Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 05 Juni 2010

Paramita

 
Paramita

Dalam Agama Buddha, terdapat 6 sifat luhur atau kesempurnaan (Sad Paramita) sebagai jalan untuk mencapai tingkat Bodhisattva, yaitu:
  1. Dana Paramita, yaitu melatih kemurahan hati.
    Menurut cara hidup umat Buddha, Dana itu terbagi atas dua jenis yaitu dan yang dapat dilakukan oleh orang-orang biasa yang belum mencapai kesucian, yang terdiri dari Amisedana dan Dhammadana. Dan dana yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah mencapai kesucian, yaitu Atidana dan Mahatidana.
    Dana yang dapat dilakukan orang-orang biasa, baik yang hidup berkeluarga (umat biasa dan Upasaka-Upasika) maupun yang hidup tidak berkeluarga (bhikkhu-Bhikkhuni) adalah :
    1. Amisedana, yaitu dana dalam bentuk materi (benda) yang kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, misalnya uang, keperluan hidup dan makanan.
    2. Dhammadana, yaitu dana dalam bentuk bathin, memberikan khotbah Dhamma, memberikan nasehat-nasehat kepada seseorang sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Menurut kitab suci Prajna Paramita dikatakan, bahwa pemberian Dhamma melebihi segala macam pemberian lainnya.
    Dana yang dapat dilakukan oleh orang-orang suci, yakni Sotapanna, Sakadagami, Anagami, Arahat dan Bodhisattva adalah:
    1. Atidana, Dana yang dilakukan seseorang untuk kepentingan orang banyak dengan meninggalkan segala kesenangan dan harta bendanya. Misalnya dengan pengorbanan Pangeran Siddharta meninggalkan istananya sebagai calon raja, meninggalkan istri dan anaknya untuk kebahagiaan orang banyak.
    2. Manatidana, Pengurbanan jiwa-raga seseorang untuk kepentingan/kebahagiaan orang (makhluk) lain yang sedang menderita. Misalnya dalam cerita dongeng mengenai Bodhisattva Avalokitescara dan pada cerita Jataka.
     
  2. Sila -Paramita, yaitu melatih tidak mengutamakan diri sendiri.
    Bila seseorang memberikan dana, maka sebaiknya ia juga melatih Sila-Paramita dari cinta kasih tanpa membeda-bedakan antara pribadi sendiri dan pribadi orang lain. Ia seharusnya juga mendermakan kemurahan hati, welasasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan rasa simpati terhadap sesama hidup.
  3. Kshanti-Paramita, yaitu melatih kesabaran dan rendah hati.
    Seseorang yang mencapai kesucian tidak akan pernah mengatakan bahwa ia telah mencapai kesucian kepada orang lain. Mereka tidak mengharapkan pujian dalam berbuat baik, mereka tidak merasa bangga bila dipuji dan mereka juga tidak kecewa seandainya dicaci.
  4. Viriya-Paramita, yaitu Melatih keuletan dan pengabdian.
    Sesorang yang telah menyelidiki isi kitab suci agama Buddha dan kemudian dengan penuh semangat dan kemauan menerangkannya kepada orang lain dan mempersembahkan pengertiannya kepada orang banyak.
  5. Dhyana-Paramita, yaitu Melatih ketenangan pikiran.
    Setiap siswa memperkembangkan pikirannya, memusatkan pikiran (Dhyana), bahwa ia dan makhluk lainnya adalah sama. Bila ia dapat mencapai nirvana, ia juga akan berusaha membebaskan makhluk hidup lainnya. Jikaau maksud dan janji itu dilaksanakan dengan jujur, maka semua makhluk hidup telah turut dibebaskan.
  6. Prajna-Paramita, yaitu Melatih kebijaksanaan.
    Kata-kata tidak dapat mengutarakan Kesunyataan, apa yang diutarakan dengna kata-kata bukanlah Kesunyataan. Para Buddha dan Bodhisattva bukan memperoleh Penerangan melalui ajaran-ajaran yang terbatas, tetapi disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh. Disaat kelima Paramita terdahulu telah disempurnakan, maka Prajna-Paramita baru dapat dicapai, ia telah memperoleh Kebijaksanaan Sempurna, untuk menuju tingkat Kebuddhaan.
Selanjutnya Sad-Paramita mempunyai kelanjutan dan menjadi Dasa Paramita atau "10 Kesempurnaan", yaitu,
  1. Dana-Paramita kesempurnaan berdana.
  2. Sila-Paramita = kesempurnaan di dalam melatih diri (menjalankan peraturan).
  3. Kshanti-Paramita = kesempurnaan melatih kesabaran dan rendah diri.
  4. Virya-Paramita = kesempurnaan melatih keuletan atau pengabdian.
  5. Dhyana-Paramita = kesempurnaan melatih ketengan pikiran.
  6. Prajna-Paramita = kesempurnaan di dalam melatih kebijaksanaan.
  7. Upaya-Paramita = kesempurnaan dalam kemahiran pada pemilihan atau penyesuaian dalam arti pengganti atau pertolongan.
  8. Pranidhana-Paramita = kesempurnaan melatih keteguhan atau cita-cita.
  9. Bala-Paramita = kesempurnaan melatih kekuataan (tenaga).
  10. Jhana-Paramita = kesempurnaan dalam pengetahuan.

Keempat Paramita setelah Sad Paramita merupakan Paramita susulan atau pelengkap.

Kesepuluh Paramita dalam Theravada, yang merupakan jalan untuk dilaksanakan pada Bodhisattva untuk mencapai tingkat Buddha adalah,
  1. Dana-Paramita               = kesempurnaan beramal.
  2. Sila-Paramita                  = kesempurnaan melaksanakan sila.
  3. Nekkhamma-Paramita   = kesempurnaan melatih penolakan, yaitu penolakan nafsu indera.
  4. Panna-Paramita              = kesempurnaan melatih kebijaksanaan.
  5. Viriya-Paramita               = kesempurnaan melatih usaha (semangat).
  6. Khanti-Paramita              = kesempurnaan melatih kesabaran.
  7. Sacca-Paramita              = kesempurnaan melatih kebenaran (kata-kata, perbuatan, dan pikiran).
  8. Adhitthana-Paramita       = kesempurnaan melatih kehendak dengan mantap (memutuskan sesuatu dan selesai berbuat sesuatu pada waktunya).
  9. Metta-Paramita                = kesempurnaan melatih cinta-kasih.
  10. Upekkha-Paramita          = kesempurnaan melatih keseimbangan batin.

