Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 13 Februari 2010

Beyond The Living: Gods, Ghost and Demons


Beyond The Living: Gods, Ghost and Demons

Oleh: Bhikkhu Ajahn Brahmavamso
________________________________________

Dari judulnya, sudah pasti banyak yang tertarik. Kata Ajahn Brahm, sepertinya malam ini yang paling banyak pendengarnya. Dulu sewaktu beliau diminta untuk memberikan kotbah Dharma di Kuala Lumpur, Malaysia, beliau diminta untuk memberikan judul Khotbahnya, dia juga memberikan judul ini dan yang pendengar yang hadir banyak sekali. Sampai-sampai bhikkhu di Kuala Lumpur bercanda, “Wah waktu saya berkhotbah, yang datang untuk mendengar masih bisa dihitung dengan jari”.

GHOSTS (HANTU)

Ajahn Brahm berkata, Apakah hantu itu ada atau tidak? Jawabanya adalah ADA! Tetapi kita tidak perlu takut karena hantu tidak pernah melukai manusia. Hantu hanya menakuti, tidak pernah melukai. Jangan percaya pada wajah hantu yang mengerikan seperti dalam film-film hantu. 

Kemudian Ajahn Brahm meminta para pendengar menunjukkan tangannya bagi mereka yang pernah lihat hantu! Ada beberapa pendengar yang menunjuk tangan mereka. Beliau kemudian kembali bertanya apakah ada yang pernah dilukai hantu? Kembali ada beberapa juga yang mengacungkan tangannya. 

Ajahm Brahm kemudian bertanya “Benarkah kamu dilukai oleh hantu?” tetapi saya melihat kamu masih baik-baik saja duduk di sini mendengarkan cerita saya. Ada salah seorang pendengar yang bercerita bahwa sewaktu tidur beliau sepertinya dicekik oleh hantu sehingga tidak bisa bernafas. Apakah itu bukan berarti dilukai? 

Ajahm Brahm menjawab, sebenarnya pengalaman itu bukanlah dicekik hantu. Itu adalah pengalaman fisik kita sewaktu tidur, itu karena pikiran atau pernafasan kita yang terganggu. Pikiran kita terikat pada sesuatu yang membuat kita lupa atau tidak mau bernafas, lain kali kalau mengalami hal yang demikian cobalah relaks dan let go. 

Percayalah, tidak ada hantu yang jahat di dunia ini, paling ada hantu yang nakal. Karena hantu itu seperti anak-anak, suka bermain dan suka diperhatikan orang. Tetapi ada sejenis hantu yang sangat mengerikan, dia bukan hanya membunuh diri sendiri, tetapi juga membunuh orang lain. Akan saya ceritakan tentang hantu jenis ini pada akhir khotbah ini. 

Dulu teman saya menceritakan pengalamannya tentang hantu. Sewaktu dia bermeditasi, dia mencium ada bau yang aneh tetapi tidak dihiraukannya. Dia melanjutkan meditasinya, tetapi dia diganggu terus oleh hantu itu, digelitik seperti ingin diperhatiankan. Teman saya tetap tidak menghiraukannya. Keesokan harinya sewaktu dia masuk lagi ke ruang meditasinya, bau yang aneh itu masih tercium. 

Dia tahu kalau itu adalah bau hantu karena bau dewa itu harum. Jadi sebelum dia memulai meditasinya, dia mengambil bantal sebiji lagi taruh di sampingnya dan berkata dengan tegas, "Saya tahu itu kamu. Duduklah disitu dan bermeditasilah bersama saya atau bila tidak, pergilah ketempat yang lain! Jangan ganggu saya!”
Setelah itu, meditasinya tidak pernah terganggu lagi dan bau yang tidak sedap itupun lenyap dengan sendirinya. 

Kemudian, ada sepasang suami istri Buddhis yang sering ke wihara kita di Australia. Mereka menuturkan pengalamannya membeli rumah baru. Agen penjual rumah dari rumah yang baru mereka beli tidak memberitahukan kepada mereka bahwa pemilik sebelumnya baru saja mati di depan rumah tersebut sewaktu memindahkan perabotnya. Mungkin karena pemilik itu mempunyai penyakit jantung atau karena kegemukan, dia mati di pintu rumah sewaktu ingin memindahkan perabotnya. Karena suami istri itu tidak tahu, jadi mereka pindah masuk saja ke rumah baru mereka seperti biasanya. 

Setelah itu, setiap malamnya mereka diganggu oleh orang iseng yang menekan bel. Mereka membuka pintu dan mengira mungkin saja ada anak-anak yang sedang iseng, tetapi nyata tidak ada. Bahkan hal itu terjadi hingga tengah malam, sehingga suaminya mendapatkan ide untuk mengeluarkan baterai dari bel tersebut agar tidak berbunyi lagi sewaktu ditekan. Walaupun tanpa baterai bel itu berbunyi terus. Akhirnya mereka tahu bahwa ini bukan perbuatan orang iseng. Ternyata orang iseng yang mereka pikirkan itu adalah hantu pemilik rumah sebelumnya yang ingin masuk ke rumah tersebut. Hantu pemilik rumah sebelumnya belum menyadari bahwa dia sudah mati. 

Mereka baru mengetahui tentang hantu itu setelah mendengar kisah tersebut dari tetangga-tetangganya. Karena mereka merupakan umat Buddha, mereka meminta petunjuk dari bhikkhu dan kemudian membacakan paritta / doa supaya hantu itu bisa terlahir ke alam yang seharusnya dia berada. 

Apakah kalian tahu mengapa kebanyakan hantu tidak dapat diambil fotonya? Dulu saya juga heran. Sewaktu saya masih kuliah, saya bersama teman sekelas saya bergabung menjadi anggota dari Klub Pengamat Keajaiban. Karena mata kuliah saya semua tentang ilmiah, saya sangat ingin tahu tentang keajaiban di dunia.
Kita pernah membuat kelompok belajar dan pergi mencari rumah-rumah yang berhantu. Kita berupaya untuk mengambil foto tetapi tidak ada satupun yang jadi. Setelah mendalami agama Buddha saya baru mengerti kalau hantu itu hanya dapat dilihat oleh pikiran. 

Ini mengingatkan saya tentang cerita chinese kungfu yang saya lihat sewaktu kecil. Cerita itu mengenai seorang anak yang belajar kungfu pada seorang guru. Pada suatu hari guru itu membawa anak itu pergi ke sebuah kolam. Dia berkata pada anak itu, “Awas! Jangan terlalu dekat dengan kolam itu. Kalau kamu jatuh ke dalam, kamu akan menjadi tulang-tulang yang kamu lihat itu pada dasar kolam. Karena kolam ini bukan kolam air biasa, melainkan kolam air asam pekat yang dapat menghancurkan apa saja. Jadi untuk melatih keseimbangan badanmu, kamu harus berjalan di atas jembatan kayu ini dan berlatih selama tujuh hari. Seandainya badanmu tidak seimbang kamu bisa jatuh ke dalam kolam. Jadi berhati-hatilah.” 

Anak itu berlatih tanpa jatuh atau terpeleset sekalipun dan tibalah hari ketujuh. Gurunya berkata, “Kamu sudah berlatih selama tujuh hari, untuk meyakinkan bahwa keseimbangan badanmu sudah mantap, saya akan menutup matamu dengan kain hitam dan kamu harus berjalan satu kali lagi diatas jembatan itu”. 

Anak itu mulai merasa ketakutan. Selangkah demi selangkah dia berjalan diatas jembatan itu, tetapi baru tujuh langkah dia sudah terpeleset dan jatuh ke kolam. 

STAY TUNED! Seperti biasanya komersial iklan di TV muncul pada saat-saat kritis, dan saya harus menunggu beberapa menit untuk melihat apa yang terjadi pada anak itu. 

Kembali ke film itu, anak itu berpikir tamatlah riwayatnya. Tetapi begitu dia terjatuh, dari pingir kolam itu terdengar suara gurunya yang sedang tertawa terbahak-bahak dan menyuruhnya membuka kain hitam penutup matanya untuk berenang ke tepian. Anakku, tidak ada kolam asam, tulang tengkorak seperti yang kamu lihat itu palsu. Itu air biasa, tetapi pikiranmu telah menghantui kamu, rasa takut kamu yang telah menghantuimu sehingga keseimbangan batinmu tidak terjaga, dan tentu begitu juga dengan keseimbangan badanmu. 

