Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Rabu, 03 Oktober 2012

Dhammacakkappavattana Sutta - Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dharma

Dhammacakkappavattana Sutta - Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dharma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Sukhemo





Pada hari ini, hari Minggu tanggal 23 Juli 2000, kita kembali berkumpul di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya untuk bersama-sama memperingati satu hari yang sangat penting bagi umat Buddha, yaitu Asādha Pūjā.Asādha (Sansekerta) atau Asāḷha (Pali) adalah nama bulan yang bersamaan dengan bulan Juli atau Agustus. Hari bulan pernama tahun 2000 atau tahun Buddhis 2544, jatuh pada hari Minggu, 16 Juli. Hari bulan purnama dalam bulan Asādha adalah hari dimana Sammasambuddha Gotama membabarkan Ajaran untuk pertama kali kepada lima orang pertapa yang bernama Assaji, Vappa, Mahānama, Bhaddiya, dan Kondañña. Khotbah ini disebut : DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA, khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma. Sejak saat itu sampai sekarang, roda Dhamma sudah berputar tanpa berhenti lebih dari 25 abad lamanya. Apakah Ajaran itu masih relevan sampai sekarang, setelah lebih dari 25 abad lamanya ? Ya, tentu saja masih relevan, karena Dukkha pada zaman dulu masih kita alami pada zaman sekarang. Apakah Dukkha itu ?

Kelahiran, usia tua, sakit, kematian adalah Dukkha. Berkumpul dengan yang tidak disukai adalah Dukkha, berpisah dengan yang dicintai adalah Dukkha. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah Dukkha. Krisis ekonomi, peperangan, gempa bumi dan sebagainya, menyebabkan Dukkha. Singkatnya, kemelekatan pada tubuh jasmani dan batin (panca-upadana khanda) menyebabkan Dukkha.

Apakah sebab Dukkha itu ? Jawabnya adalah Tanhā, nafsu keinginan, yang terdiri dari nafsu keinginan untuk memuaskan kesenangan indria (kama tanhā), nafsu keinginan untuk penjelmaan (bhava tanhā), dan nafsu keinginan untuk pemusnahan diri (vibhava tanhā).

Apakah Dukkha itu dapat dilenyapkan ? Ya, Dukkha itu dapat dilenyapkan, yaitu dengan melenyapkan sebabnya, Tanhā. Kalau Tanhā itu lenyap, maka Dukkha juga akan lenyap.

Bagaimana cara melenyapkan Dukkha itu ? Dukkha itu dapat dilenyapkan dengan suatu Jalan yang terdiri dari 8 faktor, yaitu :
  1. pandangan benar (sammā-diṭṭhi);
  2. pikiran benar (sammā-saṅkappa);
  3. ucapan benar (sammā-vācā);
  4. perbuatan benar (sammā-kammanta);
  5. mata-pencarian benar (sammā-ājīva);
  6. daya upaya (sammā-vāyāma);
  7. perhatian benar (sammā-sati);
  8. meditasi benar (sammā-samādhi);
Pengetahuan dan pengertian Buddha Gotama tentang Empat Kesunyataan Mulia ini, yaitu :
  1. Dukkha
  2. Sebabnya Dukkha
  3. Lenyapnya Dukkha
  4. Jalan untuk Melenyapkan Dukkha,
telah sempurna dalam 3 tahap dan 12 segi pandangan. Tiga tahap itu adalah :
  1. Sacca ñāna = pengetahuan tentang 4 Kesunyataan Mulia.
  2. Kicca ñāna = pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan tentang 4 Kesunyataan Mulia itu.
  3. Kata ñāna = pengetahuan mengenai apa yang telah dilakukan tentang 4 Kesunyataan Mulia itu.
  1.  
    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Dukkha.
    2. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha harus diketahui.
    3. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha telah diketahui dengan sempurna.
  2.  
    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Sebabnya Dukkha.
    2. Sebabnya Dukkha harus dilenyapkan.
    3. Sebabnya Dukkha telah dilenyapkan dengan sempurna.
  3.  
    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha.
    2. Lenyapnya Dukkha harus direalisasikan.
    3. Lenyapnya Dukkha telah direalisasikan dengan sempurna.
  4.  
    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Jalan untuk melenyapkan Dukkha.
    2. Jalan ini harus dikembangkan.
    3. Kesunyataan Mulia tentang Jalan untuk melenyapkan Dukkha ini telah dikembangkan dengan sempurna.
    Masing-masing Kesunyataan terdiri dari 3 tahap, sehingga 4 Kesunyataan Mulia tersebut memiliki 12 segi pandangan. Semuanya telah sempurna diketahui dan dimengerti oleh Sammasambuddha Gotama.

    Pada awal khotbahnya, Buddha memperingatkan bahwa ada dua hal yang harus dihindarkan oleh pertapa, yaitu :

    1. pemuasan nafsu indria, yang dinilai rendah (hīno), kasar (gammo), duniawi (pothujjaniko), tidak mulia (anariyo), tak bermanfaat (anatthasañhito);
    2. penyiksaan diri, yang dinilai menyakitkan (dukkho), tidak mulia (anariyo), tak bermanfaat (anatthasañhito).


    Kemudian Buddha mengajarkan hasil penemuan Beliau, yaitu Jalan Tengah Berunsur 8 (terdiri dari pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencarian benar, daya upaya benar, perhatian benar, meditasi benar) yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketenteraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian nibbana/akhir dukkha.

