Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Senin, 13 Desember 2010

KEBENARAN


KEBENARAN
Oleh Thich Thanh Tu, Master Zen


Penerjemah : Rudy Dharmali
Editor         : Tim AB

©2010 Artikel Buddhis (AB)


Anda dipersilahkan menyalin, merubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apapun, dengan syarat:
(1) Tidak diperjualbelikan;
(2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan
(3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.


Pendahuluan

Ajaran Buddha sangat sederhana dan mudah untuk dimengerti dalam hal kejelasan dan penerapannya. Buddha tidak mengajarkan hal yang bersifat mistis: Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkanmu. Hanya kamulah yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri.

Semua yang Beliau ajarkan diperoleh dari pengalaman Beliau sendiri melalui pengamatan dan meditasi. Sebagai contoh, pada saat bermeditasi tentang kehidupan bunga teratai di sebuah kolam berlumpur, Beliau menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup, terutama manusia, memiliki sifat ke-Buddha-an (Bodhi = Intelek). Jika sekuntum teratai dapat muncul dari air yang keruh ke permukaan menuju kilauan matahari dan memperlihatkan kuntumnya yang penuh warna dan harum, demikian pula seorang manusia. Ia dapat bebas dari kesengsaraan dan bekerja keras untuk mencapai potensi yang ada dalam dirinya sehingga dapat menyumbangkan sesuatu yang berguna dan indah bagi kehidupan, tanpa menghiraukan siapa pun dia – baik seorang petani, pekerja ataupun profesional.

Seluruh ajaran Buddha berasal dari kebenaran-kebenaran nyata yang sekarang para ahli ilmu pengetahuan menyebutnya ‘Hukum’; yaitu Hukum Ketidakkekalan, Hukum Sebab Akibat dan Hukum  Musabab yang Saling Bergantung.

Hukum Ketidakkekalan

Buddha selalu mengingatkan para pendengarnya bahwa segala sesuatu adalah tidak tetap/permanen, termasuk kehidupan. Segala sesuatu selalu berubah. Beliau selalu mengajak pengikutnya untuk mengamati dan bermeditasi sehingga mereka dapat mengenali ketidakkekalan itu sebagai pengalaman awal.

Mari kita mencoba beberapa pengamatan. Dari manusia hingga materi dunia, tidak ada satu pun yang tidak berubah. Di dalam tubuh manusia, sel-sel membelah, tumbuh dan mati secara terus-menerus. Melalui berbagai proses, sel-sel mentransformasikan sebuah sel telur dan sebuah sel sperma menjadi seorang bayi yang lucu, seorang bayi menjadi remaja; seorang remaja menjadi seorang perempuan muda yang cantik; seorang perempuan muda menjadi seorang istri yang lembut dan seorang Ibu yang menawan hati; kemudian, semua karakteristik kecantikan dari suatu kehidupan yang energik dengan cepat akan memudar dan digantikan oleh sesosok manusia yang rapuh dan tidak cantik menunggu saat-saat kematian tiba. Sungguh menyedihkan dan sesaat hidup ini! Bahkan di Amerika, walaupun perkembangan obat-obatan dan teknologi dapat memperpanjang kehidupan menjadi lebih dari 100 tahun, manusia tidak dapat tetap kuat dan terbebas dari penyakit. Semua orang yang tua ingin berlalu dari tahun-tahun mereka yang sudah tidak produktif. Demikianlah Hukum Ketidakkekalan ini berlaku untuk semua makhluk. Tidak ada yang dapat lepas dari hukum ini karena hukum ini adalah kebenaran yang mutlak.

Atau, lihatlah sebuah mobil keluaran terbaru. Tidak peduli betapa pun perawatan Anda pada mobil Anda, setelah tiga sampai lima tahun, mobil tersebut akan menunjukkan tanda-tanda kekusaman dan kerusakan. Akhirnya, mobil tersebut akan menjadi rongsokan.

Dan lihatlah pada segala jenis hubungan. Tidak ada satu pun yang akan bertahan selamanya. Seiring berjalannya waktu, tetangga kita akan pindah, persahabatan musnah, bahkan pertalian keluarga akan meregang dan begitu juga hubungan perkawinan yang saling mencintai.

Kita menderita karena kita tidak mengerti ataupun mengakui keberadaan hukum itu. Kita berharap untuk awet muda, terhindar dari kesakitan dan kematian. Kita mengeluh ketika kita sakit dan takut ketika kematian datang mendekat.

Atau, kita ingin selalu menjadi kaya, menjalani hidup dalam kenyamanan dan kepuasan, memiliki keluarga yang bahagia dengan seorang suami yang tampan atau istri yang cantik dan anak-anak yang pintar. Kita takut pada kesengsaraan dan perubahan apa pun.

Dengan alasan itu, beberapa dari kita datang ke hadapan Buddha, bukan untuk mendapatkan kebenaran dalam ajarannya melainkan meminta agar Buddha mengabulkan apa yang kita inginkan. Tidak heran jika banyak orang menjadi lebih serakah dan sengsara, meskipun kenyataannya mereka sering mengunjungi wihara.

Sebaiknya kita memahami dan mengenali Hukum Ketidakkekalan, kita dapat mengubah perspektif kita terhadap kehidupan. Kita akan menerima kehidupan apa adanya, tidak peduli perubahan atau kesengsaraan apa pun yang kita hadapi. Itulah ajaran Buddha. Kita akan berani dan bijaksana dalam segala situasi dan lebih simpati terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi menangis ketika menghadapi suatu kecelakaan, kesakitan, atau bahkan kematian. Hal ini adalah pandangan benar, yang dituangkan dalam sebuah syair oleh seorang Master Zen Van Hanh pada zaman Dinasti Lý, mengenai kehidupan dan kondisi manusia:

Tubuh manusia, seperti petir, muncul dan lenyap,
Seperti pohon yang tumbuh saat musim semi dan layu di musim gugur.
Walaupun Ia tumbuh atau hancur, kita tidak mesti terkejut,
Semua layaknya embun di ujung rerumputan, begitulah adanya.

Akan tetapi, banyak kritik yang menginterpretasi bahwa pandangan Buddhis selalu mengecilkan hati bahkan membahayakan. Jika semuanya selalu berubah dan kehidupan manusia telah dikodratkan untuk menderita dan mati, mengapa kita bersusah payah mempertahankan kehidupan yang layak dan baik? Anggapan ini tidak hanya salah mengartikan ajaran Buddha; anggapan ini merupakan pemikiran yang dangkal.

Dengan pengamatan yang sungguh-sungguh, memang benar bahwa hidup selalu berubah. Akan tetapi, dalam menghadapi kenyataan, seseorang dapat bersikap negatif atau positif, tergantung pada pandangannya. Ajaran Buddha, pada kenyataannya, menyebarkan pandangan yang positif. Syair yang telah disebutkan di atas telah membuktikannya. Hidup ini sesingkat petir, muncul dan lenyap dalam sekejap, atau seperti pohon yang tumbuh subur saat musim semi dan layu di musim gugur. Tidak ada yang tidak berubah. Walaupun dikelilingi oleh perubahan, seorang yang telah tercerahkan akan mengakui perubahan tersebut apa adanya, menganggap perubahan tersebut seperti embun di ujung rerumputan.

(Setetes embun sangatlah indah, terutama di bawah sinar matahari pagi. Akan tetapi, tidak akan bertahan lama. Dan tentunya, tidak ada seorang pun yang akan menangis ketika embun tersebut menguap; karena begitulah apa adanya embun tersebut).