Kita kembali pada Klub Pengamat Keajaiban yang pernah saya masuki. Dalam program pertama dari klub ini, ada seorang wanita tua yang datang memberikan ceramahnya tentang ilmu gaib. Dia bilang, "Welcome to my talk. Seperti yang kamu tahu, saya adalah nenek sihir." Srrhh... semua bulu roma kita berdiri. Kemudian dia berkata lagi. "Jangan takut. Ada dua jenis nenek sihir. Nenek sihir hitam dan nenek sihir putih. Nenek sihir hitam itu jahat dan nenek sihir putih itu adalah nenek sihir yang baik, yang selalu membantu orang. Saya adalah nenek sihir putih." 

Semua orang menjadi tenang kembali. Kemudian wanita tua itu melanjutkan lagi. "Tetapi... Nenek sihir hitam selalu berkata bahwa dia adalah nenek sihir putih. hahaha... " 

Teman saya yang dulu bersama-sama bergabung dalam klub itu sekarang berbisnis di London dan masih aktif dalam klub ini. Saya bertemu dengannya akhir-akhir ini. Kartu bisnisnya sangat unik. Selain bisnis utamanya, di bawah namanya ada tertulis "Member of Ghost Buster of Northern Island" (artinya anggota penangkap hantu dari Pulau bagian Utara). Di Inggris banyak sekali hantu gentayangan. Karena hantu-hantu itu terlalu terikat atau melekat pada keluarganya atau rumahnya atau barangnya. Mereka tidak rela meninggalkan kediamannya atau keluarganya, jadi mereka tetap di sana dan tidak mau pergi-pergi untuk terlahir kembali (tumimbal lahir). 

Tetapi bagaimanapun, bhikkhu yang baik lah yang ahli dalam menangkap hantu. Sebenarnya bhikkhu itu ahli bukan karena dia memiliki kekuatan gaib atau kekuatan lainnya. Tetapi, karena bhikkhu itu menaati sila atau peraturan-peraturan yang diberikan Sang Buddha, sehingga bhikkhu-bhikkhu dapat terbebas dari segala niat buruk atau apapun yang tidak baik, dan bhikkhu-bhikkhu juga bisa memancarkan kasih sayangnya kepada semua makhluk tanpa mengharapkan balasan apapun. 

Berbicara tentang sila atau peraturan, saya teringat tentang seorang wanita Thai berusia 60-an yang sering ke wihara kita di Australia. Dia seorang Buddhis yang sangat saleh, taat pada Lima Aturan-Moralitas Buddhis (panca-sila Buddhis) dan tiap minggu menjalankan Delapan Aturan-Moralitas Buddhis (Attha-sila Buddhis). Pernah dalam beberapa minggu saya tidak melihatnya, tetapi saya menjumpai putrinya dan bertanya kemana orang tuanya? 

Putrinya kemudian bercerita bahwa ibunya sedang sakit dan berada di rumah sakit. Putrinya berkata bahwa sekarang ia lebih yakin terhadap agama Buddha. Sebenarnya ketika ibunya baru masuk rumah sakit, dia sangat kuatir dan pergi mengunjungi seorang ahli pengobatan dengan ilmu gaib yang terkenal. Dia membayar A$20 kepadanya kemudian orang itu meminta nama, tanggal lahir, nama rumah sakit dan nomor tempat tidur ibunya. Begitu putrinya memberitahukan hal itu kepadanya, dia mulai membaca mantra-mantranya hingga lama sekali. Kemudian dia berhenti dan berkata pada putrinya, “Apakah ibumu ada ilmu gaib atau memakai sesuatu dalam tubuhnya. Saya tidak bisa melihat dengan jelas karena dia seperti diselimuti oleh atmosfir putih disekelilingnya”. 

Putrinya menjawab, “Tidak, ibu saya tidak memakai apa-apa tetapi dia penganut Buddha yang taat pada sila atau peraturan”. Seketika itu juga ahli gaib ini mengembalikan uangnya A$20 dollar dan berkata, “Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya, buang waktuku saja!” 

Dari sini, kita harus tahu, bahwa menaati sila yang ditetapkan Sang Buddha itu berarti melindungi diri kita sendiri. Setiap kali ke wihara, kita selalu bersujud di depan rupang Sang Buddha. Apakah kalian tahu apa artinya? Itu bukan berarti kita umat Buddha menyembah-nyembah di depan patung. 

Dulu saya tidak mengerti, saya hanya ikut bersujud saja. Sekarang saya mengerti bahwa saya bersujud di depan rupang (patung) Sang Buddha bukan karena saya menyembahnya, tetapi saya menghormati serta mengagungkan jalan yang ditunjukkan Sang Buddha dan bersujud untuk mengingatkan saya agar tetap berjalan di atas jalan yang ditunjukkan oleh Beliau. 

[Catatan: Lima Aturan-Moralitas Buddhis (Panca-sila Buddhis) adalah Lima sila yang harus ditaati umat Buddha. Sewaktu seorang umat Buddha di visuddhi (upacara resmi menjadi Buddhis), selain berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha, ia juga harus berjanji taat pada Lima Aturan-Moralitas Buddhis yang ditetapkan oleh Sang Buddha sebagai peraturan untuk umat awam. Isi Lima Aturan-Moralitas Buddhis itu adalah: 

1. Panatipata Veramani Sikkhapadang Samadiyami. Saya berjanji untuk tidak membunuh atau melukai makhluk apapun.
2. Adinandana Veramani Sikkhapadang Samadiyami. Saya berjanji untuk tidak mencuri, mengambil milik orang lain tanpa persetujuannya.
3. Kamesumichacara Veramani Sikkhapadang Samadiyami. Saya berjanji untuk tidak melakukan perbuatan serong atau asusila. Saya hanya setia pada pasangan saya.
4. Musavada Veramani Sikkha padang Samadiyami. Saya berjanji untuk tidak berbohong, tidak berkata kasar. Saya hanya berbicara yang jujur dan benar.
5. Sura-meraya-maja-pamadathana Veramani Sikkhapadang Samadiyami. Saya berjanji untuk tidak minum arak, makan obat yang mengakibatkan kecanduan dan kebodohan. Saya harus selalu berwaspada. ]

Sewaktu Ajahn Brahm berbicara tentang Lima Aturan-Moralitas Buddhis (Panca-sila Buddhis) yang harus ditaati umat awam ini, dia bercanda tentang orang Thai yang pergi ke wihara. Dulu dia merasa aneh melihat beberapa orang lelaki Thai yang berdoa di wihara dengan sikap anjali tetapi tidak semua lima jari bertemu lima jari sebagaimana seharusnya. Ada yang dua jarinya disimpan sehingga hanya 4 pasang jari yang keluar. Kemudian dia bertanya pada temannya seorang bhikkhu yang merupakan orang Thai mengenai hal itu. Temannya menjelaskan itu karena mereka tidak menaati salah satu peraturan dari Lima Aturan-Moralitas Buddhis (Panca-sila Buddhis). Itu hanyalah tradisi orang Thai yang sebenarnya tidak benar. Seorang Buddhis yang benar harus tetap patuh pada perjanjiannya. 

Kebetulan waktu itu merupakan bulan tujuh menurut penanggalan bulan. Banyak orang Singapura yang masih melakukan sembahyang besar-besaran untuk "hantu" dalam merayakan “Pho-To” 

Karena ditanya mengenai hal itu, Ajahn Brahm menjelaskan bahwa sebenarnya sembahyang "Pho-To" ini asal usulnya juga berasal dari Ajaran Sang Buddha, hanya saja ajaran itu telah direformasi. 

Cerita mengenai hal itu terdapat dalam Sutta agama Buddha. Konon di masa kehidupan Sang Buddha, ada seorang raja di India yang bermimpi buruk dimana dia didatangi makhluk-makhluk halus yang menderita dan memohon-mohon padanya dengan sedih dan iba sekali. 

Raja ini sangat gelisah setelah bangun dari mimpi itu sehingga dia mengunjungi Sang Buddha memohon petunjuk Beliau. Sang Buddha dengan kekuatan bathinnya mengetahui hal ini, Beliau berkata kepada raja itu bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dihukum mati oleh raja ataupun raja-raja sebelumnya. Karena mereka mati dengan penasaran, sehingga mereka menjadi gentayangan, tidak mau "let go" dari dunia ini. 