    Setelah itu Buddha menguraikan tentang 4 Kesunyataan Mulia: Dukkha, Sebab Dukkha, Lenyapnya Dukkha, Jalan menuju Melenyapkan Dukkha.

    Salah seorang dari 5 pertapa yang bernama Kondañña mengerti apa yang diajarkan oleh Buddha, dan memperoleh Mata Dhamma bahwa "segala sesuatu yang mempunyai sebab, semuanya akan lenyap setelah sebabnya lenyap" dan mencapai tingkat kesucian pertama, Sotāpanna.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana Edisi 7 ]  

Senin, 01 Oktober 2012

Kelahiran kembali

Kelahiran kembali



Pengenalan Penjelasan tentang “nasib” manusia setelah mengalami kematian mungkin adalah salah satu dari topik terpenting yang dipertanyakan. Namun sekarang, telah umum bahwa pertanyaan ini sering diabaikan karena dianggap tidak penting lagi. Tetapi, apabila kita memikirkan kembali sampai batas mana pandangan kita mempengaruhi tindakan kita, kita akan melihat bahwa cukup penting bagi kita untuk memperoleh beberapa pengertian mendetail tentang konteks hidup kita. Selain itu, pandangan kita mengenai akhirat juga akan menentukan apa yang kita anggap penting di kehidupan sekarang.



Ada 3 posisi alternatif yang mungkin terjadi pada nasib manusia setelah mengalami kematian, yaitu:

Yang pertama adalah pemikiran tentang materialisme. Pemikiran ini secara gamblang menolak adanya akhirat. Maksudnya, mereka memegang konsep bahwa manusia terbuat dari materi organik. Jadi, konsep ini menganggap kesadaran manusia sebagai bagian dari materi organik tersebut, dan setelah mengalami kematian di iringi dengan musnah nya badan secara fisik, semua kesadaran akan sampai pada titik akhir dan disinilah proses kehidupan akan berhenti seluruhnya.

Alternatif kedua adalah pandangan yang dianut oleh agama di Eropa seperti agama Yahudi, Kristen dan Islam menurut bentuk ortodoks mereka masing2. Mereka percaya adanya kehidupan kekal. Menurut mereka, kita hidup sekali di bumi dan setelah mengalami kematian kita akan hidup kekal di beberapa kesadaran tertentu yang ditentukan oleh kepercayaan dan tingkah laku kita dikehidupan sekarang.

Yang terakhir adalah pandangan yang berlaku pada agama-agama di bagian Timur seperti agama Hindu dan Buddha. Disinilah gagasan tentang ‘kelahiran kembali’ muncul. Menurut mereka, kehidupan sekarang hanyalah sebuah penghubung simple dalam suatu lingkaran kehidupan yang berlanjut berputar menuju masa lalu dan kembali lagi ke masa depan. Lingkaran kehidupan ini dinamakan ‘samsara’.

Perbedaan antara agama Buddha dan Hindu
Kata ‘Samsara’ secara literal arti nya “melanjutkan”, “mengembara”. Ini menandakan adanya putaran yang terjadi berulang-ulang dari kelahiran, penuaan, kematian dan kelahiran kembali.

Sekarang agama Buddha dan Hindu menganut konsep yang sama tentang kelahiran kembali. Namun secara detail, konsep tentang kelahiran kembali dalam agama Buddha tetap berbeda dari ajaran agama Hindu. Ajaran tentang kelahiran kembali dalam agama Hindu menjelaskan ada nya jiwa yang kekal; yaitu suatu kesadaran jiwa yang berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain. Jiwa ini akan menetap dalam suatu badan yang apabila pada saat meninggal, jiwa ini akan meninggalkan badan tersebut dan berpindah seterusnya ke badan lain. Sastra Hindu yang terkenal, “Bhagavad Gita”, menggambarkan konsep ini lewat seorang pria yang akan melepaskan satu pakaiannya dan memakai pakaian yang lain. Pria ini tetap orang yang sama namun dengan pakaian yang berbeda. Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana jiwa dalam agama Hindu selalu tetap sama, namun dengan keadaan tubuh (fisik dan mental) yang selalu berbeda dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain.

Kelahiran kembali dalam istilah agama Buddha menurut bahasa Pali adalah “punabbhava” yang berarti “penjelmaan kembali”.. Agama Buddha melihat kelahiran kembali bukan sebagai perpindahan jiwa namun sebagai pengulangan proses kehidupan. Disini dijelaskan adanya sebuah kelanjutan, suatu pengaruh dan sebab musabab yang menghubungkan antara suatu kehidupan ke kehidupan yang lain. Tetapi disini tidak ada jiwa, tidak ada suatu kesatuan kekal yang berpindah- pindah seperti yang dianut dalam agama Hindu.

Kelahiran kembali tanpa ‘perpindahan jiwa’
Konsep kelahiran kembali tanpa adanya perpindahan jiwa pada umumnya menimbulkan pertanyaan: Bagaimana kita bisa berkata bahwa kita pernah hidup di masa lampau apabila tidak ada jiwa? Untuk menjawab ini kita harus mengerti sifat dasar seseorang dalam suatu kehidupan tertentu. Buddha menjelaskan bahwa kita sebenarnya adalah sebuah kombinasi kesatuan dari lima agregat. Lima agregat ini dikategorikan dalam 2 grup. Pertama adalah adanya proses jasmaniah, yang merupakan energi jasmani yang sekarang yang kemudian dilanjutkan dengan proses secara mental.


