Ada seorang pemuda terkena penyakit yang mengharuskan usus kecilnya dipotong sepanjang satu meter. Selama berpuasa setelah operasi, saat masih terbaring di rumah sakit, istrinya menghubungi saya dan menceritakan keadaan suaminya. Lewat istrinya saya menganjurkan agar pemuda itu mengembangkan pikiran yang penuh cinta kasih.
Setelah keluar dari rumah sakit, pemuda itu datang menemui saya. Dia mengatakan bahwa saat terbaring di rumah sakit - saat merasakan kesakitan yang besar dan merasa sedih karena ternyata penyakitnya tidak bisa disembuhkan - sulit bagi dirinya untuk mengembangkan pikiran penuh cinta kasih.
Dia berkata "Saya sendiri sangat membutuhkan pertolongan. Keadaan saya sangat buruk. Bagaimana mungkin saya bisa mengembangkan pikiran cinta kasih? Bukankah saya sendiri yang sebenarnya harus dikasihani?"
Saya berkata, "Sejak Anda mulai memikirkan diri sendiri, sejak Anda mulai menuntut, maka pada saat itulah Anda mulai merasa menderita. Sebaliknya, sejak Anda mulai memikirkan orang lain, mengharapkan orang lain bahagia, justru pada saat itulah Anda mulai merasa bahagia. Dengan mengembangkan pikiran penuh cinta kasih, saya berharap semoga penderitaan yang Anda rasakan bisa berkurang."
Pemuda-pemudi ketika masih berpacaran, mereka sangat memperhatikan pasangannya. Mereka berusaha saling membahagiakan pasangannya. Oleh karena ingin membahagiakan pasangannya, perasaan mereka dipenuhi kebahagiaan. Tetapi setelah menikah, biasanya mereka mulai banyak berharap kepada pasangannya.
Mereka menuntut pasangannya untuk ini dan itu, menuntut pasangannya untuk bersikap begini dan begitu. Ketika mereka mulai memikirkan diri sendiri dan mulai banyak menuntut, pada saat itulah penderitaan mulai datang.
Penderitaan datang saat kita menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Sebaliknya, kebahagiaan datang justru saat kita ingin membahagiakan orang lain.
SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA! <3
Sabtu, 18 Januari 2014
5 macam faedah mendengarkan Dhamma
DHAMMASSAVANANI-SAMSA 5 : 5 macam faedah mendengarkan Dhamma.
@>-- (I) Assutam sunati: Seorang yang mendengarkan Dhamma adalah seperti mendengarkan hal-hal yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
@>-- (II) Sutam- pariyodapeti: Hal-hal yang telah ia dengar sebelumnya tetapi belum jelas, maka dengan mendengarkan Dhamma ia akan mengerti dengan lebih jelas.
@>-- (III) Kankham- vihanati:
Mendengarkan Dhamma dapat menghilangkan keraguan mengenai Ajaran-Nya (Dhamma).
@>-- (IV) Ditthi ujum karoti: Mendengarkan Dhamma dapat memberikan pengertian benar.
@>-- (V) Cittamassa- pasidati: Pikiran orang yang mendengarkan Dhamma akan menjadi terang dan bahagia.
(Anguttaranikaya III.248).
###############
@>-- PANJIKA Pembabar Dhamma @>--
###############
@>-- (I) Assutam sunati: Seorang yang mendengarkan Dhamma adalah seperti mendengarkan hal-hal yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
@>-- (II) Sutam- pariyodapeti: Hal-hal yang telah ia dengar sebelumnya tetapi belum jelas, maka dengan mendengarkan Dhamma ia akan mengerti dengan lebih jelas.
@>-- (III) Kankham- vihanati:
Mendengarkan Dhamma dapat menghilangkan keraguan mengenai Ajaran-Nya (Dhamma).
@>-- (IV) Ditthi ujum karoti: Mendengarkan Dhamma dapat memberikan pengertian benar.
@>-- (V) Cittamassa- pasidati: Pikiran orang yang mendengarkan Dhamma akan menjadi terang dan bahagia.
(Anguttaranikaya III.248).
###############
@>-- PANJIKA Pembabar Dhamma @>--
###############
Selasa, 24 Desember 2013
Hinayana, Sebuah Mitos Kuno
Hinayana, Sebuah Mitos Kuno
Beberapa di antara kita mungkin sering mendengar bahkan
mungkin ada yang menggunakan istilah Hinayana (Sanskerta: Hīnayāna). Ada yang
berpendapat bahwa Hinayana adalah salah satu aliran/sekte atau tradisi dari
Buddhisme yang berarti Kendaraan Kecil. Dan ada yang berpendapat bahwa aliran
Hinayana adalah aliran Theravāda. Dan ada juga yang berpendapat bahwa Hinayana
berarti kendaraan berkapasitas kurang? Benarkah demikian ? Mari kita ulas.
Kerancuan
Pada masa sekarang terjadi kerancuan dalam umat Mahāyāna
ataupun Vajrayāna di dalam menggunakan istilah Hīnayāna. Mereka menerapkan
istilah Hīnayāna dengan tiga cara penggunaan yang berbeda, yaitu:
- Dalam pemahaman sejarah; aliran Pra-Mahāyāna di anggap sebagai Hīnayāna.
- Theravāda modern dianggap sebagai Hīnayāna.
- Istilah Hīnayāna digunakan sebagai bagian internal dari ajaran Mahāyāna.
Mari kita lihat lebih dekat tiga cara penggunaan tersebut.
- Beberapa orang menyatakan bahwa kata Hīnayāna adalah sebagai istilah untuk mengacu pada aliran lebih awal dari Buddhisme dan penggunaan istilah ini hanya digunakan pada masa lalu saja. Hal Ini tidaklah benar. Ternyata penggunaan istilah Hīnayāna tidak hanya ditemukan dan digunakan pada masa lalu saja tetapi juga dapat ditemukan di beberapa karya referensi modern dan dalam kepustakaan spesial lainnya, sebagai contoh dapat ditemukan di Buddhist Philosophy In Theory and Practice, H.V. Guenther, yang mengutip sebuah karya Tibet dari abad ke-18 dan 20.
