| Kelahiran kembali |
Senin, 01 Oktober 2012
Rabu, 16 November 2011
Bulan Magha Nan Agung
Bulan Magha Nan Agung
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro
Pada hari Purnama Sidhi di bulan Magha, lebih dari 25 abad yang lalu, terjadilah suatu peristiwa nan agung dalam sejarah kehidupan Sang Buddha Gotama. Tepatnya di sebuah Taman Tupai di vihara hutan Bambu (Veluvana Arama).
Peristiwa Agung nan Suci itu adalah :
Peristiwa Agung nan Suci itu adalah :
- Hadirnya 1250 bhikkhu.
- Mereka semua telah mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat).
- Mereka adalah para bhikkhu yang ditahbis sendiri oleh Sang Buddha dengan cara Ehi bhikkhu Upasampada.
- Mereka hadir tanpa diundang dan tanpa kesepakatan.
Pada pertemuan nan agung tersebut Sammasambuddha Gotama membabarkan Ovadapapatimokkha yang merupakan inti Ajaran Beliau yang terdiri atas tiga syair, sebagai berikut :
Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi; Para Buddha bersabda, Nibbana adalah yang tertinggi. Jika seseorang yang telah menjadi bhikkhu masih menyakiti, merugikan orang lain, maka sesungguhnya ia bukan seorang samana.
Jangan berbuat jahat, tambahlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Inilah ajaran para Buddha.
Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha; Makan secukupnya, tidak berlebih-lebihan; Hidup di tempat yang sunyi, berusaha melatih samadhi. Inilah ajaran para Buddha.
Ajaran yang terkandung dalam Ovadapatimokkha, sangatlah dalam dan mempunyai makna yang demikian tinggi, begitu sulit dan rumit untuk dipahami dan diselami. Bagi kita yang penghayatan Dhammanya belum cukup, akan sangat sukar untuk mencerna dengan baik. Karena apa ? Sebab pembabaran Ovadapapatimokkha, bukanlah dibabarkan kepada umat biasa atau siswa-siswi Sang Buddha yang masih puthujjhana(belajar/belum mencapai tingkat kesucian), melainkan Ovadapapatimokkha tersebut, dibabarkan di hadapan para Arahat (bhikkhu-bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi).
Namun demikian, kita umat Buddha tetap mengambil hikmah yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha, walaupun tidak sesempurna yang dibabarkan. Apalagi dalam kondisi kehidupan dewasa ini, penuh dengan gejolak, karena krisis ekonomi, keamanan dan keyakinan.
Dalam bait, syair dan kalimat pertama, Sang Buddha bersabda: Khantî paramam tapo titikkha, Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi. Dalam suasana kehidupan masyarakat dewasa ini, yang sedang merangkak menuju proses alam demokrasi, dan diwarnai ketidaktahuan oleh sebagian masyarakat, sehingga sering terjadi tindakan yang menyimpang dari nilai dan prinsip demokrasi yang sebenarnya. Maka ajaran ini, dapat kita jadikan senjata yang ampuh. Seperti sabda Sang Buddha dalam Dhammapada ayat 5 Kebencian tidak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Demikian pula kebrutalan, kekerasan, fitnahan dan tindakan jahat lainnya tidak akan berakhir bila dibalas dengan tindakan yang sama. Tetapi akan berakhir bila kita balas dengan kesabaran, pengertian dan kebijaksanaan.
Kesabaran dibagi menjadi dua bagian yaitu :
Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi; Para Buddha bersabda, Nibbana adalah yang tertinggi. Jika seseorang yang telah menjadi bhikkhu masih menyakiti, merugikan orang lain, maka sesungguhnya ia bukan seorang samana.
Jangan berbuat jahat, tambahlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Inilah ajaran para Buddha.
Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha; Makan secukupnya, tidak berlebih-lebihan; Hidup di tempat yang sunyi, berusaha melatih samadhi. Inilah ajaran para Buddha.
Ajaran yang terkandung dalam Ovadapatimokkha, sangatlah dalam dan mempunyai makna yang demikian tinggi, begitu sulit dan rumit untuk dipahami dan diselami. Bagi kita yang penghayatan Dhammanya belum cukup, akan sangat sukar untuk mencerna dengan baik. Karena apa ? Sebab pembabaran Ovadapapatimokkha, bukanlah dibabarkan kepada umat biasa atau siswa-siswi Sang Buddha yang masih puthujjhana(belajar/belum mencapai tingkat kesucian), melainkan Ovadapapatimokkha tersebut, dibabarkan di hadapan para Arahat (bhikkhu-bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi).
Namun demikian, kita umat Buddha tetap mengambil hikmah yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha, walaupun tidak sesempurna yang dibabarkan. Apalagi dalam kondisi kehidupan dewasa ini, penuh dengan gejolak, karena krisis ekonomi, keamanan dan keyakinan.
Dalam bait, syair dan kalimat pertama, Sang Buddha bersabda: Khantî paramam tapo titikkha, Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi. Dalam suasana kehidupan masyarakat dewasa ini, yang sedang merangkak menuju proses alam demokrasi, dan diwarnai ketidaktahuan oleh sebagian masyarakat, sehingga sering terjadi tindakan yang menyimpang dari nilai dan prinsip demokrasi yang sebenarnya. Maka ajaran ini, dapat kita jadikan senjata yang ampuh. Seperti sabda Sang Buddha dalam Dhammapada ayat 5 Kebencian tidak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Demikian pula kebrutalan, kekerasan, fitnahan dan tindakan jahat lainnya tidak akan berakhir bila dibalas dengan tindakan yang sama. Tetapi akan berakhir bila kita balas dengan kesabaran, pengertian dan kebijaksanaan.