Sang Buddha menyarankan agar raja yang bijaksana itu berdana kepada orang-orang yang pantas menerima dananya. Keesokan harinya raja membagi-bagi makanan dan pakaian kepada semua rakyatnya. Semua rakyatnya sangat gembira, bersyukur dan berdoa semoga Raja berbahagia. Sejak itu Raja tersebut tidak pernah bermimpi buruk lagi. 

Cerita kedua adalah mengenai salah seorang murid utama Sang Buddha yang bernama Mogallana. Ibu Mogallana meninggal dunia dan sebagai anak yang berbakti Mogallana ingin mengetahui keadaan ibunya, karena beliau tahu bahwa ibunya bukan seorang penganut Buddha pada masa hidupnya, ibunya suka mencaci maki dan marah-marah pada siapapun termasuk pada Sang Buddha dan pengikutnya. Karena waktu itu Mogallana sudah mencapai kesucian dan mempunyai kekuatan menembus ruang dan alam, dia berhasil menemukan ibunya yang terlahir di alam setan kelaparan. Dia merasa kasihan sekali kepada ibunya, sedangkan ibunya tidak dapat mengenalinya. 

Melihat ibunya yang sedang kelaparan, dia segera memberi makanan yang memang sudah disediakan untuk ibunya. Tetapi begitu ibunya makan, makanan itu langsung menjadi bara api di kerongkongannya. Ibunya menjerit-jerit kesakitan dan melihat itu Mogallana memberi ibunya minuman tetapi sama juga karena minuman itu juga menjadi bara api begitu masuk ke mulut ibunya. 

Mogallana dengan segera upaya menolong ibunya tetapi tidak berhasil. Akhirnya dia pergi mencari Sang Buddha untuk memohon petunjuknya. Sang Buddha juga mengetahui kejadian itu dan Beliau menyarankan Mogallana agar secepatnya dapat berdana makan kepada orang suci agung atas nama ibunya. 

Pada waktu kehidupan Sang Buddha, tentu saja tidak sukar mencari orang suci atau Arahat. Mogallana secepat mungkin mengumpulkan bhikkhu-bhikkhu lain yang juga teman-temannya dan berdana makanan kepada mereka sesuai dengan saran Sang Buddha. Setelah itu pesamuan bhikkhu-bhikkhu itu bersama-sama memanjatkan paritta untuk melimpahkan jasa kebajikan yang dilakukan Mogallana kepada ibunya yang berada di alam kelaparan. Karena itu ibunya terbebas dari alam kelaparan dan dilahirkan kembali di alam Surga Tusita. 

Cerita ketiga adalah mengenai murid utama Sang Buddha yang lainnya (bila tidak salah adalah Upali). Pada suatu malam sewaktu Upali bermeditasi di wihara, beliau mendengar suara isak tangis seseorang. Setelah diteliti, ternyata itu berasal dari seorang mahkluk halus yang ada di luar wihara. Hantu ini sedang memohon pada dewa penjaga pintu untuk membiarkannya masuk menemui anaknya. Begitu Upali keluar, makhluk ini berkata kepada Upali, “Jangan melihat ke depan anakku, saya tidak memakai apa-apa, saya kotor! dan orang suci seperti kamu tidak pantas melihat saya. Tetapi saya memohon kepadamu anakku, tolonglah ibumu ini supaya terbebas dari kesengsaraan ini.” Upali sangat terkejut mendengar perkataan makhluk itu, tetapi sebelum dia sempat berkata apa-apa, makhluk ini sudah hilang. Pikiran Upali sangat terganggu karena hal itu, karena ibunya yang sekarang belum meninggal dunia, kenapa makhluk itu bisa mengatakan padanya bahwa dia adalah ibunya. 

Seperti biasanya, Upali kemudian pergi mencari Sang Buddha untuk memohon petunjuk. Sang Buddha berkata, “Upali, ia benar adalah ibumu, tetapi ibu dari kehidupan yang lalu. Dia menderita karena karmanya, dan sekarang telah tiba karmanya bertemu denganmu yang telah menjadi orang suci. Cepatlah membuat jubah dan berdana kepada orang yang pantas supaya dia dapat berpakaian kembali.” 

Karena pada masa itu sangat sulit untuk memperoleh benang apalagi kain, maka dengan susah payah Upali mengumpulkan kain-kain kecil yang didanakan rakyat-rakyat desa dimana ia tinggal, dan dari kain-kain kecil itu beliau menjahitkannya menjadi jubah dan mendanakannya kepada bhikkhu-bhikkhu yang menjadi temannya. 

Kemudian secara bersamaan mereka memanjat paritta atau doa penyaluran jasa dan perbuatan baik itu dilimpahkan pada makhluk yang merupakan ibunya pada kehidupan yang lalu, dan atas jasa pahala tersebut ibunya terlahir kembali ke alam yang lebih baik. 

Pasti banyak yang bertanya-tanya, mengapa bhikkhu-bhikkhu itu bisa begitu mudah melimpahkan atau menyalurkan jasa perbuatan baik kepada makhluk lain? Jawabannya adalah bahwa pada masa kehidupan Sang Buddha, banyak bhikkhu-bhikkhu yang benar-benar suci dan sudah mencapai Arahat.


GODS (DEWA)

Ada seorang pemuda Amerika yang selalu suka menjadi sukarelawan di panti-panti jompo atau di wihara. Sampai pada suatu hari dia berkata kepada temannya bahwa dia ingin menjadi seorang bhikkhu dan bertanya kepadanya bagaimana caranya? Temannya menasihatinya untuk bertanya kepada bhikkhu ketika ia pergi berdana. 

Kemudian pemuda itu pergi ke wihara dan berjumpa dengan seorang bhikkhu, yang kebetulan juga berkebangsaan Amerika padahal pada tahun 70-an masih sedikit bhikkhu dari orang berkulit putih. Bhikkhu ini bertanya ada yang dapat ia bantu dan pemuda itu berkata, “Saya kesini karena ingin berdana dan mau menjadi bhikkhu, bagaimanakah caranya?” Bhikkhu itu tersentak tetapi dia tahu bahwa pemuda itu ikhlas. 

Bhikkhu itu kemudian menasihatinya untuk pergi ke Thailand. Disana ada Monastery Internasional yang menerima orang-orang asing untuk berlatih. Jadi, berangkatlah pemuda ini ke Thailand walaupun dia tidak mempunyai alamat yang jelas dari Monastery itu. Setibanya di lapangan terbang Bangkok, waktu baru menunjukkan jam 2 pagi dan pemuda itu langsung menuju Monastery tersebut dengan menggunakan taksi. Setelah perjalanan yang cukup jauh, sampailah ia di depan Monastery tersebut dan taksi yang ditumpanginya langsung pergi begitu pemuda itu turun. Ternyata Monestary itu belum buka, semuanya masih gelap gulita karena waktu baru menunjukkan jam 3 lebih dini hari. 

Ketika dia mengamati pintunya, tiba-tiba tercium harum wangi. Ia kemudian membalikkan badannya dan melihat seorang bapak tua dengan pakaian adat Thai berdiri di belakangnya. Bapak itu bertanya dengan bahasa Inggris yang fasih mengenai ada yang bisa ia bantu? Pemuda ini sangat gembira sekali, karena untuk pertama kalinya di sini dia berjumpa dengan orang yang bisa berbahasa Inggris. 

Pemuda ini menjawab, “Saya ke sini mau berdana dan menjadi bhikkhu”. Bapak itu tersenyum dan menjawab, “Hari masih dini, belum ada yang bangun, mari saya antar kamu masuk ke dalam”. 

Bapak itu meraba kantongnya mengeluarkan kunci yang sudah usang dan membuka pintu samping monastery itu. Kemudian dia membawa pemuda itu ke sebuah ruang besar, menghidupkan lampu-lampu di ruang itu. Di sana terdapat patung-patung Buddha dan beberapa lukisan yang kelihatan sudah tua. Bapak itu menceritakan tentang sejarah lukisan-lukisan yang berada di ruang itu kepada pemuda tersebut dengan bahasa Inggris yang fasih sekali. Tidak terasa subuh sudah sampai, bapak itu berkata pada pemuda itu: "Mari saya antar kamu ke ruang tempat para bhikkhu menerima dana makanan”. Setelah sampai di sana, bapak itu berkata, “Tunggulah di sini karena kepala biara akan segera keluar”. Setelah berkata demikian bapak itu berjalan keluar. 