- Sebagai contoh mengenai kerancuan Theravāda yang dianggap sebagai Hīnayāna, terdapat dalam kutipan Bibliografi Jane Hope (Jane Hope pernah belajar kepada Chögyam Trungpa Rinpoche), Buddha for beginners, dicetak tahun 1995, berikut terjemahan dari versi Norwegia dari kutipan tersebut: ”Buddhisme Hīnayāna. Suatu pengenalan yang baik untuk tradisi Hīnayāna adalah ’What the Buddha Taught’, karya Walpola Rahula … Berasal dari sudut pandang masa sekarang dan ditulis oleh dua orang Barat yang berlatih tradisi Theravāda, adalah… Seeking the Heart of Wisdom, oleh Joseph Goldstein & Jack Kornfield …”
- Sekarang untuk kerancuan yang kuat, terdapat dalam Buddhisme Tibet. Beberapa orang mengatakan bahwa Hinayana dan Mahayana pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dua sikap spiritual yang berbeda, dan dikutip dari Bab ke-7 (“Loving Kindness and Compassion“) dari karya Tibet klasik, The Jewel Ornament of Liberation, yang ditulis pada abad ke-10, dimana penulis, Jé Gampopa mengacu Hīnayāna sebagai “kapasitas sedikit” (“theg pa dman pa“). Paragrafnya terbaca sebagai berikut: “Berhubungan dengan kebaikan diri atas kedamaian semata (1) menandakan suatu sikap kapasitas yang rendah (2) dimana keinginan untuk menghapus penderitaan hanya dipusatkan pada dirinya sendiri. Dengan penghindaran penghargaan terhadap orang lain ini maka hanya ada sedikit pengembangan akan kepedulian terhadap yang lain. [...] Ketika Kasih Sayang dan Belas Kasih menjadi satu, begitu banyak rasa keperdulian terhadap kesadaran makhluk-makhluk lain sehingga seseorang tidak bisa hanya membebaskan dirinya sendiri saja. [...] Guru Manjushrikirti pernah mengatakan: ’Pengikut Mahāyāna seharusnya tidak tanpa memiliki kasih sayang dan belas kasih meskipun sekejap saja’, dan’bukanlah kemarahan dan kebencian tetapi kasih sayang dan belas kasih-lah yang bersedia memberikan kesejahteraan orang lain’.”
Catatan kaki pada bagian buku ini adalah sebagai berikut:
(1) Kata zhi ba dalam bahasa Tibet berarti ”damai”(peace).
Kata ini diterjemahkan sebagai ”kedamaian semata” (mere peace), karena
kata ini digunakan oleh Gampopa untuk menunjukkan hubungan kedamaian tanpa
belas kasih yang merupakan hasil dari pengembangan meditasi konsentrasi semata
saja.
(2)
Hīnayāna: ”kapasitas sedikit” sering diterjemahkan sebagai ”kendaraan kecil”.
Istilah ini menyiratkan kemampuan untuk membawa beban. Dalam kasus ini beban
tersebut adalah diri sendiri sejak seseorang berkomitmen untuk membawa diri
sendiri pada pembebasan sendiri, bukan semua orang (dalam hal ini Mahāyāna,
”kapasitas besar”).
Masalah dan kerancuan di sini tentunya bukanlah sebuah
analisa yang mengacu secara langsung pada kata hīnayāna dalam bahasa
Pāli/Sanskerta, tetapi mengacu pada terjemahan bahasa Tibet “theg pa dman pa“.
Inilah kunci permasalahannya.
Pengertian Hīnayāna
Kita mulai dengan pengertian dari kata hinayana. Kata
hinayana bukanlah berasal dari bahasa Tibet, bukan berasal dari bahasa China,
Inggris ataupun Bantu, tetapi berasal dari bahasa Pāli dan Sanskerta. Oleh
karena itu, satu-satunya pendekatan yang masuk akal untuk menemukan arti dari
kata tersebut, adalah mempelajari bagaimana kata hinayana digunakan dalam teks Pāli
dan Sanskerta.
Kata hīnayāna (hiinayaana) berasal dari 2 kata, yaitu ”hīna”
dan ”yāna”. Kata ”yāna” berarti kendaraan, tidak ada yang berselisih paham
mengenai kata ini. Sedangkan beberapa orang mengatakan kata ”hīna” adalah lawan
dari kata ”mahā”. Padahal bila kita menengok bahasa Sanskerta maupun bahasa
Pāli, lawan kata dari kata ”mahā” yang berarti besar bukanlah ”hīna” tetapi
kata “cūḷa” (cuula) yang berarti ”kecil”. Lalu apakah arti kata ”hīna”? Kata
”hīna” sendiri berarti rendah, buruk, amoral. Hal ini dapat dibuktikan dengan
kata ”hina” dalam kosakata bahasa Indonesia yang sedikit banyak dipengaruhi
oleh bahasa Sanskerta.
Selain itu, di dalam kitab Pāli, dimana setiap Buddhis tentu
tahu kotbah pertama Sang Buddha yaitu Dhammacakkappavattana Sutta, sebuah
kotbah yang disampaikan kepada lima petapa yang menjadi lima bhikkhu pertama,
di dalamnya terdapat kata ”hīna”. Sang Buddha bersabda: ”Dua pinggiran yang
ekstrim, O para bhikkhu, yang harus dihindari oleh seseorang bhikkhu (yang
meninggalkan keduniawian). Pinggiran ekstrim pertama ialah mengumbar
napsu-napsu, kemewahan, hal yang rendah (hīna), kasar, vulgar, tidak mulia,
berbahaya…”
Mengingat bahwa sutta memiliki gaya yang sering mengunakan
kata-kata yang bersinonim, sehingga saling menguatkan dan menjelaskan satu sama
yang lain, maka dalam hal ini dapat dilihat bahwa, kasar, vulgar, tidak mulia,
berbahaya adalah sebagai definisi pelengkap dari kata ”hīna”.
Di sini Sang Buddha menunjukkan dengan jelas bahwa jalan
yang harus dihindari untuk dilatih merupakan sesuatu yang hīna.
Dalam teks Pāli dan komentar lainnya, hīna sering digunakan
dalam kombinasi kata hīna-mājjhima-paṇīta, yaitu : buruk – menengah –
baik. Dalam konteks hīna-majjhima-paṇīta (atau kadang hanya hīna-
paṇīta), kata ”hīna” selalu digunakan sebagai suatu istilah untuk
kualitas yang dihindari seperti kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin.
Hal ini jelas bahwa kata ”hīna” berarti ”rendah, yang harus dihindari,
tercela”, dan bukannya ”kecil” atau ”kurang”.