Sabtu, 22 Mei 2010

Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha Yang Bertugas Di Dunia

 
Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha Yang Bertugas Di Dunia

No
Nama Buddha
Sifat Utama
1
  Tanhankara
  Maha Perwira
2
  Medankara
  Maha Mulia
3
  Saranankara
  Maha Welas-asih
4
  Dipankara
  Cahaya Cemerlang
5
  Kondanna
  Junjungan Manusia
6
  Mangala
  Yang Maha Agung
7
  Sumana
  Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8
  Revata
  Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9
  Sobhita
  Yang Penuh Kebajikan
10
  Anomadassi
  Manusia Utama
11
  Paduma
  Obor Semesta Alam
12   Narada   Pembimbing Yang Tiada Taranya
13   Padumuttara   Makhluk Yang Tiada Taranya
14   Sumedha   Yang Paling Mulia
15   Sujata   Pimpinan Jagad Raya
16   Piyadassi   Maha Junjungan Umat Manusia
17   Atthadassi   Yang Penuh Kasih-sayang
18   Dhammadassi   Penghalau Kegelapan
19   Siddhatta   Yang Tiada bandingnya Didunia
20   Tissa   Pemberi Karunia Yang Utama
21   Phussa   Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22   Vipassi   Yang Tiada Saingannya
23   Sikhi   Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24   Vessabhu   Penyebar Kebahagiaan Sejati
25   Kakusandha (Krakucchanda)   Penunjuk Jalan Para Musafir
26   Konagamana (Kanakamuni)   Yang Berusaha Tanpa Akhir
27   Kassapa (Kasyapa)   Cahaya Sempurna
28   Gotama (Gautama)   Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)
29
  Matteya (Maitreya)
  Yang Penuh Dengan Cinta-kasih

Selasa, 18 Mei 2010

Hukum Karma






Hukum Karma

Kamma(bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sansekerta) artinya perbuatan. Kamma atau Karma adalah suatu perbuatan yang dapat membuahkan hasil, dimana perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan dan sebaliknya perbuatan jahat juga akan menghasilkan penderitaan atau kesedihan bagi pembuatnya.

Semua perbuatan yang dilakukan atau disertai dengan kehendak berbuat (cetena) merupakan Kamma. Kehendak dapat berarti keinginan, kemauan, kesengajaan atau adannya rencana berbuat.

Sang Buddha bersabda: “O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang kami namakan Kamma.” (Anguttara Nikaya III : 415)

Perbuatan yang tidak mengandung unsur kehendak dengan sendirinya tidak tergolong Kamma yang dapat menimbulkan akibat atau hasil perbuatan:


1.      Perbuatan yang netral murni, misalnya duduk, berdiri, berjalan, tidur, melihat dan lain-lain menurut keadaan yang wajar.
2.      Perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik atau jahat, namun tidak disertai kehendak. Misalnya:
1.      Waktu berjalan, ada semut yang terinjak mati
2.      Tanpa disadari, uangnya jatuh dan dipungut oleh seorang cacat yang amat memerlukan uang
Semua perbuatan akan menimbulkan akibat dan semua akibat akan menimblkan hasil perbuatan. Akibat perbuatan disebut kamma-vipaka, dan hasil perbuatan disebut kamma-phala.

Dari segi perbuatan atau salurannya, kamma dibedakan atas:
Mano-kamma = perbuatan pikiran
Vaci-kamma = perbuatan kata-kata
Kaya-kamma = perbuatan badan jasmani

Sedangkan menurut sifatnya, kamma dapat dibagi menjadi dua bagian:


1.      Kusala-kamma = perbuatan baik
2.      Akusala-kamma = perbuatan jahat
Kusala-kamma berakar dari kusala-mula, 3 akar kebaikan:
     Alobha : tidak tamak
     Adosa : tidak membenci
     Amoha : tidak bodoh

Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, 3 akar kejahatan:
     Lobha : ketamakan
     Dosa : kebencian
     Moha : kebodohan

Jadi Hukum Karma adalah hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil perbuatan (kamma-vipaka dan kamma-phala), Hukum kamma bersifat mengikuti setiap Kamma, mutlak-pasti dan harmonis-adil.
Klasifikasi Kamma:

·         Kamma menurut fungsinya
·         Kamma menurut kekuatannya
·         Kamma menurut waktunya.
 PEMBAGIAN KARMA MENURUT FUNGISNYA:

1.      Janaka-kamma: Kamma yang berfungsi menyebabkan timbulnya suatu syarat untuk kelahiran makhluk-makhluk.
Tugas dari Janaka-kamma adalah melahirkan Nama-Rupa:
Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
2.      Upatthambaka-kamma: Kamma yang mendorong terpeliharannya suatu akibat dari suatu sebab yang telah timbul. Mendorong kusala atau akusala-kamma yang telah terjadi agar tetap berlaku.
3.      Upapilaka-kamma: Kamma yang menekan kamma yang berlawanan agar mencapai kesetimbangan dan tidak membuahkan hasil. Kamma ini menyelaraskan hubungan antara kusala-kamma dengan akusala-kamma.
4.      Upaghataka-kamma: Kamma yang meniadakan atau menghancurkan suatu akibat yang telah timbul, dan menyuburkan kamma yang baru. Maksudnya kamma yang baru itu adalah garuka-kamma, sehingga akibatnya mengatasi semua kamma yang lain.

PEMBAGIAN KAMMA MENURUT KEKUATANNYA:

Garuka Kamma
Adalah kamma yang berat dan bermutu. Akibat dari kamma ini dapt timbul dalm atu kehidupan, maupun kehidupan berikutnya. Garuka kamma terdiri dari:
a.
Akusala-garuka-kamma
b.
Kusala-garuka-kamma



