Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Jumat, 13 November 2015

Fanatisme dan Keyakinan (Saddha)




Fanatisme dan Keyakinan (Saddha)





Ini adalah salah satu topik yang dalam aplikasinya masih sangat rancu. Kerancuan itu dapat terjadi karena batas diantara keduanya sangat tipis, namun bila yang satu menuju ke sebuah kebaikan maka yang lainnya akan memberikan sebuah kerugian besar. Tulisan ini didasarkan pada sabda-sabda Sang Buddha sebagaimana tercantum di dalam kitab suci Tripitaka namun dengan bahasa yang sederhana sesuai kapasitas pemahaman pribadi saya.

Keyakinan yang dinamakan Saddha, adalah iman atau kepercayaan yang berdasarkan kebijaksanaan. Keyakinan dalam ajaran Sang Buddha bukan berdasarkan atas rasa percaya semata atau bahkan rasa takut, tapi keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan (ehipassiko). Kegembiraan tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang hanya memiliki keyakinan yang didasari atas rasa takut atau karena kepercayaan yang membuta. Karena sesungguhnya kegembiraan itu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki pengertian benar dan kebijaksanaan.

Seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha bahwa seseorang yang bermoral dan berwatak baik akan belajar bahwa demikianlah seharusnya cara hidup seorang siswa yang mematahkan kecenderungan buruk, mencapai kesempurnaan lewat jalan kebijaksanaan dan pemusatan pikiran bersih dari dorongan yang keliru .Setelah ia sendiri memahami dan menyadari akan tujuan yang lebih luhur dari hidup ini, lalu berpikir untuk melaksanakannya sendiri (Puggala-Pannatti, III, 1). Sariputra (salah seorang siswa utama Sang Buddha) juga mengungkapkan bahwa keyakinan yang baik itu harus diuji dengan mengendalikan indra. Dengan keyakinan ini, semangat, kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan berkembang terus menerus. "Sebelumnya aku hanya mendengar hal-hal ini, sekarang aku hidup dengan mengalaminya sendiri. Kini dengan pengetahuan yang dalam aku menembusnya dan membuktikan secara jelas" (Samyutta Nikaya . V, 226).

Setelah melihat uraian di atas, kita sudah mengetahui bahwa Saddha adalah sebuah keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan dengan pengertian yang benar serta penuh kebijaksanaan. Iman semacam itu dikategorikan sebagai iman yang rasional (akaravati-saddha). Sebuah iman yang dewasa tentu saja akan berbeda dengan iman yang kekanak-kanakan atau membuta. Iman yang kekanak-kanakan atau membuta inilah yang dikenal sebagai Fanatisme. Sang Buddha juga pernah menyampaikan bahwa seseorang yang kuat dalam keyakinan tetapi lemah dalam kebijaksanaan akan memiliki keyakinan yang fanatik dan tanpa dasar.

Sedangkan seseorang yang kuat dalam kebijaksanaan tetapi lemah dalam keyakinan akan mengetahui bahwa ia bersalah jika berbuat kejahatan, tetapi sulit untuk menyembuhkannya bagaikan seseorang yang penyakitnya disebabkan oleh si obat sendiri. Bila keduanya seimbang, seseorang akan memiliki keyakinan hanya bila ada dasarnya (Visuddhimagga. 129).