Begitu kepala biara itu keluar, dia terperanjat melihat pemuda ini. Karena dia tidak bisa berbahasa Inggris, dia segera mencari murid yang berkulit putih lainnya. Pemuda itu menjelaskan bagaimana dia bisa masuk ke wihara dan menunggu di sana. 

Kepala biara terperanjat, karena di dalam biara mereka tidak pernah ada bapak seperti yang diceritakan pemuda itu, lagipula hanya kepala biara dan wakilnya yang memiliki kunci pintu samping tersebut. Kepala biara lebih terperanjat lagi karena pemuda itu tahu sejarah lukisan-lukisan tadi, sementara orang-orang yang bermukim lama di sana saja sudah tidak tahu menahu tentang sejarah itu. Setelah pemuda itu menjelaskan ciri-ciri khas orang itu, ternyata baju adat itu seperti baju Raja Thailand yang dulu. 

Segera mereka membawa pemuda itu untuk melihat sebuah lukisan seseorang. Pemuda itu berkata: "Ya! Inilah bapak yang menolongku tadi pagi." Segera mereka mengerti bahwa bapak itu ternyata Raja Thailand dulu yang sudah meninggal dunia dan menjadi Dewa. Karena keikhlasan dan kesucian hati dari pemuda ini, dewapun menolongnya. 

Cerita kedua tentang Dewa adalah dari pengalaman senior saya di Thailand. Pada masa saya dulu, bhikkhu-bhikkhu banyak yang berniat ke India, tempat asal usul agama Buddha. Mereka berjalan dari Thailand ke India, perlu waktu satu tahun. Banyak yang tidak berhasil, atau meninggal karena perjalanan yang berbahaya dalam hutan liar, ataupun tersesat. Senior saya, seorang bhikkhu yang sangat saleh bercerita tentang pengalamannya. Dia sudah berhasil sampai ke India. 

Tetapi dalam perjalanan pulangnya sekitar empat hari sebelum mencapai Thailand dia sudah kehabisan tenaga, karena sudah hampir seminggu dia belum menemukan makanan untuk mengisi perutnya. Akhirnya dia terjatuh di jalan, dan dari kejauhan dia melihat seseorang yang berpakaian rapi dan bersih seperti orang kota yang membawa rantang makanan berjalan ke arahnya. 

Orang itu menderma makanannya kepada senior saya itu. Senior saya heran bagaimana orang ini bisa tahu kalau ada bhikkhu yang menunggu dana makanan. Karena bhikkhu tidak boleh bertanya asal usul makanan dari seorang pemberi, senior saya hanya menerima dan makan makanan itu. Tetapi begitu dia membuka rantang makanan tersebut, dia terperanjat dengan isi makanannya karena semuanya berisi sayuran yang bagus-bagus adat Thai seperti yang dijual di restoran. Senior saya tidak tahan untuk tidak bertanya. Sehingga dia berkata kepada orang itu: "Maafkanlah saya untuk bertanya, dari manakah kamu berasal sehingga kamu tahu kalau di sini ada seorang bhikkhu yang sedang menunggu dana makan?" Orang itu hanya tersenyum dan menunjuk ke atas langit. 

Cerita lain tentang dewa adalah pengalaman saya sendiri. Sewaktu saya berada di Thailand, sudah biasa seorang bhikkhu berjalan kaki dari suatu tempat ke tempat lain. Suatu waktu, karena saya berjalan melewati banyak hutan yang tidak ada penduduknya, saya tidak menerima makanan maupun minuman. Sebagai seorang bhikkhu, sudah menjadi peraturan untuk hanya makan atau minum dari pemberian orang, tidak boleh meminta. Pada saat itu matahari terik sekali dan sudah 2 hari saya berjalan, tidak makan ataupun minum. Kemudian tibalah saya di sebuah desa. Sewaktu saya berjalan di pintu gerbang memasuki desa, dari kejauhan saya sudah melihat ada warung dimana beberapa orang duduk sambil mengobrol. 

Saya melihat ada iklan Coca-Cola. Sewaktu saya melewati warung itu, sebagai seorang bhikkhu saya tidak boleh melihat kesana kemari, apalagi meminta minuman kepada mereka, jadi pandangan mata saya tetap menunduk ke bawah. Mereka sepertinya tidak menghiraukan saya. Kemudian saya berpikir dan berkata dalam hati, kalau benar ada DEWA yang menolong bhikkhu yang baik seperti yang tertulis dalam Sutta Pitaka, tunjukkanlah kepadaku sekarang juga keberadaan dewa itu. Kemudian saya berusaha berkonsentrasi dengan langkah kaki saya. Sampai kira-kira setelah 9 meter saya berjalan, saya mendengar ada orang berlari-lari ke arah saya dan berteriak dengan bahasa Thai yang artinya persembahan dana makan untuk bhikkhu. Ternyata seorang wanita membawa Coca-Cola untuk saya, kemudian diikuti teman-temannya yang lain. 

Setelah menerima dana minuman tersebut, saya duduk di bangku yang ada di tepi jalan dan minum Coca-Cola yang diletakkan disampingku, 9 botol! Dan Saya berpikir, Wah! DEWA benar ada, dan bukan hanya satu, mereka benar-benar mau menunjukkan bahwa DEWA itu ada! 

DEMON (IBLIS)

Apakah Iblis itu ada? Baiklah, cerita ini juga mengenai seorang wanita Buddhis. Wanita ini sangat taat pada aturan-moralitas (sila-sila) yang dia ucapkan. Dia juga seorang yang aktif dalam kegiatan Buddhis. Dalam kehidupan pribadinya, dia termasuk seorang sukses dalam bisnis sehingga banyak yang iri padanya. Mungkin karena iri, salah satu orang yang dikenalnya mempunyai maksud yang tidak baik padanya. 

Wanita itu tidak mengetahui kalau ada yang berniat buruk kepadanya. Tetapi dia bisa merasakan kalau ada sesuatu yang terus mengikutinya dan berusaha mengganggunya. Dia merasa tidak nyaman. Kebetulan hari itu hari Minggu dan seperti biasanya dia pergi ke wihara. Begitu di wihara, dia merasa nyaman kembali. Ibu itu juga sempat mencari bhikkhu di wihara tersebut untuk menceritakan tentang rasa ketidaknyamanan yang dialaminya akhir-akhir ini. Bhikkhu itu segera tahu kalau ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi, lalu beliau membawa beberapa murid-muridnya mengikuti wanita tersebut ke rumahnya. 

Segera saja, setelah memasuki rumahnya bhikkhu itu mengetahui bahwa ada iblis di rumah wanita itu. Setelah membacakan paritta, bhikkhu itu menyuruh iblis tersebut untuk mewujudkan rupanya. Bhikkhu ini bertanya: "Mengapa anda ingin melukai wanita ini? Apakah sebelumnya dia pernah melukaimu dengan acara apapun? "
Iblis itu berkata: "Saya disuruh oleh seseorang untuk membunuhnya, saya sudah berusaha dengan berbagai cara untuk masuk ke tubuhnya tetapi gagal. Saya sedang menunggu kelemahannya." 

Bhikkhu itu berkata: "Wanita ini tidak dapat kamu lukai karena dia dilindungi oleh sila (peraturan-peraturan tentang perilaku dan moral) yang telah diperbuatnya. Kembalilah kamu ke alam yang seharusnya kamu berada." 

Iblis itu berkata lagi: "Tidak, saya tidak bisa kembali dengan kegagalan. Kalau saya gagal dengan tugas saya, itu sama saja dengan kematian saya." 

Bhikkhu itu dengan kasih sayang berkata: "Bertobatlah Iblis. Saya akan membacakan paritta untukmu sehingga dapat membantumu terlahir kembali di alam yang seharusnya kamu berada. Pergilah dengan ikhlas."
Dengan cerita ini, apakah saya telah menjawab pertanyaanmu tentang Iblis? Saya harap demikian. Semua cerita yang saya ceritakan itu berdasarkan pengalaman nyata yang saya dengar ataupun saya alami.



Sekarang, seperti yang saya ceritakan sebelumnya diawal khotbah. Di dunia ini ada satu hantu yang benar-benar mengerikan, bukan hanya bisa membunuh diri kita sendiri, tetapi juga bisa membunuh orang lain. Tahukah kalian hantu apakah itu? 