Kesabaran dibagi menjadi dua bagian yaitu :
- Adhivasasana Khanti (kesabaran jasmani). Yang dimaksud kesabaran jasmani adalah suatu sikap tenang dan wajar tidak mudah merengek-rengek atau berteriak-teriak dan marah-marah bila kita sedang lapar, haus, kepanasan, kedinginan dan kecapaian. Misalnya di saat kita sedang kerja bakti di vihâra atau melakukan perjalanan jauh (Dhammavisata), mendengarkan ceramah Dhamma, latihan meditasi dan aktivitas lainnya. Kekuatan kesabaran akan tumbuh dan berkembang dalam diri kita bilamana ada latihan dengan cara setahap demi setahap. Sehingga lambat laun daya tahan fisik akan terbentuk dan memberikan perisai atau pelindung pada diri kita.
- Titikha khanti (kesabaran batin). Hal ini, merupakan tahapan yang lebih tinggi dari kesabaran jasmani. Bilamana seseorang telah memiliki kesabaran batin, ia tidak akan mudah tergoyah dan akan selalu waspada bila ada fitnahan, caci maki dan hinaan, tidak akan mudah marah dan kesal karena perbedaan paham. Tidak akan mudah tersinggung dan mendendam bila ditunjukkan kesalahannya.
Selain ajaran tersebut di atas demikian berharga bagi kita, sebagai bekal menyongsong kehidupan era baru, ada pula ajaran yang begitu penting yang harus kita pahami dan selami, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, yaitu: Patimokkhâ ca samvaro (mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha atau tata tertib). Dalam Buddha Sâsana, telah dibabarkan dengan jelas dan terang tentang tata tertib umat Buddha. Seorang bhikkhu dan bhikkhuni mempunyai Patimokkhasila, seorang samanera dan samaneri mempunyai dasasila dan sekiyavattha; seorang upasaka dan upasika mempunyai Pancasila dan Atthasila.
Mengapa ada tata tertib ? Tata tertib merupakan penuntun umat manusia menuju keharmonisan, kedamaian, keselamatan dan kebahagiaan abadi, Nibbana. Bilamana kita semua dapat menjalani dan menghayati kehidupan ini sesuai dengan tata tertibnya masing-masing, maka tidak akan terjadi peristiwa-peristiwa yang tragis, sadis dan memilukan. Di sinilah pentingya memiliki Samvara. Dengan selalu mengendalikan ucapan (tidak berbicara kasar, berbohong, memfitnah, mencaci dan menghina), perbuatan (menipu, mencuri, membunuh dan berasusila) dan pikiran (etika jahat, irihati, serakah dan benci). Sesungguhnya seseorang telah menang menghadapi musuh yang paling dahsyat. Hilangnya benih keserakahan, kebencian dan kebodohan yang merupakan akhir perjuangan manusia.
Dengan menghayati dan menyelami makna yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha kita dapat merealisasi cita-cita tertinggi, Nibbana.
Berjuanglah semaksimal mungkin dalam kehidupan anda sebagai insan yang memiliki keyakinan, yang kokoh dan mantap tentang ajaran kebenaran. Selamat berjuang, semoga sukses.
Selamat Hari Raya Magha Puja 2543/2000
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.
Mengapa ada tata tertib ? Tata tertib merupakan penuntun umat manusia menuju keharmonisan, kedamaian, keselamatan dan kebahagiaan abadi, Nibbana. Bilamana kita semua dapat menjalani dan menghayati kehidupan ini sesuai dengan tata tertibnya masing-masing, maka tidak akan terjadi peristiwa-peristiwa yang tragis, sadis dan memilukan. Di sinilah pentingya memiliki Samvara. Dengan selalu mengendalikan ucapan (tidak berbicara kasar, berbohong, memfitnah, mencaci dan menghina), perbuatan (menipu, mencuri, membunuh dan berasusila) dan pikiran (etika jahat, irihati, serakah dan benci). Sesungguhnya seseorang telah menang menghadapi musuh yang paling dahsyat. Hilangnya benih keserakahan, kebencian dan kebodohan yang merupakan akhir perjuangan manusia.
Dengan menghayati dan menyelami makna yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha kita dapat merealisasi cita-cita tertinggi, Nibbana.
Berjuanglah semaksimal mungkin dalam kehidupan anda sebagai insan yang memiliki keyakinan, yang kokoh dan mantap tentang ajaran kebenaran. Selamat berjuang, semoga sukses.
Selamat Hari Raya Magha Puja 2543/2000
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.