Dalam Brahmajala-sutta tercatat bagaimana Sang Buddha mengajarkan siswanya agar bersikap kritis terhadap penganutan agama Buddha sendiri: "Para Bhikkhu, jika ada orang berbicara menentang aku, atau menentang Dharma atau menentang Sangha, janganlah karena hal itu engkau menjadi marah, benci, atau menaruh dendam. Jika engkau merasa tersinggung dan sakit hati, hal itu akan menghalangi perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika engkau merasa jengkel dan marah ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang menentang kita, bagaimana engkau dapat menilai sejauh mana ucapannya itu benar atau salah?... Jika ada orang yang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Aku, atau Dharma atau Sangha, engkau harus menjelaskan apa yang keliru dan menunjukkan kesalahannya dengan menyatakan berdasarkan hal ini atau itu, tidak benar, itu bukan begitu, hal demikian tidak diketemukan di antara kami dan bukan pada kami. Sebaliknya pula, Bhikkhu, jika orang lain memuji Aku, memuji Dharma, memuji Sangha, janganlah karena hal tersebut engkau merasa senang atau bangga atau tinggi hati. Jika engkau bersikap demikian maka hal itu itu pun akan menghalangi perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika orang lain memuji Aku, atau Dharma atau Sangha, maka engkau harus membuktikan kebenaran dari apa yang diucapkan dengan menyatakan berdasar hal ini atau itu, ini benar, itu memang begitu, hal demikian terdapat di antara kami, ada pada kami" (Digha-Nikaya. I, 3).

Setelah membaca semua sabda-sabda Sang Buddha di atas, apa yang sekarang muncul di dalam benak anda sekalian? Bagi saya pribadi, ajaran Sang Buddha lebih menitik-beratkan pada pengembangan religiusitas mental dan batin kita ketimbang sebuah keberAGAMAan. Sebagaimana dikatakan oleh Bodhidharma, bahwa Buddha tak dapat ditemukan dalam kitab suci. Ia mengajarkan untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dengan kesadaran dan kesucian yang sempurna, karena di situlah kita akan bertemu dengan Buddha. Mungkin banyak diantara anda yang sering melihat orang-orang di sekeliling anda yang kuat menganut agamanya secara lahiriah, tapi tidak seiring dengan perkembangan religiusitas mental dan batinnya. Orang bisa saja sangat taat beribadah, namun di dalam rumahnya ia menyiksa istrinya dan di luar rumahnya ia seorang lintah darat.

Boleh jadi orang gigih menganut agama dengan motivasi tertentu seperti dagang, karier atau tuntutan calon mertua. Orang yang militan dalam kegiatan organisasi agama, namun mengobarkan kebencian dan permusuhan, tidak peduli dengan kesulitan orang lain, tidak jujur, tidak adil, tentunya tidak religius. Sebaliknya ada orang yang tidak begitu cermat menaati aturan agama (bukan mengenai nilai moral yang universal) atau bahkan ia juga tidak mengenal agama sama sekali, namun ia cinta pada kebenaran, lurus, tidak munafik, tidak egois, tidak serakah dan suka menolong, maka ia bisa disebut religius.

Jadi sekarang pilihan berada di tangan anda. Karena sesungguhnya Sang Buddha sudah membabarkan secara lengkap dan sempurna mengenai perbedaan antara Saddha & Fanatisme.

Artikel ini sendiri bersumber dari tulisan Bapak Khrisnanda Wijaya-Mukti dalam bukunya yang sangat indah dan berjudul
"Wacana Buddha-Dharma". Buku tersebut dan juga nasehat mama saya, telah sangat banyak membantu saya keluar dari kesalahan pandangan saya sebagai seorang siswa Sang Buddha. Saya sendiri mengenal Buddha-Dharma pada tahun 1997 (kemudian menerima Tisarana & Pancasila pada tahun yang sama). Namun bukan kedamaian yang saya temukan akan tetapi "debat kusir" yang tak perlu serta berkepanjangan dengan famili dan para sahabat yang kebetulan non-Buddhis.

Puncaknya adalah tahun 2003, saat saya mendapat kesempatan menjadi seorang Dharmaduta, karena pada saat itu saya justru lebih banyak melakukan ADharma (dengan cara melakukan musavada tentang keyakinan-keyakinan selain Buddhis kepada para umat). Nasihat mama saya pun hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Tahun 2004 saya mendapatkan buku yang sangat berharga itu, yang juga kemudian menyadarkan saya akan kebenaran nasehat mama saya selama ini. Seperti Angulimala, saya akhirnya membuang "pedang" saya dan menggantinya dengan sebuah teratai kebenaran. Keindahan lain yang saya rasakan adalah saat saya bisa mengenalkan Buddha-Dharma kepada rekan-rekan non-Buddhis, karena kini saya datang kepada mereka dengan kedamaian.