Ilustrasi dari sebuah identitas
Sebuah ilustrasi akan membantu kita untuk mengerti bagaimana suatu identitas akan mengambil tempat tanpa memerlukan suatu perpindahan jiwa. Misalnya, kita mempunyai lilin yang menyala pada pukul 8. Apabila kita kembali pada pukul 9, kita dapat melihat bahwa lilin itu masi menyala dan kita mengatakan bila itu masih lilin yang sama. Pernyataan ini sepenuhnya benar bila dilihat dari sudut pandang secara literal. Namun, apabila kita memeriksa lebih lanjut, kita akan melihat bahwa pada setiap saat, lilin ini membakar partikel-partikel wax/lilin yang berbeda. Tiap saat, lilin ini juga membakar sumbu pada bagian tertentu dan juga molekul oksigen yang berbeda. Dengan demikian, wax, sumbu dan udara yang dibakar selalu berbeda setiap saat. Namun demikian karena peristiwa menyalanya api lilin ini terhubung bersama dalam suatu rangkaian kesatuan, dikatakan bahwa suatu saat dari menyalanya lilin ini akan menimbulkan terjadinya nyala api yang lain. Jadi kita bisa mengatakan bahwa api nya masih api yang sama, walaupun sebenarnya nyala api ini slalu berbeda setiap saat. Api dari lilin ini sendiri adalah perwujudan yang sepenuhnya berbeda. Api ini disebabkan oleh adanya lilin, sumbu dan udara, yang terlepas itu tidak akan terjadi apa-apa.

Kiasan sebuah lilin
Kita dapat memakai kiasan lilin tadi pada konteks kelahiran kembali. Badan dari lilin tersebut seperti badan jasmaniah seorang manusia. Sumbu lilin menggambarkan panca indera manusia yang berfungsi untuk mendukung proses kesadaran. Partikel-partikel oksigen seperti indera perasa pada objek tertentu dan api nya sendiri menggambarkan sebuah kesadaran. Kesadaran selalu timbul melalui panca indera tertentu seperti mata, telinga, hidung, dsb. Kesadaran ini juga selalu memiliki obyek seperti suara, penglihatan, dan seterusnya. Badan jasmani, panca indera dan obyek disekitarnya selalu berubah sehingga kesadaran manusia dan faktor-faktor mental juga ikut berubah.

Kehamilan
Sang Buddha berkata: ada tiga faktor yang diperlukan untuk suatu kehamilan.
Pertama, harus ada suatu pertemuan antara ayah dan ibu, sang ayah menyediakan sperma dan sang ibu untuk memberikan telur nya.
Kedua, pembuahan terjadi pada saat masa-masa yang tepat untuk sang ibu. Apabila sang ibu sedang tidak subur, pembuahan tidak akan terjadi.
Yang ketiga, harus ada aliran kesadaran seseorang yang telah meninggal, yaitu arus pikiran yang telah sedia dan siap untuk mengambil proses dilahirkan kembali. Faktor yang ketiga ini dinamakan ‘gandhabba’. Kehamilan tidak akan terjadi sampai tiga faktor diatas sudah terpenuhi.

Apakah kelahiran kembali terus berlanjut secara otomatis dan tidak dapat dihindari?

Apakah disini ada suatu sebab musabab dibalik proses kelahiran kembali ini?Apakah ini akan berlanjut seterusnya dan tidak terelakkan? Atau apakah disini ada suatu kumpulan penyebab yang mengakibatkan proses ini terus berlanjut?

Sang Buddha menjelaskan bahwa disini ada suatu kumpulan sebab-sebab jelas yang mengakibatkan adanya proses kelahiran kembali. Disini ada suatu struktur sebab musabab dan struktur ini dijelaskan dalam ‘teaching of dependent arising’, ‘paticcasamupada’.


Keinginan si penjahit wanita
Demikian sang Buddha menyebutkan keinginan si penjahit wanita. Sama seperti seorang penjahit yang menjahit semua potongan-potongan baju yang berbeda, keinginan (hasrat) juga menjahit bersama satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Keinginan ini mengikat bersama rangkaian-rangkaian kehidupan. Keinginan ini begitu kuat sehingga ia bisa menjembatani jurang yang telah diakibatkan oleh kematian dan membangun kembali sebuah rumah yang diisi dengan kesadaran seutuhnya lagi dan lagi.
Melalui banyak kelahiran di Samsara yang telah saya lalui,
Mencari tetapi tidak menemukan, yang telah membangun rumah ini. Penderitaan adalah kelahiran berulang-ulang.
Oh si pembangun rumah! kamu telah dilihat. Kamu jangan membangun rumah lagi..
Semua kasok mu telah rusak, semua atap-atap mu telah dihancurkan.
Agar perhentian (Nibbana) mencapai ke pikiranku
Habisnya keinginan telah saya capai.
Dhammapada (154)

Apa itu yang menyebabkan kelahiran kembali dalam bentuk-bentuk tertentu?