Akusala-garuka-kamma
Kamma yang berat terdiri dari 2 kelompok, yaitu:
1.      Niyatamicchaditthi, yaitu pandangan yang salah. Maksudnya memandang yang salah adalah benar dan yang benar diartikan salah. Terdapat 10 pandangan hidup yang salah:
1.      Tidak murah hati. Tidak pemaaf atau tidak suka menolong kesukaran orang/makhluk lain.
2.      Tidak mengerti faedah berdana. Mengangap bahwa berdana adalah suatu kebodohan yagn tidak ada hasilnya.
3.      Tidak memberikan hadiah pada tamu. Tamu adalah seorang atau sekelompok orang yang kedatangannya membahagiakan kita atau yang kedatangannya kita harapkan. Memberikan hadiah pada tamu yang dewasa ini di kota terutama berarti memberikan minuman.
4.      Perbuatan baik atau perbuatan jahat dianggap tidak ada hasil atau akibatnya. Seorang yang yakin perbuatan baik akan membawa hasil tentu berusaha menambah kebaikan pada setiap kesempatan di manapun ia berada, dan sebaliknya berusaha menghndari perbuatan yang salah setiap kali akan dilakukan.
5.      Tidak percaya pada dunia ini, tidak percaya akan kebenaran Dhamma, hukum-hukum kesunyataan; yaitu kelompok manusia yang penuih dengan kekecewaan, kebencian, ketamakan, dan kebodohan.
6.      Tidak percaya pada dunia yang akan datang; tidak percaya akan tumimbal lahir, kehidupan yang akan datang.
7.      Tidak mengerti fungsi seorang ibu, dan
8.      Tidak mengerti fungsi ayah, menganggap tidak membawa akibat apapun yang dilakukan pada mereka.
9.      Tidak mempercayai adanya makhluk yang mati atau yang dilahirkan kembali.
10.  Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk para Buddha/Arahat)
2.      Pancanantariya-kamma, yaitu 5 perbuatan durhaka.
1.      Membunuh ayah
2.      Membunuh ibu
3.      Membunuh seorang Arahat
4.      Melukai seorang Buddha
5.      Memecah belah Sangha
Mereka yang melakukan salah satu dari 5 perbuatan durhaka di atas, setelah meninggal akan lahir di alam Apaya (duka/rendah), yaitu alam neraka, binatang, setan dan raksasa.



Kusala-garuka-kamma
Adalah perbuatan “bermutu”, yaitu dengan bermeditasi , hingga mencapai tingkat kesadaran jhana. Ia akan dilahirkan di alam sorga atau lapisan kesadaran yang tinggi, yang berbentuk atau tanpa bentuk (16 rupa-bhumi dan 4 arupa-bhumi)  
2.      Asanna-kamma
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebh baik. Asanna-kamma berlaku apabila tidak melakukan garuka-kamma.
3.      Acinna-kamma atau Bahula-kamma
Apabila seorang dalam hidupnya tidak melakukan garuka-kamma dan di saat akan meninggal tidak pula melakukan Asanna-kamma, maka yang menentukan corak kelahiran berikutnya adalah acinna-kamma. Acinna-kamma atau Bahula-kamma adalah kamma kebiasaan, baik dengan kata-kata, perbuatan maupun pikiran. Walaupun seorang hanya sekali berbuat baik, namun karena selalu diingat, menimbulkan kebahagiaan hingga menjelang kematiannya, hal ini akan menyebabkan kelahiran berikutnya mnjadi baik. Demikian juga seorang yang hanya seklain bernuat jahat, karena selalu diingat menimbulkan kegelisahan hingga akhir hidupnya, sehingga akan lahir di alam yang tidak baik. Oleh karena itu apabila kita pernah berbuat jahat, maka perbuatan jahat itu harus dilupakan; demikian pula sebaliknya kalau kita pernah berbuat baik, perbuatan itu perlu selalu diingat.
4.      Katatta-kamma
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.

Jumat, 14 Mei 2010

Ada Apa Di Balik Mukjizat? Oleh Slamat Rodjali


Ada Apa Di Balik Mukjizat?
Oleh Slamat Rodjali
 


Pernahkah terlintas dalam pikiran pembaca mengapa sebagai seorang beragama Buddha `doa' saudara tidak `manjur' namun seseorang yang beragama lain dan pelaku kejahatan justru mengalami kemajuan? Atau pernahkah saudara melihat sesuatu mukjizat tidak terjadi di vihara tetapi terjadi di tempat ibadah agama lain?
 
Pernahkah saudara mendengar atau membaca kitab salah satu paham yang menceritakan ADA yang dapat membangkitkan orang yang telah `mati'; mengubah air menjadi anggur, membuat orang buta dapat melihat kembali?

Seorang perempuan, Tuti (bukan nama sebenarnya) terkena kanker rahim stadium 3, berupaya kuat untuk pergi kepada berbagai dokter bahkan datang ke dalam satu Kebaktian paham tertentu, kankernya tersebut malah meningkat menjadi stadium 4 dan semua dokter yang ditemui `angkat tangan' tak dapat menolongnya dari kematian, namun setelah bertemu dengan seorang bhikkhu dan setelah melaksanakan sesuatu yang dikatakan oleh bhikkhu tersebut, kondisi kankernya malah menurun berangsur hilang hingga sembuh total.

Seorang ibu mengeluhkan anaknya Dono (bukan nama sebenarnya) yang sakit panas dibawa ke vihara dan didoakan seorang pandita beragama Buddha, tetapi tidak sembuh. Keesokan harinya ketika di bawa ke sebuah tempat ibadah dari paham lain dan didoakan sesuatu, serta diberi minum sesuatu, eh… panasnya tiba-tiba hilang.

Pernahkah saudara mendengar pernyataan salah seorang pemuka paham tertentu bahwa di dunia ini ada dua kuasa, yaitu "kuasa Hyang Agung" dan "kuasa iblis?" Ia tidak menolak bahwa iblis pun memiliki kuasa dan bisa menimbulkan mukjizat. Ia menyatakan bahwa bisa saja seseorang ketika datang ke dalam rumah ibadah-nya tidak akan melihat mukjizat sedangkan ketika ke vihara bisa melihat mukjizat atau sebaliknya. Ia meng-klaim bahwa apabila mukjizat yang timbul di rumah ibadahnya merupakan kuasa "Hyang Agung" sedangkan bila timbul di vihara atau rumah ibadah lainnya disebut bukan kuasa "Hyang Agung", dan bila bukan kuasa Hyang Agung, pasti saudara tahu yang dimaksudnya, siapa di balik mukjizat tersebut yang berkuasa.

Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa mukjizat memang bukan monopoli agama tertentu. Semua orang dapat mengalami mukjizat. Tuti bisa bersaksi (memberikan kesaksian) atas mukjijat yang terjadi pada dirinya….. Dono juga bisa bersaksi atas mukjizat yang dialaminya. Keduanya bisa meng-klaim bahwa mukjizat tersebut terjadi atas firman/kuasa yang diagungkan pemeluk paham rumah ibadah tempat mereka masing-masing mengalami mukjizat tersebut Cuma…. Siapa yang berkuasa menimbulkan mukjizat bagi kesembuhan Tuti dan Dono pada kasus di atas? Apakah memang benar pada kasus-kasus di atas, mukjizat kesembuhan Tuti ditimbulkan oleh "kuasa Iblis" dan mukjizat kesembuhan Dono ditimbulkan oleh "Firman/Kuasa Hyang Agung?" Membangkitkan yang mati, mengubah air menjadi anggur, membuat orang buta kembali melihat … juga… merupakan hanya mukjizat Firman/Kuasa Hyang Agung paham tersebut?