Teman-teman sekalian, jadikan Buddha-Dharma sebagai pembebasmu dan bukan sebagai belenggumu, karena sesungguhnya Sang Buddha pun juga sudah menguraikan bahwasanya kebanggaan berlebihan (beragama Buddha) juga adalah salah satu penghalang kita dalam mencapai kemenangan (Nibbana). Selamat berbuat kebajikan dan semoga semua mahkluk selalu hidup berbahagia, Saddhu.

(Refernsi Buku "Wacana Buddha-Dharma" karya Bapak Krishnanda Wijaya-Mukti)

RENUNGAN KELAHIRAN USIA-TUA SAKIT DAN KEMATIAN

RENUNGAN KELAHIRAN USIA-TUA, SAKIT DAN KEMATIAN

FAKTA & REALITA

(Untuk kalangan sendiri)

Terjemahan dari:
The Hundred Thousand Song of Milarepa



RENUNGAN KELAHIRAN USIA-TUA SAKIT DAN KEMATIAN


Sahabatku yang baik, pengembaraan di alam kehidupan ini adalah akibat kesadaran rendah yang digerakkan oleh kebencian dan nafsu keinginan besar, kemudian masuk ke dalam kandungan sang Ibu.

Dalam kandungan ia merasa seperti ikan yang terjerat di antara batu-batu karang, terbaring dalam darah dan cairan kuning, dengan kotoran sebagai bantal, tertekan dalam kotoran ia menderita kesakitan, tubuh yang buruk dari karma yang buruk pun lahir.

Walaupun ingin kembali ke masa lalu, tak sepatah katapun dapat diucapkan. Sekarang terpanggang dalam panas, beku oleh dingin, dalam waktu sembilan bulan ia muncul, dari kandungan ibu yang penuh rasa sakit, sangat mengerikan

Seolah-olah ditarik keluar dari jepitan, keluar dari kandungan kepalanya ditekan sakitnya bagaikan dilempar ke dalam semak berduri, tubuh yang mungil dalam pangkuan sang Ibu, bagaikan burung seriti begulat dengan Rajawali

Apabila dari tubuh bayi yang lembut itu, darah dan kotoran dibersihkan, rasa sakitnya bagaikan kulit dikupas hidup-hidup, bila tali pusat dipotong rasanya seolah-olah tulang punggung luka berat, bila diletakkan dalam ayunan, serasa diikat dengan rantai, terpenjara dalam kamar gelap

Yang tidak sadar akan kebenaran, selamanya tidak akan terhindar dari ancaman kelahiran, karenanya jangan menuda-nunda pengabdian, bila seseorang meninggal, kebutuhannya yang tertinggi adalah Dharma.

Dengarkanlah sahabatku, mengenai penderitaan manusia, menyedihkan sekali tubuh seseorang yang telah menjadi lemah dan lapuk, siapa yang dapat menolong dari ancaman usia tua, selain hanya merasa cemas?

Jika usia tua telah menjelang, tubuh yang gagah menjadi bongkok, jika mencoba berjalan tegak gagallah keingingannya, rambut yang hitam kini berubah menjadi putih, matanya yang terang menjadi rabun, kepalanya goyang karena pening, telinganya yang peka menjadi tuli, pipi yang semu merah menjadi pucat.