Selain itu, Pangeran Siddhàrtha menjadi seorang Buddha hanya karena pandangan positifnya. Setelah menyaksikan kepahitan dari rakyatnya yang miskin, sakit dan sekarat. Beliau bersumpah untuk mencari sebuah Jalan yang dapat menghapus semua penderitaan manusia. Dengan kata lain, Beliau bercita-cita untuk membawa kebahagiaan untuk semua makhluk di dunia ini.

Untuk merealisasi sumpahnya, Beliau dengan berani meninggalkan kemewahan dan martabatnya sebagai seorang pangeran dan pergi menuju hutan belantara untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa. Selanjutnya, setelah memperoleh Jalan tersebut, Buddha menyatakan bahwa, agar dapat berhasil mengikuti jejaknya, seseorang harus melatih kebijaksanaan, cinta kasih dan keberanian.

Hukum Sebab Akibat

 Sebagai tambahan Hukum Ketidakkekalan, Buddha mengajarkan Hukum Sebab Akibat. Di mana ada sebab, maka akan ada akibat. Akibat akan mengikuti penyebabnya secara langsung atau belakangan, dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang, dan bahkan kehidupan yang akan datang. Tentunya, sebab yang baik akan menghasilkan akibat yang baik dan sebab yang buruk akan menghasilkan akibat yang buruk. Singkatnya, Buddha menganjurkan pada pengikutnya,:“Jika kalian ingin mengetahui apa yang kalian lakukan di kehidupan lampau, lihatlah apa yang kalian dapatkan di kehidupan ini. Untuk memprediksi apa yang akan kalian dapatkan di kehidupan mendatang, perhatikan dengan seksama apa yang kalian lakukan sekarang.”

Kebanyakan orang, karena kurangnya pengetahuan tentang Hukum Sebab Akibat, percaya bahwa kemalangan yang dideritanya dibuat oleh Sang Pencipta. Dengan kepercayaan ini, orang-orang hanya menggantungkan nasibnya pada malaikat/dewa yang mengatur ‘takdir’ mereka. Sebagai hasilnya, orang-orang berdoa kepada segala jenis Tuhan yang dapat dipikirkannya untuk melindungi mereka, melimpahkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Sering kali, orang-orang dengan suka rela mengakui bahwa mereka telah berdosa dan siap untuk merelakan jiwa mereka pada pengampunan oleh Sang Pencipta yang tidak nyata dan sangat hebat. Dengan pola pikir yang seperti itu, seorang manusia tidak memiliki martabat dan kebebasan; Ia bukanlah apa-apa melainkan sebuah boneka Sang Penciptanya.

Bagi Buddha, kepercayaan seperti itu tidak didasarkan pada kebenaran. Kenyataannya adalah setiap orang bebas mengatur hidup mereka sendiri. Ia bertanggung jawab pada tindakannya sendiri dan Ia pula yang menuai hasilnya. Kebahagiaan atau kesengsaraan, kesuksesan atau kegagalan… semuanya bergantung pada apa yang telah atau sedang dilakukannya. Perbuatan baik akan membawa kebahagiaan; perbuatan jahat akan menghasilkan kesengsaraan. Seperti kata pepatah: “Ia yang menciptakan angin akan mendapatkan badai.”

Hukum Sebab Akibat tidak hanya berlaku pada tindakan manusia, hukum ini bersifat universal. Sebuah pohon jeruk akan menghasilkan buah jeruk; sebuah pohon jeruk limun akan menghasilkan buah jeruk limun. Saat hari mendung dan awan gelap berkumpul, seseorang dapat menyimpulkan bahwa akan turun hujan. Dan seorang anak terlalu malas mengerjakan tugasnya, orangtuanya dapat memastikan bahwa Ia akan gagal di kelas.

Perhatikanlah segala kejadian di sekitar kita. Kita akan menyadari bahwa tidak ada yang tidak tersentuh oleh Hukum Sebab Akibat. Di sisi yang sama, kita tidak akan menemukan adanya campur tangan Tuhan. Itulah alasan mengapa Bodhisattwa selalu melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Bodhisattwa telah memahami hukumnya. Oleh karena itu, hidupnya bebas dari ketakutan-ketakutan akan nasib yang diatur oleh Tuhan. Ia hanya takut pada dirinya sendiri, pada tiga kekotoran batinnya (keserakahan, kebencian dan Kekelirutahuan) yang akan mengakibatkan perbuatan jahat. Ia tidak takut pada segala macam kutukan dari dewa mana pun.

Sebaliknya, kebanyakan orang membuat hidupnya sengsara karena tindakan jahat mereka sendiri. Mereka berbohong, memalsukan kenyataan, berkata kotor dan bahkan berniat untuk menyakiti orang lain demi keuntungan mereka sendiri. Singkatnya, mereka bertindak atas dasar keserakahan, kemarahan atau kemelekatan. Secara alamiah, ketika sebuah benih kotor ditabur, sebuah akibat yang buruk akan menghampiri penaburnya cepat atau lambat. Sudah jelas bahwa hanya si pelaku yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, bukan Tuhan ataupun Sang Pencipta. Tidak ada doa atau pemberkatan yang dapat menyelamatkan seseorang dari tindakan jahatnya.

Sebagai bukti, suatu ketika Buddha bertanya pada sekelompok Brahmana terkenal, yang mengaku bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk berbicara kepada Tuhan, dan secara rutin mengadakan sesi doa bagi orang kaya dengan imbalan emas dan uang. Pertanyaan pertama adalah : “Jika seseorang mendorong sebongkah batu yang berat ke dalam sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar batu tersebut mengapung, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Batu tersebut terlalu berat, dan kami tidak dapat meminta Tuhan untuk membuatnya terapung. Batu tersebut pasti tenggelam bagaimanapun caranya.”

  Pertanyaan selanjutnya adalah: “Jika seseorang menuangkan seember minyak ke dalam sebuah sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar minyak tersebut tenggelam di dasar sumur, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Minyak terlalu ringan; apa pun yang kami lakukan, kami tidak dapat membuatnya tenggelam.”

Buddha kemudian menyimpulkan: “Dengan cara yang sama, jika seseorang selalu melakukan perbuatan baik, karmanya akan seringan minyak. Ia tidak harus berdoa untuk takdirnya. Sebaliknya, jika seseorang hanya melakukan perbuatan jahat, karmanya akan seberat bongkahan batu dan akan menariknya ke neraka. Doa apa pun kepada Tuhan agar dirinya diselamatkan akan sia-sia.”

Untuk lebih memahami pentingnya Hukum Sebab Akibat, dalam ceramahnya yang pertama, Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia :
(1) Adanya penderitaan.
(2) Kebiasaan dan perbuatan yang menyebabkan penderitaan.
(3) Lenyapnya penderitaan.
(4) Jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Dengan mengikuti ajarannya, seseorang dapat terbebas dari penderitaan tanpa bantuan dari dewa atau malaikat mana pun. Untuk membuat seseorang mengerti dengan jelas dan masuk akal, Buddha menjelaskan bahwa penderitaan manusia berasal dari sebab-sebab yang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasanya tidak baik, pada dasarnya. Dari kehidupan ke kehidupan berikutnya, sebab-sebab yang tidak baik ini diulangi dan diteruskan. Sebagai hasilnya, Ia yang melakukan harus membayar konsekuensinya. Dengan kata lain, penderitaan yang harus dipikul pada kebenaran pertama (1) dari Empat Kebenaran Mulia adalah efek yang dihasilkan oleh kebenaran kedua (2). Sekarang, ada sebuah Jalan untuk mengakhiri penderitaan tersebut. Untuk mencapai lenyapnya penderitaan pada kebenaran ketiga (3), seseorang harus mempraktikan Jalan tersebut sebagai sebab yang baik, disebutkan pada kebenaran keempat (4). Jalan tersebut yang terdiri dari delapan faktor didesain untuk mencabut secara tuntas ketiga akar kejahatan (keserakahan, kebencian dan kekelirutahuan) yang pada banyak kehidupan sangat memengaruhi perilaku manusia, menyebabkan pikiran dan tindakan yang jahat. Jalan mulia berfaktor delapan ini mencakup: Pandangan Benar (Samma Ditthi), Perniatan Benar (Samma Sankappa), Perkataan Benar (Samma Vaca), Perbuatan Benar (Samma Kammanta), Penghidupan Benar (Samma Ajiva), Pengupayaan Benar (Samma Vayama), Penyadaran Benar (Samma Sati) dan Pemusatan-pikiran Benar (Samma Samadhi). Sekarang ini, dalam mempraktikkan Hukum Sebab Akibat untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik, kita dapat dengan bangga menyatakan bahwa Buddhisme tidaklah bersifat mistis, tetapi sangat kompetitif dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan. Sebagai faktanya, keberadaan Sains saat ini didasarkan pada Hukum Sebab Akibat; yang mana, sebagai esensinya, bukanlah sesuatu yang baru bagi ajaran Buddha sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Hukum Musabab yang Saling Bergantung

Di samping Hukum Ketidakkekalan dan Sebab Akibat, Buddha juga mengajarkan Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Melalui meditasinya, Buddha mengamati bahwa sesuatu tidak mungkin ada dengan sendirinya. Setiap eksistensi adalah sebuah kombinasi. Tanpa kombinasi tersebut, tidak ada yang benar-benar muncul. Eksistensi adalah proses yang tersusun dari formasi sebab-sebab dan kondisi-kondisi.

Marilah kita mencoba beberapa pengamatan seperti yang dilakukan oleh Buddha. Para ilmuwan sekarang telah menyatakan bahwa tubuh manusia adalah kombinasi dari seratus triliun sel yang membentuk formasi darah, tulang dan organ-organ dalam seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, perut, isi perut dan organ-organ luar seperti mata, telinga, hidung, mulut, kulit, dll. Kekurangan salah satu komponen ini, tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Hukum Musabab yang Saling Bergantungan menunjukkan bahwa dalam diri manusia, tidak ada yang disebut ‘ego’ atau ‘diri’. Konsep ‘Aku’ atau ‘Kamu’, yang mendasari ide bahwa ‘Milikku’ selalu lebih baik daripada ‘Milikmu’ adalah suatu delusi/kekelirutahuan. Sesungguhnya, jika ‘kondisiKu’ lebih baik dari pada ‘kondisiMu’, itu hanya karena karma kehidupan lampau tidaklah sama, bukan karena ’tubuhKu’ lebih bagus daripada ‘tubuhMu’.

Sebagai tambahan, walaupun jasmani ini terbuat dari hubungan sel-sel dan organ-organ yang sempurna, tidak akan bertahan lama jika tidak ada persediaan udara segar, makanan yang sehat dan air yang dapat diminum.

Dengan kata lain, Hukum Musabab yang Saling Bergantung ini juga berarti: “Sesuatu hanya muncul ketika ada cukup sebab yang terjadi bersamaan dalam suatu kondisi yang baik; dan segala sesuatu akan hancur jika sebab-sebab atau kondisi-kondisinya terpisah.”

Jelas bahwa menjadi seorang manusia, ada banyak sebab dan kondisi yang bercampur dan menciptakan sebuah kehidupan. Dari saat sebuah sel telur matang bertemu dengan sebuah sel sperma yang sehat dan tumbuh di dalam rahim, ada banyak sekali sebab dan kondisi yang dapat meniadakan kesempatan janin terlahir sebagai seorang bayi yang sehat.

Statistik menunjukkan bahwa di dalam ‘Dunia Ketiga’ (istilah dunia ketiga merujuk pada negara-negara yang tidak memihak pada saat Perang Dunia II dan seterusnya dipakai untuk istilah negara-negara miskin), persentase anak-anak yang berhasil bertahan setelah berusia tujuh tahun di lingkungan mereka yang keras juga sangat rendah. Ternyata, mereka yang terlahir di dalam Dunia Ketiga memiliki faktor penyebab dan kondisi yang kurang baik dibandingkan dengan negara-negara yang terindustrialisasi.

Buddha menjelaskan bahwa dengan pengamatan secara mendalam pada setiap kejadian di kehidupan sehari-hari, seseorang akan dapat mengenali bahwa tidak ada yang terjadi tanpa melibatkan banyak faktor/sebab dan kondisi.

Secara normal, sebab-sebab dan kondisi-kondisi tersebut muncul dalam manifestasi yang tak terhitung jumlahnya dan menghasilkan kejadian yang baik atau buruk, tergantung karma seseorang. Ketika karma terbentuk dan faktor penyebab serta kondisi-kondisi memenuhi, tidak ada siapa pun lagi yang dapat mengontrol suatu kejadian yang akan terjadi; bahkan Tuhan sekalipun.

Saat ini para Ilmuwan juga mengekspresikan hal yang sama mengenai Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Jika terdapat cukup Oksigen dan Hidrogen dalam proporsi yang tepat dan jika kondisi lingkungan memungkinkan, akan terbentuk air (2H + O = H2O). Jika sebaliknya, tidak akan ada air yang terbentuk. Hukum ini berlaku untuk semua aspek dalam kehidupan, termasuk keluarga, politik, ekonomi dan aktivitas sosial.



================================================

The Truth
by Thich Thanh Tu, Zen Master
Translated by Minh Tâm



Contents
  • 1 Introduction
  • 2 Law of Impermanence
  • 3 Law of Cause and Effect
  • 4 Law of Causation
Introduction

The teaching of Buddha is very simple and understand, in terms of clarity and applicability. The Buddha preached of no mystics: There is no God to save you. Only you can save ourself.

All of what he said was derived from his direct experiences through observations and meditations. For example, during the meditation about the life of lotus plants in a muddy swamp, he concluded that living things, especially human beings, possess Bodhi-nature (Bodhi=Brillance). If a lotus plant can emerge from the murky water to reach the dazzling sun and produce its colorful and fragrant flowers, a human being can emerge from his adversity and work hard to reach his potentiality in order to contribute something useful and beautiful to life - regardless if one is a farmer, a worker, or a professional.

Ultimately, the Buddha's Teaching derives from the observable truths that in present day scientists call "laws"; namely the Law of Impermanence, the Law of Cause and Effect, and the Law of Causation.

Law of Impermanence

Buddha had always reminded his audience that things are impermanent, including life. Everything is forever changing. He insisted that his followers shoud observe and meditate on those in order to recognize them as a first-hand experience.

Let us try some observations. From the human to the material world, there is nothing that does not change. In the human body, cells split, grow and die incessantly. Through the processes, the cells transform an egg and a sperm into a cute baby; a baby into a youthful teenager; a teenager into a loving, beautiful young woman; a young woman into a delicate wife and an adorable mother; and then, all traits of beauty of an energetic life eventually fade away and are replaced by a frail, unpleasant silhouette waiting for disintegration. How pitiful and ephemeral human life is! Even in the United States where the advancement of medicine and technology can prolong life to over a hundred years, people cannot stay strong and free from illness. All elderly people are dying to pass away from their unproductive years. This Law of Impermanence, thus, applies to all beings. No one can escape it. Because it is an eternal truth.

