•MEMBERSIHKAN PIKIRAN••
Mungkinkah selembar daun yg kecil dapat menutupi bumi yg luas ini?
Menutupi telapak tangan saja sulit...
T a p i kalo daun kecil ini menempel di mata kita, m a k a tertutuplah bumi...
Begitu juga bila DIRI kita di tutupi PIKIRAN BURUK sekecil apapun,
m a k a kita akan melihat keburukan di mana², Bumi ini pun akan tampak buruk...
Jangan menutup MATA kita, w a l a u p u n hanya dgn daun yg kecil..
Jangan menutupi DIRI kita dgn sebuah PIKIRAN BURUK, w a l a u hanya seujung kuku...
Bila DIRI kita TERTUTUP,
m a k a TERTUTUPLAH SEMUA...
Air yg banyak di lautan luas yg dalam takkan sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yg ada di atasnya, kecuali kalo air itu mulai masuk ke dalam perahu.
Demikian juga dgn hidup ini, Gosip & segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita.
Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan smua itu masuk ke dalam pikiran kita.
Menjaga PIKIRAN itu bukanlah tanggung jawab orang lain,
melainkan adalah tanggung jawab kita masing².
Kita tidak bisa menyalahkan ORANG LAIN untuk setiap masalah yg hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, k a r e n a sudah membiarkan "sampah" masuk & mengotori hidup kita. Kita harus menyaring apapun yg masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita.
Jangan LENGAH...
SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA! <3
Minggu, 23 November 2014
Sabtu, 05 Juli 2014
Pemimpin Perspektif Buddhis
Pemimpin Perspektif Buddhis
Oleh Willy Liu
Kita semua tahu bahwa dalam setiap
aspek kehidupan bermasyarakat, seorang pemimpin memegang peranan yang sangat
penting. Pada zaman dahulu, ketika perang dalam perebutan kekuasaan suatu
kerajaan, peranan pemimpin sangat menentukan. Ketika di medan perang, kematian
seorang pemimpin prajurit akan mencerai-berai pasukan dan secara otomatis
dinyatakan kalah. Begitu pula raja di suatu kerajaan ketika terbunuh maka
dikatakan kerajaannya telah runtuh.
Di zaman modern seperti ini, peran
seorang pemimpin menjadi lebih penting dan menjadi kunci suatu keberhasilan.
Apabila seorang pemimpin keluarga tidak mampu memimpin dengan baik, keluarga
akan tidak harmonis. Apabila seorang pemimpin negara tidak arif dalam memimpin,
suatu pemerintahan akan menjadi kacau dan terjadi ketidaktenangan dalam
kehidupan bernegara. Pun, apabila pemimpin spiritual atau suatu agama tidak
bersikap bijak dalam menyebarkan ajarannya, maka yang terjadi adalah umat yang
penuh dengan kefanatikan dan anarkis.
Mengetahui betapa pentingnya
seorang pemimpin, tentu pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana ciri atau
karakter pemimpin yang baik menurut Ajaran Buddha? Hal-hal apa saja yang harys
dilakukan oleh seorang pemimpin dalam perspektif Buddhis? Sebelum membahas
lebih lanjut, kita akan melihat salah satu karakter pemimpin terbaik sepanjang
sejarah umat manusia. Beliau adalah Sang Buddha, Sidhartha Gautama.
Memimpin dengan
Kearifan
Kita mengetahui bahwa dalam Sang
Buddha merupakan seorang figur pemimpin yang ideal. Beliau memimpin berdasarkan
ajarannya yaitu berlandaskan kebijaksanaan dan cinta kasih. Sumber-sumber
menunjukkan bahwa beliau memimpin penuh dengan demokrasi. Setiap aturan yang
ditetapkan oleh Buddha ada alasannya. Setiap kali seorang perilaku muridnya
yang kurang baik, Sang Suddha akan menetapkan aturan winaya.
Kepemimpinan Sang Buddha juga
terlihat takkala Beliau menyelesaikan konflik yang terjadi pada Suku Sakya dan
Suku Koliya. Kedua suku tersebut hampir berperang karena berebut air. Kedua
suku tersebut dipisahkan oleh sungai Rohini. Biasanya kedua suku tersebut
menggunakan air dari sungai tersebut secara bersama-sama mengairi sawah
masing-masing.
