Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 23 Januari 2010

MEDITASI JALAN


MEDITASI JALAN

Oleh: Sayadaw U Silananda
Alih Inggris-Indonesia: Chandasili Nunuk Y.K.
Diedit oleh: Samuel B. Harsojo



Dikegiatan penyunyian yang kami selenggarakan, para yogi mempraktekkan meditasi kesadaran (vipassana) dengan menggunakan empat sikap tubuh yang berbeda-beda.

Mereka mempraktekkan kesadaran saat berjalan, berdiri, duduk dan berbaring. Mereka harus sepenuhnya membangun kesadaran setiap saat dalam kondisi apapun.

Sikap utama tubuh dalam meditasi kesadaran adalah duduk bersila dengan punggung tegak. Tapi umumnya para yogi sulit duduk berjam-jam tanpa merubah posisi. Sehingga kami mengganti saat-saat duduk meditasi ini dengan meditasi jalan.

Karena meditasi jalan sangat penting maka perlu didiskusikan lebih jauh.

Diskusi tersebut berkenaan dengan manfaat, pentingnya dan kondisi alami yang bisa dipahami saat mempraktekkan meditasi jalan.

Praktek meditasi kesadaran bisa diumpamakan seperti merebus air. Pertama seseorang harus mengisi air ke dalam teko. Lalu teko itu diletakkan di atas kompor kemudian kompor itu dinyalakan.

Sebelum air mendidih ia mematikan kompor. Meski sesaat kompor dimatikan untuk kemudian dinyalakan lagi sebentar, air di dalam teko tidak langsung mendidih.

Jika hal ini terus dilakukan, mematikan dan menyalakan kompor (sebelum air mendidih) maka air di dalam teko tidak akan pernah mendidih.

Dengan cara yang sama, jika ada jeda atau celah diantara kesadaran maka kita tidak akan bisa membangun konsentrasi dengan baik.

Itulah sebabnya para yogi yang berada dalam pengawasan kami diinstruksikan untuk membangun kesadaran sepanjang waktu. Mulai dari saat bangun dari tidur di pagi hari hingga terlelap pada malam harinya. Dalam hal ini praktek meditasi jalan menyatu didalamnya untuk menumbuhkan kesadaran yang berkesinambungan.

Namun demikian kami pernah mendengar orang-orang yang mengkritik praktek meditasi jalan. Para pengritik ini mengatakan mereka tidak memperoleh manfaat atau hasil yang baik dari praktek meditasi jalan tersebut.

Sesungguhnya Sang Buddha merupakan orang pertama yang membabarkan praktek meditasi jalan ini.

Pembahasan meditasi jalan Beliau sampaikan dua kali. Dalam “bagian” yang disebut “sikap tubuh” Beliau mengatakan seorang yogi tahu, “saya sedang berjalan” saat ia sedang berjalan, tahu, “saya sedang berdiri” ketika sedang berdiri, tahu “saya sedang duduk” saat sedang duduk dan tahu saat sedang berbaring sebagai “saya sedang berbaring”.

Pada bagian lain yang disebut “pemahaman jernih” Sang Buddha mengatakan, “Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik”. Maksud dari “pemahaman yang jernih” disini adalah pemahaman yang benar atas segala sesuatu yang diamati.

Dengan memiliki pemahaman yang benar terhadap pengamatannya seorang yogi dapat membangun konsentrasi.

Untuk membangun konsentrasi ia harus menggunakan kesadarannya. Lebih jauh Sang Buddha berkata, “Para bhikkhu gunakan pemahaman jernihmu”.

Kita harus menyadari bukan saja pemahaman yang jernih tapi juga kesadaran dan konsentrasi saat sedang berjalan bolak-balik. Jadi, meditasi jalan merupakan suatu bagian penting dari proses ini.

Meski Sang Buddha tidak memberikan petunjuk secara khusus dan rinci tentang meditasi jalan (hanya penjelasan singkat yang tercatat di dalam sutta) kami percaya Beliau telah memberikan petunjuk pada suatu waktu.

Petunjuk-petunjuk itu telah dipelajari oleh para murid Sang Buddha dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebagai tambahan para guru terdahulu telah memiliki “resep” berdasarkan pengalaman praktek meditasi mereka sendiri.

Saat ini kami memiliki serangkaian petunjuk yang teliti tentang cara mempraktekkan meditasi jalan.

Izinkan kami secara khusus membahas praktek meditasi jalan. Jika kalian adalah para pemula sang guru akan menasehati untuk sepenuhnya awas pada satu hal selama mempraktekkan meditasi jalan; “Sepenuhnya awas pada langkah kaki sementara kalian membuat pencatatan di dalam batin berjalan…..berjalan…..berjalan….atau kiri-kanan…kiri-kanan…”

Yang perlu diingat kalian harus berjalan lebih lambat dari biasanya saat sedang berlatih meditasi jalan.

Setelah beberapa jam atau setelah satu-dua hari bermeditasi kalian akan diberi petunjuk untuk melakukan dua tahapan dalam melangkah, yaitu melangkah dan meletakkan kaki. Ini harus dicatat dalam batin sebagai, “angkat-letakkan…angkat-letakkan….angkat-letakkan”.

Kalian harus mengamati sungguh-sungguh dua tahapan proses melangkah tersebut. Setelah itu kalian akan diberi petunjuk untuk sepenuhnya menyadari tiga proses berjalan, yakni pertama proses mengangkat, kedua proses maju dan ketiga proses meletakkan kaki.

Sesudahnya kalian akan diberi petunjuk lanjutan untuk sepenuhnya menyadari empat tahapan dalam proses melangkah yakni, pertama mengangkat, kedua maju, ketiga turun, keempat sentuh atau meletakkan kaki ke lantai.

Kalian akan diinstruksikan untuk mencatat dalam batin empat gerakan tersebut, “angkat-maju-turun-tekan”.

Sebagai pemula para yogi akan menemui kesulitan untuk berjalan perlahan. Tapi, ketika ia sepenuhnya memberi perhatian dengan baik, ia bisa menyadari semua gerakan itu.

Dengan demikian semakin lama ia semakin penuh perhatian. Pada saat itulah secara otomatis ia berjalan dengan perlahan. Tidak perlu secara sengaja melambatkan langkah kaki tersebut. Namun, dengan menaruh perhatian penuh secara otomatis langkah kaki akan melambat.

Saya akan memberi perumpamaan untuk menjelaskan pernyataan di atas. Sewaktu berkendara di jalan bebas hambatan seseorang cenderung memacu kendaraannya pada kecepatan 60-70 atau malah 80 mil/jam. Dengan kecepatan seperti itu akan sulit baginya membaca rambu-rambu lalu lintas di pinggir jalan. Bila ia ingin membaca rambu-rambu tersebut ia harus melambatkan laju kendaraannya. Tak perlu siapapun mengingatkan, “pelan-pelanlah”. Tapi si sopir secara otomatis akan memperlambat laju kendaraannya untuk bisa melihat rambu-rambu tersebut.

Dengan pemahaman yang sama, bila seorang yogi ingin memberikan perhatian yang lebih cermat atas gerakan mengangkat, maju, turun dan tekan, secara otomatis ia akan melambatkan langkah kakinya. Hanya dengan berjalan lambat ia bisa sepenuhnya awas dan waspada terhadap gerakan kaki tersebut.

Meskipun para yogi memberikan perhatian yang cermat dan melambatkan langkahnya ada kemungkinan mereka tidak melihat semua pergerakan dan tahapan dari pergerakan tersebut dengan jernih.

Maklum tahapan pergerakan itu belum menempel di pikiran. Saat itu seolah-olah pergerakan tersebut merupakan satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Saat konsentrasi berkembang lebih kuat para yogi akan mampu mengamati tahapan-tahapan gerakan yang berbeda dalam satu langkah dimana akhirnya empat tahap gerakan (dalam satu langkah) lebih mudah diamati.

Para yogi akan mengetahui secara jelas bahwa gerakan mengangkat berbeda dengan gerakan maju maupun gerakan turun. Mereka mengetahui kaki yang terangkat itu terasa ringan. Saat mendorong kaki ke depan mereka akan mencapai pergerakan dari satu tempat ke tempat lain. Dan ketika menurunkan kaki mereka mencatat gerakan kaki yang turun menjadi berat dan semakin berat. Saat meletakkan kaki ke lantai/tanah mereka merasakan sentuhan.

Lebih jauh, sepanjang pengamatan angkat, maju, turun dan tekan ke lantai, para yogi akan melihat rasa ringan saat kaki mengangkat, gerakan kaki, rasa berat saat kaki turun dan sentuhan pada kaki terhadap lantai yang berupa rasa keras dan lunak. Saat mengamati proses-proses ini mereka sedang “melihat” empat unsur utama (Pali: Dhatu ). Empat unsur utama itu adalah unsur tanah, unsur air, unsur api dan unsur udara. Dengan memberi perhatian yang cermat pada empat tahapan melangkah sewaktu berlatih meditasi jalan, empat unsur utama tersebut “nampak”. Jadi unsur-unsur itu tidak hanya sekedar konsep (teori belaka), tapi merupakan proses nyata, realitas mutlak.

Ijinkan kami membahas lebih terperinci sifat dari unsur-unsur tersebut yang bekerja saat mempraktekkan meditasi jalan.

Pada gerakan pertama, yakni gerakan mengangkat kaki, yogi mengalami rasa ringan. Ketika mengalami rasa ringan mereka “melihat” unsur api.

Salah satu aspek dari unsur api adalah membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Saat benda-benda menjadi lebih ringan itulah mereka bisa mengangkat kaki.

Dengan kata lain saat itu yogi merasakan intisari dari unsur api. Tidak hanya itu. Saat kaki terangkat ada unsur lain yang juga bekerja di sana. Setelah itu terjadi pergerakan kaki bergerak naik. Pergerakan terjadi karena ada unsur udara yang bekerja. Tapi, dalam hal naiknya kaki, unsur api lebih dominan dibanding unsur udara. Jadi bisa dikatakan saat menangkat kaki unsur utamanya adalah unsur api dan unsur kedua yang mengikuti adalah unsur udara. Kedua unsur tersebut bisa dirasakan oleh para yogi saat mereka menaruh perhatian sungguh-sungguh ketika mengangkat kaki.

Tahap berikutnya adalah mendorong kaki ke depan. Saat kaki terdorong ke depan unsur utama yang mempengaruhi gerakan tersebut adalah unsur udara. Karena pergerakan (dalam hal ini adalah gerakan mendorong) adalah satu sifat utama dari unsur udara. Jadi, saat bersungguh-sungguh melihat gerakan kaki maju ketika melakukan meditasi jalan yogi-yogi itu sebetulnya tengah “melihat” intisari unsur udara.

Tahap meditasi jalan berikutnya adalah gerakan menurunkan kaki. Sewaktu yogi meletakkan kaki ke bawah ada sejenis kekerasan pada kaki. Kekerasan adalah karakteristik dari unsur air. Unsur air bersifat merembes dan mengental. Saat cairan menjadi berat maka ia akan mengental. Jadi, saat yogi mengalami rasa berat pada kaki mereka sebenarnya mengalami peristiwa bekerjanya unsur air.