Or take a look at a brand new car. No matter how much care you put into it, after three to five years the car shows signs of wear and tear. Finally, it will be winding into a wreckage.

And look at any relationship. None of them will last forever. As time passes, neighbors move out, friendships disappear, even kinship loosens, not to mention marital loves.

We are suffering because we do not understand the law, nor do we acknowledge it. We wish to stay young forever, avoiding sickness and death. We lament our health when sick, and are terrified when death shows up at our doorstep.

Or we want to be always rich, to experience a comfortable life or satisfaction, to have a wonderful family with a handsome or beautiful spouse and smart children. We are afraid of adversity and of any changes.

Therefore, some of us come to Buddha, unfortunately, not for the truth in his teachings, but because of wrong thoughts that we can pray Buddha for whatever we want. No wonder people become increasingly greedy and miserable, despite the fact that they go to temple very often.

Shoud we understand and recognize the Law of Impermanence, we could change our perspective toward life. We would admit life as it is, no matter what kind of change or adversity we encounter. That is the teaching of Buddha. We would be brave and wise in any circumstance, and more sympathetic to others. Never again would we cry when facing a mishap, an illness, or even death. And that is the appropriate view, from which Zen Master Va.n Ha.nh in the Lý dynasty put into verse, regarding life and human conditions:


The human body, like lightning, appears and departs, 
As tree grow in Spring and droop in Fall. 
Despite its growth or ruin, we should be not alarmed, 
Considered dewdrops on tips of grass as they are all.


However, there are critics who interpret Buddhist viewpoint to be discouraging, or even fatalistic. If things are always changing and human lives are predetermined to suffer and die, why do we bother to maintain a constructive and decent life? Not only does this interpretation misconstrue the Teaching; it represents a shallow thought.

With an earnest observation, it is true that life is forever changing? But facing a truth, one can react either negatively or positively, depending or his or her point of view. The Buddhist teaching, in reality, broadcasts a positive viewpoint. The aforementioned verse has proved it. Life is as short as a ligtning, which appears and departs in a blink, or as trees that grow in the Spring and droop in the Fall. Nothing remain unchanged. Despite many changes, an enlightened would recognize them as they are, considering them as dewdrops on tips of grass.

(A dewdrop is so beautifull, especially under the early morning sun. But it won't last long. And certainly nobody is going to cry when a dewdrop liquefies; because that is the way it is).

Moreover, Prince Shidharta became Buddha only because of his positive outlooks. After witnessing the pain and bitterness of his destitute, sick, and dying people through his rare outing trips, he took a solemn promise to search for a Way capable of erasing all human suffering. In other words, his wished to bring happiness to all human in this painful world.

In order to realize his vows, he bravely renounced his life of luxury and prestige and went into the wilderness for an ascetic life. Later on, after attaining the Way, the Buddha proclaimed that to successfully follow his path, one should arm oneself with some degrees of intelligence, compassion, and courage.

Law of Cause and Effect

In addition to the Law of Impermanence, Buddha preached the Law of Cause and Effect. Where there is a cause, there will be an effect. The effect may follow the cause immediately or eventually, from previous life to present, and even future life. Of course, a good cause will produce a good effect and a bad cause will give rise to a bad one. In brief, Buddha advised his audience, :"Would you like to know what you were doing in a previous life, see what you have inherited in this life. To predict what you will be receiving in the next life, carefully observe what you are doing now".

Most people, due to lack of knowledge of the Law of the Cause and Effect, believe that their misfortunes were contrived by a Creator. With this common belief, people heavily become dependent of a heavenly deity who control their fates. As a result, people like to pray to all sorts of Gods they can think of to protect them, to bestow on them good fortunes over the bad ones. More often, people willingly admin that they have sinned, and readily succumb themselves to the forgiveness of an imaginary but powerful Creator. In that line of thinking, a human being inherits no dignity and freedom; he is nothing but a puppet of his creator.

To Budhha, that belief is not based on the truth. The truth is that everyone is free to control his or her own life. He is solely responsible for his actions and he is the only one who bears the results. Happiness or misery, success or failure... it all depends on what he had done or has been doing. Good deeds will bring happiness; evil action will breed misery. As an old saying dictated: "He who sows winds, reaps the storm".

Not only does the Law of Cause and Effect govern human actions, it also is universal. An orange tree will produce orange fruit; a lemon tree will provide lemon ones. When dark, heavy clouds gather, one can be sure that rain is going to fall. And a boy is too lazy to do this homework, his parents can be certain that he is going to fail his class.

Just observe any event around us. We will realize that nothing is untouched by the law. By the same token we won't see any interference from Gods. That is why Bodhisattva is always doing only good deeds, and staying away from evil actions. After all, the Bodhisattva understands the law. His life, therefore, is free of god-controlled fears. He is only afraid of himself, of his three poisons (Greed, Hatred, and Delusions) which will inflict evil behaviors on him, he is not afraid of any heavenly deities' curses.

On the contrary, common people make their lives miserable due to their evil actions. They life, they cheat, they fabricate stories, they speak evil, and they even have plans to hurt other for their own gain. In brief, they act under the stipulations of greed, anger, or attachment. Naturally, when a bad seed is sowed, an evil effect will sooner or later be delivered. It is clear that only the doer is responsible for the result of what he has done not a God or a Creatoe. Neither praying, nor blessing can save one from one's own devilish actions.

To prove this viewpoint, one day the Buddha raised questions to a group famous Brahmins who, claiming that they had power to talk to God, regularly held prayer sessions for rich people in return for gold and money. They first question was: "If a man pushes a big chunk of heavy rock down into a well and asks you to pray that it floats, can you do that?". - "No!" replied the Brahmin: "The rock is so heavy, and we cannot pray God for it to float. It has to sink, no matter what".

The next question was: "If a man pour a bucket of oil into a well and asks you to pray that the oil can sink to the bootom, can you do that?". - "No!" came the reply: "Oil is so light; no matter what we do, we cannot make it submerge".

The Buddha, then, concluded: "By the same token, if a person is always doing good deed, his karma will be as light as oil. He does not have to pray for his fate. Conversely, if one only indulges in evil actions, his karma will be as a big chunk of rock and will pull him down to Hell. Any praying to God for him to be saved would be futile".
To emphasize the importance of the Law of Cause and Effect, in his first lecture, the Buddha preached the Four Basic Truth:
1.     The sufferings.
2.     The customs and habits that lead to sufferings.
3.     The cessation of sufferings.
4.     The Way that procures cessation

By the following his teaching, one can save him or herself without the salvation of any deities. To make himself clearly and logically understood, Buddha explained that human sufferings are derived from causes creact by customs and habits, which are generally devilish, by nature. From generation to generation, from one life to the next these devilish cause are repeated and carried over. As result, he who has created these evil causes has to repay the debts afterwards. In order words, the suffering that humans must endure in number (1) is the produced by number (2). Now, there is a way to end those suffering. To reach the cessation as effect in number (3), one has to practice the Way as the good cause governed by number (4). The Way, consisting of the Eightfold Path is devised to completely eradicate the three poisons (greed, hatred, and delusion) which, for many lives, seriously infest human behaviors and cause diabolical thoughts and actions. The Eightfold Path includes: Appropriate Views, Appropriate Thoughts, Appropriate Language, Appropriate Actions, Appropriate Livelihood, Appropriate Effort, Correct Mindfulness and Correct Medication. Nowadays, in practicing the Law of Cause and Effect to change our lives for the better, we can proudly declare that Buddhism is not mysticism, but very competitive to the advancement of Science. As a matter of face, the very existence of Science today is based on the Law Of Cause and Effect; which, in the essence, is nothing new to the teaching of Buddha since over 2500 years ago.

