Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Minggu, 07 Oktober 2012

Hidup Selalu Berorganisasi


Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering mendengar kata "organisasi". Istilah "organisasi" itu sendiri berasal dari dua suku kata. Yaitu, "organ" yang berarti bagian dari tubuh dan "sasi" yang berarti tindakan untuk membagi-bagi sesuai dengan kapasitas masing-masing. 

Di dalam suatu masyarakat, organisasi itu mutlak diperlukan. Suatu organisasi adalah milik kehidupan. Jangankan kita manusia yang sudah berbudaya, binatang pun sebetulnya mempunyai organisasi. Misalnya: ada sekelompok gajah maka gajah yang paling hebatlah yang akan menjadi pemimpinnya. Dialah yang akan mengatur gajah-gajah yang lain. Itu adalah suatu organisasi. Kemudian, di dalam kehidupan manusia sehari-hari, misalnya dalam sebuah rumah tangga, itu pun mempunyai organisasi, yang tentu saja disini harus ditunjang oleh komunikasi. Contohnya kalau suatu hari akan datang tamu dari luar kota yang akan menginap di rumah kita, tentu ibu kita (yang dulunya meskipun tidak sempat sekolah) akan mengaturnya, misalnya pembantu A disuruh ke pasar untuk membeli makanan dan minuman, sedangkan pambantu B disuruh menyiapkan kamar dan tempat tidur. Ini sudah merupakan suatu organisasi yaitu pembagian tugas. Tidak mungkin misalnya pembantu B yang bisu yang disuruh ke pasar tetapi pembantu A yang bisa menawar harga dengan baiklah yang akan disuruh ke pasar. Ini sebetulnya adalah organisasi. Dengan demikian setiap masyarakat, baik masyarakat manusia maupun masyarakat binatang mempunyai organisasi.

Suatu vihara juga merupakan suatu organisasi, merupakan suatu masyarakat yang mempunyai tujuan dan cita-cita tertentu. Untuk mengatur jalannya organisasi ini maka dipilihlah seorang ketua beserta seksi-seksinya. Dalam lingkup yang lebih luas, ketua dan seksi-seksi tersebut dapat dibagi lagi sesuai dengan kebutuhan. Di dalam suatu organisasi, seorang ketua sebetulnya berfungsi sebagai perancang. Seorang ketua harus bisa mencetuskan ide-idenya untuk memajukan organisasinya dan bekerjasama dengan seksi-seksi lainnya.

Sebagai umat Buddha, kita harus berpikir realistis! Kunci hidup di dalam agama Buddha adalah "Hidup adalah saat ini!" Tadi pagi (misalnya pukul 10:00), kita memang pernah hidup tetapi kita sudah tidak hidup pada pukul 10:00 tadi pagi. Begitu juga nanti sore, kita akan hidup tetapi belum hidup. Yang hidup adalah saat ini, bukan satu menit yang lalu dan bukan satu menit yang akan datang. Yang penting adalah saat ini, saat inilah kita berjuang semaksimal mungkin! Saya teringat ketika Bhante Paññavaro mengatakan sebuah pepatah bahwa:
"Di dalam kehidupan kita tidak perlu menginginkan jabatan, kita tidak perlu menginginkan pangkat... Tetapi kalau kita sudah diberi jabatan, sudah diberi tanggung-jawab maka kita harus mengerjakannya dengan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi kata "mundur"! pokoknya harus selesai!" 

Kalau kita melihat pada ajaran Sang Buddha, kita akan menemukan bahwa Sang Buddha membagi generasi penerus itu dalam tiga hal, yaitu:
* generasi penerus (anak) yang mempunyai hasil yang sama dengan generasi sebelumnya (orangtua). Misalnya serah-terima antara pengurus vihara yang terdahulu kepada pengurus yang baru. Kepengurusan yang baru menerimanya misalnya dalam kondisi seperti "ini", karpetnya "ini", Buddha rupam-nya juga "ini". Setahun kemudian, pengurus yang "ini" menyerahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan seperti "ini", tidak ada perubahan dan tidak berusaha untuk memperbaiki atau mengembangkan yang sudah ada. Ini adalah generasi penerus yang sama dengan generasi sebelumnya. Tipe generasi penerus seperti ini tidak disarankan oleh Sang Buddha.
* generasi penerus (anak) yang lebih jelek daripada generasi sebelumnya (orangtuanya). Misalnya dalam periode kepengurusan yang sebelumnya, bekas-bekas lem cuma menempel di pintu saja. Setahun kemudian dalam periode kepengurusan yang baru, bekas-bekas lem ternyata sudah ada di semua tembok dan bekas-bekas lilin juga menempel disana-sini. Setahun kemudian diserahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan yang demikian. Jadi dapatnya bagus, diserahkannya lebih jelek! Ini juga tidak disarankan oleh Sang Buddha.
*generasi penerus (anak) yang lebih baik daripada generasi yang sebelumnya (orantuanya). Misalnya: kalau dulu vihara hanya mempunyai sebuah kipas angin maka dalam kepengurusan yang baru sudah diganti dengan AC Split. Kegiatan-kegiatan vihara yang mengarah kepada kemajuan juga terus ditingkatkan, seperti: latihan membaca Dhammapada, yang dulunya hanya dilakukan kalau mau perlombaan dan Waisak saja, sekarang menjadi 2x seminggu, supaya dapat menghasilkan umat Buddha yang bermutu. Jadi harus ada kreativitas! 

