Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Minggu, 22 September 2013

Mengenang Bhante Ananda

Mengenang Bhante Ananda
Oleh Andromeda Nauli

Bhante Ananda adalah pendamping setia Sang Buddha.  Ia adalah sepupu Sang Buddha.  Ia adalah bendahara Dhamma!  Tetapi ada juga hal unik tentang Bhante Ananda yang membuatnya sangat disenangi semua orang, terutama bhikkhuni Sangha.  Hal ini akan dijelaskan, akan tetapi marilah dulu kita mengenal Beliau lebih dekat.


Pendamping Sang Buddha

Sebelum Bhante Ananda menjadi pendamping Sang Buddha, terdapat beberapa bhikkhu yang mendampingi Sang Buddha.  Akan tetapi tak seorangpun dari mereka mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.  Suatu hari ketika para bhikkhu sedang berkumpul, Sang Buddha bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bersudi menjadi pendampingku?”  Semua bhikkhu mengajukan diri kecuali Bhante Ananda.  Ketika ditanya mengapa Beliau tak mengajukan diri, Bhante Ananda menjawab, “Tathagata (Sang Buddha) telah mengetahui siapa yang akan menjadi pendamping Beliau.”  Sebelum diajukan menjadi pendamping Sang Buddha, Bhante Ananda mengajukan 8 syarat kepada Sang Buddha.  Syarat-syarat tersebut yakni:
1)      Sang Buddha tidak boleh memberikan jubah-jubah kepadanya
2)      Sang Buddha tidak boleh memberikan dana makanan kepadanya
3)      Sang Buddha tidak boleh memberikan kamar kepadanya
4)      Sang Buddha tidak boleh mengikutsertakan dirinya dalam suatu undangan pribadi (seperti undangan untuk memberi ajaran Dhamma sewaktu akan menerima dana makanan).
5)      Apabila ia menerima undangan makan, ia boleh meneruskan undangan tersebut kepada Sang Buddha
6)      Bila ada perantau yang datang, ia boleh memperkenalkan mereka kepada Sang Buddha.
7)      Jika ia mempunyai keragu-raguan atau pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma, ia boleh mengutarakan hal tersebut kepada Sang Buddha pada setiap waktu.
8)      Apabila Sang Buddha memberikan kotbah sewaktu ia sedang tidak hadir, ia boleh meminta Sang Buddha untuk mengulangi kotbah tersebut kepadanya secara pribadi.
Syarat 1-4 diajukan Bhante Ananda untuk menghindari keuntungan materi yang dapat diraihnya sebagai pendamping Sang Buddha.  Sedangkan syarat 5-8 diajukan Beliau dengan harapan Dhamma akan tetap awet (begitulah semangat seorang bendahara Dhamma!).  Dari syarat-syarat Beliau, terlihat jelas kebijaksanaan Bhante Ananda.  Dan tentunya Sang Buddha dengan senang hati menerima syarat-syarat Beliau. 
  
Ingatan yang tajam

Seorang Sammasambuddha selalu memiliki seorang pendamping setia dan dua murid utama.  Begitu pula dengan Buddha Gotama!  Bhante Ananda adalah pendamping setia Sang Buddha. Sedangkan Bhante Sariputta dan Bhante Maha Moggalana adalah kedua murid utama Sang Buddha.  Dari semua murid Sang Buddha, Bhante Sariputtalah yang terbijaksana dan Bhante Maha Moggalanalah yang termahir dalam hal kegaiban.  Walaupun demikian, hanya Bhante Anandalah yang diberkahi kesempatan untuk mendengar semua kotbah Sang Buddha.  Dan karena Bhante Ananda telah bertekad hendak menjadi seorang pendamping Sammasambuddha (baca jataka—kehidupan lampau Sang Buddha), maka Beliau dikaruniai ingatan yang sangat tajam.  Sang Buddha, Bhante Ananda, Bhante Sariputta, dan Bhante Maha Monggalana telah berulang kali hidup bersama di kehidupan-kehidupan lampau mereka.  Oleh karena itu, keempat makhluk mulia ini memiliki hubungan yang sangat erat. 