[ Dikutip dari Berita Dhammacakka, Edisi 20 Februari 2000 ]
Label:
Bhikkhu Dhammakaro,
Ceramah Dhamma
Senin, 29 Agustus 2011
Bodhidharma, Sesepuh Zen
Bodhidharma, Sesepuh Zen
Agama Buddha Chan (Chan Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Chan adalah terjemahan dari istilah Sanskerta DHYANA, yang berarti meditasi. Dengan demikian, agama Buddha Chan mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Ini terkadang membuat orang menjadi percaya bahwa praktik ini sangat mirip dengan praktik Tanah Suci. Praktik Tanah Suci juga menyingkirkan pengetahuan intelektual, serta mengajarkan para umatnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Buddha Amitabha untuk memperoleh keselamatan, sekalipun bagi agama Buddha Chan keselamatan bukanlah "JALAN MUDAH". Bagi agama Buddha Chan, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian Pencerahan. Namun, kedua tradisi ini sama-sama populer bagi orang Tionghoa, dan kemudian juga bagi orang Jepang di abad ke-12. Di Jepang, agama Buddha Chan ini dikenal sebagai agama Buddha Zen. Dua aliran utama yang muncul dari tradisi ini adalah RINZAI (LIN CI) dan SOTO (CAO DONG), yang hanya berbeda dalam cara pendekatannya menuju Pencerahan.
Bodhidharma (470-543 Masehi) adalah sesepuh ke-28 agama Buddha, sekaligus sebagai sesepuh pertama dari agama Buddha Chan, tradisi yang didirikannya di Tiongkok. Ajarannya diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai "TRANSMISI BATIN/PEWARISAN BATIN" terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah HUI NENG (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.
Sesampainya di Tiongkok, Bodhidharma dipanggil menghadap ke istana oleh Kaisar WU DI dari Dinasti Liang, yang juga merupakan sesosok umat Buddha yang penuh semangat serta yang membanggakan dirinya karena banyak mendukung agama Buddha. Karena bangga atas pengetahuannya akan agama Buddha serta sumbangsih yang telah diberikannya kepada Sangha, ia bertanya kepada sang suciwan, "seberapa banyak jasa kebajikan yang telah diperolehnya?".
"Tidak ada jasa kebajikan apa pun" adalah jawaban yang mengejutkan dari Bodhidharma.
Sang Kaisar sering kali mendengarkan ajaran dari para guru terkenal yang berkata, "jika berbuat baik, Engkau akan menerima kebaikan. Jika berbuat buruk, Engkau akan menerima keburukan. Hukum Karma tak berubah, akibat timbul dari penyebab laksana bayang-bayang mengikuti bendanya'. Namun sekarang sang suciwan menyatakan bahwa Kaisar belum memperoleh jasa kebajikan apa pun. Kaisar merasa sangat kebingungan.
Mengapa Bodhidharma menjawab seperti itu? Mungkin karena beliau tengah mencoba berkata, dengan sedikit kata-kata, bahwa jika seseorang melakukan perbuatan baik dengan niat untuk memperoleh jasa kebajikan bagi dirinya sendiri, itu bukan lagi praktik Buddhis. Itu berarti bahwa orang itu tidak benar-benar tengah mempraktikkan Dharma, namun lebih untuk memuaskan egonya sendiri ataupun meningkatkan kesejahteraannya sendiri, dan malah mungkin supaya dikenal dan dihargai. Dalam hal ini, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan apa pun dalam perbuatan seperti ini? Dan sebagai guru Zen, ia tidak berkata banyak. Karena itu, ia hanya menjawab, "Tidak ada jasa kebajikan apa pun".
Merasa terkejut, Kaisar lalu menanyakan pertanyaan berikutnya, "Lalu, apa inti agama Buddha itu?"
Bodhidharma segera menjawab. "Kekosongan di mana-mana, tiada inti apa pun". Jawaban ini membuat Kaisar tertegun karena ia tak mampu memahami makna yang mendalam dari istilah "Tiada inti apa pun" dalam ajaran Buddha. Para guru lainnya telah bersusah-payah menjelaskan bahwa inti ajaran agama Buddha terkandung dalam doktrin-doktrin seperti Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma), Empat Kebenaran Mulia, Cita-cita Bodhisatwa, dan sebagainya. Namun orang yang dianggapnya sebagai sosok sesepuh agung agama Buddha ini hanya menyatakan bahwa "tidak ada inti apa pun"
Lalu Kaisar menanyakan pertanyaannya yang terakhir, "Karena Engkau menyatakan bahwa dalam agama Buddha semua hal tidak memiliki inti, lalu siapakah yang tengah berbicara di hadapankun saat ini?" Bodhidharma menjawab, "Saya tidak tahu". Sang Kaisar sangat terkejut, karena ia tidak mampu memahami maksud Bodhidharma.
Dengan penuh kebingungan, Kaisar lalu menyuruh sang suciwan pergi dari istana. Demikianlah, untuk pertama kalinya Tiongkok mencicipi ajaran Chan.
Setelah itu, Bodhidharma menyendiri lagi, merenung, "Karena sesosok ahli yang terpelajar dan hebat seperti Kaisar pun tidak mampu memahami apa yang aku tengah coba sampaikan, mungkin kondisinya belum matang bagiku untuk mengajar......" Ia lalu menyendiri di sebuah gua di Biara Shao Lin (Shao Lin Si) yang terkenal itu. Disana, ia duduk dalam perenungan yang mendalam seraya menghadap ke dinding gua selama sekitar sembilan tahun, menunggu waktu yang tepat, saat ajaran-ajarannya bisa dipahami dan diterima rakyat disana.