Setiap pergantian pengurus, pengurus yang baru hendaknya bisa menentukan targetnya: apakah mau meneruskan, membangun, merusak atau bagaimana? Apalagi kita sudah mendapat sorotan dari luar negeri. Berdasarkan pengamatan beberapa bhikkhu asing yang datang dan meninjau vihara-vihara yang ada di Indonesia, mereka menyimpulkan bahwa Indonesia itu mempunyai vihara yang cukup baik, mempunyai generasi muda yang cukup banyak dan pembinaan bhikkhu yang baik, tetapi sayangnya, belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Vihara hanya dijadikan sebagai pusat pertemuan dan hura-hura, tidak ada minat untuk mendalami dan mempraktekkan Dhamma. Bahkan kita mempunyai kebiasaan kalau sedang banyak problem, baru pergi ke vihara. Jadi umat Buddha di Indonesia ini datang ke vihara hanya untuk hiburan. Padahal ini adalah suatu anggapan atau kebiasaan yang salah.

Berbeda halnya kalau kita melihat di negara-negara Buddhis misalnya Thailand. Pada hari Sabtu atau libur, para generasi muda disana mempunyai kebiasaan untuk datang ke vihara. Dengan pakaian putih-putih, mereka ikut membantu membersihkan vihara, menjalankan athasila, berdiskusi Dhamma dan bermeditasi. Mereka tidak mempunyai anggapan bahwa hari Sabtu dan libur itu adalah hari untuk jalan-jalan, nonton atau hura-hura. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan di benak kita: "Kalau semua generasi muda Buddhis begitu, apakah nanti tidak berat jodoh?" Dari beberapa pengalaman, ternyata mereka yang sering datang ke vihara dan menjalankan athasila itu justru cepat mendapat jodoh. Mengapa demikian? Karena mereka saling bertemu dan berkenalan. Bersama-sama mereka melatih meditasi dan mendengarkan Dhamma, sehingga mereka menjadi akrab satu sama lain. Jadi mereka berpacaran di vihara dengan gaya vihara, tidak lirik-lirikan dan sebagainya. Bahkan mereka mengalami kemajuan batin yang pesat, disamping mendapatkan pasangan hidup.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa vihara bukan sekedar tempat pemujaan begitu saja! Vihara adalah tempat belajar Dhamma. Kalau vihara itu memang tidak ada pelajaran Dhamma, ramainya memang kalau sedang banyak problem/masalah saja. Ternyata vihara adalah tempat pemberian Dhamma dan Dhamma itu diperlukan baik dalam keadaan susah maupun senang. Oleh karena itu, kalau kita bisa mengajak teman-teman kita untuk datang ke vihara, sebetulnya kita telah mempunyai jasa yang besar yaitu memperkenalkan kebenaran kepada mereka yang belum kenal. Terutama bagi mereka yang telah ditunjuk sebagai pengurus suatu vihara.

Kalau kita ditunjuk sebagai pengurus atau ditunjuk untuk menjabat satu jabatan tertentu, sebetulnya kita harus berterima-kasih. Mengapa demikian? Karena kita diberi kesempatan untuk berbuat baik. Dengan kita menjadi pengurus walaupun nanti menyerahkannya kepada pengurus yang berikutnya sama dengan yang kita terima sebelumnya, itupun sudah termasuk berbuat baik yaitu 'melestarikan agama Buddha'. Contohnya kalau Saudara menyelenggarakan kebaktian dan mengundang penceramah, ini sebetulnya adalah berdana Dhamma. Bila ada 5 orang yang mengikuti kebaktian, Saudara sudah berdana Dhamma kepada 5 orang. Apalagi kalau ceramah tersebut dikasetkan dan dijual kemana-mana. Telah dikatakan oleh Sang Buddha bahwa "sabba Danam, Dhamma Danam Jinati" ; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bisa ceramah ataupun menjadi bhikkhu, tetapi dengan Saudara menjadi pengurus yang baik, itu pun sudah termasuk dana Dhamma. Dengan demikian, di dalam agama Buddha segala sesuatunya bisa menjadi konsep untuk mengenalkan Dhamma kepada orang lain, baik melalui seksi bursa (misalnya: ceramah-ceramah yang baik dikasetkan dan dijual), melalui seksi puja bhakti, dll.

Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: "Apakah hal tersebut tidak bertentangan dengan Dhamma?" Tidak! Karena kita tidak menarik mereka untuk menjadi umat Buddha. Kita tidak bertujuan untuk mengisi KTP orang lain dengan agama Buddha tetapi kita menarik mereka untuk mengenal Dhamma/kebenaran. Umpamanya kalau Saya mengatakan bahwa benda ini adalah "meja", semua agama akan mengakui bahwa ini adalah "meja" dan bukan "roti" misalnya. Karena kebenaran itu adalah milik semua orang! Jadi kita mengajak mereka datang ke vihara itu berarti kita mengajak mereka untuk mengerti Dhamma, kebenaran yang tidak dapat ditolak oleh semua orang.

Kebenaran apakah yang tidak bisa ditolak oleh semua orang? Kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh semua orang adalah "Empat Kesunyataan Mulia" bahwa "Hidup adalah dukkha, berkumpul dengan yang dibenci dan berpisah dengan yang dicinta adalah dukkha!" Karena itulah "Empat Kesunyataan Mulia" ini menjadi kurikulum dasar Sang Buddha di dalam mengajarkan Dhamma. Empat Kesunyataan Mulia ini diajarkan pertama kali oleh Sang Buddha ketika Beliau membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta. Selama 45 tahun Sang Buddha mengajar, pada hakekatnya semua mengenai Empat Kesunyataan Mulia. Bahkan hal ini berlangsung sampai sekian tahun pengembangan agama Buddha yang akan datang. Tidak ada yang lain selain Empat Kesunyataan Mulia.

Kalau Saudara mau memperkenalkan agama Buddha kepada orang lain, kenalkanlah dari Empat Kesunyataan Mulia! Karena kalau Saudara mengenalkannya dari sudut tradisi seperti patung, lilin dan dupa; mereka pasti akan menolak. Tetapi kalau dari Empat Kesunyataan Mulia, tidak ada yang bisa menentangnya. Umpamanya duduk di lantai, kita merasa kesemutan. Ini berarti kita berkumpul dengan yang dibenci yaitu kesemutan, dan berpisah dengan yang dicinta yaitu rasa enak duduk di lantai. Ini adalah milik semua orang, bukan milik agama tertentu saja. Hukum Kesunyataan inilah yang kita berikan kepada mereka, karena mereka pun pasti mengalaminya! Tidak mungkin ada makhluk yang tidak pernah mengalami dukkha. Dan Sang Buddha sendiri telah menjelaskan sebab-sebab dukkha dan cara mengatasi dukkha sehingga hidup bisa menjadi lebih bahagia.

Selain mempertahankan umat, kepengurusan suatu vihara perlu mempunyai program untuk memperbanyak umat Buddha, yaitu dengan mengenalkan Dhamma kepada mereka yang belum kenal. Adapun hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan disini adalah:
* teknik promosi
Promosi ini penting sekali! Hendaknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita mempromosikan ajaran Sang Buddha ini kepada masyarakat. Teknik promosi ini ada bermacam-macam, misalnya dengan koran yang merupakan media massa. Umpamanya pada hari Waisak kita membuat artikel mengenai makna Waisak dan kita muat di beberapa media massa sehingga masyarakat bisa mengenal agama Buddha. Itu adalah promosi. Untuk bisa berhasil maka promosinya harus kuat.
* produk jasa
Vihara harus menjadi tempat yang bisa menghasilkan produk jasa, misalnya: untuk latihan baca paritta/Dhammapada, diskusi Dhamma, meditasi, belajar bahasa Inggris, badminton, dsb. Atau ikut melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti; ikut berpartisipasi mengaspal jalan, sehingga lingkungan merasa bahwa umat Buddha juga ada manfaatnya.
*perhatian
Perhatian harus diberikan bukan hanya untuk umat yang ada saja tetapi juga kepada umat yang belum pernah datang maupun yang sudah pernah datang tetapi tidak datang lagi. Mereka yang belum datang/tidak datang lagi, kita ajak untuk datang ke vihara. Mereka yang sudah datang ke vihara juga kita rawat dan kita berikan perhatian. Misalnya: dengan mengadakan acara keakraban, kemping Dhamma, dsb. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai terjadi pengelompokkan-pengelompokkan sehingga mereka yang baru datang juga mempunyai teman. Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman atau tidak diperdulikan, karena ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan di masa yang akan datang mereka tidak mau datang lagi. 