Pada suatu musim kemarau, air
sungai tersebut berkurang dan membuat hasil panen berkurang. Kemudian,
orang-orang dari Suku Koliya mulai mengatakan bahwa air sungai tidak cukup
untuk dibagi berdua sehingga mereka yang akan memakai air sungai tersebut
sedangkan suku Sakya tidak boleh menggunakannya. Timbullah pertengkaran,
caci-maki dan saling menghujat. Lantas yang terjadi adalah sama-sama saling
berebut air. Beberapa orang mulai melakukan kekerasan dan memukul suku lainnya
sehingga pada akhirnya kedua suku menyiapkan pasukan hendak berperang.
Ketika Sang Buddha datang, Beliau
bertanya kepada kedua pemimpin masing-masing suku tersebut. Kedua pemimpin
malah tidak mengetahui kenapa sebabnya. Selidik-menyidik, Sang Buddha bertanya
langsung kepada warga pekerja dan kemudian dikatakan penyebabnya adalah karena
berebut air. Kemudian, dengan kebijaksanaan dan cinta Beliau kepada setiap
orang, Beliau bertanya kepada raja masing-masing suku berapakah harga air. Dijawablah
bahwa harga air hampir tiada artinya. Lalu, Sang Buddha bertanya, “Berapakah
nilai kehidupan rakyat anda?”. Sang Raja menjawab, “tentu saja harga nyawa
tiada ternilai harganya.” Kemudian, Sang Buddha Bersabda, “Baiklah kalau
begitu. Apakah tepat bahwa untuk air yang hampir tiada artinya, anda akan
menghancurkan banyak kehidupan yang harganya tidak ternilai?”
Akhir cerita jelas, kedua
pemimpin (raja) tersebut berdamai karena pendekatan Buddha yang arif dan lembut
dalam menyelesaikan suatu konflik. Inilah salah satu contoh pemimpin ideal yang
melakukan sesuatu dengan cara-cara yang terbaik bagi semua pihak.
Karakteristik
Pemimpin
Menurut ajaran Buddha, seorang pemimpin yang baik
selayaknya mempunyai sepuluh karakter pemimpin (Dasa Raja Dhamma). Di dalam kitab Jataka, disebutkan 10 ciri
seorang pemimpin dikatakan baik, yaitu:
1.
Dana
(Kedermawanan)
Seorang pemimpin seharusnya murah hati. Pemimpin dapat
menjadi contoh bagi pengikutnya. Kualitas kedermawanan ini sangat penting dan
bertolak belakang dengan keserakahan, karena dengan kedermawanan seorang
pemimpin akan disenangi oleh pengikutnya.
2.
Sila
(Moralitas)
Seorang pemimpin harus memiliki moral yang baik dan Hukum
harus dipatuhi. Setiap pikiran, ucapan dan perbuatan seorang pemimpin haruslah
berlandaskan kebaikan dan cinta serta kebijaksanaan.
3.
Paricagga (Pengorbanan diri)
Ketika menjadi seorang pemimpin, ia telah berkorban untuk melayani
pengikutnya. Seorang pemimpin negara (raja) harus berpandangan bahwa ia akan
mengorbankan diri demi kesejahteraan rakyatnya. Kualitas ini penting karena
apabila seorang pemimpin tidak mempunyai karakteristik ini, berarti ia ada
pemimpin yang egois dan akan selalu mementingkan diri sendiri.
4.
Ajjava (Integritas, tulus, jujur)
Sebagai pemimpin tugas-tugasnya seharusnya dilakukan dengan tulus.
Dedikasikan sepenuhnya pada apa yang seharusnya seorang pemimpin lakukan. Jujur
pada diri sendiri dan orang lain akan membuat pemimpin dihargai oleh
pengikutnya dan dihormati dengan tulus.
5.
Maddava (Baik hati, Bertanggung
jawab)
Siapapun orangnya dan apapun tugasnya, seseorang seharusnya memiliki tanggung
jawab pada tugasnya. Pemimpin dituntut mempunyai tanggung jawab ekstra sehingga
disiplin sebagai seorang pemimpin. Dengan begitu siapapun akan menghargai
pemimpin tersebut sepenuh hati. Seroang pemimpin hendaknya berlaku baik,
menjaga sopan santun dan tata krama sesuai norma setempat.
6.