Darahnya pun mengering, hidung cagak rautnya tenggelam, giginya menonjol keluar, tak dapat mengendalikan lidah, dia menganggap semakin dekat saat kematian, rasa susah dan hutangnya bertambah, dia kumpulkan makanan dan sahabatnya,

Namun dia gagal mempertahankan semuanya, ketika mencoba untuk tidak menderita, penderitaannya semakin bertambah. Apabila ia menceritakan kebenaran pada seseorang, jarang yang mempercayainya, anak dan kemenakan yang dibesarkan dan yang dicintainya, sering menjadi musuh.
Jika ia berikan harta simpanannya, dibalas tanpa terima kasih

Sahabatku, jika anda tidak sadar akan kebenaran abadi, anda akan menderita karena usia tua, tetapi yang mengabdikan diri pada Dharma di usia tua, seharusnya ia mengetahui, bahwa ia lahir karena Karma, sebab itu sangat baik menjalankan Dharma selagi masih bisa bernafas.

Sahabatku yang baik, dengarlah tentang kesenangan karena penyakit tubuh ini adalah wadah penyakit, sehingga orang merasakan penderitaan yang amat sangat, penyakit pikiran, empedu dan hati, terus menerus akan menyerang tubuh manusia yang lemah ini, membuat darah dan nanah menjadi panas, otot-otot dicengkram rasa sakit

Di tempat tidur yang nyaman orang sakit tidak merasakan kenyamanannya, gelisah meratap dan menggerutu, melalui karma yang tak pandang bulu, walaupun makanan yang nikmat disajikan padanya, selalu dimuntahkan bila ditelan.

Jika dibaringkan di tempat yang empuk dan sejuk, masih merasa panas dan seperti terbakar, jika diselimuti kain hangat, tetap merasa dingin seperti tergenang dalam salju basah.

Walau sanak saudara berkumpul disekitarnya, tak ada yang mampu mengurangi rasa sakitnya,meskipun banyak pahlawan perang dan dokter, mereka tak mampu menghentikan masaknya karma buruk.

Yang tidak menyadari kebenaran Agung ini, akan menjalani semua penderitaan itu. Karena kita tidak tahu kapan datangnya penyakit, alangkah bijaksana jika menjalankan Darma penakluk tepat segala penyakit.

Dengarkanlah sahabatku, yang mengecewakan seperti rasa sakit membayar hutang yang bertumpuk-tumpuk, orang harus mengalami penderitaan kematian.
Pengawal (dewa Yama) yang menangkap dan menyeretnya, apabila saat kematian tiba.

Orang kaya tidak bisa membelinya dengan uang, sang pahlawan tidak dapat mengalahkannya dengan pedang, wanita cantik sekalipun tidak dapat merayunya.
Cedikiawanpun tak dapat menundanya, disini, yang tak jujur tidak dapat berbuat apa-apa, yang pemberani juga tidak dapat menunjukkan keperkasaannya.

Jika semua sumber kekuatan bertemu dengan tubuh, seseorang seperti teerjepit diantara dua gunung, wiharawan sudah tidak berguna lagi, dokter menyerah dengan keluh kesah, tak seorangpun dapat berhubungan dengan si mati.

Pengawal dan Dewa pelindung menghilang tak tentu rimbanya, meskipun Nafsu belum berhenti, tapi semua orang telah mencium, bau mayat bagaikan segumpal bara terbungkus abu dingin, begitulah orang menuju Kematiannya.

Mendekati saat kematian, ada yang menghitung hari dan bintang, yang lain menangis dan berteriak, yang lain memikirkan harta kekayaan yang ditinggalkan.
Harta benda yang diperoleh dengan susah payah akan dinikmati orang lain.

Betapapun besar cinta dan simpati orang lain, dia akan berpisah dan melakukan perjalanan sendiri, sahabat baiknya, suami atau istrinya hanya bisa meninggalkannya disana, dalam bungkusan, tubuhnya yang tercinta akan dibawa pergi, dilempar ke air sungai atau dibakar, atau secara mudah ditinggalkan saja di tempat yang terpencil.

Sahabatku apa yang dapat dipegang teguh untuk akhir nanti?
Haruskah kita duduk dan bermasa bodoh, atau bermalas-malasan?
Jika nafasmu berhenti esok hari, tidak ada kekayaan dunia yang dapat menolong.
Mengapa lalu seseorang harus kikir?