Saat kaki menekan ke tanah/lantai yogi-yogi akan mengalami kekerasan dan kelembutan dari kaki yang menyentuh tanah atau lantai. Persinggungan antara kaki dan landasan mengalami keadaaan alaminya yang khas. Kondisi ini dipengaruhi oleh unsur tanah. Jadi dengan menaruh perhatian sungguh-sungguh saat kaki menekan landasan yogi-yogi sebenarnya bisa memetik pengalaman berupa keadaan alami yang dipengaruhi oleh unsur tanah.

Bisa dikatakan hanya dengan satu langkah para yogi bisa mengamati banyak proses. Mereka bisa mengamati empat unsur utama dan menyadari keempatnya secara alami. Keadaan ini hanya bisa “dilihat” dan dialami oleh para yogi yang berlatih dengan sungguh-sungguh.

Saat para yogi meneruskan latihan meditasi jalannya mereka akan menyadari pada setiap gerakan ada pikiran yang mencatat atau mengawasi setiap gerakan tersebut. Dengan kata lain ada gerakan mengangkat disertai munculnya pikiran yang mengawasi (mencatat) gerakan mengangkat tersebut. Selanjutnya, ada gerakan mendorong kaki ke depan disertai dengan pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Setelah itu ada gerakan menurunkan kaki ke landasan. Bersamaan dengan itu ada pikiran yang mengawasi gerakan tersebut. Keduanya muncul dan lenyap sampai kaki betul-betul menyentuh landasan.

Proses yang sama muncul saat melakukan gerakan menekan kaki ke landasan. Saat itu ada gerakan menekan dan munculnya pengawasan atas gerakan tersebut. Dengan cara ini para yogi akan memahami bahwa bersamaan dengan melangkah ada gerakan kesadaran atau pengawasan. Saat-saat menyadari tersebut termasuk ke dalam bekerjanya kelompok batin (dalam bahasa Pali disebut nama).

Sementara gerakan-gerakan kaki termasuk ke dalam kelompok materi atau rupa . Pada saat itu para yogi akan memahami batin dan jasmani muncul dan lenyap setiap saat.

Inilah penjelasannya. Pada satu waktu ada kaki yang terangkat dan munculnya kesadaran mengangkat. Saat berikutnya ada gerakan kaki mendorong ke depan dan kesadaran yang melihat pergerakan tersebut. Demikian seterusnya.

Dari sinilah muncul pemahaman tentang bekerjanya pasangan batin dan jasmani yang muncul dan lenyap setiap saat. Hanya saja pemahaman atau pengertian tentang muncul dan lenyapnya batin dan jasmani setiap saat ini hanya akan terjadi bagi mereka yang berlatih dengan sungguh-sungguh.

Ada hal lain yang akan ditemui para yogi. Yakni munculnya serangkaian kehendak atau maksud yang mengakibatkan terjadinya setiap gerakan. Mereka akan menyadari bahwa kaki bisa diangkat karena mereka menginginkannya. Juga, kaki terdorong ke depan karena mereka bermaksud demikian. Kaki bisa turun karena mereka menginginkannya. Begitu pula kaki bisa menekan landasan karena mereka bermaksud demikian. Jadi, hal itu bisa terjadi karena munculnya serangkaian kehendak. Kehendaklah yang mengawali setiap pergerakan. Setelah ada kehendak untuk mengangkat maka muncul proses mengangkat kaki. Setelah ada kehendak untuk mendorong maka muncul proses kaki terdorong ke depan. Demikian seterusnya.

Setelah mengamati proses ini dengan sungguh-sungguh para yogi kemudian memahami semua kemunculan itu berkondisi. Pergerakan-pergerakan itu tak akan muncul dengan sendirinya. Pergerakan-pergerakan itu tak akan terjadi tanpa adanya suatu sebab. Ada sebuah sebab atau kondisi untuk setiap pergerakan. Kondisi yang dimaksud adalah munculnya kehendak atau maksud yang mengawali setiap pergerakan. Inilah temuan berikutnya yang bisa ditemui para yogi saat mereka memberikan perhatian dengan sungguh-sungguh.

Saat seorang yogi memahami kondisi munculnya setiap pergerakan maka akan muncul pemahaman baru. Mereka memahami bahwa pergerakan itu tercipta oleh maksud atau kehendak. Mereka akan memahami bahwa maksud atau kehendak adalah kondisi yang membuat munculnya pergerakan. Pada saat inilah seorang yogi bisa memahami hubungan sebab akibat. Mereka bisa memahami hubungan antara yang dikondisikan dan yang mengkondisikan.

Saat pemahaman itu muncul yogi ini bisa saja menyingkirkan keragu-raguannya tentang batin dan jasmani. Hal ini terjadi melalui munculnya pengertian bahwa batin dan jasmani tidak akan muncul tanpa adanya suatu kondisi.

Dengan pemahaman yang jernih atas kondisi setiap benda dan dengan tersingkirnya keragu-raguan atas batin dan jasmani bisa dikatakan ia meraih tingkat mendekati seorang sotapanna ..

Sotapanna artinya pemenang arus. Seorang sotapanna adalah seseorang yang telah meraih pencerahan tingkat pertama. Seseorang yang meraih tingkat pemahaman mendekati seorang sotapanna belum benar-benar menjadi sotapanna. Tapi pihak terakhir ini sudah dipastikan hanya akan terlahir kembali ke alam manusia atau alam dewa-dewa.

Dengan demikian seseorang yang mendekati pemahaman sotapanna tak mungkin terlahir di alam-alam bawah (alam peta, binatang, atau alam-alam neraka). Pemahaman ini bisa diraih melalui meditasi jalan. Tentu saja hal ini bisa terjadi sekali lagi dengan memberikan perhatian secara teliti dan sungguh-sungguh dalam mengamati setiap pergerakan kaki.

Inilah keuntungan besar dari berlatih meditasi jalan. Tentu saja tingkat di atas tidak mudah dicapai. Tapi, bila seorang yogi mampu meraihnya bisa dipastikan ia hanya akan terlahir di alam-alam bahagia.

Saat yogi memiliki pengertian tentang muncul-lenyapnya batin dan jasmani mereka akan memahami ketidakkekalan proses melangkah. Mereka juga akan memahami ketidakkekalan kesadaran melangkah. Hal ini terjadi seiring dengan timbulnya pengertian bahwa segala sesuatu itu akan muncul dan lenyap. Akhirnya pengertian selanjutnya yang muncul adalah segala sesuatu itu bersifat tidak kekal.

Kita harus berusaha memahami apakah sesuatu itu bersifat kekal atau tidak kekal. Kita harus berusaha untuk melihat melalui kekuatan yang muncul dalam meditasi apakah benda-benda itu subyek dari proses menjadi yang kemudian lenyap. Jika meditasi kita cukup baik keadaan ini memungkinkan untuk mengamati ketidakkekalan. Setelah itu barulah seorang yogi bisa memutuskan fenomena yang tengah diselidikinya itu bersifat tidak kekal.

Melalui penyelidikannya para yogi melihat (menyadari) saat bermeditasi jalan ada gerakan mengangkat dan kesadaran yang muncul atas gerakan itu yang sesaat kemudian lenyap.

Hal ini memberi ruang atas munculnya gerakan mendorong kaki ke depan. Gerakan ini pun secara sederhana muncul dan lenyap, muncul dan lenyap (timbul tenggelam). Melalui proses ini lewat pengalamannya sendiri, pengertian muncul dalam diri para yogi.

Pemahaman ini tidak timbul dari membaca buku, diberitahu pihak lain atau adanya suatu otoritas tertentu yang mendorong munculnya pengertian ini.

Saat mengalami bahwa batin dan jasmani itu timbul dan tenggelam para yogi akan memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal. Saat mereka memahami batin dan jasmani itu bersifat tidak kekal mereka akan mengerti bahwa batin dan jasmani itu bersifat tidak memuaskan. Hal ini muncul karena ternyata batin dan jasmani berada dalam keadaan terus-menerus timbul dan tenggelam.

Setelah memahami ketidakkekalan dan tidak memuaskannya benda-benda akan muncul suatu penyelidikan yang memunculkan pengertian bahwa di sana tak ada “tuan” dari benda-benda tersebut. Atau dengan kata lain, mereka menyadari tak ada jiwa atau diri di dalam benda-benda yang memerintah mereka untuk menjadi kekal.

Benda-benda hanya timbul dan tenggelam mengikuti hukum alam. Dengan memiliki pemahaman semacam ini yogi-yogi memahami sifat ketiga dari fenomena yang berkondisi, yakni sifat dari anatta. Bahwa benda-benda tak memiliki “diri” di dalamnya. Salah satu arti dari anatta adalah tak ada tuan (majikan) tiada apapun, tak ada kekuatan apapun, tak ada jiwa dibalik fenomena-fenomena tersebut.

Pada kondisi ini yogi-yogi bisa memahami sifat ketiga dari semua fenomena yang berkondisi yakni bersifat tidak kekal, penuh penderitaan dan tak ada inti yang kekal di dalamnya (dalam Pali disebut bersifat, anicca, dukkha dan anatta).

Para yogi bisa memahami ketiga sifat tersebut dengan penyelidikan secara tekun saat kaki naik dan kesadaran yang muncul saat menaikkan kaki dan seterusnya.

Dengan memberikan perhatian penuh atas gerakan tersebut mereka melihat benda-benda timbul-tenggelam terus-menerus. Akibatnya mereka bisa melihat anicca, dukkha dan anatta dari semua fenomena secara alami.

Sekarang izinkan kami untuk menjelaskan lebih terperinci tentang pergerakan dalam meditasi jalan. Umpamanya seseorang mengambil gambar bergerak dari proses mengangkat kaki. Lebih jauh, umpamanya, naiknya kaki berkisar satu detik. Katakanlah ada kamera yang bisa merekam gerakan tersebut. Sehingga kamera ini bisa mengambil gambar dari gerakan itu sebanyak 36 bingkai dalam satu detik.

Setelah gambar itu terekam kita bisa mengamati rangkaian pergerakan dalam bingkai-bingkai yang terpisah itu.

Terlihat rangkaian pergerakan itu berbeda satu sama lainnya. Meski perbedaan itu kecil sekali tapi seseorang bisa dengan mudah melihat perbedaan tersebut.

Bagaimana jika ada kamera yang bisa mengambil gambar dari pergerakan mengangkat kaki sebanyak 1000 bingkai dalam satu detik? Bila ada kamera demikian maka akan dihasilkan rekaman seribu pergerakan dalam satu detik. Meskipun, tentunya, rangkaian gambar pergerakan itu hampir-hampir sulit dibedakan. Sekarang akan semakin sulit melihat perbedaan pergerakan dalam bingkai gambar dari hasil rekaman kamera yang bisa mengambil gambar satu juta bingkai dalam satu detik. Inilah kenyataannya, ternyata ada satu juta proses pergerakan mengangkat kaki dimana kita menganggapnya sebagai satu gerakan belaka.

Usaha yang dikerahkan saat bermeditasi jalan adalah melihat gerakan kita secara cermat secermat kamera berkekuatan tinggi melihatnya bingkai demi bingkai. Kita pun perlu menyelidiki kekuatan kesadaran dan kekuatan kehendak yang muncul di awal setiap pergerakan.

Dengan cara semacam inilah akan muncul penghargaan dan penghormatan atas perjuangan, kebijaksanaan dan pandangan terang Sang Buddha atas apa yang beliau lihat dari pergerakan-pergerakan tersebut.

Saat menggunakan kata “melihat” atau “mengamati” yang merujuk pada situasi diri sendiri, hal ini dimaksudkan secara langsung melihat dan juga menarik kesimpulan; bahwa kita tak akan mungkin melihat secara langsung seluruh satu juta gerakan seperti yang bisa dilihat oleh Sang Buddha.

Sebelum mulai berlatih meditasi jalan mungkin para yogi pernah berpikir satu langkah hanya terdiri dari satu gerakan.

Setelah berlatih meditasi dan mengamati dengan penuh perhatian para yogi akan tahu meski hanya satu pergerakan (dari jumlah keseluruhan 4 tahapan gerak) sebenarnya pergerakan itu gabungan dari jutaan gerak.

Dari proses ini mereka melihat batin dan jasmani, timbul tenggelam, sebagai ketidakkekalan.

Dengan pandangan biasa seseorang tak akan mampu melihat ketidakkekalan dari benda-benda karena ketidakkekalan tersembunyi oleh khayalan.

Kita berpikir, sebagai umat awam, yang melihat saat melangkah hanya berupa satu gerakan tak terputus. Namun dengan mengamati lebih jernih kita bisa mengetahui bahwa gerakan itu terdiri dari banyak gerak yang berkesinambungan dalam membentuk satu-kesatuan gerak.

Demikian pula dengan yang terjadi pada khayalan atas ketidakterputusan bisa dipatahkan.

Khayalan ini bisa dipatahkan oleh pengamatan langsung atas fenomena jasmani sedikit demi sedikit, setahap demi setahap sebagaimana adanya sehingga khayalan tersebut bisa dihancurkan.

Nilai dari meditasi ini bersandar pada kemampuan kita untuk menyingkirkan selubung ketidakterputusan dengan menemui keadaan alami atas ketidakkekalan. Para yogi bisa menemukan ketidakkekalan sebagaimana adanya secara langsung melalui daya upaya mereka sendiri.

Setelah menyadari bahwa benda-benda merupakan gabungan dari bagian-bagian yang muncul sedikit demi sedikit dan setelah mengamati bagian-bagian ini satu demi satu, para yogi akan menyadari sesungguhnya tak ada apapun di dunia ini yang cukup berharga untuk dilekati atau diidam-idamkan. Jika melihat sesuatu yang sekilas kita pikir cantik ternyata si cantik itu berlubang-lubang, mudah busuk dan hancur. Karenanya kita akan kehilangan keterikatan atasnya.

Sebagai contoh kita mungkin melihat sebuah lukisan indah yang digoreskan pada suatu kanvas. Saat itu kita berpikir cat dan kanvas secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan. Jika lukisan tersebut ditaruh di bawah mikroskop kita akan melihat ternyata gambar tersebut tidak padat dan merupakan satu kesatuan. Karena ternyata lukisan tersebut terdiri dari banyak lubang dan rongga-rongga.

Setelah melihat lukisan tersebut merupakan gabungan dari ruang-ruang kita akan kehilangan ketertarikan padanya. Dengan kata lain ketertarikan kita pada lukisan tersebut akan padam. Ahli fisika modern tahu hal ini dengan baik. Mereka telah mengamatinya dengan peralatan sangat canggih bahwa materi hanyalah gabungan getaran partikel-partikel dan energi yang berubah terus-menerus. Tak ada suatu inti sari yang kekal di dalamnya.

Dengan menyadari ketidakkekalan yang tiada akhir ini para yogi tahu benar-benar tidak ada apapun yang cukup berharga untuk diidam-idamkan. Tak ada apapun yang cukup berharga untuk digenggam di dunia fenomena ini.

Sekarang kita bisa memahami alasan mengapa perlu berlatih meditasi. Kita berlatih meditasi karena ingin menyingkirkan kemelekatan dan kerinduan terhadap obyek-obyek. Itu terjadi melalui pengertian atas merealisir ketiga keberadaan anicca, dukkha dan anatta dari benda-benda secara apa adanya. Dengan cara itulah kita bisa menyingkirkan kerinduan.

Kita ingin menyingkirkan kerinduan karena tidak ingin menderita. Kita harus mengenyahkan kerinduan dan kemelekatan. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu muncul dan lenyap. Tak ada substansi yang kekal di dalamnya.

Sekali kita mampu menyadari hal ini maka kita akan mampu menyingkirkan kemelekatan terhadap benda-benda. Sepanjang belum mampu menyadari kebenaran ini, sebanyak apapun buku yang dibaca atau bahan yang didiskusikan (mendiskusikan tentang bagaimana menyingkirkan kemelekatan) kita tidak akan mampu mengenyahkan kemelekatan tersebut. Maka sangat diperlukan memiliki pengalaman langsung bahwa semua benda yang berkondisi adalah tanda dari keberadaan ketiga sifat dasar tersebut.

Lebih jauh kita harus memberikan perhatian penuh saat bermeditasi jalan sama seperti yang kita lakukan saat duduk bermeditasi atau berbaring.

Saya tidak sedang berusaha mengatakan bahwa dengan mempraktekkan meditasi jalan bisa memberikan kesadaran tertinggi dan kemampuan untuk sepenuhnya mengusir kemelekatan. Meski begitu meditasi jalan bisa seakurat seperti meditasi duduk atau jenis posisi meditasi vipassana yang manapun. Meditasi jalan bisa mengakibatkan berkembangnya kekuatan spiritual. Meditasi jalan juga sekuat kesadaran murni melihat kembung dan kempisnya perut. Meditasi jalan juga bisa menjadi alat yang tepat guna menolong kita menyingkirkan kekotoran batin. Meditasi jalan bisa menolong kita meraih pandangan terang melalui melihat ke dalam benda-benda apa adanya.

Selebihnya kita harus berlatih meditasi jalan dengan sungguh-sungguh sama seperti waktu berlatih meditasi duduk atau posisi lainnya. Dengan mempraktekkan semua sikap tubuh dalam meditasi vipassana, termasuk sikap tubuh berdiri, semoga semua yogi bisa meraih pemurnian sepenuhnya dalam kehidupan ini.

ooooo000ooooo



RIWAYAT SINGKAT SAYADAW U SILANANDA



Sayadaw U Silananda adalah salah satu dari sekian banyak murid guru meditasi terkenal dari Myanmar, Mahasi Sayadaw, yang beliau utus untuk menyebarkan dhamma ke negara-negara barat. Beliau dikirim ke Amerika Serikat bersama beberapa rekan bhikkhu lainnya. Di negara ini beliau menyebarkan dhamma dalam berbagai bentuk mulai dari mengajar, berceramah sampai melakukan bimbingan meditasi yang intensif.

Sayadaw U Silananda mengawali hidup kebhikkhuan pada tahun 1947. Beliau beruntung mendapat bimbingan langsung dari Mahasi Sayadaw yang sangat terkenal.

Selain dikenal sebagai praktisi meditasi yang tekun beliau pun secara akademik cerdas. Terbukti pemerintah memberinya dua gelar guru dhamma (Dhammacariya) kepada beliau.

Tujuh tahun sejak penahbisannya beliau menjabat sebagai salah satu penyunting utama naskah Pali, komentar dan sub komentar pada konsili Buddhis ke-enam yang berlangsung di tahun 1954. Pada tahun yang sama itu pula beliau diangkat sebagai ketua dewan penyusun kamus Pali Myanmar .

Beliau memiliki jabatan-jabatan fungsional di lembaga-lembaga resmi baik di Myanmar, negeri asalnya (yang dulu bernama Burma) maupun di luar negeri.

Di dalam negeri beliau menjabat sebagai dosen pada Universitas Pali Atithokdayone, serta sebagai penguji kehormatan pada Departemen Studi Oriental Universitas Seni dan Ilmu Pengetahuan di Mandalay, Myanmar bagian utara.

Pada tahun 1979 Mahasi Sayadaw mengirim para murid utamanya ke Eropa dan Amerika Serikat. Sayadaw U Silananda adalah salah satu murid beliau yang dikirim ke Amerika Serikat. Selama di negeri Paman Sam ini beliau menyelenggarakan meditasi vipassana secara teratur dan menerima banyak murid dari berbagai kalangan baik dari imigran keturunan Asia maupun masyarakat lokal. Selain membimbing vipassana bhavana beliau mengajar Abidhamma dan bahasa Pali serta memberikan pengajaran Buddhis lainnya.

Pada tahun 1993 beliau kembali ke Myanmar sebentar. Di sana beliau dianugerahi gelar kehormatan Aggamahapandita oleh pemerintah. Enam tahun kemudian beliau kembali pulang. Sekali lagi beliau dianugerahi gelar Aggamahasaddhamma Jotika.

Pada saat yang sama beliau diangkat sebagai rektor di International Theravada Buddhist Misionary University yang terletak di Ibukota Yangoon Myanmar.

Daerah penyebaran dhamma beliau sangat luas. Selain Amerika Serikat beliau juga membabarkan dhamma ke beberapa negara Eropa dan Asia termasuk Jepang. Murid-murid beliau datang dari berbagai kalangan mulai dari perumahtangga, pejabat, para mahasiswa sampai para bhikkhu.

Dhamma yang beliau ajarkan disampaikan melalui berbagai bahasa, tergantung dari pendengarnya, mulai dari bahasa Inggris, Pali sampai Sansekerta. Selain memberikan ceramah-ceramah dhamma beliau pun menyempatkan diri untuk menulis buku-buku dhamma diantaranya buku Meditasi Jalan yang terjemahannya sedang anda baca saat ini. Umumnya buku-buku tersebut ditulis dalam bahasa Burma dan Inggris.

Pada tahun 2005 ada sebuah ajang internasional di Myanmar yakni World Buddhist Summit. Pada event tersebut beliau bertindak sebagai ketua. Para peserta konferensi tingkat tinggi buddhis internasional itu datang dari berbagai negara termasuk beberapa bhikkhu Theravada dari Indonesia.

Pada bulan Januari 2005 beliau melakukan perjalanan singkat ke Indonesia. Di negeri ini beliau menyempatkan diri mengunjungi Borobudur setelah memberikan ceramah dhamma di Jakarta. Sekembalinya dari Indonesia kesehatan beliau terus menurun. Penyakit kanker otak yang diderita membuat beliau dilarikan ke rumah sakit.

Sayadaw U Silananda yang merintis pendirian Vihara Dhammananda (di Halfmoon Bay, California) sekaligus ketua vihara ini menghembuskan nafas terakhir pada pagi hari pukul 07:24 waktu setempat tanggal 13 Agustus 2005. Menurut penuturan para dokter beliau meninggal dengan tenang.

KENANGAN PARA SAHABAT :

Sayadaw U Sobana (84 tahun) :

Sayadaw U Sobana bertemu yuniornya ini pada pertama kali saat mempersiapkan Konsili Buddhist ke-enam di Kaba Aye, sebuah pagoda bernama “dunia damai”, di Yangoon Myanmar tahun 1952.

Setahun kemudian keduanya berpisah karena Sayadaw U Sobana dikirim ke Colombo, Sri Lanka, untuk menjalankan tugas-tugas dalam Buddha Sasana di negeri Buddhis tersebut.

Sayadaw U Silananda bergabung dengan beliau setahun setelahnya yakni di tahun 1954. Di tempat barunya Sayadaw U Silananda kuliah di sebuah universitas dan menyelesaikan kuliah itu di tahun 1956.

Sayadaw U Sobana hanya mendapatkan satu kesan, yakni kesan baik, dari yuniornya ini. Sang yunior, Sayadaw U Silananda selalu memperlakukan Sayadaw U Sobana sebagai saudara tua. Pada saat-saat tertentu Sayadaw U Silananda datang kepada saudara tuanya untuk meminta nasehat.

Pada saat Sayadaw U Sobana berada di Bangkok Thailand untuk membantu mengembangkan Buddha Dhamma beliau mendapat undangan yuniornya, Sayadaw U Silananda, untuk berkunjung ke Amerika Serikat. Waktu itu Sayadaw U Silananda telah berhasil merintis berdirinya Vihara Dhammananda.

Selama tinggal dengan yuniornya Sayadaw U Sobana melihat hidup keseharian saudara mudanya yang begitu sederhana. Demikian pula beliau melihat saudara mudanya ini melakukan aneka jenis ritual buddhis secara sederhana pula. Sayadaw U Silananda memang tidak mendukung upacara, ritual buddhis yang rumit dan mewah.

Sayadaw U Sobana berpesan agar para umat yang pernah mendapatkan pengajaran dari Sayadaw U Silananda mampu menjaga warisan yang telah ditinggalkan guru mereka, yakni dhamma itu sendiri.

Sayadaw U Jotalanka :

Sayadaw U Jotalanka mengekspresikan meninggalnya Sang guru, Sayadaw U Silananda, sebagai sebuah kehilangan besar yang sulit tergantikan.

Sayadaw U Jotalanka adalah salah satu mahasiswa Sayadaw U Silananda saat beliau menuntut ilmu di Mandalay, Myanmar, antara tahun 1970-1974. Beliau sebenarnya ingin melanjutkan studinya sampai rampung tapi banyak tugas-tugas pengembangan dhamma yang harus beliau kerjakan. Atas saran gurunya maka Sayadaw U Jotalanka dikirim ke Jepang untuk membantu pengembangan dhamma di sana. Saat beliau bermukim di negeri matahari terbit ini gurunya memintanya ke Amerika Serikat dan bergabung bersamaNya untuk mengembangkan dhamma di sana.

Sayadaw U Jotalanka berkomentar tentang meninggalnya Sang guru sebagai berikut, “Kami semua sedih. Tapi kita harus belajar dari Buddha Dhamma sesuatu yang sangat berharga melalui sakit yang diderita beliau dan kepergianNya. Bahwa setiap orang pasti akan mengalami realitas seperti kematian. Kita harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga warisan yang beliau tinggalkan yakni ajaran dan praktek dhamma.”

President TBSA dan dr Than Htay (saudara perempuan dari Sayadaw U Silanada):

Beberapa hari sebelum meninggal dunia sebagian organ dalam beliau seperti ginjal dan lever tidak berfungsi dengan baik. Selain itu proses pengobatan yang beliau jalani membuahkan akibat sampingan. Meski tidak memiliki sejarah sakit kencing manis kadar gula darah beliau meninggi sebagai akibat sampingan pengobatan yang dilakukan.

Setelah berunding dengan para dokter setempat keduanya memutuskan untuk menempatkan Sayadaw U Silananda di luar ruang ICU (Intensive Care Unit). Maklum ruang ICU sangat ketat, tidak boleh sembarangan dimasuki orang. Hal ini menyulitkan para umatNya untuk menjenguk beliau di saat-saat terakhirNya.

Kemudian beliau dipindahkan ke ruang perawatan semi ICU. Di ruang barunya ini Sayadaw tetap bisa menggunakan jubah kuningnya dan bercukur. Disamping itu para umatpun bisa menjenguk dan memberi hormat kepada beliau. Meski ruang perawatannya dipindah beliau tetap mendapatkan perawatan dan pengobatan sebagaimana mestinya.

“Kita telah kehilangan guru yang tak tergantikan. Seorang guru yang dikenal memiliki pariyatti, paripatti dan pariveda dhamma,” kata dr. Than Htay.

Meditasi Oleh : Venerable Ajahn Chah


Meditasi

Oleh: Venerable Ajahn Chah



Para pencari kebajikan yang telah berkumpul di sini, mohon dengarkanlah dengan tenang. Mendengarkan Dhamma dengan tenang artinya mendengarkan dengan pikiran yang terpusat, memperhatikan apa yang kalian dengar dan kemudian melepaskannya. Mendengarkan Dhamma sangatlah bermanfaat. Ketika mendengarkan Dhamma, kita diajak untuk secara teguh membuat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan samadhi, karena ia merupakan salah satu dari praktek Dhamma. Pada zaman Sang Buddha, orang-orang mendengarkan khotbah Dhamma dengan sungguh-sungguh, dengan pikiran yang bertekad untuk memahami segala sesuatu dengan sebenar-benarnya, dan ada di antara mereka yang benar-benar menyadari dan memahami Dhamma ketika sedang mendengarkan.

Tempat ini sangat cocok untuk berlatih meditasi. Setelah tinggal di sini untuk beberapa malam, saya mengetahui bahwa di sini adalah tempat yang penting. Di bagian luarnya, ia sudah damai, dan tinggal yang bagian dalamnya saja, hati dan pikiran kalian. Jadi, saya minta kalian semua untuk berusaha keras memperhatikan dengan seksama.

Mengapa kalian berkumpul di sini untuk berlatih meditasi? Itu karena hati dan pikiran kalian tidak memahami apa yang seharusnya dipahami. Dengan kata lain, kalian tidak benar-benar mengetahui bagaimana segala sesuatunya itu, atau segala sesuatunya itu apa. Kalian tidak mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, apa yang menyebabkan kalian menderita dan ragu-ragu. Jadi, pertama-tama kalian harus menenangkan diri kalian sendiri. Alasan kalian datang ke sini guna mengembangkan ketenangan dan ketahanan diri dari hawa nafsu, adalah karena hati dan pikiran kalian tidak nyaman. Pikiran kalian tidak tenang, tidak mampu menahan diri dari hawa nafsu. Mereka diombang-ambingkan oleh keragu-raguan dan godaan. Inilah alasannya mengapa kalian datang ke sini pada hari ini dan sekarang sedang mendengarkan Dhamma.

Saya harap kalian berkonsentrasi dan mendengarkan dengan cermat apa yang saya katakan, dan saya meminta izin untuk berbicara dengan terus terang, karena memang begitulah saya. Harap dimengerti walaupun saya berbicara dengan kesan agak memaksa, saya melakukannya dengan maksud dan tujuan yang baik. Saya meminta maaf kepada kalian, jika ada ucapan-ucapan saya yang menyinggung hati kalian, karena budaya Thailand dan budaya Barat tidaklah sama. Sebenarnya, berbicara dengan sedikit memaksa bisa jadi bermanfaat, karena ia dapat membantu memancing semangat orang-orang yang lesu atau mengantuk, yang bukannya memaksa diri mereka sendiri untuk mendengarkan Dhamma tetapi sebaliknya malah terhanyut dalam kepuasan diri dan sebagai akibatnya mereka tidak mengerti apa pun.

Walaupun kelihatannya terdapat banyak cara untuk berlatih, tetapi sebenarnya hanya ada satu cara saja. Seperti tanaman-tanaman buah, bisa saja kita mempercepatnya untuk berbuah dengan cara menanam cangkokannya, tetapi tanaman tersebut tidak akan bertahan lama. Cara lain adalah dengan menanam tanaman tersebut dari benihnya, yang akan menghasilkan tanaman yang kuat dan tahan lama. Berlatih adalah sama seperti ini.

Ketika saya berlatih untuk pertama kalinya, saya menghadapi kendala untuk memahami hal ini. Selama saya tidak mengetahui sesuatunya itu apa, meditasi duduk adalah hal yang benar-benar sulit, bahkan bisa sampai membuat saya menangis. Kadang-kadang target saya akan terlalu tinggi, di lain waktu kurang tinggi, tak pernah menemukan titik keseimbangan. Berlatih dengan cara yang damai artinya adalah menempatkan pikiran tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tetapi pada titik keseimbangan.

Saya dapat melihat bahwa hal ini sungguh membingungkan kalian, yang datang dari berbagai tempat yang berbeda-beda dan telah berlatih dengan cara yang berbeda-beda dengan dibimbing oleh guru yang berbeda-beda pula. Datang ke sini untuk berlatih, kalian pasti telah dicemari dengan berbagai jenis keragu-raguan. Guru yang satu bilang kalian harus berlatih dengan cara yang ini, guru yang lain mengatakan kalian seharusnya berlatih dengan cara yang lain pula. Kalian bertanya-tanya cara yang mana yang harus dipakai, tanpa memahami esensi dari latihan. Hasilnya adalah kebingungan. Begitu banyak guru dan begitu banyak ajaran sehingga tidak seorang pun yang tahu bagaimana cara menyelaraskan latihan mereka. Dan sebagai akibatnya, terdapat begitu banyak keragu-raguan dan ketidakpastian.

Jadi, kalian harus mencoba untuk tidak berpikir terlalu banyak. Jika kalian memang benar-benar berpikir, maka lakukanlah dengan penuh kesadaran. Tetapi sejauh ini, pemikiran kalian telah diwujudkan tanpa melalui kesadaran yang tinggi. Pertama-tama, kalian harus membuat pikiran kalian tenang. Di mana ada yang mengetahui, maka di sana tidak ada keperluan untuk berpikir, kesadaran akan muncul pada tempatnya, dan ini selanjutnya akan menjadi kebijaksanaan (panna). Tetapi jenis pikiran yang biasa, bukanlah kebijaksanaan, ia hanyalah pikiran yang tidak mempunyai tujuan dan yang berkelana secara tidak sadar, dan yang tak terelakkan lagi akan berubah menjadi godaan dan hasutan. Ini bukanlah kebijaksanaan.