Sekarang kita menuju pertanyaan selanjutnya. Kita melihat begitu banyak jenis makhluk hidup yang ada didunia ini. Manusia dan binatang ada bermacam-macam. Jadi kita mempertanyakan, apa itu yang menyebabkan kelahiran kembali di bentuk2 tertentu? Apakah itu terjadi karena kecelakaan, tanpa alasan apa pun, atau ada faktor-faktor utama yang mendasari hal tersebut? Jawaban yang Buddha berikan adalah istilah dalam bahasa Pali “Kamma”. Kamma adalah sebab musabab yang akan menentukan bagaimana nanti nya rupa/bentuk tertentu dari suatu kelahiran kembali. Adalah Kamma juga yang akan menentukan sejumlah pengalaman bagus yang akan kita jalani dalam proses kehidupan kita nantinya. Kata “Kamma” secara literal artinya tindakan atau perbuatan. Tapi dalam agama Buddha, Kamma berarti tindakan yang didasari oleh kemauannya sendiri.
Sumber: http://www.tanahputih.org/artikel/61-kelahiran-kembali.html

Rabu, 16 November 2011

Bulan Magha Nan Agung

Bulan Magha Nan Agung
Oleh Yang Mulia Bhikkhu
Dhammakaro



Pada hari Purnama Sidhi di bulan Magha, lebih dari 25 abad yang lalu, terjadilah suatu peristiwa nan agung dalam sejarah kehidupan Sang Buddha Gotama. Tepatnya di sebuah Taman Tupai di vihara hutan Bambu (Veluvana Arama).

Peristiwa Agung nan Suci itu adalah :
  • Hadirnya 1250 bhikkhu.
  • Mereka semua telah mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat).
  • Mereka adalah para bhikkhu yang ditahbis sendiri oleh Sang Buddha dengan cara Ehi bhikkhu Upasampada.
  • Mereka hadir tanpa diundang dan tanpa kesepakatan.
Pada pertemuan nan agung tersebut Sammasambuddha Gotama membabarkan Ovadapapatimokkha yang merupakan inti Ajaran Beliau yang terdiri atas tiga syair, sebagai berikut :

Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi; Para Buddha bersabda, Nibbana adalah yang tertinggi. Jika seseorang yang telah menjadi bhikkhu masih menyakiti, merugikan orang lain, maka sesungguhnya ia bukan seorang samana.

Jangan berbuat jahat, tambahlah kebajikan, sucikan hati dan pikiran. Inilah ajaran para Buddha.

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha; Makan secukupnya, tidak berlebih-lebihan; Hidup di tempat yang sunyi, berusaha melatih samadhi. Inilah ajaran para Buddha.

Ajaran yang terkandung dalam Ovadapatimokkha, sangatlah dalam dan mempunyai makna yang demikian tinggi, begitu sulit dan rumit untuk dipahami dan diselami. Bagi kita yang penghayatan Dhammanya belum cukup, akan sangat sukar untuk mencerna dengan baik. Karena apa ? Sebab pembabaran Ovadapapatimokkha, bukanlah dibabarkan kepada umat biasa atau siswa-siswi Sang Buddha yang masih puthujjhana(belajar/belum mencapai tingkat kesucian), melainkan Ovadapapatimokkha tersebut, dibabarkan di hadapan para Arahat (bhikkhu-bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi).

Namun demikian, kita umat Buddha tetap mengambil hikmah yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha, walaupun tidak sesempurna yang dibabarkan. Apalagi dalam kondisi kehidupan dewasa ini, penuh dengan gejolak, karena krisis ekonomi, keamanan dan keyakinan.

Dalam bait, syair dan kalimat pertama, Sang Buddha bersabda: Khantî paramam tapo titikkha, Kesabaran merupakan praktek Dhamma yang tertinggi. Dalam suasana kehidupan masyarakat dewasa ini, yang sedang merangkak menuju proses alam demokrasi, dan diwarnai ketidaktahuan oleh sebagian masyarakat, sehingga sering terjadi tindakan yang menyimpang dari nilai dan prinsip demokrasi yang sebenarnya. Maka ajaran ini, dapat kita jadikan senjata yang ampuh. Seperti sabda Sang Buddha dalam Dhammapada ayat 5 Kebencian tidak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Demikian pula kebrutalan, kekerasan, fitnahan dan tindakan jahat lainnya tidak akan berakhir bila dibalas dengan tindakan yang sama. Tetapi akan berakhir bila kita balas dengan kesabaran, pengertian dan kebijaksanaan.

Kesabaran dibagi menjadi dua bagian yaitu :
  • Adhivasasana Khanti (kesabaran jasmani). Yang dimaksud kesabaran jasmani adalah suatu sikap tenang dan wajar tidak mudah merengek-rengek atau berteriak-teriak dan marah-marah bila kita sedang lapar, haus, kepanasan, kedinginan dan kecapaian. Misalnya di saat kita sedang kerja bakti di vihâra atau melakukan perjalanan jauh (Dhammavisata), mendengarkan ceramah Dhamma, latihan meditasi dan aktivitas lainnya. Kekuatan kesabaran akan tumbuh dan berkembang dalam diri kita bilamana ada latihan dengan cara setahap demi setahap. Sehingga lambat laun daya tahan fisik akan terbentuk dan memberikan perisai atau pelindung pada diri kita.
  • Titikha khanti (kesabaran batin). Hal ini, merupakan tahapan yang lebih tinggi dari kesabaran jasmani. Bilamana seseorang telah memiliki kesabaran batin, ia tidak akan mudah tergoyah dan akan selalu waspada bila ada fitnahan, caci maki dan hinaan, tidak akan mudah marah dan kesal karena perbedaan paham. Tidak akan mudah tersinggung dan mendendam bila ditunjukkan kesalahannya.
Selain ajaran tersebut di atas demikian berharga bagi kita, sebagai bekal menyongsong kehidupan era baru, ada pula ajaran yang begitu penting yang harus kita pahami dan selami, untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, yaitu: Patimokkhâ ca samvaro (mengendalikan diri selaras dengan Patimokkha atau tata tertib). Dalam Buddha Sâsana, telah dibabarkan dengan jelas dan terang tentang tata tertib umat Buddha. Seorang bhikkhu dan bhikkhuni mempunyai Patimokkhasila, seorang samanera dan samaneri mempunyai dasasila dan sekiyavattha; seorang upasaka dan upasika mempunyai Pancasila dan Atthasila.

Mengapa ada tata tertib ? Tata tertib merupakan penuntun umat manusia menuju keharmonisan, kedamaian, keselamatan dan kebahagiaan abadi, Nibbana. Bilamana kita semua dapat menjalani dan menghayati kehidupan ini sesuai dengan tata tertibnya masing-masing, maka tidak akan terjadi peristiwa-peristiwa yang tragis, sadis dan memilukan. Di sinilah pentingya memiliki Samvara. Dengan selalu mengendalikan ucapan (tidak berbicara kasar, berbohong, memfitnah, mencaci dan menghina), perbuatan (menipu, mencuri, membunuh dan berasusila) dan pikiran (etika jahat, irihati, serakah dan benci). Sesungguhnya seseorang telah menang menghadapi musuh yang paling dahsyat. Hilangnya benih keserakahan, kebencian dan kebodohan yang merupakan akhir perjuangan manusia.

Dengan menghayati dan menyelami makna yang terkandung dalam pembabaran Ovadapapatimokkha kita dapat merealisasi cita-cita tertinggi, Nibbana.

Berjuanglah semaksimal mungkin dalam kehidupan anda sebagai insan yang memiliki keyakinan, yang kokoh dan mantap tentang ajaran kebenaran. Selamat berjuang, semoga sukses.

Selamat Hari Raya Magha Puja 2543/2000
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka, Edisi 20 Februari 2000 ]

Senin, 29 Agustus 2011

Bodhidharma, Sesepuh Zen



Bodhidharma, Sesepuh Zen



Agama  Buddha Chan (Chan Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Chan adalah terjemahan dari istilah Sanskerta DHYANA, yang berarti meditasi. Dengan demikian, agama Buddha Chan mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Ini terkadang membuat orang menjadi percaya bahwa praktik ini sangat mirip dengan praktik Tanah Suci. Praktik Tanah Suci juga menyingkirkan pengetahuan intelektual, serta mengajarkan para umatnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Buddha Amitabha untuk memperoleh keselamatan, sekalipun bagi agama Buddha Chan keselamatan bukanlah "JALAN MUDAH". Bagi agama Buddha Chan, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian Pencerahan. Namun, kedua tradisi ini sama-sama populer bagi orang Tionghoa, dan kemudian juga bagi orang Jepang di abad ke-12. Di Jepang, agama Buddha Chan ini dikenal sebagai agama Buddha Zen. Dua aliran utama yang muncul dari tradisi ini adalah RINZAI (LIN CI) dan SOTO (CAO DONG), yang hanya berbeda dalam cara pendekatannya menuju Pencerahan.

Bodhidharma (470-543 Masehi) adalah sesepuh ke-28 agama Buddha, sekaligus sebagai sesepuh pertama dari agama Buddha Chan, tradisi yang didirikannya di Tiongkok. Ajarannya diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai "TRANSMISI BATIN/PEWARISAN BATIN" terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah HUI NENG (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesampainya di Tiongkok, Bodhidharma dipanggil menghadap ke istana oleh Kaisar WU DI dari Dinasti Liang, yang juga merupakan sesosok umat Buddha yang penuh semangat serta yang membanggakan dirinya karena banyak mendukung agama Buddha. Karena bangga atas pengetahuannya akan agama Buddha serta sumbangsih yang telah diberikannya kepada Sangha, ia bertanya kepada sang suciwan, "seberapa banyak jasa kebajikan yang telah diperolehnya?".

"Tidak ada jasa kebajikan apa pun" adalah jawaban yang mengejutkan dari Bodhidharma.

Sang Kaisar sering kali mendengarkan ajaran dari para guru terkenal yang berkata, "jika berbuat baik, Engkau akan menerima kebaikan. Jika berbuat buruk, Engkau akan menerima keburukan. Hukum Karma tak berubah, akibat timbul dari penyebab laksana bayang-bayang mengikuti bendanya'. Namun sekarang sang suciwan menyatakan bahwa Kaisar belum memperoleh jasa kebajikan apa pun. Kaisar merasa sangat kebingungan.

Mengapa Bodhidharma menjawab seperti itu? Mungkin karena beliau tengah mencoba berkata, dengan sedikit kata-kata, bahwa jika seseorang melakukan perbuatan baik dengan niat untuk memperoleh jasa kebajikan bagi dirinya sendiri, itu bukan lagi praktik Buddhis. Itu berarti bahwa orang itu tidak benar-benar tengah mempraktikkan Dharma, namun lebih untuk memuaskan egonya sendiri ataupun meningkatkan kesejahteraannya sendiri, dan malah mungkin supaya dikenal dan dihargai. Dalam hal ini, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan apa pun dalam perbuatan seperti ini? Dan sebagai guru Zen, ia tidak berkata banyak. Karena itu, ia hanya menjawab, "Tidak ada jasa kebajikan apa pun".

Merasa terkejut, Kaisar lalu menanyakan pertanyaan berikutnya, "Lalu, apa inti agama Buddha itu?"