Budaya iming-iming dengan mukjizat melalui kesaksian salah satu paham di masyarakat kita, dan budaya ancaman halus bahwa mukjizat yang timbul di dalam rumah ibadah/diperantarai pemuka agama paham lain merupakan kuasa iblis yang `bermata kail', telah lama merebak di Indonesia dan telah mengguncangkan `keyakinan' banyak umat paham lain tersebut sehingga sangat banyak umat paham lain tersebut (termasuk yang fanatik berat awalnya) `mengorbankan diri' untuk berganti label paham keagamaannya ke dalam `iman' paham di atas bahkan hingga bersikap fanatik berat dalam `iman' baru-nya dan mencampakkan paham keyakinan sebelumnya yang ditunjukkannya melalui kesaksian yang ditayangkan di televisi atau di dalam kesempatan Kebaktian di stadion/hotel tertentu, hanya semata dikarenakan tidak mengetahui proses sesungguhnya yang terjadi di balik mukjizat.

Saudara pembaca, pertanyaannya adalah bagaimanakah proses di balik terjadinya mukjizat? Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh seseorang? Apa saja faktor-faktor yang menentukan "kemanjuran" suatu "doa" atau "rapalan kata-kata" atau "mantra" yang dianggap suci oleh penganutnya? Apa definisi kematian dalam hakekat yang sesungguhnya? Ini merupakan beberapa topik yang harus kita tuntaskan di dalam tulisan ini sehingga para pembaca dapat mengerti dengan jelas dan tidak terjebak untuk berganti label karena iming-iming mukjizat atau karena takut akan ancaman setelah mengalami mukjizat di vihara umat Buddha. Selanjutnya saudara akan dapat menilai sendiri, apakah mukjizat terkait dengan label salah satu paham atau agama ataukan tidak? Mari kita telusuri dengan seksama…!

Memahami Terjadinya Mukjizat
Saudara pembaca, kalau kita amat-amati dari kitab suci paham lain, perbuatan atau kejadian ajaib (mukjizat) yang diasumsikan dilakukan oleh Hyang Agung mereka, ada 4 jenis, yaitu: (1) penyembuhan orang sakit, (2) pengusiran setan atau roh-roh jahat, (3) penaklukkan kekuatan alam, dan (4) pembangkitan orang mati. Penganutnya mengklaim sebagai monopoli Firman Hyang Agung mereka, dan bila timbul di paham lain, artinya ditimbulkan oleh Iblis, sehingga hal ini menjadi sumber propaganda untuk konversi "label agama/paham" yang dilakukan oleh para pemeluknya dengan memanfaatkan kebodohan dan ketakutan penderita.

Cukup kontras perbedaannya dengan yang dijumpai di dalam Tipitaka (kitab suci umat Buddha), sungguh tak terhitung banyaknya mukjizat yang ditimbulkan baik oleh para Buddha, oleh murid-murid Beliau (Sangha), bahkan oleh umat awam yang mempraktikkan ajaran Buddha tersebut sebagai "conditioning service medication" (layanan mengkondisikan pengobatan untuk penyembuhan) maupun "self-service medication" (layanan mandiri pengobatan untuk penyembuhan), yang tipikal-nya tidak diklaim sebagai monopoli baik oleh para Buddha, tidak juga oleh para murid Beliau (Sangha) dan oleh umat yang melaksanakannya walaupun mengalami kesembuhan yang dinilai sebagai keajaiban (mukjizat). Proses mukjizat yang terjadi sangat reasonable (mengandung alasan yang ilmiah berdasarkan sebab akibat) dijelaskan secara objektif, tanpa mengandung iming-iming untuk konversi label agama, dan tidak mengandung ancaman halus dengan mengkambinghitamkan Iblis yang memberikan duri di dalam umpan.
 
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan jasmani
Lebih dari 2500 tahun yang lalu, seorang Agung di dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini pernah menyatakan bahwa kesehatan jasmani seseorang ditentukan oleh minimal 4 faktor, yaitu:
  1. Faktor perbuatan orang tersebut (istilah di dalam agama Buddha, disebut faktor Kamma)
  2. Faktor pikiran orang tersebut (istilahnya disebut faktor Citta)
  3. Faktor makanan orang tersebut (Âhâra)
  4. Faktor keseimbangan lingkungan hidup orang tersebut (Utu)
Perbuatan seseorang akan menghasilkan materi khusus (kammajarûpâ) yang bereaksi terhadap jasmaninya, demikian pula pikiran seseorang akan menimbulkan materi khusus (cittajarûpâ) yang bereaksi dan berinteraksi dengan materi tubuh orang tersebut, ditambah dengan makanan/âhârajarûpâ (termasuk obat-obatan, vitamin, mineral dan sebagainya) akan menambah kontribusi kombinasi reaksi interaksi materi tubuh orang tersebut. Lingkungan hidup, kelembaban, temperatur, pakaian orang tersebut juga akan menimbulkan efek panas dingin kering lembab (utujarûpâ) tubuhnya yang juga berinteraksi dengan materi-materi sebelumnya. Keempat faktor materi ini saling berinteraksi dan berkorelasi membentuk materi-materi baru yang kompleks yang menjelaskan perbedaan fisik tiap makhluk.

Semakin tinggi kualitas perbuatan (diindikasikan dengan nilai moralitas) dulu dan sekarang, kualitas pikiran, kualitas makanan dan kualitas lingkungan hidup seseorang maka materi-materi yang ditimbulkan oleh keempat faktor itu akan memiliki kualitas yang makin tinggi; dan interaksi keempat materi dengan kualitas tinggi ini serta kontinuitas (kesinambungan) kemunculannya akan memberikan efek prima kesehatan jasmani seseorang dalam kesinambungan pula. Kontinuitas makin baik, maka kesehatan makin berdaya tahan lama. Jika terjadi diskontinyu, maka efek kesehatan pun dis-kontinyu. (lihat uraian kekuatan paritta pada sub judul di bawah).
Saudara pembaca, uraian di atas pada prinsipnya merupakan kombinasi interaksi antara:
  1. Proses sebab akibat berkondisi (tidak muncul tiba- tiba)
  2. Empat faktor (perbuatan, pikiran, makanan, lingkungan fisik)
  3. Waktu (kala) lampau dan sekarang, dalam hal kontinyu atau diskontinyu dengan tenggang waktu tertentu atau putus-putus.
Lalu, apa hubungannya dengan kemanjuran dari pembacaan "doa" bagi agama tertentu dan "paritta" di dalam agama Buddha?