Tapa (Sederhana)
Sebagai seorang pemimpin janganlah berlaku sombong dan berlebihan. Menurut
ajaran Buddha, kesederhanaan merupakan salah satu kunci untuk melatih diri
mengendalikan keserakahan. Gaya hidup mewah sebaiknya dihindari oleh seorang
pemimpin. Tunjukkan bahwa kesederhanaan hidup lebih baik dan berarti daripada
gaya hidup mewah dan sombong.
7.
Akkodha (Tanda kemarahan, tiada
membenci)
Jelas, andaikata seorang pemimpin sering marah-marah akan membuat ketakutan
pengikutnya dan pengikutnya akan menjalankan perintah bukan berdasarkan
kesadaran dan tidak akan optimal. Terkadang pemimpin memang perlu tegas namun
bukannya dengan marah-marah berlebihan. Ekspresi seorang pemimpin bisa
menegaskan kewibawaannya. Janganlah pemimpin juga menyimpan benci atau rasa
tidak senang kepada lawannya. Cobalah bersikap bersahabat daripada membenci.
8.
Avihimsa (Tanpa kekerasan)
Seringkali sebagian orang berpikir bahwa dengan kekerasan masalah bisa
diselesaikan. Mungkin untuk beberapa kasus bisa, namun umumnya yang terjadi
adalah kebencian dan dendam akan semakin kuat dan meluas. Dalam ajaran Buddha
belas kasih (karuna) dan cinta
universal (metta) memegang peranan
aktif dari karakteristik ini.
9.
Khanti (Kesabaran)
Banyak masalah timbul dari ketidaksabaran dan emosi negatif sesaat kita.
Kemarahan adalah salah satu wujud dari ketidakmampuan kita untuk mengendalikan
emosi kita, karena kita tidak berlatih sabar. Untuk itulah kesabaran menjadi
salah satu karakteristik pemimpin yang penting.
10. Avirodha
(Tidak mencari permusuhan)
Karakteristik
yang ini sudah sangat jelas. Tentu saja ini bisa dilakukan apabila seorang
pemimpin mempunyai moralitas yang baik, mematuhi hukum, menjaga pikiran,
mengendalikan ucapan. Tanpa disiplin moral yang baik, setiap tindakan akan
mengundang permusahan orang sehingga akhirnya merugikan diri sendiri juga.
Kepemimpinan
Perempuan
Seringkali pemimpin identik
dengan seorang laki-laki, padahal tidaklah harus demikian. Kita bisa melihat
dalam banyak kasus perempuan-perempuan dapat memimpin dengan baik. Salah satu
contoh terbaik saat ini adalah Master Cheng Yen. Beliau adalah salah satu
pemimpin Buddhis yang namanya tidak asing lagi. Walaupun Beliau seorang biksuni
dan memimpin salah satu Organisasi Nirlaba terbesar di dunia, Yayasan Buddha
Tzu Chi, Beliau tetap dapat mempunyai sepuluh karakteristik pemimpin seperti
yang disebutkan.
Sang Buddha sendiri mengatakan dengan jelas bahwa baik
pria maupun wanita mampu menjadi seorang pemimpin bahkan pencerahan menjadi
Buddha pun bisa terjadi. Pada suatu ketika, saat Sang Buddha sedang bersama
Raja Pasenadi, datanglah seorang pelayan menghampiri raja dan mengatakan, “Baginda, Ratu Malika telah melahirkan
seorang anak perempuan.” Raja kemudian menjadi tidak senang mendengar
berita tersebut. Sang Buddha dengan penuh perhatian menyadari dan bertanya
kepada Raja Pasenadi. Setelah mengetahui sebabnya, Sang Buddha berkata:
“Seorang
perempuan, O Raja,
Bisa
menjadi lebih baik daripada dari seorang laki-laki:
Dia
mungkin bijaksana dan luhur,
Seorang
istri yang berbakti, menghormati ibu-mertuanya. (408)
“Seorang
putera yang dia lahirkan
Mungkin
menjadi pahlawan, O penguasa wilayah,
Putera dari
perempuan terberkahi seperti itu
Bahkan bisa
memerintah dunia.” (409)
Samyutta Nikaya I,3 (Bagian Sagathavagga,
sutta Kosalasamyutta)
Dari sutta (ucapan
Sang Buddha) tersebut, kita dapat melihat bahwa Sang Buddha memandang laki-laki
dan perempuan setara dan mempunyai kemampuan yang sama. Di sutta no. 408 bahkan dikatakan seorang perempuan bisa jadi menjadi
lebih baik daripada anak laki-laki. Artinya adalah bahwa dengan melatih diri, seseorang
dapat menjadi lebih bijaksana, luhur, cerdas baik itu ia seorang perempuan
maupun laki-laki. Jadi, dari sini terlihat bahwa perempuan pun dapat
memimpin dengan baik dan bijak.
