Di India pada abad ke duapuluh dikenal ajaran Mahatma Gandhi tentang ahimsa, sedangkan 26 abad sebelumnya di wilayah yang sama Sang Buddha mengajarkan metta atau cinta kasih. Keduanya serupa tetapi tidak sama, ahimsa berarti tanpa kekerasan, sedangkan metta berarti welas asih. Orang mengembangkan welas asih pasti tidak melakukan kekerasan, penekanan serta penindasan.
Masuknya agama Buddha di Indonesia tidak diketahui secara pasti, namun dari catatan sejarah I Tsing pada abad ke V menyebutkan bahwa di Tanah Jawa berkembang agama Buddha.
Selama terjadinya nasional stat dua kali, agama Buddha hidup berdampingan secara damai dengan agama- agama yang ada. Dalam penyebarannya agama Buddha tidak melakukan dengan kekerasan. Namun demikian pemeluk agama Buddha mengalami perlakuan kekerasan serta ketidak adilan, Bagaimana ajaran Sang Buddha menghadapi kekerasan dan ketidak adilan, diikuti oleh pemeluk agama Buddha dimanapun juga.
Tiga Perilaku
Dalam agama Buddha ada 3 dasar perilaku, yaitu kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. (Angutara Nikaya IV/241) Ketiganya saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan. Bila dilaksanakan akan membentuk sikap hidup yang baik lahir dan batin. Secara lahiriah. Ketiganya akan dapat melaksanakan kebajikan sesuai tuntutan agama dan semua harapan masyarakat luas, secara batiniah ketiganya tidak munafik.
Makna kerelaan adalah mengurangi kemelekatan terhadap benda-benda yang dimiliki. Melakukan hal ini, seseorang melatih diri memberikan benda milik yang sesuai kepada mereka yang membutuhkan.
Kemoralan adalah latihan pengendalian diri agar tidak melakukan paling tidak 5 perbuatan tercela,yaitu pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. (Angutara Nikaya III, 203)
Sedangkan konsentrasi adalah latihan menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan.Dalam hal ini bila timbul pikiran yang baik segera dapat diwujudkan dengan perbuatan, sebaliknya bila timbul pikiran yang tidak baik dapat dikendalikan sehingga tidak dilaksanakan.
Penjabaran
Karena lemahnya pengendalian pikiran, banyak orang dalam kehidupannya sehari-hari cenderung lebih mudah mencari kepuasan dengan mengacu tiga perbuatan tersebut di atas daripada mengendalikannya. Itulah sebabnya orang lebih gampang melakukan perbuatan tercela karena mendatangkan kepuasan batin dan menyebut dengan mudah bahwa sulit melakukan perbuatan baik.
Karena kemelekatan, orang menjadi kikir, karena tumbangnya nilai kemoralan orang melakukan kekerasan, karena lenyapnya konsentrasi orang jadi lepas kendali.
Orang yang setiap hari melaksanakan ibadah agama saja dapat lepas kendali di tengah emosi massa. Bagaimana bagi orang yang tidak mengenal ajaran agama ?
Empat Sifat Mulia Sang Buddha mengajarkan adanya empat sifat baik yang wajib dikembangkan, disebut Brahma Vihara, yaitu:
Metta, yaitu sifat cinta kasih kepada semua makhluk, maksudnya mengharapkan kesejahtreraan dan kebahagiaan semua makhluk tanpa membedakan. Sifat ini adalah cinta secara universal atau tanpa didasari nafsu,
Karuna , yaitu kasih sayang atau belas kasihan yang timbul bila menyaksikan penderitaan makhluk lain. Perkembangannya akan dipunyai hasrat untuk membantu meringankan penderitaannya,
Mudita, yaitu sifat simpatik, sifat ikut bergembira menyaksikan kegembiraan pihak lain. Sifat ini kebalikan rasa iri hati,
Upekkha, yaitu keseimbangan batin. Sifat batin yang seimbang dalam segala keadaan olehkarena menyadari bahwa setiap makhluk memetik hasil dari perbuatannya sendiri.
Manfaat dari mengembangkan empat sifat luhur demikian adalah bahwa seseorang akan terhindar dari usaha pihak lain yang akan melakukan perbuatan tercela terhadap kita, termasuk kekerasan.
Kita hendaknya dapat menerapkannya pada saat mana kita menggunakan metta, pada saat mana menggunakan karuna, pada saat mana kita menggunakan mudita dan pada saat mana kita menggunakan upekkha. Pengembangan empat sifat ini akan menjadikan kita dapat menyesuaikan diri di tengah masyarakat.
Menghadapi Kekerasan
Umat Buddha percaya akan adanya Hukum Karma, yaitu Hukum Sebab Akibat. Segala sesuatu yang terjadi adalah akibat karma kita. (terjemahan kata karma adalah perbuatan) Orang memahami ‘hukum karma’ sebagai ‘hukum tanaman’. Dalam filsafat Jawa ada kata mutiara yang menyebutkan ‘sing nandur bakal ngunduh’. Arti luas kata mutiara ini adalah Hukum Karma juga.
Siapa yang menanam kabaikan, ia akan menerima kebaikan atau keadaan yang baik pada dirinya, sedangkan yang menanam perbuatan jelek akan mengalami hal yang tidak baik pada dirinya,
Karena paham agama Buddha mengenal tumimbal lahir atau kelahiran kembali, bila tidak sempat memetik hasilnya pada kehidupan masa kini, maka akan dipetik pada kehidupan selanjutnya.
Walau pada saat ini kita tidak melakukan kejahatan, kekerasan maupun kekejaman, kemungkinan kita akan menerima perlakuan kejahatan, kekerasan dan kekejaman dari pihak lain yang merupakan hasil perbuatan kelahiran lampau. Kelahiran lampau berarti kelahiran sebelum kelahiran masa kini.
Sang Buddha mengajarkan bila pihak lain melakukan kejahatan kepada kita, maka tidak pada tempatnya kita balas melakukan kejahatan kepadanya. Bila kita membalas, maka pihak “sana” akan membalas kembali dan berkembanglah kejahatan itu makin luas.
Membalas kejahatan juga akan berakibat dikenai kejahatan, jadi bila kita tidak membalas kejahatan yang dia lakukan, dia pasti akan menerima kejahatan sesuai dengan Hukum Karma, karena Hukum Karma berlaku bagi semua orang. Masalah orang itu mengerti, mengakui apa tidak dia tetap “kena” Hukum Karma.
Tidak membalas kejahatan ini diteladani juga oleh Sang Buddha. Saudara sepupu beliau, bernama Devadatta adalah orang yang iri hati akan kemampuan dan karismatik Sang Buddha. Berkali-kali Devadatta melakukan perbuatan jahat, setiap kali pula Sang Buddha tidak membalasnya. Kekuatan metta (cinta kasih) Sang Buddha sudah dapat menghentikan rencana jahat Devadatta.
Ketika Sang Buddha menceriterakan kisah Pangeran Dirghayu yang ayahnya Raja Dirgheti dibunuh oleh Raja Brahmadatta, Sang Buddha menjelaskan bahwa sesaat sebelum wafat Raja Dirgheti minta agar putranya tidak membalas pembunuh ayahnya dengan cara yang sama.
“Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan welah asih”. (Majjima Nikaya 128)
Tindakan Praktis
Menyadari diri sebagai bagian dari masyarakat, selayaknya kita punya rasa tidak melekat pada apa yang kita miliki, namun juga rela melepaskan kepada pihak lain. Rasa demikian ini diwujudkan dengan memberikan dana kepada pihak yang membutuhkan. Kemelekatan bila dibiarkan tumbuh akan berkembang menjadi keserakahan. Untuk melenyapkan keserakahan inilah wajib dilakukan dana. Usahakanlah dana diberikan kepada yang membutuhkan.
Seseorang beragama Buddha secara preventif supaya tidak mendapatkan perilaku kejahatan, kekejaman maupun kekerasan tekun melatih 5 sila sebagai kemoralan sebagaimana disebutkan di atas, yaitu latihan pengendalian diri agar tidak melakukan pembunuhan (termasuk penganiayaan), tidak melakukan pencurian (termasuk penjarahan, perampokan), tidak melakukan pelanggaran kesusilaan (termasuk perselingkuhan, perzinaan dan perkosaan), tidak melakukan kebohongan (termasuk penggelapan, penipuan) dan tidak mabuk-mabukan (termasuk penggunaan narkoba).
[ Pernah disampaikan dalam Seminar Regional “AGAMA DAN KEKERASAN” dengan topik “Agama dan Deseminasi Prinsip-prinsip Nir Kekerasan (Persepektif Buddha), dikutip dari Web Kinnara atas izin Pandita D. Henry Basuki ]
Agama bukanlah sekedar sistem kepercayaan yang berpusat pada Tuhan sang pencipta. itu adalah definisi terbatas dari agama, dan tidak semua pemuka agama akan mendefinisikan dengan cara yang sama. Tetapi, itu adalah sistem kepercayaan yang bertujuan untuk menolong orang dalam kehiduan ini dan yang akan datang, dan untuk memajukan kemanusiaan. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa Buddhisme adalah agama karena idak setiap orang mempunyai kecenderungan dan minat yang sama. Sang Buddha mengajarkan berbagai macam cara untuk orang-orang yang berbeda. Demikian pula mengapa Yang Mulia Dalai lama mengatakan bahwa sangat baik dengan adannya berbagai macam agama di dunia. Seperti halnya satu jenis makanan tidak akan menarik bagi semua orang, satu agama atau kepercayaan tidak akan memuaskan kebutuhan setiap orang, Oleh karena itu, sangatlkah baik terdapat berbagai macam agama di dunia. Beliau menerimanya dengan senang hati.
Akhir-akhir ini, banyak terjadi dialog dan interaksi antara umat Buddha dengan pemeluk agama lainnya. Mereka saling menghargai. Dalai lama sering bertemu dengan Paus. Pada suatu pertemuan yang dilaksanakan di Assisi, Italia dimana Sri Paus mengundang semua pemimpin-pemimpin agama di dunia. Sekitar 150 wakil agama hadir. Dalai lama duduk dekat Sri Paus dan diberi kehormatan untuk memberikan pidato yang pertama. Pemimpin-pemimpin agama yang lain juga menunjukkan penghargaan yang tertinggi terhadap Buddhisme. Pada konferensi itu, mereka mendiskusikan topik yang umum pada setiap agama, seperti moralitas, cinta dan kasih sayang. Orang-orang yang sangat bersemangat dengan kerja sama, keserasian dan penghargaan yagn setara yang dirasakan oleh para pemimpin agama yang berlainan.
Tentu saja, jika kita mendiskusikan metafisik dan teologi, akan terdapatperbedaan-perbedaan. Tidak ada jalan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan itu. Tetapi hal itu tidak berarti kita harus bedebat dengan sikap seolah-olah "Ayahku lebih kuat daripada Ayahmu," itu adalah sifat kekanak-kanakan. Adalah lebih baik untuk melihat segala sesuatunya dengan sewajarnya. Semua agama di dunia adalah untuk mencari kemajuan perdamaian dunia dan untuk membuat hidup menjadi lebih baik dengan jalan mengajarkan kepada orang-orang untuk mengikuti tingkah laku yang etis. Dengan cara ini, orang-orang tidak menjadi terperangkap pada sisi material dari kehidupan, dan hidup mereka dapat diseimbangkan antara kemajuan material dan spritual.
Adalah baik jika semua agama bekerja sama untuk memajukan situasi dunia. Kita membutuhkan tidak hanya kemajuan material, tetapi juga kemajuan spiritual. Jika kita hanya menekankan aspoek material dari kehidupan, maka berarti membuat "bom" untuk membunuh setiap orang yang merupakan hasil anggapan terbaik. Tetapi jika berpikir dengan cara humanistik atau spiritual, maka kita akan waspada terhadap rasa takut dan problem-problem lain yang muncul sebagai akibatnya, dan kita mencari keseimbangan antara keduanya. Jika kita hanya berkembang secara spritual dan tidak mempedulikan sisa material, maka manusia akan lapar, dan hal itu juga tidak akan baik. Kita membutuhkan keseimbangan.
Sekarang terdapat banyak interaksi antara agama-agama di dunia dan banyak hal yang dapat digotong-royongkan. Sebagai contoh banyak terdapat interaksi antara umat Buddha dna Kristen. Umat Kristen Katolik dan sebagainya belajar teknik-teknik konsentrasi dan meditasi dari Buddhisme. Banyak pendeta-pendeta Kristen, pastur-pastur, rahib, dan suster datang ke Dharmasala, India, untuk belajar teknik-teknik konsentrasi dan meditasi dan bagaimana mengembangkan cinta dengan tujuan untuk membawanya ke tradisi agama mereka. Beberapa umat Buddha telah mengajar di seminari-seminari (sekolah tinggi) katolik.
Dalam agama kristen, dikatakan bahwa kita harus mencintai setiap orang, tetapi tidak dikatakan bagaimana melakukannya, Buddhisme sarat kaya akan teknik-teknik mengembangkan cinta kasih. Agama kristen dalam tingkatannya yang paling tinggi adalah terbuka untuk mempelajari teknik-teknik ini dari agama Buddha. Hal ini tidak berarti bahwa mereka semua akan menjadi Buddhis, karena tak seorangpun yang dapat mengubah orang lain. Teknik-teknik ini dapat diadaptasikan dalam agama mereka sendiri untuk membantu mereka menjadi umat kristiani yang lebih baik.
Demikian juga, umat Buddhis tertarik dalam beberapa hal dari kekristenan terutama yang berhubungan dengan pelayanan sosial. Beberapa tradisi Kristiani menekankan pada pastur dan susternya untuk terlibat dalam pengajaran, dalam pekerjaan dari rumah-rumah sakit, merawat orang-orang jompo, dan lain-lain. Walaupun beberapa dari layanan masyarakat ini telah berkembang di beberapa negara Buddhis, namun hal ini belumlah berkembang di semua negara Buddhis karena alasan-alasan sosial dan geografis. Ini adalah sesuatu yang dapat dipelajari oleh umat Buddha dari orang-orang Kristiani. Dalai Lama sangat terbuka dalam hal ini. Bukan berarti bahwa umat Buddha akan menjadi Kristiani. Tetapi, ada aspek-aspek tertentu dari pengalaman Kristiani yang dapat dipelajari umat Buddha. Dan ada hal-hal lain dari pengalaman umat Buddha yang dapat dipelajari oleh umat kristiani juga. Dengan cara ini, ada forum terbuka diantara semua agama di dunia, yang didasari oleh penghargaan yang tinggi terhadap satu dengan lainnya.
Sering kali interaski antara agama adalah para tingkat yang tertinggi, dimana orang-orangnya terbuka dan tidak mempunyai prasangka. Adalah pada tingkat yang lebih rendah dimana orang-orangnya merasa tidak aman dan mengembangkan mental yang rendah. Contohnya pada suatu Tim sepakbola yang berusaha mengalahkan/menyingkirkan tim lainnya. Maka terjadilah pertarungan antar tim. Hal ini sangat menyedihkan jika terjadi dalam lingkungan keagamaan, baik itu terjadi antar agama atau antar tradisi-tradisi (aliran) Buddhis yang berbeda.
Sang Buddha mengajarkan metode-metode yang bermacam-macam dan semuanya bekerja serasi untuk menarik orang-orang dari tipe yang berbeda-beda. Oleh karena itu, adalah sangat penting untuk tidak mempunyai sekte, baik terhadap agama lain maupun dalam Buddhisme itu sendiri. Jika kita melihat pada pemimpin-pemimpin besar, pada level yang tertinggi, kita melihat bahwa mereka tidak mempunyai sikap kompetitif atau prasangka buruk terhadap lainnya. Sikap yang demikian ini hendaknya dimiliki oleh semua umat Buddha dari seluruh lapisan. Sadhu... Sadhu..... Sadhu.....
Agama Buddha Dan Mahasiswa Oleh Bhikkhu Uttamo Thera
Belajar ilmu pengetahuan hingga lulus niscaya mendapat kehormatan. Namun, pelatihan diri dalam tingkah laku-lah yang membawa pada kedamaian. (Khuddaka Nikaya, Jataka I, 842)
PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dikuatirkan akan memberikan banyak dampak negatif pada perkembangan agama-agama dunia. Bahkan tidak jarang muncul pandangan sinis bahwa agama suatu ketika akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Para pengikut agama akan menggantikan agama dengan ilmu pengetahuan. Pandangan ini juga melanda di kalangan umat Buddha. Agama Buddha yang telah diajarkan oleh Sang Buddha Gotama hampir 3000 tahun yang lalu di India juga sering diragukan kelayakannya dalam menghadapi tantangan kemajuan jaman. Oleh karena itu, kemudian banyak umat Buddha yang sibuk berusaha 'menyesuaikan' agama Buddha dengan tuntutan jaman.
Mereka 'memperbaiki' Agama Buddha sesuai dengan keinginan pribadinya. Mereka akhirnya bukan memperbaiki keadaan, malah merusak! Mereka masing-masing berlomba menjadi 'Buddha Yunior', merasa memperoleh penerangan sejati dan mandat tertentu untuk mengubah pengertian Dhamma. Padahal Dhamma telah sempurna dibabarkan. Tidak perlu diubah lagi. Dhamma juga tidak akan terpengaruh oleh kemajuan jaman.
AGAMA BUDDHA = BUDDHA DHAMMA + TRADISI
Agama Buddha sebenarnya terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama adalah pelajaran kebenaran yang diberikan oleh Sang Buddha Gotama disebut dengan Buddha Dhamma. Bagian kedua adalah tradisi yang berkembang pada satu masyarakat tertentu tempat tumbuhnya Buddha Dhamma tersebut. Apabila kita berbicara tentang relevansi Agama Buddha dalam menghadapi kemajuan jaman, hendaknya kita dapat membatasi diri membicarakan Buddha Dhamma saja, bukan tentang tradisi. Tradisi dapat berlainan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Membahas masalah tradisi akan bertele-tele dan tidak akan menemui titik terang. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya mati-matian. Padahal, kebenaran Dhamma bukan pada tradisi itu. Pembahasan Buddha Dhamma, di mana pun juga, oleh siapa pun juga, hasilnya akan dan harus tetap sama.
Hal paling pokok dalam Buddha Dhamma atau Ajaran Sang Buddha adalah Empat Kesunyataan Mulia. Bila Buddha Dhamma diibaratkan suatu sistem pendidikan tingkat perguruan tinggi maka Empat Kesunyataan Mulia adalah kurikulum dasarnya. Hal ini dapat terjadi karena selama Sang Buddha mengajarkan Dhamma sampai 45 tahun lamanya, pokok ajaran Beliau selalu sama, Empat Kesunyataan Mulia. Sang Buddha mengajar sebanyak 84.000 kali ceramah, isinya sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Hingga saat inipun pokok pelajaran Agama Buddha tetap dan berlaku universal.
Bahkan di masa yang akan datang pun juga sama. Sampai munculnya Buddha yang akan datang pun pasti akan mengajarkan hal yang sama. Semua Buddha ajaranNya sama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Empat Kesunyataan Mulia itu dapat dijadikan tolok ukur untuk membedakan Agama Buddha dengan berbagai macam tradisi.
Isi Empat Kesunyataan Mulia yang pertama adalah, hidup sungguhnya berisikan ketidakpuasan. Artinya berkumpul dengan segala sesuatu yang dibenci dan berpisah dengan segala sesuatu yang dicinta akan menimbulkan ketidakpuasan. Kedua, ketidakpuasan ini ada sebabnya yaitu keinginan atau harapan kita sendiri. Makin besar harapan, makin besar pula kekecewaan yang akan dirasakan. Harapan yang berlebihan ini dapat muncul karena ketidaktahuan kita akan kenyataan hidup yang selalu berubah, tidak kekal. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan, sebaliknya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Biasanya kita mengerti ketidakkekalan hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Akhirnya, kita akan menjadi penasehat ulung tetapi tidak dapat memanfaatkan Buddha Dhamma untuk kehidupan kita sendiri. Inilah yang menjadi penyebab ketidakpuasan. Banyak teori kurang praktek Dhamma. Ketiga, karena penyebab ketidakpuasan sudah diketahui, maka pasti ada jalan untuk mengatasinya. Jalan kebebasan itu telah ditunjukkan oleh Sang Guru Agung. Bila telah ada jalan dan kemudian dilaksanakan, maka pastilah ketidakpuasan dapat segera diatasi. Terbebas dari ketidakpuasan dan memiliki batin seimbang dalam menghadapi perubahan hidup, itulah tujuan seorang umat Buddha. Keempat, cara atau jalan mengatasi dan menguasai diri kita sendiri agar dapat mencapai keadaan batin yang tenang, seimbang. Cara atau jalan yang diajarkan Sang Buddha ini disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Isi Jalan ini adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Cara hidup Benar, Daya Upaya Benar, Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Jadi, inti Empat Kesunyataan Mulia sebenarnya adalah hukum sebab dan akibat. Ada sebab, muncullah akibat; hilang sebab, hilang pula akibatnya. Hukum ini pula yang mendasari seluruh Ajaran Sang Buddha.
BUDDHA DHAMMA = PENGAJARAN + PENDIDIKAN
Dalam makalah ini tidak akan dibahas tentang Empat Kesunyataan Mulia, tetapi akan membahas hubungan Agama Buddha, dalam hal ini Buddha Dhamma, dengan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam masyarakat sangatlah dihargai oleh Sang Buddha. Bahkan seperti yang ditulis di atas, kehormatan dalam masyarakat akan dicapai apabila kita mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai. Beberapa cara mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah dengan memilih perguruan tinggi yang baik, rajin mengikuti kegiatan kampus, menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah demi kebahagiaan masyarakat dan lingkungan. Apabila kita dapat memanfaatkan kesempatan memperoleh dan mempraktekkan hasil pendidikan ini dengan baik, hal ini akan melegakan hati orangtua. Orangtua akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap anak yaitu memberikan pendidikan yang baik (Digha Nikaya III, 188).
Dalam pandangan Buddhis, pengajaran sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan saja belumlah cukup. Orang masih membutuhkan pendidikan. Pendidikan adalah usaha mengembangkan batin seseorang agar menjadi dewasa. Hasil pengajaran akan memberikan kehormatan dalam masyarakat.
Hasil pendidikan akan menumbuhkan watak bermoral. Kehormatan sebagai anggota masyarakat memanglah membanggakan. Namun itu belumlah cukup. Ilmu pengetahuan yang sedemikian membanggakan kadang dapat berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Kita bisa merenungkan hasil penemuan bom atom yang mungkin tidak terduga oleh si penemu teori relativitas, Albert Einstein. Dan masih banyak penyalahgunaan ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, selain memiliki ilmu pengetahuan sebagai hasil pengajaran dibutuhkan pula latihan pengendalian tingkah laku atau sering disebut dengan sila / kemoralan sebagai hasil pendidikan. Dengan bekal kemoralan ini lah, sikap dan prilaku kita akan terjaga. Kita tidak akan menyalahgunakan kemampuan dan kepandaian yang kita miliki. Kita justru akan memanfaatkan semua ilmu pengetahuan kita untuk membantu kesejahteraan umat manusia. Kita akan selalu memiliki pola pikir, semoga semua mahluk berbahagia.
SILA (KEMORALAN)
Pendidikan secara Buddhis diawali dengan mengenalkan perilaku bersusila atau bermoral. Perilaku ini ditumbuhkan dengan melaksanakan latihan kemoralan. Kemoralan yang paling dasar dalam Agama Buddha adalah Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis berisikan lima latihan pengendalian diri.
Latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan pelanggaran kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Pelaksanaan Pancasila Buddhis ini dengan tekun akan menghasilkan ketenangan, tentraman, dan kedamaian dalam masyarakat. Pancasila Buddhis akan menjadi pagar pengaman lingkungan. Kemampuan teknologi yang dimiliki seseorang tidak akan digunakan untuk kejahatan, mencuri atau merampok, misalnya.
Sebab, telah banyak kita dengar maupun saksikan teknologi sinar laser dapat digunakan untuk membuka lemari besi tempat penyimpanan harta yang hendak dirampok. Oleh karena itu, bila semakin banyak orang melaksanakan Pancasila Buddhis maka kondisi lingkungan masyarakat akan semakin aman. Semakin banyak anggota masyarakat yang melaksanakannya, dunia pun menjadi aman.
Setiap umat Buddha hendaknya melaksanakan Pancasila Buddhis dengan ketat setiap hari. Pada hari-hari tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, kita dapat meningkatkan latihan dengan melaksanakan Atthasila atau delapan aturan kemoralan. Tujuannya jelas, untuk lebih dapat mengendalikan diri, menguasai emosi. Dalam Atthasila, salah satunya kita juga dianjurkan berpuasa setelah tengah hari, kira-kira setelah jam 12.00 siang. Tujuan berpuasa ini adalah untuk mengalahkan rasa lapar yang merupakan dorongan universal yang ada dalam diri kita. Disebut dengan dorongan universal karena ketika masih di dalam kandungan, mahluk termasuk manusia, telah mengenal rasa lapar terlebih dahulu sebelum mengenal segala sesuatu yang ada di dunia ini. Jadi bila orang telah dapat menundukkan dorongan universal ini, ia akan lebih mudah menenangkan pikirannya ketika ketidakpuasan datang menghampirinya. Ia akan dapat dengan segera merenungkan bahwa dorongan universal yang lebih hebat pun telah dapat ditundukkan, apalagi hanya ketidakpuasan atas sesuatu yang tidak dikenalnya ketika masih dalam kandungan. Batinnya akan lebih mudah tenang, seimbang. Emosi terkendali.
SAMADHI (MEDITASI)
Pendidikan mental dengan melaksanakan latihan kemoralan sebagai pengimbang kemajuan ilmu pengetahuan, hendaknya dilengkapi dengan memperbaiki pola pikir. Pola pikir hendaknya dikendalikan agar seseorang jangan hanya baik pada ucapan dan perbuatan luarnya saja, namun jahat dalam pikirannya. Perbaikan pola pikir ini dengan menggunakan sarana latihan meditasi. Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan disebutkan tentang Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Latihan meditasi digunakan untuk membiasakan pikiran bergerak dalam bidang yang positif. Dalam latihan meditasi, seseorang dikondisikan untuk selalu menyadari setiap saat segala sesuatu yang dikatakan, dilakukan dan dipikirkan. Latihan ini delakukan dengan selalu merenungkan kata-kata: 'Saat ini saya sedang apa?' Latihan ini diperlukan karena dari waktu ke waktu, pikiran seseorang selalu berlompatan ke masa lampau maupun yang akan datang. Amat sangat jarang pikiran menyadari kesibukan yang sedang dilakukan saat ini. Pemikiran tentang masa lampau yang pahit hanyalah akan menimbulkan penyesalan.
Sebaliknya, bila kenangan manis yang diingat, orang hanya akan terbuai oleh bayangannya saja. Apabila, pikiran melihat masa depan yang suram, akhirnya orang stres; masa depan cerah pun kadang hanya berhenti sampai pada angan-angan atau mimpi saja. Meditasi membiasakan seseorang menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tadi kita sudah pernah hidup, tetapi sudah tidak hidup. Nanti kita akan hidup, tetapi belum tentu hidup. Saat inilah hidup. Manfaatkanlah. Kesadaran akan hidup saat ini akan memacu semangat hidup agar dapat memanfaatkan setiap momen kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada waktu yang terbuang untuk bermalas-malasan. Setiap waktu sedemikian berharganya yang akan digunakan untuk membaktikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Selain itu, meditasi akan dapat meningkatkan konsentrasi kerja seseorang sehingga dengan demikian daya kreatifitas akan dapat muncul. Ide dan gagasan cemerlang muncul dengan mudah. Penemuan teknologi dapat ditingkatkan. Dengan demikian, semakin besar kesempatan berbuat baik kepada dunia. Tentu saja, pemupukan karma baik akan terus terjadi. Di samping itu, keberhasilan seseorang menerapkan hasil pendidikan dan pengajarannya akan menimbulkan simpati masyarakat. Inilah manfaat menyatukan ilmu pengetahuan dengan Buddha Dhamma. Memang, dalam beberapa hal, agama dan ilmu pengetahuan akan dapat saling melengkapi.
Science without religion is lame, religion without science is blind. Albert Einstein , Out of My Later Years
KESIMPULAN
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran. Pengajaran lebih menekankan perkembangan fisik, sedangkan pendidikan lebih cenderung mengembangkan batin. Demikian pula perkembangan ilmu pengetahuan hendaknya dibarengi dengan perkembangan batin yang sehat. Perkembangan batin dimulai dengan pelaksanaan kemoralan, minimal Pancasila Buddhis. Pelaksanaan Pancasila Buddhis akan menghindarkan penyalahgunaan kemampuan dan kepandaian yang dimiliki . Selain kemoralan, seorang umat Buddha hendaknya juga mengembangkan meditasi. Meditasi akan mendorong timbulnya gagasan baru. Menjadikan seseorang kreatif pada bidangnya. Dan, meditasi juga akan mengantarkan orang pada satu tingkat kesadaran bahwa hidup adalah saat ini. Oleh karena itu, mumpung masih hidup, gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk membaktikan seluruh ilmu yang dimiliki untuk kebahagiaan dunia.
[ Dimuat atas izin dari penulis. Dikutip dari Lembaran VIJJA KUMARA No. 3/I/97. ]
Orang-orang selalu bertanya : “Apakah umat Buddha bersembahyang? Apa yang dilakukan umat Buddha ketika mereka pergi ke kelenteng atau kuil? Dan bagaimanakah pandangan Buddhis terhadap doa/sembahyang?”
Doa dan penyembahan yang sebenarnya hanya merupakan salah satu bagian pelengkap dalam berbagai kepercayaan. Di dalam Buddhisme, kata doa mempunyai banyak arti. Di dalam aliran kepercayaan terhadap Ketuhanan, yaitu kepercayaan yang meyakini akan sesuatu yang maha kuasa, kekuatan Tuhan sebagai pencipta bumi beserta segala isinya, berdoa berarti mengutamakan permohonan kepada Tuhan, meminta kepadanya, dengan rendah hati meminta petunjuk/bimbingan dan perlindungan, kesehatan yang baik dan kebahagiaan, dan bahkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
Keadaan yang seharusnya berada di luar daripada itu. Kebanyakan umat Buddha tidak mempercayai Tuhan dengan cara demikian, mereka juga tidak mempunyai doa dengan pengertian seperti itu. Umat Buddha percaya akan hukum karma yang menyatakan kebahagian dan ketidakbahagiaan adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Kejayaan dan kesengsaraan diciptakan individu itu sendiri oleh perbuatan, ucapan dan pikirannya sendiri. Hukum karma tidak hanya untuk orang-orang tertentu, tidak ada perantara/wakil dibaliknya, yang memimpin atau mengaturnya. Karena tidak hanya untuk orang-orang tertentu, sehingga tidak menunjukkan belas kasihan/kemurahan hati maupun pengampunan. Kejahatan yang diperbuat hanya dapat ditebus dengan melakukan kebaikan yang mana akan mengatasi pengaruh atau akibat dari perbuatan jahat itu sendiri. Dosa / Karma buuk, dalam pengertian Buddhisme bukanlah suatu pelanggaran atau ketidaktaatan atas kesewenang-wenangan terhadap perintah yang telah ditetapkan Tuhan, yang harus diikuti oleh manusia, tetapi kesalahan ditunjukkan melalui tindakan tubuh, ucapan dan pikiran yang mana dapat mengotori watak/sifat dan menghalangi pertumbuhan kepribadian seseorang.
Dengan demikian di dalam Buddhisme tidak dikenal arti kata “doa” yang telah diterima oleh masyarakat pada umumnya. Manusia itu sendiri yang bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri atas kebaikan dan kejahatan, kebahagiaan dan kesengsaraannya, bukan orang lain. Dunia tidak menggantungkan kemajuan atau kejayaan pada perantara/perwakilan tertentu dan tidak ada pencetus atau pembuat gagasan yang berada di luar itu.
Apa yang dilakukan seorang Buddhis ketika mengunjungi kuil ? Mereka melakukan banyak hal. Tidak ada hari-hari tertentu untuk mengunjungi kuil, walaupun che-it dan cap go (setiap tanggal 1 & 15 penanggalan lunar) adalah populer bagi kebanyakan orang. Di hari-hari demikian, penganut setia menjalankan 8 (delapan) sila. Di mana, biasanya mereka berpakaian putih, putih melambangkan kesederhanaan, kesucian dan kerendahan hati. Penganut setia akan membawakan bunga, minyak, dupa dan terkadang tepung kayu cendana dan camphor. Di kuil, mereka mencuci tangan dan kaki karena kebersihan tubuh dan pikiran dipuji oleh Buddha. Di kuil ada beberapa tempat-tempat suci atau tempat dimana bisa melakukan persembahan. Tempat suci yang utama dinamakan Vihara yang artinya tempat berdiam.
Kata Vihara semula ditujukan pada tempat kediaman Sang Buddha. Tetapi kemudian, digunakan untuk menunjukkan tempat kediaman para bhikkhu. Pengertiannya dalam hal ini dapat disamakan dengan kata “biara”. Sebuah vihara juga berisi patung-patung Buddha dan disana terdapat sesuatu yang perlu untuk diperhatikan. Bagi orang-orang Buddhis, sebuah patung bukanlah objek penyembahan ; itu hanyalah simbol dan gambaran dari Sang Buddha. Patung hanya berfungsi membantu seseorang mengingat keagungan sifat-sifat baik/kebajikan yang telah dilakukan oleh “Yang Sudah Terang”. Maksud/tujuan penyembahan sama sekali tidak penting, meskipun ada atau tidaknya patung tersebut, tetapi boleh digunakan untuk membantu mengkonsentrasikan pikiran. Di dalam penyembahan terhadap patung, seorang Buddhis tidak seperti seorang pemuja berhala menyembah kayu, tanah liat atau patung. Tuduhan sebagai pemujaan berhala dan terjadinya perlawanan terhadap umat Buddha adalah disebabkan oleh ketidaktahuan atau memang dengan sengaja mengemukakan pernyataan yang keliru.
Ada hal lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan kata Vihara untuk tempat yang berisikan gambaran Buddha. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kata Vihara berarti sebuah tempat tinggal ; dengan demikian, bagi orang Buddhis, Vihara adalah tempat dimana Buddha tinggal tidak hanya di masa lalu, tetapi juga untuk saat ini. Pemujaan kepada Buddha tidak ditujukan untuk seseorang yang sudah tiada tetapi untuk seseorang yang hidup dalam 2 masa (masa zaman Sang Buddha & masa sekarang) dan untuk masa sebelum Dia. Ini tidak berarti orang Buddhis percaya bahwa Sang Buddha yang sudah parinibbana secara duniawi di Kusinara, pada masa hidupnya, yang berada di beberapa tempat-tempat tertentu, dan yang membawa serta makna-makna dari hidup. Tetapi bagi orang Buddhis, penghormatannya kepada Buddha seperti mengingatkan dirinya akan kehadiran Guru yang hidup, sehingga tindakan penyembahannya adalah bersifat hidup dan berarti.