Bodhidharma segera menjawab. "Kekosongan di mana-mana, tiada inti apa pun". Jawaban ini membuat Kaisar tertegun karena ia tak mampu memahami makna yang mendalam dari istilah "Tiada inti apa pun" dalam ajaran Buddha. Para guru lainnya telah bersusah-payah menjelaskan bahwa inti ajaran agama Buddha terkandung dalam doktrin-doktrin seperti Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma), Empat Kebenaran Mulia, Cita-cita Bodhisatwa, dan sebagainya. Namun orang yang dianggapnya sebagai sosok sesepuh agung agama Buddha ini hanya menyatakan bahwa "tidak ada inti apa pun"

Lalu Kaisar menanyakan pertanyaannya yang terakhir, "Karena Engkau menyatakan bahwa dalam agama Buddha semua hal tidak memiliki inti, lalu siapakah yang tengah berbicara di hadapankun saat ini?" Bodhidharma menjawab, "Saya tidak tahu". Sang Kaisar sangat terkejut, karena ia tidak mampu memahami maksud Bodhidharma.

Dengan penuh kebingungan, Kaisar lalu menyuruh sang suciwan pergi dari istana. Demikianlah, untuk pertama kalinya Tiongkok mencicipi ajaran Chan.

Setelah itu, Bodhidharma menyendiri lagi, merenung, "Karena sesosok ahli yang terpelajar dan hebat seperti Kaisar pun tidak mampu memahami apa yang aku tengah coba sampaikan, mungkin kondisinya belum matang bagiku untuk mengajar......" Ia lalu menyendiri di sebuah gua di Biara Shao Lin (Shao Lin Si) yang terkenal itu. Disana, ia duduk dalam perenungan yang mendalam seraya menghadap ke dinding gua selama sekitar sembilan tahun, menunggu waktu yang tepat, saat ajaran-ajarannya bisa dipahami dan diterima rakyat disana.

Bodhidharma datang ke Tiongkok untuk memberikan ajarannya yang khusus, yang bisa dikatakan terkandung dalam syair ini :
                               PEWARISAN AJARAN SECARA KHUSUS DI LUAR KITAB SUCI,
                              TAK BERGANTUNG PADA KATA ATAUPUN HURUF,
                              LANGSUNG MENEMBUS KE HATI,
                              MELIHAT KE DALAM SIFAT DIRI SENDIRI.

Bodhidharma selanjutnya tinggal di Tiongkok selama sekitar 50 tahun, mengajar di saat yang tepat, dan menggunakan LANKAVATARA SUTRA (LENG JIA JING) dalam ajarannya. Ia digantikan oleh para sesepuh berikut ini :
                      - Sesepuh ke-2 : Hui Ke (486-593 Masehi)
                      - Sesepuh ke-3 : Seng Can (wafat tahun 606 Masehi)
                      - Sesepuh ke-4 : Dao Xin (580-651 Masehi)
                      - Sesepuh ke-5 : Hong Reng (602-675 Masehi)
                      - Sesepuh ke-6 : Hui Neng (638-713 Masehi)

Adalah Hui Neng, seorang pandai kayu yang buta huruf, yang akhirnya membuat agama Buddha Chan berkembang subur di Tiongkok, lebih dari sebelumnya.

Mungkin menarik untuk dicatat disini bahwa setelah kepergian Bodhidharma, Kaisar Wu Di membicarakan kejadian tersebut dengan guru spiritualnya, BAO ZHI. Sang guru bertanya kepada sang Kaisar, "Apakah Yang Mulia mengetahui siapakah orang ini sesungguhnya? Beliau ini adalah Avalokitesvara Mahasatva yang tengah mewariskan Jejak Hati Buddha....."

Betapa menyesalnya Kaisar karena telah menyuruhnya pergi dari istana. Bertahun-tahun kemudian, tatkala mengetahui sang suciwan telah wafat, Kaisar sangat berduka. Ia lalu membuatkan sebuah pahatan untuk mengenang sang sesepuh agung tersebut. Pahatan itu berbunyi :
              "ADUHAI! AKU MELIHATNYA TAPI TAK MELIHATNYA,
               AKU BERJUMPA DENGANNYA TAPI TAK BERJUMPA DENGANNYA,
               AKU BERTEMU DENGANNYA TAPI TAK BERTEMU DENGANNYA,
               SEKARANG, DAN SEBELUM INI, SUNGGUH AKU MENYESALINYA!."

Bodhidharma memiliki banyak umat yang penuh bakti, dan hari wafatnya diperingati pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan bulan. Beliau sering kali dilukiskan sebagai sesosok biksu kelana, atau dilukiskan berdiri menjejak sebatang ilalang yang membawanya menyeberang sungai, suatu mukjizat yang membuat orang -orang yang menyakini kekuatannya ini menganggap beliau sebagai seorang ARHANT atau LUO HAN, suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang artinya "DEWA ABADI". Menurut tradisi Tionghoa, Bodhidharma adalah salah satu dari 18 Luo Han yang sangat dekat dengan umat manusia. Lukisan kelompok Luo Han ini umumnya terdapat di banyak wihara, dan para Luo Han ini digambarkan memiliki aneka jenis kekuatan adialami, yang dilambangkan oleh hewan-hewan liar yang merunduk jinak di samping mereka, dan atau oleh benda-benda khusus yang dihubungkan dengan mereka ini. Sekalipun para Luo Han ini berada satu tataran di bawah tataran Bodhisatwa, mereka ini adalah makhluk-makhluk yang telah Tercerahkan, yang patut kita hormati. Oleh umat Buddha, Bodhidharma atau DA MO dipuja sebagai pendiri TRADISI PERENUNGAN AGUNG atau CHAN/ZEN. Dan oleh orang-orang lainnya, ia dipuja atas kekuatan perlindungannya, atau sebagai suciwan agung dari Biara Shao Lin.