Hantu itu namanya "Hantu Botol". Dia tersimpan dalam botol. Sekali kamu bertemu botol itu dan membuka botol itu, hantu itu segera keluar dan ada pula dari mereka yang dapat mengakibatkan perut kamu semakin lama semakin bulat dan besar. 

Ini sebuah cerita yang diceritakan oleh seorang lelaki. Seperti biasanya lelaki ini suka pergi ke pub untuk minum-minum setelah pulang kerja bersama dengan teman-temannya. Pada suatu malam, dalam perjalanan pulang ke rumah, ada pemeriksaan lalu lintas di jalan yang akan dilaluinya. Dia melihat semua kendaraan berjalan dengan lambat dan segera ia mengetahui bahwasannya di depan pasti ada pemeriksaan. Dia bermaksud untuk berputar balik mencari jalan lain karena dia tahu pasti bahwa dirinya tidak akan lulus dari pemeriksaan, kadar alkohol di tubuhnya pasti masih sangat tinggi. Tetapi begitu menoleh ke belakang, sudah banyak mobil berantrian di belakangnya. Dia berpikir ”Ah, pasrahlah saya untuk menerima denda”. Begitu sampai gilirannya, terdengar suara BUMP! (benturan) besar di depan. Polisi pemeriksa itu berkata: "Ada kecelakaan di depan, kita harus pergi memeriksanya. Anggap saja Anda sedang beruntung, langsung saja jalan!" 

Lelaki itu kegirangan karena dia pikir, “Wah, saya benar-benar beruntung kali ini”. Dengan gembira sekali dia mengendarai mobil pulang dan langsung tidur. 

Keesokan paginya, dia terbangun oleh sirene mobil polisi. Kemudian terdengar bel pintunya berbunyi. Dia langsung berpikir, “Saya tidak melanggar peraturan kemarin, kenapa polisi itu datang ke rumah saya? Ah, sekarang alkohol saya pasti sudah menurun, kalaupun mau ditest sekarang saya tidak perlu takut”. Dia segera bangun membuka pintu. Begitu melihat polisi kemarin, dia berkata, "Halo Pak, ada yang bisa saya bantu?” 

Polisi itu menjawab: "Ya, tolong bantu kami membuka pintu garasimu." Begitu dibuka, lelaki itu terperanjat melihat mobil yang ada di garasi bukanlah mobilnya, melainkan mobil polisi kemarin. 

Sekarang dia bukan hanya menerima hukuman karena mabuk saja, tetapi juga hukuman karena mencuri.
Kalau Anda atau teman Anda suka minum minuman keras, segeralah nasihati mereka untuk menghentikan kebiasaan buruknya ini. 

Alkohol tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga banyak menghancurkan kehidupanmu, keluargamu, bahkan banyak kecelakaan lalulintas yang terbunuh akibat alkohol.

Inilah yang saya maksudkan dengan HANTU yang MENGERIKAN!

Jumat, 12 Februari 2010

Agama Buddha Dan Tindakan Tanpa Kekerasan


Agama Buddha Dan Tindakan Tanpa Kekerasan
Oleh Pandita D. Henry Basuki



Di India pada abad ke duapuluh dikenal ajaran Mahatma Gandhi tentang ahimsa, sedangkan 26 abad sebelumnya di wilayah yang sama Sang Buddha mengajarkan metta atau cinta kasih. Keduanya serupa tetapi tidak sama, ahimsa berarti tanpa kekerasan, sedangkan metta berarti welas asih. Orang mengembangkan welas asih pasti tidak melakukan kekerasan, penekanan serta penindasan.

Masuknya agama Buddha di Indonesia tidak diketahui secara pasti, namun dari catatan sejarah I Tsing pada abad ke V menyebutkan bahwa di Tanah Jawa berkembang agama Buddha.

Selama terjadinya nasional stat dua kali, agama Buddha hidup berdampingan secara damai dengan agama- agama yang ada. Dalam penyebarannya agama Buddha tidak melakukan dengan kekerasan. Namun demikian pemeluk agama Buddha mengalami perlakuan kekerasan serta ketidak adilan, Bagaimana ajaran Sang Buddha menghadapi kekerasan dan ketidak adilan, diikuti oleh pemeluk agama Buddha dimanapun juga.

Tiga Perilaku

Dalam agama Buddha ada 3 dasar perilaku, yaitu kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. (Angutara Nikaya IV/241) Ketiganya saling berkaitan, tidak dapat dipisahkan. Bila dilaksanakan akan membentuk sikap hidup yang baik lahir dan batin. Secara lahiriah. Ketiganya akan dapat melaksanakan kebajikan sesuai tuntutan agama dan semua harapan masyarakat luas, secara batiniah ketiganya tidak munafik.

Makna kerelaan adalah mengurangi kemelekatan terhadap benda-benda yang dimiliki. Melakukan hal ini, seseorang melatih diri memberikan benda milik yang sesuai kepada mereka yang membutuhkan.
Kemoralan adalah latihan pengendalian diri agar tidak melakukan paling tidak 5 perbuatan tercela,yaitu pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. (Angutara Nikaya III, 203)

Sedangkan konsentrasi adalah latihan menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan. Dalam hal ini bila timbul pikiran yang baik segera dapat diwujudkan dengan perbuatan, sebaliknya bila timbul pikiran yang tidak baik dapat dikendalikan sehingga tidak dilaksanakan.

Penjabaran

Karena lemahnya pengendalian pikiran, banyak orang dalam kehidupannya sehari-hari cenderung lebih mudah mencari kepuasan dengan mengacu tiga perbuatan tersebut di atas daripada mengendalikannya. Itulah sebabnya orang lebih gampang melakukan perbuatan tercela karena mendatangkan kepuasan batin dan menyebut dengan mudah bahwa sulit melakukan perbuatan baik.

Karena kemelekatan, orang menjadi kikir, karena tumbangnya nilai kemoralan orang melakukan kekerasan, karena lenyapnya konsentrasi orang jadi lepas kendali.

Orang yang setiap hari melaksanakan ibadah agama saja dapat lepas kendali di tengah emosi massa. Bagaimana bagi orang yang tidak mengenal ajaran agama ?

Empat Sifat Mulia Sang Buddha mengajarkan adanya empat sifat baik yang wajib dikembangkan, disebut Brahma Vihara, yaitu:
  1. Metta, yaitu sifat cinta kasih kepada semua makhluk, maksudnya mengharapkan kesejahtreraan dan kebahagiaan semua makhluk tanpa membedakan. Sifat ini adalah cinta secara universal atau tanpa didasari nafsu,
  2. Karuna , yaitu kasih sayang atau belas kasihan yang timbul bila menyaksikan penderitaan makhluk lain. Perkembangannya akan dipunyai hasrat untuk membantu meringankan penderitaannya,
  3. Mudita, yaitu sifat simpatik, sifat ikut bergembira menyaksikan kegembiraan pihak lain. Sifat ini kebalikan rasa iri hati,
  4. Upekkha, yaitu keseimbangan batin. Sifat batin yang seimbang dalam segala keadaan olehkarena menyadari bahwa setiap makhluk memetik hasil dari perbuatannya sendiri.

Manfaat dari mengembangkan empat sifat luhur demikian adalah bahwa seseorang akan terhindar dari usaha pihak lain yang akan melakukan perbuatan tercela terhadap kita, termasuk kekerasan.

Kita hendaknya dapat menerapkannya pada saat mana kita menggunakan metta, pada saat mana menggunakan karuna, pada saat mana kita menggunakan mudita dan pada saat mana kita menggunakan upekkha. Pengembangan empat sifat ini akan menjadikan kita dapat menyesuaikan diri di tengah masyarakat.

Menghadapi Kekerasan

Umat Buddha percaya akan adanya Hukum Karma, yaitu Hukum Sebab Akibat. Segala sesuatu yang terjadi adalah akibat karma kita. (terjemahan kata karma adalah perbuatan) Orang memahami ‘hukum karma’ sebagai ‘hukum tanaman’. Dalam filsafat Jawa ada kata mutiara yang menyebutkan ‘sing nandur bakal ngunduh’. Arti luas kata mutiara ini adalah Hukum Karma juga.

Siapa yang menanam kabaikan, ia akan menerima kebaikan atau keadaan yang baik pada dirinya, sedangkan yang menanam perbuatan jelek akan mengalami hal yang tidak baik pada dirinya,

Karena paham agama Buddha mengenal tumimbal lahir atau kelahiran kembali, bila tidak sempat memetik hasilnya pada kehidupan masa kini, maka akan dipetik pada kehidupan selanjutnya.

Walau pada saat ini kita tidak melakukan kejahatan, kekerasan maupun kekejaman, kemungkinan kita akan menerima perlakuan kejahatan, kekerasan dan kekejaman dari pihak lain yang merupakan hasil perbuatan kelahiran lampau. Kelahiran lampau berarti kelahiran sebelum kelahiran masa kini.

Sang Buddha mengajarkan bila pihak lain melakukan kejahatan kepada kita, maka tidak pada tempatnya kita balas melakukan kejahatan kepadanya. Bila kita membalas, maka pihak “sana” akan membalas kembali dan berkembanglah kejahatan itu makin luas.

Membalas kejahatan juga akan berakibat dikenai kejahatan, jadi bila kita tidak membalas kejahatan yang dia lakukan, dia pasti akan menerima kejahatan sesuai dengan Hukum Karma, karena Hukum Karma berlaku bagi semua orang. Masalah orang itu mengerti, mengakui apa tidak dia tetap “kena” Hukum Karma.

Tidak membalas kejahatan ini diteladani juga oleh Sang Buddha. Saudara sepupu beliau, bernama Devadatta adalah orang yang iri hati akan kemampuan dan karismatik Sang Buddha. Berkali-kali Devadatta melakukan perbuatan jahat, setiap kali pula Sang Buddha tidak membalasnya. Kekuatan metta (cinta kasih) Sang Buddha sudah dapat menghentikan rencana jahat Devadatta.

Ketika Sang Buddha menceriterakan kisah Pangeran Dirghayu yang ayahnya Raja Dirgheti dibunuh oleh Raja Brahmadatta, Sang Buddha menjelaskan bahwa sesaat sebelum wafat Raja Dirgheti minta agar putranya tidak membalas pembunuh ayahnya dengan cara yang sama.
“Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan welah asih”. (Majjima Nikaya 128)

Tindakan Praktis

Menyadari diri sebagai bagian dari masyarakat, selayaknya kita punya rasa tidak melekat pada apa yang kita miliki, namun juga rela melepaskan kepada pihak lain. Rasa demikian ini diwujudkan dengan memberikan dana kepada pihak yang membutuhkan. Kemelekatan bila dibiarkan tumbuh akan berkembang menjadi keserakahan. Untuk melenyapkan keserakahan inilah wajib dilakukan dana. Usahakanlah dana diberikan kepada yang membutuhkan.

Seseorang beragama Buddha secara preventif supaya tidak mendapatkan perilaku kejahatan, kekejaman maupun kekerasan tekun melatih 5 sila sebagai kemoralan sebagaimana disebutkan di atas, yaitu latihan pengendalian diri agar tidak melakukan pembunuhan (termasuk penganiayaan), tidak melakukan pencurian (termasuk penjarahan, perampokan), tidak melakukan pelanggaran kesusilaan (termasuk perselingkuhan, perzinaan dan perkosaan), tidak melakukan kebohongan (termasuk penggelapan, penipuan) dan tidak mabuk-mabukan (termasuk penggunaan narkoba).

 [ Pernah disampaikan dalam Seminar Regional “AGAMA DAN KEKERASAN” dengan topik “Agama dan Deseminasi Prinsip-prinsip Nir Kekerasan (Persepektif Buddha), dikutip dari Web Kinnara atas izin Pandita D. Henry Basuki ]

Cara Buddhisme Memandang Agama Lain



Cara Buddhisme Memandang Agama Lain


Agama bukanlah sekedar sistem kepercayaan yang berpusat pada Tuhan sang pencipta. itu adalah definisi terbatas dari agama, dan tidak semua pemuka agama akan mendefinisikan dengan cara yang sama. Tetapi, itu adalah sistem kepercayaan yang bertujuan untuk menolong orang dalam kehiduan ini dan yang akan datang, dan untuk memajukan kemanusiaan. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa Buddhisme adalah agama karena idak setiap orang mempunyai kecenderungan dan minat yang sama. Sang Buddha mengajarkan berbagai macam cara untuk orang-orang yang berbeda. Demikian pula mengapa Yang Mulia Dalai lama mengatakan bahwa sangat baik dengan adannya berbagai macam agama di dunia. Seperti halnya satu jenis makanan tidak akan menarik bagi semua orang, satu agama atau kepercayaan tidak akan memuaskan kebutuhan setiap orang, Oleh karena itu, sangatlkah baik terdapat berbagai macam agama di dunia. Beliau menerimanya dengan senang hati.
Akhir-akhir ini, banyak terjadi dialog dan interaksi antara umat Buddha dengan pemeluk agama lainnya. Mereka saling menghargai. Dalai lama sering bertemu dengan Paus. Pada suatu pertemuan yang dilaksanakan di Assisi, Italia dimana Sri Paus mengundang semua pemimpin-pemimpin agama di dunia. Sekitar 150 wakil agama hadir. Dalai lama duduk dekat Sri Paus dan diberi kehormatan untuk memberikan pidato yang pertama. Pemimpin-pemimpin agama yang lain juga menunjukkan penghargaan yang tertinggi terhadap Buddhisme. Pada konferensi itu, mereka mendiskusikan topik yang umum pada setiap agama, seperti moralitas, cinta dan kasih sayang. Orang-orang yang sangat bersemangat dengan kerja sama, keserasian dan penghargaan yagn setara yang dirasakan oleh para pemimpin agama yang berlainan.
Tentu saja, jika kita mendiskusikan metafisik dan teologi, akan terdapat perbedaan-perbedaan. Tidak ada jalan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan itu. Tetapi hal itu tidak berarti kita harus bedebat dengan sikap seolah-olah "Ayahku lebih kuat daripada Ayahmu," itu adalah sifat kekanak-kanakan. Adalah lebih baik untuk melihat segala sesuatunya dengan sewajarnya. Semua agama di dunia adalah untuk mencari kemajuan perdamaian dunia dan untuk membuat hidup menjadi lebih baik dengan jalan mengajarkan kepada orang-orang untuk mengikuti tingkah laku yang etis. Dengan cara ini, orang-orang tidak menjadi terperangkap pada sisi material dari kehidupan, dan hidup mereka dapat diseimbangkan antara kemajuan material dan spritual.
Adalah baik jika semua agama bekerja sama untuk memajukan situasi dunia. Kita membutuhkan tidak hanya kemajuan material, tetapi juga kemajuan spiritual. Jika kita hanya menekankan aspoek material dari kehidupan, maka berarti membuat "bom" untuk membunuh setiap orang yang merupakan hasil anggapan terbaik. Tetapi jika berpikir dengan cara humanistik atau spiritual, maka kita akan waspada terhadap rasa takut dan problem-problem lain yang muncul sebagai akibatnya, dan kita mencari keseimbangan antara keduanya. Jika kita hanya berkembang secara spritual dan tidak mempedulikan sisa material, maka manusia akan lapar, dan hal itu juga tidak akan baik. Kita membutuhkan keseimbangan.
Sekarang terdapat banyak interaksi antara agama-agama di dunia dan banyak hal yang dapat digotong-royongkan. Sebagai contoh banyak terdapat interaksi antara umat Buddha dna Kristen. Umat Kristen Katolik dan sebagainya belajar teknik-teknik konsentrasi dan meditasi dari Buddhisme. Banyak pendeta-pendeta Kristen, pastur-pastur, rahib, dan suster datang ke Dharmasala, India, untuk belajar teknik-teknik konsentrasi dan meditasi dan bagaimana mengembangkan cinta dengan tujuan untuk membawanya ke tradisi agama mereka. Beberapa umat Buddha telah mengajar di seminari-seminari (sekolah tinggi) katolik.
Dalam agama kristen, dikatakan bahwa kita harus mencintai setiap orang, tetapi tidak dikatakan bagaimana melakukannya, Buddhisme sarat kaya akan teknik-teknik mengembangkan cinta kasih. Agama kristen dalam tingkatannya yang paling tinggi adalah terbuka untuk mempelajari teknik-teknik ini dari agama Buddha. Hal ini tidak berarti bahwa mereka semua akan menjadi Buddhis, karena tak seorangpun yang dapat mengubah orang lain. Teknik-teknik ini dapat diadaptasikan dalam agama mereka sendiri untuk membantu mereka menjadi umat kristiani yang lebih baik.
Demikian juga, umat Buddhis tertarik dalam beberapa hal dari kekristenan terutama yang berhubungan dengan pelayanan sosial. Beberapa tradisi Kristiani menekankan pada pastur dan susternya untuk terlibat dalam pengajaran, dalam pekerjaan dari rumah-rumah sakit, merawat orang-orang jompo, dan lain-lain. Walaupun beberapa dari layanan masyarakat ini telah berkembang di beberapa negara Buddhis, namun hal ini belumlah berkembang di semua negara Buddhis karena alasan-alasan sosial dan geografis. Ini adalah sesuatu yang dapat dipelajari oleh umat Buddha dari orang-orang Kristiani. Dalai Lama sangat terbuka dalam hal ini. Bukan berarti bahwa umat Buddha akan menjadi Kristiani. Tetapi, ada aspek-aspek tertentu dari pengalaman Kristiani yang dapat dipelajari umat Buddha. Dan ada hal-hal lain dari pengalaman umat Buddha yang dapat dipelajari oleh umat kristiani juga. Dengan cara ini, ada forum terbuka diantara semua agama di dunia, yang didasari oleh penghargaan yang tinggi terhadap satu dengan lainnya.
Sering kali interaski antara agama adalah para tingkat yang tertinggi, dimana orang-orangnya terbuka dan tidak mempunyai prasangka. Adalah pada tingkat yang lebih rendah dimana orang-orangnya merasa tidak aman dan mengembangkan mental yang rendah. Contohnya pada suatu Tim sepakbola yang berusaha mengalahkan/menyingkirkan tim lainnya. Maka terjadilah pertarungan antar tim. Hal ini sangat menyedihkan jika terjadi dalam lingkungan keagamaan, baik itu terjadi antar agama atau antar tradisi-tradisi (aliran) Buddhis yang berbeda.
Sang Buddha mengajarkan metode-metode yang bermacam-macam dan semuanya bekerja serasi untuk menarik orang-orang dari tipe yang berbeda-beda. Oleh karena itu, adalah sangat penting untuk tidak mempunyai sekte, baik terhadap agama lain maupun dalam Buddhisme itu sendiri. Jika kita melihat pada pemimpin-pemimpin besar, pada level yang tertinggi, kita melihat bahwa mereka tidak mempunyai sikap kompetitif atau prasangka buruk terhadap lainnya. Sikap yang demikian ini hendaknya dimiliki oleh semua umat Buddha dari seluruh lapisan. Sadhu... Sadhu..... Sadhu.....
( Dikutip dari Dharma Prabha No.23/Jan/'95)

Agama Buddha Dan Mahasiswa



Agama Buddha Dan Mahasiswa
Oleh Bhikkhu Uttamo Thera


Belajar ilmu pengetahuan hingga lulus niscaya mendapat kehormatan. Namun, pelatihan diri dalam tingkah laku-lah yang membawa pada kedamaian.
(Khuddaka Nikaya, Jataka I, 842)

PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu pengetahuan dikuatirkan akan memberikan banyak dampak negatif pada perkembangan agama-agama dunia. Bahkan tidak jarang muncul pandangan sinis bahwa agama suatu ketika akan ditinggalkan oleh pengikutnya. Para pengikut agama akan menggantikan agama dengan ilmu pengetahuan. Pandangan ini juga melanda di kalangan umat Buddha. Agama Buddha yang telah diajarkan oleh Sang Buddha Gotama hampir 3000 tahun yang lalu di India juga sering diragukan kelayakannya dalam menghadapi tantangan kemajuan jaman. Oleh karena itu, kemudian banyak umat Buddha yang sibuk berusaha 'menyesuaikan' agama Buddha dengan tuntutan jaman.

Mereka 'memperbaiki' Agama Buddha sesuai dengan keinginan pribadinya. Mereka akhirnya bukan memperbaiki keadaan, malah merusak! Mereka masing-masing berlomba menjadi 'Buddha Yunior', merasa memperoleh penerangan sejati dan mandat tertentu untuk mengubah pengertian Dhamma. Padahal Dhamma telah sempurna dibabarkan. Tidak perlu diubah lagi. Dhamma juga tidak akan terpengaruh oleh kemajuan jaman.

AGAMA BUDDHA = BUDDHA DHAMMA + TRADISI

Agama Buddha sebenarnya terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama adalah pelajaran kebenaran yang diberikan oleh Sang Buddha Gotama disebut dengan Buddha Dhamma. Bagian kedua adalah tradisi yang berkembang pada satu masyarakat tertentu tempat tumbuhnya Buddha Dhamma tersebut. Apabila kita berbicara tentang relevansi Agama Buddha dalam menghadapi kemajuan jaman, hendaknya kita dapat membatasi diri membicarakan Buddha Dhamma saja, bukan tentang tradisi. Tradisi dapat berlainan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Membahas masalah tradisi akan bertele-tele dan tidak akan menemui titik terang. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya mati-matian. Padahal, kebenaran Dhamma bukan pada tradisi itu. Pembahasan Buddha Dhamma, di mana pun juga, oleh siapa pun juga, hasilnya akan dan harus tetap sama.

Hal paling pokok dalam Buddha Dhamma atau Ajaran Sang Buddha adalah Empat Kesunyataan Mulia. Bila Buddha Dhamma diibaratkan suatu sistem pendidikan tingkat perguruan tinggi maka Empat Kesunyataan Mulia adalah kurikulum dasarnya. Hal ini dapat terjadi karena selama Sang Buddha mengajarkan Dhamma sampai 45 tahun lamanya, pokok ajaran Beliau selalu sama, Empat Kesunyataan Mulia. Sang Buddha mengajar sebanyak 84.000 kali ceramah, isinya sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Hingga saat inipun pokok pelajaran Agama Buddha tetap dan berlaku universal.

Bahkan di masa yang akan datang pun juga sama. Sampai munculnya Buddha yang akan datang pun pasti akan mengajarkan hal yang sama. Semua Buddha ajaranNya sama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Empat Kesunyataan Mulia itu dapat dijadikan tolok ukur untuk membedakan Agama Buddha dengan berbagai macam tradisi.

Isi Empat Kesunyataan Mulia yang pertama adalah, hidup sungguhnya berisikan ketidakpuasan. Artinya berkumpul dengan segala sesuatu yang dibenci dan berpisah dengan segala sesuatu yang dicinta akan menimbulkan ketidakpuasan. Kedua, ketidakpuasan ini ada sebabnya yaitu keinginan atau harapan kita sendiri. Makin besar harapan, makin besar pula kekecewaan yang akan dirasakan. Harapan yang berlebihan ini dapat muncul karena ketidaktahuan kita akan kenyataan hidup yang selalu berubah, tidak kekal. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan, sebaliknya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Biasanya kita mengerti ketidakkekalan hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Akhirnya, kita akan menjadi penasehat ulung tetapi tidak dapat memanfaatkan Buddha Dhamma untuk kehidupan kita sendiri. Inilah yang menjadi penyebab ketidakpuasan. Banyak teori kurang praktek Dhamma. Ketiga, karena penyebab ketidakpuasan sudah diketahui, maka pasti ada jalan untuk mengatasinya. Jalan kebebasan itu telah ditunjukkan oleh Sang Guru Agung. Bila telah ada jalan dan kemudian dilaksanakan, maka pastilah ketidakpuasan dapat segera diatasi. Terbebas dari ketidakpuasan dan memiliki batin seimbang dalam menghadapi perubahan hidup, itulah tujuan seorang umat Buddha. Keempat, cara atau jalan mengatasi dan menguasai diri kita sendiri agar dapat mencapai keadaan batin yang tenang, seimbang. Cara atau jalan yang diajarkan Sang Buddha ini disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Isi Jalan ini adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Cara hidup Benar, Daya Upaya Benar, Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Jadi, inti Empat Kesunyataan Mulia sebenarnya adalah hukum sebab dan akibat. Ada sebab, muncullah akibat; hilang sebab, hilang pula akibatnya. Hukum ini pula yang mendasari seluruh Ajaran Sang Buddha.

