicca-Anatta dari Aliran Selatan. Isinya memang "berat" tetapi sangat berfaedah bagi para pencari kesunyataan. Karena sangat dalam dan halus, maka untuk mengertinya diperlukan pembacaan yang teliti dan cermat.
Makna dari Prajnaparamita Mantra adalah:
Lewat, lewat = lepaskanlah, jangan melekat pada apapun juga. Dengan demikian dicapai Pantai Seberang (NIrvana) mencapai Bodhi (kesadaran Agung) berarti mencapai pembebasan
Sabtu, 28 September 2013
Amitabha Sutra
Amitabha
Sutra
Demikianlah
yang telah kudengar : Pada suatu saat Hyang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan
Jeta Taman Anthapindika bersama serombongan Bhiksu yang berjumlah seribu dua
ratus lima puluh yang semuanya Arahat yang di kenal oleh semua orang seperti
Sesepuh Sariputra : Mahamaudgalyayana, Mahakasyapa, Mahakatyayana, Mahakausthila,
Revata, Suddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindolabharadvaja,
Kalodayin, Mahakaphina, Vakkula, Aniruddha, dan beserta Siswa-siswa terkemuka
lainnya ; dan para Bodhisattva Mahasattva, Manjusri Pangeran Dharma, Ajita Bodhisattva,
Gandhastin Bodhisattva, Nityodyukta Bodhisattva, dengan para Bodhisattva Mahasattva
lainnya ; dan dengan Sakra, Indra atau Raja para dewata yang tak terhingga jumlahnya.
Pada saat itu Hyang Buddha bersabda kepada sesepuh Sariputra : Sebelah Barat dari sini melewati ratusan ribu Koti negeri Buddha, terdapat sebuah alam yang bernama Sukhavati. Ada seseorang Tathagata yang bernama Amitabha. Kini beliau tengah mengajarkan Dharma.
Sariputra, apakah sebabnya alam itu disebut Sukhavati ?
Karena di alam Sukhavati tiada lagi penderitaan bagi makhluk-makhluk yang hidup di sana ! Sumber kebahagiaan tak terhingga banyaknya, oleh sebab itu disebut Sorga Sukhavati. Dan lagi, oh, Sariputra ! Di Sorga Sukhavati terdapat tujuh tingkat Veranda dengan tujuh tirai rajutan, tujuh baris jajaran pohon, semua terbentuk dari empat macam mustika. Karenanya negeri itu disebut kebahagiaan sempurna. Lagi pula Sariputra, di alam Sukhavati terdapat tujuh kolam permata berisi air yang memiliki delapan sifat kebaikan. Dasar kolam penuh dengan hamparan pasir emas, keempat sisinya terdapat tangga yang terbuat dari : emas, perak, batu lazuardi dan batu kristal, di atas terdapat pagoda-pagoda yang terhias emas, perak, beryl, kristal, Musaragarbha batu-batu akik, indung mutiara. Di kolam-kolam terdapat bunga teratai sebesar roda pedati, berwarna hijau dengan kemilau hijaunya, berwarna kuning dengan kemilau kuningnya, berwarna merah dengan kemilau merahnya dan berwarna putih dengan kemilau putihnya, lembut, menakjubkan, indah dan murni. O Sariputra, demikianlah negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan yang indah, megah dan agung, lagipula Sariputra, di negeri Buddha ini senantiasa terdengar musik surgawi dan tanahnya kuning emas. Dalam enam periode sehari semalam, turun hujan bunga-bunga Mandrawa. Tiap makhluk di negeri ini, sepanjang pagi yang cerah dengan jubahnya mengumpulkan bunga dan mempersembahkannya kepada beratus ribu koti Buddha dari penjuru lain. Pada waktu makan mereka kembali ke negeri mereka masing-masing, dan usai makan mereka istirahat. O Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna. Dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri ini selalu ada burung-burung beraneka warna nan indah dan langka, burung seriap putih, merak, kakaktua, bangau putih kecil, kalavinka dan burung berkepala dua. Kumpulan burung ini bernyanyi dalam enam periode sehari semalam dengan suara merdu dan harmonis. Suara mereka yang jernih dan riang membabarkan lima akar kebajikan. , tujuh bagian bodhi, delapan jalan suci dan Dharma-dharma lain. Bila makhluk di negeri itu, mendengar suara-suara ini mereka bersama-sama ingat akan Buddha, ingat akan Dharma dan ingat akan Sangha.
O, Sariputra , janganlah mengira bahwa burung-burung ini lahir akibar pelanggaran karma mereka karena alasan apakah? Di negeri ini tidak ada tiga jenis kelahiran sesat. O, Sariputra di negeri Buddha ini bahkan nama-nama tiga jenis kelahiran sesat tidak ada.
Bagaimana sebenarnya ?
Kumpulan burung ini semuanya diciptakan melalui penjelmaan oleh Amitabha Buddha agar suara Dharma tersiar luas. O, Sariputra , di negeri Buddha itu, ketika semilir angin berhembus, barisan pohon-pohon permata dan tirai-tirai permata menimbulkan suara-suara lembut dan indah. Laksana seratus ribu jenis musik dialunkan pada saat yang sama. Mereka yang mendengar suara ini dengan sendirinya ingat akan Buddha, ingat akan Dharma, ingat akan Sangha. O, Sariputra, negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung.