Law of Causation

Besides the Laws of Permanence and Cause and Effect, the Buddha also preached the Law of Causation. Through his meditation, Buddha observed that a thing does not exist independently by itself. Every existence is a combination. Without such as a composition, nothing actually exists. To be is to be under the formation of causes and conditions.

Let's try some observations as the Buddha did. Scientists now confirm that the human body is a combination of one hundred trillion cells which create the formation of blood, bones, and inner organs such as the brain, heart, lungs, kidneys, stomach, intestines... and of outer organs such as eyes, ears, nose, mouth, skin, ect... Lacking one or more of these components, a body does not function properly or simply cannot exist.

The Law of Causation shows that in humans, there is no such thing called the "ego" or "self". The concept of "I" or "You", with the underlying idea that "Mine" is always better than "Yours" is a delusion. Actually, if "my" condition is better than "yours", it is only because the karma of previous life is not the same, rather than because my body is better than yours.

In addition, even if the body is make from a perfect junction of cells and organs, it will not last long if there is no proper provision of fresh air, nutritious food, and potable water.

In other words, the Law of Causation also means that: "Things only exist when there are enough causes which come together under favorable conditions; and things will disintegrate when causes or conditions are scattered".

Obviously, to be a human, there are numerous causes and conditions that blend together and create an existence. From the day a mature egg met a healthy sperm and grew in a womb, there are countlees unfavorable causes and conditions that may abolish the chance of being born a healthy human child.

Statistics shows that in the Third World, the percentage of young children who survive their harsh environment after seven years of age is also very low. Apparently, being born in the Third Wold is having less favorable causes and conditions than in the industrialized world.

The Buddha explained that the earnest observations on any events in daily life, one can recognize that nothing happens without numerous causes and conditions involved.

Normally, they appear in innumerable form that result in good or bad occurences, depending on one's karma. When karma is formed and causes and conditions cast on, it is not in anyone's hand to control the event any more; not even Gods.

Scientists today express the same about the Law of Causation. If there is enough Oxygen and Hydrogen in proper proportions and if the condition, if favorable, it will product Water (2H + O = H2O). Othervise, no water exists. This same law applies to all aspects of the human world, including family structures, politics, economics, and social activities.

Jumat, 10 Desember 2010

Vassa




Vassa
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Jinnadhammo Mahathera



Salah satu peraturan di dalam hidup kebhikkhuan adalah menjalankan Vassa. Masa vassa adalah selama 3 bulan dimulai dari bulan Asalha / Asadha hingga sampai bulan Kathina. Tahun ini jatuh pada tanggal 12 Juli sampai dengan 8 Oktober 1995.

Seorang Bhikkhu setiap satu tahun sekali menjalani Vassa selama tiga bulan berturut-turut di suatu tempat. Tempat yang sangat baik untuk melakukan Vassa adalah tempat yang sunyi dan hening di mana umat biasa (orang awam) yagn datang dan pergi sangat sedikit sehingga suasana keheningan itu terjamin. Pada masa hidup Sang Buddha di mana anggota Sangha masih berjumlah sedikit, peraturan untuk mengendalikan Sangha tidak begitu diperlukan, semua savaka (siswa) melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha. Namun ketika jumlah bhikkhu makin bertambah dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri untuk para bhikkhu menjadi lebih diperlukan. Sehingga ketika itu Sang Buddha mempunyai padangan bahwa seorang bhikkhu haruslah berdiam di suatu tempat selama tiga bulan untuk berdiam diri serta merenungkan segala perbuatan yang diperbuatnnya selama satu tahun.


Pada waktu itu orang-orang zaman dahulu terbiasa untuk tidak bepergian ke mana-mana selama musim hujan karena pada saat itu jalan-jalan berlumpur dan tidak sesuai untuk melakukan perjalanan, dan lagi, banyak makhluk-makhluk kecil yang berkeliaran di tanah dan juga tumbuhan juga mulai berkembang sehingga takut terinjak dan mati. Untuk itulah Sang Buddha menetapkan sebuah peraturan bahwa bhikkhu harus menetap disuatu tempat selama musim hujan atau Vassa dan tidak pergi ke tempat-tempat lain selama masa tiga bulan tersebut.


Hari pertama untuk pelaksanaan itu disebut Vassupanayika yaitu setelah bulan purnama melewati satu hari dalam bulan Asalha (hari pertama pada bulan ke delapan) sedangkan untuk akhir masa vassa disebut Pavarana (upacara akhir vassa). Pavarana (hari penutup masa vassa berakhir) biasanya dilakukan pada tanggal lima belas. Apabila sangha tidak melakukan pavarana pada hari itu, upacara tersebut dapat ditunda dalam jangka waktu dua minggu atau satu bulan atau pada hari-hari lainnya. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ini sekurang-kurangnya lima orang bhikkhu. Pavarana merupakan kesempatan bagi semua bhikkhu untuk saling mengingatkan satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran satu sama lain, mereka berkumpul dan membicarakan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi, sehingga berbagai pelanggaran akan segera jernih setelah diselidiki ataupun diakui dan pada kasus yang berat maka si pelanggar akan dikeluarkan dari Sangha.


Saat melakukan Vassa adalah merupakan saat untuk para bhikkgu melakukan samanadhamma yaitu dhamma untuk seseorang yang membuat dirinya damai atau pelaksanaan meditasi ketenangan atau pandangan terang.


“Bhikkhu yang telah menyepi pada tempat terpencul, yang telah menaklukan pikirannya dan memahami ajaran, menikmati kebahagiaan yang lebih dari orang lain.”
                                                                                                                                (Dhammapada 373)


“Bhikkhu yagn tenang pikirannya, tenang dalam kata-kata, dan tenang tindak tanduknya, yang telah melepaskan segala hal duniawi, sesungguhnya disebut orang yang penuh kedamaian.”
                                                                                                                    (Dhammapada 378)


Bhikkhu yang melaksanakan Vassa harus berdiam di suatu tempat tertentu yang mempunyai batas-batas tertentu sampai hari pavarana dilalui. Apabila seorang bhikkhu mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, bhikkhu tersebut harus mendapatkan izin untuk pergi, tetapi bhikkhu tersebut harus kembali dalam waktu tujuh hari. Apabila dalam waktu tujuh hari terlampaui maka Vassa menjadi gagal.


Beberapa hal yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapatkan izin untuk bepergian salama masa Vassa adalah sebagai berikut:
1.        Jika teman dhamma (bhikkhu dan samanera) atau ibu dan ayah sakit, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk merawatnya.
2.        Jika teman dhamma ingin lepas jubah (karena godaan seksual),  maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk memadamkan keinginan tersebut.
3.        Jika terdapat beberapa tugas dari Sangha yang harus dikerjakan seperti kerusakan vihara, maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mencari bahan guna perbaikannya. (biasanya tempat itu dipimpin oleh seorang Abbot atau pimpinan vihara dari anggota Sangha).
4.        Jika donatur ingin meningkatkan kebajikan mereka (kusala) dan mengundang bhikkhu maka seorang bhikkhu dapat pergi untuk mendukung keyakinan mereka.