Lebih lanjut sutta
no. 409, Sang Buddha mengatakan bahwa mungkin anak dari perempuan yang
dilahirkan dan didik dengan baik tersebut akan mempunyai anak yang dapat
memerintah dunia. Hal tersebu mengindikasikan bahwa watak seorang anak banyak
dipengaruhi ibunya. Inilah salah satu peran perempuan sebagai pemimpin
anak-anaknya.
Dengan didikan yang baik dari seorang ibu
(pemimpin), seorang anak
(pengikut) akan menjadi
bijaksana dan luhur. Jadi, peran perempuan menjadi penting untuk menghasilkan generasi
yang lebih baik di masa mendatang. Sehingga sangat salah jika dikatakan bahwa perempuan tidak
memerlukan pendidikan seperti laki-laki, karena untuk mendidik anak laki-laki
atau perempuannya, seorang perempuan selayaknya diberi pengetahuan dan
pendidikan yang sesuai.
Lebih lanjut seorang perempuan dapat menjadi seorang pemimpin
yang lebih baik daripada laki-laki, begitu pula sebaliknya. Hal ini tidak
berarti perempuan harus berlomba-lomba menjadi pemimpin bersaing dengan
laki-laki. Perempuan dan laki-laki dapat saling melengkapi.
Referensi:
Widya, Dharma K. 2007. Dharma Ajaran Mulia Sang Buddha.
Jakarta: PP MAGABUDHI.
Hansen, Sasanasena Seng. 2008. Ikhtisar Ajaran Buddha.
Yogyakarta: Vidyasena Production.
Wijaya, Willy Yandi. Ulasan Sutta: Anak Perempuan.
Label:
inspirasi,
Perspektif Buddhis
Selasa, 01 Juli 2014
PANCA-DHAMMA (5 macam kebajikan)
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
¤¤¤¤ PANCA-DHAMMA ¤¤¤¤
( 5 macam kebajikan)
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
•1• METTA-KARUNA: Cinta kasih dan belas kasihan (Kebajikan pertama ini sama dengan sila pertama dari Pancasila Buddhis).
•2• SAMMA-AJIVA: Pencaharian benar ( Kebajikan kedua ini sama dengan sila kedua dari Pancasila Buddhis).
•3• KAMA-SAMVARA: Penahanan diri terhadap napsu indera (Kebajikan ketiga ini sama dengan sila ketiga dari Pancasila Buddhis).
•4• SACCA: Kebenaran, yaitu benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran (Kebajikan keempat ini sama dengan sila keempat dari Pancasila Buddhis).
•5• SATI-SAMPAJANNA: Kesadaran benar (Kebajikan kelima ini sama dengan sila kelima dari Pancasila Buddhis).
CATATAN:
~ Bila ingin melaksanakan Pancasila Buddhis secara sempurna, wajib memperkembangkan dalam diri Panca-Dhamma, sehingga perbuatan dan perkataan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.
~ Ada kalanya Panca-dhamma ini disebut juga Kalyana-dhamma 5.
(Dighanikaya III.235, Anguttaranikaya III.203).
#########
\P/A\N/J\I/K\A/
#########
¤¤¤¤ PANCA-DHAMMA ¤¤¤¤
( 5 macam kebajikan)
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
•1• METTA-KARUNA: Cinta kasih dan belas kasihan (Kebajikan pertama ini sama dengan sila pertama dari Pancasila Buddhis).
•2• SAMMA-AJIVA: Pencaharian benar ( Kebajikan kedua ini sama dengan sila kedua dari Pancasila Buddhis).
•3• KAMA-SAMVARA: Penahanan diri terhadap napsu indera (Kebajikan ketiga ini sama dengan sila ketiga dari Pancasila Buddhis).
•4• SACCA: Kebenaran, yaitu benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran (Kebajikan keempat ini sama dengan sila keempat dari Pancasila Buddhis).
•5• SATI-SAMPAJANNA: Kesadaran benar (Kebajikan kelima ini sama dengan sila kelima dari Pancasila Buddhis).
CATATAN:
~ Bila ingin melaksanakan Pancasila Buddhis secara sempurna, wajib memperkembangkan dalam diri Panca-Dhamma, sehingga perbuatan dan perkataan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.