Kebijaksanaan yang tinggi

Berkali-kali Sang Buddha memuji kebijaksanaan Bhante Ananda di depan Sangha.  Sang Buddha berkata, “O, Bhikkhu, walaupun Ananda hanya seorang Sotapanna, tetapi kebijaksanaannya sangatlah tinggi.”  Dan berkali-kali Sang Buddha menyuruh Bhante Ananda untuk membabarkan Dhamma.  Jelasnya Bhante Ananda diberikan kepercayaan untuk mewakili Sang Buddha dalam beberapa kotbah Dhamma.


Sifat penuh kasih sayang

Bhante Ananda sangat mengasihi Sang Buddha.  Ia merawat Sang Buddha ketika Beliau sedang sakit, letih, dan lemah.  Dan sifat kasih sayangnya tak hanya ditujukan kepada gurunya, akan tetapi kepada semua makhluk.  Ia sering meminta izin kepada Sang Buddha untuk diperbolehkan pergi menolong umat awam yang memerlukan bantuannya.  Jelasnya Bhante Ananda memiliki metta (cinta kasih) dan karuna (belas kasihan) yang sungguh dalam.  Ketika Devadatta melepaskan gajah liar untuk membunuh Sang Buddha, Bhante Ananda menghadang gajah liar tersebut dengan harapan Sang Buddha tak dilukai.  (Perlu diketahui bahwa Bhante Ananda memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.)  Dan sifat kasih sayangnya ini adalah bagaikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.   


Pembentukan bhikkhuni Sangha

Bhante Ananda adalah bhikkhu yang sangat memperhatikan kesejahteraan kaum wanita.  Oleh permintaan Beliaulah, bhikkhuni Sangha terbentuk.  Dan Bhante Ananda jugalah yang paling disenangi para bhikkhuni.  Di dalam Jataka dijelaskan bahwa Bhante Ananda pernah dilahirkan menjadi seorang wanita, dan oleh karena itu ia sangat menghargai kaum wanita.  Biasanya ketika bhikkhuni Sangha berkumpul, mereka mengundang Bhante Ananda untuk memberikan kotbah Dhamma kepada mereka. 


Tanpa nafsu

Walaupun sewaktu Bhante Ananda masih seorang Sotapanna, pikirannya tak pernah dinodai nafsu.  Bhante Ananda pernah diundang seorang bhikkhuni yang sedang jatuh cinta kepadanya.  Bhikkhuni tersebut berbaring di kamar dan pura-pura sakit.  Mengetahui hal ini, Bhante Ananda menjelaskan Dhamma kepadanya, “Seseorang yang memiliki sifat ke-aku-an masih bisa mencapai Nibbana bila ia berpikir, ‘Oh, bhikkhu itu telah mencapai kesucian, mengapa diriku belum?  Saya akan melatih diri lebih giat, dan saya juga akan mencapai kesucian kelak.’  Begitu pula dengan seseorang yang memiliki keinginan (yakni, keinginan mencapai Nibbana), ia masih dapat mencapai kesucian dengan berlandaskan keinginan tersebut.  Akan tetapi, O Bhikkhuni, Sang Buddha dengan jelas mengatakan bahwa hubungan intim memutuskan jembatan menuju ke kesucian.”  Setelah mendengar nasehat ini, bhikkhuni tersebut menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Bhante Ananda.


Segunung kamma baik

Sebelum Sang Buddha mencapai Parinibbana, Beliau menghanturkan rasa terima kasih Beliau kepada Bhante Ananda, “O, Bhikku, ketahuilah bahwa Ananda sangatlah bijaksana.  Ia sangat ahli merawat kebutuhanku.  Ia mengatur waktu yang tepat untukku membabarkan Dhamma.  Ia sangat disenangi semua orang.  Ia telah berbuat banyak kebajikan sehingga kalau saja ia berusaha lebih giat, ia akan mencapai kesucian Arahat dalam waktu yang sangat singkat.”  Dan benarlah seperti yang dikatakan Sang Buddha, malamnya sebelum sidang Sangha pertama Bhante Ananda mencapai kesucian Arahat sewaktu kepalanya menyentuh bantal (ketika Beliau hendak beristirahat).


Kesan dan pesan

Jasa Bhante Ananda dalam mengumpulkan semua kotbah Sang Buddha (mewariskannya kepada kita semua) sangatlah besar.  Kebijaksanaan dan kasih sayang Beliau juga perlu kita hargai.  Perantau China di abad kelima, Fa Hien, menulis di catatannya, “Stupa (relik) Bhante Ananda sangatlah dihormati oleh umat setempat terutama oleh para bhikkhuni.”