BUDDHA DHAMMA = PENGAJARAN + PENDIDIKAN


Dalam makalah ini tidak akan dibahas tentang Empat Kesunyataan Mulia, tetapi akan membahas hubungan Agama Buddha, dalam hal ini Buddha Dhamma, dengan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam masyarakat sangatlah dihargai oleh Sang Buddha. Bahkan seperti yang ditulis di atas, kehormatan dalam masyarakat akan dicapai apabila kita mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai. Beberapa cara mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah dengan memilih perguruan tinggi yang baik, rajin mengikuti kegiatan kampus, menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah demi kebahagiaan masyarakat dan lingkungan. Apabila kita dapat memanfaatkan kesempatan memperoleh dan mempraktekkan hasil pendidikan ini dengan baik, hal ini akan melegakan hati orangtua. Orangtua akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap anak yaitu memberikan pendidikan yang baik (Digha Nikaya III, 188).

Dalam pandangan Buddhis, pengajaran sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan saja belumlah cukup. Orang masih membutuhkan pendidikan. Pendidikan adalah usaha mengembangkan batin seseorang agar menjadi dewasa. Hasil pengajaran akan memberikan kehormatan dalam masyarakat.

Hasil pendidikan akan menumbuhkan watak bermoral. Kehormatan sebagai anggota masyarakat memanglah membanggakan. Namun itu belumlah cukup. Ilmu pengetahuan yang sedemikian membanggakan kadang dapat berubah menjadi monster yang sangat mengerikan. Kita bisa merenungkan hasil penemuan bom atom yang mungkin tidak terduga oleh si penemu teori relativitas, Albert Einstein. Dan masih banyak penyalahgunaan ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, selain memiliki ilmu pengetahuan sebagai hasil pengajaran dibutuhkan pula latihan pengendalian tingkah laku atau sering disebut dengan sila / kemoralan sebagai hasil pendidikan. Dengan bekal kemoralan ini lah, sikap dan prilaku kita akan terjaga. Kita tidak akan menyalahgunakan kemampuan dan kepandaian yang kita miliki. Kita justru akan memanfaatkan semua ilmu pengetahuan kita untuk membantu kesejahteraan umat manusia. Kita akan selalu memiliki pola pikir, semoga semua mahluk berbahagia.

SILA (KEMORALAN)

Pendidikan secara Buddhis diawali dengan mengenalkan perilaku bersusila atau bermoral. Perilaku ini ditumbuhkan dengan melaksanakan latihan kemoralan. Kemoralan yang paling dasar dalam Agama Buddha adalah Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis berisikan lima latihan pengendalian diri.

Latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan pelanggaran kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Pelaksanaan Pancasila Buddhis ini dengan tekun akan menghasilkan ketenangan, tentraman, dan kedamaian dalam masyarakat. Pancasila Buddhis akan menjadi pagar pengaman lingkungan. Kemampuan teknologi yang dimiliki seseorang tidak akan digunakan untuk kejahatan, mencuri atau merampok, misalnya.

Sebab, telah banyak kita dengar maupun saksikan teknologi sinar laser dapat digunakan untuk membuka lemari besi tempat penyimpanan harta yang hendak dirampok. Oleh karena itu, bila semakin banyak orang melaksanakan Pancasila Buddhis maka kondisi lingkungan masyarakat akan semakin aman. Semakin banyak anggota masyarakat yang melaksanakannya, dunia pun menjadi aman.

Setiap umat Buddha hendaknya melaksanakan Pancasila Buddhis dengan ketat setiap hari. Pada hari-hari tertentu, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, kita dapat meningkatkan latihan dengan melaksanakan Atthasila atau delapan aturan kemoralan. Tujuannya jelas, untuk lebih dapat mengendalikan diri, menguasai emosi. Dalam Atthasila, salah satunya kita juga dianjurkan berpuasa setelah tengah hari, kira-kira setelah jam 12.00 siang. Tujuan berpuasa ini adalah untuk mengalahkan rasa lapar yang merupakan dorongan universal yang ada dalam diri kita. Disebut dengan dorongan universal karena ketika masih di dalam kandungan, mahluk termasuk manusia, telah mengenal rasa lapar terlebih dahulu sebelum mengenal segala sesuatu yang ada di dunia ini. Jadi bila orang telah dapat menundukkan dorongan universal ini, ia akan lebih mudah menenangkan pikirannya ketika ketidakpuasan datang menghampirinya. Ia akan dapat dengan segera merenungkan bahwa dorongan universal yang lebih hebat pun telah dapat ditundukkan, apalagi hanya ketidakpuasan atas sesuatu yang tidak dikenalnya ketika masih dalam kandungan. Batinnya akan lebih mudah tenang, seimbang. Emosi terkendali.

SAMADHI (MEDITASI)

Pendidikan mental dengan melaksanakan latihan kemoralan sebagai pengimbang kemajuan ilmu pengetahuan, hendaknya dilengkapi dengan memperbaiki pola pikir. Pola pikir hendaknya dikendalikan agar seseorang jangan hanya baik pada ucapan dan perbuatan luarnya saja, namun jahat dalam pikirannya. Perbaikan pola pikir ini dengan menggunakan sarana latihan meditasi. Dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan disebutkan tentang Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Latihan meditasi digunakan untuk membiasakan pikiran bergerak dalam bidang yang positif. Dalam latihan meditasi, seseorang dikondisikan untuk selalu menyadari setiap saat segala sesuatu yang dikatakan, dilakukan dan dipikirkan. Latihan ini delakukan dengan selalu merenungkan kata-kata: 'Saat ini saya sedang apa?' Latihan ini diperlukan karena dari waktu ke waktu, pikiran seseorang selalu berlompatan ke masa lampau maupun yang akan datang. Amat sangat jarang pikiran menyadari kesibukan yang sedang dilakukan saat ini. Pemikiran tentang masa lampau yang pahit hanyalah akan menimbulkan penyesalan.

Sebaliknya, bila kenangan manis yang diingat, orang hanya akan terbuai oleh bayangannya saja. Apabila, pikiran melihat masa depan yang suram, akhirnya orang stres; masa depan cerah pun kadang hanya berhenti sampai pada angan-angan atau mimpi saja. Meditasi membiasakan seseorang menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tadi kita sudah pernah hidup, tetapi sudah tidak hidup. Nanti kita akan hidup, tetapi belum tentu hidup. Saat inilah hidup. Manfaatkanlah. Kesadaran akan hidup saat ini akan memacu semangat hidup agar dapat memanfaatkan setiap momen kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada waktu yang terbuang untuk bermalas-malasan. Setiap waktu sedemikian berharganya yang akan digunakan untuk membaktikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Selain itu, meditasi akan dapat meningkatkan konsentrasi kerja seseorang sehingga dengan demikian daya kreatifitas akan dapat muncul. Ide dan gagasan cemerlang muncul dengan mudah. Penemuan teknologi dapat ditingkatkan. Dengan demikian, semakin besar kesempatan berbuat baik kepada dunia. Tentu saja, pemupukan karma baik akan terus terjadi. Di samping itu, keberhasilan seseorang menerapkan hasil pendidikan dan pengajarannya akan menimbulkan simpati masyarakat. Inilah manfaat menyatukan ilmu pengetahuan dengan Buddha Dhamma. Memang, dalam beberapa hal, agama dan ilmu pengetahuan akan dapat saling melengkapi.

Science without religion is lame, religion without science is blind. Albert Einstein , Out of My Later Years

KESIMPULAN

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran. Pengajaran lebih menekankan perkembangan fisik, sedangkan pendidikan lebih cenderung mengembangkan batin. Demikian pula perkembangan ilmu pengetahuan hendaknya dibarengi dengan perkembangan batin yang sehat. Perkembangan batin dimulai dengan pelaksanaan kemoralan, minimal Pancasila Buddhis. Pelaksanaan Pancasila Buddhis akan menghindarkan penyalahgunaan kemampuan dan kepandaian yang dimiliki . Selain kemoralan, seorang umat Buddha hendaknya juga mengembangkan meditasi. Meditasi akan mendorong timbulnya gagasan baru. Menjadikan seseorang kreatif pada bidangnya. Dan, meditasi juga akan mengantarkan orang pada satu tingkat kesadaran bahwa hidup adalah saat ini. Oleh karena itu, mumpung masih hidup, gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk membaktikan seluruh ilmu yang dimiliki untuk kebahagiaan dunia.

[ Dimuat atas izin dari penulis. Dikutip dari Lembaran VIJJA KUMARA No. 3/I/97. ]