Bodhidharma datang ke Tiongkok untuk memberikan ajarannya yang khusus, yang bisa dikatakan terkandung dalam syair ini :
PEWARISAN AJARAN SECARA KHUSUS DI LUAR KITAB SUCI,
TAK BERGANTUNG PADA KATA ATAUPUN HURUF,
LANGSUNG MENEMBUS KE HATI,
MELIHAT KE DALAM SIFAT DIRI SENDIRI.
Bodhidharma selanjutnya tinggal di Tiongkok selama sekitar 50 tahun, mengajar di saat yang tepat, dan menggunakan LANKAVATARA SUTRA (LENG JIA JING) dalam ajarannya. Ia digantikan oleh para sesepuh berikut ini :
- Sesepuh ke-2 : Hui Ke (486-593 Masehi)
- Sesepuh ke-3 : Seng Can (wafat tahun 606 Masehi)
- Sesepuh ke-4 : Dao Xin (580-651 Masehi)
- Sesepuh ke-5 : Hong Reng (602-675 Masehi)
- Sesepuh ke-6 : Hui Neng (638-713 Masehi)
Adalah Hui Neng, seorang pandai kayu yang buta huruf, yang akhirnya membuat agama Buddha Chan berkembang subur di Tiongkok, lebih dari sebelumnya.
Mungkin menarik untuk dicatat disini bahwa setelah kepergian Bodhidharma, Kaisar Wu Di membicarakan kejadian tersebut dengan guru spiritualnya, BAO ZHI. Sang guru bertanya kepada sang Kaisar, "Apakah Yang Mulia mengetahui siapakah orang ini sesungguhnya? Beliau ini adalah Avalokitesvara Mahasatva yang tengah mewariskan Jejak Hati Buddha....."
Betapa menyesalnya Kaisar karena telah menyuruhnya pergi dari istana. Bertahun-tahun kemudian, tatkala mengetahui sang suciwan telah wafat, Kaisar sangat berduka. Ia lalu membuatkan sebuah pahatan untuk mengenang sang sesepuh agung tersebut. Pahatan itu berbunyi :
"ADUHAI! AKU MELIHATNYA TAPI TAK MELIHATNYA,
AKU BERJUMPA DENGANNYA TAPI TAK BERJUMPA DENGANNYA,
AKU BERTEMU DENGANNYA TAPI TAK BERTEMU DENGANNYA,
SEKARANG, DAN SEBELUM INI, SUNGGUH AKU MENYESALINYA!."
Bodhidharma memiliki banyak umat yang penuh bakti, dan hari wafatnya diperingati pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan bulan. Beliau sering kali dilukiskan sebagai sesosok biksu kelana, atau dilukiskan berdiri menjejak sebatang ilalang yang membawanya menyeberang sungai, suatu mukjizat yang membuat orang -orang yang menyakini kekuatannya ini menganggap beliau sebagai seorang ARHANT atau LUO HAN, suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang artinya "DEWA ABADI". Menurut tradisi Tionghoa, Bodhidharma adalah salah satu dari 18 Luo Han yang sangat dekat dengan umat manusia. Lukisan kelompok Luo Han ini umumnya terdapat di banyak wihara, dan para Luo Han ini digambarkan memiliki aneka jenis kekuatan adialami, yang dilambangkan oleh hewan-hewan liar yang merunduk jinak di samping mereka, dan atau oleh benda-benda khusus yang dihubungkan dengan mereka ini. Sekalipun para Luo Han ini berada satu tataran di bawah tataran Bodhisatwa, mereka ini adalah makhluk-makhluk yang telah Tercerahkan, yang patut kita hormati. Oleh umat Buddha, Bodhidharma atau DA MO dipuja sebagai pendiri TRADISI PERENUNGAN AGUNG atau CHAN/ZEN. Dan oleh orang-orang lainnya, ia dipuja atas kekuatan perlindungannya, atau sebagai suciwan agung dari Biara Shao Lin.
