Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Rabu, 25 September 2013

Kategori Dhamma


Kategori DhammaKarya: Taman Budicipta




Dikatakan bahwa dalam hal pembabaran Dhamma, gabungan kemampuan dari kedua murid terhebatnya, yakni Bhante Sariputta dan Bhante Mahamoggalana, baru dapat dibandingi dengan kemampuan Sang Buddha.  Hal ini dikarenakan walau Bhante Sariputta memiliki kemampuan menjelaskan dan menguraikan Dhamma yang luar biasa, akan tetapi ia tak berkemampuan membaca pikiran orang, tak berkemampuan melihat langsung kwalitas batin orang.  Akan tetapi kemampuan Bhante Mahamoggalana dalam menembusi kwalitas pikiran orang ini mengakomodasikan ketidakmampuan Bhante Sariputta ini.  Sang Buddha sendiri mengakui bahwa ia adalah ahli pembaca pikiran orang.  Dengan mengetahui tingkat batin seseorang ditambah dengan kemampuan luar biasa beliau dalam menjelaskan dan menguraikan Dhamma, maka tak heran Sang Buddha disebut sebagai guru yang tiada taranya.

Artikel ini mengkategorikan Dhamma sesuai dengan tingkat batin si pendengar.  Hal ini sangat penting dikarenakan hanya Dhamma yang selaras tingkatnya dengan si pendengar yang akan mampu memberikan manfaat terbesar kepada si pendengar.

Secara umum, umat Buddhis termasuk umat awam maupun para bhikkhu dapat dikategorikan dalam beberapa tingkat perkembangan batin.  Dengan demikian, Dhamma yang sesuai untuk mereka juga berbeda-beda.

1.  Jenis yang tak bermoral
Dhamma yang sesuai untuk mereka adalah ajaran tentang manfaat sila.  Umumnya orang yang tak bermoral (pembunuh, pencuri, pemerkosa, pembohong, dan pemakai narkoba) memiliki kwalitas batin yang cukup gelap sehingga sangat sulit untuk memberikan ajaran Dhamma kepada mereka.  Akan tetapi ada juga orang yang tak bermoral bukan dikarenakan kekejaman atau nafsu atau pandangan sesat, akan tetapi dikarenakan situasi dan kondisi yang dihadapinya.  Contohnya adalah Angulimala yang menjadi pembunuh sadis karena perintah gurunya.  Orang-orang seperti ini akan mampu mengerti Dhamma, walau akibat dari perbuatan jahat mereka akan tetap diterima oleh mereka suatu saat.  Jadi terlihat disini bahwa perbuatan jahat tidaklah sama walau terlihat sama oleh mata manusia biasa.  Yang lebih penting adalah motivasi dari perbuatan masing-masing.

2. Jenis yang bermoral
Dhamma yang sesuai untuk mereka adalah analisa sila dan manfaatnya sehingga mereka mampu mengerti bagaimana moral baik mereka dapat digunakan untuk meraih hal yang lebih mulia.  Ajaran lain yang berguna adalah manfaat dana dan Dhamma para Ariya.  Dhamma para Ariya yang dimaksud di sini adalah ajaran tentang kesunyataan mulia.  Terdapat banyak jenis subkategori dari jenis orang yang bermoral ini: jenis yang memiliki keyakinan, jenis yang memiliki kebijaksanaan, jenis yang memiliki keduanya, dan jenis yang tak memiliki keduanya.  Jenis yang memiliki kebijaksanaan dan keyakinan tentu adalah yang lebih mulia dari jenis yang hanya memiliki satunya saja.  Sedangkan jenis yang memiliki keyakinan sulit dibandingkan dengan jenis yang memiliki kebijaksanaan karena ada kalanya yang satu lebih unggul dari yang lain.  Hal yang dapat menentukan keunggulan satu diantara lainnya adalah faktor pandangan, yakni mana diantara mereka yang memiliki pandangan benar.  Zaman ini ditandai dengan banyaknya aliran-aliran agama Buddha.  Banyak dari aliran ini berisi tradisi yang telah ditambahi setelah parinibbana Sang Buddha.  Sebagian besar dari tradisi ini bukanlah Dhamma, dan malahan ada beberapa tradisi tersebut yang bertentangan dengan Dhamma.  Jadi orang yang berkeyakinan bukan berarti ia berkeyakinan terhadap aliran/tradisinya, akan tetapi ia yakin terhadap ajaran langsung dari Sang Buddha.

3.  Jenis yang berpandangan benar

Jenis ini ditandai dengan telah mantapnya moral, keyakinan, dan kebijaksanaan.  Maksud kebijaksanaan di sini adalah pengertian yang mantap tentang semua ajaran dasar Sang Buddha, yang telah terbebas dari kekeliruan dan pandangan salah.  Hal-hal yang patut ditekuni lebih lanjut di sini adalah mengurangi noda amarah dan nafsu.  Jalan yang ditempuh untuk mengurangi noda amarah dan nafsu adalah teknik meditasi vipassana dan samatha.  Vipassana menguranginya dengan pengamatan, ingatan, dan perenungan.  Samatha menguranginya dengan ketenangan batin yang bertahap.  Ketika meditasi berhasil, maka noda amarah dan nafsu baru dapat dilenyapkan secara total. 

4.  Jenis yang berpandangan benar dan yang terbebas dari noda amarah dan nafsu

Jenis ini telah mendekati tujuan akhir.  Dikatakan bahwa hal-hal yang menunda mereka dalam pencapaian tujuan akhir ini adalah keterikatan yang terlalu kuat terhadap Dhamma, keyakinan yang terlalu kuat, atau kebijaksanaan (penganalisaan, penguraian) yang terlalu kuat (sehingga menimbulkan keresahan batin yang halus).  Semua hal ini  menghalangi penembusan langsung terhadap kesunyataan mulia karena kurangnya faktor keseimbangan.  Pembabaran Dhamma untuk jenis orang ini memerlukan kemampuan menembusi batin orang tersebut secara langsung atau setidaknya peminta nasehat menjelaskan situasinya kepada ia yang telah tercerahkan sehingga yang tercerahkan (biarpun ia tak mampu menembusi batin orang) mampu memberikan nasehat sesuai dengan situasi yang diberikan.  Contoh klasik dalam hal ini adalah bimbingan Bhante Sariputta terhadap pencerahan sempurnanya Bhante Anurudha, murid Sang Buddha yang terhebat mata dewanya.

5.  Jenis yang tercerahkan secara sempurna


Seperti yang disebutkan di atas, para arahat—makhluk yang telah tercerahkan secara sempurna—memiliki kemampuan yang berbeda-beda.  Dengan demikian, para arahat masih tetap menganggap Sang Buddha sebagai guru mereka.  Tentunya dalam hal ini, tugas mereka sebagai seorang murid telah selesai.  Apa yang telah diajarkan Sang Buddha telah dipahami oleh mereka secara sempurna.

Selasa, 24 September 2013

Kebaktian Minggu

Kebaktian Minggu
Sumber: Taman Budicipta




Apakah umat buddhist itu wajib ke vihara setiap minggu?

Kalau seseorang mengatakan umat Buddhis wajib (harus) pergi ke vihara setiap minggu, maka umat Buddhis yang berada di daerah rawan (yang gak ada viharanya) telah melanggar kewajiban seorang Buddhis.  Pernyataan ini terasa kurang sesuai. 

Tapi kalau seseorang mengatakan umat Buddhis gak wajib ke vihara setiap minggu, dan orang lain yang mendengarnya mendapat kesan, "oh gak ke vihara itu ok ok saja" (dalam arti, ia menjadi gak peduli pergi atau tidak), maka itu juga kurang sesuai.

Kalau seseorang pergi ke vihara tetapi ia hanya sekedar pergi, maka manfaat yang akan diperolehnya hanya sejauh itu saja.  Akan tetapi kalau ia pergi ke vihara dengan tujuan (dan usaha) berikut, maka manfaat yang diperolehnya akan menjadi tak terukur:

1)  di vihara ia mendapatkan teman yang setidaknya setara dalam hal pemahaman dan pelaksanaan Dhamma.  Apa perolehannya?  Ia akan maju dalam Dhamma, ia tak akan berpandangan sesat, ia akan mendapat dukungan dari teman tersebut sewaktu susah.  Inilah buah dari persahabatan Dhamma.

2)  mendengarkan ceramah Dhamma.  Apa perolehannya?  Ia menjadi lebih bijaksana (di kehidupan ini dan kehidupan berikutnya), keyakinannya semakin teguh.  Inilah hasil kamma baik dari mendengar ceramah Dhamma, yang telah disebut oleh Sang Buddha.

3)  berdana.  Apa perolehannya?  Ia mengikis kekikiran, keegoisan, dan di kemudian hari ia akan dilimpahi materi. 

4)  bermeditasi.  Apa perolehannya?  Batinnya menjadi lebih tenang, dan dirinya menjadi lebih bijaksana.

5) bersujud di depan (atau membaca paritta yang mengulang kwalitas mulia) Buddha, Dhamma, dan Sangha.  Apa perolehannya?  Keyakinannya akan meningkat, kebahagiaan surgawi.

Menarik bagi umat Buddhis untuk mengetahui bahwa suatu hari ketika Sang Buddha ditanya, "Kenapa Bhagava kadang mengajarkan Dhamma, kadang hanya berdiam (tak mengajarkanNya)?"  Salah satu jawaban yang diberikan Sang Buddha adalah bahwa bila seseorang tidak datang (ke vihara kediaman Sang Buddha) secara rutin, maka Beliau mungkin tak akan mengajarkan Dhamma kepadanya.  Ini masuk akal karena hanya pada situasi yang sesuai, Dhamma baru akan dibabarkan oleh para Arya.

Tambahan dari Yulia:

Kunci dari segala hal adalah menghindari pandangan ekstrim, alangkah indahnya jika kita tidak langsung memvonis apakah yang ini bagus, yang itu tidak bagus, yang ini salah, yang itu benar, ke Vihara pasti lebih baik daripada tidak ke Vihara, diwajibkan lebih baik daripada tidak dsbnya, namun menarik kesimpulan berdasarkan pemahaman benar.

Cth sederhana, seorang remaja yang rajin mengikuti puja bakti tiap minggu di Vihara dengan niat cuci mata, gossip ketika saatnya mendengarkan Dhamma, cakap kotor di pelataran parkir, tidak mengerti tujuan ke Vihara yang sesungguhnya, etc, maka bisa dikatakan tidak bermanfaat untuk anak tersebut.

Namun sebaliknya, seseorang yang tinggal nun jauh di pedalaman desa, dimana jarang ditemui Vihara atau Cetiya, namun dengan keyakinan penuh, berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha, senantiasa bersila baik, belajar sutta dengan tekun, walaupun tidak ke Vihara, adalah jauh lebih bermanfaat dari kasus pertama.

Yulia tidak menampik kebenaran manfaat yang didapat dengan seringnya berkunjung ke Vihara, tentu beragam manfaat bisa kita dapatkan, mengumpulkan kebajikan lewat puja bakti, menghormati Ti-Ratana, berdana, mendengarkan Dhammadesana, pelimpahan jasa, dan mungkin aktifitas sosial lainnya. Untuk pengalaman sendiri, setelah mengalami kesibukan di hari biasa,
problema, ketegangan, etc….dengan meluangkan waktu ke Vihara, very often it reminds me not to go astray, to be relax, to be humble, etc…. setelah suatu perbuatan baik dilakukan, seringkali membawakan kebahagiaan tersendiri. Ada juga orang-orang yang tidak rutin seminggu sekali, namun dimana ada kegiatan besar seperti Kathina, atau amal lainnya, dia akan muncul, itu adalah pilihan orang tersebut.

Yulia berpikir, ada kalanya kita masih membutuhkan guidance dari apa yang tidak atau kurang di mengerti, akan ada banyak hal-hal baru yang bisa kita pelajari dengan sering ke Vihara. (Jika semua orang berpikiran ke Vihara adalah tidak penting, maka masa depan ajaran Sang Bhagava tidak akan bertahan lebih lama lagi karena satu persatu vihara akan ditinggalkan dan
dilupakan).

Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, berbuat baik bukan hanya pada saat ke Vihara. Diluar itu, juga tidak terkecuali. Mungkin ada yang berpikiran seperti ini, “ Wah, orang ini sering ke Vihara, tapi hatinya jahat, egois dsbnya.” Nah, hal diatas yang membuat orang itu menarik kesimpulan sendiri bahwa lebih baik tidak ke Vihara tapi berhati baik (Yang penting ho
sim) (suatu pernyataan umum yang banyak disetujui).

Baiklah, ke Vihara lebih baik atau tidak, sangat tergantung pada niat dan kondisi masing-masing orang. Demikianlah, jika teman-teman ada tambahan, silahkan berbagi.

Tambahan dari Pak Rudi:
Saya mencoba untuk menanggapi tentang pertanyaan 'Apakah umat Buddha wajib ke Vihara ? Sesungguhnya dalam ajaran Buddha tidak ada pernyataan wajib atau tidak, pernyataan keharusan, atau dilarang, atau perintah Buddha. Yang diharapkan dari ajaran Buddha adalah kesadaran umat sendiri dalam mempraktikkan ajaran Buddha. Bagaimana kesadaran kita untuk ke vihara ? Apakah ke Vihara bermanfaat bagi kita atau kita hanya datang ke Vihara untuk cung cung cep (Acung acung hio/gaharu lantas menancepkan di pedupaan), cuci mata untuk cari pacar / jodoh, atau hanya untuk meramaikan suasana (mungkin memiliki kebiasaan suka di tempat keramaian). Ini semua terpulang kepada pribadi masing-masing. Saya setuju dengan pendapat dan penjelasan Yulia. Yang paling penting dalam ajaran Buddha adalah bagaimana kita membangun POLA PIKIR kita. Segala sesuatu ada sisi negatif dan sisi positif, hal ini tergantung kita yang menggunakannya. Sebagai orang yang memiliki kesadaran yang baik atau POLA PIKIR yang benar, tentu akan mengambil sisi positifnya. Kalau kita hanya berpikir yang penting saya co ho su (berbuat baik saja) titik yang lain saya tidak mau tahu. Pendapat ini menurut saya kurang tepat dan tidak bijak. Alasannya karena orang yang hanya mau berbuat baik tanpa pengertian yang benar, maka akan berbahaya. Ia selalu berbuat baik akan tetapi tidak mengerti cara kerja hukum Kamma.Suatu saat ia akan menyesal berbuat baik karena ia tetap mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal apa yang diterimanya adalah karena buah kamma di kehidupan yang lampau yang kuat memotong kamma baik yang dilakukan pada saat ini.

Apakah umat Buddhis wajib baca paritta tiap hari?

seperti halnya jawaban di atas.  Ketika kita membaca paritta, kita seharusnya mengerti arti dari paritta tersebut.  Seharusnya jangan hanya asal dibaca.  Paritta itu memakai bahasa Pali karena bahasa tersebut adalah bahasa yang digunakan untuk komunikasi antara Sang Buddha dan murid-murid Beliau (atau bahasa yang hampir sama dengan Pali).  Tentunya bahasa itu dipakai supaya arti yang disampaikan dapat dimengerti di jaman Sang Buddha.  Nah jaman sekarang Pali bukanlah bahasa yang dipakai dalam komunikasi kita sehari-hari.  Jadi kita seharusnya mengerti apa yang dibaca dan bukan hanya sekedar baca. 

Seberapa besar pengaruh pembacaan paritta perolehan kamma baik.


Kalau hanya sekedar membaca, manfaatnya tidak akan sebanyak dibanding membacanya dengan mengerti artinya.  Kalau dibaca dengan pengertian penuh (dan direnungi dari waktu ke waktu), maka seseorang dapat meraih banyak hasil yang baik, dari pikiran yang lebih bagus kwalitasnya sampai kepada pencapaian kesucian.  Jadi pembacaan paritta dapat memberikan buah yang sangat besar kalau dilaksanakan dengan cara yang sesuai.

Senin, 23 September 2013

Dhamma Ditujukan Kepada Mereka Yang Tertarik

Dhamma Ditujukan Kepada Mereka Yang Tertarik
Sumber: Taman Budicipta





Pertanyaan:
Untuk siapakah sebenarnya ajaran Sang Buddha?

Jawaban:

Ajaran Sang Buddha bukan digunakan untuk menarik pemeluk agama lain dan juga bukan untuk perdebatan.  Sang Buddha dengan jelas mengatakan bahwa Dhamma bukanlah untuk semua orang, tetapi untuk ia yang memiliki 8 sifat agung berikut (
Anuruddha Sutta):

1)  Dhamma adalah untuk ia yang menyukai hidup sederhana, bukan untuk mereka yang mengejar ketenaran.
2)  Dhamma adalah untuk ia yang puas dengan apa yang ia miliki, bukan untuk mereka yang mengejar nafsu duniawi.
3)  Dhamma adalah untuk ia yang menyukai ketenangan, bukan untuk mereka yang menyukai perdebatan.
4)  Dhamma adalah untuk ia yang rajin, bukan untuk mereka yang malas.
5)  Dhamma adalah untuk ia yang melatih perhatian benar, bukan untuk mereka yang ceroboh.
6)  Dhamma adalah untuk ia yang memiliki konsentrasi, bukan untuk mereka yang tak memiliki konsentrasi.
7)  Dhamma adalah untuk ia yang bijaksana, bukan untuk mereka yang tak bijaksana.
8)  Dhamma adalah untuk ia yang menyukai hal-hal yang tak rumit, bukan untuk mereka yang menyukai hal-hal yang rumit.

Tetapi tolong jangan disalah artikan kutipan diatas.  Sang Buddha selalu menganjurkan kita untuk mengajarkan Dhamma kepada mereka yang tertarik terhadap ajaran Beliau.

Kita harus selalu ingat satu hal ini, yakni
ajaran Sang Buddha mengajarkan ketenangan dan kedamaian. Semoga saja tetap demikian.  Sadhu!

Minggu, 22 September 2013

Mengenang Bhante Ananda

Mengenang Bhante Ananda
Oleh Andromeda Nauli

Bhante Ananda adalah pendamping setia Sang Buddha.  Ia adalah sepupu Sang Buddha.  Ia adalah bendahara Dhamma!  Tetapi ada juga hal unik tentang Bhante Ananda yang membuatnya sangat disenangi semua orang, terutama bhikkhuni Sangha.  Hal ini akan dijelaskan, akan tetapi marilah dulu kita mengenal Beliau lebih dekat.


Pendamping Sang Buddha

Sebelum Bhante Ananda menjadi pendamping Sang Buddha, terdapat beberapa bhikkhu yang mendampingi Sang Buddha.  Akan tetapi tak seorangpun dari mereka mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.  Suatu hari ketika para bhikkhu sedang berkumpul, Sang Buddha bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bersudi menjadi pendampingku?”  Semua bhikkhu mengajukan diri kecuali Bhante Ananda.  Ketika ditanya mengapa Beliau tak mengajukan diri, Bhante Ananda menjawab, “Tathagata (Sang Buddha) telah mengetahui siapa yang akan menjadi pendamping Beliau.”  Sebelum diajukan menjadi pendamping Sang Buddha, Bhante Ananda mengajukan 8 syarat kepada Sang Buddha.  Syarat-syarat tersebut yakni:
1)      Sang Buddha tidak boleh memberikan jubah-jubah kepadanya
2)      Sang Buddha tidak boleh memberikan dana makanan kepadanya
3)      Sang Buddha tidak boleh memberikan kamar kepadanya
4)      Sang Buddha tidak boleh mengikutsertakan dirinya dalam suatu undangan pribadi (seperti undangan untuk memberi ajaran Dhamma sewaktu akan menerima dana makanan).
5)      Apabila ia menerima undangan makan, ia boleh meneruskan undangan tersebut kepada Sang Buddha
6)      Bila ada perantau yang datang, ia boleh memperkenalkan mereka kepada Sang Buddha.
7)      Jika ia mempunyai keragu-raguan atau pertanyaan-pertanyaan tentang Dhamma, ia boleh mengutarakan hal tersebut kepada Sang Buddha pada setiap waktu.
8)      Apabila Sang Buddha memberikan kotbah sewaktu ia sedang tidak hadir, ia boleh meminta Sang Buddha untuk mengulangi kotbah tersebut kepadanya secara pribadi.
Syarat 1-4 diajukan Bhante Ananda untuk menghindari keuntungan materi yang dapat diraihnya sebagai pendamping Sang Buddha.  Sedangkan syarat 5-8 diajukan Beliau dengan harapan Dhamma akan tetap awet (begitulah semangat seorang bendahara Dhamma!).  Dari syarat-syarat Beliau, terlihat jelas kebijaksanaan Bhante Ananda.  Dan tentunya Sang Buddha dengan senang hati menerima syarat-syarat Beliau. 
  
Ingatan yang tajam

Seorang Sammasambuddha selalu memiliki seorang pendamping setia dan dua murid utama.  Begitu pula dengan Buddha Gotama!  Bhante Ananda adalah pendamping setia Sang Buddha. Sedangkan Bhante Sariputta dan Bhante Maha Moggalana adalah kedua murid utama Sang Buddha.  Dari semua murid Sang Buddha, Bhante Sariputtalah yang terbijaksana dan Bhante Maha Moggalanalah yang termahir dalam hal kegaiban.  Walaupun demikian, hanya Bhante Anandalah yang diberkahi kesempatan untuk mendengar semua kotbah Sang Buddha.  Dan karena Bhante Ananda telah bertekad hendak menjadi seorang pendamping Sammasambuddha (baca jataka—kehidupan lampau Sang Buddha), maka Beliau dikaruniai ingatan yang sangat tajam.  Sang Buddha, Bhante Ananda, Bhante Sariputta, dan Bhante Maha Monggalana telah berulang kali hidup bersama di kehidupan-kehidupan lampau mereka.  Oleh karena itu, keempat makhluk mulia ini memiliki hubungan yang sangat erat. 


Kebijaksanaan yang tinggi

Berkali-kali Sang Buddha memuji kebijaksanaan Bhante Ananda di depan Sangha.  Sang Buddha berkata, “O, Bhikkhu, walaupun Ananda hanya seorang Sotapanna, tetapi kebijaksanaannya sangatlah tinggi.”  Dan berkali-kali Sang Buddha menyuruh Bhante Ananda untuk membabarkan Dhamma.  Jelasnya Bhante Ananda diberikan kepercayaan untuk mewakili Sang Buddha dalam beberapa kotbah Dhamma.


Sifat penuh kasih sayang

Bhante Ananda sangat mengasihi Sang Buddha.  Ia merawat Sang Buddha ketika Beliau sedang sakit, letih, dan lemah.  Dan sifat kasih sayangnya tak hanya ditujukan kepada gurunya, akan tetapi kepada semua makhluk.  Ia sering meminta izin kepada Sang Buddha untuk diperbolehkan pergi menolong umat awam yang memerlukan bantuannya.  Jelasnya Bhante Ananda memiliki metta (cinta kasih) dan karuna (belas kasihan) yang sungguh dalam.  Ketika Devadatta melepaskan gajah liar untuk membunuh Sang Buddha, Bhante Ananda menghadang gajah liar tersebut dengan harapan Sang Buddha tak dilukai.  (Perlu diketahui bahwa Bhante Ananda memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.)  Dan sifat kasih sayangnya ini adalah bagaikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.   


Pembentukan bhikkhuni Sangha

Bhante Ananda adalah bhikkhu yang sangat memperhatikan kesejahteraan kaum wanita.  Oleh permintaan Beliaulah, bhikkhuni Sangha terbentuk.  Dan Bhante Ananda jugalah yang paling disenangi para bhikkhuni.  Di dalam Jataka dijelaskan bahwa Bhante Ananda pernah dilahirkan menjadi seorang wanita, dan oleh karena itu ia sangat menghargai kaum wanita.  Biasanya ketika bhikkhuni Sangha berkumpul, mereka mengundang Bhante Ananda untuk memberikan kotbah Dhamma kepada mereka. 


Tanpa nafsu

Walaupun sewaktu Bhante Ananda masih seorang Sotapanna, pikirannya tak pernah dinodai nafsu.  Bhante Ananda pernah diundang seorang bhikkhuni yang sedang jatuh cinta kepadanya.  Bhikkhuni tersebut berbaring di kamar dan pura-pura sakit.  Mengetahui hal ini, Bhante Ananda menjelaskan Dhamma kepadanya, “Seseorang yang memiliki sifat ke-aku-an masih bisa mencapai Nibbana bila ia berpikir, ‘Oh, bhikkhu itu telah mencapai kesucian, mengapa diriku belum?  Saya akan melatih diri lebih giat, dan saya juga akan mencapai kesucian kelak.’  Begitu pula dengan seseorang yang memiliki keinginan (yakni, keinginan mencapai Nibbana), ia masih dapat mencapai kesucian dengan berlandaskan keinginan tersebut.  Akan tetapi, O Bhikkhuni, Sang Buddha dengan jelas mengatakan bahwa hubungan intim memutuskan jembatan menuju ke kesucian.”  Setelah mendengar nasehat ini, bhikkhuni tersebut menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Bhante Ananda.


Segunung kamma baik

Sebelum Sang Buddha mencapai Parinibbana, Beliau menghanturkan rasa terima kasih Beliau kepada Bhante Ananda, “O, Bhikku, ketahuilah bahwa Ananda sangatlah bijaksana.  Ia sangat ahli merawat kebutuhanku.  Ia mengatur waktu yang tepat untukku membabarkan Dhamma.  Ia sangat disenangi semua orang.  Ia telah berbuat banyak kebajikan sehingga kalau saja ia berusaha lebih giat, ia akan mencapai kesucian Arahat dalam waktu yang sangat singkat.”  Dan benarlah seperti yang dikatakan Sang Buddha, malamnya sebelum sidang Sangha pertama Bhante Ananda mencapai kesucian Arahat sewaktu kepalanya menyentuh bantal (ketika Beliau hendak beristirahat).


Kesan dan pesan

Jasa Bhante Ananda dalam mengumpulkan semua kotbah Sang Buddha (mewariskannya kepada kita semua) sangatlah besar.  Kebijaksanaan dan kasih sayang Beliau juga perlu kita hargai.  Perantau China di abad kelima, Fa Hien, menulis di catatannya, “Stupa (relik) Bhante Ananda sangatlah dihormati oleh umat setempat terutama oleh para bhikkhuni.”

Minggu, 18 Agustus 2013

TANPA-AKU ADALAH INTISARI AJARAN BUDDHA

TANPA-AKU ADALAH INTISARI AJARAN BUDDHA

Dunia ini adalah Kosong.Kosong dari apa? Kosong dari Aku dan segala sesuatu milik Aku.…Segala sesuatu adalah tidak nyata, hanya ilusi.

Semua entitas (wujud) yang lahir itu ada, tetapi tanpa Aku. Mereka seharusnya tidak dipegang erat dan dijadikan Aku, karena mereka akan menjerat batin kita, menjebak kita selamanya, dan menyiksa kita dengan begitu liciknya, tanpa menimbulkan Kecurigaan sedikit pun.Seseorang yang menganggap hal-hal kosong sebagai kenyataan adalah seseorang yang keliru memahami atau… seseorang yang memberikan pada dirinya sendiri segudang 'dukkha'.Bahasa yang diucapkan seperti ada sebuah "Aku" adalah bahasa Manusia. Kata-kata yang diucapkan tanpa ada arti "Aku" adalah bahasa Dhamma.

Sebuah doktrin yang masih mengajarkan bahwa ada 'Aku' akan selalu berakhir menuju pada perluasan ke-egoisan dan tidak akan dapat melenyapkan 'dukkha', karena ke-egoisan berasal dari kotoran batin.Tidak melekat pada segala sesuatu sebagai Aku atau Milikku, tetapi lebih melihat segala sesuatu terjadi sesuai "Sebab dan Akibat", tidak ada kaitannya dengan nihilisme. Hal ini adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda. Pahamilah dengan benar, sehingga Anda dapat mengerti intisari agama Buddha: "Tiada apa pun yang dapat dianggap sebagai Aku"

(Practical Buddhism, by Ajahn Buddhadasa, penerbit Karaniya)






Sent from BlackBerry® on 3