O, Sariputra apa yang kau pikirkan? Mengapa Buddha ini disebut Amitabha?
O Sariputra, kemilau cahaya Buddha ini tak terhingga menerangi sepuluh penjuru dunia tanpa halangan. Oleh karenanya disebut Amitabha lagipula O Sariputra, kehidupan Buddha ini dan rakyatnya mencapai kalpa Asankhyeya, tiada terbatas tiada terhingga. Oleh karenanya disebut Amitabha. O Sariputra sejak Amitabha mencapai tingkat kebuddhaan sepuluh kalpa telah berlalu. Lagipula Sariputra, Buddha ini mempunyai siswa-siswa pendengar suara tak terhingga, tak terbatas. Semua arahat, jumlah mereka tak dapat dihitung demikian pula kumpulan Bodhisattva. O Sariputra, demikinlah adanya negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna makhluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Di antara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan, jumlah mereka sangatlah banyak tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut Kalpa Asankhyeya. Yang tiada terbatas, tiada terhingga.
O, Sariputra mahluk hidup yang mendengar ini seyogyanya berikrar agar dilahirkan dinegeri itu, mengapa demikian ?
Agar mereka yang berhasil adalah orang yang suci dan saleh semua berkumpul bersama-sama di satu tempat. O, Sariputra seorang tidak boleh kurang dalam perbuatan-perbuatan baik, berkah, kebajikan dan hubungan penyebab untuk mencapai kelahiran dinegeri itu. Sariputra, kalau ada seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi, mendengar nama Amita Buddha danmemanjatkan nama itu baik selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, dengan sepenuh hati dan tanpa gangguan, bila orang itu mendekati akhir hayatnya, Amita Buddha berserta para orang suci akan muncul dihadapannya. Ketika akhir hayatnya tiba hatinya tidak goyah, ia akan terlahir di negeri kebahagiaan sempurna Amitabha Buddha Sariputra, karena aku melihat manfaatnya maka ku-ucapkan kata-kata itu. Jika mahluk hidup mendengar ucapan ini, mereka seharusnya berikrar untuk lahir di negeri itu.
Pada saat itu Hyang Buddha bersabda kepada sesepuh Sariputra : Sebelah Barat dari sini melewati ratusan ribu Koti negeri Buddha, terdapat sebuah alam yang bernama Sukhavati. Ada seseorang Tathagata yang bernama Amitabha. Kini beliau tengah mengajarkan Dharma.
Sariputra, apakah sebabnya alam itu disebut Sukhavati ?
Karena di alam Sukhavati tiada lagi penderitaan bagi makhluk-makhluk yang hidup di sana ! Sumber kebahagiaan tak terhingga banyaknya, oleh sebab itu disebut Sorga Sukhavati. Dan lagi, oh, Sariputra ! Di Sorga Sukhavati terdapat tujuh tingkat Veranda dengan tujuh tirai rajutan, tujuh baris jajaran pohon, semua terbentuk dari empat macam mustika. Karenanya negeri itu disebut kebahagiaan sempurna. Lagi pula Sariputra, di alam Sukhavati terdapat tujuh kolam permata berisi air yang memiliki delapan sifat kebaikan. Dasar kolam penuh dengan hamparan pasir emas, keempat sisinya terdapat tangga yang terbuat dari : emas, perak, batu lazuardi dan batu kristal, di atas terdapat pagoda-pagoda yang terhias emas, perak, beryl, kristal, Musaragarbha batu-batu akik, indung mutiara. Di kolam-kolam terdapat bunga teratai sebesar roda pedati, berwarna hijau dengan kemilau hijaunya, berwarna kuning dengan kemilau kuningnya, berwarna merah dengan kemilau merahnya dan berwarna putih dengan kemilau putihnya, lembut, menakjubkan, indah dan murni. O Sariputra, demikianlah negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan yang indah, megah dan agung, lagipula Sariputra, di negeri Buddha ini senantiasa terdengar musik surgawi dan tanahnya kuning emas. Dalam enam periode sehari semalam, turun hujan bunga-bunga Mandrawa. Tiap makhluk di negeri ini, sepanjang pagi yang cerah dengan jubahnya mengumpulkan bunga dan mempersembahkannya kepada beratus ribu koti Buddha dari penjuru lain. Pada waktu makan mereka kembali ke negeri mereka masing-masing, dan usai makan mereka istirahat. O Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna. Dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri ini selalu ada burung-burung beraneka warna nan indah dan langka, burung seriap putih, merak, kakaktua, bangau putih kecil, kalavinka dan burung berkepala dua. Kumpulan burung ini bernyanyi dalam enam periode sehari semalam dengan suara merdu dan harmonis. Suara mereka yang jernih dan riang membabarkan lima akar kebajikan. , tujuh bagian bodhi, delapan jalan suci dan Dharma-dharma lain. Bila makhluk di negeri itu, mendengar suara-suara ini mereka bersama-sama ingat akan Buddha, ingat akan Dharma dan ingat akan Sangha.
O, Sariputra , janganlah mengira bahwa burung-burung ini lahir akibar pelanggaran karma mereka karena alasan apakah? Di negeri ini tidak ada tiga jenis kelahiran sesat. O, Sariputra di negeri Buddha ini bahkan nama-nama tiga jenis kelahiran sesat tidak ada.
Bagaimana sebenarnya ?
Kumpulan burung ini semuanya diciptakan melalui penjelmaan oleh Amitabha Buddha agar suara Dharma tersiar luas. O, Sariputra , di negeri Buddha itu, ketika semilir angin berhembus, barisan pohon-pohon permata dan tirai-tirai permata menimbulkan suara-suara lembut dan indah. Laksana seratus ribu jenis musik dialunkan pada saat yang sama. Mereka yang mendengar suara ini dengan sendirinya ingat akan Buddha, ingat akan Dharma, ingat akan Sangha. O, Sariputra, negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung.
O, Sariputra apa yang kau pikirkan? Mengapa Buddha ini disebut Amitabha?
O Sariputra, kemilau cahaya Buddha ini tak terhingga menerangi sepuluh penjuru dunia tanpa halangan. Oleh karenanya disebut Amitabha lagipula O Sariputra, kehidupan Buddha ini dan rakyatnya mencapai kalpa Asankhyeya, tiada terbatas tiada terhingga. Oleh karenanya disebut Amitabha. O Sariputra sejak Amitabha mencapai tingkat kebuddhaan sepuluh kalpa telah berlalu. Lagipula Sariputra, Buddha ini mempunyai siswa-siswa pendengar suara tak terhingga, tak terbatas. Semua arahat, jumlah mereka tak dapat dihitung demikian pula kumpulan Bodhisattva. O Sariputra, demikinlah adanya negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna makhluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Di antara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan, jumlah mereka sangatlah banyak tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut Kalpa Asankhyeya. Yang tiada terbatas, tiada terhingga.
O, Sariputra mahluk hidup yang mendengar ini seyogyanya berikrar agar dilahirkan dinegeri itu, mengapa demikian ?
Agar mereka yang berhasil adalah orang yang suci dan saleh semua berkumpul bersama-sama di satu tempat. O, Sariputra seorang tidak boleh kurang dalam perbuatan-perbuatan baik, berkah, kebajikan dan hubungan penyebab untuk mencapai kelahiran dinegeri itu. Sariputra, kalau ada seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi, mendengar nama Amita Buddha danmemanjatkan nama itu baik selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, dengan sepenuh hati dan tanpa gangguan, bila orang itu mendekati akhir hayatnya, Amita Buddha berserta para orang suci akan muncul dihadapannya. Ketika akhir hayatnya tiba hatinya tidak goyah, ia akan terlahir di negeri kebahagiaan sempurna Amitabha Buddha Sariputra, karena aku melihat manfaatnya maka ku-ucapkan kata-kata itu. Jika mahluk hidup mendengar ucapan ini, mereka seharusnya berikrar untuk lahir di negeri itu.
O
Sariputra, sebagaimana aku sekarang memuji manfaat yang tak terkira dari jasa
dan kebajikan Amitabha Buddha, demikian juga ditimur ada Aksobhya Buddha, Merudhvaja
Buddha, Mahameru Buddha, Meruprabhasa Buddha, Sughosa Buddha dan Buddha-Buddha
lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga. Di negerinya
masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhhasra
Mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua mahluk hidup patut
percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak
terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.
O
Sariputra, di dunia sebelah selatan ada Chandrasuryapradipa Buddha, Yasahprabha
Buddha, Maharciskamdha Buddha, Merupradipa Buddha, Arantavirya Buddha dan
Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga
di negeri-Nya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang
menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata tulus dan nyata semua
mahluk hidup, patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh khidmat akan
jasa kebajikan yang tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi
oleh semua Buddha ini. O Sariputra di dunia sebelah Barat, ada Amitayus Buddha, Amitaskhamdha Buddha, Amitadhavaja Buddha, Mahaprabha Buddha, Maharasmiprabha Buddha, Maharatnaketu Buddha, Suddharasmi Buddha dan Buddha-Buddha lainnya, yang tak terhingga seperti pasir-pasir di sungai Gangga dinegerinya masing-masing, mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang. Menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu, dengan kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, khidmat akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.
O Sariputra didunia sebelah utara ada Maharciskamdha Buddha, Dumdubhisvaranirghosa Buddha, Duspradharsa Buddha, Adityasambhava Buddha, Jalemiprabha Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua mahluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebajikan tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini, Sariputra di dunia sebelah bawah (nadir ) ada Simha Buddha, Yasas Buddha , Yasahprabha Buddha, Dharma Nuddha , Dharmadhvaja Buddha, Dharmadhara Buddha dan Buddha-Buddha liannya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah yang maha luas dan panjang menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang di karuniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini di dunia sebelah atas (zenit) ada Brahmaghosa Buddha, Naksatraraja Buddha, Gamdhottama Buddha, Gamdhaprabhasa Buddha, Maharciskamdha Buddha, Ratnakusumasampuspitagatra Buddha, Sa lendraraja Buddha, Ratnotpalasri Buddha, Sarvarthadarsa Buddha, Sumerukalpa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terbilang seperti butiran pasir. Di sungai Gangga, di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua makhluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebaikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.
O Sariputra, Apa yang kau pikirkan ? Mengapa sutra ini disebut sutra yang dikaruniai dan dilindungi semua Buddha ?
O Sariputra, kalau seorang lelaki berbudi atau wanita berbudi mendengar sutra ini dan mengucapkannya serta mendengar nama-nama semua Buddha ini. Lelaki berbudi atau wanita berbudi ini akan menjadi orang yang ingat akan Buddha dan dilindungi oleh semua Buddha dan tidak akan gagal mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Sebab itu Sariputra, kalian semua patut percaya dan menerima kata-kataku dan ucapan semua Buddha. Sariputra, kalau ada orang yang telah berikrar yang sedang berikrar atau yang akan berikrar: "Aku berhasrat lahir si negeri Amitabha". Orang-orang ini semua tidak akan gagalmencapai Annutara Samyak Sambodhi. Apakah dia lahir pada masa lampau, sekarang atau pada masa yang akan datang. Sebab itu Sariputra semua laki-laki berbudi dan wanita berbudi. Jika mereka orang-orang yang memilik keyakinan, seyogyanya berikrar untuk lahir di negeri ini. O Sariputra sebagaimana Aku memuji jasa dan kebaikan semua Buddha, semua Buddha juga memuji jasa dan kebajikanKu yang tak terkirakan, dengan mengucapkan kata-kata : "Sakyamuni Buddha dapat melasanakan secara luar biasa perbuatan-perbuatan sulit di dunia saha, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan diantara kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan penderitaan, kekeruhan makhluk hidup dan kekeruhan kehidupan. Ia dapat mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi makhluk hidup, membabarkan Dharma. Ini yang diseluruh dunia sulit dipercaya, Sariputra. Kamu seharusnya mengerti bahwa Aku, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan mempraktekkan perbuatan yang sulit ini, mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi semua dunia kuucapkan Dharma yang sulit dipercaya ini, benar-benar sulit untuk dipercaya."
Setelah Hyang Buddha mengucapkan sutra ini, Sariputra dan semua Bhiksu, semua dewa manusia dan para Asura dan yang lain-lain dari dunia, mendengar apa yang telah Hyang Buddha sabdakan menyambut dengan sukacita, menyembah dengan sujud dan mohon diri.
Jumat, 27 September 2013
SUTRA KARMA (SUTRA TENTANG PERBUATAN)
SUTRA
KARMA
SUTRA TENTANG PERBUATAN
SUTRA TENTANG PERBUATAN
Sutra ini merupakan salah satu ajaran
Hyang Buddha yang menerangkan tentang hukum karma, tentang sebab musabab semua
perbuatan kita yang berlaku, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang di
dalam kehidupan kita masing-masing.
Ketika Hyang Buddha berada di kota
Rajagaha, 1250 orang Arahat datang berkumpul bersma para mahkluk lainnya.
Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata, mereka berkumpul
di Veluvanarama (Vihara Hutan Bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat
purnama-sidhi di bulan Magha. waktu itu, Yang Mulia Ananda datang mendekati
Hyang Bhagava. ia memberi hormat dengan beranjali dan mengelilingi Hyang Buddha
tiga kali (berpradaksina). Setelah memberi hormat ia dengan sopan duduk di satu
sisi. kemudian Yang Mulia Ananda berkata kepada Hyang Bhagava :
"Guru, mengapa semua makhluk yang
dilahirkan selalu dicengkeram oleh dukkha (derita) seperti lobha (keserakahan),
dosa (kebencian), moha (ketidaktahuan), tidak menghormati Buddha Dhamma. tidak
berbakti kepada orang tua, tidak bermoral, tidak menjalankan sila. Generasi ini
menjadi kacau seperti benang kusut. rumput munja dan gelabah. sehingga tidak
dapat terbebas dari apaya (alam neraka), duggati (alam binatang), vinipata
(alam keruntuhan) dan samsara (lingkaran tumimbal lahir).
Banyak di antara mahkluk itu terlahir
tuli, buta, bisu, idiot, cacat dan lainnya, saling bersaing, saling merugikan,
saling memusuhi, saling membenci, saling membunuh, saling berbuat jahat dan
tidak adil. Bagaimana kita dapat mengerti rahasia kesunyataan (sebab musabab)
apa yang tersembunyi di balik kenyataan hidup ini. dan apakah akibat buruk dari
setiap perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia ?
Semoga Guru berkenan menjelaskan kepada
kami sebab musabab dari semua perbedaan-perbedaan ini yang menyebabkan
timbulnya keragu-raguan terhadap keadilan dan kebenaran !".