Dari keterangan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Vassa adalah pelaksanaan berdiam diri pada suatu tempat yang sunyi dan hening untuk mendapatkan kesempatan / waktu agar bebas dari kegiatan sehari-hari selama 3 bulan yang mempunyai tujuan untuk merenugnkan segala tindakannya baik ucapan maupun pikiran yang masih mencemari dirinya (kilesa), sehingga seorang bhikkhu dapat melihat kelemahan-kelemahan yang ada serta dapat memperbaikinya.


Di dalam melaksanakan Samanadhamma pada waktu Vassa adalah sangat baik untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti:
  1. Memperbaiki vihara
Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sarana-asrana yang mengalami kerusakan-kerusakan di vihara seperti ruangan kebaktian, ruang meditasi, dan tempat tidur serta sarana-sarana lainnya seperti ruang perpustakaan. Kemudian memperbaiki dan memelihara tanaman-tanaman yang ada sehingga suasana vihara kelihatan bersih, indah, dan ketenangannya dapat terjamin.
  1. Pada hari Uposatha membicarakan tentang Dhamma.
Pada Uposatha dilaksanakan pada bulan purnama dan bulan gelap tangal 1, 8, 15 dan 23 pada penanggalan tahun lunar. Biasanya pada hari itu anggota sangha mengadakan suatu pertemuan untuk membicarakan tentang Dhamma dan Vinaya.
Kata Uposatha berarti “masuk untuk berdiam” yang mempunyai makan kepatuhan kepada sila (vinaya). Uposatha merupakan istilah yang dipakai untuk pelaksanaan suatu upacara keagamaan yagn ketat hubungan dengan menahan diri (puasa). Ini merupakan kebiasaan yang telah ada sebelum masa Sang Buddha, dan Sang Buddha menyetujui kebiasaan ini dan memperkenalkannya untuk dipergunakan sebagai hari pertemuan untuk membicarakan dan mendengarkan Dhamma dan merupakan kesempatan untuk pelaksanaan uposatha bagi umat (atthanga uposatha sila). Sehubungan dengan pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha mengizinkan mereka melakukan uposatha pada tanggal 1 dan 15 penanggalan lunar, artinya dua kali dalam sebulan.
Kemudian Sang Buddha memberikan izin kepada  Sangha untuk melakukan uposatha sendiri, di mana dalam setiap pertemuan suatu kelompok bhikkhu, seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan yang disebut dengan Patimokkha. Ini dilakukan apabila terdapat empat orang bhikkhu atau lebih. Apabila hanya terdapat dua atau tiga bhikkhu, merka disebut gana (group). Mereka diizinkan untuk memberitahukan satu sama lain tentang kemurniaan mereka masing-masing dan bila hanya terdapat seorang bhikkhu ia disebut puggala (seseorang) dan dia harus membuat Addhittanga atau tekad oleh diri sendiri. Dalam setiap vihara (yang mempunyai Sima) harus terdapat sebuah bangunan untuk uposatha  bagi sekurang-kurangnya dua puluh satu orang bhikkhu, dan tempat ini disebut Uposathagara.
  1. Meditasi
Bertujuan untuk pandangan terang yang artinya agar seorang bhikkhu dapat merenungkan segala perbuatan serta tingkah lakunya baik melalui pikiran, ucapan serta tindak tanduknya agar terhindar dari pelanggaran-pelanggaran vinaya. Sebab di dalam kehidupannya sehari-hari tentu banyak dijumpai rintangan-rintangan maupun godaan-godaan yang datangnya baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Oleh sebab itulah meditasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan serta perhatian dari segala persoalan-persoalan yagn timbul.
Pernah sekali murid Sang Buddha bertanya, “Menurut Guru, apakah cukup dengan syair-syair suci, kekuatan gaib serta ajaran Dhamma?” Lalu Sang Buddha menjawab “Tidak cukup. Seseorang mungkin menguasai syair-syair suci, lagu-lagu suci, ajaran agama, kekuatan dan tulisan gaib, tetapi jika dia tidak melakukan meditasi di dalam kehidupannya, maka di dalam dirinya tidak akan ditemukan kedamaian, seperti seseorang yagn hanya mendengarkan Dhamma melalui desas-desus, dia hidup tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak mengetahui kehidupan abadi melalui pengalaman-pengalamannya sendiri.Sama halnya dengan seseorang yang mengajarkan Dhamma pada orang lain atau mempertimbangkan Dhamma sepanjang hari. Jika seseorang tidak melakukan meditasi, dia tidak akan mengalami hal-hal yang nyata dan tidak memiliki mata batin, mereka hidup dengan tidak berpedoman pada Dhamma dan tidak akan memperoleh penerangan pada dirinya sendiri. Demikian halnya juga dengan KEBAKTIAN, seseorang tidak akan mendapatkan serta menemukan pandangan terang dengan hanya melaksanakan KEBAKTIAN. Dia harus melakukan MEDITASI. Dengan MEDITASI keseimbangan batin dapat dijaga sehingga kebijaksanaan itu timbul dan bukan yang dibuat-buat tetapi adalah tumbuh dengan sewajarnya.


Disampaing hari uposatha, para bhikkhu juga dapat melakukan latihan-latihan (melatih diri) dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar kepada bhikkhu-bhikkhu yang lebih senior atau sebaliknya para bhikkhu senior dapat memberikan pelajaran yang berguna kepada bhikkhu yang baru yang masih belum mantap baik oleh vinayanya maupun pengetahuan akan Dhammanya, sehingga nantinya akan diperoleh bhikkh-bhikkhu yang mempunyai disiplin yang baik dalam menjalankan vinaya yang dipegangnya.


Sebagai anggota Sangha yang dimuliakan oleh umat awam (biasa), apabila ditemukan bhikkhu yang tidak mempunyai disiplin yang baik, maka agama Buddha akhirnya akan hancur dan hal ini tentu tidak diinginkan oleh umat yang beragama Buddha. Oleh sebab itu agar agama Buddha dapat terjamin kelestariannya (kemurniannya) maka para bhikkhu anggota Sangha haruslah mencerminkan persatuan dan kesatuan, tidak saling gontok-gontokan atau saling menuding akan kesalahan yang diperbuat, tetapi adalah dengan jalan saling memberikan pengertian yang mendalam dan memahami akan kedudukan masing-masing pribadi dan menyelesaikan segala persoalan dengan keseimbangan pikiran yang baik serta dapat saling memberi maaf atas kesalahan-kesalahan yagn kecil maupun kesalah pada pelanggaran-pelanggaran yang besar. Dengan demikian agama Buddha tentu dapat berdiri dengan kokoh dan kelestariannya dapat terjamin.


Demikian juga dengan umat awam, dengan sendirinya mereka akan mengerti serta memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai umat Buddha yagn beragama Buddha untuk mempertahankan serta menjaga kelestarian daripada agama Buddha itu sendiri.

Kamis, 09 Desember 2010

Tujuan Hidup Yang Ideal


Tujuan Hidup Yang Ideal 

OlehYang Mulia Bhikkhu Saddhaviro





Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkannya.


Bapak, ibu, dan saudara-saudara sedhamma yang berbahagia pada kesempatan yang sangat baik ini kita akan membicarakan mengenai tujuan hidup yang ideal. Saya akan mulai dengan cerita cerita yang ada hubungannya dengan tujuan hidup.

Contoh orang pertama:
Ada seorang manusia yang mengalami kesulitan di dalam hidupnya, baik persoalan keluarga maupun persoalan pribadi lainnya. Dia merasakan hidup ini sungguh sulit, sampai-sampai hampir mau mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena merasa tidak kuat menanggung beban hidup ini. Akhirnya dia coba-coba datang ke vihara dan berkonsultasi dengan saya. Setelah dia menceritakan semua unek-uneknya, akhirnya dia bertanya, apa sih yang sebenarnya tuyjuan hidup ini, Bhante? Dalam hati saya mengatakan, andai ./['p\kesulitan-kesulitan hidup yang diderita orang itu h8ilang, pasti dia tidak akan bertanya tentang apa sih tujuan hidup itu. Karena kesulitan yang melilit pada dirinya itu, membuat dia bingung hingga tidak tahu apa tujuan hidupnya ini.

Contoh orang kedua:
Orang yang kedua ini tidak seperti orang yang pertama. Dia tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Secara materi dia mampu , apa yang diinginkan bisa terkabul. Namun setelah menikmati keberhasilannya, setelah menuruti keinginannya, sesekali di malam sepi dia merenung, Oh hidup ini kok begini, hidup seolah-olah hanya monoton, pagi bangun, setelah bangun bekerja ke kantor, setelah mengerjakan perkerjaan dikantor, sore pulang menemui keluarga, dan malam hari tidur; pagi bangun lagi, bekerja lagi, dan seterusnya. Rutinitsq kehidupan ini membuat ia bertanya kepoada dirinya apa sih tujuan hidup ini. Pertanyaan yang sama dengan orang pertama tadi, walaupun dalam kondisi yang berbeda. Dalam hati, saya berkata, Oh orang ini bergelimangan dengan kekayaan duniawi, tetapi kekayaan batin atau kebutuhan rohaninya tidak terpenuhi, sehingga dia tidak tahu arah atau tujuan hidup ini.

Contoh orang ketiga:
Orang ini mempunyai pertanyaan yang sama, walaupun latar belakangnya berbeda dengan orang yang pertama dan kedua. Setelah dengan tekun dan serius ia berlatih Vipassana selama 10 haru penuh, dimana gurunya selalu menyuruh dia mengamati tentang anicca - tentang muncul, bertahan, lenyap -, begitu terus-menerus ia mengamati hal-hal yang berkaitan dengan jasmani dan batin itu, lalu ia merasa cocok dengan latihan itu.. Tetapi akhirnya ia juga bertanya, apa sih tujuan hidup ini?

Hidup kita ini panjang, sampai Sang Buddha memberikan kiasan bahwa air mata yang kita teteskan kalau mengalami kesedihan, kesusahan dalam hidup ini, melebihi banyaknya empat samudra. Karena kalau kita kumpulkan air mata kita dari kehidupan-kehidupan yang dulu, sekarang dan yang akan datang itu, akan melebihi 4 samudra, karena kehidupan kita ini sangat panjangnya. Kalau kita tidak tahu apa tujuannya, sangatlah berbahaya, seperti 3 cerita tadi. Sebagai pelajar atau mahasiswa, kita mempunyai tujuan yaitu untuk mendapatkan ijazah atau yang lebih mendasar lagi, memberantas ketidak tahuan atau kebodohan, karena kebodohan itu membawa sengsara dalam kehidupan ini. Bagi anda yang sebagai kaumcvfgrt pebisnis, mempunyai tujuan mendapatkan keuntungan. Begitu pula kaum politikus, mempunyai target-target atau tujuan-tujuan dalam kehidupannya. Itu adalah tujuan dalam perjalanan atau jangka pendek kita. Tetapi kalau hidup yang begitu panjang, seperti kiasan Sang Buddha tadi, lalu tidak mempunyai tujuan, amatlah berbahaya, saudara. Maka dari itu, saya mengajak saudara untuk memilih tujuan hidup yang ideal. Karena kalau kita tidak memilih yang ideal, kita akan lelah mengarahkan langkah kita. Setelah tercapai loncat lagi.

Pada umumnya orang hidup, ingin:
Kaya
Berkuasa
Tenar atau populer
Berumah tangga

Sang Buddha tidak melarang tujuan-tujuan umum tadi, namun itu bukan tujuan hidup yang ideal dalam kacamata Buddha Dharma, melainkan bagaimanahidup ini bisa berbahagia, inilah tujuan hidup yang ideal. Anda mau berumah tangga, tidak menjadi bhikkhu, silakan. Anda tidak berumah tangga dan mau menjadi bhikkhu, silakan. Yang penting anda berbahagia. Inilah yang berharga. Namun kita sulit diarahkan, diajak ke dalam dasar kehidupan yang ideal ini. Orang-orang sudah tercengkeram dengan pola umum ini sejak kecil, walaupun pola umum itu akan membawa beban dalam kehidupannya. Contohnya, pola umum hidup mau berumah tangga. Begitu ibu-ibu dan bapak-bapak melihat anak perempuannya sudah berusia 25 tahun dan laki-laki berusi 30 tahun tetapi belum mendapatkan pasangan, sebagai orangtuannya lalu menjadi resah dan beban itu adalah kerana kita salah meletakkan pola hidup kita, oleh peimikiran yang klurang tepat pada kehidupan ini.

Padahal Sang Buddha tidak menegaskan bahwa hidup ini harus berumah tangga, tetapi hidup harus bahagia. Karena kehidupan ini sudah merupakan penderitaan, maka bagaimana kita bisa mengatasi penderitaan itu. Sang Buddha mengajarkan Dhamma supaya kita hidup bahagia, tidak harus berumah tangga dan juga tidak harus menjadi bhikkhu. Tetapi kita sudah tersedot oleh polah umum tadi. Kalau kita sudah berumah tangga, berhentikah tujuan hidup kita sebagai perumah tangga? Ternyata tidak. Setelah berumah tangga kurang lebih 10 tahun, tapi belum dikaruniai anak, orang ini kembali resah. Orang hidup berumah tangga pada umumnya yang diharapkan adalah mempunyai anak. Ini pandangan pada umumnya, tidak pada kebenarannya. Kalau pada kebenarannya kita harus bahagia, tapi pada umumnya harus mempunyai anak. Karena rumah tangga harus mempunyai anak, maka di situ telah lahir beban. Yang rugi adalah kita bseagai perumah tangga. Padahal Sang Buddha menegaskan, kita harus bahagia, dan tidak mengharuskan mempunyai anak. Karena pila umum tadi harus mempunyai anak, agar di hari tua nanti ada yang mengurus kita. Tapi itu bukan jaminan. Kalau karma buruk orangtua itu berbuah, walaupun mereka mempunyai anak 12 orang, tetap saja di hari tuannya tidak ada seorangpun yang dari anaknya yang mau mengurus irangtua itu. Sungguh merupakan penderitaan lain lagi bagi orangtua tersebut. Kalau saudara berpikir, bila mempunyai anak nanti pasti anaknya akan menolong orangtuanya, itu belum tentu. Ada kasus lain, orang ini tidak mempunyai anak karena dia masih bujang dan menjadi seorang bhikkhu. Karena telah begitu banyak berbuat baik dan sering menolong orang, di hari tuannya ia tidak takut tidak ada orang yang mau menolongnnya. Malah yang mau merawatnya pada rebutan, pada hal ia tidak punya anak. Tapi karma baiknya bicara.

Jadi seandainya bapak atau ibu sudah berumah tangga 10 tahun belum juga mempunyai anak, janganlah berkecil hati. Karena menurut agama Buddha atau menurut tujuan hidup yang ideal, anak bukanlah tujuan hidup. Itu hanyalah berdasarkan pola umum tadi yang mengharuskan mempunyai anak.

Kita bisa mempunyai anak karena ada karma baik di masa lampau. Setelah mempunyai anak, kita berharap lagi agar mendapatkan anak yang baik, tidak nakal, tapi ternyata anaknya nakal. Orangtua menasehati dua patah kata, anaknya sudah menjawab lima patah kata. Kadang-kadang saking jengkelnya si orangtua bertanya kepada anaknya, "Kamu ini anak siapa?", karena tidak sesuai dengan sifat orangtuannya. Kalau kita mempunyai tujuan yang sifatnya umum tadi, sudah tercapai, setelah mempunyai anak, tentunya anak yang baik kita arahkan lagi untuk mendapatkan menantu yang baik. nanti setelah mendapatkan menantu yang baik, tujuan anda bergeser lagi. Tentu saja ini melelahkan perjuangan anda di dalam kehidupan ini. Maka dari itu, saya mengajak saudara-saudara untuk mengubah cara pandang yang semacam ini. Kita arahkan kepada yang pasti, yaitu kepada kebahagiaan. Berumah tangga tidak masalah, tidak berumahtangga juga tidak masalah. Menjadi bhikkhu tidak masalah, yang penting bahagia. Punya anak tidak masalah, tidak punya anak juga tidak masalah. Punya anak yang baik atau punya anak yang tidak baik, itu tidak masalah, yang penting bahagia. Jangan yang penting hidup berumah tangga. Pernah saya ditanya oleh seseorang. Apakah bhikkhu boleh menikah? Lalu saja jawab., "Selama menjadi bhikkhu memang tidak boleh menikah, kecuali kalau sudah tidak tahan menjadi seorang bhikkhu dan menjadi umat awam kembali, dia bisa melakukan pernikahan". Bapak ini bertanya lagi, "Pak bhikkhu, apakah bapak bhikkhu dengan tidak menikah itu tidak menyalahi kodrat Tuhan yang dikatakan lahir perpasangan?". Saya menjawab, "kalau memang Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, mengapa kok ada juga yang mencari kesana kemari sampai akhirnya meninggal dunia juga tidak menemukan pasangannya? Dan perlu bapak ketahui yagn dikatakn menciptakan berpasangan itu adalah tidak perpasangan. Karena tuhan itu tidak perpasangan, jadi kalau saya ini tidak perpasangan, itu adalah karena ingin menuju hakekat Ketuhanan itu sendiri".

Menurut pandangan umum, memang hidup itu harus berpasangan, tetapi menurut agama Buddha tidak harus berpasangan, melainkan bagaimana hidup ini harus bahagia. Ityu saja yang harus dicapai dalam kehidupan ini.

Dalam mencapai bahagia, terdapat 2 macam cara, yaitu:
  1. Kebahagiaan yang bermata kail
  2. Kebahagiaan yagn tidak bermata kail
1. Kebahagiaan yang bermata kail, contohnya adalah kebahagiaan yang kita dapatkan melalui indera-indera kita, yaitu melalui mata melihat yang indah, kuping mendengar yang merdu-merdu, kulit merasakan sentuhan yang nikmat, mulut merasakan makanan yang enak, hidup mencium bauk yang menyenangkan. kebahagiaan ini adalah kebahagiaan awal. kebahagiaan yang sangat mudah kita dapatkan, namun sering mebuat malapetaka dalam kehidupan kita. Itu karena kebahagiaan ini diikuti oleh kemelekatan, diikuti oleh ketagihan dan kalau tidak dipenuhi kita akan tersiksa.

2. Kebahagiaan yang tidak bermata kail. bisa didapatkan dari olah kejiwaan, latihan berpuasa dan latihan meditasi. Dengan meditasi kita akan mendapatkan kegiuran, dan dengan meditasi akan mendapatkan jhana, ketenangan. Itulah yang disebut kebahagiaan yang tidak bermata kail, karena kebahagiana yang kita capai berasal dari diri kita sendiri, bukan berasal dari luar diri kita. Kalau diibaratkan air, kebahagiaan yang bermata kali itu diibaratkan seperti air yang berada di dalam kolam. Air hanya akan ada di sana kalau ada yang mengisinya, entah itu dari huajan atau dari orang yang mengisi kolam tersebut. Begitu air tersebut kita gunakan untuk mencuci, mandi dan sebagainya, maka air kolam itu bisa menjadi habis kalau tidak diisi lagi. Kalau diiisi lagi, bermata kali lagil itu kebahagiana yang pertama tadi. Kebahagiaan yang kedua, yaitu kebahagiaan dari dalam diri kita, ibaratnya air di dalam sumur yang menang airnya keluar dari dalam. Pagi kita pakai mencuci, siang mandi, sorenya sudah terisi lagi, tanpa perlu ada yang mengisi sumur itu. Airnya akan mengalir dengan sendirinya.

Teori-teori kebahagiaan bagi umat awam:
  1. Bahagia karena mempunyai kekayaan. Pengertiaan di sini adalah kita boleh mencari kekayaan sebanyak-banyaknnya, asalkan jangan sampai kekayaan itu menyiksa kita, jangan sampai kekayaan itu tidak mampu melahirkan kebahagiaan dalam kehidupan kita ini, mengingat tujuannya yang ideal dalam hidup ini adalah bahagia. Setelah seseorang bekerja membanting tulang, waktu orang ini berpikir, saya mempunyai rumah, mobil, tanah, dan sebagainya, maka kebahagiaan akan muncuk, kepuasan akan muncul. Itulah yang dikatakan kebahagiaan yang karena memiliki kekayaan.
  2. Kebahagiaan karena bisa menggunakan kekayaan. Setelah kita kaya, kita bisa membantu orang lain. Dan setelah tahu karena bantuan kita orang lain yang kita bantu itu bisa terbebas dari kesulitan, pada saat berpikir demikian, kebahagiaan akan muncul di dalam diri kita. Itulah yang dikatakan kebahagiaan karena bisa menggunakan kekayaan.
  3. Kebahagiaan apabila tidak mempunyai hutang. Dengan tidak mempunyai hutang. Kita tidak akan merasa gelisah karena dikejar-kejar oleh si penagih hutang.
  4. Kebahagiaan karena perbuatan kita baik atau perbuatan kita tidak tercela. Apabila kita tidak mempunyai perbuatan-perbuatan yang tercela di masyarakat, kita akan mendapatkan kebahagiaan. Dengan tidak berbohong, kita tidak akan diganggu oleh kebohongan kita. Orang lain memang bisa kita bohongi, tetapi kebohongan yang kita lakukan itu tidak bisa kita ikut sertakan kepada orang lain. Kebohongan yang kita lakukan itu mengikuti kita, bukan mengikuti orang lain.
Tiga tahapan atau cara lain untuk mendapatkan kebahagiaan, yang berkaitan dengan keinginan:
  1. Bahagia karena tercapainya keinginan kita.
  2. Bahagia karena terkendalinya keingian kita, bisa menjaga emosi kita.
  3. Kebahagiaan karrena berhasil memadamkan keinginan kita.
Itulah cara-cara untuk mendapatkan kebahagiaan.

Kesimpulannya: apabila kita hidup sesuai dengan Dhamma, kita akan bahagia, baik pada saat ini maupun saat yang akan datang. Inilah tujuan hidup yang ideal.

(Sumber : Ceramah Dhamma, disadur oleh: Panitia Ceramah Dhamma VIhara Buddha Sakyamnuni, Denpasar, diedit oleh: Ir Lindawati T. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV, atas izin Ir. Lindawati T)

[ Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia edisi 78 ]