Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 24 Juli 2010

Hiduplah Dengan Hati-Hati



Hiduplah Dengan Hati-Hati
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Thera


Saudara, kita sering mendengar ungkapan HATI-HATI. Kita pun sering memberi nasihat kepada orang lain untuk berhati-hati. Tetapi sesungguhnya, hampir dari kita semua tidak mengerti dengan jelas, apakah sesungguhnya yang disebut dengan 'hati-hati' itu. Hati-hati itu memang perlu. Di mana saja kalau hati-hati itu memang baik, tetapi kalau orang yang saudara beri nasihat itu bertanya, yang disebut hati-hati itu yang bagaimana? Saudara mau jawab bagaimana? Apakah kalau mengendarai mobil 140 km/jam, itu sembrono? Tapi kalau mengendarai mobil 40 km/jam, itu kelewat takut! Apakah yang hati-hati itu kalau 90 km/jam? Apakah begitu? Tidak begitu saudara.

Saudara, menurut Dhamma, yang dimaksud dengan hati-hati adalah suatu sikap yang didasari dengan Kusala Cetana. Kusala Cetana adalah niat yang baik. Cetana artinya niat, kehendak, dorongan pikiran, motivasi, yang mendasari pemikiran kita. Dan Kusala artinya baik, positif, bersih. Bersih artinya bersih dari kehendak yang tidak baik. Menurut pandangan Dhamma, apapun yang menjadi sikap kita, perbuatan kita, yang kita lakukan dengan jasmani atau ucapan, sebelum kita melakukannya, itu akan muncul dalam pikiran kita sebagai "kehendak".

Menurut pandangan agama Buddha, seperti yang disebutkan dalam Dhammapada, pikiran itu adalah awal, pikiran itu adalah pemula, pikiran itu adalah pendahulu, pikiran itu adalah pemimpin. Apapun yang akan kita ucapkan, yang kita lakukan, sebelum kita melakukan, sebelum kita mengucapkan, ia telah muncul lebih dahulu di dalam pikiran kita.

Misalnya pohon yang ada di sana itu. Memang saudara tidak bisa membuat pohon ini. Dia tumbuh secara alami. Tetapi agar pohon ini bisa ada di sini, sebelumnya ada seseorang yang mempunyai niat, "Saya akan menaruh pohon ini didepan patung Buddha itu". Setelah niat itu muncul kemudian dia berpikir lebih mendalam, di mana pohon itu harus diambil, pohon jenis apa yang cocok, kemudian dia berpikir yang lebih detail. Juga, sebelum patung ini muncul, ia muncul terlebih dahulu di dalam ide seseorang. Saya ingin membuat patung Buddha. Dari ide itu kemudian muncul rencana. Patung Buddha yang seperti apa, yang sebesar apa, yang model apa, bahan apa, sikapnya seperti apa, kalau dijual harganya berapa, dll. Dan kemudian muncul patung seperti ini. Sebelum bangunan ini muncul, sebelum gedung-gedung itu muncul, muncul lebih dahulu dalam pikiran seseorang. Saya akan membangun gedung 4 lantai, kemudian dibuat detailnya, dibuat rencananya, dipanggil arsitek, dihitung konstruksinya, dihitung biayanya, berapa lama bisa dilakukan, dan sebagainya, lalu dilaksanakan dan kemudian jadi.

Yang memutuskan adalah pikiran kita. Jadi betapa pentingnya peranan kehendak itu. Oleh karena itu, orang yang ingin bersikap hati-hati, minimal dia harus mempunyai kehendak yang baik. Kehendak yang bersih dari kehendak tidak baik, bersih dari unsur-unsur yang tidak baik.

Kehendak yang negatif, yang tidak baik, akan melahirkan atau menghasilkan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu adalah selain merugikan diri sendiri juga akan merugikan orang lain. Niat yang tidak baik itu, yang akan merugikan orang lain, tidak mempunyai dukungan kuat. Dengan kalimat yang lain, tidak masuk akal, tidak sah. Mengapa demikian? Karena, bukankah semua makhluk, setidak-tidaknya sesama manusia, setiap orang, semuanya, agama apapun yang dianut, suku bangsa apapun, bagaimanapun profesi sosialnya, apakah orang kaya, orang miskin atau sangat miskin, semuanya menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan, obsesi, dan keinginan setiap orang. Bahkan pencuri sekali pun kalau ditangkap dan ditanya, "Kamu mencuri itu apa sih tujuannya?" Pencuri itu menjawab: "Saya mencuri itu karena saya ingin bahagia". Tidak ada pencuri yang mencuri untuk sengsara, "Saya mencuri supaya nanti saya ditangkap, supaya digebuki", tidak ada. Pencuri pun seperti saudara, seperti kita, dia mencuri itu sesungguhnya juga ingin bahagia, hanya caranya yang salah. Apakah ada alasan kita untuk membencinya? Sesungguhnya, tidak. Justru kasihan.

Alangkah lemahnya orang yang mempunyai kehendak yang mengandung unsur untuk mencelakakan, memojokkan, menghancurkan, atau melenyapkan orang lain, alangkah lemahnya dia, tidak masuk di akal, tidak bernalar. Mengapa harus mempunyai niat yang menghancurkan, memojokkan, atau melenyapkan orang lain? Mengapa? Bukankah semua orang termasuk saudara, ingin bahagia? Mengapa saudara berbuat begitu? Oleh karena itu saudara, saya ingin memberi garis bawah yang tebal untuk ini. Kalau saudara ingin berhati-hati, cobalah berusaha untuk mengamat-amati, memeriksa, mengintip, mengecek setiap kehendak saudara, apakah kehendak saya ini mengandung unsur yang negatif ataukah positif? Itu adalah sikap hati-hati yang minimal. Itulah kriteria hati-hati yang pertama.

Kalau saya boleh mengumpamakan, "kehendak" itu seperti produsen. Karma, ucapan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan —yang baik pun yang tidak baik? itu seperti produk (hasil produksinya). Kalau produsen itu memproduksi barang-barang dengan bahan-bahan yang baik, pasti hasil produksinya itu baik. Jadi saudara, bagaimana menjaga ucapan, perbuatan kita agar tidak menghancurkan, merugikan orang lain, melenyapkan, membunuh orang lain atau makhluk lain, sebetulnya tidak perlu saudara pusing kalau saudara bisa menjaga kehendak saudara, pasti ucapan dan tingkah laku yang muncul itu akan baik.

Kadang-kadang walau kita sudah punya niat yang baik, masih saja ada orang yang salah mengerti. Salah mengerti adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Karena kita tidak bisa membuat orang lain mempunyai pandangan seperti yang kita harapkan. Tetapi saudara, minimal sudah punya itukad baik, niat baik, kehendak baik, itu sudah positif.

Saya ingin memberikan satu contoh dengan cerita. Di negara mayoritas umat Buddha itu patung Buddha ada di mana-mana, kadang-kadang di perempatan jalan, di depan kantor, sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada yang besar. Suatu hari ada umat Buddha yang berjalan di tengah hujan yang lebat, dia melihat patung Buddha yang kecil kehujanan. Dia pikir, wah tidak pantas ini. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada tutupnya. Tapi dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah, mau diangkat dari semen, patung itu melekat dengan alasnya. Dia melihat ke kanan ke kiri, terlihat ada sebuah sepatu yang sudah dibuang, yang sudah jebol, baunya mungkin tidak karu-karuan. Sepatu yang jebol itu diambil, lalu ditaruh di atas kepala patung Buddha, supaya tidak kehujanan. Kemudian dia pergi. Pada waktu hujan sudah berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. "Siapa ini, sepatu jebol ditumpangi di kepalanya patung Buddha. Tidak betul caranya ini, tidak masuk akal, penghinaan ini", lalu diambilnya sepatu jebol itu dan dibuang.

Saudara, menurut psikologi Buddhis, menurut jiwa Dhamma, atau menurut ajaran Dhamma, kedua orang ini sama-sama memiliki cetana yang positif. Kedua orang ini sama-sama mempunyai tindakan yang positif, meskipun caranya yang berbeda. Orang yang pertama mengerudungi kepala patung dengan sepatu yang jebol, orang yang kedua mengatakan; perbuatan ini tidak baik, meskipun ini penilaiannya. Orang yang pertama tetap mempunyai nilai yang positif, meskipun orang yang kedua salah paham dan mengira orang yang pertama itu mempunyai niat yang tidak baik. Niat yang positif itu tidak berubah menjadi niat yang negatif, meskipun orang lain menilai itu negatif. Kalau saya menanam jagung, kemudian tumbuh. Sebelum berbuah, orang melihat apa yang ditanam ini; "Ini bukan jagung, ini jali". Tidak menjadi soal saudara, meskipun orang menilai jagung ini jali, pada waktunya nanti dia berbuah dia tetap akan menjadi jagung. Dan saudara tidak usah pusing dengan apa yang akan saudara hasilkan nanti. Benih itu, bibit itu seperti cetana. Kalau saudara sudah memastikan bahwa kehendak saudara itu baik, maka tidak usah pusing. Ucapan dan perbuatan saudara, sekalipun orang lain akan salah paham, nilainya tetap positif. Apakah orang kedua yang melemparkan sandal yang jebol itu menghancurkan niat positif orang yang pertama? Tidak. Dan apa yang dia lakukan itu apakah negatif, karena dia merusak hasil orang yang pertama? Juga tidak. Orang yang kedua juga melakukan hal yang positif, karena dia membuang sepatu yang jebol itu dengan niat yang positif.

Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang negatif maka itu menjadi positif. Sekalipun orang lain salah paham kepada kita, sekalipun kita sudah lakukan namun tidak berhasil, tetap harganya positif. Itulah yang disebut dengan 'Hati-hati'. Orang yang hati-hati adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya, mengamat-amati kehendaknya, jangan sampai menimbulkan kehendak yang negatif, yang merugikan orang lain. Tetapi ini tidak cukup. Memang berhati-hati itu harus mempunyai niat yang baik, kehendak yang positif, tetapi tidak hanya asal mempunyai kehendak yang positif, tidak hanya asal mempunyai niat baik. Saya ingin menguraikan faktor yang lain, yaitu sati dan sampajanna. Apakah yang disebut dengan sati? Menurut Sutta, sati mempunyai banyak arti. Yang pertama yaitu kemampuan mengingat. Jadi apa-apa yang pernah anda temui, kenalan-kenalan lama, begitu ketemu saudara ingat, ini menunjukkan satinya kuat, ingatannya kuat, tidak lemah. Banyak mempelajari, dan yang dipelajarinya itu tidak dilupakan, itu satinya bagus. Tetapi sati juga berarti pengenalan. Memang ingatan dan pengenalan tidak bisa dipisahkan. Mengenali bentuk-bentuk, mengenali sesuatu, mengenali keadaan, mengenali orang-orang. Tetapi sati juga berarti kesadaran, sati juga berarti kewaspadaan, sati juga berarti perhatian. Jadi itulah arti dari sati. Ingatan, pengenalan, kesadaran, kewaspadaan, atau perhatian; mewaspadai setiap saat kehendak-kehendak yang muncul. Kewaspadaan misalnya: dari berdiri sudah agak lama saya ingin duduk. Saya harus tahu dengan jelas kehendak ini apakah positif atau negatif. Kalau hanya dari berdiri ingin duduk, dari duduk ingin berdiri, dari duduk ingin berjalan itu netral (tidak positif, tidak negatif). Tetapi juga selain duduk, berdiri dan berjalan, kita juga mempunyai kehendak lain, misalnya ingin menemui dia, ingin melakukan ini, ingin melakukan itu. Mengamat-amati kehendak itu adalah fungsi dari sati. Makin kuat sati kita, kita tidak akan kecolongan. Makin lemah sati kita, kehendak kita akan muncul tidak karu-karuan. Lalu bagaimana agar sati ini menjadi kuat? Ia harus dilatih. Tidak ada atlet yang langsung mempunyai otot yang kuat, nafas yang panjang, daya tahan fisik yang kuat, tetapi itu harus dilatih. Demikian juga sati yang kuat, kewaspadaan yang kuat, perhatian yang kuat, yang tidak lengah, tidak sembrono, itu harus dilatih. Kalau sati saudara baik, maka cetana saudara akan terseleksi. Tidak akan muncul begitu saja, tanpa diketahui, tanpa dilihat, tanpa diamat-amati.

Sampajanna terjemahannya yang paling tepat adalah 'Pengertian lengkap' (pengertian atau pengetahuan lengkap). Apakah yang dimaksud dengan pengertian lengkap? Sampajanna meliputi 4 hal, yaitu:

a. Sathaka Sampajanna,
b. Sappaya Sampajanna,
c. Gocara Sampajanna, dan
d. Asammoha Sampajanna.

a. Sathaka Sampajanna

Artinya "Pengertian yang lengkap tentang kebenaran". Ini maksudnya adalah, kalau saudara mempunyai kehendak yang baik, saudara harus melihat 'baik' itu dari berbagai segi. Yang pertama dari segi Dhamma. Apakah betul niat saya ini baik dari segi Dhamma, tidak bertentangan dengan Dhamma. Yang kedua, tidak bertentangan dengan hukum negara. Yang ketiga, juga tidak bertentangan dengan hukum yang tidak tertulis yang berlaku di lingkungan sekitar.

Di daerah saya ada kepercayaan begini: Kalau baru selesai melayat orang mati ke kuburan atau ke krematorium, tidak boleh langsung menengok orang sakit. Kalau habis melayat orang mati lalu menengok orang sakit itu nanti membuat si sakit cepat mati. Apakah betul, Bhante? Oh jelas tidak betul. Tidak sesuai dengan kebenaran. Mati, sehat, atau sakit itu tergantung dari berbagai macam faktor, singkat kata adalah karena KARMA masing-masing. Tetapi kalau menurut Dhamma, menengok orang sakit itu memang baik. Hukum negara juga tidak ada yang melarang. Tetapi kalau di lingkungan atau di daerah orang itu, kalau menengok orang sakit ini, akan menjadi kesalah-pahaman. Sebagai bhikkhu, saya tidak ingin memperbaiki pandangan yang salah itu? Ya saya ingin, tetapi caranya harus bijaksana, tidak radikal. Kalau radikal nanti jadi bumerang. Itu namanya sikap tidak hati-hati.

Saudara tidak perlu menjadi pahlawan, menjadi orang pertama yang memulai, dengan resiko akan membuat keonaran, kekacauan, ketidak-harmonisan. Jadi memang, punya niat baik itu syarat mutlak, tetapi dia tidak boleh berdiri sendiri. Tidak asal niat baik. Tetapi baik itu harus sathaka sampajanna, kita harus melihat tidak hanya dari satu arah, tetapi dari berbagai arah, sehingga sikap kita tidak akan membuat keonaran, kekacauan, dan sebagainya. Itulah yang disebut dengan hati-hati. Kalau saudara tidak mau melihat kiri kanan, tidak mau melihat suasana di sekitar, "pokoknya niatku apik", ini juga termasuk ceroboh.

b. Sappaya Sampajanna

Artinya "Pengertian lengkap tentang kelayakan". Apakah yang dimaksud dengan kelayakan? Kalau saya mempunyai niat yang seperti ini, jelas sekali itu baik, bersih, saya sudah cek berkali-kali, periksa berkali-kali, dari segala arah, dari Dhamma, dari hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak tertulis. Tetapi, kita perlu Sappaya Sampajanna, yaitu apakah saya mampu melaksanakan niat itu? Saudara harus mengukur pada diri sendiri. Satu contoh, seorang ibu-ibu yang sudah berumur 65 tahun, pendidikannya sampai kelas 5 SD, bisa baca dan tulis. Nah, kalau ibu berumur 65 tahun, dengan pendidikan formal hanya SD kelas 5, sekarang kok punya cita-cita ingin menjadi menteri —Menteri Sosial?misalnya, apakah mampu? Saya pernah mendapatkan penjelasan dari seseorang yang sering memberi pelajaran tentang manajemen. Menurut ilmu manajemen modern, seorang pemimpin itu harus bisa mengira-ngira. Jadi kalau mempunyai program atau cita-cita itu harus bisa mengira-ngira, mengukur, saya mampu mencapainya atau tidak? Persis sih memang tidak bisa, halangan pasti muncul, tetapi cita-citanya itu yang bernalar, jangan yang muluk-muluk. Pemimpin yang tidak mempunyai atau tidak melihat visi/gambaran, kira-kira tujuan apa yang mampu ia capai, maka orang itu tidak bisa menjadi pemimpin. Nanti cita-cita, programnya itu meskipun baik, tetapi terlalu idealis, tidak bakal terlaksana, karena tidak mampu. Nah, itu namanya sembrono, bukan orang yang berhati-hati.

c. Gocara Sampajanna

Artinya "Pengertian yang lengkap tentang ruang lingkup". Apa yang dimaksud dengan Ruang Lingkup? Saudara boleh melakukan apa saja, yang sudah tentu dengan niat yang baik dan benar dari segala arah, asal apa yang saudara lakukan itu mempunyai hubungan dengan apa yang ingin saudara capai. Contohnya bagaimana? Misalnya kita mau membangun vihara, lalu kita bikin arisan? Tidak apa. Karena hasil arisannya nanti akan masuk ke panitia pembangunan. Jual parcel, tidak apa. Apa hubungannya parcel dengan vihara? Karena keuntungan dari jual parsel ini masuk ke panitia pembangunan. Bikin malam kesenian, lho vihara belum jadi kok malah senang-senang bikin acara malam kesenian. Tidak apa, asal ada keuntungannya, lalu keuntungannya masuk ke panitia pembangunan. Arisan, jual parcel, bikin malam kesenian, sepertinya tidak ada hubungannya dengan pembangunan vihara, tetapi kalau itu ditujukan untuk cita-cita supaya tercapai, itu termasuk Gocara Sampajanna.

