Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 22 Januari 2015

Melihat secara seimbang

Sering kita bertanya pada diri kita sendiri:

Kenapa kita harus mengalami kesulitan sementara orang lain bisa senang?

Kenapa kita harus bekerja keras sampai harus lembur sementara orang lain sudah pulang ke rumah?

Kenapa kita selalu menjadi karyawan sementara orang lain bisa jadi usahawan sukses?

Kenapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya?

Tapi pernahkah kita bertanya:

Adakah orang lain yang lebih susah daripada kita malah tidak pernah tahu apa yg namanya senang ?

Adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sama sekali sampai rela bekerja apapun ?

Adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja tidak mampu bayar ?

Kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?

Kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?

Jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun, tapi di hati kita sendiri...

Bersyukurlah selagi mampu bersyukur....
sebelum segalanya terlambat dan diambil darimu.

Sebelum mata terpejam, sebelum terlelap dalam tidur, sebelum terlena dalam mimpi, ucapkanlah rasa syukur atas berkat dan nikmat yang telah kita dapati hari ini.

Ungkapan rasa syukur dari lubuk hati terdalam adalah sumber daripada kebahagiaan.:)

Senin, 22 Desember 2014

Cinta Seorang Ibu
Bhikkhu Pannyavaro Mahathera

Cinta yang sulit ditandingi adalah cint seorang ibu kepada anaknyg yang tunggal. Kalau seseorang mencintai seseorang, jika orang yang mencintai itυ pergi, orang lain bisa menggantikannya. Tetapi cinta orangtua kepada anaknya, tidak bisa digantikan. Apalagi cinta seorang ibu. Siapa yang bisa menggantikan cinta seorang ibu kepada anaknya? Tidak ada!

Semua agama menempatkan kedudukan orangtua pada tempat yang amat terhormat. Hal ini sungguh pada tempatnya, karena tidak seorangpun yang nuraninya bisa mengingkari pengorbanan dan jasa tanpa batas orangtua mereka. Selama sembilan bulan lebih ibu menjaga dan memberikan darahnya sendiri demi putra yang dikandung. Pada saat melahirkan, betapa seorang ibu amat menderita. Ia tidak mempedulikan hidupnya sendiri. Harapan satu-satunya hanyalah, "Semoga anakku lahir dengan selamat."

Bagi ibu dan ayah, lahirnya seorang putra~lebih-lebih putra pertama~adalah kebahagiaan yang luar biasa. Tetapi, kebahagiaan itυ sesungguhnya adalah awal suatu pengorbanan dan kebajikan tanpa batas, yang merupakan kewajiban orangtua demi masa depan putra tercinta. Sulit digambarkan, perjuangan orangtua dalam membesarkan dan mendidik anak-anak mereka. Anak adalah bagian hidup orangtua. Kalau anak sakit, orangtua akan sangat menderita. Sebaliknya, bila anak mereka sehat dan bahagia, orangtua pun turut bahagia. Anak-anak adalah harta yang tidak ternilai harganya. Mereka pembawa kebahagiaan, tetapi juga penyebab kesulitan bagi orangtua.

Sesuatu yang tidak mungkin meleset adalah cinta orangtua kepada anaknya pasti lebih besar bila dibandingkan dengan cinta anak-anak kepada orangtua mereka. Orangtua yang baik selalu berusaha memberikan yang paling baik kepada anak-anaknya.

Sabtu, 20 Desember 2014

Diam itu emas berkata itu mutiara

Menutup mulut adalah kebijaksanaan.

Alangkah indahnya diam, bila berkata 2x dapat menyakiti orang lain.

Alangkah terhormatnya diam, bila berkata 2x hanya untuk merendahkan orang lain.

Alangkah bagusnya diam, bila berkata 2x bisa mengakibatkan terhinanya orang lain.

Alangkah cerdiknya diam, bila berkata 2x dapat menjerumuskan orang lain.

Alangkah kaya rayanya diam, bila berkata 2x hanya untuk merugikan usaha orang lain.

Tetapi...betapa dahsyatnya berkata 2x, bila diam itu mengakibatkan celakanya orang lain.

Betapa saktinya berkata 2x, bila diam itu menjadikan ruginya waktu untuk orang lain.

Betapa hebatnya berkata 2x, bila diam membuat tidak sadarnya kesalahan yg terus dilakukan orang lain.

Betapa pentingnya berkata 2x, bila diam mengakibatkan semakin bodohnya orang lain.

Pilah & pilih kapan diam & kapan berkata 2x, sebab kedua nya sama² dapat menimbulkan konflik.

Betapa tajam nya kata² saat kita tidak berkenan & betapa teduhnya kata² saat kita sedang senang hati.

Karena diam itu adalah emas, berkata 2x itu adalah mutiara,
ibarat emas bertahtakan mutiara.

Perkataan yg diucapkan tepat pada waktunya
adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

Selasa, 16 Desember 2014

Pandangan Salah

Berhati-hatilah, sangat banyak "pandangan2 salah" disekitar kita.
* Banyak ajaran2 yg mengatasnamakan Ajaran Buddha, mereka mengajarkan menghormati Orangtua, tata krama, sopan santun, retret memakai jubah putih, vegetarian, dsb....tetapi mereka bukan Ajaran Buddha Gotama , Ajaran Buddha ada 3 ciri utama : 1. Buddha Gotama yg mengajarkan Dhamma Ajaran Buddha 2. Memiliki Kitab Suci Tipitaka/Tripitaka 3. Adanya Anggota Sangha yg tidak berumah tangga. Inilah 3 ciri minimal Ajaran Buddha Gotama. Berhati2lah banyak yg terjebak dan tidak menyadari ini, mereka mengajarkan yg baik, tetapi yg baik belum tentu benar.

* Ada pandangan yg mengatakan bahwa zaman sekarang "tidak perlu" lagi baca Paritta, baca Sutra, Pelimpahan Jasa, laksanakan Sila dan meditasi. Yang penting sekarang adalah bakti sosial, membantu sesama....... ini pandangan yg salah besar.
Buddha mengajarkan Dana, Sila, Samadhi, Panna.
Baksos hanyalah sebagian dr Dana , yaitu berbuat baik dgn uang dan tenaga saja, sedangkan bila tidak diikuti tekad melaksanakan Sila maka masih terus berbuat kejahatan2 lain misalnya korupsi, menipu, menghalalkan segala cara dlm cari nafkah, suka marah2, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, narkoba, menyeleweng dsb. Tentunya utk hidup bahagia saja susah, apalagi terlahir di alam bahagia nantinya.
Meditasi melatih pikiran dan batin kita supaya tenang, jernih sehingga berbuah kebijaksanaan. Dan sangatlah "mubazir" bila jasa2 kebajikan ini tidak di persembahkan dan dilimpahkan kepada makhluk lain yg membutuhkan.

Senin, 15 Desember 2014

Kebahagiaan

KEBAHAGIAAN...

Ketika gelap, baru tersadarkan arti dari terang.

Ketika kekeringan, baru tersadarkan arti dari air.

Ketika kehilangan, baru tersadarkan arti dari memiliki.

Ketika sakit, baru tersadarkan arti dari kesehatan.

Ketika berpisah, baru tersadarkan arti dari kebersamaan.

Ketika mati, baru tersadarkan arti dari kehidupan.

Sungguh disayangkan "kesadaran"selalu datang terlambat...

Bukan kejadian yang membuat kita bahagia/ sedih tetapi saat harus memilih diantara keduanya.

Kemarin sudah tiada, esok belum tiba, kita hanya punya 1 hari yaitu hari ini.

Jangan sesali yang telah berlalu...
itu perbuatan sia2.

Yakini bahwa kebahagiaan adalah hasil dari memberi & melayani.

Tidak mungkin akan timbul kebahagiaan diatas penderitaan orang lain.

Syukurilah apa yang telah dimiliki, agar kebahagiaan selalu berada di sisi kita.

Jangan cari kesempurnaan tetapi sempurnakanlah yang telah ada.