Faktor-faktor kekuatan "doa" atau "paritta" atau "mantra"
Penelitian terkini di dalam pengobatan, di dalam eksperimental psikologi dan apa yang disebut parapsikologi telah melemparkan secercah cahaya sifat alamiah pikiran dan posisinya di dunia ini. Selama empat puluh tahun terakhir pengaruh ini telah secara konstan tumbuh di antara para ahli kedokteran bahwa banyak kasus penyakit organik maupun fungsional secara langsung dikondisikan oleh faktor-faktor batin. Tubuh menjadi sakit karena pikiran mengontrolnya secara tersembunyi (tak disadari langsung oleh penderita) menginginkan tubuhnya sakit, atau karena kegelisahan sehingga tak dapat mencegah tubuh menjadi sakit.

Pikiran tidak hanya menyebabkan sakit, juga dapat menyembuhkan. Pasien yang realistis memiliki kesempatan kesembuhan yang jauh lebih baik dibandingkan seorang pasien yang khawatir dan tidak gembira. Contoh-contoh yang didokumentasikan melalui penyembuhan `keyakinan' termasuk di dalamnya kasus-kasus penyakit organik dapat disembuhkan hampir secara instan. Di dalam hubungan ini, sungguh menarik kita meninjaunya dari sisi Buddha Dhamma, dari mendengarkan pembacaan Dhamma atau doktrin Buddha untuk mengkondisikan terbebasnya dari penyakit atau mara bahaya, untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh makhluk-makhluk pengganggu yang terlihat ataupun tidak terlihat, untuk memperoleh `perlindungan' dan kebebasan dari kejahatan, dan untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kebaikan makhluk hidup. Beberapa khotbah yang disebut "paritta sutta" dijadikan sebagai `khotbah perlindungan.' Namun paritta sutta ini tidaklah sama dengan pembacaan mantra atau doa paham lain, tak ada satu pun yang mistis di dalam paritta sutta.

Kata paritta pertama kali digunakan oleh Buddha Gotama di dalam khotbah yang dikenal dengan "Khandha paritta" di dalam Culla Vagga, Vinaya Pitaka (vol. ii, halaman 109), dan juga di dalam Añguttara Nikâya di bawah judul `Ahi (metta) Sutta' (vol. ii halaman 82). Khotbah ini direkomendasikan oleh Buddha Gotama sebagai `pelindung' untuk digunakan oleh para bhikkhu. Di dalam khotbah itu Buddha menganjurkan para bhikkhu untuk mempraktikkan dan mengembangkan metta (cinta kasih universal) kepada semua makhluk.

Saudara pembaca, setiap "doa" ataupun "paritta" atau "mantra" tertentu memiliki nilai kekuatan tertentu. Kekuatan-kekuatan yang saling berkombinasi secara sinergis akan menimbulkan kekuatan baru yang jauh lebih tinggi. Kekuatan-kekuatan itu, sebagai berikut:

1. Kekuatan Kebenaran
Beberapa faktor berkombinasi memberikan kontribusi kepada `kemanjuran' pembacaan paritta. Pembacaan paritta merupakan sebentuk saccakiriya, yaitu sebuah afirmasi atas kebenaran. Perlindungan dihasilkan dari kekuatan afirmasi kebenaran tersebut. Ini berarti menetapkan diri pembaca di dalam kekuatan kebenaran terlebih dulu sebagai modal utama. Dengan modal utama bahwa dirinya diliputi kebenaran, para pendengar pun diajak untuk berlibat di dalam kebenaran tersebut. Itulah sebabnya di akhir paritta ini, biasanya pembaca memberikan afirmasi `blessing' kepada pendengarnya dengan mengucapkan kata-kata `etena sacca vajjena sotti te hotu sabbadâ' yang berarti `dengan kekuatan kebenaran kata-kata ini semoga kamu sembuh/baik. Kekuatan Dhamma atau Kebenaran melindungi pelaksana Dhamma (dhammo have rakkhati dhammacarin) mengindikasikan prinsip di balik pembacaan sutta ini. Apabila semua faktor lainnya sama tingkatnya, maka pembacaan Kebenaran (paritta sutta) akan memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan `doa' semata yang mengandung hasrat melekat atau kata-kata tak bermakna (mantra).

2. Kekuatan Kemoralan
Tahap pertama pelaksanaan Buddha Dhamma adalah kemoralan (Sila). Dilandasi kemoralan yang baik, seseorang seyogyanya berjuang untuk mencapai batin yang tenang dan seimbang. Apabila ini terjadi, maka orang yang memiliki kemoralan akan terlindung dengan sendirinya oleh kekuatan moralnya tersebut. Orang yang mendengarkan pembacaan paritta dari orang yang bermoral akan muncul inspirasi pikiran yang baik secara reflektif induktif muncul pikiran yang bermoral baik yang dapat mengatasi pengaruh buruk dan akhirnya terlindung dari berbagai bahaya. Moralitas pembaca dan yang mendengarkan saling berpengaruh membentuk kombinasi kontribusi kekuatan paritta tersebut. Makin tinggi moralitas pembaca dan pendengarnya, maka kekuatan paritta tersebut akan menjadi makin tinggi.

3. Kekuatan Cinta Kasih
Khotbah yang dilakukan oleh Buddha tidak akan pernah lepas dari cinta kasih. Beliau berjalan ke manapun dengan penuh cinta kasih untuk semua makhluk, memberikan petunjuk, mengkondisikan pencerahan dan membahagiakan banyak makhluk melalui ajaran-Nya. Oleh karena itu, para pembaca paritta pun diharapkan melakukannya dengan penuh cinta kasih dan belas kasihan kepada para pendengarnya dengan mengharapkan mereka berbahagia, terbebas dari penyakit, kesukaran, penderitaan dan mara bahaya. Semakin tinggi cinta kasih yang dikembangkan dan dipancarkan oleh pembaca paritta, maka kekuatannya akan semakin tinggi.

4. Kekuatan Keyakinan
Keyakinan merupakan hal yang sangat penting di dalam semua tindakan. Pembacaan paritta atau `doa' atau `mantra' dengan keyakinan tinggi, akan menimbulkan efek ketenangan yang tinggi bagi batin pembacanya. Tingkat keyakinan yang tinggi dari pendengarnya akan berpengaruh bagi tingkat kemauan pendengar itu mendengarkan dan merenenungkannya. Konflik batin menjadi teratasi, dan ujungnya cittajarupa yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang baik yang berinteraksi dengan materi tubuhnya tersebut sehingga tingkat kesehatan atau radiasi tubuhnya menjadi lebih baik.