Sesungguhnya, dalam hidup bermasyarakat, saudara cukup sampai di sini, yaitu: niat baik, sathaka sampajanna, sampaya sampajanna, dan gocara sampajanna. Nah, inilah bekal atau pedoman untuk membawa diri saudara di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai macam rangsangan, bujukan, dan sebagainya. Tetapi di sini, kalau saudara ingin meningkatkan batin saudara menjadi ke tingkat yang lebih tinggi, tidak di level yang biasa, ada yang nomor empat, ini yang paling sulit.

d. Asammoha Sampajanna

Yang dimaksud dengan asammoha sampajanna adalah "Pengertian yang lengkap, bebas dari kegelapan batin, bebas dari moha". Apakah yang dimaksud ini saudara? Kalau saudara mempunyai niat baik, sathaka sampajanna, dari segala arah dicek dengan baik, dan niat itu memungkinkan untuk dicapai, dan berhasil. Pada waktu saudara mencapai niat itu, kemudian saudara berhasil, kalau saudara menginginkan Asammoha Sampajanna untuk meningkatkan kualitas mental saudara agar naik ke level yang tinggi, saudara tidak boleh punya perasaan atau pengertian bahwa: "Saya sudah melakukan tujuan yang baik dan sudah berhasil". Tidak boleh sama sekali. "Saya sudah menolong dia, saya sudah berkhotbah dan selesai, saya sudah membuat orang lain puas, saya sudah menyelesaikan kewajiban". Tidak boleh. Mengapa? Karena ada 'aku yang sesungguhnya' yang melakukan, yang merasakan keberhasilan itu. Padahal tidak ada 'aku yang sesungguhnya' itu. Kalau saudara tanya, Bhante, ini siapa yang memberikan Dhammaclass? Saya mengatakan: 'Saya, aku'. Itu kok boleh, Bhante? Itu supaya kita berbicara tidak bingung. Ini tas siapa? Ini tas saya, bukan tas anda. Tetapi pengertian saya sendiri ke dalam, harus dimengerti bahwa tidak ada aku yang benar-benar memiliki tas ini, tidak ada aku yang memberi khotbah yang sudah selesai dan membuat anda puas. Mengapa kok tidak ada? Sebab, khotbah ini bisa terjadi karena banyak macam sebab! Misalnya: ada lampu/penerangan. Ada saudara, kalau tidak ada saudara, saya mau berkhotbah kepada siapa. Ada bahan, ada kehendak untuk berkhotbah, ada yang dikhotbahi. Jadi seperti ada orang sakit, ada kehendak untuk mengobati, dan ada obat, obatnya lalu diberikan kepada yang sakit. Yang sakit merasa senang, sembuh. Kalau ditanya: "Siapa yang menolong dia, yang memberikan obat?" "Saya". Itu boleh. Tetapi pengertian untuk kemajuan batin harus dimengerti bahwa tidak ada 'saya' yang menolong mengambil obat. Mengapa? Kalau tidak ada yang sakit, siapa yang mau diambili obat? Kalau ada yang sakit, tidak ada obat, apa yang akan diberikan? Kalau saya sudah mengatakan, saya sudah menolong dia, mengatakan begitu dan merasa begitu menang, itu namanya menang-menangan, mendiskreditkan, menganggap orang sakit dan obat itu tidak ada. Yang ada, aku sudah berbuat menolong. Lalu, yang ada itu apa, Bhante? Yang ada adalah proses, proses yang baik, mata melihat itu, "Kok ia sakit", timbul kehendak, melihat obat ada di sini, tangannya bergerak, lalu obat ini diangkat, diberikan pada dia. Dianya lalu senyum-senyum, senang, ya sudah. Hanya begitu saudara —proses. Itu namanya proses yang baik. Aku yang berbuat baik itu tidak ada. Ini hanya salah satu faktor. Untuk bercakap-cakap, membuat orang agar tidak bingung, boleh kita mengatakan "Dia yang memberikan obat". Tetapi untuk kepentingan batin, ini tidak boleh. 'Aku' yang sejati itu yang mana? Pikirannya, jasmaninya, perasaannya, hidungnya, matanya?

Sering saya bertanya, saudara melihat ini sebagai apa? Bentuk ini apa? Rumah. Siapa yang diantara saudara melihat ini lalu bilang: "Oh, ini nagasari". Tidak ada. Tetapi coba saudara tunjukkan, mana yang intinya rumah, mana yang disebut rumah yang sejati, yang betul-betul rumah? Kalau yang lain-lain dipisah-pisahkan, intinya rumah yang mana? Tidak ada. Coba saudara tunjuk yang mana? Ini lantai, ini dinding, ini plafon, itu atap. Mana yang disebut rumah? Kalau bentuk ini dirobohkan, ditumpuk-tumpukkan di sini, tidak dibuang, tidak diambil, utuh tapi diroboh dan ditumpuk-tumpukkan di sini; rumahnya hilang. Orang melihat apa? Oh, itu puing-puing. Jadi rumah itu apa Bhante? Rumah itu adalah sebutan saja, supaya kita tidak bingung. Ini rumah, ini gelas.

Kalau saya pelan-pelan jalan, saudara mengatakan ini jalan. Tapi kalau nanti lebih cepat, disebut lari. Apakah ini jalan, atau sungguh-sungguh jalan? Ini hanya kaki yang bergerak begini. Proses kaki ini bergerak, itu yang betul.

Faktor-faktor berkumpul menjadi satu, cocok, lalu jadi, dan itu tidak kekal. Kalau saudara bisa punya pengertian seperti begitu, batin saudara akan naik menuju ke level yang tertinggi. Kalau hanya menjaga niat tidak negatif, tidak jahat, baik dari segala arah, punya cita-cita yang masuk akal, tidak muluk-muluk, dan berusaha mencapai sukses, dan bahagia, itu biasa saudara. Dan itu sudah cukup untuk hidup bermasyarakat. Jadi kalau saudara tidak bisa mengerti yang nomor 4, jangan pusing. Tinggalkan saja, buang! Tidak usah dipikir-pikir, buang saja! Yang penting saya menginginkan saudara minimal mempunyai sikap yang disebut hati-hati.

Hati-hati itu menurut ajaran agama Buddha adalah punya kehendak baik. Dan itu harus sengaja dilihat, diteliti dan betul-betul kita mengerti itu sebagai baik. Yang baik itu dari segala arah. Dari Dhamma, dari undang-undang, dari lingkungan, dan dari sama sekali bukan baik karena saya merasa baik. Kemudian Sappaya Sampajanna, niat itu yang masuk akal, yang mampu kita lakukan dan capai, kemudian berusaha dengan tidak meninggalkan niat yang telah kita sepakati - gocara sampajanna-cukup. Kusala Cetana, Sathaka Sampajanna, Sappaya Sampajanna, Gocara Saampajanna; cukup! Kalau saudara tidak mengerti yang nomer 4, buang saja. Tetapi kalau saudara bisa mengerti, saudara membawa sikap mental saudara ke tingkat level yang paling tinggi, yang mungkin itu adalah ciri khas dari apa yang menjadi ajaran agama Buddha.

[Sumber: Kaset kotbah Dhamma. Dikutip dari Mutiara Dhamma X ]

Kamis, 22 Juli 2010

Hidup Yang Damai


Kesusahan (rasa susah), dan sebanganya, kita semua telah tahu, membuat dan memberikan beban kepada hidup kita, sehingga kita merasa berat, lelah, dan ingin terbebas darinya.

Kesenangan (rasa senang), kebehagiaan (rasa bahagia) dan sebangsanya, ternyata juga merupakan beban bagi hidup kita. Mengapa demikian? Karena dengan menikmati atau merasakan rasa bahagia itu - yang memang merupakan dambaan setiap orang -, kita ingin mempertahankan kebahagiaan kita itu. Usaha-usaha maupun upaya-upaya untuk mempertahankan tersebut sudah merupakan kerja berat - beban yang melelahkan! Belum lagi kalau kita gagal mempertahankannya, kebahagiaan tersebut berubah menjadi kekecewaan, kekesalan, kesusahan, yang kembali lagi itu jelas merupakan beban yang tak menyenangkan bagi hidup kita!

Betapa rentannya kebahagiaan semacam ini, betapa goyahnya dia, yang demikian mudah berubah, laksana bumerang beban!

Lalu baggaimana agar kita benar-benar bisa menikmati dan merasakan hidup yang damai, yang tanpa beban dan ancaman beban itu?

Caranya, kita harus bisa untuk :

  1. MENGERTI dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.

  2. MENERIMA dengan apa adanya, hal-hal yang terjadi itu.

  3. MELEPASKAN atau TIDAK TERIKAT, dengn apa yang terjadi itu.

Dengan begitu, kita akan benar-benar merasakan KEDAMAIAN, bukan lagi sekedar KEBAHAGIAAN semacam itu, kebahagiaan yang bersyarat atau berkondisi!

[dikutip dari Mutiara Dhamma X ]

Rabu, 21 Juli 2010

Hidup Bahagia Dengan Dhamma



Hidup Bahagia Dengan Dhamma
Oleh (Alm) Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera


Saya akan memberikan khotbah yang erat hubungannya dengan hari Magha Puja. Semoga ini dapat memacu semangat dan tekad saudara untuk lebih giat meningkatkan pengamalan terhadap agama Buddha. Apabila tadi telah dijelaskan bahwa 1250 orang Arahat yang memiliki ca-abhinna, dengan tanpa diundang mereka semua hadir pada suatu saat yang bersamaan untuk mendengarkan wejangan Sang Buddha, maka saya harus menyampaikan kepada saudara-saudara bahwa ajaran Sang Guru Agung Buddha Gautama itu betul-betul sangat tinggi, sangat bermanfaat. Buktinya terdapat 1250 orang Arahat, dan tentu juga para Anagami, Sakadagami, dan Sotapatti, yang tak dapat dihitung banyaknya. Mereka adalah tergolong orang-orang yang sukses bertemu dengan agama Buddha, menghayati agama Buddha, dan kemudian meraih hasilnya, dari apa yang bisa dicapai dalam melaksanakan Buddha Dhamma.

Kalau diumpamakan, Buddha Dhamma atau agama Buddha itu adalah suatu universitas yang terbuka. Dia tidak harus melalui SMP, SMA, atau Fakultas ini atau Fakultas itu, tetapi siapa saja, yang tua, yang muda, mereka bisa belajar. Inilah yang saya umpamakan seperti universitas Terbuka. Dan buktinya, pada zaman Sang Buddha masih hidup, banyak sekali yang meraih sukses. Mereka bukan mendapat gelar Doktor, Insinyur, Sarjana Hukum, atau sarjana-sarjana lainnya, tetapi gelarnya adalah Arahat, Anagami, Sakadagami, Sotapatti. Dan kalau dibandingkan kesempurnaan pengetahuannya dengan sarjana-sarjana yang dilahirkan pada masa ini, saya kira kesempurnaan pengetahuannya jauh lebih hebat. Mereka yang menjadi Arahat bisa memiliki pengetahuan yang luar biasa, bahkan bukan saja pengetahuan duniawi tetapi sampai mampu terbang, datang ke Veluvana Arama (Hutan Bambu), mampu menerima perintah Sang Buddha untuk hadir tanpa diundang. Bayangkan! Bukankah ini suatu kemajuan yang puncak-puncaknya, yang pernah dicapai oleh para siswa Buddha pada zaman-zaman lampau?

Saudara, sekarang saya berusaha untuk mengambil makna, arti, dan hakikat dari Hari Magha Puja ini. Setelah mendengar apa yang diuncarkan tadi oleh para bhikkhu Sangha, kita melihat bahwa yang patut kita renungkan atau resapkan kembali, adalah:

Pertama:"Jangan berbuat jahat, dan perbanyaklah kebajikan"; ini adalah termasuk moral atau sila.
Kedua:"Praktikkan Kesabaran"; ini merupakan sarana kehidupan spritual yang sangat bermanfaat.
Ketiga:"Sucikan hati dan pikiran".

Bersihkan Pikiran, Jaga Pikiran, dan Bahagiakan Pikiran. Itulah yang akan saya coba sampaikan kepada saudara-saudara saat ini. Semoga bangkit semangat kita untuk mengamalkan Sila. Sila adalah ajaran yang sangat penting. Jangan tertipu, jangan terpancing, atau jangan sampai diolok-olok oleh kelompok-kelompok tertentu yang mengatakan bahwa Sila pada zaman kehidupan modern ini sudah tidak mungkin, nonsens! Oleh karena itu ia menganjurkan boleh saja, mau main judi silahkan, mau minum-minuman keras silahkan, mencari hostes silahkan, apa saja bebas, tidak perlu dikekang oleh Sila. Sila itu menghambat kemajuan. Sila itu melarang ini melarang itu, demikian kelompok-kelompok tertentu mencoba menarik para umat yang semula keinginannya patuh pada Sila ini. Saudara-saudara, Sang Buddha mengajarkan Sila sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa yang bermanfaat bagi kesejahteraan dunia, Beliau membebaskan, mempersilahkan, maju terus. Tetapi apa yang merusak kesejahteraan manusia itu dilarang oleh Beliau. Apabila ada yang mengatakan Sila itu nonsens, itu tidak mendapat tempat dalam ajaran Dhamma yang sebenarnya. Sila ini tujuannya adalah untuk kesejahteraan seluruh umat manusia dan kesejahteraan diri sendiri. Sila ibaratnya rambu-rambu lalu-lintas, agar tidak melanggar aturan-aturan lalu-lintas. Demikian juga kita melakukan Sila agar tidak melanggar hukum-hukum alam, peraturan-peraturan negara, dan peraturan-peraturan setempat. Bukankah ini menjadikan masyarakat tertib? Camkan!

Saudara apabila kita membicarakan tentang Sila, sekedar untuk kita ingat kembali, maka Sila itu dapat kita bagi menjadi lima, yaitu: Panca Sila, Attha Sila, Dasa Sila atau Dasakusala kammapatha, Samanera Sila dan Bhikkhu Sila. Tetapi semuanya itu dapat diringkas menajdi hanya 2, yaitu Sila orang awam, dan Sila para Samanera dan Bhikkhu.

Namun kalau kita teliti kembali, ia hanya 3, yaitu tata tertib untuk mengatur perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran. Dari semua Sila ini dapat pula digolongkan menjadi 2 kategori, yaitu: Sila yang masih bersifat duniawi (lokiya Sila), dan Sila yang sudah tergolong di atas duniawi (lokuttara Sila).

Lokiya Sila, walaupun itu sebanyak 227 yang dilakukan oleh para bhikkhu, 117 dilakukan oleh para Samanera, 10 yang diambil oleh umat Upasaka tertentu, 8 sila yang diambil oleh umat Upasaka tertentu dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu, kemudian 5 sila oleh Upasaka biasa, maka kelimanya itu, apabila mereka masih mempunyai pandangan salah atau Sakkayaditthi —keliru memandang alam semesta dengan segala isinya, keliru memandang diri kita ini, yang dianggap sebagai milik kekal, kepunyaanku?maka Sila yang dilakukannya, biarpun banyak, itu masih goyah! Kadang-kadang betul, tetapi kadang-kadang diracuni oleh pandangan keliru sehingga menjadi salah. Jadi dengan demikian, Sila yang tergolong lokiya atau duniawi, tidak menjamin seratus persen untuk bisa masuk sorga atau Nibbana. Tetapi Sila yang dilakukan oleh mereka yang sudah menghancurkan pandangan keliru, mereka yang tergolong Sotapatti, mereka yang walaupun umat biasa tetapi telah mencapai kehancuran Sakkayaditthi atau pandangan keliru, mereka akan melakukan sila yang tergolong Lokuttara Sila atau Sila di atas duniawi. Mengapa? Karena mereka telah menghancurkan pandangan yang keliru. Bagi para Sotapatti atau orang yang sudah menghancurkan pandangan keliru, maka "Panatipata Veramani" bukan saja sekedar tidak membunuh makhluk hidup, tetapi yang terpenting adalah tidak membunuh kesejahteraannya, kedamaiannya, ketenangannya, keseimbangannya, keharmonisannya, dengan pandangan keliru. Saudara, kalau Senjata Nuklir, Bom Atom, Bom Kimia, atau Bom Hidrogen itu dikatakan dahsyat dan mengerikan, itu hanya bagi orang-orang awam. Saya yakin para Arahat itu tidak akan takut kepada Bom Hidrogen. Beliau akan rela, apa maunya, kalau itu memang sudah alamiah jatuh di Bumi kami, terima kasih. Tetapi para Arahat, para Sotapatti itu paling takut dengan senjata sakkayaditthi, senjata pandangan keliru atau pandangan salah, yang menganggap badan jasmani ini milikku/kepunyaanku, yang menganggap perasaan itu milikku/kepunyaanku, menganggap pikiran itu milikku/kepunyaanku. Ini sangat berbahaya, karena bukan saja menghancurkan kehidupan pada saat ini, tetapi ia menyakiti kehidupan ini dengan sangat lihai. Apalah artinya Bom Hidrogen! Mungkin hanya dalam 1 menit, kita sudah tidak merasakan sakit apa-apa, lalu kita sudah mati. Tetapi kalau Sakkayaditthi atau pandangan keliru ini, itulah rajanya setan, rajanya iblis, rajanya santet, yang membuat kita menderita seumur hidup. Demikianlah ibaratnya pandangan keliru ini, yang membuat susah kehidupan kita, tidak pernah tenang, damai, tidak pernah selaras, tidak pernah harmoni, selalu bentrok, agitasi, tidak puas. Maka oleh karena itu, marilah kita lebih takut, lebih ngeri kepada Bom Sakkayaditthi daripada Bom Hidrogen.

Saudara-saudara, kalau kita belajar Dhamma, justru ke situ arah pikiran kita. Saya lebih takut, lebih ngeri dengan Avijja atau kebodohan, saya lebih takut dan sangat ngeri dengan pandangan keliru. Demikianlah saudara-saudara, maka untuk mengeliminir atau menjinakkan pandangan keliru, kemelekatan, dan avijja atau kebodohan ini, bukan dilawan dengan bom, bukan ditangkis dengan senjata anti bom hidrogen dan sebagainya, tetapi persisnya ditangkis dengan Sila, Kesabaran, dan Pikiran yang terjaga. Maka oleh karena itu saya bangkitkan semangat saudara-saudara untuk melakukan Sila lagi.

Saudara jangan terseret oleh pandangan keliru bahwa kalau kita melakukan Sila, ini tidak boleh, itu tidak boleh, jual daging tidak boleh, jual senjata tidak boleh, jual yang bersifat racun tidak boleh, jual udang tidak boleh, ekspor sapi tidak boleh, lalu apa yang bisa dikerjakan? Itu dianggap membuat kemunduran total. Saudara, itu pandangan picik menurut duniawi. Tetapi pandangan Dhamma tidak sepicik itu. Kalau saudara-saudara melakukan Sila, maka kemakmuran, kesejahteraan, penghormatan, pujian, dan sorga akan dinikmati.

Saudara-saudara mungkin saja dalam kehidupan ini tidak meraih sukses dalam materi; yang lain punya mobil mercy, kita hanya punya Honda roda-dua. Yang lain punya istana, kita hanya punya rumah yang sederhana. Tetapi kalau saudara rajin melaksanakan Sila —Atthasila, Dasasila?dengan konsekuen, dengan bersih, dan murni, saya kira kehidupan di dalam dunia ini pun akan damai, dan istimewanya setelah saudara meninggal, saudara akan lahir di alam sorga. Keindahan, kemewahan, kecemerlangan, kegemerlapan di alam Dewa jauh lebih tinggi daripada di dunia ini. Kalau saudara dilahirkan di Sorga Catummaharajika saja, saudara bisa hidup nyaman, nikmat, jauh lebih nikmat daripada di dunia ini untuk selama 9 juta tahun. Apalah artinya kita hidup di sini untuk hanya 80 tahun. Jadi meski saudara sekarang sederhana, setelah mati tiba-tiba menjadi satpam di Sorga Tusita. Kalau saya, jadi satpamnya saja mau, tetapi di Sorga Tusita, tidak usah jadi presiden; begitu ibaratnya. Kalau saudara lahir di Tusita Loka, usia saudara 144 juta tahun, mungkin lebih. Jadi lama sekali. Itu ganjarannya. Memang di sini kita hidup sederhana saja. Tetapi kalau kita kaya-raya namun tidak melakukan sila, setelah selesai hidup di sini, tamatlah riwayatnya! Bukan ke Sorga tetapi ke Neraka. Jadi tidak usah irihati kepada orang kaya-raya, tidak usah jor-joran. Kalau saudara hanya punya modal 50 juta dan si B punya bermilyar-milyar, jangan coba-coba saudara menandingi dia. Jangan! Nanti saudara akan ringsek sendiri. Lebih baik doakan agar si B bisa sejaya-jayanya, sehingga beliau bisa membantu vihara-vihara yang lain. Lebih baik begitu. Itu namanya positif. Tetapi kalau saing-saingan, itu namanya negatif.

Apa manfaatnya melakukan sila, dan apa jeleknya kalau tidak melakukan sila? Manfaatnya, saudara sama sekali tidak akan dicurigai oleh siapa pun. Kalau si B sudah kaya-raya, tetapi beliau juga melaksanakan sila, itu namanya kebajikan yang serba multi. Orang percaya, orang tidak curiga, orang menghargai, orang menghormati, hidupnya sejahtera, hidupnya makmur. Maka itu, lakukanlah sila dengan sebaik-baiknya. Kalau orang melakukan sila, ia ibaratnya berhias dengan perhiasan yang mahal-mahal, yang sesungguhnya jauh lebih tinggi nilainya daripada perhiasan emas berlian. Perhiasan emas berlian itu hanya cocok dipakai oleh orang-orang muda, dan harus cantik. Kalau ia memakai perhiasan yang mahal-mahal maka sinarnya akan gemerlapan. Kalau di dalam pesta ada wanita cantik yang pakai perhiasan yang mahal-mahal, orang semuanya kagum, melongo, mulutnya terbuka, sampai 'buyung' atau lalat masuk ke mulutnya. Tapi kalau perhiasan yang mahal-mahal itu dipakai oleh orang yang kulitnya hitam, tua bangka, orang bukan melongo, tetapi meludah, "Iih, tua bangka, tidak pantas pakai perhiasan begitu". Tetapi kalau perhiasan sila, yang tua, yang tidak cantik, yang gemuk, yang kurus kering, kalau pakai sila, semuanya akan baik. Maka oleh karena itu berhiaslah dengan sila. Oleh karena itu saya anjurkan kepada anda mulai saat sekarang, setiap bulan purnama dan hari gelap bulan, lakukan 8 sila. Bertekad tidak makan selewat pk. 12:00, pada setiap bulan purnama dan gelap bulan. Kalau sudah maju, sudah biasa, sudah menjadi kondisi, saudara tambah lagi, satu bulan menjadi 4 kali. Setelah itu, ditambah lagi, 1 bulan menjadi 12 kali. Terus itu dilakukan, akhirnya sudah menjadi kondisi, seumur hidup saudara sudah bisa melakukan 8 sila. Akhirnya, "Bhante, saya minta dicukur saja kepala saya". Tetapi kalau semuanya jadi Bhikkhu dan bhikkhuni, saya tidak setuju, itu tidak mungkin terjadi di dunia ini. Dan kalau mau melakukan sila yang baik, saudara tidak mutlak harus menjadi bhikkhu atau samanera. Menjadi orang awam saja cukup, dan bisa melakukan sila dengan baik. Hapuskan pandangan keliru, hapuskan pandangan yang percaya kepada takhayul, maka saudara akan mampu lebih murni melakukan sila daripada bhikkhu, seperti saya atau yang lainnya. Tapi kalau para bhikkhu sudah mempunyai pandangan yang benar, sudah mampu menghancurkan pandangan keliru, jangan dilawan!

Demikianlah saudara-saudara tentang sila ini, tidak ada tandingannya, dan saudara akan bisa mencapai sorga. Saya sekarang lewatkan saja anjurkan tentang sila ini, sekarang saya akan menganjurkan tentang melatih kesabaran. "Khanti Paramam Tapo Titikkha". Kesabaran itu adalah jalan tol bagi orang-orang yang sudah melatih spritual. Saudara-saudara, kita masih jauh sekali dari memiliki kesabaran. Kalau misalnya saudara harus menunggu, sudah janji, orang tidak datang, saudara jengkel, marah; itu namanya anda tidak punya Khanti Adhivaseti. Saudara harus punya Khanti Adhivaseti, sabar menunggu, sabar menderita. Kalau panas, usahakan sabar, kalau anda dingin usahakan sabar. Itu namanya Khanti Adhivaseti. Khanti Metta, saudara harus mengeliminir kekurangan kesabaran itu dengan Metta, cinta kasih.

Saudara harus bisa mengerem ucapan, itu namanya Khanti Sovaca. Ucapan itu direm, sabar, sabar. Di Indonesia ada istilah "Sabar menjadi Subur". Tetapi ada yang melanjutkan lagi "kalau terlalu sabar, masuk liang kubur", katanya. Itu memang ada benarnya untuk urusan kita yang masih duniawi. Tapi kalau Dhamma, tidak begitu. Teruskan berjuang! Sedikit demi sedikit, kita maju terus. Kemudian miliki Khanti Akodhana, yaitu kendalikan kemarahan dengan kesabaran. Belajar juga harus sabar.

Misalnya dalam latihan Vipassana Bhavana, kalau para siswa itu melirik ke kanan, melirik ke kiri, "Wah, dia itu koq sudah 2 jam duduk, aku koq tidak tahan, ah aku akan pura-pura, 3 jam bisa duduk". Jadi itu namanya tidak sabar. "Kalau dia 2 jam, saya harus bisa 3 jam, kalau dia bisa 3 jam, saya harus bisa 4 jam". Akhirnya ringsek sendiri. Kalau temannya bisa tidak tidur sampai pk. 11 malam. Dia iri, dia cemburu, "Saya harus tidur jam 12 malam?". Temannya bangun pk. 4 pagi, dia harus bangun pk. 3. Itu adalah ketidak-sabaran. Akhirnya pada siang hari seperti kelelawar, ngantuk begini. Jadi belajar pun harus sabar. Nibbana itu tidak bisa diraih dengan semangat yang menggebu-gebu, sebab nibbana atau kebebasan itu tidak punya kondisi. Kita tidak tahu kapan akan tercapai. Maka itu kesabaran itu harus dipupuk.

Saudara, sekarang tentang "Sucikan hati dan pikiran". Tentang mensucikan hati dan pikiran ini sangat penting dan paling penting. Sebab kehidupan kita ini tergantung pada pikiran. Pikiran itulah dunia kehidupan kita. Kalau saudara putus asa, maka dunia anda tidak menentu. Kalau saudara lesu mental, putus pacaran, maka dunia ini tidak indah lagi, dunia ini terasa jelek. Itulah tergantung dari pikiran saudara, begitulah keadaan dunia saudara. Maka itu pikiran yang harus dijaga, dirawat. Menurut agama Buddha, ada ajaran yang dinamakan Citta Samvedhi. Itu artinya periksa pikiran. Cobalah, apakah dengan meditasi, menyepi, merenung, periksalah pikiran, "Oh, saya masih banyak kelobhaan, saya masih sering-sering marah, saya masih sering-sering mengkhayal -mengkhayalkan ini, mengkhayalkan itu? saya masih punya kemelekatan, saya masih punya nafsu besar". Renungkan! Merenungkan dan memeriksa ini sangatlah perlu. Apa saja kalau tidak ada kontrolir, tidak ada inspektur, akan jadi kacau. Sekolah jadi ambruk kalau tidak diperiksa-periksa. Tetapi kalau diperiksa, guru-gurunya mulai rajin. Pikiran ini juga kalau sering diperiksa, sama seperti kalau inspektur memeriksa perusahaan, maka ketuanya, wakilnya ketuanya, sekretarisnya akan giat, begitu. Kemudian periksalah apakah saya pernah mempunyai pikiran-pikiran yang luhur, yang disebut Mahagatha? Punyakah cinta kasih, punyakah simpati, punyakah welas-asih, punyakah kesabaran, punyakah yang luhur-luhur? Periksa! Kalau belum, kita harus rajin meningkatkannya. Setelah itu apakah pikiran kita mempunyai konsentrasi atau tidak, bisakah pikiran ini dikonsentrasikan atau tidak? Kemudian belajarlah dengan giat untuk itu.

Akhirnya saudara harus membahagiakan pikiran, yang dalam bahasa Pali disebut Abhidhammodhayam Cittam: bahagiakan pikiran saudara. Kalau sedih jangan dibiarkan sedih, kalau marah jangan dibiarkan marah, kalau cemburu jangan dibiarkan cemburu. Bahagiakanlah pikiran anda, bukan dengan uang, bukan dengan nonton, bukan dengan plesir, bukan dengan pergi ke karaoke, dan lain sebagainya. Tetapi persisnya hiburlah dengan Dhamma. Sekarang, saat mendengar uraian Dhamma ini, artinya saudara sedang menghibur pikiran, membahagiakan pikiran dengan Dhamma. Maka sering-seringlah mendengarkan atau membaca tentang Dhamma, agar saudara dapat membahagiakan pikiran saudara, karena ini sangatlah perlu. Lebih-lebih kalau saudara sering melatih meditasi atau Vipassana, di situ saudara mengkonsentrasikan pikiran, mengembangkan pandangan terang. Konsentrasi ini adalah bahasa Palinya Sammadaham Cittam. Tetapi mungkin saja saya boleh memberitahukan bahwa tidak perlu duduk 6 jam, 8 jam, 10 jam, tidak seperti patung itu yang sejak duduk di sini tidak pernah bergerak-gerak sampai sekarang. Jadi saudara tidak perlu begitu. Cukup kalau saudara-saudara mencapai Samahito: pikiran tetap tenang, tidak goyah; Parisudho: pikiran bersih tanpa noda; dan pikiran dalan keadaan Kammaniyo: aktif, waspada, siap siaga, tidak malas.