Sekarang dalam teks Sanskerta. Dalam Lalitavistara
kita dapat menemukan versi Dhammacakkappavattana Sutta, dimana kata
”hīna” digunakan tepat seperti kutipan dalam sutta versi Pāli.
Dalam Mahayanasutralankara karya Asaṅga, yang
mewakili seluruh teks Mahāyāna, kita menemukan sesuatu yang menarik bagi
pertanyaan kita. Asaṅga mengatakan: ”Ada tiga kelompok manusia: hīna-madhyama-vishishta…(buruk-menengah-terbaik).”
Ungkapan ini sesuai dengan teks Pāli: hīna-majjhima-paṇīta, dan ini
menunjukkan bahwa umat Mahāyāna yang menggunakan istilah ”hīnayāna”, melihat
”hīna” sebagai istilah penjelekkan (penghinaan), dengan arti yang sama seperti
dalam teks Pāli.
Teks yang sangat menarik yaitu edisi dari Catushparishatsutra
dimana teks tersebut di tampilkan dalam 4 kolom sejajar: terjemahan Sanskerta, Pāli
(Mahāvagga), Tibet dan Jerman yang berasal dari versi bahasa China. Di sini,
kembali, kita menemukan Dhammacakkappavattana Sutta. Kita telah melihat
terjemahannya dalam bahasa Sankerta dan Pāli. Versi Jerman dari bahasa China
mengatakan: “Erstens: Gefallen zu finden an und anzunehmen die niedrigen und
üblen Sitten der gewöhnliche Personen …” Sedikit kurang jelas apakah kata “niedrigen”
(rendah, tercela) atau kata “üblen” (jahat, buruk) yang berhubungan
dengan ”hīna”. Tapi pada akhirnya, jelas bahwa konotasi yang sangat negatif
dari kata ”hīna” telah terbawa ke dalam terjemahan bahasa China.
Dalam kolom terjemahan bahasa Tibet, kita menemukan kata
Tibet “dman-pa” berhubungan dengan kata ”hīna” dalam bahasa Sanskerta,
sesuai dengan kutipan Jé Gampopa di atas. Dan di sini kita memiliki penyebab
dari kerancuan dan kesalahpahaman selanjutnya atas istilah hīnayāna. Mari kita
lihat kamus bahasa Tibet-Inggris tentang “dman-pa“: Kamus Sarat Chandra
Das mengatakan : ” dman-pa: sedikit (Inggris: low) mengacu pada kuantitas
atau kualitas, kecil (Inggris: little)”. Kamus Jäschke bahkan lebih
menjelaskan: “dman-pa“: 1. sedikit (Inggris: low), mengacu pada
kuantitas, kecil (Inggris: little). 2. mengacu pada kualitas: acuh tak
acuh (indifferent), hina/buruk (Inggris: inferior) (Sanskerta: hīna).”
Berdasarkan hal itu nampaknya kata hīna dalam bahasa
Sanskerta, tanpa diragukan lagi berarti ”kualitas rendah/buruk” yang
diterjemahkan dalam bahasa Tibet sebagai ”dman-pa” memiliki dua arti
yaitu ”kualitas rendah” dan ”kuantitas sedikit”. Dan petikan dari Jé Gampopa di
atas nampaknya mengindikasikan bahwa banyak orang Tibet untuk selanjutnya
membaca pada arti yang terakhir dari kedua arti tersebut sebagai ”kapasitas
sedikit”, ”kapasitas kecil”, jadi artinya mengalami distorsi dari ”kualitas
rendah/buruk” menjadi ”kuantitas sedikit ”.
Dengan demikian kita melihat bahwa kerancuan timbul dari
fakta bahwa kata ”dman-pa” memiliki dua arti dalam bahasa Tibet.
Hīnayāna – semula berarti ”kendaraan kualitas buruk.” – yang kemudian memiliki
arti baru ”kendaraan kapasitas rendah”. Tapi hal ini berasal dari cara yang
salah. Tentu adalah sebuah kesalahan menerapkan suatu arti dalam bahasa Tibet
yang baru ke dalam bahasa Sanskerta/Pāli, dan mengatakan, ”Inilah arti dari
Hīnayāna, karena inilah bagaimana para Guru di Tibet menjelaskannya.” Apa
yang para Guru Tibet jelaskan adalah kata ”dman-pa” dalam bahasa Tibet,
bukan kata hīna dalam bahasa Sanskerta.
Oleh karena itu jelas sudah bahwa seseorang tidak dapat
menyatakan bahwa hīnayāna memiliki pengertian yang ”lembut” seperti yang
diberikan oleh tradisi Tibet melalui kata ”dman-pa”. Hīnayāna bukanlah
bahasa Tibet, tetapi Sanskerta/Pāli, dan memiliki arti yang kasar, arti yang
bersifat menghina yang tidak dapat dirubah oleh usaha perlunakkan apapun.
Hīnayāna sebuah aliran Buddhisme?
Di mulai pada Sidang Agung Sangha ke-2 dimana Buddhisme
terbagi menjadi dua. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan terhadap
beberapa peraturan minor dalam Vinaya (peraturan para bhikkhu), di sisi lain
kelompok yang ingin mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin
perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahāsāṃghika yang merupakan
cikal bakal Mahāyāna. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut
Sthaviravāda.
Sidang Agung Sangha ke-3 (abad ke-3 SM), Sidang ini hanya
diikuti oleh kelompok Sthaviravāda. Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah
Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku
Kathāvatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu
pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan
oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipiṭaka ini ke
Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma
di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravāda.
Setelah Sidang Agung Sangha ke-3, Buddhisme terdiri dari 18
aliran yaitu:
(1) Thera-vadino (Sthaviravāda), (2) Vajjiputtaka
(Vatsīputrīya), (3) Mahigsasaka (Mahīśāsaka), (4) Dhammuttarika
(Dharmottarīya), (5) Bhaddayanika (Bhadrayānīya), (6) Channagarika
(Sannāgarika), (7) Sammitiya (Sammitīya), (8) Sabbatthivada (Sarvāstivāda), (9)
Dhammaguttika (Dharmaguptaka), (10) Kassapika (Kāśyapīya), (11) Sankantika
(Samkrantika), (12) Suttavada (Sautrāntika), (13) Mahasamghika (Mahāsaṃghika),
(14) Gokulika, (15) Ekabyoharika (Ekavyāvahārika), (16) Bahulika (Bahuśrutīya),
(17) Pannatti-vada (Prajñaptivāda), (18) Cetiya-vada (Caitika).