5. Kekuatan Konsentrasi
Pembacaan paritta dengan penuh konsentrasi akan memberikan efek sinkronisasi yang baik terhadap pembaca maupun pendengarnya. Kekuatan kebenaran akan tetap terjaga, harmonisasi tetap terjaga, kestabilan faktor batin yang penuh cinta kasih akan tetap terjaga, keyakinan tetap terjaga penuh. Makin tinggi tingkat konsentrasi maka akan makin tinggi pula kekuatan batin orang tersebut (baik pembaca maupun pendengarnya), dan kekuatan batin ini tentu menjadi kontribusi penting di dalam mengalahkan pengaruh-pengaruh yang negatif.

6. Kekuatan perbuatan (kamma)
Setiap makhluk melakukan perbuatan sejak dulu hingga kini, dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Perbuatan tersebut merupakan aksi, dan memiliki potensi untuk menghasilkan akibat. Perbuatan yang dilakukan suatu makhluk terdiri dari perbuatan tidak baik maupun perbuatan baik, dan masing-masing memberikan efek yang setimpal. Tidak baik akibatnya tidak menyenangkan/negatif; baik akibatnya menyenangkan/positif. Di dalam perjalanan bekerjanya, perbuatan ini, saling berinteraksi dan berkombinasi di dalam menimbulkan akibat. Ada perbuatan yang mengkondisikan berbuahnya perbuatan lain yang belum masak menjadi masak atau yang sudah saatnya masak menjadi masak dengan sepenuhnya. Ada pula perbuatan baik yang memotong buah perbuatan tidak baik yang sedang berlangsung hingga selesai. Sebagai contoh, seorang yang sedang sakit…diakibatkan salah satunya oleh akibat perbuatan buruknya yang lampau. Dengan kondisi perbuatan baiknya mendengarkan pembacaan paritta/`doa'/`mantra' dengan penuh konsentrasi dan keyakinan saat itu, serta merta sembuh diakibatkan perbuatan baiknya ini memotong hasil perbuatan buruknya yang menyebabkan dia sakit. Sebaliknya apabila tidak ada perbuatan baik yang ditimbulkan untuk meng-counter akibat perbuatan tidak baik yang lampau atau akibat perbuatan tidak baik yang lampau terlalu kuat mendominasi, maka pembacaan paritta/`doa'/`mantra' dan mendengarkan paritta/`doa'/` mantra' tidak akan serta merta membuahkan hasil, namun bukan berarti sia-sia. Mohon maaf, proses aksi reaksi inilah yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab para pemeluk firman "Hyang Agung" dalam kasus-kasus di pendahuluan tulisan ini. Proses aksi reaksi dan kombinasi serta interaksinya ini akan menjadi lebih jelas apabila para pembaca menyimak pelajaran `keselarasan perbuatan' (kamma niyama) yang dijelaskan dengan lugas di dalam Tipitaka kitab suci umat Buddha maupun Visuddhimagga, salah satu kitab komentar. (Untuk pembahasan rinci kasus-kasus melalui sudut pandang kamma ini, silakan membaca buku Dhammasakacca karya Pandit Jinaratana Kaharuddin).

7. Kekuatan Suara
Telah lama diyakini bahwa getaran suara yang dihasilkan oleh pembacaan paritta yang harmonis di dalam bahasa Pali atau bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengarnya akan berpengaruh kepada gerakan materi di dalam tubuh seseorang. Apabila semua hal kekuatannya sama, maka semakin harmonis pembacaan paritta, gerakan materi di dalam tubuh seseorang akan menjadi harmonis, dan akan mengakibatkan denyut nadi atau saraf yang harmoni. Secara realistis, hal ini menginduksikan ketenangan dan kedamaian fisik maupun batin.

Saudara pembaca, `keyakinan' sering kali menjadi kambing hitam yang diluncurkan para penganut Firman "Hyang Agung" di dalam kasus di atas. Mereka sering kali menyatakan bahwa apabila ada beberapa orang yang ber-`iman' sama tetapi hanya satu yang melihat mukjizat, maka artinya yang tidak melihat mukjizat dipra-anggap "kurang memiliki keyakinan" betapapun `saleh'-nya di dalam kehidupan keagamaannya. Sungguh merupakan kalimat pelarian (escape clause) yang cerdik yang secara halus memaksa seseorang untuk tetap memiliki ketergantungan `keyakinan' kepada Firman Hyang Agung mereka, selama orang yang tidak melihat mukjizat tersebut belum mengerti proses mukjizat sesungguhnya.

Saudara pembaca, singkatnya, penguncaran paritta, `doa' atau `mantra' akan memiliki kekuatan yang tinggi dalam hal kemanjuran, baik untuk mengurangi/menghilangkan efek buruk maupun untuk menimbulkan atau mengembangkan efek baik, dan sepenuhnya sangat tergantung dari kebenaran yang terkandung di dalam kata-katanya, moralitas pembaca dan pendengarnya, keyakinan pembaca dan pendengarnya, konsentrasi pembaca dan pendengarnya, cinta kasih yang ditimbulkan dan dikembangkannya, harmonisasi getaran suara yang dibacakannya, terakhir namun yang terpenting adalah potensi pendengarnya (kamma masing-masing yang pernah dan sedang dipupuknya); jadi tidak tergantung pada label agama/paham tertentu.

Lantas, bagaimana dengan menghidupkan orang mati?
Kematian merupakan satu hal yang pelik, dan terkadang merupakan hal tabu untuk dibicarakan bagi kalangan tertentu. Karena pembatasan-pembatasan tertentu tersebut, penelaahan definisi dan kriteria kematian menjadi beragam sesuai dengan tingkat keterbukaan dan daya tinjau pembahasnya.

Secara kedokteran konvensional, kematian ditetapkan apabila denyut jantung, dan saraf sudah tidak berfungsi total yang dapat ditunjukkan pada alat deteksi monitor denyut jantung/nadi yang secara notabene merupakan deteksi secara fisik.

Di dalam Tipitaka dijelaskan bahwa makhluk masih dikategorikan hidup apabila fisiknya masih terdapat Jivita rûpâ yang merupakan unsur fisik kehidupan. Walaupun jantung dan nadi telah ditetapkan berhenti berdetak dan dianggap oleh orang awam atau kedokteran sebagai "mati", namun selama jivita rupa masih ada, makhluk itu tidak dikatakan mati dalam konteks Buddhis.