~ Ada kalanya Panca-dhamma ini disebut juga Kalyana-dhamma 5.
(Dighanikaya III.235, Anguttaranikaya III.203).
#########
\P/A\N/J\I/K\A/
#########
Senin, 23 Juni 2014
Bakti Oleh Ajahn Chah
Bhakti.
Ketika seorang anak tidak patuh, terkadang orang tuanya harus membiarkannya saja agar tidak ada pertengkaran, sekarang orangtuamu sama seperti anak kecil itu, ingatan dan persepsinya sudah melemah. Terkadang ia memutar-balikkan namamu atau ia memintamu untuk mengambil gelas, padahal yang diinginkan adalah piring. Ini adalah hal yang wajar, jangan biarkan itu menjengkelkanmu.
Seseorang yang merawat orang tua mereka harus mengisi pikirannya dengan cinta kasih dan kehangatan, serta tidak tergoda oleh perlawanan. Ini adalah merupakan saat dimana kalian dapat membalas budi pada mereka. Sejak lahir sampai masa kanak-kanak, juga semasa tumbuh dewasa, kalian selalu tergantung pada orang tuamu. Bahwasanya kalian bisa berada disini saat ini adalah karena kedua orang tuamu telah banyak membantumu dengan berbagai cara, kalian banyak berhutang jasa pada mereka.
Jadi hari ini, kalian semua anak-anak dan sanak saudara berkumpul disini. Amatilah bagaimana ayah ibu kalian telah menjadi anak kalian.
Sebelumnya kalianlah anak-anaknya, sekarang dia yang menjadi anakmu. Dia telah menjadi tua dan semakin tua sampai kembali ia menjadi anak lagi. Ingatannya telah melemah, penglihatannya sudah tidak begitu jelas lagi, demikian pula dengan pendengarannya.Terkadang ia meracau dalam berkata-kata, jangan biarkan pikiran kalian semua menjadi susah karenanya, dan kalian yang merawat harus tahu pula bagaimana untuk melepas, jangan berpegang pada segala sesuatu, biarkan semua berjalan menurut caranya sendiri.
~Ajahn Chah~
Ketika seorang anak tidak patuh, terkadang orang tuanya harus membiarkannya saja agar tidak ada pertengkaran, sekarang orangtuamu sama seperti anak kecil itu, ingatan dan persepsinya sudah melemah. Terkadang ia memutar-balikkan namamu atau ia memintamu untuk mengambil gelas, padahal yang diinginkan adalah piring. Ini adalah hal yang wajar, jangan biarkan itu menjengkelkanmu.
Seseorang yang merawat orang tua mereka harus mengisi pikirannya dengan cinta kasih dan kehangatan, serta tidak tergoda oleh perlawanan. Ini adalah merupakan saat dimana kalian dapat membalas budi pada mereka. Sejak lahir sampai masa kanak-kanak, juga semasa tumbuh dewasa, kalian selalu tergantung pada orang tuamu. Bahwasanya kalian bisa berada disini saat ini adalah karena kedua orang tuamu telah banyak membantumu dengan berbagai cara, kalian banyak berhutang jasa pada mereka.
Jadi hari ini, kalian semua anak-anak dan sanak saudara berkumpul disini. Amatilah bagaimana ayah ibu kalian telah menjadi anak kalian.
Sebelumnya kalianlah anak-anaknya, sekarang dia yang menjadi anakmu. Dia telah menjadi tua dan semakin tua sampai kembali ia menjadi anak lagi. Ingatannya telah melemah, penglihatannya sudah tidak begitu jelas lagi, demikian pula dengan pendengarannya.Terkadang ia meracau dalam berkata-kata, jangan biarkan pikiran kalian semua menjadi susah karenanya, dan kalian yang merawat harus tahu pula bagaimana untuk melepas, jangan berpegang pada segala sesuatu, biarkan semua berjalan menurut caranya sendiri.
~Ajahn Chah~
Jumat, 30 Mei 2014
Belenggu dan Tingkat Kesucian
Belenggu dan Tingkat Kesucian
Ada 10 belenggu (dasa samyojana) :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparāga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparāga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Māna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjā)
Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus/pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana.
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa.
Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.
Ada 10 belenggu (dasa samyojana) :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparāga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparāga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Māna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjā)
Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus/pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana.
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa.
Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.
Langganan:
Postingan (Atom)