Banyak hal-hal yang terjadi pada masa itu di India Pusat. Di
antaranya adanya beberapa kelompok bhikkhu yang menjalankan Buddha Dhamma
secara ekstrim dengan hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal
yang utama yaitu praktek dan pengamalan. Kemudian kelompok lain yang memegang
prinsip pengamalan mulai melakukan kritik dan menerapkan konsep
bodhisatta/bodhisattva, namun mereka pun menjadi ekstrim sehingga menciptakan
figur-figur bodhisatta/bodhisattva.
Akhirnya antara abad ke-1 SM sampai abad ke-1 M, muncullah Saddharma
Pundarika Sutra dengan istilah hīnayāna dan mahāyāna. Dan sekitar abad ke-2
M, aliran Mahāyāna menjadi nyata dan utuh setelah Nāgārjuna mengembangkan
filsafat Sunyata dalam teks kecil yaitu Madhyamakakārikā. Abad ke- 4 M ,
Asaṅga dan Vasubandhu menulis banyak karya mengenai Mahāyāna.
Dari sejarah yang telah di sampaikan di atas, tidak ada
aliran yang bernama Hīnayāna pada 18 aliran Buddhsime terdahulu. Lalu siapa
yang dimaksud dengan Hīnayāna dalam Sutra Lotus? Apakah Theravāda? Tidak,
ketika Mahāyāna muncul dengan Sutra Lotus-nya, Theravāda yang dulunya bernama
Sthaviravāda telah ”hijrah” atau ”beremigrasi” ke Sri Lanka dan ketika
perdebatan Mahāyāna-Hīnayāna terjadi, sukar untuk menghitung aliran mana yang
mendominasi di India Pusat. Aliran tua yang sangat berpengaruhi saat itu adalah
Sarvāstivāda, jadi mungkin saja aliran ini, tapi sukar dikatakan jika hanya
aliran ini saja yang merupakan target satu-satunya dari ejekan “Hīnayāna”.
Sekarang Sarvāstivāda dan aliran-aliran Buddhisme lain di
India Pusat yang ada pada saat itu sudah lama mati, kecuali Theravāda. Tidak
bisa dipastikan siapa sebenarnya Hīnayāna itu. Hīnayāna itu tidak ada. Hinayana
hanyalah sebuah mitos.
Istilah hīnayāna yang berkonotasi negatif ini hanya bisa
dipastikan sebagai suatu kritikan bahkan ejekan untuk aliran terdahulu yang
masih ada pada waktu itu yang melakukan hal yang tidak sesuai Dhamma dan Vinaya
seperti misalnya hanya mementingkan intelektual semata dan lupa dengan hal yang
utama yaitu praktek dan pengamalan. Istilah ”hīnayāna” tidak lain juga
merupakan bentuk defensive kelompok Mahāyāna terhadap kritikan dari aliran lama
yang mengkritik umat Mahāyāna, khususnya mengenai penciptaan sutra-sutra baru
dan ”penempaan” sabda-sabda Sang Buddha. Demikianlah mengapa istilah hīnayāna
mendapat sebutan ”miring” sebagai aliran yang mementingkan pribadi. Dan istilah
”hīnayāna” ini terus berlangsung dan dipegang oleh beberapa umat Mahāyāna dan
Vajrayāna untuk menamai aliran/sekte di luar Mahāyāna dan Vajrayāna.
Pada tahun 1950, World Fellowship of Buddhists dalam World
Council di Colombo telah menyepakati bersama bahwa istilah hīnayāna harus
disingkirkan dari penamaan terhadap aliran lain. Dan sangat disayangkan jika
dewasa ini masih ada yang memegang mitos ini sampai sekarang.
-Selesai-
Kepustakaan:
The
Myth of Hinayana – Kare A. Lie
Theravada – Mahayana Buddhism – Ven. Dr. W. Rahula
Two Main Schools of Buddhism – Ven. K. Sri Dhammananda
The Sects of the Buddhists, T. W. Rhys Davids, The Journal of the Royal Asiatic Society,1891
The Lotus Sutra – Soothill And Kern
Theravada – Mahayana Buddhism – Ven. Dr. W. Rahula
Two Main Schools of Buddhism – Ven. K. Sri Dhammananda
The Sects of the Buddhists, T. W. Rhys Davids, The Journal of the Royal Asiatic Society,1891
The Lotus Sutra – Soothill And Kern
Disusun oleh:
Bhagavant.com
Senin, 23 Desember 2013
Bagaimana Sang Buddha Wafat
Bagaimana Sang Buddha Wafat
Selama hari Vesak (Waisak), kita
telah diberitahu bahwa hari itu juga merupakan hari dimana Sang Buddha mencapai
Parinibbana. Tetapi tidak banyak orang mengetahui bagaimana Sang Buddha wafat.
Teks-teks kuno menampilkan dua kisah tentang wafatnya Sang Buddha. Apakah
wafatnya Sang Buddha direncanakan dan merupakan kehendak Sang Buddha, atau
apakah karena keracunan makanan, atau ada hal lain yang berkaitan satu sama
dengan yang lain? Inilah jawabannya.
Mahāparinibbāna Sutta,
yang merupakan kotbah panjang dalam Tipitaka Pali, tidak diragukan lagi
merupakan sumber yang paling dapat dipercaya untuk perincian atas wafatnya
Siddhattha Gotama (563-483 SM), Sang Buddha. Mahāparinibbāna Sutta disusun
dalam bentuk naratif yang membiarkan para pembaca untuk mengikuti kisah
hari-hari terakhir Sang Buddha, yang dimulai dari beberapa bulan sebelum Beliau
wafat.
Walaupun demikian, untuk
memahami apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Sang Buddha adalah suatu hal
yang tidak sederhana. Sutta, atau kotbah, melukiskan dua kepribadian Sang
Buddha yang saling bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang lainnya.
Kepribadian Sang Buddha yang
pertama adalah sebagai pembuat keajaiban yang menyeberangkan diri-Nya dan
rombongan para bhikkhu ke seberang Sungai Gangga (D II, 89), Yang dengan mata
batin melihat keberadaan para dewa di atas bumi (D II, 87), Yang dapat hidup
sampai akhir dunia dengan syarat seseorang mengundang-Nya untuk melakukan hal
itu (D II, 103), Yang menentukan waktu kemangkatan-Nya (D II, 105), dan Yang
kemangkatan-Nya dimuliakan dengan hujan bunga surgawi, serbuk kayu cendana dan
musik surgawi (D II, 138).
Kepribadian Sang Buddha yang
lainnya adalah sebagai layaknya makhluk berusia lanjut yang jatuh sakit (D II,
120), Yang hampir kehilangan hidup-Nya karena sakit yang teramat sangat selama
masa vassa-Nya (retreat musim hujan) yang terakhir di Vesali (D II,
100), dan Yang harus menghadapi penyakit dan kemangkatan-Nya yang tak
diduga-Nya setelah mengkonsumsi hidangan khusus yang ditawarkan oleh
penjamu-Nya yang dermawan.
Dua kepribadian ini bergantian
muncul dalam bagian-bagian yang berbeda dari cerita naratif tersebut. Lebih
dari itu, di dalamnya juga nampak dua penjelasan mengenai penyebab mangkatnya
Sang Buddha : Yang pertama, kemangkatan Sang Buddha disebabkan oleh
pengiring-Nya, Ananda, yang gagal mengundang Sang Buddha untuk tetap hidup
sampai akhir dunia atau bahkan lebih lama dari itu (D II, 117). Yang kedua
adalah bahwa Sang Buddha mangkat karena sakit yang mendadak yang dimulai setelah
Beliau makan makanan yang dikenal sebagai “Sukaramaddava” (D II,
127-157).
Kisah yang pertama mungkin suatu
legenda, atau hasil dari suatu pergumulan politik di dalam komunitas Buddhis
selama tahap transisi, sedangkan kisah yang terakhir terdengar lebih realistis
dan akurat dalam menggambarkan situasi kehidupan nyata yang terjadi di dalam
hari-hari terakhir Sang Buddha.
Sejumlah studi telah memusatkan
perhatian pada asal-muasal hidangan khusus yang dimakan oleh Sang Buddha selama
makanan terakhir-Nya sebagai penyebab kemangkatan-Nya. Bagaimanapun juga, ada
pendekatan lain yang didasarkan pada deskripsi tentang gejala-gejala dan
tanda-tanda yang diberikan dalam Sutta, yang bisa dijelaskan oleh pengetahuan
medis modern.
Dalam salah satu lukisan dinding
yang berada di Wat (Vihara) Ratchasittharam, Sang Buddha dalam keadaan
mendekati ajal-Nya, tetapi Beliau masih menyempatkan diri untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh petapa Subhadda, yang menjadi siswa
terakhir-Nya, yang setelah ditahbis menjadi anggota sangha, kemudian menjadi
seorang Arahat.
Apa yang kita ketahui
Dalam Mahāparinibbāna Sutta,
kita diberitahukan bahwa Sang Buddha menderita sakit secara tiba-tiba setelah
Beliau memakan suatu hidangan khusus yang lezat, Sukaramaddava, yang secara
harafiah diterjemahkan sebagai “daging babi lunak”, yang telah disiapkan oleh
penjamu dermawan-Nya, Cunda Kammaraputta. Nama dari hidangan tersebut menarik
perhatian dari banyak sarjana, dan hal itu menjadi fokus dari riset akademis
terhadap asal muasal makanan hidangan atau bahan baku yang digunakan di dalam
memasak hidangan khusus ini.
Sutta tersebut sendiri selain
memberikan detil-detil yang berkaitan dengan tanda-tanda dan gejala-gejala dari
penyakit Sang Buddha, juga menyertakan beberapa informasi yang dapat diandalkan
mengenai keadaan Sang Buddha selama empat bulan sebelumnya, dan uraian ini juga
sangat berarti secara medis.
Sutta tersebut di awali dengan rencana Raja
Ajatasattu untuk menaklukkan negara saingannya, kerajaan Vajji. Sang Buddha melakukan
perjalanan ke Vajji untuk menjalankan vassa (retret musim hujan)
terakhir-Nya. Saat vassa inilah Beliau jatuh sakit. Gejala dari
penyakiNya adalah tiba-tiba dan sakit yang teramat sangat.
Namun, sutta tersebut tidak
memberikan gambaran atas letak dan karakter dari sakit-Nya tersebut. Sutta
menyebutkan penyakit-Nya secara singkat, dan mengatakan bahwa sakitnya sangat
keras, dan hampir membunuhnya.
Sesudah itu, Sang Buddha
dikunjungi oleh Mara, Dewa Kematian, yang mengundang Beliau untuk mangkat. Sang
Buddha tidak menerima undangan dengan segera. Hanya setelah Ananda,
pengiring-Nya, gagal untuk mengenali isyarat yang diberikan-Nya mengenai
kemangkatan Beliau. Sepotong pesan ini, meskipun terkait erat dengan mitos dan
hal supernatural, memberikan kita beberapa informasi medis yang sangat berarti.
Saat sutta ini disusun, penulisnya berada dalam keadaan terkesan bahwa Sang
Buddha wafat bukan oleh karena makanan yang Beliau makan, tetapi dikarenakan
Beliau telah memiliki penyakit yang serius dan akut serta memiliki
gejala-gejala yang sama dengan penyakit yang pada akhirnya membuat-Nya mangkat.
Waktu Peristiwa
Umat Buddha tradisi Theravada
berpegang pada asumsi bahwa Buddha Historis wafat pada malam bulan purnama
dalam penanggalan bulan di bulan Vesakha (yang kadangkala jatuh pada bulan Mei
sampai Juni). Tetapi waktu tersebut bertolak belakang dengan informasi yang
terdapat dalam Sutta, dimana secara jelas bahwa Sang Buddha segera mangkat
setelah masa vassa (retreat musim hujan), kemungkinan besar adalah
pada musim gugur atau pertengahan musim dingin, yaitu antara bulan November
hingga Januari.
Uraian tentang keajaiban akan
mekarnya daun-daun dan bunga-bunga pada pohon-pohon sala ketika Sang Buddha
berbaring di antaranya, menunjukkan periode waktu yang diberikan dalam sutta.
Bagaimanapun juga, musim gugur
dan musim dingin adalah musim yang tidak cocok untuk pertumbuhan jamur, yang
menurut beberapa sarjana dipercaya sebagai sumber racun yang dimakan Sang
Buddha selama memakan makanan terakhir-Nya.
Diagnosa
Sutta tersebut menceritakan
kepada kita bahwa Sang Buddha jatuh sakit dengan seketika setelah menyantap Sukaramaddava.
Karena kita tidak mengetahui segalanya tentang sifat dasar makanan ini, menjadi
sukar bagi kita untuk mengatakannya sebagai penyebab langsung dari penyakit
Sang Buddha. Tetapi dari uraian yang diberikan, diketahui bahwa serangan
penyakit tersebut berlangsung cepat.
Ketika menyantap, Sang Buddha
merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan makanan itu dan Beliau menyarankan
penjamu-Nya untuk menguburkan makanan tersebut. Segera setelah itu, Sang Buddha
menderita sakit perut yang parah dan mengeluarkan darah dari rektum-Nya.
Masuk akal untuk kita
mengasumsikan bahwa penyakit itu dimulai ketika Sang Buddha sedang menikmati
makanan-Nya, sehingga membuat-Nya berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan
makanan yang tidak familiar itu. Karena kasih sayang-Nya kepada orang lain,
maka Beliau sarankan agar makanan itu dikubur.
Apakah makanan yang beracun
sebagai penyebab dari penyakit itu? Sepertinya tidak demikian. Gejala-gejala
yang diuraikan tersebut tidak mengindikasikan keracunan makanan, yang bisa
sangat akut , tetapi dapat dipastikan menyebabkan diare dengan darah. Umumnya,
makanan beracun disebabkan oleh bakteri yang tidak segera membelah diri, tetapi
mengalami suatu masa inkubasi selama dua sampai 12 jam untuk membelah diri,
umumnya disertaii bahan kimia beracun menjad dengan diare dan muntah-muntah
yang akut, bukan dengan pendarahan.
Kemungkinan yang lain adalah
bahan kimia beracun, yang juga memiliki efek cepat, tetapi bukanlah hal yang
biasa bagi penyebab pendarahan usus yang sangat parah. Makanan yang beracun
dengan pendarahan usus langsung hanya bisa disebabkan oleh bahan kimia yang
bersifat menghancurkan (korosif) seperti asam cuka yang keras, yang dapat
dengan mudah menimbulkan penyakit seketika. Tetapi bahan kimia yang bersifat
menghancurkan tersebut sudah pasti akan menyebabkan pendarahan pada usus bagian
atas, yang menimbulkan muntah darah. Tidak satu pun tanda-tanda parah tersebut
disebutkan dalam teks.
Penyakit-penyakit radang dinding
lambung juga dapat diabaikan dari daftar penyakit tersebut. Meskipun faktanya
bahwa penyakit ini menyerang dengan cepat, penyakit ini jarang diikuti oleh
kotoran (feces) berdarah. Radang lambung dengan pendarahan usus
menghasilkan kotoran berwarna hitam ketika radang menembus suatu pembuluh
darah. Tukak pada saluran pencernaan yang lebih atas akan lebih memungkinkan
mengakibatkan muntah darah, bukan pendarahan melalui rektum.
Bukti lain yang menyangkal
kemungkinan ini adalah seorang pasien dengan radang lambung yang besar pada
umumnya tidak mempunyai selera makan. Dengan menerima undangan untuk makan
siang bersama sang penjamu, kita dapat berasumsi bahwa Sang Buddha merasa
sesehat yang dirasakan orang manapun yang berada di awal usia 80-Nya. Dengan
usia-Nya yang demikian, kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa Sang
Buddha tidak mempunyai suatu penyakit kronis, seperti TBC atau kanker atau
suatu infeksi/peradangan tropis seperti penyakit tipus atau disentri, yang
sangat lazim di jaman-Nya.
Penyakit-penyakit ini bisa
mengakibatkan pendarahan usus bawah, tergantung pada letaknya.
Penyakit-penyakit ini juga sesuai dengan sejarah dari penyakit awal Sang Buddha
sepanjang masa vassa (retreat musim hujan). Tetapi penyakit-penyakit
ini dapat dikesampingkan, karena pada umumnya penyakit-penyakit ini diikuti
oleh gejala lain, seperti kelesuan, hilangnya selera makan, penurunan berat
badan, busung atau buncit pada perut bagian bawah (abdomen). Tidak satu pun
gejala tersebut di sebutkan dalam sutta.
Wasir besar dapat menyebabkan
pendarahan parah pada daerah pembuangan, tetapi sepertinya wasir mustahil dapat
menyebabkan sakit yang sangat parah pada perut bagian bawah (abdomen) kecuali
jika tersumbat. Tetapi hal itu akan sangat mengganggu perjalanan Sang Buddha ke
rumah penjamu-Nya, dan jarang sekali pendarahan wasir disebabkan oleh makanan.
Infarksi Mesenterika (Mesenteric
Infarction)
Penyakit yang sesuai dengan gejala-gejala
yang yang telah dideskripsikan, yang disertai rasa sakit hebat pada perut
bagian bawah (abdominal) dan mencret darah, umumnya ditemukan pada orang-orang
usia lanjut, dan dipicu oleh makanan adalah infarksi mesenterika/mesenteric
infarction (terganggunya jaringan pembuluh darah sekita usus), yang
disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di mesenteri. Hal ini sangat
mematikan. Iskemia Mesenterika akut (berkurangnya suplai darah ke
mesenteri)adalah suatu kondisi yang parah dengan resiko kematian yang tinggi.
Mesenteri adalah bagian dari
dinding usus yang mengikat keseluruhan bidang usus sampai rongga abdominal.
Terhambatnya suplai darah di sekitar usus biasanya menyebabkan kematian pada
jaringan tisu di bagian besar dari saluran usus bagian akhir (intestinal
tract), yang akan mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran usus
bagian akhir.
Secara normal hal ini
menghasilkan sakit yang teramat sangat pada perut bagian atas (abdomen) dan
mencret darah. Pasien pada umumnya meninggal karena kekurangan darah yang
sangat parah. Kondisi ini sesuai dengan informasi yang diberikan dalam sutta.
Hal ini juga dikuatkan kemudiannya ketika Sang Buddha meminta Ananda untuk
mengambil sedikit air untuk-Nya untuk diminum, yang menandakan Beliau sangat
haus.
Seperti yang dikisahkan, Ananda
menolak, karena Ananda tidak menemukan sumber air bersih. Ananda berargumen
dengan Sang Buddha bahwa aliran sungai yang terdekat telah dikeruhkan oleh
rombongan kereta besar. Tetapi Sang Buddha meminta Ananda dengan tegas untuk mengambil
air bagaimanapun juga.
Sebuah pertanyaan muncul pada
poin ini: Mengapa Sang Buddha tidak pergi sendiri saja ke sumber air, daripada
mendesak Ananda yang enggan untuk melakukannya? Jawabannya sederhana. Sang
Buddha sedang menderita syok yang disebabkan oleh kehilangan banyak darah.
Beliau tidak mampu berjalan lagi, dan dari saat itu sampai ke tempat
peristirahatan terakhir-Nya Beliau hampir dapat dipastikan berada dalam tandu.
Jika situasinya memang demikian,
sutta tidak mengisahkan tentang perjalanan Sang Buddha ke peristirahatan
terakhirnya, kemungkinannya karena si penulis merasa bahwa hal itu akan
memalukan Sang Buddha. Secara geografis, kita mengetahui bahwa jarak antara
tempat yang di percaya sebagai rumah Cunda dengan tempat dimana Sang Buddha
mangkat adalah sekitar 15 sampai 20 kilometer. Tidaklah mungkin bagi seorang
pasien penderita penyakit yang mematikan seperti itu untuk berjalan kaki dengan
jarak seperti itu.
Lebih memungkinkan, apa yang
terjadi adalah Sang Buddha dibawa dalam sebuah tandu oleh sekelompok bhikkhu ke
Kusinara (Kushinagara).
Yang menjadi point perdebatan
adalah apakah Sang Buddha benar-benar bertekad untuk mangkat di kota ini
(Kusinara), mengingat bahwa kota ini diperkirakan tidak lebih besar dari dari
sebuah kota kecil. Dari arah perjalanan Sang Buddha yang diberikan dalam sutta,
Beliau menuju ke utara dari Rajagaha. Ada kemungkinan Beliau tidak berniat
untuk mangkat di sana, tetapi di kota tempat kelahiran-Nya dimana membutuhkan
waktu tiga bulan untuk sampai ke sana.
Dari sutta, sudah jelas bahwa
Sang Buddha tidak mengantisipasi penyakit mendadak-Nya, jika tidak, Beliau
tidak akan menerima undangan penjamu-Nya. Kusinara mungkin merupakan kota yang
terdekat dimana Beliau bisa menemukan seorang dokter untuk merawat diri-Nya.
Tidaklah sukar untuk membayangkan sekelompok bhikkhu dengan terburu-buru
membawa Sang Buddha di atas sebuah tandu menuju ke kota yang terdekat untuk
menyelamatkan hidup-Nya.
Sebelum mangkat, Sang Buddha
menjelaskan kepada Ananda untuk tidak menyalahkan Cunda atas kemangkatan-Nya
dan Beliau mangkat bukan disebabkan memakan Sukaramaddava. Pernyataan
ini sangat penting. Makanan tersebut bukanlah penyebab secara langsung atas
kemangkatan-Nya. Sang Buddha mengetahui bahwa gejala penyakit yang muncul
merupakan gejala yang pernah Beliau alami beberapa bulan lebih awal, yang telah
hampir membunuh-Nya.
Sukaramaddava, apapun
bahannya ataupun cara memasaknya, bukanlah penyebab langsung dari penyakit
mendadak-Nya.
Tahapan perkembangan
penyakit
Infarksi Mesenterika adalah
suatu penyakit yang biasanya ditemukan di antara orang lanjut usia, disebabkan
oleh penyumbatan pada pembuluh darah utama yang menyuplai bagian tengah dinding
saluran usus kecil bagian akhir dengan darah. Penyebab yang paling umum dari
penyumbatan ini adalah melemahnya dinding pembuluh darah (vessel),
pembuluh darah besar mesenterika, yang menyebabkan sakit yang teramat sangat
pada perut bagian atas (abdomen), yang juga dikenal sebagai abdominal angina
(keram perut).
Secara normal, rasa sakit dipicu
oleh makanan yang berat (besar), yang memerlukan aliran darah lebih tinggi ke
saluran pencernaan. Ketika penyumbatan terjadi, saluran usus kecil kehilangan
persediaan darahnya , yang kemudian terjadi hambatan suplai darah, atau mati
rasa setempat (gangrene), pada bagian saluran usus akhir (intestinal
tract). Hal ini pada gilirannya mengakibatkan luka sayatan pada dinding saluran
usus akhir, pendarahan yang sangat dalam pada saluran usus akhir, dan kemudian
diare berdarah.
Penyakit menjadi tambah parah
ketika cairan dan isi usus mengalir ke luar melalui rongga peritoneal, sehingga
menyebabkan radang selaput perut atau radang dinding abdominal.
Ini sudah merupakan kondisi yang
mematikan bagi si pasien, yang sering kali meninggal karena kehilangan darah
dan cairan tubuh lainnya. Jika tidak diperbaikan dengan pembedahan, penyakit
ini sering berkembang menjadi syok septik karena masuknya racun-racun bakteri
ke dalam aliran darah.
Analisis Retrospektif
(kebelakang)
Dari hasil diagnosa tersebut di
atas, kita dapat lebih memastikan bahwa Sang Buddha menderita infarksi
mesenterika yang disebabkan oleh penyumbatan pada arterial mesenterika
superior. Inilah penyebab rasa sakit yang hampir saja merenggut ajal Beliau
beberapa bulan lalu saat vassa (retret) musim hujan terakhir-Nya.
Dengan berkembangnya penyakit
itu, sebagian dari selaput lender usus Beliau terkelupas, dan di sinilah yang
menjadi asal muasal pendarahan tersebut. Arteriosklerosis, pengerasan dinding
pembuluh darah akibat penuaan, merupakan penyebab dari tersumbatnya pembuluh
darah, penyumbatan kecil yang tidak akan mengakibatkan diare berdarah, tapi
merupakan gejala, yang juga kita kenal sebagai abdominal angina (keram
perut).
Beliau mendapat serangan kedua
ketika sedangan makan Sukaramaddava. Pada awalnya rasa sakit itu tidak
begitu hebat, tapi membuat Beliau merasa adamana ada peluang untuk menemukan
dokter atau penginapan untuk memulihkan diri-Nya.
Mungkin benar Sang Buddha
menjadi lebih baik setelah minum untuk menggantikan cairan tubuh-Nya yang
hilang, dan beristirahat di atas tandu. Pengalaman dengan gejala-gejala yang
sama memberitahukan Beliau bahwa penyakit-Nya yang tiba-tiba itu adalah
serangan kedua dari penyakit yang sudah ada. Beliau memberitahukan Ananda bahwa
bukan makanan itu sebagai penyebab penyakit-Nya, dan Cunda jangan di salahkan.
Pasien yang mengalami goncangan,
dehidrasi, dan kehilangan banyak darah biasanya merasa sangat dingin. Inilah
sebabnya Beliau meminta pengiring-Nya untuk menyiapkan pembaringan yang dialasi
dengan empat lembar Sanghati. Sesuai dengan disiplin keviharaan (Vinaya),
Sanghati adalah selembar kain atau seprei, yang diijinkan oleh Sang Buddha
untuk dipakai oleh para bhikkhu dan bhikkhuni pada musim dingin.
Informasi ini mencerminkan
betapa Sang Buddha merasa dingin karena kehilangan darah-Nya. Secara klinis,
tidaklah memungkinkan bagi pasien yang sedang dalam keadaan syok dengan rasa
sakit yang hebat di bagian perut, kemungkinan besar mengalami peritonitis atau
peradangan pada dinding perut, pucat, dan sedang menggigil kedinginan, untuk
bisa berjalan.
Kemungkinan terbesar Sang Buddha
diistirahatkan di sebuah penginapan yang terletak di kota Kusinara, di mana
Beliau dirawat dan diberi kehangatan. Pandangan ini juga sesuai dengan
deskripsi tentang Ananda yang menangis, tidak sadarkan diri, dan berpegangan
pada pintu penginapan setelah tahu Sang Buddha akan segera wafat.
Secara normal, pasien yang
menderita infarksi mesenterika dapat hidup 10 sampai dengan 20 jam. Dari sutta
kita tahu Sang Buddha wafat sekitar 15 sampai 18 jam setelah serangan itu.
Selama jangka waktu itu, para pengiring-Nya telah mengusahakan upaya terbaik
mereka untuk menyamankan Beliau, misalnya, dengan menghangatkan kamar
istirahat-Nya, atau dengan meneteskan beberapa tetes air ke mulut Beliau untuk
menghilangkan rasa haus-Nya yang terus-menerus, atau dengan memberikan Beliau
minuman herbal. Namun kecil sekali kemungkinannya pasien yang sedang mengigil
kedinginan akan membutuhkan seseorang untuk mengipasi diri-Nya sebagaimana yang
dideskripsikan dalam sutta.
Beliau mungkin silih berganti
pulih dari kondisi kelelahan sehingga memungkinkan diri-Nya untuk melanjutkan
pembicaraan dengan beberapa orang. Kebanyakan kata-kata terakhir Beliau
kemungkinan benar adanya, dan kata-kata tersebut dihafal dari satu generasi bhikkhu
ke generasi bhikkhu lainnya hingga ditranskripkan. Tapi pada akhirnya, di malam
yang semakin larut, Sang Buddha wafat saat syok septik kedua menyerang.
Penyakit Beliau berasal dari sebab-sebab yang alami ditambah usia lanjut,
sebagaimana yang bisa menimpa siapa saja.
Kesimpulan
Hipotesa yang secara garis besar
di uraikan di atas menjelaskan beberapa kejadian dari kisah di dalam sutta,
sebut saja, desakan agar Ananda pergi mengambilkan air, permintaan Sang Buddha
agar tempat tidurnya dilapisi empat lembar kain, permintaan agar makanan itu
dikubur, dan lain sebagainya.
Hipotesa ini juga menyingkap
kemungkinan lain yaitu sarana transportasi yang digunakan oleh Sang Buddha
untuk pergi ke Kusinara dan ranjang kemangkatan-Nya. Sukaramaddava,
apapun sifat dasarnya, sepertinya bukanlah penyebab langsung dari penyakit
Beliau. Sang Buddha wafat bukan karena keracunan makanan. Melainkan,
karena porsi makan, yang relatif terlalu besar untuk saluran pencernaan-Nya
yang sudah bermasalah. Porsi makan inilah yang memicu serangan infarksi
mesenterika kedua yang mengakhiri hidup-Nya.
-Demikian-
Catatan:
Dr. Bhikkhu Mettanando merupakan seorang Bhikkhu Thailand yang telah mengajar meditasi selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau mendapatkan S1 untuk sains dan gelar dokter dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan menguasai bahasa Sanskerta dan kebudayaan agama India kuno berkat gelar Master yang diperolehnya dari Universitas Oxford. Beliau juga mendapat gelar Master Theologi dari Havard Divinity School dan PhD. dari Universitas Hamburg, Jerman. Tesisnya difokuskan pada Meditasi dan Penyembuhan dari Tradisi Theravada di Thailand dan Laos. Saat ini mengajar Agama Buddha dan Meditasi di Universitas Chulalongkorn dan Universitas Assumption, juga aktif di bidang pengobatan alternatif dalam hospice and palliative care, dan mengajar etika medis pada dokter dan perawat Thailand maupun secara internasional.
Dr. Bhikkhu Mettanando merupakan seorang Bhikkhu Thailand yang telah mengajar meditasi selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau mendapatkan S1 untuk sains dan gelar dokter dari Universitas Chulalongkorn, Thailand, dan menguasai bahasa Sanskerta dan kebudayaan agama India kuno berkat gelar Master yang diperolehnya dari Universitas Oxford. Beliau juga mendapat gelar Master Theologi dari Havard Divinity School dan PhD. dari Universitas Hamburg, Jerman. Tesisnya difokuskan pada Meditasi dan Penyembuhan dari Tradisi Theravada di Thailand dan Laos. Saat ini mengajar Agama Buddha dan Meditasi di Universitas Chulalongkorn dan Universitas Assumption, juga aktif di bidang pengobatan alternatif dalam hospice and palliative care, dan mengajar etika medis pada dokter dan perawat Thailand maupun secara internasional.
D II: Dīgha
Nikāya II
Sumber: Bangkok
Post, 15 Mei 2001
Judul asli: How Buddha Died
Oleh: Dr. Bhikkhu Mettanando
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com
Label:
Bhikkhu Mettanando,
Riwayat Hidup
Langganan:
Postingan (Atom)