Minggu, 18 Agustus 2013

TANPA-AKU ADALAH INTISARI AJARAN BUDDHA

TANPA-AKU ADALAH INTISARI AJARAN BUDDHA

Dunia ini adalah Kosong.Kosong dari apa? Kosong dari Aku dan segala sesuatu milik Aku.…Segala sesuatu adalah tidak nyata, hanya ilusi.

Semua entitas (wujud) yang lahir itu ada, tetapi tanpa Aku. Mereka seharusnya tidak dipegang erat dan dijadikan Aku, karena mereka akan menjerat batin kita, menjebak kita selamanya, dan menyiksa kita dengan begitu liciknya, tanpa menimbulkan Kecurigaan sedikit pun.Seseorang yang menganggap hal-hal kosong sebagai kenyataan adalah seseorang yang keliru memahami atau… seseorang yang memberikan pada dirinya sendiri segudang 'dukkha'.Bahasa yang diucapkan seperti ada sebuah "Aku" adalah bahasa Manusia. Kata-kata yang diucapkan tanpa ada arti "Aku" adalah bahasa Dhamma.

Sebuah doktrin yang masih mengajarkan bahwa ada 'Aku' akan selalu berakhir menuju pada perluasan ke-egoisan dan tidak akan dapat melenyapkan 'dukkha', karena ke-egoisan berasal dari kotoran batin.Tidak melekat pada segala sesuatu sebagai Aku atau Milikku, tetapi lebih melihat segala sesuatu terjadi sesuai "Sebab dan Akibat", tidak ada kaitannya dengan nihilisme. Hal ini adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda. Pahamilah dengan benar, sehingga Anda dapat mengerti intisari agama Buddha: "Tiada apa pun yang dapat dianggap sebagai Aku"

(Practical Buddhism, by Ajahn Buddhadasa, penerbit Karaniya)






Sent from BlackBerry® on 3

Sabtu, 13 Juli 2013

TIGA MACAM KEBAIKAN

TIGA MACAM KEBAIKAN. (Kusalamula 3)


<3[I]<3 ALOBHA:
Tidak tamak, tidak loba atau ketidak cenderungan pikiran terhadap suatu obyek. Ia juga disebut Nekkhamma-dhatu (pengingkaran diri atau meninggalkan kesenangan duniawi) atau disebut juga Anabhijjha (tidak mempunyai napsu loba).

<3[II]<3 ADOSA:
Tidak benci, tidak dendam, menurut etika berarti persahabatan, yaitu kecenderungan dari pikiran kearah obyeknya, kemurnian pikiran. Ia juga disebut Abyapada (tidak mempunyai kemauan jahat) dan Metta (cinta-kasih tanpa pamrih).

<3[III]<3 AMOHA:
Tidak bodoh atau mengenal sesutu menurut keadaan yang sebenarnya. Ia juga disebut Nana (Pengertian), Panna (Kebijaksanaan), Vijja (Pengetahuan), Samma-ditthi (Pandangan Benar).

CATATAN:

Bagi mereka dalam dirinya
telah bernaung Kusala-mula 3 disebut Tihetuka-puggala (makhluk yang bersekutu dengan "tiga sebab/akar). Ada 4 jenis:
1. Tihetuka Ukkhatthukkattha (tinggi-tinggi).
2. Tihetuka Ukkhatthomaka (tinggi-rendah).
3. Tihetuka Omakukkhattha (rendah-tinggi).
4. Tihetuka Omakomaka (rendah-rendah).
Penjelasan:
No.1 dan 2 diatas bila meninggal dunia terlahir lagi menjadi Tihetuka-puggala. Melaksanakan Samatha mencapai Jhana, Vipassana mencapai kesucian. Sedangkan No.3 dan 4 diatas bila meninggal dunia terlahir menjadi Dvihetuka-puggala.

(Dighanikaya III.275).

*************************
Pengurai Dhamma:
Pandit J. Kaharuddin.
*************************
Sent from BlackBerry® on 3

Jumat, 12 Juli 2013

Uraian Singkat Tentang Karma

HINDARI KEJAHATAN - PERBANYAK KEBAJIKAN - SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN

Aku adalah pemilik kammaku sendiri...
Pewaris kammaku sendiri...
Lahir dari kammaku sendiri...
Berhubungan dengan kammaku sendiri...
Terlindung dari kammaku sendiri...
Apapun kamma yang kuperbuat, baik atau buruk...
Itulah yang akan aku warisi...

Dua kalimat terakhir menjelaskan bahwa "SEBAB" apapun yang aku perbuat, maka "AKIBAT" itu pula yang akan ku terima.

Perbuatan buruk akan berbuah buruk.
Perbuatan baik akan berbuah baik.

Kadang terlihat "seperti" ada perbuatan baik yang di balas dengan kejahatan, namun sesungguhnya bukan perbuatan baiknya yang berbuah buruk,melainkan karena kondisi diisaat itu pas untuk kamma buruk "masa lampaunya" berbuah sehingga perbuatan baik tersebut kemudian menjadi pemicu munculnya buahnya kamma buruk "masa lampau" orang tersebut, sehingga terlihat seolah olah perbuatan baik tersebut berbuah buruk, padahal sesungguhnya itu adalah buah kamma buruk masa lampaunya yang matang disaat ini karena kondisinya sudah pas.

Sedangkan Perbuatan Baiknya disaat ini tetap akan menghasilkan buah baiknya bila kondisinya juga sudah pas dan tentunya akan muncul juga melalui pemicunya sendiri disaat itu.

Demikian pula sebaliknya perbuatan buruk yang seolah olah terlihat berbuah baik.

Meskipun ini sulit dibuktikan dan "andaikan" bahkan kalimat diatas adalah salah, ternyata PERBUATAN BAIK BENAR BENAR BELUM TENTU BERBUAH BAIK, namun tetap memilih untuk tidak melakukan perbuatan jahat AKAN SELALU MENJADI PILIHAN YANG TERBAIK, karena orang yang melakukan perbuatan jahat HIDUPNYA TIDAK AKAN PERNAH TENANG.

Oleh karena itu bila belum ada kebajikan (Perbuatan Baik) yang bisa kita lakukan saat ini setidaknya cobalah mulai belajar untuk
HINDARI KEJAHATAN
Kemudian baru PERBANYAK KEBAJIKAN (Pebuatan Baik), dan terakhir
SUCIKAN HATI DAN PIKIRAN, inilah intisari ajaran Buddha, jalan menuju Lenyapnya Penderitaan.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia..._/\_

Ŝα‎​Ðнů(*)Ŝα‎​Ðнů(*)Ŝα‎​Ðнů


Sent from BlackBerry® on 3

Sabtu, 06 Juli 2013

Sepuluh jenis karma baik dan Sepuluh jenis karma buruk :

Sepuluh jenis karma baik :

1. Gemar beramal dan bermurah hati (Dana) - Akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang
2. Hidup bersusila (Sila) - Mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia
3. Bermeditasi (Bhavana) - Berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam bahagia sorga sorga sampai step by step tahap kondisi Nibbana/Nirvana
4. Berendah hati dan menghormati orang yang patut dihormati (Apacayana) - Menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur
5. Berbakti atau melayani orang yang patut dilayani (Veyyavacca) - Berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat
6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain atau pemberian Jasa (Pattidana) - Berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih dalam banyak hal
7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain atau turut bahagia atas kebaikan orang lain (Pattanumodana) - Menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan
8. Mendengarkan Dharma (Dharma Savanna) - Berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan
9. Membabarkan Dharma (Dharma Desana) - Berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan
10. Mengarahkan pada pandangan benar (Ditthijju karma)- Berbuah dengan diperkuatnya keyakinan
***

Sepuluh jenis karma buruk :

1. Pembunuhan (Panatipata) - Akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan
2. Pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan (Adinnadana) - Akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tidak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain
3. Perbuatan asusila (Kamesumicchacara) - Akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal seksnya
4. Berdusta (Musavada) - Akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai
5. Menfitnah (Pisunavaca) - Kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.
6. Kata-kata kasar dan kotor - Akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain
7. Omong kosong (Samphappalapa) - Akibatnya bertubuh cacat, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai
8. Keserakahan atau ketamakan(Abhijja) - Akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat-sangat diharapkan
9. Kebencian, kemauan jahat atau niat untuk mencelakakan makhluk lain (Vyapada) - Akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela
10. Pandangan salah (Micchaditthi) - Akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela
***


Sent from BlackBerry® on 3