Pada tahap ini, kalian tidak perlu berpikir. Kalian telah banyak berpikir di rumah, bukan? Ia hanya akan memanas-manasi hati. Kalian harus membangkitkan sedikit kesadaran. Pikiran yang terlalu menggebu-gebu bahkan akan membuat kalian menangis, cobalah saja. Tersesat di dalam gerbong kereta api pikiran, tidak akan menuntun kalian kepada kebenaran, ia bukanlah kebijaksanaan. Sang Buddha adalah orang yang sangat bijaksana, dia telah mempelajari cara untuk menghentikan pikiran. Dengan cara yang sama, kalian juga sedang berlatih untuk menghentikan pikiran dan tiba pada kedamaian. Jika kalian sudah tenang, maka kalian tidak perlu lagi untuk berpikir, kebijaksanaan akan muncul pada tempatnya.

Untuk bermeditasi, kalian tidak perlu berpikir lebih banyak ketimbang bertekad bahwa saat ini adalah waktunya untuk melatih pikiran dan tidak ada yang lain. Jangan biarkan pikiran bergerak ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang, ke atas atau ke bawah. Satu-satunya tugas kita sekarang adalah berlatih untuk memperhatikan nafas dengan penuh perhatian. Pusatkan perhatian kalian di kepala dan gerakkanlah ia ke bawah melalui tubuh menuju ke ujung kaki, dan kemudian kembali ke atas menuju puncak kepala. Arahkan kesadaran kalian ke bawah melewati tubuh, meneliti dengan kebijaksanaan. Kita melakukan ini untuk mencapai suatu pemahaman awal tentang sifat-sifat sejati tubuh ini. Kemudian meditasi barulah dimulai, dengan mengingat bahwa kali ini, satu-satunya tugas kalian adalah untuk memperhatikan nafas masuk dan nafas keluar. Jangan memaksa nafas agar menjadi lebih panjang atau lebih pendek dari biasanya, biarkan saja ia seperti apa adanya. Jangan memberi tekanan apa pun pada nafas, biarkan ia mengalir secara seimbang, lepaskanlah dengan setiap tarikan dan hembusan nafas.

Kalian harus memahami bahwa kalian sedang melepaskan ketika kalian melakukan hal ini, tetapi di sana seharusnya tetap ada kesadaran yang tinggi. Kalian harus mempertahankan kesadaran ini, membiarkan nafas masuk dan keluar dengan nyaman. Tidak perlu memaksakan nafas, biarkan saja ia mengalir dengan mudah dan alami. Pertahankanlah tekad bahwa pada saat ini kalian tidak mempunyai tugas atau tanggung jawab yang lain. Pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi, apa yang akan kalian ketahui atau lihat selama bermeditasi, bisa saja muncul dari waktu ke waktu, tetapi begitu mereka muncul, biarkan saja mereka berhenti sendiri, jangan dengan sia-sia mengkhawatirkan mereka.

Selama meditasi, adalah tidak perlu untuk memperhatikan kesan-kesan indera. Bilamana pikiran dipengaruhi oleh benturan-benturan sensasi, bilamana terdapat perasaan atau sensasi di dalam pikiran, lepaskan saja dia. Apakah sensasi-sensasi itu baik atau buruk, itu tidaklah penting. Tidak perlu membentuk apa pun dari sensasi-sensasi itu, lepaskan saja mereka pergi dan kembalilah untuk memperhatikan nafas. Pertahankanlah kesadaran pada nafas masuk dan keluar. Jangan membuat penderitaan gara-gara nafas yang terlalu panjang atau terlalu pendek, hanya perhatikan saja dia tanpa mencoba untuk mengatur atau menekannya dengan cara apa pun. Dengan kata lain, jangan melekat. Biarkan nafas berlanjut seperti apa adanya, dan pikiran akan menjadi tenang. Selanjutnya, pikiran akan secara bertahap meletakkan semuanya dan beristirahat, nafas menjadi semakin ringan dan semakin ringan, hingga ia menjadi begitu lemah seolah-olah ia tidak berada di sana sama sekali. Baik tubuh maupun pikiran akan terasa ringan dan berenergi. Dan semua yang tersisa adalah sang mengetahui yang terpusat pada satu titik. Kalian dapat mengatakan bahwa pikiran telah berubah dan mencapai suatu keadaan yang tenang.

Jika pikiran tergoda, bangkitkan perhatian penuh dan tarik nafas dalam-dalam sampai tidak ada ruang kosong lagi untuk menampung udara, lalu lepaskan semuanya hingga tak ada yang tersisa. Ikuti dengan tarikan nafas dalam-dalam yang lain sampai kalian penuh, kemudian hembuskan udara keluar lagi. Lakukan ini dua atau tiga kali, setelah itu bangunlah kembali konsentrasi. Pikiran seharusnya menjadi lebih tenang. Jika ada lagi kesan-kesan indera yang menyebabkan pikiran menjadi terpancing, ulangi langkah ini di setiap kesempatan. Sama halnya dengan meditasi berjalan. Jika pada saat berjalan, pikiran menjadi tergoda, berhentilah tanpa bergerak, tenangkan pikiran, bangkitkan kembali kesadaran diri dengan objek meditasi dan kemudian lanjutkan kembali berjalan. Meditasi duduk dan berjalan pada intinya adalah sama, berbeda hanya pada posisi tubuh.

Kadang-kadang akan ada keragu-raguan, jadi kalian harus memiliki sati, menjadi yang mengetahui, yang secara terus-menerus mengikuti dan memeriksa pikiran yang tergoda, dalam bentuk apa pun ia. Ini artinya untuk memiliki sati. Sati mengawasi dan menjaga pikiran kita. Kalian harus mempertahankan yang mengetahui ini dan tidak ceroboh atau tersesat, tidak perduli dalam kondisi apa pun pikiran itu.

Taktiknya adalah dengan menjadikan sati sebagai pengatur dan pengawas pikiran. Begitu pikiran dipersatukan dengan sati, kesadaran diri yang baru akan muncul. Pikiran yang telah mengembangkan ketenangannya, ditahan untuk diperiksa oleh ketenangan itu, seperti seekor ayam yang dikurung di sangkarnya… si ayam tidak bisa keluar ke mana-mana, tetapi ia tetap bisa bergerak di dalam sangkar itu. Ia berjalan ke sana ke mari, tak menyebabkan masalah pada dirinya, karena ia dikurung di dalam sangkar. Begitu pula halnya dengan kesadaran yang muncul ketika pikiran memiliki sati dan dalam keadaan yang tenang, tidak akan menyebabkan masalah. Tidak ada satu pun pikiran atau perasaan yang muncul di dalam pikiran yang tenang, yang akan menimbulkan bahaya atau gangguan.

Beberapa orang tidak ingin mengalami bentuk-bentuk pikiran atau perasaan-perasaan sama sekali, tetapi ini sudah terlalu jauh. Perasaan muncul di dalam keadaan yang tenang. Pikiran mengalami bentuk-bentuk perasaan dan ketenangan sekaligus pada waktu yang sama, tanpa ada gangguan. Bila ada ketenangan seperti ini, tidak ada akibat yang membahayakan. Persoalan muncul bilamana “ayam” keluar dari “sangkarnya”. Sebagai contoh, kalian mungkin sedang mengawasi nafas masuk dan keluar dan kalian melupakan diri kalian sendiri, membiarkan pikiran mengembara ke mana-mana menjauhi nafas, kembali ke rumah, pergi ke toko-toko atau ke beberapa tempat yang berbeda-beda. Bahkan mungkin sesudah setengah jam lewat, kalian tiba-tiba menyadari bahwa kalian seharusnya berlatih meditasi dan menghukum diri kalian sendiri karena tidak memiliki sati. Di sini kalian harus benar-benar waspada, karena di sinilah tempat di mana ayam keluar dari sarangnya – pikiran meninggalkan dasar ketenangannya.

Kalian harus berhati-hati dalam mempertahankan kesadaran dengan sati dan mencoba menarik kembali pikiran kalian. Walaupun saya memakai kata “menarik kembali pikiran”, tetapi pada kenyataannya pikiran sebenarnya tidak pergi ke mana-mana. Selama ada sati, pikiran akan hadir di sana. Kelihatannya kalian seperti menarik kembali pikiran, tetapi sebenarnya ia belum pergi ke mana pun, ia hanya berubah sedikit. Kelihatannya pikiran pergi ke sana dan ke sini, tetapi kenyataannya perubahan terjadi tepat pada satu titik. Bila sati telah dicapai kembali, dalam sekejap kalian kembali bersama-sama dengan pikiran tanpa perlu membawanya dari tempat lain.

Bila ada pengetahuan secara total, suatu kesadaran yang berkelanjutan dan tidak putus pada setiap saat, ini yang disebut kehadiran pikiran. Jika perhatian kalian melenceng dari nafas ke tempat-tempat yang lain, maka yang mengetahui ini akan putus. Bilamana ada kesadaran terhadap pernafasan, pikiran ada di sana. Dengan adanya nafas dan kesadaran yang berkelanjutan dan seimbang ini saja, kalian telah memiliki pikiran yang hadir di sana.

Harus ada sati dan sampajanna. Sati adalah perhatian penuh dan sampajanna adalah kesadaran diri. Kini, kalian telah menyadari nafas secara jelas. Latihan untuk mengawasi nafas ini membantu sati dan sampajanna untuk berkembang bersama-sama. Mereka berbagi pekerjaan. Memiliki baik sati maupun sampajanna adalah seperti menyuruh dua orang pekerja untuk mengangkat sebuah papan kayu yang berat. Anggap saja ada dua orang yang mencoba mengangkat beberapa papan yang berat, tetapi beratnya begitu hebat, mereka harus bekerja keras, hingga mereka hampir saja menyerah. Lalu ada orang lain, dengan maksud hati yang baik, melihat mereka dan bergegas membantu mereka. Dengan cara yang sama, bila ada sati dan sampajanna, maka panna (kebijaksanaan) akan muncul pada tempat yang sama untuk datang memberikan pertolongan. Lalu mereka bertiga akan saling membantu.

Dengan panna, maka di sana akan ada pemahaman terhadap objek-objek indera. Sebagai contoh, selama bermeditasi, objek-objek indera akan dialami, yang akan menimbulkan perasaan dan suasana hati. Kalian mungkin berpikir tentang seorang sahabat, tetapi kemudian panna seharusnya mengatasinya dengan segera. “Itu tidak masalah”, “Berhenti” atau “Lupakan saja dia”. Atau jika ada pikiran-pikiran tentang ke mana kalian akan pergi esok hari, dan tanggapannya adalah, “Saya tidak tertarik, saya tidak mau membebani diri saya dengan hal-hal semacam itu”. Mungkin kalian mulai memikirkan orang lain, maka kalian seharusnya berpikir, “Tidak, saya tak mau terlibat”. “Lepaskan saja”, atau “Mereka semua tidak pasti dan tidak pernah menjadi sesuatu yang pasti”. Beginilah seharusnya kalian menghadapi hal-hal seperti ini di dalam meditasi, kenali mereka sebagai “tidak pasti, tidak pasti”, dan pertahankanlah kesadaran semacam ini.