Disinilah letak peranan dan fungsi Dhammaduta. Dhammaduta bukan ditujukan untuk umat di lingkungan vihara saja tetapi lebih luas lagi, misalnya di tempat kost, tetangga, dll. Mereka itulah yang menjadi obyek ke-dhammaduta-an kita! Minimal mereka bisa mengerti Dhamma tanpa menjadi umat Buddha. Oleh karena itu, tugas seorang pengurus sebetulnya adalah melakukan Dana Dhamma. Kalau setiap pengurus dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, sebetulnya pengurus tersebut sudah melakukan Dana Dhamma.

Kalau kita perhatikan riwayat hidup Sang Buddha, sebetulnya ajaran Sang Buddha adalah ajaran yang aktif. Ketika Sang Buddha menyuruh 60 orang Arahat untuk pergi mengajarkan Dhamma, Sang Buddha mengatakan: "... Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama..." Ini berarti kalau pada masa itu terdapat 60 orang Arahat maka juga terdapat 60 tempat. Karena kalau bergabung, itu tidak efisien. Padahal Sang Buddha itu sangat efisien. Bahkan senyum-Nya pun efisien.

Kalau kita mau mengenalkan Dhamma kepada orang lain, itu pun perlu efisien! Supaya efisien, tidak buang-buang waktu; setiap pengurus harus produktif sesuai dengan tanggung-jawabnya. Masing-masing harus menjadi Dhammaduta. Orang yang terdekat dengan kita adalah orang yang menjadi sasaran kita untuk mengenalkan Dhamma.

Selama perjalanan hidup Sang Buddha, Beliau tidak pernah pasif atau hanya menunggu saja. Setiap pagi Beliau mencari dan melihat melalui mata batin-Nya siapa yang hari itu dapat mencapai kesucian. Itu berarti Beliau mengajarkan kita untuk aktif! Kalau kita yang mengaku sebagai muridnya Sang Buddha tidak aktif, maka sebetulnya kita belum menjadi umat Buddha yang sesungguhnya, karena masih menyimpang dari ajaran Sang Buddha.

Begitu juga ketika Sang Buddha telah mencapai kesucian/Nibbana. Beliau berjalan dari Bodhgaya menuju Benares untuk mengajarkan Dhamma kepada 5 orang pertapa yang akan menjadi muridnya. Ketika Sang Buddha selesai ceramah, hanya 1 orang saja yang mencapai kesucian yaitu Bhante Añña Kondañña. Tetapi Sang Buddha tidak putus asa atau membiarkan saja hal tersebut. Beliau kemudian ceramah lagi sehingga Bhante Vappa dan Bhaddiya mencapai kesucian. Kemudian Beliau ceramah lagi sehingga Bhante Mahanama dan Assaji juga mencapai kesucian. Akhirnya kelima pertapa itu semuanya dapat mencapai kesucian. Itu adalah sistem Sang Buddha; dan sebagai murid-murid Sang Buddha, teladan Beliau harus kita ikuti!

Cobalah Saudara mulai merenungkan: "Berapa biji saya mau menanam jagung supaya saya bisa panen banyak?" Kalau Saudara menanamnya cuma satu: pada diri Saudara sendiri; panen jagungnya juga cuma satu. Tetapi kalau Saudara menanamnya banyak: tidak hanya pada diri Saudara sendiri, tetapi juga pada orangtua, pada tetangga, dll.; tanaman jagung Saudara juga banyak, sehingga bila musim kelaparan tiba, Saudara tidak perlu khawatir. Inilah "Sabba Danam, Dhamma Danam Jinati"; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Karena kehidupan itu tidak pasti, kematian itu pasti... tidak ada lagi kesempatan untuk menunda menanam kebajikan! Kita jangan hanya menunggu! Ingatlah bahwa waktu itu sangat pendek. Hidup adalah SAAT INI, bukan yang telah lampau dan bukan pula yang akan datang. Karena itu, "Saat ini" harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kalau Saudara ditunjuk sebagai pengurus, janganlah Saudara berpikir: "Kenapa harus saya?" tetapi justru Saudara harus berpikir sebaliknya: "Untung saya yang diberi kepercayaan... Untung saya yang diberi kesempatan untuk berbuat baik!" Jadilah pengurus yang lebih baik daripada pengurus yang sebelumnya! Ciptakanlah suatu kondisi supaya Dhamma menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh umat Buddha. Jangan sampai mereka mempunyai konsep bahwa datang ke vihara itu kalau sedang kesusahan saja. Karena sebetulnya setiap segi kehidupan itu adalah Dhamma!

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering mendengar kata "organisasi". Istilah "organisasi" itu sendiri berasal dari dua suku kata. Yaitu, "organ" yang berarti bagian dari tubuh dan "sasi" yang berarti tindakan untuk membagi-bagi sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Di dalam suatu masyarakat, organisasi itu mutlak diperlukan. Suatu organisasi adalah milik kehidupan. Jangankan kita manusia yang sudah berbudaya, binatang pun sebetulnya mempunyai organisasi. Misalnya: ada sekelompok gajah maka gajah yang paling hebatlah yang akan menjadi pemimpinnya. Dialah yang akan mengatur gajah-gajah yang lain. Itu adalah suatu organisasi. Kemudian, di dalam kehidupan manusia sehari-hari, misalnya dalam sebuah rumah tangga, itu pun mempunyai organisasi, yang tentu saja disini harus ditunjang oleh komunikasi. Contohnya kalau suatu hari akan datang tamu dari luar kota yang akan menginap di rumah kita, tentu ibu kita (yang dulunya meskipun tidak sempat sekolah) akan mengaturnya, misalnya pembantu A disuruh ke pasar untuk membeli makanan dan minuman, sedangkan pambantu B disuruh menyiapkan kamar dan tempat tidur. Ini sudah merupakan suatu organisasi yaitu pembagian tugas. Tidak mungkin misalnya pembantu B yang bisu yang disuruh ke pasar tetapi pembantu A yang bisa menawar harga dengan baiklah yang akan disuruh ke pasar. Ini sebetulnya adalah organisasi. Dengan demikian setiap masyarakat, baik masyarakat manusia maupun masyarakat binatang mempunyai organisasi.

Suatu vihara juga merupakan suatu organisasi, merupakan suatu masyarakat yang mempunyai tujuan dan cita-cita tertentu. Untuk mengatur jalannya organisasi ini maka dipilihlah seorang ketua beserta seksi-seksinya. Dalam lingkup yang lebih luas, ketua dan seksi-seksi tersebut dapat dibagi lagi sesuai dengan kebutuhan. Di dalam suatu organisasi, seorang ketua sebetulnya berfungsi sebagai perancang. Seorang ketua harus bisa mencetuskan ide-idenya untuk memajukan organisasinya dan bekerjasama dengan seksi-seksi lainnya.

Sebagai umat Buddha, kita harus berpikir realistis! Kunci hidup di dalam agama Buddha adalah "Hidup adalah saat ini!" Tadi pagi (misalnya pukul 10:00), kita memang pernah hidup tetapi kita sudah tidak hidup pada pukul 10:00 tadi pagi. Begitu juga nanti sore, kita akan hidup tetapi belum hidup. Yang hidup adalah saat ini, bukan satu menit yang lalu dan bukan satu menit yang akan datang. Yang penting adalah saat ini, saat inilah kita berjuang semaksimal mungkin! Saya teringat ketika Bhante Paññavaro mengatakan sebuah pepatah bahwa:
"Di dalam kehidupan kita tidak perlu menginginkan jabatan, kita tidak perlu menginginkan pangkat... Tetapi kalau kita sudah diberi jabatan, sudah diberi tanggung-jawab maka kita harus mengerjakannya dengan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi kata "mundur"! pokoknya harus selesai!" 

Kalau kita melihat pada ajaran Sang Buddha, kita akan menemukan bahwa Sang Buddha membagi generasi penerus itu dalam tiga hal, yaitu:
* generasi penerus (anak) yang mempunyai hasil yang sama dengan generasi sebelumnya (orangtua). Misalnya serah-terima antara pengurus vihara yang terdahulu kepada pengurus yang baru. Kepengurusan yang baru menerimanya misalnya dalam kondisi seperti "ini", karpetnya "ini", Buddha rupam-nya juga "ini". Setahun kemudian, pengurus yang "ini" menyerahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan seperti "ini", tidak ada perubahan dan tidak berusaha untuk memperbaiki atau mengembangkan yang sudah ada. Ini adalah generasi penerus yang sama dengan generasi sebelumnya. Tipe generasi penerus seperti ini tidak disarankan oleh Sang Buddha.
* generasi penerus (anak) yang lebih jelek daripada generasi sebelumnya (orangtuanya). Misalnya dalam periode kepengurusan yang sebelumnya, bekas-bekas lem cuma menempel di pintu saja. Setahun kemudian dalam periode kepengurusan yang baru, bekas-bekas lem ternyata sudah ada di semua tembok dan bekas-bekas lilin juga menempel disana-sini. Setahun kemudian diserahkan lagi kepada pengurus yang berikutnya juga dalam keadaan yang demikian. Jadi dapatnya bagus, diserahkannya lebih jelek! Ini juga tidak disarankan oleh Sang Buddha.
*generasi penerus (anak) yang lebih baik daripada generasi yang sebelumnya (orantuanya). Misalnya: kalau dulu vihara hanya mempunyai sebuah kipas angin maka dalam kepengurusan yang baru sudah diganti dengan AC Split. Kegiatan-kegiatan vihara yang mengarah kepada kemajuan juga terus ditingkatkan, seperti: latihan membaca Dhammapada, yang dulunya hanya dilakukan kalau mau perlombaan dan Waisak saja, sekarang menjadi 2x seminggu, supaya dapat menghasilkan umat Buddha yang bermutu. Jadi harus ada kreativitas! 