Sumber : Buddha dan Bodhisatwa dalam agama Buddha Tionghoa
Penerbit : Yayasan Serlingpa Dharmakirti

Senin, 18 Juli 2011

Warga negara yang baik dalam Buddhisme

Warga negara yang baik dalam Buddhisme

Oleh Ari Mariyono, S.Ag   
 
Komponen suatu negara merupakan bentuk bagian yang sangat majemuk yang mana terdiri dari berbagai jenis budaya, adat istiadat yang membentuknya. Dalam hal ini tidaklah terlepas dari Peran Sumber Daya Manusia yang menempati bagian negara tersebut, yaitu kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bangsa itu dapat dikondisikan oleh Sumber Daya Manusia yang menempatinya. Peran warga negara untuk memajukan bangsa dan negara merupakan kewajiban sepenuhnya yang harus dipatuhi oleh semua penduduk sebuah negara tersebut. 

Kewajiban Menjadi Warga Negara 

Pada hakikatnya setiap warga negara memiliki kewajiban dalam pembelaan tanah air serta wajib menyampaikan pendapatnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara serta wajib mematuhi peraturan yang ada dalam negaranya. Hal ini diatur dalam undang-undang yang berlaku dalam kenegaraannya masing-masing. Di Indonesia hal tersebut diatur dalam UUD 1945 (Kansil, 2004: 50-54) yaitu terdapat dalam pasal-pasal dalam Undang Undang dasar yaitu: 

Pasal 27 ayat tiga, Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Pasal 28 ayat 3 poin kesatu, Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 28 ayat 3 poin kedua, Setiap warga negara berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Pasal 30 ayat 1, Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Pasal 30 ayat 2, Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung. 

Pasal-pasal tersebut merupakan sarana untuk warga negara dalam menyumbangkan kemampuan, bakat, serta kepandaian dalam memajukan serta mengabdikan diri pada bangsa dan negara. 

Pandangan agama Buddha terhadap peran sebagai warga negara dimulai dari membangun individu manusia yang bermoral baik, menjalankan norma yang ada dalam masyarakat dan agama serta mentaati peraturan yang ada dalam suatu negara. Dhammananda (2003: 416) menekankan bahwa kedamaian suatu negara atau dunia akan tercapai jika setiap indivudu dapat mengamankan dirinya sehingga kedamaian dapat dimulai dari diri sendiri dan berkembang dalam lingkungan yang lebih luas. Dengan dimulai dari individu yang baik maka dapat diterima dalam masyarakat, sehingga mampu memberikan ide atau gagasan untuk diterima di dalam masyarakat. Gagasan atau ide yang diterima tentunya memiliki manfaat untuk kemajuan bersama. Tindakan sederhana demikian merupakan contoh peran sebagai warga negara. 

Selain itu Buddha menekankan bahwa seseorang harus memiliki suatu keahlian sehingga dapat menghidupi dirinya sendiri dan memberikan manfaat terhadap makhluk lain, maupun dapat berperan dalam kepentingan banyak orang. Buddha bersabda dalam Ma?ggala sutta, Khuddakapatha (?anamoli, 2005: 146) bahwa seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan merupakan berkah utama. Untuk mewujudkan manusia yang mempunyai keahlian serta keterampilan, Buddha dalam Angutara Nikãya (Hare, 2001: 188) menekankan manusia untuk: 
(1) menjadi rajin dan terampil, 
(2) menjaga harta kekayaan, 
(3) memiliki dan menjadi teman yang baik, serta 
(4) memiliki mata pencaharian yang benar. Nasihat ini jika diterapkan pada setiap individu, maka akan tercipta warga negara yang memiliki kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab yang tinggi sehingga kedamaian dan ketenteraman dapat terwujud dengan adanya peran yang aktif dari warga negaranya.

Dalam agama Buddha warga negara dilihat dari cara menjalani kehidupan terdiri dari dua kelompok besar (Rashid,1997: 23) yaitu:
1. Gharavasa (umat awam) adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak berkeluarga yaitu mempunyai pekerjaan, seperti: petani, pedagang, militer dan lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka.
2. Pabbajita adalah orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, keduniawian, dan menjalani hidup suci (brahmacari). Pabbajita terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri (Panjika 2004: 341 dan 372) bhikkhu adalah rohaniawan agama Buddha laki-laki, bhikkhuni adalah rohaniawan agama Buddha perempuan, samanera adalah calon bhikkhu, samaneri adalah calon bhikkhuni.

Dilihat dari dua cara kehidupan tersebut masing-masing mempunyai peran dalam upaya pembelaan negara. Dalam hal ini umat awam lebih bebas dalam mengekpresikan dirinya dalam kehidupan bernegara jika dibandingkan dengan para pabbajita. Dalam Buddhisme, umat Buddha perumah tangga dapat berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan politik, termasuk menguasai dan mempergunakan kekuasaan politik. Selain itu menurut Dammananda (2003: 419) umat Buddha (khusus umat awam) diperbolehkan ikut dalam peperangan, hal ini seperti yang diceritakan bahwa suatu ketika Sinha, seorang jenderal angkatan bersenjata, menghadap Buddha dan menanyakan tentang peperangan untuk alasan yang benar diperbolehkan. 

Dalam Dhamma menegaskan jika terdapat seseorang yang patut menerima hukuman harus dihukum. Dan ia yang patut diberi hadiah harus diberi hadiah. Jangan melukai makhluk hidup apapun, tetapi berlakulah adil, penuh cinta, dan kebaikan. Orang yang dihukum atas kejahatannya akan terluka bukan dari niat buruk hakimnya tetapi melalui tindakan jahat itu sendiri. Dalam hal ini Buddha mengajarkan bahwa semua peperangan di mana manusia mencoba membantai saudaranya sangat disayangkan. Terkecuali jika tidak ada cara lain mereka yang terlibat perang untuk memelihara kedamaian dan keteraturan, setelah menghabiskan segala cara untuk menghindari konflik. 

Dalam Dhamma menekankan bahwa jika seseorang yang berjuang demi kedamaian dan kebenaran akan mendapatkan ganjaran besar: bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan. Namun dalam hal ini Buddha tetap lebih mengutamakan bentuk penyelesaian masalah dengan perdamaian karena perdamaian merupakan kemenangan sepenuhnya.

Sebagai warga negara para pabbajita mempunyai peran dalam mengabdikan dirinya dalam kenegaraan. Menurut Dhammananda (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl.phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid) peran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Para pabbajita dapat mendidik para raja dan menteri (para politisi) dengan mengajarkan Dharma kepada mereka, menjadi penengah dalam berbagai permasalahan politik dan melindungi hak-hak para warga negara pada saat diperlukan. 
2. Para pabbajita tidak terlibat sebagai pribadi dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Mereka tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik. Dengan kata lain, para pabbajita boleh terlibat dalam politik tetapi harus dibatasi misalnya para pabbajita hanya boleh diminta untuk memberikan pertimbangan atau nasihat dalam pengambilan keputusan, tetapi para pabbajita tidak boleh menjadi politisi. 

Dalam pembahasan ini Dhammananda berbicara tentang tidak ada kerugian bagi para pabbajita berpartisipasi dalam politik artinya para pabbajita berbicara tentang pendidikan Dhamma dan menjadi penengah dalam permasalahan politik namun bukan ikut dalam perebutan kekuasaan politik. Hal ini berdasarkan alasan-alasan yang tepat, seperti (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl. phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid):
(a) Hal itu disebabkan oleh sejarah politik sosial seperti dalam kasus para Dalai Lama di Tibet.
(b) Mereka yang tidak mempunyai pilihan lain karena lingkungan politik tempat mereka berada. Misalnya, apabila mereka dipilih oleh pihak-pihak yang berwenang untuk menjabat sebagai menteri, wakil rakyat, anggota badan legislatif, dan lainnya.

Sebagai warga negara keteladanan Buddha sangatlah luas yaitu terbukti bahwa telah memberikan ajaran moral kepada umatnya. Setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha menempuh perjalanan ke banyak tempat di India untuk membabarkan Dhamma. Selama proses pembabaran Dhamma, Buddha terlibat dalam berbagai peristiwa yang berkenaan dengan politik. Buddha menyelesaikan perselisihan serta memberikan pendidikan nilai-nilai spiritual kepada para raja dan menteri. Buddha tidak terlibat dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Buddha juga tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik, tetapi Buddha peduli terhadap situasi kesejahteraan negara. Sebagai contoh dalam Dhammapada Atthakatha Buddha berperan dalam mendamaikan perang saat suku Koliya dan Sakya memperebutkan air sungai, Buddha memberi nasihat kepada mereka agar tidak melakukan peperangan. 

Buddha bersabda “Demi keperluan sejumlah air, yang sedikit nilainya, kalian seharusnya tidak mengorbankan hidupmu yang jauh sangat berharga dan tak ternilai” (Setyabudi dan Tim Penerjemah Vidyãsenã, 1997: 318). Jika Beliau tidak menghentikan peperangan maka pertumpahan darah akan terjadi. 


Penutup
Jika semua manusia mengamalkan ajaran moral dari Buddha maka kedamaian seluruh dunia akan terwujud. Di mana setiap warga negara dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan sikap damai, tanpa peperangan dan bentuk konfik apapun, dengan demikian akan tercipta keadaan harmonis dan keseimbangan di semua bidang dan masing-masing individu berperan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. 

Referensi
Dhammananda, Sri. 2003. Keyakinan Umat Buddha. Terjemahan oleh Ida Kurniati. 2005. Jakarta: Yayasan Penerbit Karania.

-------------------. 2008. Agama Buddha dan politik (Online) (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdamma_dtl.phpid306hal3contbuddhism_politik.htmlpathhmid diakses 12 April 2008). 

Hare, E. M. (Ed.). 2001. Thebook of Gradual Sayings, vol III (Anguttara Nikaya). Oxford: The Pali Texts Society. Kansil. 2004. Sekitar UUD 1945 Dewasa Ini. Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia. 

Nyanamoli. (Ed.). 2005. The Minor Reading (Khuddakapatha). Oxford: The Pali Texts Society. 

Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhis Center.

Rashid, Teja SM. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Buddhis Bodhi.

Setyabudi, Dharmakusuma, dan Tim Penerjemah Vidyãsenã. 1997. Dhammapada Atthakatha. Jogyakarta: Vidyãnenã