Kalian harus melepaskan semua pikiran, percakapan di dalam batin dan keragu-raguan. Jangan terjebak oleh hal-hal semacam ini selama bermeditasi. Pada akhirnya, semua yang tersisa di dalam pikiran yang berada dalam bentuknya yang paling murni adalah sati, sampajanna dan panna. Bilamana ketiganya lemah, keragu-raguan akan muncul, tetapi cobalah untuk mengabaikan keragu-raguan itu secepatnya, menyisakan hanya sati, sampajanna dan panna. Cobalah untuk mengembangkan sati seperti ini hingga ia dapat dipertahankan pada setiap saat. Lalu kalian akan memahami sati, sampajanna dan samadhi secara mendalam.

Memusatkan perhatian pada titik ini, kalian akan melihat sati, sampajanna, samadhi dan panna sekaligus. Apabila kalian tertarik kepada atau ditolak oleh objek-objek indera yang ada di luar, kalian akan mampu berkata pada diri sendiri, “Ia tidak pasti”. Apa pun itu, mereka hanyalah hambatan-hambatan yang akan disapu hingga pikiran menjadi bersih. Yang seharusnya tersisa adalah sati, perhatian penuh; sampajanna, kesadaran diri yang jernih; samadhi, pikiran yang kokoh dan tidak tergoyahkan; dan panna, atau kebijaksanaan yang sempurna. Untuk sementara, hanya ini saja yang akan saya sampaikan mengenai subjek meditasi.

Sekarang, tentang alat-alat bantu untuk latihan meditasi – metta (kebaikan hati) di dalam batin kalian, dengan kata lain, kualitas dari kemurahan hati, kebaikan dan keinginan membantu yang lain. Ini semua harus dipertahankan sebagai dasar dari kemurnian mental. Sebagai contoh, mulailah mengatasi lobha, atau sifat mementingkan diri sendiri, dengan memberi. Bila orang-orang mementingkan diri sendiri, mereka tidak bahagia. Sifat mementingkan diri sendiri akan menuntun kepada perasaan tidak puas, namun orang cenderung menjadi begitu egois tanpa menyadari akibatnya terhadap mereka.

Kalian dapat mengalami hal ini pada setiap saat, terutama ketika kalian lapar. Anggap saja kalian mendapatkan beberapa buah apel dan kalian memiliki kesempatan untuk membaginya dengan seorang teman; kalian memikirkannya sebentar, dan, tentu saja, keinginan untuk memberi memang ada, tetapi kalian ingin memberikan apel yang lebih kecil. Memberikan apel yang lebih besar akan… yah, memang sesuatu yang memalukan. Sungguh sulit untuk berpikir dengan ketulusan hati. Kalian mempersilahkan mereka untuk mengambil sebuah, tetapi kemudian kalian berkata, “Ambil saja yang ini!”… dan memberikan mereka apel yang lebih kecil! Ini adalah salah satu jenis sifat egois yang biasanya tak diperhatikan orang. Pernahkah kalian menjadi seperti ini?

Kalian benar-benar harus melawan kecenderungan di dalam diri, untuk memberi. Walaupun kalian benar-benar ingin memberikan apel yang lebih kecil, kalian harus memaksa diri kalian sendiri untuk memberikan apel yang lebih besar. Tentu saja, begitu kalian memberikannya kepada teman kalian, kalian merasa enak di dalam batin. Melatih pikiran dengan cara melawan kecenderungan di dalam diri seperti ini, memerlukan disiplin diri – kalian harus tahu bagaimana caranya untuk memberi dan cara untuk melepaskan, dengan tidak membiarkan sifat egois tersebut menetap di sana. Begitu kalian mempelajari bagaimana cara untuk memberi, jika kalian tetap merasa ragu tentang buah apa yang akan diberikan, lalu ketika kalian sedang mempertimbangkannya, kalian akan menghadapi kesulitan, dan walaupun kalian memberikan buah yang lebih besar, tetap akan ada suatu perasaan enggan di sana. Tetapi segera setelah kalian memutuskan secara tegas untuk memberikan buah yang lebih besar, masalahnya pun berakhir dan selesai. Inilah yang dinamakan berusaha melawan kecenderungan di dalam diri sendiri dengan cara yang benar.

Melakukan hal ini, kalian telah memenangkan penguasaan atas diri kalian sendiri. Jika kalian tidak dapat melakukannya, kalian akan menjadi mangsa diri kalian sendiri dan terus menerus menjadi egois. Kita semua pernah menjadi egois di masa lalu. Ini adalah kekotoran batin yang perlu dihentikan. Di dalam kitab suci berbahasa Pali, memberi disebut sebagai “dana”, yang artinya membawa kebahagiaan bagi pihak lain. Ia adalah salah satu dari kondisi-kondisi yang membantu membersihkan pikiran dari kekotoran batin. Renungkan hal ini dan kembangkanlah ia di dalam latihan kalian.

Kalian mungkin berpikir bahwa berlatih dengan cara ini adalah seperti memburu diri kalian sendiri, tetapi ia tidaklah demikian. Sebenarnya, ia memburu nafsu keinginan dan kekotoran batin. Jika kekotoran batin muncul di dalam diri kalian, kalian melakukan sesuatu untuk mengatasi mereka. Kekotoran batin mirip seperti kucing liar. Jika kalian memberikannya makanan sebanyak yang ia inginkan, ia akan selalu datang kembali untuk mencari makanan yang lebih banyak lagi, tetapi jika kalian berhenti memberikannya makan, setelah beberapa hari, ia tidak akan datang lagi. Sama halnya dengan kekotoran batin, mereka tidak akan datang mengganggu kalian, mereka akan meninggalkan batin kalian dalam keadaan damai. Jadi, daripada merasa takut akan kekotoran batin, sebaliknya buatlah kekotoran batin itu agar menjadi takut terhadap kalian. Untuk membuat kekotoran batin menjadi takut kepada kalian, kalian harus melihat Dhamma di dalam batin kalian.

Di manakah Dhamma muncul? Ia muncul begitu kita mengetahui dan memahami dengan cara ini. Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan memahami Dhamma. Ia bukan sesuatu yang harus dicari di buku-buku, kalian tidak perlu banyak-banyak mempelajarinya dari buku untuk memahaminya, renungkan saja ia sekarang dan kalian akan memahami apa yang sedang saya bicarakan. Setiap orang dapat melihatnya karena ia berada tepat di dalam hati kita. Semua orang memiliki kekotoran batin, bukan? Jika kalian mampu melihat mereka, maka kalian akan mengerti. Di masa lalu, kalian telah menjaga dan mengasuh kekotoran batin kalian, tetapi kini kalian harus mengetahui kekotoran batin kalian dan tidak membiarkan mereka datang dan mengganggu kalian.

Latihan yang berikutnya adalah ketahanan moral (sila). Sila mengawasi dan mengasuh latihan kita dengan cara yang sama seperti orangtua yang menjaga anak-anak mereka. Memelihara ketahanan moral berarti tidak hanya menghindari diri dari menyakiti pihak lain, tetapi juga untuk menolong dan mendukung mereka. Kalian seharusnya menjaga sedikitnya lima aturan, yakni :

1. Tak hanya tidak membunuh atau secara sengaja menyakiti pihak lain saja, tetapi juga menyebarkan kebaikan hati terhadap semua makhluk.

2. Jujur, menahan diri dari pelanggaran hak-hak pihak lain, dengan kata lain, tidak mencuri.

3. Mengetahui bagaimana ukuran yang moderat dalam hubungan seksual: Dalam kehidupan rumah tangga terdapat struktur keluarga, berdasarkan pada hubungan antara suami dan istri. Mengetahui siapa suami atau istri kalian, mengetahui ukuran yang moderat, mengetahui batasan-batasan yang layak di dalam kegiatan seksual. Beberapa orang tidak tahu batas. Satu suami atau istri saja tidak cukup, mereka perlu memiliki yang kedua atau yang ketiga. Kalau menurut saya, kalian tak akan dapat memakai bahkan satu orang pendamping pun secara penuh, jadi untuk memiliki dua atau tiga lagi hanyalah untuk menuruti hawa nafsu saja. Kalian harus mencoba untuk membersihkan pikiran dan melatihnya untuk mengetahui ukuran yang moderat. Mengetahui ukuran yang moderat adalah kemurnian yang sebenarnya, tanpanya tindak tanduk kalian tidak akan ada batasnya. Ketika memakan makanan yang enak, jangan terlalu berkutat pada bagaimana rasanya, pikirkan perut kalian dan pertimbangkan berapa jumlah yang cukup untuk keperluannya. Jika kalian makan terlalu banyak, kalian akan menghadapi masalah, jadi kalian harus mengetahui ukuran yang moderat.

4. Jujur dalam berbicara – ini juga adalah alat untuk melenyapkan kekotoran batin. Kalian harus jujur dan tulus, menyukai kebenaran dan adil.

5. Menghindarkan diri dari pemakaian zat-zat yang memabukkan. Kalian harus menahan diri dan memilih untuk melepaskan hal-hal ini sama sekali. Orang-orang telah cukup dimabukkan oleh keluarga mereka, sanak saudara dan sahabat-sahabat, kepemilikan benda-benda materi, harta kekayaan dan semua yang lain. Itu sebenarnya sudah cukup tanpa harus membuat keadaan menjadi lebih buruk lagi dengan memakai zat-zat yang memabukkan. Mereka yang memakai dengan jumlah yang banyak, seharusnya mencoba untuk secara bertahap menguranginya dan pada akhirnya melepaskannya semua. Mungkin saya seharusnya meminta maaf kepada kalian, tetapi cara saya berbicara seperti ini adalah untuk kebaikan kalian sendiri, sehingga kalian bisa memahami mana yang baik. Kalian perlu mengetahui sesuatunya itu apa. Hal-hal apa yang menindas kalian di dalam kehidupan sehari-hari kalian? Tindakan-tindakan apa yang menyebabkan kalian tertekan? Perbuatan yang baik memberikan hasil yang baik, dan perbuatan buruk memberikan hasil yang buruk pula. Inilah penyebabnya.

Begitu ketahanan mental menjadi murni, akan ada suatu perasaan jujur dan baik terhadap pihak lain. Ini akan membawa kepada kepuasan dan kebebasan dari kekhawatiran dan penyesalan. Penyesalan yang berasal dari perilaku yang agresif dan merugikan, tidak akan berada di sana. Ini adalah suatu bentuk kebahagiaan. Ia hampir menyerupai suatu keadaan surgawi. Ada kenyamanan, kalian makan dan tidur dengan nyaman, dibarengi dengan kebahagiaan yang muncul dari ketahanan moral. Inilah hasilnya; memelihara ketahanan moral adalah penyebabnya. Ini adalah prinsip dari praktek Dhamma – menahan diri dari perbuatan yang buruk sehingga kebaikan bisa muncul. Jika ketahanan moral dijaga dengan cara ini, kejahatan akan hilang dan kebaikan akan muncul pada tempatnya. Ini adalah hasil dari praktek yang benar.

Tetapi ini bukanlah akhir dari cerita. Begitu orang-orang mencapai sedikit kebahagiaan, mereka cenderung menjadi tidak perduli dan tidak melanjutkan latihan mereka lagi. Mereka terjebak di dalam kebahagiaan. Mereka tak ingin mengalami kemajuan lagi, mereka lebih menyukai kebahagiaan “di surga”. Ia memang menyenangkan, tetapi di sana tidak ada pemahaman yang sebenarnya. Kalian harus terus merenungkannya agar tidak terperdaya. Renungkanlah lagi dan lagi, tentang kekurangan-kekurangan dari kebahagiaan yang satu ini. Ia fana, ia takkan bertahan selama-lamanya. Tidak lama lagi, kalian akan berpisah darinya. Ia bukanlah hal yang pasti, begitu kebahagiaan hilang maka penderitaan pun muncul pada tempatnya dan air mata menetes lagi. Bahkan makhluk-makhluk surgawi pun akan berakhir di dalam tangisan dan penderitaan.

Jadi, Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenungkan kekurangan-kekurangan tersebut, bahwa ada sisi-sisi yang tidak memuaskan dari kebahagiaan. Biasanya, ketika jenis kebahagiaan seperti ini dialami, di sana tidak ada pemahaman yang sebenarnya tentangnya. Kedamaian yang benar-benar pasti dan tahan lama, telah ditutupi oleh kebahagiaan yang penuh tipu daya ini. Kebahagiaan yang satu ini bukanlah jenis kedamaian yang pasti atau kekal, melainkan suatu bentuk kekotoran batin, sejenis kekotoran batin yang lebih halus, yang kita lekati. Setiap orang ingin bahagia. Kebahagiaan muncul disebabkan oleh kesukaan kita terhadap sesuatu. Begitu rasa suka tersebut berubah menjadi ketidaksukaan, penderitaan muncul. Kita harus merenungkan kebahagiaan ini untuk memahami ketidakpastian dan keterbatasannya. Begitu segala sesuatunya berubah, penderitaan pun muncul. Penderitaan ini juga tidak pasti, janganlah berpikir bahwa ia tetap dan mutlak. Perenungan semacam ini disebut adinavakatha, perenungan terhadap ketidakcukupan dan keterbatasan dari dunia yang berkondisi. Ini artinya untuk merenungkan kebahagiaan, daripada menerimanya begitu saja. Memahami bahwa ia tidak pasti, kalian seharusnya tidak cepat-cepat melekat kepadanya. Kalian seharusnya memegangnya tetapi kemudian lepaskanlah ia, untuk melihat manfaat dan bahaya dari kebahagiaan. Untuk bermeditasi dengan terampil, kalian harus melihat kekurangan-kekurangan yang bersatu-padu di dalam kebahagiaan. Renungkan dengan cara ini. Bila kebahagiaan muncul, renungkanlah ia dengan seksama hingga kekurangan-kekurangan itu menjadi jelas.

Ketika kalian melihat bahwa segala sesuatunya itu tidak sempurna (dukkha), batin kalian akan memahami nekkhammakatha, perenungan tentang pembebasan dari hawa nafsu. Pikiran ini akan menjadi tidak tertarik dan mencari jalan keluar. Ketidaktertarikan muncul setelah melihat bagaimana bentuk-bentuk itu sebenarnya, bagaimana citarasa-citarasa itu sebenarnya, bagaimana cinta dan benci itu sebenarnya. Menjadi tidak tertarik artinya bahwa tidak ada lagi keinginan untuk melekat atau terikat pada segala sesuatunya. Ada penarikan mundur dari kemelekatan, sampai pada suatu titik di mana kalian bisa tinggal dengan nyaman, memperhatikan dengan suatu ketenangan yang bebas dari keterikatan. Inilah kedamaian yang muncul dari latihan.


* Note : Ceramah ini diberikan di Vihara Hampstead, London, pada tahun 1977.

* Dikutip dan diterjemahkan dari buku: “The Teachings Of Ajahn Chah”, sub judul: “Living Dhamma – Meditation”.

Minggu, 17 Januari 2010

Hukuman Mati Ditinjau Dari Agama Buddha




Hukuman Mati Ditinjau Dari Agama Buddha
Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag.


Pendahuluan

Perdebatan mengenai masalah pro dan kontra terhadap hukuman mati pada dewasa ini belum sampai pada titik tuntas, dan kiranya masih akan berkembang terus untuk waktu yang lama. Para ahli, negarawan, dan tokoh-tokoh masyarakat yang pro dan kontra terhadap hukuman mati itu mengemukakan argumentasinya dari berbagai sudut pendekatan, yaitu dari sudut ilmu hukum, ilmu jiwa, ilmu kemasyarakatan, kriminologi, dan sebagainya.

Di negara Indonesia dan juga di negara-negara lain, perdebatan masalah pro dan kontra terhadap hukuman mati masih belum selesai. Agaknya pandangan manusia terhadap hukuman mati mengalami proses perkembangan evolusioner. Di negara Inggris, beberapa abad berselang, seseorang yang mencuri ayam dapat dihukum gantung. Pada dewasa ini hukuman mati telah dihapuskan sepenuhnya di sabagian besar negara-negara maju. Sebaliknya, di beberapa negara bagian Amerika serikat, hukuman mati yang pernah dihapuskan kini diberlakukan kembali dengan pertimbangan tertentu.

Masalah hukuman mati di Indonesia diatur dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 11 yang berbunyi, “ Hukuman mati yang dijalankan oleh algojo di tempat penggantungan dengan menggunakan sebuah jerat di leher terhukum dan mengikatkan jerat itu pada tiang penggantungan dan menjatuhkan papan tempat orang itu berdiri. “

Ketentuan tentang pelaksanaan pidana mati dengan cara digantung sebagaimana tersebut dalam pasal 11 KUHP dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan jiwa revolusi Indonesia. Oleh sebab itu, dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 2 Pnps tahun 1964, pelaksanaan pidana mati di Indonesia tidak lagi dilaksanakan dengan cara digantung, tetapi dilakukan dengan cara ditembak sampai mati di suatu tempat dalam daerah hukum pengadilan yang menjatuhkan putusan dalam tingkat pertama. Di Amerika, ada negara-negara bagiannya yang memakai kursi listrik atau gas beracun untuk melaksanakan hukuman matinya. Sedangkan di Perancis, pelaksanaan hukuman mati dilakukan dengan pemenggalan kepala dengan memakai alat yang disebut “ quilotine “.

Di Indonesia, sejak pemulihan kedaulatan sampai sekarang telah empat kali dijatuhkan hukuman mati oleh Pengadilan Negeri di Indonesia, yaitu atas perkara terdakwa Hamzah dalam peristiwa pembunuhan Ali Bajened, atas tiga orang terdakwa Saadon bin Mochamad, Ismail bin Husein, dan Tasrif bin Yusuf dalam peristiwa Cikini, atas terdakwa Allen Lawrence Pope dalam peristiwa pemboman di Ambon, dan atas terdakwa Kusni bin Kasdut dalam perkara perampokan di musium. Hukuman Hamzah belum dilaksanakan, karena terdakwa telah melarikan diri. Hukuman tiga orang terdakwa peristiwa Cikini (percobaan pembunuhan terhadap mantan presiden Soekarno di sebuah sekolah di Cikini) telah dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 1960 secara Hukum Acara Pidana Militer, ialah dengan jalan ditembak. Sedangkan, hukuman terdakwa Allen Lawrence Pope belum dilaksanakan, karena naik banding ke Pengadilan yang lebih tinggi.

Penghukuman mati atas diri Kusni Kasdut telah dilakukan dengan cara ditembak sampai mati di suatu tempat dalam daerah hukum pengadilan yang menjatuhkan putusan dalam tingkat pertama. Tiga kali dua puluh empat jam sebelum saat pelaksanaan hukuman mati, Kusni Kasdut telah diberitahu terlebih dahulu oleh jaksa tentang akan dilaksanakan pidana mati tersebut.

Sesungguhnya, tujuan pemidanaan di Indonesia yang berazaskan Pancasila itu pada dasarnya bertitik berat pada unsur pendidikan. Jadi, pidana mati masih perlu dipertahankan. Hanya penjatuhannya harus sehemat mungkin, dan sebaiknya hanya dijatuhkan apabila sudah diyakini bahwa penjatuhannya itu adalah yang terserasi pada saat penjatuhan tersebut.

Dengan melihat unsur pendidikannya, hukuman mati masih diberlakukan di negara Indonesia. Demikian pula dengan negara-negara Buddhis, misalnya Thailand, yang masih tetap melaksanakan hukuman mati terhadap siapa saja yang melanggar hukum negara seperti tindakan kejahatan yang berat. Sesungguhnya, di kalangan umat Buddha juga terdapat golongan-golongan yang pro dan yang kontra terhadap hukuman mati.

Tinjauan secara agama Buddha

Agama Buddha atau Buddha Dhamma memang tidak secara langsung mengurusi masalah-masalah kemasyarakatan. Agama Buddha tidak mengurusi masalah perkawinan, perceraian, warisan, perdagangan, hukum, pemerintahan, peperangan, dan sebagainya. Ajaran Sang Buddha atau Buddha Dhamma bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari kejahatan secara perorangan. Lalu, dengan jalan ini secara tidak langsung ketentraman dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Kemudian, lebih dari pada itu, ajaran Sang Buddha bertujuan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penderitaan, baik di dunia ini maupun di alam lain.

Namun, sejak ajaran Sang Buddha dianut bersama-sama oleh orang banyak atau kelompok-kelompok individu atau masyarakat, bangsa-bangsa, atau negara-negara, ajaran Beliau mengalami banyak perubahan dengan bentuk-bentuk yang kiranya disesuaikan dengan keadaan, lingkungan, kebutuhan, atau kecenderungan orang-orang yang menganutnya. Dalam hai ini, ajaran Sang Buddha (Buddha Dhamma) mendapat perubahan sebutan menjadi agama Buddha, yang kemudian penganutnya pecah menjadi kelompok-kelompok yang sampai saat ini merupakan sekte atau aliran-aliran yang sangat beraneka ragam. Oleh sebab itu, tidaklah jarang ditemui bentuk-bentuk agama Buddha atau aliran agama Buddha yang kompleks, yang bercampur baur dengan bermacam-macam paham kepercayaan, kebiasaan, adat istiadat atau tradisi yang dimasukkan ke dalam perkembangan agama Buddha itu. Bahkan, ada kalanya dijumpai dalam beberapa aliran itu, bahwa adat istiadat atau tradisi jauh lebih menonjol dari pada ajaran Sang Buddha yang sebenarnya. Dalam hal demikian, mereka masih tetap taat dan kukuh menyebut sebagai agama Buddha dan menyatakan dirinya orang Buddhis, masyarakat Buddhis, negara Buddhis, dan lain-lain. Mengenai hal ini, umat Buddha tak dapat berbuat apa-apa selain dari pada berusaha mengembangkan pengertian dan kesadaran masing-masing dan mengharapkan pengertian bersama dalam lingkungan hidup bersama.

Mengenai hukuman mati, memang sebenarnyalah dalam ajaran Buddha tidak pernah dibicarakan tentang hukum tata negara, apalagi pelaksanaan hukumam mati. Demikian pula, dalam ajaran Sang Buddha tidak ada pernyataan yang membenarkan atau yang tidak membenarkan pelaksanaan hukumam mati itu. Yang banyak dibicarakan dengan tegas dan tandas ialah proses sebab dan akibat yang disebut hukum karma.

Dalam Samyutta Nikaya I : 227, Sang Buddha bersabda sebagai berikut :

Sesuai dengan benih yang telah ditabur,
Begitulah buah yang akan dipetiknya,
Pembuat kebaikan akan mendapatkan kebaikan,
Pembuat kejahatan akan dimemetik kejahatan pula,
Taburlah biji-biji benih dan
Engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah daripadanya.

Hukum karma merupakan hukum sebab dan akibat dari perbuatan. Jika orang berbuat baik, maka keadaan yang menyenangkanlah yang akan dialaminya. Sebaliknya, jika orang berbuat jahat, maka keadaan yang tidak menyenangkanlah yang akan diterima. Keadaan yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan yang merupakan akibat dari perbuatannya itu dapat timbul atau datang dari bermacam-macam segi, misalnya datang dari dirinya sendiri, dari alam lingkungannya, dari makhluk – makhluk halus, dari orang lain, dari pemerintah, dan lain–lain.

Umpamanya, ada kalanya seseorang yang setelah berbuat jahat lalu menyesali perbuatannya atau merasa malu, takut, sedih, dan lain – lain, kemudian menyiksa dirinya atau ada juga yang sampai membunuh dirinya sendiri. Ini merupakan akibat dari perbuatannya yang jahat. Demikian pula, jika orang berbuat jahat yang merugikan makhluk lain atau orang lain, merugikan masyarakat atau negara atau yang lainnya, maka ia juga dapat menerima akibat atau ganjalan yang datangnya dari obyek – obyek yang dirugikan atau dari salah satu pihak yang tersebut diatas. Jadi, keadaan yang tidak menyenangkan bagi orang yang berbuat jahat itu wajar diterimanya, apakah itu merupakan hukuman yang ringan, sedang, atau berat, atau hukuman mati, sesuai dengan besar kecilnya kejahatan yang dilakukannya.

Selanjutnya, apakah hukumannya itu datang dari dirinya sendiri, dari alam, dari orang lain, atau dari negara, itu tergantung pada waktu atau keadaan, tempat, sasaran, berat ringan atau ruang lingkup dari kejahatan yang dilakukan. Demikian pula, bentuk dari hukuman itu tergantung pada unsur – unsur tersebut diatas, yang mungkin berupa hukuman denda, kurungan badan, kerja paksa, siksaan, atau hukuman mati. Terjadinya hal ini kiranya sangat sukar ditentukan sebelumnya, kapan, dimana, bagaimana, dan siapa yang akan melaksanakan hukuman itu, karena hal ini tergantung pada banyak seperti tersebut diatas. Jadi, pada hakekatnya akibat dari perbuatan jahat itu wajar dan patut diterima oleh para pelakunya, baik itu merupakan hukuman ringan, hukuman berat, maupun hukuman mati, sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya.

Sebenarnya, apa yang disebut “ hukuman “ yang harus diterima oleh orang yang berbuat jahat itu, terutama yang datangnya dari negara atau pemerintah itu tidak lain dari pada suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk menyadarkan orang yang jahat agar berhenti berbuat kejahatan. Oleh karena itu, hukuman tersebut, baik yang ringan maupun yang berat, merupakan kebutuhan pendidikan yang darurat dan mendesak bagi orang yang jahat untuk mempercepat evolusi kejiwaannya dan menyelamatkan lingkungan yang dirusak oleh kejahatannya.

Setiap orang jahat pasti pada suatu saat akan menerima hukuman itu, baik hukuman yang berat maupun yang ringan, ataupun hukuman mati, karena hukuman itu sebenarnya memang dibutuhkan oleh mereka dalam perjalanan kehidupannya untuk perkembangan batinnya menuju kebaikkan dan kesempurnaan. Dengan adanya hukuman yang bersifat mendidik itu, mereka menjadi sadar akan kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan itu pada masa – masa mendatang. Mereka ikhlas menerima hukuman yang dijatuhkan kepadanya dan berusaha tetap tenang pada saat menjalani hukuman itu. Mereka yang dijatuhi hukuman mati berusaha bersikap dewasa. Pada saat eksekusi atau pelaksanaan hukuman mati, mereka berusaha memusatkan pikiran ke arah yang baik agar mereka dapat meninggal dengan pikiran yang tenang. Dengan ketenangan pikiran itu, mereka dapat bertumimbal lahir di alam yang lebih baik.

Sesungguhnya, hukuman atau penderitaan itu memang sudah ada, yang pada hakekatnya diciptakan oleh orang – orang jahat itu sendiri melalui karmanya yang jahat. Ya… orang jahat pasti akan menerima akibat dari perbuatan jahatnya itu. Ia akan sedih dan menderita.

Dalam kitab suci Dhammapada bab I ayat 15, Sang Buddha bersabda sebagai berikut :

Di dunia ini ia bersedih hati,
Di dunia sana ia bersedih hati,
Pelaku kejahatan akan bersedih hati di kedua dunia ini.
Ia bersedih hati dan meratap
Karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih.

Dalam kitab suci Dhammapada bab I ayat 17, Sang Buddha kembali bersabda sebagai berikut :

Di dunia ini ia menderita,
Di dunia sana ia menderita,
Pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu.
Ia akan meratap ketika berpikir,
“ Aku telah berbuat jahat, “
dan ia akan lebih menderita lagi
ketika berada di alam sengsara.

Selanjutnya, apakah orang yang melakukan tugas negara untuk membunuh penjahat itu akan mendapat akibat karma yang tidak baik ? Di sini harus dilihat dari cetana atau kehendak si algojo itu. Jika algojo itu mempunyai rasa benci yang amat besar terhadap si penjahat pada saat ia membunuhnya, maka algojo tersebut akan mendapat akibat karma buruk yang berat . Namun, jika algojo itu tidak mempunyai rasa benci terhadap si penjahat pada saat ia membunuhnya, yang berarti bahwa tugas itu dilakukannya dengan terpaksa, maka ia akan mendapat akibat karma buruk yang lebih ringan.

Demikian pula halnya dengan hakim yang menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap si terdakwa. Jika hakim itu mempunyai rasa benci yang amat besar terhadap si terdakwa pada saat ia menjatuhkan vonis hukuman mati, maka ia akan mendapat akibat karma buruk yang berat. Namun, jika hakim itu tidak mempunyai rasa benci terhadap si terdakwa pada saat ia menjatuhkan vonis hukuman mati itu, tetapi semata – mata untuk menjalankan tugas negara yang berarti hukuman mati itu diadakan dengan tujuan baik, yaitu agar masyarakat, bangsa, dan negara itu aman, sejahtera, damai, dan bahagia lahir dan batin, maka ia akan mendapat akibat karma buruk yang lebih ringan.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa jika di lihat dari tujuan pemerintah mengadakan hukuman mati dan bahwa hukuman itu pasti pada suatu saat akan diterima oleh orang yang berbuat jahat, maka tindakan pemerintah mengadakan hukuman mati itu dapat dibenarkan. Ini juga merupakan alasan bagi golongan umat Buddha yang pro terhadap hukuman mati.

Di kalangan umat Buddha juga terdapat golongan umat Buddha yang kontra terhadap hukuman mati. Mereka tentu saja tidak dapat membenarkan adanya hukuman mati dalam situasi apapun. Mereka mengemukakan argumentasinya dari sudut metta yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Metta atau maitri berarti cinta kasih tanpa pamrih. Suatu ketika Sang Buddha pernah memberikan nasihat sebagai berikut : “Persis laksana seorang ibu melindungi anaknya yang tunggal, walaupun sampai mengorbankan kehidupannya, demikianlah juga seharusnya seseorang memelihara welas asih yang tak terbatas itu kepada semua makhluk. “ Di sini, yang dimaksudkan bukanlah perasaan cinta kasih yang berdasarkan nafsu kemilikan dari seorang ibu terhadap anaknya, tetapi yang dimaksudkan adalah keinginan yang murni atau suci dari seorang ibu untuk mencapai kesejahteraan anaknya.

Metta bukanlah hanya terbatas dalam perasaan bertetangga atau bersaudara kandung. Metta bukan pula persaudaraan yang berdasarkan kesamaan politik, suku bangsa, kebangsaan, atau agama. Metta lebih luas dan lebih mulia dari segala macam persaudaraan yang sempit itu. Metta tanpa batas dalam bidang – bidang dan peraturan. Metta tidak mempunyai rintangan atau penghalang, juga tidak mengadakan perbedaan. Metta yang luhur ini memancarkan berkahnya yang halus dan tenang itu sama rata terhadap yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang kaya dan yang miskin, yang baik dan yang buruk, yang jahat dan yang bajik, pria dan wanita, manusia dan binatang.

Demikian juga halnya dengan Sang Buddha. Beliau memiliki metta yang tak terbatas. Beliau “ bekerja “ dengan tanpa pamrih untuk kesejahteraan dan kebahagiaan semua mahkluk, baik orang – orang yang mencintainya maupun yang membencinya atau yang mencoba membunuhnya. Beliau memancarkan metta- nya yang sama terhadap puteranya Rahula, terhadap Devadatta yang memusuhinya, terhadap Ananda siswanya yang tersayang, terhadap orang – orang yang pro dan kontra, dan terhadap semua makhluk.

Orang yang memiliki metta pasti suka melakukan Abhaya Dana ( berdana dalam bentuk pemberian maaf). Mereka suka memberikan maaf terhadap orang-orang jahat, karena mereka memnyadari bahwa orang-orang jahat yang belum mencapai kesucian itu pasti masih bisa berbuat salah. Mereka tidak membenci orang-orang jahat itu. Mereka memancarkan cinta kasih kepada orang-orang jahat itu. Mereka berusaha membantu menyadarkan orang-orang jahat itu agar menghentikan perbuatan jahatnya. Mereka berusaha membimbing orang-orang jahat itu ke jalan yang benar.

Dalam prakteknya, metta yang diajarkan oleh Sang Buddha, juga harus disertai dengan panna. Panna adalah kebijaksanaan luhur, yang akan mengusir semua kegelapan. Sang Buddha mengajarkan agar umat Buddha dapat menjadi orang yang bijaksana. Umat Buddha harus dapat memilih yang terbaik untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.



Sumber :
BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA ( Kumpulan Tulisan)
Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag.
Diterbitkan oleh Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta
Cetakan pertama, Juli 1999