Setiap pergantian pengurus, pengurus yang baru hendaknya bisa menentukan targetnya: apakah mau meneruskan, membangun, merusak atau bagaimana? Apalagi kita sudah mendapat sorotan dari luar negeri. Berdasarkan pengamatan beberapa bhikkhu asing yang datang dan meninjau vihara-vihara yang ada di Indonesia, mereka menyimpulkan bahwa Indonesia itu mempunyai vihara yang cukup baik, mempunyai generasi muda yang cukup banyak dan pembinaan bhikkhu yang baik, tetapi sayangnya, belum dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Vihara hanya dijadikan sebagai pusat pertemuan dan hura-hura, tidak ada minat untuk mendalami dan mempraktekkan Dhamma. Bahkan kita mempunyai kebiasaan kalau sedang banyak problem, baru pergi ke vihara. Jadi umat Buddha di Indonesia ini datang ke vihara hanya untuk hiburan. Padahal ini adalah suatu anggapan atau kebiasaan yang salah.

Berbeda halnya kalau kita melihat di negara-negara Buddhis misalnya Thailand. Pada hari Sabtu atau libur, para generasi muda disana mempunyai kebiasaan untuk datang ke vihara. Dengan pakaian putih-putih, mereka ikut membantu membersihkan vihara, menjalankan athasila, berdiskusi Dhamma dan bermeditasi. Mereka tidak mempunyai anggapan bahwa hari Sabtu dan libur itu adalah hari untuk jalan-jalan, nonton atau hura-hura. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan di benak kita: "Kalau semua generasi muda Buddhis begitu, apakah nanti tidak berat jodoh?" Dari beberapa pengalaman, ternyata mereka yang sering datang ke vihara dan menjalankan athasila itu justru cepat mendapat jodoh. Mengapa demikian? Karena mereka saling bertemu dan berkenalan. Bersama-sama mereka melatih meditasi dan mendengarkan Dhamma, sehingga mereka menjadi akrab satu sama lain. Jadi mereka berpacaran di vihara dengan gaya vihara, tidak lirik-lirikan dan sebagainya. Bahkan mereka mengalami kemajuan batin yang pesat, disamping mendapatkan pasangan hidup.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa vihara bukan sekedar tempat pemujaan begitu saja! Vihara adalah tempat belajar Dhamma. Kalau vihara itu memang tidak ada pelajaran Dhamma, ramainya memang kalau sedang banyak problem/masalah saja. Ternyata vihara adalah tempat pemberian Dhamma dan Dhamma itu diperlukan baik dalam keadaan susah maupun senang. Oleh karena itu, kalau kita bisa mengajak teman-teman kita untuk datang ke vihara, sebetulnya kita telah mempunyai jasa yang besar yaitu memperkenalkan kebenaran kepada mereka yang belum kenal. Terutama bagi mereka yang telah ditunjuk sebagai pengurus suatu vihara.

Kalau kita ditunjuk sebagai pengurus atau ditunjuk untuk menjabat satu jabatan tertentu, sebetulnya kita harus berterima-kasih. Mengapa demikian? Karena kita diberi kesempatan untuk berbuat baik. Dengan kita menjadi pengurus walaupun nanti menyerahkannya kepada pengurus yang berikutnya sama dengan yang kita terima sebelumnya, itupun sudah termasuk berbuat baik yaitu 'melestarikan agama Buddha'. Contohnya kalau Saudara menyelenggarakan kebaktian dan mengundang penceramah, ini sebetulnya adalah berdana Dhamma. Bila ada 5 orang yang mengikuti kebaktian, Saudara sudah berdana Dhamma kepada 5 orang. Apalagi kalau ceramah tersebut dikasetkan dan dijual kemana-mana. Telah dikatakan oleh Sang Buddha bahwa "sabba Danam, Dhamma Danam Jinati" ; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Mungkin ada sebagian orang yang tidak bisa ceramah ataupun menjadi bhikkhu, tetapi dengan Saudara menjadi pengurus yang baik, itu pun sudah termasuk dana Dhamma. Dengan demikian, di dalam agama Buddha segala sesuatunya bisa menjadi konsep untuk mengenalkan Dhamma kepada orang lain, baik melalui seksi bursa (misalnya: ceramah-ceramah yang baik dikasetkan dan dijual), melalui seksi puja bhakti, dll.

Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan: "Apakah hal tersebut tidak bertentangan dengan Dhamma?" Tidak! Karena kita tidak menarik mereka untuk menjadi umat Buddha. Kita tidak bertujuan untuk mengisi KTP orang lain dengan agama Buddha tetapi kita menarik mereka untuk mengenal Dhamma/kebenaran. Umpamanya kalau Saya mengatakan bahwa benda ini adalah "meja", semua agama akan mengakui bahwa ini adalah "meja" dan bukan "roti" misalnya. Karena kebenaran itu adalah milik semua orang! Jadi kita mengajak mereka datang ke vihara itu berarti kita mengajak mereka untuk mengerti Dhamma, kebenaran yang tidak dapat ditolak oleh semua orang.
Kebenaran apakah yang tidak bisa ditolak oleh semua orang? Kebenaran yang tidak bisa ditolak oleh semua orang adalah "Empat Kesunyataan Mulia" bahwa "Hidup adalah dukkha, berkumpul dengan yang dibenci dan berpisah dengan yang dicinta adalah dukkha!" Karena itulah "Empat Kesunyataan Mulia" ini menjadi kurikulum dasar Sang Buddha di dalam mengajarkan Dhamma. Empat Kesunyataan Mulia ini diajarkan pertama kali oleh Sang Buddha ketika Beliau membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta. Selama 45 tahun Sang Buddha mengajar, pada hakekatnya semua mengenai Empat Kesunyataan Mulia. Bahkan hal ini berlangsung sampai sekian tahun pengembangan agama Buddha yang akan datang. Tidak ada yang lain selain Empat Kesunyataan Mulia.

Kalau Saudara mau memperkenalkan agama Buddha kepada orang lain, kenalkanlah dari Empat Kesunyataan Mulia! Karena kalau Saudara mengenalkannya dari sudut tradisi seperti patung, lilin dan dupa; mereka pasti akan menolak. Tetapi kalau dari Empat Kesunyataan Mulia, tidak ada yang bisa menentangnya. Umpamanya duduk di lantai, kita merasa kesemutan. Ini berarti kita berkumpul dengan yang dibenci yaitu kesemutan, dan berpisah dengan yang dicinta yaitu rasa enak duduk di lantai. Ini adalah milik semua orang, bukan milik agama tertentu saja. Hukum Kesunyataan inilah yang kita berikan kepada mereka, karena mereka pun pasti mengalaminya! Tidak mungkin ada makhluk yang tidak pernah mengalami dukkha. Dan Sang Buddha sendiri telah menjelaskan sebab-sebab dukkha dan cara mengatasi dukkha sehingga hidup bisa menjadi lebih bahagia.

Selain mempertahankan umat, kepengurusan suatu vihara perlu mempunyai program untuk memperbanyak umat Buddha, yaitu dengan mengenalkan Dhamma kepada mereka yang belum kenal. Adapun hal-hal yang perlu untuk kita perhatikan disini adalah:
* teknik promosi
Promosi ini penting sekali! Hendaknya kita mulai memikirkan bagaimana caranya kita mempromosikan ajaran Sang Buddha ini kepada masyarakat. Teknik promosi ini ada bermacam-macam, misalnya dengan koran yang merupakan media massa. Umpamanya pada hari Waisak kita membuat artikel mengenai makna Waisak dan kita muat di beberapa media massa sehingga masyarakat bisa mengenal agama Buddha. Itu adalah promosi. Untuk bisa berhasil maka promosinya harus kuat.
* produk jasa
Vihara harus menjadi tempat yang bisa menghasilkan produk jasa, misalnya: untuk latihan baca paritta/Dhammapada, diskusi Dhamma, meditasi, belajar bahasa Inggris, badminton, dsb. Atau ikut melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti; ikut berpartisipasi mengaspal jalan, sehingga lingkungan merasa bahwa umat Buddha juga ada manfaatnya.
*perhatian
Perhatian harus diberikan bukan hanya untuk umat yang ada saja tetapi juga kepada umat yang belum pernah datang maupun yang sudah pernah datang tetapi tidak datang lagi. Mereka yang belum datang/tidak datang lagi, kita ajak untuk datang ke vihara. Mereka yang sudah datang ke vihara juga kita rawat dan kita berikan perhatian. Misalnya: dengan mengadakan acara keakraban, kemping Dhamma, dsb. Yang perlu diperhatikan disini adalah jangan sampai terjadi pengelompokkan-pengelompokkan sehingga mereka yang baru datang juga mempunyai teman. Jangan sampai mereka merasa tidak nyaman atau tidak diperdulikan, karena ini bisa menimbulkan kesan yang tidak baik dan di masa yang akan datang mereka tidak mau datang lagi. 

Disinilah letak peranan dan fungsi Dhammaduta. Dhammaduta bukan ditujukan untuk umat di lingkungan vihara saja tetapi lebih luas lagi, misalnya di tempat kost, tetangga, dll. Mereka itulah yang menjadi obyek ke-dhammaduta-an kita! Minimal mereka bisa mengerti Dhamma tanpa menjadi umat Buddha. Oleh karena itu, tugas seorang pengurus sebetulnya adalah melakukan Dana Dhamma. Kalau setiap pengurus dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, sebetulnya pengurus tersebut sudah melakukan Dana Dhamma.

Kalau kita perhatikan riwayat hidup Sang Buddha, sebetulnya ajaran Sang Buddha adalah ajaran yang aktif. Ketika Sang Buddha menyuruh 60 orang Arahat untuk pergi mengajarkan Dhamma, Sang Buddha mengatakan: "... Sekarang kamu harus mengembara guna kesejahteraan dan keselamatan orang banyak. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama..." Ini berarti kalau pada masa itu terdapat 60 orang Arahat maka juga terdapat 60 tempat. Karena kalau bergabung, itu tidak efisien. Padahal Sang Buddha itu sangat efisien. Bahkan senyum-Nya pun efisien.

Kalau kita mau mengenalkan Dhamma kepada orang lain, itu pun perlu efisien! Supaya efisien, tidak buang-buang waktu; setiap pengurus harus produktif sesuai dengan tanggung-jawabnya. Masing-masing harus menjadi Dhammaduta. Orang yang terdekat dengan kita adalah orang yang menjadi sasaran kita untuk mengenalkan Dhamma.

Selama perjalanan hidup Sang Buddha, Beliau tidak pernah pasif atau hanya menunggu saja. Setiap pagi Beliau mencari dan melihat melalui mata batin-Nya siapa yang hari itu dapat mencapai kesucian. Itu berarti Beliau mengajarkan kita untuk aktif! Kalau kita yang mengaku sebagai muridnya Sang Buddha tidak aktif, maka sebetulnya kita belum menjadi umat Buddha yang sesungguhnya, karena masih menyimpang dari ajaran Sang Buddha.

Begitu juga ketika Sang Buddha telah mencapai kesucian/Nibbana. Beliau berjalan dari Bodhgaya menuju Benares untuk mengajarkan Dhamma kepada 5 orang pertapa yang akan menjadi muridnya. Ketika Sang Buddha selesai ceramah, hanya 1 orang saja yang mencapai kesucian yaitu Bhante Añña Kondañña. Tetapi Sang Buddha tidak putus asa atau membiarkan saja hal tersebut. Beliau kemudian ceramah lagi sehingga Bhante Vappa dan Bhaddiya mencapai kesucian. Kemudian Beliau ceramah lagi sehingga Bhante Mahanama dan Assaji juga mencapai kesucian. Akhirnya kelima pertapa itu semuanya dapat mencapai kesucian. Itu adalah sistem Sang Buddha; dan sebagai murid-murid Sang Buddha, teladan Beliau harus kita ikuti!

Cobalah Saudara mulai merenungkan: "Berapa biji saya mau menanam jagung supaya saya bisa panen banyak?" Kalau Saudara menanamnya cuma satu: pada diri Saudara sendiri; panen jagungnya juga cuma satu. Tetapi kalau Saudara menanamnya banyak: tidak hanya pada diri Saudara sendiri, tetapi juga pada orangtua, pada tetangga, dll.; tanaman jagung Saudara juga banyak, sehingga bila musim kelaparan tiba, Saudara tidak perlu khawatir. Inilah "Sabba Danam, Dhamma Danam Jinati"; dari seluruh dana, dana Dhamma-lah yang paling tinggi. Karena kehidupan itu tidak pasti, kematian itu pasti... tidak ada lagi kesempatan untuk menunda menanam kebajikan! Kita jangan hanya menunggu! Ingatlah bahwa waktu itu sangat pendek. Hidup adalah SAAT INI, bukan yang telah lampau dan bukan pula yang akan datang. Karena itu, "Saat ini" harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kalau Saudara ditunjuk sebagai pengurus, janganlah Saudara berpikir: "Kenapa harus saya?" tetapi justru Saudara harus berpikir sebaliknya: "Untung saya yang diberi kepercayaan... Untung saya yang diberi kesempatan untuk berbuat baik!" Jadilah pengurus yang lebih baik daripada pengurus yang sebelumnya! Ciptakanlah suatu kondisi supaya Dhamma menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh umat Buddha. Jangan sampai mereka mempunyai konsep bahwa datang ke vihara itu kalau sedang kesusahan saja. Karena sebetulnya setiap segi kehidupan itu adalah Dhamma!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar