Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Jumat, 12 Februari 2010

Agama Buddha Dan Mahasiswa



Agama Buddha Dan Mahasiswa
Oleh Bhikkhu Uttamo Thera


Belajar ilmu pengetahuan hingga lulus niscaya mendapat kehormatan. Namun, pelatihan diri dalam tingkah laku-lah yang membawa pada kedamaian.
(Khuddaka Nikaya, Jataka I, 842)

PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu pengetahuan dikuatirkan akan memberikan banyak dampak negatif pada perkembangan agama-agama dunia. Bahkan tidak jarang muncul pandangan sinis bahwa agama suatu ketika akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Para pengikut agama akan menggantikan agama dengan ilmu pengetahuan. Pandangan ini juga melanda di kalangan umat Buddha. Agama Buddha yang telah diajarkan oleh Sang Buddha Gotama hampir 3000 tahun yang lalu di India juga sering diragukan kelayakannya dalam menghadapi tantangan kemajuan jaman. Oleh karena itu, kemudian banyak umat Buddha yang sibuk berusaha 'menyesuaikan' agama Buddha dengan tuntutan jaman.

Mereka 'memperbaiki' Agama Buddha sesuai dengan keinginan pribadinya. Mereka akhirnya bukan memperbaiki keadaan, malah merusak! Mereka masing-masing berlomba menjadi 'Buddha Yunior', merasa memperoleh penerangan sejati dan mandat tertentu untuk mengubah pengertian Dhamma. Padahal Dhamma telah sempurna dibabarkan. Tidak perlu diubah lagi. Dhamma juga tidak akan terpengaruh oleh kemajuan jaman.

AGAMA BUDDHA = BUDDHA DHAMMA + TRADISI

Agama Buddha sebenarnya terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama adalah pelajaran kebenaran yang diberikan oleh Sang Buddha Gotama disebut dengan Buddha Dhamma. Bagian kedua adalah tradisi yang berkembang pada satu masyarakat tertentu tempat tumbuhnya Buddha Dhamma tersebut. Apabila kita berbicara tentang relevansi Agama Buddha dalam menghadapi kemajuan jaman, hendaknya kita dapat membatasi diri membicarakan Buddha Dhamma saja, bukan tentang tradisi. Tradisi dapat berlainan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Membahas masalah tradisi akan bertele-tele dan tidak akan menemui titik terang. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya mati-matian. Padahal, kebenaran Dhamma bukan pada tradisi itu. Pembahasan Buddha Dhamma, di mana pun juga, oleh siapa pun juga, hasilnya akan dan harus tetap sama.

Hal paling pokok dalam Buddha Dhamma atau Ajaran Sang Buddha adalah Empat Kesunyataan Mulia. Bila Buddha Dhamma diibaratkan suatu sistem pendidikan tingkat perguruan tinggi maka Empat Kesunyataan Mulia adalah kurikulum dasarnya. Hal ini dapat terjadi karena selama Sang Buddha mengajarkan Dhamma sampai 45 tahun lamanya, pokok ajaran Beliau selalu sama, Empat Kesunyataan Mulia. Sang Buddha mengajar sebanyak 84.000 kali ceramah, isinya sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Hingga saat inipun pokok pelajaran Agama Buddha tetap dan berlaku universal.

Bahkan di masa yang akan datang pun juga sama. Sampai munculnya Buddha yang akan datang pun pasti akan mengajarkan hal yang sama. Semua Buddha ajaranNya sama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Empat Kesunyataan Mulia itu dapat dijadikan tolok ukur untuk membedakan Agama Buddha dengan berbagai macam tradisi.

Isi Empat Kesunyataan Mulia yang pertama adalah, hidup sungguhnya berisikan ketidakpuasan. Artinya berkumpul dengan segala sesuatu yang dibenci dan berpisah dengan segala sesuatu yang dicinta akan menimbulkan ketidakpuasan. Kedua, ketidakpuasan ini ada sebabnya yaitu keinginan atau harapan kita sendiri. Makin besar harapan, makin besar pula kekecewaan yang akan dirasakan. Harapan yang berlebihan ini dapat muncul karena ketidaktahuan kita akan kenyataan hidup yang selalu berubah, tidak kekal. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan, sebaliknya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Biasanya kita mengerti ketidakkekalan hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Akhirnya, kita akan menjadi penasehat ulung tetapi tidak dapat memanfaatkan Buddha Dhamma untuk kehidupan kita sendiri. Inilah yang menjadi penyebab ketidakpuasan. Banyak teori kurang praktek Dhamma. Ketiga, karena penyebab ketidakpuasan sudah diketahui, maka pasti ada jalan untuk mengatasinya. Jalan kebebasan itu telah ditunjukkan oleh Sang Guru Agung. Bila telah ada jalan dan kemudian dilaksanakan, maka pastilah ketidakpuasan dapat segera diatasi. Terbebas dari ketidakpuasan dan memiliki batin seimbang dalam menghadapi perubahan hidup, itulah tujuan seorang umat Buddha. Keempat, cara atau jalan mengatasi dan menguasai diri kita sendiri agar dapat mencapai keadaan batin yang tenang, seimbang. Cara atau jalan yang diajarkan Sang Buddha ini disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Isi Jalan ini adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Cara hidup Benar, Daya Upaya Benar, Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Jadi, inti Empat Kesunyataan Mulia sebenarnya adalah hukum sebab dan akibat. Ada sebab, muncullah akibat; hilang sebab, hilang pula akibatnya. Hukum ini pula yang mendasari seluruh Ajaran Sang Buddha.

BUDDHA DHAMMA = PENGAJARAN + PENDIDIKAN


Dalam makalah ini tidak akan dibahas tentang Empat Kesunyataan Mulia, tetapi akan membahas hubungan Agama Buddha, dalam hal ini Buddha Dhamma, dengan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam masyarakat sangatlah dihargai oleh Sang Buddha. Bahkan seperti yang ditulis di atas, kehormatan dalam masyarakat akan dicapai apabila kita mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai. Beberapa cara mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah dengan memilih perguruan tinggi yang baik, rajin mengikuti kegiatan kampus, menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah demi kebahagiaan masyarakat dan lingkungan. Apabila kita dapat memanfaatkan kesempatan memperoleh dan mempraktekkan hasil pendidikan ini dengan baik, hal ini akan melegakan hati orangtua. Orangtua akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap anak yaitu memberikan pendidikan yang baik (Digha Nikaya III, 188).

Dalam pandangan Buddhis, pengajaran sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan saja belumlah cukup. Orang masih membutuhkan pendidikan. Pendidikan adalah usaha mengembangkan batin seseorang agar menjadi dewasa. Hasil pengajaran akan memberikan kehormatan dalam masyarakat.

Hasil pendidikan akan menumbuhkan watak bermoral. Kehormatan sebagai anggota masyarakat memanglah membanggakan. Namun itu belumlah cukup. Ilmu pengetahuan yang sedemikian membanggakan kadang dapat berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Kita bisa merenungkan hasil penemuan bom atom yang mungkin tidak terduga oleh si penemu teori relativitas, Albert Einstein. Dan masih banyak penyalahgunaan ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, selain memiliki ilmu pengetahuan sebagai hasil pengajaran dibutuhkan pula latihan pengendalian tingkah laku atau sering disebut dengan sila / kemoralan sebagai hasil pendidikan. Dengan bekal kemoralan ini lah, sikap dan prilaku kita akan terjaga. Kita tidak akan menyalahgunakan kemampuan dan kepandaian yang kita miliki. Kita justru akan memanfaatkan semua ilmu pengetahuan kita untuk membantu kesejahteraan umat manusia. Kita akan selalu memiliki pola pikir, semoga semua mahluk berbahagia.

SILA (KEMORALAN)

Pendidikan secara Buddhis diawali dengan mengenalkan perilaku bersusila atau bermoral. Perilaku ini ditumbuhkan dengan melaksanakan latihan kemoralan. Kemoralan yang paling dasar dalam Agama Buddha adalah Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis berisikan lima latihan pengendalian diri.

Latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan pelanggaran kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Pelaksanaan Pancasila Buddhis ini dengan tekun akan menghasilkan ketenangan, tentraman, dan kedamaian dalam masyarakat. Pancasila Buddhis akan menjadi pagar pengaman lingkungan. Kemampuan teknologi yang dimiliki seseorang tidak akan digunakan untuk kejahatan, mencuri atau merampok, misalnya.

Sebab, telah banyak kita dengar maupun saksikan teknologi sinar laser dapat digunakan untuk membuka lemari besi tempat penyimpanan harta yang hendak dirampok. Oleh karena itu, bila semakin banyak orang melaksanakan Pancasila Buddhis maka kondisi lingkungan masyarakat akan semakin aman. Semakin banyak anggota masyarakat yang melaksanakannya, dunia pun menjadi aman.