Sang Buddha telah tiada, namun pengaruhnya masih bertahan hingga sekarang, meliputi seluruh dunia seperti wangi-wangian yang harumnya masih terus-menerus tertinggal meskipun materialnya sudah tidak ada. Orang-orang Buddhis merasa mereka membawa persembahannya untuk seseorang yang masih benar-benar hidup. Untuk itu, Buddha-Dhamma masih terasa begitu hidup dan kepribadian-Nya masih segar bersinar dalam ingatan. Ini menjelaskan mengapa beberapa orang mempersembahkan makanan dan minuman di tempat-tempat suci. Demikianlah persembahan hanya merupakan simbolis kekuatan atas keyakinan dan ketaatan mereka; tidak ada yang percaya, bukan hanya kebanyakan penganut yang tidak tahu, bahwa Buddha benar-benar ikut mengambil makanan dan minuman itu. Ini adalah cara orang-orang Buddhis mengutarakan bentuk idealisnya, konsep kita tentang Buddha sebagai sebuah pengaruh yang tetap tinggal dalam kehidupan sehari-hari kita.
Mempersembahkan bunga dan dupa adalah sebuah bentuk penyembahan, penghormatan, pemujaan dan ucapan rasa syukur, persembahan tidak mempunyai nilai yang hakiki. Seperti kita mempersembahkan sekuntum bunga kepada seseorang untuk menunjukkan rasa hormat, kasih sayang dan terima kasih. Persembahan bunga dan dupa diikuti ungkapan berupa bait-bait (syair-syair) yang mengingatkan seseorang akan sifat-sifat mulia dari Sang Buddha.
Sebagaimana Almarhum Ven Nanamoli menguraikan : “Sesungguhnya Buddha adalah Yang Diberkati, yang telah melenyapkan/mengakhiri segala kesedihan dan penderitaan, Yang Sempurna, yang pantas mendapatkan penghormatan, yang telah mencapai kebijaksanaan tertinggi dan penerangan sempurna, yang menjelaskan pengetahuan yang benar dan sila yang benar, yang menemukan kedamaian dan kebahagiaan, yang menyadari kebenaran tentang dunia ini, sebagai pembimbing yang tiada taranya dan teman bagi yang meminta petunjuk-Nya, guru para dewa dan manusia.”
Seakan-akan diberitahukan bahwa di sini tidak ada permohonan pertolongan dan perlindungan, akan tetapi merupakan hasil ingatan dan kualitas latihan yang amat besar dari seorang manusia yang menurut umat Buddha adalah manusia yang paling luar biasa yang pernah hidup di dunia ini.
Diikuti oleh bait-bait (syair-syair) lain, umat menyatakan bahwa dia menerima Buddha sebagai gurunya dan pembimbing sepanjang hidupnya dan dengan kebajikannya, maka kebahagiaan akan datang padanya. Ini adalah pernyataan tegas atas keyakinannya terhadap Buddha dan penerimaan jalan hidupnya sebagai pengorbanannya. Meskipun lebih penting mengucapkan ketetapan hati untuk mencapai kedamaian Nibbana seperti yang telah dicapai Sang Buddha melalui praktek kebajikan dan perolehan kebijaksanaan. Umat diingatkan bahwa selama kelahiran-Nya yang berturut-turut, dalam jangka waktu yang lama, Sang Buddha (kemudian dikenal sebagai Bodhisattva atau calon Buddha yang sedang menyempurnakan diri untuk mencapai pencerahan) melatih kualitas-kualitas yang menuntun ke arah penyempurnaan dan penerangan sempurna. Di dalam pelatihan ini, Bodhisattva atau yang akan menjadi Buddha mempertimbangkan untuk tidak berusaha terlalu keras, sehingga tidak ada pengorbanan yang terlalu besar. Tidak hanya di satu kelahiran tetapi banyak kelahiran Dia telah mengorbankan hidupNya untuk prinsip-prinsip yang dipegang-Nya dalam melayani yang lain.
Semua manusia bisa menjadi Buddha, jika mereka mempunyai ketetapan hati yang dibutuhkan dan hendak mengikuti jalan ke-Buddha-an. Buddha tidak mencapai kejayaan/kebesaran, yang mana tidak bisa dicapai oleh yang lainnya. Jalan hidup yang dinyatakan Sang Buddha dinamakan Dhamma dan umat merasa terpanggil melalui syair, kualitas-kualitas dan penonjolan karakteristik/sifat khas pengajaran-Nya. Jadi Buddha Dhamma dikatakan: “Sudah dinyatakan dengan jelas, tidak ada misteri atau yang tersembunyi tetapi terbuka dan jelas seperti membuka telapak tangan, kemanjurannya jelas dan nyata serta dapat dibuktikan, kekal dan melampaui batas waktu, berpegang pada kebaikan sepanjang masa dan di semua tempat, yang mengundang tantangan bagi penyelidikan dan penelitian, disebabkan tidak ada yang tersembunyi, tidak bersandar pada kepercayaan semata, tetapi kepastian/keakuratan, tidak ada yang kabur tetapi nyata dalam tujuan yang ditetapkan. Kebenaran dan kebahagiaan hanya dapat dicapai secara individual dan dengan usaha yang keras, tidak tergantung pada orang lain, walau sekuat apapun dia.”
Umat juga terpanggil untuk mengobarkan semangat dan memperbaiki dirinya, dan selalu ada orang-orang yang mempersembahkan diri mereka demi perwujudan/realisasi penuh dari Dhamma, untuk mencapai pembebasan dan dengan sungguh-sungguh berjuang demi mencapai cita-cita penyelidikan mereka, yakni pemberantasan terhadap ketamakan, kebencian dan kebodohan. Demikianlah contoh hidup yang baik, “moral yang baik, tulus, tidak cacat tingkah laku, patut dihormati, patut dipandang dan diikuti.” Orang-orang mulia ini dikenal sebagai Sangha atau kumpulan murid-murid Buddha yang membersihkan dunia ini dengan kebaikan dan kesucian hidup mereka, menghindari kejahatan, mengembangkan kebaikan dan mengisi dunia dengan keramah-tamahan, perbuatan baik dan kedamaian. Umat yang memberikan sedekah kepada mereka yang meninggalkan keduniawian berarti sedang mempraktekkan dana atau kemurahan hati. Dalam mengingatkan orang-orang mulia ini untuk kealimannya, mereka mempraktekkan sila yang baik dan untuk pikirannya, mereka memajukan pemikiran-pemikirannya dengan melatih pikiran ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu meditasi atau pengolahan pikiran (bhavana)
Kata agama berasal dari kata dalam bahasa Pali atau bisa juga dari kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi ke, menuju, atau datang, kepada suatu tujuan, yang dalam hal ini yaitu untuk menemukan suatu kebenaran.
Adapun penjelasan maknanya di antaranya sebagai berikut:
1. Dari kehidupan tanpa arah, tanpa pedoman, kita datang mencari pegangan hidup yang benar, untuk menuju kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan yang tertinggi. 2. Dari biasa melakukan perbuatan rendah di masa lalu, kita beralih menuju hakekat ketuhanan, yaitu melakukan perbuatan benar yang sesuai dengan hakekat ketuhanan tersebut, sehingga kita bisa hidup sejahtera dan bahagia. 3. Dari kehidupan tanpa mengetahui hukum kesunyataan (hukum kebenaran mutlak), dari kegelapan batin, kita berusaha menemukan sampai mendapat atau sampai mengetahui dan mengerti suatu hukum kebenaran yang belum kita ketahui, yaitu hukum kesunyataan yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata agama mempunyai arti tidak kacau. Bila memang dapat diartikan demikian, maka kata agama ini, bisa mempunyai makna yaitu menjalankan suatu peraturan kemoralan, untuk menghindari kekacauan dalam hidup ini, yang tujuannya adalah guna mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa timbulnya agama di dunia ini adalah untuk menghindari terjadinya kekacauan, pandangan hidup yang salah, dsb, yang terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda; guna mendapatkan suatu kehidupan yang sejahtera dan kebahagiaan tertinggi.
Memang, setiap orang di dunia ini pasti menginginkan adanya kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupnya. Inilah alasan mengapa orang mau mencari jalan yang benar, yang dapat membawa mereka kepada suatu tujuan, yaitu suatu kebahagiaan mutlak terbebas dari semua bentuk penderitaan. Semua agama di dunia ini muncul karena adanya alasan ini.
Agama Buddha (Buddha Dhamma)
Agama Buddha biasanya lebih dikenal dengan sebutan Buddha Dhamma. Seluruh ajaran Sang Buddha merupakan ajaran yang membahas tentang hukum kebenaran mutlak, yang disebut Dhamma.
Dhamma adalah kata dalam bahasa Pali. Dhamma artinya kesunyataan mutlak, kebenaran mutlak atau hukum abadi. Dhamma tidak hanya terdapat di dalam hati sanubari atau di dalam pikiran manusia saja, tetapi juga terdapat di seluruh alam semesta.
Seluruh alam semesta juga merupakan Dhamma. Jika bulan timbul atau tenggelam, hujan turun, tanaman tumbuh, musim berubah, dan sebagainya, hal ini tidak lain juga merupakan Dhamma;
juga yang membuat segala sesuatu bergerak, yaitu sebagai yang dinyatakan oleh ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, psikologi, dan sebagainya, adalah juga merupakan Dhamma.
Dhamma merupakan hukum abadi yang meliputi seluruh alam semesta; tetapi Dhamma seperti yang baru dijelaskan ini, adalah merupakan Dhamma yang berkondisi atau kebenaran mutlak dari segala sesuatu yang berkondisi; sedangkan selain itu, Dhamma adalah juga merupakan kebenaran mutlak
dari yang tidak berkondisi, yang tidak bisa dijabarkan secara kata-kata, yang merupakan tujuan akhir kita semua.
Jadi sifat Dhamma adalah mutlak, abadi, tidak bisa di-tawar-tawar lagi. Ada Buddha atau tidak ada Buddha, hukum abadi (Dhamma) ini akan tetap ada sepanjang zaman.
Di dalam Dhammaniyama sutta, Sang Buddha bersabda demikian:
"O, para bhikkhu, apakah para Tathagatha muncul di dunia atau tidak, terdapat hukum yang tetap dari segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu. …".
Buddha, adalah merupakan suatu sebutan atau gelar dari suatu keadaan batin yang sempurna. Buddha bukanlah nama diri yg dimiliki oleh seseorang, Buddha berarti yang sadar, yang telah mencapai penerangan sempurna, atau yang telah merealisasi kebebasan agung dengan kekuatan sendiri.
Dengan demikian, Buddha Dhamma adalah Dhamma yang telah direalisasi dan kemudian dibabarkan oleh Buddha (yang sekarang ini bernama Gotama); atau dapat juga dikatakan agama yang pada hakekatnya mengajarkan hukum-hukum abadi, pelajaran tata susila yang mulia, ajaran yang mengandung paham filsafat mendalam, yang semuanya secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan.
Buddha Dhamma memberikan kepada penganutnya suatu pandangan tentang hukum abadi, yaitu hukum alam semesta yang berkondisi dan yang tidak berkondisi.
Hal tersebut semuanya juga berarti menunjukkan bahwa selain ada kehidupan keduniaan yang fana ini, yang masih berkondisi, atau yang masih belum terbebas dari bentuk-bentuk penderitaan; ada pula suatu kehidupan yang lebih tinggi, yang membangun kekuatan-kekuatan batin yang baik dan benar, untuk diarahkan pada tujuan luhur dan suci.
Dengan mengerti tentang hukum kebenaran ini, atau dapat pula dikatakan, bila manusia sudah berada di dalam Dhamma, maka ia akan dapat membebaskan dirinya dari semua bentuk penderitaan atau akan dapat merealisasi Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita.
Tetapi, Nibbana, yang merupakan terhentinya semua derita tersebut, tidak dapat direalisasi hanya dengan cara sembahyang, mengadakan upacara atau memohon kepada para dewa saja, terhentinya derita tersebut hanya dapat direalisasi dengan meningkatkan perkembangan batin.
Perkembangan batin ini hanya dapat terjadi dengan jalan berbuat kebajikan, mengendalikan pikiran, dan mengembangkan kebijaksanaan, sehingga dapat mengikis semua kekotoran batin, dan tercapailah tujuan akhir.
Sehingga dalam hal membebaskan diri dari semua bentuk penderitaan, untuk mencapai kebahagiaan yg mutlak, maka kita sendirilah yang harus berusaha.
Di dalam Dhammapada ayat 276, Sang Buddha sendiri bersabda demikian :
"Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan jalan."
Tujuan Hidup Umat Buddha
Setelah kita dapat mengerti atau memahami apa arti Buddha Dhamma, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tadi, maka kita sudah dapat mengetahui bahwa tujuan hidup umat Buddha adalah tercapainya suatu kebahagiaan, baik kebahagiaan yang masih bersifat keduniawian
(yang masih berkondisi) yang hanya bisa menjadi tujuan sementara saja; maupun kebahagiaan yang sudah bersifat mengatasi keduniaan (yang sudah tidak berkondisi) yang memang merupakan tujuan akhir, dan merupakan sasaran utama dalam belajar Buddha Dhamma.
Banyak orang yang masih memiliki salah pengertian mengatakan bahwa,Agama Buddha (Buddha Dhamma) hanya menaruh perhatian kepada cita-cita yang luhur, moral tinggi, dan pikiran yang mengandung filsafat tinggi saja, dengan mengabaikan kesejahteraan kehidupan duniawi
dari umat manusia.
Padahal, Sang Buddha di dalam ajaran-Nya, juga menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan kehidupan duniawi dari umat manusia, yang merupakan kebahagiaan yang masih berkondisi.
Memang, walaupun kesejahteraan kehidupan duniawi bukanlah merupakan tujuan akhir dalam Agama Buddha, tetapi hal itu bisa juga merupakan salah satu kondisi (sarana / syarat) untuk tercapainya tujuan yang lebih tinggi dan luhur, yang merupakan kebahagiaan yang tidak berkondisi,
yaitu terealisasinya Nibbana.
Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesuksesan dalam kehidupan duniawi adalah merupakan suatu penghalang bagi tercapainya kebahagiaan akhir yang mengatasi keduniaan.
Sesungguhnya yg menghalangi perealisasian Nibbana, bukanlah kesuksesan atau kesejahteraan kehidupan duniawi tersebut, tetapi kehausan dan keterikatan batin kepadanya itulah, yang merupakan halangan untuk terealisasinya Nibbana.
Di dalam Vyagghapajja sutta, seorang yang bernama Dighajanu, salah seorang suku Koliya, datang menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, lalu ia duduk di samping beliau dan
kemudian berkata:
"Bhante, kami adalah upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup berkeluarga, mempunyai isteri dan anak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante, ajarkanlah suatu ajaran (Dhamma) yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dalam kehidupan sekarang ini,
dan juga kebahagiaan yang akan datang."
Menjawab pertanyaan ini, Sang Buddha bersabda bahwa ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, yaitu:
1. Utthanasampada: rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif; mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya, serta mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas.
2. Arakkhasampada: ia harus pandai menjaga penghasilannya, yang diperolehnya dengan cara halal, yang merupakan jerih payahnya sendiri.
3. Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan.
4. Samajivikata: harus dapat hidup sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Artinya bisa menempuh cara hidup yang sesuai dan seimbang dengan penghasilan yang diperolehnya, tidak boros, tetapi juga tidak pelit / kikir.
Keempat hal tersebut adalah merupakan persyaratan (kondisi) yang dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, sedangkan untuk dapat mencapai dan merealisasi kebahagiaan yang akan datang, yaitu kebahagiaan dapat terlahir di alam-alam yang
menyenangkan dan kebahagiaan terbebas dari yang berkondisi, ada empat persyaratan pula yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut:
1. Saddhasampada: harus mempunyai keyakinan, yaitu keyakinan terhadap nilai-nilai luhur. Keyakinan ini harus berdasarkan pengertian, sehingga dengan demikian diharapkan untuk menyelidiki, menguji dan mempraktikkan apa yang dia yakini tersebut.
Di dalam Samyutta Nikaya V, Sang Buddha menyatakan demikian:
"Seseorang … yang memiliki pengertian, mendasarkan keyakinannya sesuai dengan pengertian."
Saddha (keyakinan) sangat penting untuk membantu seseorang dalam melaksanakan ajaran dari apa yang dihayatinya; juga berdasarkan keyakinan ini, maka tekadnya akan muncul dan berkembang.
Kekuatan tekad tersebut akan mengembangkan semangat dan usaha untuk mencapai tujuan.
2. Silasampada: harus melaksanakan latihan kemoralan, yaitu menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila, ucapan yang tidak benar, dan menghindari makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (hilangnya pengendalian diri).
Sila bukan merupakan suatu peraturan larangan, tetapi merupakan ajaran kemoralan yang bertujuan agar umat Buddha menyadari adanya akibat baik dari hasil pelaksanaannya, dan akibat buruk bila tidak melaksanakannya. Dengan demikian, berarti dalam hal ini, seseorang bertanggung jawab penuh terhadap setiap perbuatannya.
Pelaksanaan sila berhubungan erat dengan melatih perbuatan melalui ucapan dan badan jasmani. Sila ini dapat diintisarikan menjadi 'hiri' (malu berbuat jahat / salah) dan 'ottappa' (takut akan akibat
perbuatan jahat / salah).
Bagi seseorang yang melaksanakan sila, berarti ia telah membuat dirinya maupun orang lain merasa aman, tentram, dan damai. Keadaan aman, tenteram dan damai merupakan kondisi yang tepat untuk membina, mengembangkan & meningkatkan kemajuan serta kesejahteraan masyarakat dalam rangka tercapainya tujuan akhir, yaitu terealisasinya Nibbana.
3. Cagasampada: murah hati, memiliki sifat kedermawanan, kasih sayang, yang dinyatakan dalam bentuk menolong mahluk lain, tanpa ada perasaan bermusuhan atau iri hati, dengan tujuan agar mahluk lain dapat hidup tenang, damai, dan bahagia.
Untuk mengembangkan caga dalam batin, seseorang harus sering melatih mengembangkan kasih sayang dengan menyatakan dalam batinnya (merenungkan) sebagai berikut:
"Semoga semua mahluk berbahagia, bebas dari penderitaan, kebencian, kesakitan, dan kesukaran. Semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri."
4. Panna: harus melatih mengembangkan kebijaksanaan, yang akan membawa ke arah terhentinya dukkha (Nibbana).
Kebijaksanaan di sini artinya dapat memahami timbul dan padamnya segala sesuatu yang berkondisi; atau pandangan terang yang bersih dan benar terhadap segala sesuatu yang berkondisi, yang membawa ke arah terhentinya penderitaan.
Panna muncul bukan hanya didasarkan pada teori, tetapi yang paling penting adalah dari pengalaman dan penghayatan ajaran Buddha.
Panna berkaitan erat dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Singkatnya ia mengetahui dan mengerti tentang: masalah yang dihadapi, timbulnya penyebab masalah itu, masalah itu dapat dipadamkan / diatasi dan cara atau metode untuk memadamkan penyebab masalah itu.
Itulah uraian dari Vyagghapajja sutta yang ada hubungannya dengan kesuksesan dalam kehidupan duniawi yang berkenaan dengan tujuan hidup umat Buddha.
Sutta lain yang juga membahas tentang kesuksesan dalam kehidupan duniawi ini, bisa kita lihat pula dalam Anguttara Nikaya II 65, di mana Sang Buddha menyatakan beberapa keinginan yang wajar
dari manusia biasa (yang hidup berumah tangga), yaitu:
1. Semoga saya menjadi kaya, dan kekayaan itu terkumpul dengan cara yang benar dan pantas.
2. Semoga saya beserta keluarga dan kawan-kawan, dapat mencapai kedudukan social yang tinggi.
3. Semoga saya selalu berhati-hati di dalam kehidupan ini, sehingga saya dapat berusia panjang.
4. Apabila kehidupan dalam dunia ini telah berakhir, semoga saya dapat terlahirkan kembali di alam kebahagiaan (surga).
Keempat keinginan wajar ini, merupakan tujuan hidup manusia yang masih diliputi oleh kehidupan duniawi; dan bagaimana caranya agar keinginan-keinginan ini dapat dicapai, penjelasannya adalah sama dengan uraian yang dijelaskan di dalam Vyagghapajja sutta tadi.
Jadi, jelaslah sekarang bahwa Sang Buddha di dalam ajaran Beliau, sama sekali tidak menentang terhadap kemajuan atau kesuksesan dalam kehidupan duniawi.
Dari semua uraian di atas tadi, bisa kita ketahui bahwa Sang Buddha juga memperhatikan kesejahteraan dalam kehidupan duniawi; tetapi memang, Beliau tidak memandang kemajuan duniawi sebagai sesuatu yang benar, kalau hal tersebut hanya didasarkan pada kemajuan materi semata, dengan mengabaikan dasar-dasar moral dan spiritual;
Sebab seperti yang dijelaskan tadi, yaitu bahwa tujuan hidup umat Buddha, bukan hanya mencapai kebahagiaan di dalam kehidupan duniawi (kebahagiaan yang masih berkondisi saja), tetapi juga bisa merealisasi kebahagiaan yang tidak berkondisi, yaitu terbebas total dari dukkha, terealisasinya Nibbana.
Maka meskipun menganjurkan kemajuan material dalam rangka kesejahteraan dalam kehidupan duniawi, Sang Buddha juga selalu menekankan pentingnya perkembangan watak, moral, dan spiritual, untuk menghasilkan suatu masyarakat yang bahagia, aman, dan sejahtera secara lahir maupun batin; dalam rangka tercapainya tujuan akhir, yaitu terbebas dari dukkha atau terealisasinya Nibbana.