Seseorang yang telah terbujur dingin dan dikatakan mati, namun orang tertentu yang terlatih batinnya dapat mengetahui dengan jelas bahwa jivita rupa orang itu masih ada, maka orang piawai itu pun dapat mengkondisikan `kehidupan' (sadar kembali) orang yang dikatakan mati tersebut. Jadi orang piawai itu tidak menghidupkan kembali orang yang telah mati, namun ia mengetahui bahwa orang itu belum mati, dan dia mengetahui cara mengkondisikan orang itu agar sadar dan semua materi tubuh lainnya berfungsi.

Tidak heran, para pemeluk "firman Hyang Agung" menganggap "Hyang Agung" mereka, diyakini menghidupkan kembali orang mati, karena di dalam kitabnya tidak ada penjelasan rinci proses dan kriteria kematian dalam hakekat yang sesungguhnya. Semua kasus, seolah terjadi secara "generatio spontanea" (tiba-tiba terjadi), padahal saudara pembaca pasti telah mengetahui dari pelajaran di sekolah bahwa teori generatio spontanea ini telah dipatahkan para ilmuwan jauh sebelum buku pemeluk firman Hyang Agung ini diterbitkan.

Saudara pembaca… kematian merupakan sifat alamiah bagi semua yang berpadu/lahir. Tidak ada satu pun yang lahir tidak mengalami kematian. Bahkan yang dipraanggap Hyang Agung yang menghidupkan orang mati pada kasus di atas itu pun tak luput dari kematian.

Bagi saudara-saudara yang berminat untuk mendalami lebih jauh akan proses Jivita Rupa, proses kematian dan proses kelahiran dalam hakekat yang sesungguhnya, dapat menyimak ringkasan pelajaran hakekat yang sesungguhnya (Abhidhammatthasangaha), yang merupakan pengantar di dalam mempelajari salah satu bagian Kitab suci umat Buddha, Tipitaka, yaitu Abhidhamma Pitaka. Dengan menyimak uraian ini diharapkan para pembaca tidak terjebak oleh keindahan "mukjizat" dan tidak terpincut oleh "kesaksian" para pihak yang "pernah" melihat/mengalami mukjizat.

Epilog
Saudara-saudara… secara menyeluruh dan hampir merata, masyarakat Indonesia sedang dirundung `malang', kelaparan, kemiskinan, penyakit, gangguan, ancaman, dan sebagainya. Banyak di antara mereka mencari "Mukjizat" instan, dan kemudian memberikan "Kesaksian" bila tercapai atau kadang "direkayasa" untuk bersaksi demi se-onggok kekayaan anicca atau nama harum relatif; tidak terkecuali umat Buddha, banyak juga yang terbawa arus ini. Dengan mengikuti uraian di atas, diharapkan umat Buddha tidak mencari "Mukjizat dan memberikan kesaksian" di luar. Carilah mukjizat di dalam diri sendiri dan bersaksilah kepada diri sendiri …. Mukjizat yang realistis dapat terjadi tergantung kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk munculnya. Kondisi kemunculan mukjizat tersebut, justru berada sangat dekat, di dalam diri sendiri, yaitu perbuatan kita masing-masing, baik perbuatan melalui pikiran, tindakan jasmani maupun perkataan. Faktor-faktor lain hanyalah kondisi pendukung yang harus sinkron dengan perbuatan tersebut. Semoga Dhamma menjadi berkah mulia bagi kita semua di dalam mengarungi lautan kehidupan. Semoga semua makhluk berbahagia. (SR)

Bahan Bacaan:
  • Baptist, E.C. 2001. Abhidhamma Bagi Pemula (Terj. Selamat Rodjali). Tanpa Penerbit.253 hal. Buddhagosa. 1956. The Path of Purification (Visuddhimagga) Terj. Nanamoli. Buddhist Pubblication Society, Sri Lanka. 885p.
  • Clare Prophet, Elizabeth. 1987. The Lost Years of Jesus. Summit University Press, New York. 447p.
  • Kaharuddin, J. 1989. Abhidhammatthasangaha I. Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta. 187 hal.
  • Piyadassi. 1999. The Book of Protection. Buddhist Publication Society, Sri Lanka, 138p
  • Tony, Daud. 2002. Rahasia Kesembuhan Ilahi. Bethlehem Publisher, 86 hal.
  • Tanpa nama. 2002. Mukjizat Bukan Monopoli Orang Kristen. Website terangdunia.com. 1 hal.
 
[ Dikutip dari Majalah Dhamamcakka ]

Bodhicitta: Menuju Kesempurnaan Dharma Oleh Yang Mulia Lama Yeshe


Saya pikir, adalah sangat penting bagi kita untuk memiliki cinta kasih kepada semua makhluk. Tak ada yang patut disangsikan mengenai hal ini. Cinta kasih adalah hati dari Bodhicitta, sikap dari Bodhisattva. Cinta kasih adalah jalan yang paling menyenangkan, meditasi yang paling mengasikkan. Dengan adanya Bodhicitta, tak ada lagi pertentangan antara Timur dan Barat. Jalan ini adalah ja;lan yang pliang membahagiakan, seratus persen sederhana, dan tidak akan membawa orang kejalan yang ektrim. Tanpa adanya Bodhicitta, maka tak ada yang bisa berjalan, penyadaran tak akan datang.


Mengapa Bodhicitta diperlukan demi keberhasilan meditasi ? Karena ada kemelekatan yang mementingkan diri sendiri. Jika Anda melakukan meditasi dengan baik, tetapi tanpa ada Bodhicitta, maka Anda akan melekat pada kenikmatan yang sangat kecil sekalipun: "Aku , aku, aku ingin lagi". Maka pengalaman yang mengasikkan itu pun lenyap sama sekali. Melekat adalah halangan terberat dalam usaha melakukan perhatian yang terpusat dalam meditasi. Dan dengan adannya kemelekatan ini, kita akan selalu mengabdi pada kebahagiaan diri kita sendiri: ""ku, aku, aku merana. Aku ingin bahagia. Karena itu Aku bermeditasi". Itu bukanlah jalan yang benar, karena beberapa alasan, meditasi yang baik dan hasilnya ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang akan muncul.


Tanpa Bodhicitta adalah sangat sukar untuk mengumpulkan kebajikan. Anda hanya akan menciptakannya, yang selanjutnya juga akan memusnahkannya. Sebelum hari menjelang sore, kebajikan yang dikumpulkan di pagi hari telah lenyap. Ini sama halnya dengan membersihkan kamar, dan satu jam kemudian membuatnya kotor lagi. Anda membersihkan pikiran, dan segera menodainya kembali. Tentu saja bukan merupakan hal yang menguntungkan. Jika Anda ingin berhasil dalam mengumpulkan kebajikan, Anda harus menpunyai Bodhicitta. Dengan Boddhicitta Anda menjadi begitu berharga seperti emas atau intan. Anda menjadi benda yang palin sempurna di dunia ini, tak dapat dibandingkan dengan materi-materi yang lain.