"Ananda, perhatikan dengan baik,
Aku akan menerangkan tentang Hukum Karma. sebenarnya, segala sesuatu yang
terjadi di dalam kehidupan ini dikarenakan akibat dari karma lampau yang
berbuah, yang diwariskan dari perbuatan pada kehidupan yang lampau, Karma lah
yang menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam alam kehidupan ini, ada yang kaya,
ada yang miskin, ada yang bahagia, ada yang menderita, ada yang sempurna, ada
yang cacat, ada yang dipuji dan ada yang terhina.
Kemudian Hyang Bhagava melanjutkan
dengan mengucapkan syair di bawah ini :
"Segala sesuatu sudah ditentukan
oleh karma lampau. percaya dan tekun mengamalkan Sutra ini akan membawa
kebahagiaan dan keberhasilan yang tiada taranya.
O, para bhikkhu, Aku akan membuat syair
contoh untukmu. karena dengan contoh maka orang-orang pintar akan dapat
mengerti makna dari apa yang dikatakan.
Membangun Vihara, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun vihara" membuat ia mendapat
kedudukan terhormat (tinggi)
Membangun jalan dan jembatan, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun jalan dan jembatan" membuat
ia mendapat keselamatan dalam perjalanan serta memiliki kendaraan yang bagus
Berdana jubah, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi jubah untuk bhikku" membuat
ia memiliki cukup sandang serta berpakaian bagus
Berdana makanan dan minuman, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi makanan dan minuman untuk orang
miskin" membuat ia kaya
Berdana untuk Bhikkhu, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi untuk keperluan Bhikkhu"
membuat ia memiliki rumah mewah
Kikir dan tidak mau berdana, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "kikir dan tidak mau berdana" membuat
ia miskin
Membangun sekolah dan rumah
sakit,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun sekolah dan rumah sakit"
membuat ia hidup sukses dan bahagia
Memuja Hyang Buddha, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memuja Hyang Buddha dengan bunga"
membuat ia memiliki wajah yang rupawan
Tekun membaca paritta dan
melaksanakan Sila,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tekun membaca paritta dan melaksanakan
sila" membuat ia cerdas dan bijaksana
Membabarkan Dharma, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "meyebarkan Dharma dalam Dharmasala"
membuat ia mendapatkan isteri yang cantik dan berbudi.
Menghias Altar, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghias altar Hyang Buddha dengan
macam-macam dekorasi, hiasan yang bagus dan pantas" membuat ia sukses
dalam perkawinan
Menolong orang sebatang kara, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghormati dan menolong orang sebatang
kara" membuat ia memiliki orang tua yang baik
Membunuh makhluk hidup, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membunuh makhluk hidup" membuat ia
pendek umur
Mencuri, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mengambil barang milik orang lain"
membuat ia kehilangan barang-barangnya
Berzinah, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "melakukan hubungan seks yang tidak
diperkenankan" membuat ia dimusuhi lingkungannya.
Berdusta, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdusta" membuat ia sering mendapat
tuduhan palsu
Bergossip, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "sering menceritakan keburukan orang
lain" membuat ia ditingggalkan oleh kawan-kawannya
Berkata kasar, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berkata kasar" membuat ia sering
menerima kata-kata yang tidak menyenangkan
Mengobrol kosong , O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mengobrol kosong" membuat ia tidak
dapat berbicara dengan jelas
Berburu, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berburu binatang" membuat ia menjadi
yatim piatu
Melepas Binatang, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membebaskan binatang yang tertangkap
orang" membuat ia memiliki anak yang sukses
Menolong hidup makhluk lain, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyelamatkan nyawa makhluk lain"
membuat ia panjang umur dan bahagia
Merusak lingkungan, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "merusak hutan, tanaman, tumbuhan
bunga" membuat ia tidak mempunyai keturunan
Memperkosa, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memperkosa anak, isteri orang lain"
membuat ia hidup sengsara dan kesepian
Meniup lilin altar, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak mengenal rasa hormat dan dengan
sengaja meniup lilin atau lampu altar Hyang Buddha" membuat mulutnya
menjadi cacat
Menghina suami, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghina dan memukul suami" membuat
ia menjadi janda
Lupa Budi, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "melupakan budi dan jasa orang lain"
membuat ia menjadi budak (kuli)
Menyeleweng, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyeleweng dengan istri atau suami orang
lain" membuat ia hidup kesepian
Menyesatkan orang, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyesatkan orang dengan bacaan
porno" membuat matanya jadi buta
Berdana minyak lampu, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdana minyak lampu untuk altar Hyang
Buddha" membuat ia dikaruniai mata yang indah dan terang
Mencaci maki orang tua, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mencaci maki orang tua " membuat ia
menjadi bisu dan tuli
Memukul orang tua, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memukul orang tua" membuat tangannya
cacat
Menertawakan siswa Hyang
Buddha,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menertawakan siswa Hyang Buddha dan tidak
menghormati Buddha Dharma" membuat punggungnya bongkok
Menodong dan merampok, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menodong dan merampok" membuat ia
berkaki cacat
Tidak membayar hutang, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak membayar hutang" membuat ia
terlahir kembali menjadi kerbau atau kuda
Menipu, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menipu dan mencelakakan orang lain"
membuat ia terlahir kembali menjadi babi atau anjing
Berbuat kejam dan sadis, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berbuat kejam dan sadis" membuat ia
hidup lama di penjara
Meracuni makhluk lain, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "meracuni makhluk lain" membuat ia
mati keracunan
Menolong orang sakit, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi obat menolong orang sakit atau
luka" membuat ia selalu sehat
Memfitnah, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memfitnah dan mengadu domba" membuat
ia muntah darah
Tidak setia, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak setia dan berkhianat" membuat
ia hidup sengsara dan menyedihkan
Minum minuman keras, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "minum-minuman keras" membuat ia
mabuk, ketagihan dan tidak dihormati orang
Membuat makhluk lain mati
kelaparan,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membuat makhluk lain mati kelaparan"
membuat ia menjadi mati kelaparan
Menghina orang miskin, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghina orang miskin" membuat ia
berbadan cebol dan jelek
Mendengarkan Dharma dengan
kurang perhatian,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mendengarkan Dharma dengan kurang
perhatian" membuat ia menjadi tuli
Menyiksa binatang, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyiksa binatang" membuat badannya
korengan dan bisulan
Iri hati, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "iri hati dan cemburu akan kesuksesan dan
kebahagiaan orang lain" membuat ia kesepian, bau busuk dan korengan
Sumpah palsu, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "sumpah palsu" membuat ia mati
disambar geledek, petir atau api.
Memuja Hyang Buddha dengan
daging,
O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa
orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memuja Hyang Buddha dengan daging"
membuat ia menderita penyakit kulit
Berdagang dengan tidak jujur, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdagang dengan tidak jujur" membuat
ia menderita penyakit korengan
Berburu dengan tali atau jala, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berburu binatang dengan tali atau jala
" membuat ia mati tergantung
Bermusuhan, benci dan dendam, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "bermusuhan, benci dan dendam" membuat
ia mati digigit binatang (jelmaan dari musuhnya)
Menggugurkan kandungan, O bhikkhu,
menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke
neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menggugurkan kandungan" membuat ia
tidak dapat melahirkan
Apapun yang kita lakukan
akan kembali kepada kita, jadi terimalah segala pahala maupun pembalasan
terhadap diri kita. jangan mengira kejahatan yang kita lakukan tidak akan ada
akibatnya. akan terbukti dan dialami sendiri dalam kehidupan ini atau kehidupan
mendatang.
Kalau tidak percaya berkah
dari melaksanakan Buddha-Dharma. lihatlah kebahagiaan yang dinikmati oleh para
siswa Sang Buddha. Karma kehidupan lalu menentukan pahala kehidupan sekarang.
Karma kehidupan sekarang akan menentukan kehidupan mendatang.
Bagi orang yang tidak
percaya ajaran Karma, akan jatuh terlahir di alam-alam rendah.
Bagi orang yang menghayati dan mengamalkan ajaran Dhamma ini, akan terlahir di alam-alam sorga.
Bagi orang yang menyebarluaskan Sutta ini, akan menjadi maju dan jaya.
Bagi orang yang mencetak Sutta ini, Kehidupannya akan sukses dan dihormati.
Bagi orang yang menyimpan Sutta ini, akan terlindung dari malapetaka.
Bagi orang yang mengkhotbahkan ajaran Dharma ini, dalam kehidupannya akan sukses dan cerdas.
Bagi orang yang membacakan Sutta ini kepada orang lain, akan dihormati dan dicintai orang banyak.
Bagi orang yang menghayati dan mengamalkan ajaran Dhamma ini, akan terlahir di alam-alam sorga.
Bagi orang yang menyebarluaskan Sutta ini, akan menjadi maju dan jaya.
Bagi orang yang mencetak Sutta ini, Kehidupannya akan sukses dan dihormati.
Bagi orang yang menyimpan Sutta ini, akan terlindung dari malapetaka.
Bagi orang yang mengkhotbahkan ajaran Dharma ini, dalam kehidupannya akan sukses dan cerdas.
Bagi orang yang membacakan Sutta ini kepada orang lain, akan dihormati dan dicintai orang banyak.
Jika karma tidak berakibat,
mengapa Bhikkhu Moggallana bertekad menolong ibunya dari penderitaan alam
neraka ?
"Begitulah Ananda,
bila engkau ditanya : "Apakah umur pendek karena suatu sebab tertentu
?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan :
"Apakah sebab umur pendek itu ?", Engkau harus menjawab
:"Membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul dan membunuh, tanpa
mempunyai rasa kasihan kepada makhluk hidup adalah sebab umur pendek. Orang
yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur
setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan
penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia,
dimana saja ia akan bertumimbal lahir, maka umurnya akan pendek."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah menderita banyak penyakit karena suatu sebab tertentu
?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan :
"Apakah sebab menderita banyak penyakit itu ?", Engkau harus menjawab
:"Menyakiti makhluk lain dengan menggunakan tinju, batu, tongkat atau
senjata, gembira melihat makhluk lain menderita adalah sebab menderita banyak
penyakit. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan
jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh
kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali
sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan menderita
banyak penyakit."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah rupa buruk karena suatu sebab tertentu ?", Engkau
harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab
rupa buruk itu ?", Engkau harus menjawab :"Cepat marah, lekas naik
darah; untuk hal kecil saja yang diceritakan padanya ia sudah menjadi murka,
marah, berkeras kepala, memperlihatkan kegusarannya, kebenciannya dan
kecurigaannya adalah sebab rupa buruk. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan
ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam
rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia
dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia
akan mempunyai rupa yang buruk."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah mempunyai wibawa/pengaruh sedikit sekali karena suatu
sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang
pertanyaan : "Apakah sebab mempunyai pengaruh sedikit sekali itu ?",
Engkau harus menjawab :"Iri hati, penuh rasa dengki dan benci, mengiri
kalau orang menerima hadiah, diberi tempat menginap, penghargaan, penghormatan,
dimuliakan, dan diberi persembahan dengan sopan santun adalah sebab mempunyai
pengaruh sedikit sekali. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini,
ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah
penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan
kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan mempunyai
pengaruh sedikit."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah miskin karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus
menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab miskin
itu ?", Engkau harus menjawab :"Tak pernah memberikan makanan,
minuman, jubah, pengangkutan, bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat
menginap, tempat tinggal. lampu dan sebagainya kepada bhikkhu dan pandita
adalah sebab menjadi miskin. Orang yang tidak melakukan dan melaksanakan
perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke
alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia
dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia
akan menjadi orang miskin."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah orang menjadi rendah karena suatu sebab tertentu
?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan :
"Apakah sebab orang rendah itu ?", Engkau harus menjawab
:"tinggi hati dan penuh kesombongan, tak mau menghormat kepada orang yang
patut dihormati, tak mau berdiri untuk siapa ia patut berdiri, tak mau memberi
tempat duduk kepada yang patut diberi tempat duduk, tak memberi kamar kepada
yang patut diberi kamar, tidak menjamu yang patut dijamu, tak memberi hormat
dan penghargaan kepada yang patut diberi hormat dan penghargaan. dan juga tak
memberikan persembahan kepada yang patut diberi persembahan adalah sebab
menjadi orang rendah. Orang yang tidak melakukan dan melaksanakan perbuatan
ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam
rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia
dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia
akan dilahirkan sebagai orang rendah."
"Ananda, bila engkau
ditanya : "Apakah orang dungu karena suatu sebab tertentu ?", Engkau
harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab
orang dungu itu ?", Engkau harus menjawab :"Tak mengunjungi para
bhikkhu dan menanyakan kepada mereka : apakah yang dimaksud dengan karma baik,
Bhante ? Apakah yang dimaksud dengan karma tidak baik ? Apa yang tercela ? Apa
yang terpuji ? apa yang harus dilakukan ? apa yang tidak harus dilakukan ?
Perbuatan apakah yang dapat mengakibatkan celaka dan penderitaan untuk waktu
yang lama ? Perbuatan mana yang dapat membawa berkah dan kebahagiaan untuk
waktu yang lama?" adalah sebab menjadi orang dungu. Orang yang tidak
melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur
setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan
penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia,
dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan dilahirkan sebagai orang
dungu."
"Ananda, Pemilik dari
perbuatan adalah makhluk, ia adalah ahli waris dari perbuatannya, perbuatannya
adalah rahim dari mana ia lahir, kepada perbuatannya ia terikat, namun
perbuatannya juga merupakan pelindungnya. Perbuatan apapun yang ia lakukan,
baik atau buruk, ia juga kelak yang menjadi ahli warisnya. Terdapat orang yang
gemar membunuh makhluk hidup, mengambil milik orang lain, melakukan perbuatan
asusila dengan wanita; berbicara yang tidak benar, sering menggossip orang
lain, menggunakan kata-kata kasar, suka ngobrol kosong, tamak, berhati kejam
dan mengikuti pandangan yang keliru.
Dan ia terikat erat-erat
kepada perbuatannya yang dilakukan dengan jasmani, ucapan atau pikiran. Dengan
sembunyi-sembunyi ia melakukan perbuatan-perbuatan, mengucaokan kata-kata dan
memikirkan sesuatu; dan sembunyi-sembunyi pula cara dan tujuannya.
Tetapi Aku katakan kepadamu
: " Bagaimana tersembunyinyapun cara dan tujuannya, orang itu pasti akan
menerima salah satu dari kedua akibat ini, yaitu siksaan dari neraka atau
terlahir sebagai binatang yang merangkak." Demikianlah tumimbal lahir dari
makhluk-makhluk : "Sesuai dengan Karmanya mereka akan bertumimbal lahir.
Dan dalam tumimbal lahirnya itu mereka akan menerima akibat dari perbuatannya
sendiri." Karena itu Aku menyatakan :"Pemilik dan ahli waris
perbuatan adalah makhluk, perbuatannya adalah rahim dari mana ia lahir, kepada
perbuatannya ia terikat, namun perbuatannya juga merupakan pelindungnya.
perbuatan apapun yang ia lakukan, baik atau buruk, ia juga kelak yang menjadi
ahli warisnya.
Perbuatanlah yang membuat
manusia menjadi mulia dan rendah, kaya dan miskin, bahagia dan menderita."
Setelah membabarkan ajaran
Karma kepada Ananda dan para Arahat, lalu Sang Bhagava menambahkan :
"Contoh yang telah say berikan hanya sebanyak setetes air dibandingkan
contoh yang belum diberikan sebanyak air yang ada di Sungai Gangga. "
Kemudian sang Bhagava mengucapkan Ovada Patimokkha :
"Jangan berbuat
kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
sucikan hati dan pikiranmu,
Itulah Ajaran semua Buddha.
Perbanyaklah perbuatan baik,
sucikan hati dan pikiranmu,
Itulah Ajaran semua Buddha.
Kesabaran adalah cara
bertapa yang paling baik,
Sang Buddha bersabda :
Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya.
Beliau bukan Pertapa yang menindas orang lain.
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Sang Buddha bersabda :
Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya.
Beliau bukan Pertapa yang menindas orang lain.
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Tidak menghina, tidak
melukai,
Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib,
Makan secukupnya,
Hidup dengan menyepi,
Dan senantiasa berpikir luhur,
Itulah Ajaran semua Buddha.
Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib,
Makan secukupnya,
Hidup dengan menyepi,
Dan senantiasa berpikir luhur,
Itulah Ajaran semua Buddha.
Kemudian Yang Mulia Ananda
berkata : "Pada generasi yang kacau ini, bayak manusia telah mengisi
kehidupannya dengan perbuatan-perbuatanjahat dikarenakan ketidak-tahuan mereka
akan ajaran dan Hukum Karma. Kami sangat senang dan gembira< Bhante. Dengan
panjang lebar dan penuh cinta kasih Bhante telah menguraikan Dharma,
menjelaskan bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang roboh, atau
memperlihatkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang
tersesat, atau membawa lampu di waktu gelap gulita, sambil berkata, "Siapa
yang punya mata, silahkan melihat."
Demikianlah Dharma telah
dibabarkan Bhante dalm berbagai cara, dan Kami berjanji untuk melaksanakan
dengan sungguh-sungguh Ajaran Karma mulai hari ini sampai akhir hayat nanti.
Begitu mulianya Dharma ini sehingga bagi siapa saja yang menulis, membaca,
mencetak, menyebarluaskan sutta ini, atau digunakan untuk memuja para Buddha,
akan dianugerahi dengan kebahagiaan dan kesuksesan besar.Dan kelak nanti
setelah meninggal akan terlahir bahagia di Buddha-Loka tempat para siswa Buddha
bersemayam."
Setelah Ananda berkata
demikian, para Arahat, para Bhikkhu, para Upasaka, para Dewa, para Asura, para
Gandabha, para mahkluk halus lainnya menjadi gembira hatinya denagn kata-kata
Sang Bhagava. Mereka berjanji untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh Ajaran
Karma ini.
JIKA
BERTANYA SEBAB KEHIDUPAN SEBELUMNYA
YAITU APA YANG DITERIMA PADA KEHIDUPAN INI
YAITU APA YANG DITERIMA PADA KEHIDUPAN INI
JIKA
BERTANYA AKIBAT KEHIDUPAN MENDATANG
YAITU APA YANG DIPERBUAT PADA KEHIDUPAN INI
YAITU APA YANG DIPERBUAT PADA KEHIDUPAN INI
Jangan meremehkan kejahatan
denagn mengatakan bahwa kejahatan yang kulakukan kecil sekali, tidak akan
berakibat apa-apa kepadaku, tetapi sebenarnya ibarat air yang jatuh setetes
demi setetes akhirnya dapat memenuhi sebuah gentong. Demikianlah orang yang
dungu sedikit demi sedikit mengisi dirinya dengan kejahatan.
Tidak di langit, tidak di
tengah samudera, juga tidak di dalam gua atau di puncak gunung; tidak ada suatu
tempatpun di dunia ini yang dapat dipakai orang untuk menghindarkan diri dari
akibat perbuatannya yang jahat.
Di alam ini ia menderita,
juga di alam sana
Di kedua alam ini orang jahat menderita
Ia menderita karena diganggu oleh pikirannya
Ia akan lahir di neraka dicengkeram oleh derita
Di kedua alam ini orang jahat menderita
Ia menderita karena diganggu oleh pikirannya
Ia akan lahir di neraka dicengkeram oleh derita
Jangan meremehkan kebajikan
dengan mengatakan bahwa kebajikan yang kulakukan hanya sedikit, tak akan
membawa pahala bagiku. Tetapi sebenarnya, ibarat air yang jatuh setetes demi
setetes akhirnya orang yang bijaksana mengisi dirinya sedikit demi sedikit
dengan kebajikan.
Di alam ini ia berbahagia,
juga di alam sana
Di kedua alam ini orang yang baik hidup bahagia
Ia berbahagia dalam menikmati kebahagiaan
Ia menerima pahala dari perbuatannya yang baik
Di kedua alam ini orang yang baik hidup bahagia
Ia berbahagia dalam menikmati kebahagiaan
Ia menerima pahala dari perbuatannya yang baik
( Sumber : Buku sumbangan
para dermawan )
Langganan:
Postingan (Atom)