Sumber : Buddha dan Bodhisatwa dalam agama Buddha Tionghoa
Penerbit : Yayasan Serlingpa Dharmakirti
Label:
Mahayana,
tokoh Buddhis,
zen
Senin, 18 Juli 2011
Warga negara yang baik dalam Buddhisme
| Warga negara yang baik dalam Buddhisme | | |
| Oleh Ari Mariyono, S.Ag |
| Komponen suatu negara merupakan bentuk bagian yang sangat majemuk yang mana terdiri dari berbagai jenis budaya, adat istiadat yang membentuknya. Dalam hal ini tidaklah terlepas dari Peran Sumber Daya Manusia yang menempati bagian negara tersebut, yaitu kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bangsa itu dapat dikondisikan oleh Sumber Daya Manusia yang menempatinya. Peran warga negara untuk memajukan bangsa dan negara merupakan kewajiban sepenuhnya yang harus dipatuhi oleh semua penduduk sebuah negara tersebut. Kewajiban Menjadi Warga Negara Pada hakikatnya setiap warga negara memiliki kewajiban dalam pembelaan tanah air serta wajib menyampaikan pendapatnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara serta wajib mematuhi peraturan yang ada dalam negaranya. Hal ini diatur dalam undang-undang yang berlaku dalam kenegaraannya masing-masing. Di Indonesia hal tersebut diatur dalam UUD 1945 (Kansil, 2004: 50-54) yaitu terdapat dalam pasal-pasal dalam Undang Undang dasar yaitu: Pasal 27 ayat tiga, Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 28 ayat 3 poin kesatu, Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Pasal 28 ayat 3 poin kedua, Setiap warga negara berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. Pasal 30 ayat 1, Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 30 ayat 2, Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung. Pasal-pasal tersebut merupakan sarana untuk warga negara dalam menyumbangkan kemampuan, bakat, serta kepandaian dalam memajukan serta mengabdikan diri pada bangsa dan negara. Pandangan agama Buddha terhadap peran sebagai warga negara dimulai dari membangun individu manusia yang bermoral baik, menjalankan norma yang ada dalam masyarakat dan agama serta mentaati peraturan yang ada dalam suatu negara. Dhammananda (2003: 416) menekankan bahwa kedamaian suatu negara atau dunia akan tercapai jika setiap indivudu dapat mengamankan dirinya sehingga kedamaian dapat dimulai dari diri sendiri dan berkembang dalam lingkungan yang lebih luas. Dengan dimulai dari individu yang baik maka dapat diterima dalam masyarakat, sehingga mampu memberikan ide atau gagasan untuk diterima di dalam masyarakat. Gagasan atau ide yang diterima tentunya memiliki manfaat untuk kemajuan bersama. Tindakan sederhana demikian merupakan contoh peran sebagai warga negara. Selain itu Buddha menekankan bahwa seseorang harus memiliki suatu keahlian sehingga dapat menghidupi dirinya sendiri dan memberikan manfaat terhadap makhluk lain, maupun dapat berperan dalam kepentingan banyak orang. Buddha bersabda dalam Ma?ggala sutta, Khuddakapatha (?anamoli, 2005: 146) bahwa seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan merupakan berkah utama. Untuk mewujudkan manusia yang mempunyai keahlian serta keterampilan, Buddha dalam Angutara Nikãya (Hare, 2001: 188) menekankan manusia untuk: (1) menjadi rajin dan terampil, (2) menjaga harta kekayaan, (3) memiliki dan menjadi teman yang baik, serta (4) memiliki mata pencaharian yang benar. Nasihat ini jika diterapkan pada setiap individu, maka akan tercipta warga negara yang memiliki kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab yang tinggi sehingga kedamaian dan ketenteraman dapat terwujud dengan adanya peran yang aktif dari warga negaranya. Dalam agama Buddha warga negara dilihat dari cara menjalani kehidupan terdiri dari dua kelompok besar (Rashid,1997: 23) yaitu: 1. Gharavasa (umat awam) adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak berkeluarga yaitu mempunyai pekerjaan, seperti: petani, pedagang, militer dan lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka. 2. Pabbajita adalah orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, keduniawian, dan menjalani hidup suci (brahmacari). Pabbajita terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri (Panjika 2004: 341 dan 372) bhikkhu adalah rohaniawan agama Buddha laki-laki, bhikkhuni adalah rohaniawan agama Buddha perempuan, samanera adalah calon bhikkhu, samaneri adalah calon bhikkhuni. Dilihat dari dua cara kehidupan tersebut masing-masing mempunyai peran dalam upaya pembelaan negara. Dalam hal ini umat awam lebih bebas dalam mengekpresikan dirinya dalam kehidupan bernegara jika dibandingkan dengan para pabbajita. Dalam Buddhisme, umat Buddha perumah tangga dapat berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan politik, termasuk menguasai dan mempergunakan kekuasaan politik. Selain itu menurut Dammananda (2003: 419) umat Buddha (khusus umat awam) diperbolehkan ikut dalam peperangan, hal ini seperti yang diceritakan bahwa suatu ketika Sinha, seorang jenderal angkatan bersenjata, menghadap Buddha dan menanyakan tentang peperangan untuk alasan yang benar diperbolehkan. Dalam Dhamma menegaskan jika terdapat seseorang yang patut menerima hukuman harus dihukum. Dan ia yang patut diberi hadiah harus diberi hadiah. Jangan melukai makhluk hidup apapun, tetapi berlakulah adil, penuh cinta, dan kebaikan. Orang yang dihukum atas kejahatannya akan terluka bukan dari niat buruk hakimnya tetapi melalui tindakan jahat itu sendiri. Dalam hal ini Buddha mengajarkan bahwa semua peperangan di mana manusia mencoba membantai saudaranya sangat disayangkan. Terkecuali jika tidak ada cara lain mereka yang terlibat perang untuk memelihara kedamaian dan keteraturan, setelah menghabiskan segala cara untuk menghindari konflik. Dalam Dhamma menekankan bahwa jika seseorang yang berjuang demi kedamaian dan kebenaran akan mendapatkan ganjaran besar: bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan. Namun dalam hal ini Buddha tetap lebih mengutamakan bentuk penyelesaian masalah dengan perdamaian karena perdamaian merupakan kemenangan sepenuhnya. Sebagai warga negara para pabbajita mempunyai peran dalam mengabdikan dirinya dalam kenegaraan. Menurut Dhammananda (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl.phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid) peran tersebut adalah sebagai berikut: 1. Para pabbajita dapat mendidik para raja dan menteri (para politisi) dengan mengajarkan Dharma kepada mereka, menjadi penengah dalam berbagai permasalahan politik dan melindungi hak-hak para warga negara pada saat diperlukan. 2. Para pabbajita tidak terlibat sebagai pribadi dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Mereka tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik. Dengan kata lain, para pabbajita boleh terlibat dalam politik tetapi harus dibatasi misalnya para pabbajita hanya boleh diminta untuk memberikan pertimbangan atau nasihat dalam pengambilan keputusan, tetapi para pabbajita tidak boleh menjadi politisi. Dalam pembahasan ini Dhammananda berbicara tentang tidak ada kerugian bagi para pabbajita berpartisipasi dalam politik artinya para pabbajita berbicara tentang pendidikan Dhamma dan menjadi penengah dalam permasalahan politik namun bukan ikut dalam perebutan kekuasaan politik. Hal ini berdasarkan alasan-alasan yang tepat, seperti (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl. phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid): (a) Hal itu disebabkan oleh sejarah politik sosial seperti dalam kasus para Dalai Lama di Tibet. (b) Mereka yang tidak mempunyai pilihan lain karena lingkungan politik tempat mereka berada. Misalnya, apabila mereka dipilih oleh pihak-pihak yang berwenang untuk menjabat sebagai menteri, wakil rakyat, anggota badan legislatif, dan lainnya. Sebagai warga negara keteladanan Buddha sangatlah luas yaitu terbukti bahwa telah memberikan ajaran moral kepada umatnya. Setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha menempuh perjalanan ke banyak tempat di India untuk membabarkan Dhamma. Selama proses pembabaran Dhamma, Buddha terlibat dalam berbagai peristiwa yang berkenaan dengan politik. Buddha menyelesaikan perselisihan serta memberikan pendidikan nilai-nilai spiritual kepada para raja dan menteri. Buddha tidak terlibat dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Buddha juga tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik, tetapi Buddha peduli terhadap situasi kesejahteraan negara. Sebagai contoh dalam Dhammapada Atthakatha Buddha berperan dalam mendamaikan perang saat suku Koliya dan Sakya memperebutkan air sungai, Buddha memberi nasihat kepada mereka agar tidak melakukan peperangan. Buddha bersabda “Demi keperluan sejumlah air, yang sedikit nilainya, kalian seharusnya tidak mengorbankan hidupmu yang jauh sangat berharga dan tak ternilai” (Setyabudi dan Tim Penerjemah Vidyãsenã, 1997: 318). Jika Beliau tidak menghentikan peperangan maka pertumpahan darah akan terjadi. Penutup Jika semua manusia mengamalkan ajaran moral dari Buddha maka kedamaian seluruh dunia akan terwujud. Di mana setiap warga negara dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan sikap damai, tanpa peperangan dan bentuk konfik apapun, dengan demikian akan tercipta keadaan harmonis dan keseimbangan di semua bidang dan masing-masing individu berperan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Referensi Dhammananda, Sri. 2003. Keyakinan Umat Buddha. Terjemahan oleh Ida Kurniati. 2005. Jakarta: Yayasan Penerbit Karania. -------------------. 2008. Agama Buddha dan politik (Online) (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdamma_dtl.phpid306hal3contbuddhism_politik.htmlpathhmid diakses 12 April 2008). Hare, E. M. (Ed.). 2001. Thebook of Gradual Sayings, vol III (Anguttara Nikaya). Oxford: The Pali Texts Society. Kansil. 2004. Sekitar UUD 1945 Dewasa Ini. Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia. Nyanamoli. (Ed.). 2005. The Minor Reading (Khuddakapatha). Oxford: The Pali Texts Society. Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhis Center. Rashid, Teja SM. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Buddhis Bodhi. Setyabudi, Dharmakusuma, dan Tim Penerjemah Vidyãsenã. 1997. Dhammapada Atthakatha. Jogyakarta: Vidyãnenã |
Label:
Perspektif Buddhis
Sabtu, 18 Juni 2011
Bergaul Dengan Orang Bijak
Bergaul Dengan Orang Bijak
Masing-masing mencoba mengatasi kejadian yang menegangkan itu dengan cara sendiri-sendiri. Ada yang menangis meraung-raung meratapi 'nasib' yang sedang menimpa diri mereka.
Ada juga yang dengan gencar menyebut mantra atau aji-aji yang dipercaya dapat menangkal badai. Ada pula yang sambil berkomat-kamit mengeluarkan segala jinat, 'hu' atay pusaka yang selama ini selalu dibawa-bawa kemana pun mereka pergi. Mereka percaya benda-benda itu mampu melindungi diri mereka dari segala macam bahaya. Selain itu ada pula yang sembari menjanjikan kaul bersujud memohon ampun kepada dewa badai supaya tidak murka dan berhenti meniupkan badai. Adapula yang menengadahkan kedua telapak tanggannya ke langit, mencoba memelas kepada Sang Pencipta sekaligus pencabut nyawa bagi umat manusia. Mereka mencoba memelas dengan memperlihatkan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, kebaktian dan ketakwaan kepadanya supaya hari kematiannya diperpanjang lagi.
Di antara pedagang itu, ternyata ada seorang laki-laki yang bukannya sibuk mencari jalan keluar dalam mengatasi musibah tersebut, melainkan hanya duduk dengan tenangnya di atas geladak kapal. Tidak ada rasa taku atau cemas sedikit pun di wajahnya, seolah-olah kejadian itu sama sekali tidak tampak olehmatanya, jerit-jerit kekhawatiran itu tidak terdengar oleh telinganya, suasana yang menegangkan itu tidak mencekam batinnya, dan bahaya yang mengerikan itu tidak disadarinya.
Melihat pemandangan yang aneh tersebut, semua teman seperjalanannya merasa sangat heran. Mereka kemudian berbondong-bondong mendatanginya untuk menanyakan mengapa ia bersikap demikian.
Sebelum menjelaskan alasannya, laki-laki bijak itu mengungkapkan betapa sia-sianya semua upaya yang ditempuh oleh teman-temannya dalam mengatasi masalah tersebut. Kehidupan umat manusia, juga makhluk-makhluk lainnya, sesungguhnya tidaklah bergulir mengikuti guratan nasib atau takdir yang telah ditentukan sebelumnya.
Dunia ini bukanlah sebuah panggung sandiwara dimana umat manusia dipaksa memerankan adegan-adegan sebagaimana yang digubah sebelumnya. Setiap makhluk mempunyai hak dan kepercayaan yang kesahihannya tidak pernah terbuktikan.
Fenomena-fenomena alam terjadi dan berubah hanya oleh sebab-sebab yang alamiah atau ilmiah, sama sekali tidak terpengaruh oleh kepercayaan yang seharusnya sudah punah sejak kebangkitan peradaban manusia. Demikian pula dengan jimat, 'hu' pusaka dan benda-benda keramat lainnya. Yang dapat menjadi pelindung sejati bagi diri seseorang bukanlah sesuatu yang berasa di luar dirinya, apalagi hanya sekedar benda mati yang tak berjiwa semacam itu.
Pada jaman dimana segala kekuatan alam sudah dapat dijelaskan serta dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan, seseorang tidaklah semestinya takut lagi pada dewa-dewa 'tertentu' yang keberadaannya tidak pasti. Sungguh memprihatinkan apabila seseorang termakan oleh promosi tentang tokoh-tokoh fiktif yang digambarkan sebagai penyelamat agung yang senantiasa menolong umat manusia. Setiap orang sesungguhnya dapat menjadi juru selamat bagi diri sendiri.
Karena itu, seseorang hendaknya bersandar pada diri sendiri, bukan kepada makhluk kudus lain betapa pun luhur kedudukannya. Hukum Alam tidaklah pernah pandan gbulu atau berpihak pada siapa pun, dan tidaklah dapat disuap atau dibujuk dengan doa-doa permohonan.
Karena itu, tidaklah perlu berdoa pada suatu makhluk yang bersikap sewenang-wenang, yang eksistensinya sangat meragukan. Manusia bukanlah makhluk rendah yang harus mengemis-ngemis keselamatan apalagi hanya sekedar 'makanan' dan 'rejeki'.
Selanjutnya laki-laki bijak itu menjelaskan mengapa ia sama sekali tidak kelihatan takut, cemas atau khawatir atas bahaya yang mengancam dirinya. Ia hanya duduk dengan tenang karena sudah menyadari serta mempertimbangkan bahwa tidak ada jalan keluar yang wajar dari bahaya tersebut.
Kematian sesungguhnya bukan suatu hal yang menakutkan. Kematian tidak lebih hanyalah padamnya lima kelompok kehidupan. Cepat atau lambat, hal ini pasti menimpa setiap orang. Bagaikan batu karang besar yang puncaknya menjulang ke angkasa, niscaya berubah dan hancur; demikian pula perubahan, kelapukan dan kematian menguasai semua makhluk, tak terkecuali - apakah dia seorang bangsawan, agamawan, pedagang, pekerja atau orang hina-dina. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang dapat terhindar dari kematian. Dimana ada kelahiran disitu pula ada kematian. Ini adalah suatu Hukum Alam yang tidak dapat dielakkan.
Bila kita renungkan secara mendalam, seseorang yang dipandang secara duniawi sebagai makhluk yang hidup sebenarnya setiap saat mengalami kematian dan kelahiran kembali yang berulang-ulang. Tidak ada satu bagian pun dair lima kelompok kehidupan yang dapat bertahan terus, kekal.
Rupa atauu badan jasmaniah mulai dari yang tertampak dengan jelas sampai dengan sel-sel yang sangat kecil sekalipun senantiasa mengalami perubahan atau kerusakan. Begitu pula dengan perasaan, ingatan, corak batin dan kesadaran. Semua yang berkondisi tidak kekal.
Apabila mempunya pengertian semacam itu, dan yakin atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan semasa hidupnya - yang menjadi salah satu kondisi penentu bagi kehidupan selanjutnya, maka seseorang tidak akan merasa takut, cemas atau khawatir atas kematian yang bakal menimpa dirinya.
Kematian dapat diterima dalam kewajaran. Dengan mengisi kehidupan dengan perbuatan-perbuatan baik melalui pikiran, ucapan dan tindakan - seseorang dapat mengharapkan kehidupan mendatang yang baik dan menetukan kehidupan mendatang. Apabila seseorang tercekam rasa ketakutan yang tak beralasan (perwujudan dari 'dosa'), melekat pada kehidupan, dunia, harta benda, kemasyuran, kedudukan, kehidupan mendatang bagi dirinya dapatlah dipastikan yaitu suatu kehidupan, yaitu kehidupan yang suram, penuh penderitaan.
Sebaliknya dengan menjaga keadaan batin agar tetap tenang serta mengembangkan pengertian benar; maka kehidupan mendatang yang cerah dan menyenangkan adalah suatu harapan yang nyata bagi dirinya. Salah satu dari sekian banyak cara untuk menenangkan batin ialah dengan merenungkan jasa kebajikan yang pernah diperbuat semasa hidupnya.
Diceritakan oleh laki-laki bijak itu bahwa menjelang keberangkatannya menuju samudra, ia telah mempersembahkan dana kepada Sangha, menyatakan pernaungan pada Sang Tiratana, berpantang dari pembunuhan, pencurian, perzinahan. pendusataan dan pemabukan. Jasa kebajikan inilah yang menjadi pokok perenungan bagi dirinya di saat-saat yang kritis. Dalam Agama Buddha, perenungan - perenungan ini disebut Caganussati dan Sila nussati yang merupakan dua di antara 10 macam perenungan (Annusati 10).
Mendengar penjelasan laki-laki bijak itu, hilanglah perasaan takut yang sebelum ini sangat mencekam para pedagang yang sedang mengalami musibah tersebut. Kini sadarlah mereka atas hakikat kehidupan di dunia ini. Timbullah keyakinan yang benar terhadap Sang Tiratana ; Buddha, Dhamma dan Sangha, di hadapan laki-laki bijak itu mereka semua menyatakan kebulatan tekadnya untuk menjalani Pancasila.
Ketika selesai mengucapkan pantangan terhadap pembunuhan, air samudra menggenang hingga sebatas lutut. Ketika selesai mengucapkan pantangan terhadap pencurian, air samudra menggenang sebatas pinggang. Ketika selesai mengucapkan pantangan terhadap perzinahan, air samudra menggenang sebatas dada. Ketika selesai mengucapkan pantangan terhadap pendustaan, air samudra menggenang hingga sebatas leher. Ketika selesai mengucapkan pantangan terhadap mabuk-mabukan, air semudra menggenang sebatas mulut.
Begitu kelima sila selesai diucapkan semuanya, laki-laki bijak itu memberikan nasihat singkat : "Tidak ada pelindung selain diri sendiri. Tidak ada penyelamat lain selain diri sendiri. Bagaimanapun kehidupan mendatang, semua itu tergantung dari diri Anda sendiri, bukan orang lian, dewa, malaikat maupun makhluk adikodrati.
"Anda sekalian hendaknya merenungkan sila yang telah Anda tekadkan untuk dijalankan dengan kesungguhan hati. Pelaksanaan Dhamma yang telah Anda lakukan, inilah yang menjadi pelindung Anda yang sejati."
Para pedagang itu menuruti serta melaksanakan nasihat laki-laki bijak itu. Mereka akhirnya sanggup menyambut kematian dengan penuh ketenangan dan kemantapan diri, seolah-olah menyambut seorang tamu. Begitu kesadaran ajal (cuti-citta) mereka padam, mereka semua terlahir kembali di Alam Surga Tavatimsa. Mereka menikmati kebahagiaan surgawi di alam sana dalam waktu yang lama berkat tekadnya yang kuat dalam menjalankan Pancasila.
Dari kisah di atas, tampaklah dengan jelas betapa besar peranan seorang bijak dalam mengarahkan orang-orang lain pada jalur yang tepat. Dengan modal teladan pribadinya yang nyata dan kearifannya., orang bijak sanggup mengikis habis kesesatan batin yang bercokol pada orang-orang lain dan sebaliknya memupuk keyakinan surgawi, hanyalah sebagian kecil dari banyak manfaat yang dapat diraih dengan menjalin pergaulan dengan orang bijak. Singkat kata,"Bergaul dengan orang bijak" adalah suatu Berkah Utama.
Sementara orang mungkin berpendapat bahwa orang bijak tersebut dapatlah dianggap 'gagal' menolong serta menyelamatkan teman-teman seperjalanannya karena mereka semua akhirnya mati terbenam dalam samudra. Sesungguhnya, makna 'keselamatan' dalam pandangan Agama Buddha memang sangatlah berbeda jauh dengan konsep yang dianut oleh beberapa kepercayaan dan agama lain. Orang bijak bukanlah seorang Buddha Abadi, bodhisattva ideal ataupun juru selamat yang menghidupkan orang mati, menyembuhkan sakit, atau menyelamatkan dari segala bencana malapetaka bagi mereka yang percaya atau melafalkan namanya.
Bagi orang bijak, semua itu sesungguhnya hanyalah suatu keselamatan yang semu ~ walaupun seandainya merupakan suatu kenyataan bukan semata-mata dongeng belaka. Apalah artinya suatu kehidupan, kesembuhan atau keselamatan, apabila seseorang tidak tahu akan kesunyataan mulia (ariya-sacca). Orang bijak tidak ingin menjadi seorang penghibur yang berusaha mengelabuinya, menutupi atau menjauhkan orang-orang lain dari hakikat hidup. Tetapi, sebaliknya dengan berbagai cara orang bijak senantiasa berusaha agar mereka dapat menyadari, menatap serta menerima hakikat hidup dengan pengertian benar. Inilah sesungguhnya keselamatan yang sejati.
Pergaulan dengan orang bijak adalah suatu faktor penunjang bagi timbulnya kebajikan, pengetahuan, pandangan benar, kearifan dan kebijaksanaan.
Label:
Cerita Buddhis
Langganan:
Postingan (Atom)