Sanak saudara mengelilingi ranjang, tidak ada yang dapat menolong sekejappun. Tahu bahwa semua itu harus ditinggalkan, orang akan mengerti betul bahwa semua cinta dan keterikatan adalah sia-sia, jika saat terakhir menjelang hanya Dharma yang dapat menolongnya

Kamu harus dapat berusaha sahabatku, untuk persiapan pada saat kematian tiba jika tiba waktunya, tidak akan ada rasa takut dan menyesal bagi orang yang telah hidup sesuai dengan Dharma.



Senin, 05 Oktober 2015

MENGENANG SUHU TENG SIN (Bhiksu Mahasthavira Sasanarakkhita)





MENGENANG SUHU TENG SIN (Bhiksu Mahasthavira Sasanarakkhita)

SEJARAH SINGKAT

Mendiang Bhiksu Mahasthavira Sasanarakkhita

Bhiksu Mahasthavira  Sasanarakkhita atau yang lebih dikenal dengan nama Suhu Teng Sin, telah mengabdi menjadi Anggota Sangha selama 41 vassa, tanpa kenal lelah beliau mengabdikan diri untuk perkembangan umat Buddha di Indonesia. Beliau selama pengabdiannya banyak mendampingi Mendiang Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita dalam mengembangkan umat Buddha di Indonesia. Beliau juga sering mengikuti Mendiang Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita untuk membabarkan Dhamma ke daerah-daerah pelosok di Indonesia. 

Masa kecil

 Yang Mulia Mahasthavira Sasanarakkhita dilahirkan di Cirebon pada tanggal 10 Oktober 1947 dengan nama Tan Tay Kie, Beliau adalah putra dari Bapak dan Ibu Tan Kay Gie, namun perjalanan hidup Tan Tay Kie tidaklah mudah seperti kehidupan yang kita idamkan, pada waktu Tan Tay Kie baru berumur 40 hari ibunda Tan Tay Kie meninggal dunia, namun perjalanan Tan Tay Kie kecil harus mengalami kesedihan kembali karena dua tahun setelah ibunda Tan Tay Kie meninggal maka ayahnya menyusul meninggalkannya, sejak saat itu beliau menjadi yatim piatu dimana saat itu beliau masih memerlukan belaian kasih sayang dan bimbingan orang tua.

Sejak kepergian ayahnya, Tan Tay Kie kecil diasuh oleh ibu angkat beliau yang bernama Ibu Kusnati ( Lim Kui Sen Nio), Ibu Kusnati sangatlah sayang kepada beliau, sejak kecil Tan Tay Kie membantu ibunya untuk berjualan dirumah yang sekaligus menjadi tempat usaha yaitu sebuah rumah makan. Tan Tay Kie dididik menjadi pribadi yang mandiri oleh ibu beliau sehingga menjadi bekal sampai saat ini untuk menjalani kehidupan dewasanya kelak.

Mengenal Dhamma melalui pengabdiannya di Vihara
 Tan Tay Kie dewasa aktif mengikuti kebaktian di Vihara Dewi Welas Asih Cirebon, hari-harinya dihabiskan untuk mengabdikan diri di Vihara. Pada tahun enam puluhan dipelopori oleh Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita, Agama Buddha mulai merebak di seluruh Indonesia, begitu pula di Cirebon. Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita sering berkunjung ke Vihara Dewi Welas Asih Cirebon dimana Pemuda Tan Tay Kie pertama kali mengenal Dharma, mengenal Empat Kesunyataan Mulia dan Ajaran Buddha lainya. 
 Suatu saat Vihara Dewi Welas Asih Cirebon menerima kunjungan 17 orang Bhiksu dalam dan luar negeri antara lain dari Kamboja, Laos dan Bangkok. Kunjungan ke tujuh belas Bhiksu dalam rangka ceramah dan mewisudi para Upasaka dan Upasika, rombongan tersebut dipimpin  oleh Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita, seperti biasa umat Buddha memberikan persembahan makanan, sebagai muda-mudi Vihara, Tan Tay Kie ikut melayani, setelah selesai makan dan tengah menikmati hidangan penutup berupa Ice Cream, mata Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita selintas bertatapan dengan mata Tan Tay Kie yang tengah berbisik dalam hati, kalau ice cream-nya Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita tidak habis, Cup buat saya (Cup dalam bahasa Cirebon adalah mengeklaim sesuatu, agar tidak “direbut” oleh orang lain) siapa tahu bisa berkesempatan menjadi Anggota Sangha, dan entah sengaja atau tidak Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita tidak menghabiskan ice cream tersebut, tapi disisakan, tentu saja langsung diambil oleh Tan Tay Kie, mungkin itu merupakan buah dari karma baik sebagai petunjuk yang menyebabkan beliau kelak menjadi seorang Anggota Sangha.

Aktivis di organisasi kepemudaan Buddhis
 Tan Tay Kie termasuk pemuda yang aktif di Vihara, beliau pernah menjabat sebagai ketua paduan suara di Vihara Dewi Welas Asih Cirebon, Bendahara II GPBI Cirebon ( Generasi Pemuda Buddhis Indonesia ), dan pernah menjabat sebagai Komisaris I GPBI Cirebon. Disaat menjadi aktivis beliau bersama rekan-rekan beliau lainnya juga turut membantu perkembangan Agama Buddha di Cirebon dan sekitarnya, beliau sering melakukan kunjungan dan menjadi  Dharmaduta untuk mengajarkan Paritta kepada para umat di Vihara-vihara yang berada di Losari, Kadipaten, Jatiwangi, Tegal, Gebang dan Ciledug. 
 Mengingat keterbatasan fasilitas transportasi dan biaya pada saat itu Tan Tay Kie bersama-sama aktivis lainnya melakukan kunjungan dan pembinaan ke daerah-daerah menggunakan sepeda. Pagi-pagi sekitar pukul 06.00 beliau dan rekan-rekan berangkat dari Cirebon menggunakan sepeda dengan waktu tempuh sekitar 3-5 jam untuk menuju Vihara-vihara di daerah, ataupun apabila daerahnya cukup dekat maka pada Minggu pagi beliau melakukan kebaktian di Vihara Dewi Welas Asih kemudian pada pukul 11.00 WIB beliau berangkat ke Vihara-vihara yang dekat lainnya untuk mengajarkan Dhamma dan baca Paritta.

Melangkah menuju Sangha
 Pada tahun 1967, di Vihara Dewi Welas Asih Cirebon, Tan Tay Kie diwisudi Tisarana oleh Bhikkhu Jinagiri dengan nama Viria Bala.

 Tahun 1970, di tempat yang sama, Tan Tay Kie diwisudi Upasaka oleh Bhikkhu Jinawamsa ( saat ini dikenal dengan nama Romo Michael ) dengan nama Tanuki Jaya.

 Tahun 1971, di Vihara Vimala Dharma Bandung, Tan Tay Kie mengikuti Pabaja Samanera dan ditabiskan oleh YA. Bhikkhu Ugadhammo dengan nama Jayadhammo. Pada saat menjadi samanera ini ada pengalaman yang berkesan sampai saat ini, yaitu Samanera Jayadhammo diajak oleh Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita untuk melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk membabarkan Dhamma, pada saat itu Samanera Jayadhammo bersama dengan Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita melakukan perjalanan ke Medan dan untuk pertama kalinya Samanera Jayadhammo naik pesawat terbang, ada rasa takut dan rasa bersyukur saat itu. 

 Kemudian perjalanan menuju ke Manado dan dilanjutkan ke Gorontalo dengan menggunakan pesawat capung. Disaat perjalanan menuju Gorontalo dengan pesawat capung inilah  Samanera Jayadhammo merasa gemetar kembali karena penerbangan dengan menggunakan     pesawat capung, pesawat terbang tidak stabil (naik turun), di saat itu  Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita menepuk punggung Samanera Jayadhammo sehingga tubuh Samanera Jayadhammo tidak gemetaran lagi dan nyaman diatas pesawat.
 Tiga Bulan setelah menjadi Samanera, Samanera Jayadhammo di Upasampada menjadi seorang Bhikkhu, namun sebelum di Upasampada Samanera Jayadhammo ada sedikit keraguan dihatinya apakah sudah siap, maka diundur dua bulan, setelah dua bulan berlalu, masih ada keraguan juga dihatinya, atas pertanyaan Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita, ia mohon diijikan sio-pwe dialtar Kwam Im, Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita hanya tersenyum dan mengikuti kemauannya dan hasilnya setelah tiga kali sio-pwe Samanera Jayadhammo mantap dengan keputusannya untuk menjadi Bhikkhu. Guru Beliau YA. Bhikkhu Ugadhammo memberikan nama Sasanarakkhita kepada beliau.

 Beliaupun menerima kehidupan ini secara apa adanya, dalam kunjungannya ke daerah-daerah, beliau kadang-kadang mendapatkan persembahan makanan dari umat berupa singkong, ubi bahkan sepiring jagung untuk bertujuh, ya tidak apa-apa karena pada saat itu situasi ekonomi sedang kurang baik atau memang karmanya harus begitu.
Di Cetya Maha Bodhi, dimasa sulit sebelum Vihara Sakyawanaram selesai dibangun, beliau pernah memadamkan lilin altar seusai kebaktian agar bisa bertahan sampai dua atau tiga hari, karena waktu itu, masih belum banyak umat yang datang memberikan persembahan kepada Vihara. 

 Namun kondisi seperti itu tidak menggoyangkan tekad dan pengabdian beliau kepada Sangha, melainkan memberikan semangat kepada beliau sampai saat ini untuk terus menjadi anggota Sangha.

Membangun Vihara Sakyawanaram
 Atas arahan dari Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita, maka YM. Bhikkhu Sasanarakkhita diminta untuk memimpin pembangunan Vihara Sakyawanaram, dengan dana yang sangat terbatas namun dengan kerja keras dan kegigihan dari YM. Bhikkhu Sasanarakkhita dengan dibantu oleh Maha Bhiksu Ashin Jinarakkhita maka pembangunan tahap awal Vihara Sakyawanaram selesai dibangun. 

 Pada hari Minggu Wage tanggal 7 Oktober tahun 1973 pukul 17.00 WIB diadakan peresmian Vihara Sakyawanaram. Peresmian Vihara Sakyawanaram dilakukan antara lain oleh Mayjend Soedjono Hoemardani (Asisten Pribadi Presiden R.I ke 2 Bapak Soeharto) serta dihadiri oleh Brigjen M.S. Soemantri (Wakil kepala Staf Angkatan Darat, serta pernah menjabat sebagai Ketua Perbudhi cabang Jakarta) 

Vihara Sakyawanaram pun saat ini telah mengalami pembangunan dan renovasi dibeberapa bangunannya. Di Vihara ini pula banyak sekali catatan sejarah mengenai Perkembangan Agama Buddha di Indonesia. Untuk itulah YM. Mahasthavira Sasanarakkhita menjaga dan memelihara Vihara Sakyawanaram sampai saat ini dan menjadi Kepala Vihara Sakyawanaram. 

Dukungannya terhadap generasi Muda

 YM. Mahasthavira Sasanarakkhita juga turut mendukung untuk memajukan generasi muda Buddhis yang kelak akan membantu dan meneruskan perjuangan beliau. Selain banyak membantu dalam kegiatan yang diadakan oleh Sekber PMVBI / Pemuda Buddhayana, beliau juga banyak membantu anak-anak yang berprestasi dan kurang mampu secara ekonomi untuk diberikan beasiswa mulai dari sekolah menengah pertama bahkan sampai di perguruan tinggi.       Suryanto, S.T

Sumber: http://hartoas68.blogspot.co.id/2014/12/guru-dhamma.html