Dari Sudut pandang materialisme akan terdengan mengagumkan, jika seseorang berkata "Saya akan berdana, saya akan memberikan seratus dolar kepada setiap orang diseluruh dunia." Bahkan jika orang itu sungguh-sungguh memberikan dana sebesar itu dengan tulus, kebajikan atau jasannya itu tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan pikiran, "Saya bercita-cita untuk mewujudkan Bodhicitta demi kebahagiaan semua makhluk, dan saya akan melakukan enam paramita sebanyak mungkin." Itulah sebabnya, mengapa saya selalu berkata bahwa mewujudkan Bodhicitta merupakan jalan kesempurna yang bisa Anda tempuh.


Ingatkah Anda pada cerita Kadampa Geshe, yang melihat seorang tua yang mengelilingi stupa? Ia bertanya "Apa yang sedang engkau lakukan? Orang tua itu menjawab, "Saya sedang berpuja bakti , Guru." Lalu Geshe menasehatinya, "Tidakkah lebih baik jika engkau mempraktikkan Dharma?


Berikutnya Geshe melihat orang tua itu sedang bersujud. Ketika ia bertanya apa yang sedang dilakukannya, orang tua itu berkata, bahwa ia sedang melakukan sembah sujud seratus ribu kali. Dan Geshe kembali menasehatinya, "Tidakkah lebih baik engkau mempraktekkan Dharma, saudaraku?"


Demikianlah cerita itu berlanjut. Tetapi maksud dari Kadampa Geshe adalah bahwa melakukan puja bakti atau kegiatan kegiatan keagamaan tidak selalu berarti mempraktekkan Dharma. Yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan kemelekatan dan pemujaan diri sendiri. Sebelum kita melaksanakan hal ini, perbuatan-perbuatan yang lain hanya akan merupakan lelucon. Meskipun Anda berlatih meditasi Tantra, sebelum memperbaiki yang ada disebelah dalam, Anda tak akan berhasik. Dharma berarti perubahan sikap secara menyeluruh, yakni yang membawa kebahagiaan sebelah dalam. Itulah Dharma sejati, bukan apa yang diucapkan. Bodhicitta bukanlah pengembangan ego, atau pengembangan kemelekatan, maupun pengembangan samsara. Bodhicitta merupakan pilihan yang luar biasa, jalan yang paling dasar, tegas dan tidak plintat-plintut. Kadang-kadang pikiran Anda buyar saat bermeditasi. Bodhi-citta berarti Anda bersungguh-sungguh ingin mengubah pikiran dan tindakan Anda, dan mengalihkan seluruh hidup Anda.


Kita semua berhubungan satu sama lain. Mengapa kita berkata "Aku mencintaimu." Dan kadang-kadang pula, "Aku membencimu" Dari mana pikiran yang naik dan turun ini datang?" Dari pikiran yang memujua sendiri (tanpa Bodhicitta). Apa yang kita ucapakan sebenarnya adalah, "Saya benci padamu karena engkau tidak memuaskanku. Engkau melukaiku, engkau tidak memberiku kesenangan." Itulah keseluruhannya: Aku - egoku, kemelekatanku - tidak mendapatkan kepuasan darimu, karenanya aku benci kamu. Menggelikan! Semua nasalah yang timbul dalam hubungan antar pribadi muncul karena tiadannya Bodhicitta, karena kita belum mengubah pikiran kita.


Jadi, Anda lihatbahwa meditasi saja belum cukup. Jika Kadampa Geshe melihamu bermeditasi, ia akan bertanya "Apa yang sedang engkau lakukan? Tidakkah lebih baik jika negkau mempraktekkan Dharma?" Puja bakti bukan Dharma, bersujud bukan Dharma, meditasi bukan Dharma. Celaka!, lalu Dharma itu apa ? Inilah yang mengusik pikiran orang tua dalam cerita itu. Ia tak bisa memikirkan hal lain lagi untuk dikerjakan. Baiklah…, pratek Dharma yang terbaik, yang paling sempurna, dan yang paling mendasar, adalah tak diragukan lagi, mewujudkan Bodhicitta.


Anda bisa membuktikan secara ilmiah bahwa Bodhicitta adalah latihan terbaik yang bisa dilakukan. Pikiran kita yang mementingkan diri sendiri merupakan akar dari semua masalah kita. Ia membuat hidup kita sulit dan mengesalkan. Penawar pikiran yang mementingkan diri sendiri ini, lawannya, adalah pikiran yang penuh dengan Bodhicitta. Pikiran yang egosentris hanya memikirkan aku atau diri sendiri dengan orang lain.


Bodhicitta membuka ruang dalam pikiran Anda, sehingga teman Anda yang paling dekat sekalipun, jika lupa memberikan hadiah ulang tahun, tidak akan membuat Anda tersinggung," Ah, tahun ini ia tidak memberiku coklat, tidak apa-apalah." Bagaimanapun juga, Anda hidup bukan untuk coklat, bukan untuk kenikmatan indria, Sesuatu yang lebih dalam dapat muncul dari kebersamaan kita. Jika Anda ingin benar-benar bahagia, tidaklah cukup hanya dengan bermeditasi. Banyak orang yang telah bertahun-tahun menyepi bermeditasi seorang diri, berakhir dengan hal yang paling jelek. Kembali ke masyarakat, mereka menjadi tidak bisa bergaul. Mereka menjadi tidak dapat berhubungan kembali dengan orang lain. Keadaan damai yang mereka ciptakan merupakan keadaan yang palsu, tetapi merupakan fenomena relatif tanpa sesuatu keutuhan. Dengan Bodhicitta, tidak peduli dimanapun Anda berada, Anda tidak akan pernah asing dan linglung. Semakin sering Anda berhubungan dengan orang lain, semakin bahagia hari-hari Anda. Orang-orang menjadi sumber kebahagiaaan Anda. Andapun hidup untuk orang -orang.Meskipun tetap saja ada orang yaang memperalat Anda, Anda akan bisa mengerti, "Ah, dimasa lalu saya juga mendapatkan manfaat dari mereka." Dengan demikian, hal itu tidak menggangu Anda.


Jadi Bodhicitta merupakan cara paling sempurna untuk mempraktekkan Dharma. Khususnya diabad modern ini, Bodhicitta sangan bernilai. Dengan berakar pada Bodhictta, Anda pasti akan tumbuh subur.
[ Dikutip dari Majalah Buddhis Sinar Buddha, Edisi II ]