Jadi kalau saudara sudah mampu memiliki pikiran yang stabil, tidak goyah, bersih, murni, siap siaga, itulah namanya pikiran yang gentle (Red: halus, lembut), pikiran yang mudo. Pikiran yang gentle inilah yang kita perlukan, karena pikiran yang gentle ini siap untuk belajar Dhamma, siap untuk menyelidiki Anicca, Dukkha, Anatta, Sunyata, Tathata, Paticcasamuppada. Tapi kalau pikiran keruh, pikiran sedih, pikiran kesal, pikiran linglung, dia tidak mampu. Saudara-saudara, kalau saya boleh mengambil perumpamaan dalam istilah modern, kita ini berusaha untuk menjaga batin, menyehatkan batin, maka itu istilah modernnya disebut Mental Higieny. Jadi menjaga jangan sampai pikiran itu kena penyakit, tetapi sehat, normal. Sebab kalau tidak normal, kalau sampai gila, kalau pikiran goyah, bisa berpengaruh pada badan kita sendiri. Mungkin daya tahan terhadap infeksi dan penyakit itu sangat kurang. Begitulah, maka jagalah pikiran. Setelah saudara memiliki konsentrasi yang baik maka sekarang renungkan Anicca, Dukkha, Anatta. Pengertian akan Anicca, Dukkha, dan Anatta ini ampuh luar biasa. Ia sanggup melemahkan dan menghancurkan kemelekatan. Di situ letak rahasianya. Bukan Dewa Brahma dari langit yang akan mengeliminir kemelekatan dan nafsu kita, bukan! Bukan dengan berdoa: "Arahat, Arahat, Arahat" seribu kali satu hari, tidak! Bukan dengan menyebut: "Nibbana, Nibbana, Nibbana" seribu kali satu hari; tidak! Tetapi persisnya datang dari usaha sendiri. Membangkitkan kebijaksanaan, pengertian terang, jelas dan komplit tentang Anicca, Dukkha, Anatta, Sunyata, Tathata, Paticcasamuppada inilah yang mampu mengeliminir kemelekatan, nafsu, kebodohan. Apabila sudah mampu memiliki pengertian tentang Anicca, Dukkha, Anatta secara komplit maka saudara boleh meningkat. Pasti ada keinginan nafsu yang dapat dieliminir sedikit demi sedikit. Maka saudara sudah mengkerut, mundur dari nafsu menyergap apa yang diinginkan. Inilah permulaan dari Viraga. Saudara harus merenungkan viraga ini. Namanya Viraga Nupassi. "Oh, saya sudah dapat menghentikan merokok", nah itu sudha viraga dari rokok. "Oh, saya sudah dapat berhenti main judi", nah itulah viraga dari main judi. "Oh, saya sudah bisa berhenti keluyuran", nah itu namanya sudah viraga dari keluyuran. "Oh, saya sudah bisa berhenti dari sikap yang boros", itu sudah viraga dari boros. Renungkan viraga itu, manfaatnya, kegunaannya, faedahnya; akhirnya saudara boleh merasa bahagia, saudara akan maju setapak lagi sampai pada tingkat Nirodha Nupassi. Nirodha Nupassi artinya sudah berhenti. Sekarang walaupun ada yang main judi di sebelah anda, walaupun dulu anda penjudi, anda acuh-tak-acuh saja, tidak mampir. Tapi kalau masih ada niat mampir dan ikut main, itu kambuh lagi namanya. Tetapi walaupun sekarang di samping saudara ada orang main judi, saudara tidak hirau, nah itu namanya Nirodha, berhenti. Kalau Nirodha ini sudah matang, saudara boleh meneruskan dengan apa yang dinamakan Patinissaga Viraga Nupassi, artinya saudara sekarang sudah betul-betul melepaskan beban.

Ada cerita kiasan yang sering saya sampaikan kepada siswa-siswa vipassana. Sang Buddha sendiri tersenyum ketika Beliau mencapai penerangan sempurna. Beliau berpikir, dulu aku ini pencuri, perampok. Kenapa begitu saudara-saudara? Karena siapapun yang menganggap bahwa rumah sebagai miliknya, istri sebagai miliknya, anak sebagai miliknya, mobil sebagai miliknya, itu namanya pencuri. Sebab semua itu adalah milik alam, tidak bisa dimiliki untuk seterusnya, nonsens. Pada suatu saat, mobil atau rumah akan berubah atau dijual lalu diganti dengan yang lain, atau ditinggal mati. Jadi bukan milik. Apa saja di dunia ini hanyalah hak pakai. Kalau punya istri, itu hak untuk kumpul hidup, bukan "kumpul kebo", tapi hak untuk hidup. Toh nanti akan cerai, pada waktu mati. Semuanya hak pakai, hak guna usaha. Semuanya milik alam. Tidak ada milikku ?i>anatta. Ingat sama "Anatta, Anatta, Anatta". Jadi sekarang lakukan kewajiban dengan baik, supaya dapat nama baik untuk kelak, kita siap untuk bye bye dengan segala sesuatu yang pernah kita miliki dan pernah kita ajak berkumpul atau pernah menjadi hak pakai dan hak guna usaha kita. Kita akan siap melambaikan tangan "bye-bye, farewell, selamat berpisah". Itulah kebijaksanaan, itulah Wisdom.

Jadilah umat Buddha yang dewasa. Tidak seperti sekarang ini, masih cengeng, masih kanak-kanak; sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit salah terima, sedikit-sedikit cekcok, sedikit-sedikit marah, dll.

Saya menganjurkan kepada saudara-saudara, kita harus kenal diri sendiri; siapa umat Buddha itu, apa umat Buddha itu, sampai di mana umat Buddha itu. Kita harus mengenal kelemahannya, kekurangan disiplinnya, mungkin protokulernya jelek dan sebagainya. Maklum itu kita punya, kita akan perbaiki.

Sekali lagi saya sampaikan kepada saudara-saudara, ambillah hikmah dari peringatan hari Magha Puja ini, yaitu meningkatkan sila, meningkatkan kesabaran, dan meningkatkan usaha untuk membersihkan, menjaga, dan merawat pikiran.

Akhirnya, saya ucapkan selamat merayakan hari Magha Puja.

(Sumber: Kaset kotbah Dhamma, dikutip dari Mutiara Dhamma X)

Selasa, 13 Juli 2010

Hidup Adalah Perjuangan



Hidup adalah Perjuangan

Oleh Bhikkhu Utammo Mahathera


Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
Senantiasa mengembangkan kebajikan, dan
membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha
(Dhammapada XIV, 5)

Pada saat ini adalah kesempatan kita untuk memperingati Maghapuja. Maghapuja adalah merupakan salah satu dari empat hari raya dalam Agama Buddha. Empat hari raya Agama Buddha itu adalah bila di awal tahun, kira-kira bulan Februari diadakan upacara peringatan Maghapuja. Pada pertengahan tahun, kira-kira bulan Mei adalah peringatan Vaisakhapuja (Waisak). Dua bulan setelah peringatan Waisak, kira-kira bulan Juli diadakan Asalhapuja (Asadha). Kemudian tiga bulan setelah hari Asadha, kira-kira pada bulan Oktober adalah perayaan Kathina.

Kata 'Magha' sesungguhnya menunjuk nama bulan dalam penanggalan di India. Bagi anak-anak sekolah Minggu, pengertian Maghapuja sudah tidak asing lagi. Tetapi bagi kita yang mungkin baru sekali atau dua kali hadir atau mereka yang kurang membaca buku-buku Buddhis, kurang banyak mendengar ceramah Dhamma, maka perlu sekali lagi pada saat ini diuraikan sekilas tentang peristiwa besar yang terjadi pada bulan Magha.

Pada jaman Sang Buddha, ketika saat purnama pada bulan Magha, beberapa waktu setelah Sang Buddha mencapai kesucian, ada 1250 orang bhikkhu datang berkumpul tanpa diundang di tempat Sang Buddha bersemayam. Semua bhikkhu tersebut memiliki kelebihan. Mereka semua telah mencapai kesucian tertinggi, Arahat. Mereka semua memiliki kemampuan supranatural yang tertinggi. Mereka semua ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Buddha sendiri. Tidak seperti pada jaman sekarang, para bhikkhu ditahbiskan oleh seorang Upajjhãya dan para bhikkhu senior. Jadi, 1250 orang bhikkhu ini termasuk murid-murid pertama Sang Buddha. Pada masa itu, bila ada orang yang berniat menjadi bhikkhu maka ia kemudian ditahbiskan dan menjalani kehidupan kebhikkhuannya dengan baik berdasarkan aturan dasar kebhikkhuan yang diberikan oleh Sang Buddha. Sebagai aturan dasar pelaksanaan kebhikkhuan adalah tiga bait syair dalam Dhammapada XIV, 5, 6, dan 7. peraturan kebhikkhuan ini sudah dilaksanakan sejak jaman para Buddha yang terdahulu.

Hari ini akan dibahas tentang jantung Ajaran Sang Buddha yaitu kurangi kejahatan, tambah kebajikan, sucikan pikiran, itulah ajaran para Buddha. Pengertian 'para Buddha' di sini menunjukkan bahwa Ajaran ini bukan hanya Ajaran Sang Buddha Gautama sendiri tetapi juga semua Buddha. Para Buddha yang terdahulu, para Buddha yang sekarang, dan para Buddha yang akan datang membabarkan Ajaran yang sama. Kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan sucikan pikiran. Bahkan, kalau kita memperhatikan kepercayaan ataupun agama lain, semuanya tidak akan pernah mengajarkan untuk menambah kejahatan, mengurangi kebaikan serta mengacaukan pikiran. Tidak pernah! Semua agama pasti mengajarkan kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan sucikan pikiran, walaupun ada banyak cara untuk menambah kebajikan, mengurangi kejahatan dan menyucikan pikiran.

KURANGI KEJAHATAN


Para bhikkhu di jaman Buddha-Buddha yang lampau cukup hanya berpegangan tiga bait syair itu saja. Bahkan dengan selalu merenungkan kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan sucikan pikiran, perbuatan para bhikkhu sudah baik, sudah hati-hati, perbuatannya sudah dijaga, ucapannya sudah dijaga, pikirannya juga sudah dijaga. Tetapi sebagian murid Sang Buddha Gautama suka melanggar aturan dasar ini. Pelanggaran aturan ini akan mengakibatkan meningkatnya timbunan ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Oleh karena itu, Sang Buddha menambahkan beberapa peraturan lain. Misalnya : ketika ada bhikkhu yang menunjukkan kesaktian atau kemampuan batinnya di depan umum. Sang Buddha menganggap hal ini tidak pantas. Beliau kemudian melarangnya. Beliau tidak ingin umat hanya tertarik karena kesaktian para bhikkhunya. Beliau ingin umat tertarik karena kagum dengan keluhuran dan kesempurnaan Ajaran Sang Buddha. Ada contoh lain yang menyebabkan Sang Buddha memberikan peratuan baru. Seorang bhikkhu dahulunya telah berkeluarga. Bhikkhu tersebut kemudian tinggal di hutan, istrinya ditinggal di rumah. Istrinya sedih, selalu menangis. Si istri kemudian mengajak si bhikkhu mantan suaminya tadi untuk pulang ke rumah. Sang Bhikkhu tidak ingin pulang. Setelah bertahun-tahun, maka si istri kemudian memberikan pilihan : si suami boleh tinggal terus di hutan namun sang istri minta kesempatan memperoleh keturunan. Sang bhikkhu kemudian menurut. Hamillah wanita itu. Melihat hal ini, Sang Buddha memberikan peraturan bahwa seorang bhikkhu tidak diperkenankan melakukan hubungan seksual dengan wanita walaupun istrinya sendiri, juga tidak boleh dengan sesama jenis dan bahkan dengan binatang pun tidak boleh.

Jadi peraturan kebhikkhuan yang ditentukan oleh Sang Buddha diberikan satu demi satu sesuai dengan kesalahan yang telah dilakukan para bhikkhu dalam kehidupan sehari-hari. Peraturan itu bukan disusun seperti menyusun undang-undang dasar yang dibuat sebelum ada kasus pelanggaran. Peraturan yang diberikan Sang Buddha seperti peraturan pemerintah yang dibuat setelah ada kasus, misalnya ada kasus penggelapan tanah. Dengan adanya kasus penggelapan tanah, disusunlah peraturan pemerintah yang sesuai dengan keadaan dan tentu saja senafas dengan undang-undang dasarnya. Undang-undang dasar Sang Buddha adalah kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan sucikan pikiran. Tetapi peraturannya bisa berkembang menjadi 227 butir sesuai dengan kesalahan yang dilakukan oleh para bhikkhu. Pokok dasar kebhikkhuan adalah untuk memerangi ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Selain itu, peraturan ini juga berguna untuk memberikan para bhikkhu tempat yang layak di mata masyarakat. Contoh jenis peraturan yang kedua ini adalah bhikkhu jalan berjinjit, tidak pantas, dilarang. Bhikkhu bertolak pinggang. Tidak layak. Dilarang. Dan masih banyak yang lain.

Walaupun peraturan kebhikkhuan atau Patimokkha ini dibuat sesuai dengan kesalahan bhikkhu, tetapi induknya tetap, yaitu kurangi kejahatan, tambah kebajikan dan sucikan pikiran. Sedangkan sebagai seorang umat Buddha, sebagai perumah tangga, kita juga diberi peraturan. Hanya saja peraturan kebhikkhuan dengan peraturan para perumah tangga tidak sama. Para umat boleh mandi sambil bersiul-siul bahkan bernyanyi-nyanyi pun boleh, jerit-jerit juga boleh. Asal gayungnya jangan digigit. Nanti giginya rontok semua. Umat juga boleh jalan berjinjit. Jalan sambil bergulung-gulung juga boleh karena memang hanya peraturan kebhikkhuan yang melarangnya. Bukan peraturan umat. Tetapi mengurangi kejahatan, menambah kebajikan dan menyucikan pikiran, kita semua harus melaksanakannya, baik sebagai bhikkhu maupun umat perumah tangga.

Bagaimanakah mengurangi kejahatan? Sejak jaman dahulu, dalam tradisi Jawa dikenal istilah Mo-limo. Istilah ini menunjukkan pada lima kata dalam bahasa Jawa yang dimulai dengan huruf 'M', yaitu Madon - suka mengganggu wanita, Main - suka berjudi, Madat - suka menghisap narkotik, Maling - suka mencuri, Mendhem - suka mabuk-mabukkan. Apabila orang mampu menghindari Mo-limo, ia dapat dikatakan orang yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kebanyakan orang. Itulah lima hal yang perlu dihindari menurut tradisi Jawa. Dalam tradisi Buddhis yang muncul 2500 tahun yang lalu atau sejak 500 tahun Sebelum Masehi, Sang Buddha sudah meletakkan dasar peraturan yang mirip Mo-limo. Peraturan ini disebut Pancasila Buddhis yang isinya adalah berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan - mateni. Tidak melakukan pencurian - maling. Tidak melanggar kesusilaan - madon, tidak berbohong, dan tidak mabuk-mabukkan - mendhem. Lima hal ini adalah unsur larangan. Singkatnya, dalam pengertian dasar Agama Buddha yang disebut mengurangi kejahatan, minimal, adalah menghindari lima perbuatan salah, membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukkan. Pancasila Buddhis ini adalah lima perbuatan yang harus dihindari, paling tidak, dikurangi sebab untuk menghilangkannya cukup sulit, membutuhkan banyak tahap perkembangan batin. Dalam kehidupan sehari-hari, saat kita menjatuhkan gelas hingga pecah berantakan pun sulit untuk mengakui kesalahan itu. Kita kemudian berbohong. Melanggar peraturan lalu lintas, kita juga akan berusaha keras - ditambah dengan kebohongan - untuk menyalahkan fihak lain bila kebetulan tertangkap polantas. Apalagi dalam dunia perdagangan. Kebohongan telah menjadi bahasa perdagangan. Apabila sewaktu membeli suatu barang harganya Rp. 800,00 dengan basa basi akan dikatakan bahwa barang itu dahulu dibeli dengan harga Rp. 1000,00 ketika ada orang yang sedang menawar barang itu seharga Rp. 900,00. Kebohongan sebagai bahasa perdagangan ini dimasukkan sebagai teknik dagang. Bukan penipuan. Meskipun mempunyai nilai karma buruk tertentu, bobotnya tidaklah seberat penipuan. Penipuan terjadi apabila ada orang yang sudah sepakat membeli barang tertentu tetapi ketika dibungkus ditukar dengan barang lain yang kualitasnya lebih rendah. Itulah yang dinamakan menipu. Itu tidak boleh. oleh karena itu, kalau kita tidak menukar barang seperti yang tadi telah disebutkan, sebetulnya kita sebagai seorang pedagang masih boleh tetap berdagang. Dalam Dhamma dikatakan kurangilah kejahatan, kalau mampu hindarilah, lebih baik hentikanlah! Apabila memang tidak dapat dihentikan seketika, bolehlah pelan-pelan secara bertahap diperbaiki. Misalnya sebagai nelayan, dari lima sila yang diajarkan Sang Buddha, dia sudah jelas melanggar sila pertama, melakukan pembunuhan. Akan tetapi, kalau memang belum dapat dihindari, kerjakanlah dahulu usaha itu sambil berusaha mengumpulkan modal. Apabila suatu saat telah terkumpul modal secukupnya maka sangat bijaksana bila ia dapat beralih usaha. Namun, selama mengerjakan pekerjaan yang kurang sesuai itu, hendaknya ia tetap menjaga kemurnian keempat sila yang lain. Jangan karena telah melanggar salah satu sila kemudian dengan sengaja melanggar keempat sila lainnya. Jadi, biarlah sementara terpaksa melakukan karma buruk, namun jangan menambah karma buruk yang lain.

Sila adalah usaha menghindari kejahatan. Pelaksanaannya harus dilatih dengan sungguh-sungguh. Sebagian umat Buddha sering tidak berani memutuskan untuk di-visudha ( = tahbis, baptis ) sebagai upasaka ( umat pria ) dan upasika ( umat wanita ). Alasan yang digunakan adalah karena masih seringnya melanggar lima sila. Sesungguhnya, menjadi upasaka dan upasika adalah awal mulai bertekad melaksanakan Pancasila Buddhis, bukan akhir pelaksanaan Dhamma dan kemurnian sila. Walaupun kita masih sering melanggar sila tapi kalau kita telah bertekad menjadi upasaka dan upasika minimal akan selalu mengingatkan kita untuk mengurangi pelanggaran lima sila itu. Berarti pula, kita telah berusaha mengurangi kejahatan.

TAMBAHLAH KEBAJIKAN


Agama Buddha selain memberikan tuntunan perbuatan yang hendaknya dihindari, juga menerangkan perbuatan yang sebaiknya dikerjakan. Perbuatan yang harus dihindari ini seimbang dengan perbuatan yang harus dikerjakan. Apabila kita dianjurkan untuk menghindari pembunuhan, maka kita hendaknya mengembangkan cinta kasih, metta. Kita diajarkan oleh Sang Buddha bukan hanya menghindari membunuh nyamuk, semut, anjing, maupun kucing. Tetapi kita hendaknya juga mau mengembangkan cinta kasih. Melepaskan burung terbang bebas, melepaskan ikan di sungai atau danau. Mungkin pula kita melihat semut dekat lubang pembuangan air di kamar mandi, kita kemudian memindahkannya terlebih dahulu sebelum menyiram air. Tindakan ini dilakukan agar semut tidak mati. Itu namanya adalah mengembangkan cinta kasih. Mengembangkan cinta kasih yang bermakna positif adalah merupakan lawan menghindari pembunuhan yang bermakna negatif.

Selain menjaga agar tidak melakukan pencurian hendaknya kita juga mengembangkan watak suka berdana. Berdana dapat dengan bermacam-macam cara, tidak harus menggunakan uang, tidak harus materi. Berdana tenaga juga bisa. Misalnya, membantu membersihkan vihara itu pun sudah termasuk berdana. Membantu orangtua di rumah juga sudah termasuk berdana. Atau mungkin kita tidak dapat membantu orangtua mencari nafkah tetapi dengan kita tidak nakal ataupun rewel, itu juga berdana. Dana yang berarti menjaga agar orangtua tidak pusing memikirkan kenakalan kita. Memaafkan kesalahan orang lain juga termasuk dana, dana bukan materi. Apabila ingin berdana materi juga bisa. Membantu pembangunan vihara, mencetak dan membagikan buku-buku Dhamma. Itu adalah beberapa cara kita berdana. Macam-macam. Jadi bisa dana materi dan juga bisa dana yang bukan materi.

Menjaga tingkah laku agar tidak melakukan perjinahan hendaknya diimbangi dengan mengembangkan rasa mudah puas dengan pasangan hidup kita. Karena perjinahan biasanya muncul dari rasa ketidakpuasan pada pasangan hidup sendiri. Tidak puas dengan penampilannya yang semula cantik menjadi jelek dimakan usia. Tidak puas karena tingkah lakunya yang sudah tidak sesuai lagi. Dan, masih banyak penyebab ketidakpuasan. Padahal, sumber ketidakpuasan adalah pikiran, atau tepatnya, keinginan kita sendiri. Harapan kita pada pasangan hidup sering jauh lebih besar daripada kenyataan. Hal inilah yang sering menimbulkan kekecewaan. Bila memperolah kesempatan, kekecewaan kemudian menimbulkan penyelewengan. Untuk mengatasi hal itu, hendaknya direnungkan bahwa semua orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, termasuk kita sendiri. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu mengingat kelebihan pasangan hidup kita dan mau menerimanya sebagaimana adanya. Dengan mengisi pikiran kita secara demikian, akan terhindarlah penyimpangan hati maupun badan dalam rumah tangga. Kesetiaan dapat terjaga.

Menghindari kebohongan hendaknya dibarengi dengan usaha mengembangkan kejujuran, belajar jujur, belajar terbuka, belajar bisa menyampaikan pendapat dengan terus terang. Sikap jujur dan terus terang ini adalah modal pokok untuk berkomunikasi. Komunikasi yang jujur akan sangat membantu dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah rumah tangga pun sering muncul karena kurangnya komunikasi. Komunikasi akan lancar apabila masing-masing fihak selalu berusaha mengerti bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan, karena itu jangan menutupi kebenaran! Ingatlah, bahwa binatang yang tidak mengerti bahasa manusia pun dapat diajak komunikasi, apalagi manusia. Terhambatnya komunikasi sering hanya karena kurang sabarnya satu fihak untuk memahami fihak lainnya.

Usaha menghindari mabuk-mabukan dibarengi dengan mengembangkan konsentrasi dengan melatih meditasi. Meditasi adalah sarana tepat guna untuk mengendalikan pikiran kita. Pengendalian pikiran juga akan menghasilkan pengendalian emosi. Apabila kita belum mampu bermeditasi dengan baik, kita dapat memulai konsentrasi dengan membaca Paritta. Pembacaan Paritta adalah termasuk usaha menyucikan pikiran. Hal ini dapat terjadi karena selama membaca Paritta, pikiran kita hanya terarah pada satu hal, kotbah Sang Buddha tentang perbuatan baik. Tidak akan terpikir untuk berbuat yang jelek. Karena itu tidak mabuk-mabukan hendaknya juga melakukan meditasi atau membaca Paritta atau mantra. Mengurangi lima macam perbuatan jahat tadi disebut dengan Pancasila Buddhis, menambah lima macam kebajikan disebut sebagai Pancadhamma.

SUCIKAN PIKIRAN

Kemudian baris terakhir dari bait yang dibaca di awal pertemuan ini ialah menyucikan pikiran. Penyucian pikiran ini sesungguhnya menunjuk pada latihan meditasi. Ada dua macam meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha. Meditasi konsentrasi disebut Samatha Bhavana, sebagai dasar, kemudian dilanjutkan dengan meditasi perenungan untuk melihat hakekat hidup yang sesungguhnya disebut Vipassana Bhavana. Hasil meditasi perenungan ini akan dapat membersihkan pikiran kita secara total dari debu ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Orang yang telah bersih batinnya dari ketiga jenis debu tadi disebut orang yang mencapai kesucian, Arahat. Orang yang telah memiliki pikiran suci. Meditasi bukanlah berdoa. Meditasi adalah berusaha selalu menyadari segala sesuatu yang sedang kita perbuat, ucapkan maupun pikirkan. meditasi berusaha melihat dengan jelas bahwa segala suka dan duka dalam kehidupan ini timbul karena permainan pikiran. Bila telah mengetahui segala sumber kesulitan, maka akan lebih mudah mengendalikannya. Pengendalian pikiran secara menyeluruh itulah yang disebut mencapai kesucian.

Tiga hal inilah kalau dijalankan dalam kehidupan sehari-hari akan meningkatkan kualitas batin sebagai seorang umat Buddha. Peningkatan kondisi batin ini akan menjadi merek yang tidak akan pernah memalukan kita sebagai umat Buddha. Ketiga hal ini pula yang menjadi jantung seluruh ajaran Sang Buddha. Ini pula yang dibabarkan oleh Sang Buddha ketika purnama sidhi dalam bulan Magha. Inilah yang sekarang diperingati sebagai Maghapuja.

[Dikutip dari Website Samaggi-Phala, WWW.Samaggi-phala.or.id ]

Senin, 12 Juli 2010

Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin)

Anathapindika

(Seorang hartawan yang menjadi miskin)


Anathapindika adalah pendana Vihara Jetavana yang didirikan dengan biaya lima puluh empat crores. Ia tidak hanya dermawan tetapi juga benar-benar berbakti kepada Sang Buddha. Dia pergi ke vihara Jetavana dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha tiga kali sehari. Pada pagi hari dia membawa bubur nasi, siang hari dia amembawa beberapa macam makanan yang pantas atau obat-obatan dan pada malam hari dia membawa bunga dan dupa.


Setelah beberapa lama Anathapindika menjadi menjadi miskin, tetapi sebagai orang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapana, bathinnya tidak tergucang dengan kemiskinannya, dan dia terus melakukan perbuatan rutinnya setiap hari yaitu berdana.

Suatu malam, satu makhluk halus penjaga pintu rumah Anathapindika menampakkan diri dalam ujud manusia menemui Anathapindika, dan berkata: “Saya adalah penjaga pintu rumahmu, kamu telah memberikan kekayaanmu kepada Samana Gotama tanpa memikirkan masa depanmu. Hal itulah yang menyebabkan kamu miskin sekarang. Oleh karena itu kamu seharusnya tidak memberikan dana lagi kepada Samana Gotama dan kamu seharusnya memperhatikan urusanmu sendiri sehingga menjadi kaya kembali.”

Anathapindika menghalau penjaga pintu tersebut keluar dari rumahnya. Karena Anathapindika sudah mencapai tingkat kesucian sotapanna, mahluk halus penjaga pintu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut, dia tidak mempunyai tempat tujuan pergi dan ingin kembali ke rumah Anathapindika, tetapi dia takut pada Anathapindika jadi dia mendekati Raja Sakka, raja para dewa.


Sakka memberi saran kepadanya, pertama dia harus berbuat baik kepada Anathapindika dan setelah itu meminta maaf kepadanya. Kemudian Sakka melanjutkan, “Ada kira-kira delapan belas crores yang dipinjam oleh beberapa pedangan yang belum dikembalikan kepada Anathapindika; delapan belas crores lainnya disembunyikannya oleh lelulur (nenek moyang) Anathapindika, dan lainnya yang buka milik siapa-siapa yang dikuburkan di tempat tertentu. Pergi dan kumpulkanlah semua kekayaan ini dengan kemampuan bathin luar biasamu, penuhilah ruangan-ruangan Anathapindika. Setelah melakukan itu, kamu boleh meminta maaf padanya.”

Mahluk halus penjaga pintu tersebut melakukan petunjuk Sakka, dan Anathapindika kembali menjadi kaya. Ketika mahluk halus penjaga pintu memberi tahu Anathapindika mengenai keterangan dan petunjuk yang diberikan oleh Sakka, perihal pengumpulan kekayaannya dari dalam bumi, dari dasar samudera, dan dari peminjam-peminjamnya. Anathapindika terkesan dengan perasaan kagum kemudian Anathapindika membawa mahluk halus penjaga pintu tersebut menghadap Sang Buddha.


Kepada mereka berdua, Sang Buddha berkata, “Seseorang tidak akan menikmati keuntungan dari perbuatan baiknya, atau menderita akubat dari perbuatan jahat untuk selamanya; tetapi akan tibalah waktunya kapan perbuatan baik atau buruknya berbuah dan menjadi matang.”


Mahluk halus penjaga pintu rumah itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah mendengar kotbah Dhamma tersebut berakhir.


Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.


Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah peerbuatan bajiknya belum masak’ tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak; ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik

(Dhammapada 119 & 120)