Setiap umat Buddha hendaknya melaksanakan Pancasila Buddhis dengan ketat setiap hari. Pada hari-hari tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, kita dapat meningkatkan latihan dengan melaksanakan Atthasila atau delapan aturan kemoralan. Tujuannya jelas, untuk lebih dapat mengendalikan diri, menguasai emosi. Dalam Atthasila, salah satunya kita juga dianjurkan berpuasa setelah tengah hari, kira-kira setelah jam 12.00 siang. Tujuan berpuasa ini adalah untuk mengalahkan rasa lapar yang merupakan dorongan universal yang ada dalam diri kita. Disebut dengan dorongan universal karena ketika masih di dalam kandungan, mahluk termasuk manusia, telah mengenal rasa lapar terlebih dahulu sebelum mengenal segala sesuatu yang ada di dunia ini. Jadi bila orang telah dapat menundukkan dorongan universal ini, ia akan lebih mudah menenangkan pikirannya ketika ketidakpuasan datang menghampirinya. Ia akan dapat dengan segera merenungkan bahwa dorongan universal yang lebih hebat pun telah dapat ditundukkan, apalagi hanya ketidakpuasan atas sesuatu yang tidak dikenalnya ketika masih dalam kandungan. Batinnya akan lebih mudah tenang, seimbang. Emosi terkendali.

SAMADHI (MEDITASI)

Pendidikan mental dengan melaksanakan latihan kemoralan sebagai pengimbang kemajuan ilmu pengetahuan, hendaknya dilengkapi dengan memperbaiki pola pikir. Pola pikir hendaknya dikendalikan agar seseorang jangan hanya baik pada ucapan dan perbuatan luarnya saja, namun jahat dalam pikirannya. Perbaikan pola pikir ini dengan menggunakan sarana latihan meditasi. Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan disebutkan tentang Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Latihan meditasi digunakan untuk membiasakan pikiran bergerak dalam bidang yang positif. Dalam latihan meditasi, seseorang dikondisikan untuk selalu menyadari setiap saat segala sesuatu yang dikatakan, dilakukan dan dipikirkan. Latihan ini delakukan dengan selalu merenungkan kata-kata: 'Saat ini saya sedang apa?' Latihan ini diperlukan karena dari waktu ke waktu, pikiran seseorang selalu berlompatan ke masa lampau maupun yang akan datang. Amat sangat jarang pikiran menyadari kesibukan yang sedang dilakukan saat ini. Pemikiran tentang masa lampau yang pahit hanyalah akan menimbulkan penyesalan.

Sebaliknya, bila kenangan manis yang diingat, orang hanya akan terbuai oleh bayangannya saja. Apabila, pikiran melihat masa depan yang suram, akhirnya orang stres; masa depan cerah pun kadang hanya berhenti sampai pada angan-angan atau mimpi saja. Meditasi membiasakan seseorang menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tadi kita sudah pernah hidup, tetapi sudah tidak hidup. Nanti kita akan hidup, tetapi belum tentu hidup. Saat inilah hidup. Manfaatkanlah. Kesadaran akan hidup saat ini akan memacu semangat hidup agar dapat memanfaatkan setiap momen kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada waktu yang terbuang untuk bermalas-malasan. Setiap waktu sedemikian berharganya yang akan digunakan untuk membaktikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Selain itu, meditasi akan dapat meningkatkan konsentrasi kerja seseorang sehingga dengan demikian daya kreatifitas akan dapat muncul. Ide dan gagasan cemerlang muncul dengan mudah. Penemuan teknologi dapat ditingkatkan. Dengan demikian, semakin besar kesempatan berbuat baik kepada dunia. Tentu saja, pemupukan karma baik akan terus terjadi. Di samping itu, keberhasilan seseorang menerapkan hasil pendidikan dan pengajarannya akan menimbulkan simpati masyarakat. Inilah manfaat menyatukan ilmu pengetahuan dengan Buddha Dhamma. Memang, dalam beberapa hal, agama dan ilmu pengetahuan akan dapat saling melengkapi.

Science without religion is lame, religion without science is blind. Albert Einstein , Out of My Later Years

KESIMPULAN

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran. Pengajaran lebih menekankan perkembangan fisik, sedangkan pendidikan lebih cenderung mengembangkan batin. Demikian pula perkembangan ilmu pengetahuan hendaknya dibarengi dengan perkembangan batin yang sehat. Perkembangan batin dimulai dengan pelaksanaan kemoralan, minimal Pancasila Buddhis. Pelaksanaan Pancasila Buddhis akan menghindarkan penyalahgunaan kemampuan dan kepandaian yang dimiliki . Selain kemoralan, seorang umat Buddha hendaknya juga mengembangkan meditasi. Meditasi akan mendorong timbulnya gagasan baru. Menjadikan seseorang kreatif pada bidangnya. Dan, meditasi juga akan mengantarkan orang pada satu tingkat kesadaran bahwa hidup adalah saat ini. Oleh karena itu, mumpung masih hidup, gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk membaktikan seluruh ilmu yang dimiliki untuk kebahagiaan dunia.

[ Dimuat atas izin dari penulis. Dikutip dari Lembaran VIJJA KUMARA No. 3/I/97. ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar