Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Minggu, 04 April 2010

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan oleh Master Cheng Yen — Tzu Chi

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan
Oleh: Master Cheng Yen — Tzu Chi

Suatu ketika, seekor raja burung memimpin rombongannya yang terdiri dari lima ratus ekor burung untuk mencari makanan di luar istana. Mereka tanpa sengaja terbang melewati batas dan memasuki kebun milik seorang kaisar. Mendengar bahwa lima ratus ekor burung sedang berkeliaran di kebunnya, Sang Kaisar berpikir hal ini pasti akan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Lalu, ia pun memerintahkan para pelayannya untuk menebar jala di atas kebun untuk menangkap burung-burung tersebut ketika mereka akan terbang kembali.

Burung-burung itu tidak tahu bahwa kaisar sudah memerintahkan agar jala dipasang di sana. Oleh karenanya, ketika mereka terbang, semua burung tertangkap.Dengan gembira, Sang Kaisar memerintah para pelayannya untuk memberi makan burung-burung itu dengan beras setiap hari. “Jika mereka sudah cukup gemuk, masaklah mereka sehingga saya dapat menyiapkan pesta untuk semua menteri!” demikian titah Sang Kaisar.
Sewaktu raja burung mendengar apa yang direncanakan Sang Kaisar, ia menyalahkan dirinya terhadap situasi ini. “Semua ini adalah salahku sehingga rakyatku terbang masuk ke kebun kaisar, dan sekarang mereka akan dibunuh untuk menjadi makanan Kaisar dan menteri-menterinya. Apa yang dapat aku lakukan?”
Sewaktu beras dibawa masuk, tiba-tiba raja burung mendapat ide. Ia memperingatkan semua burung, ”Jika kalian ingin terus hidup, jangan makan beras tersebut.” “Tapi, jika kami tidak makan, kami akan mati kelaparan! Bagaimana mungkin kami dapat hidup?” kata burung-burung itu pada rajanya.
Raja burung memberitahu mereka, “Kaisar memberi kita makan agar kita menjadi gemuk. Jika kita memakan beras itu dan menjadi gemuk, Kaisar akan segera membunuh kita untuk dijadikan makanan. Jadi, janganlah makan apapun dalam beberapa hari. Jika kita menjadi kurus, kita akan memiliki kesempatan yang baik untuk melarikan diri.”

Lima ratus burung tersebut selalu patuh pada raja burung sehingga mereka sama sekali tidak menyentuh beras yang diberikan oleh Kaisar. Prajurit yang menjaga burung-burung itu menghidangkan beras yang sangat banyak ke dalam sangkar mereka setiap hari, tetapi makanan tersebut tetap tidak dijamah. Raja burung berpikir keras, berusaha mencari jalan untuk membebaskan diri dari sangkar. Suatu hari, ia melihat lubang kecil di atas sangkar. Ia memerintahkan semua burung untuk mematuk lubang tersebut setiap hari. Beberapa hari kemudian lubang menjadi semakin besar dan cukup untuk dilewati burung-burung karena badan mereka sekarang menjadi kurus. Atas petunjuk raja, lima ratus ekor burung tersebut akhirnya diam-diam terbang keluar melalui lubang tersebut.

Melihat sangkar burung yang kosong, raja burung sangat gembira. Ia memilih untuk keluar paling akhir. Lima ratus ekor burung telah menunggu di luar sambil mengepak-ngepakkan sayap mereka. Ketika pada akhirnya raja burung terbang di angkasa bersama-sama dengan seluruh burung, suara merdu mereka segera menyelimuti udara.

=====================
Kita harus waspada pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran kita. Jika kita ceroboh, penderitaan akan terjadi sebagai akibatnya.
Segala kesalahan dan penderitaan disebabkan oleh pikiran-pikiran kita. Jika kita patuh pada peraturan, kita akan hidup dengan aman. Jika kita hati-hati dan bijaksana di dalam tindakan kita, hidup kita akan damai dan bahagia.

Sumber: http://kmbij.wordpress.com/artikel-dhamma/

Lima Dasar Moral Umat Buddha

 
 
 
Lima Dasar Moral Umat Buddha

Bersama Ven S. Dhammika





1. Agama lain menerima gagasan tentang hal yang benar dan yang salah dari perintah "Tuhan". Anda umat Buddha, tidak percaya akan Tuhan sebagai suatu pribadi, jadi bagaimana Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah?

Semua pikiran, ucapan, atau perbuatan yang dilandasi keserakahan, kebencian, dan itikad buruk yang menjauhkan dari pencapaian kesucian - Nibbana, adalah hal yang salah. Sedangkan pikiran, ucapan, atau perbuatan yagn dilandasi cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, yang mendukung penyucian jalan ke Nibbana adalah hal yang baik.

Dalam agama theosentris, benar salahnya suatu perbuatan biasanya dinilai dari kesesuaiannya dengan perintah Tuhan (yang termaktub dalam kitab suci). Namun dalam agama humanosentris seperti agama Buddha, untuk mengetahui yang baik dan yang buruk, Anda harus mengembangkan pengertian dan kesadaran diri secara mendalam. Tata susila yang didasarkan pada pengertian dan kebijaksanaaan senantiasa lebih unggul dibanding berdasarkan ketaatan pada perintah semata. Untuk membedakan hal yang baik dan yang buruk, umat Buddha berpedoman pada tiga hal: tujuan, akibat yang menimpa diri sendiri, dan akibat yang akan menimpa orang lain. Apabila suatu tindakan bertujuan baik (dilandasi cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan); apabila berguna bagi diri sendiri dan orang lain untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, maka tindakan tersebut adalah bermanfaat, baik, dan patut diteladani. Tentu saja ada berbagai pertimbangan. Kadang kita bermaksud melakukan suatu tujuan mulia, tetapi bisa jadi tindakan tersebut tidak bermanfaat batin diri sendiri maupun bagi orang lain. Kadang tujuan kita jauh dari kebaikan, namun tindakan kita justru menguntungkan orang lain. Di kesempatan lain, tindakan kita sama sekali tak bertujuan baik, hanya menguntungkan diri sendiri, namun menyebabkan penderitaan pihak lain. Dalam hal ini, tindakan kita merupakan campuran antara hal yang baik dan yang buruk. Apabila kita bertujuan buruk, tak berguna bagi diri sendiri, tak bermanfat bagi orang lain, hal seperti ini adalah buruk. Sedangkan bila tujuan kita baik, dan tindakan kita bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, hal ini sungguh baik.

2. Jadi agama Buddha memiliki aturan moralitas?

Benar. Umat Buddha memiliki lima dasar moralitas umat Buddha yang disebut sebagai Panca Sila (dari bahasa Pali : lima dasar moralitas),
Sila pertama adalah menghindari pembunuhan atau menyakiti segala bentuk kehidupan;
Sila kedua adalah menghindari pencurian atau mengambil yang tidak diberikan;
Sila ketiga adalah menghindari tindakan asusila (penyelewengan seksual);
Sila keempat menghindari diri dari berbohong dan berkata yang tidak benar (berkata kasar, fitnah, dll);
Sila kelima, menghindari diri dari penggunaan bahan-bahan yang dapat menyebabkan melemahnya atau berkurangnya kesadaran/ketagihan.

3. Tentu saja suatu ketika kita perlu membunuh. Misalnya memberantas serangga pembawa wabah penyakit, atau membunuh demi mempertahankan diri.

Mungkin hal itu baik bagi Anda. Tetapi bagaimana dengan makhluk yang Anda bunuh? Seperti halnya Anda, mereka juga berharap untuk tetap hidup. Tindakan membunuh mungkin bermanfaat bagi diri sendiri (baik), namun tak elak lagi merugikan makhluk lain (buruk). Jadi suatu ketika mungkin perlu membunuh, namun sekali lagi hal ini tidaklah benar-benar baik. Umat Buddha berusaha menghargai semua bentuk kehidupan, dan melatih diri sebisa mungkin tidak menyakiti makhluk apapun.

4. Anda juga memperhatikan semut dan kutu?

Umat Buddha berusaha mengembangkan sikap welas asih yang tidak membeda-bedakan, melingkupi seluruh bentuk kehidupan. Kami melihat dunia sebagai suatu kesatuan dimana setiap makhluk dan segala sesuatu menempati fungsinya masing-masing. Kami sangat berhati-hati untuk tidak merusak atau mengganggu keseimbangan alam. Lihatlah budaya mengeksploitasi alam yang disertai perusakan, manusia mengambil semuanya, tak bersisa, manusia berusaha menguasai dan menundukkan alam. Keseimbangan alam terganggu. Udara segar, tanah, sungai, dan laut tercemari; hewan dan tumbuhan mendekati kepunahan; bahkan iklim pun berubah. Seandainya saja manusia tidak terlalu serakah, situasi yang mencemaskan ini mungkin tidak akan terjadi. Kita semua seharusnya berusaha lebih menghargai kehidupan. Inilah yang dikatakan oleh Sila Pertama.

5. Mengenai berdusta, mungkinkah hidup tanpa berdusta?

Jika benar-benar tidak mungkin hidup dalam masyarakat atau berbisnis tanpa berdusta, hendaknya kita tidak merugikan orang lain. Umat Buddha berupaya melatih diri untuk hidup lebih jujur dan berterus terang. Sekali lagi, Pancasila Buddhis bukan merupakan suatu dogma semata, melainkan lebih sebagai tuntunan sikap terhadap diri sendiri, sesama, dan alam semesta.

6. Baiklah, bagaimana dengan alkohol? Saya kira minum sedikit saja tidak akan memabukkan.

orang minum alkohol dengan bukan untuk suatu rasa. Ada yang minum untuk mencari pelarian dari tekanan hidup, ada juga yang minum untuk pergaulan. Sedikit saja alkohol bisa memperngaruhi atau mengganggu kesadaran diri, apalagi dalam jumlah besar, alkohol sangat merusak tubuh dan pikiran.

7. Apakah minum alkohol sedikit saja dikatakan melanggar sila? Bukanlah itu hal yang sepele?

Memang sepele. Tetapi bila untuk hal-hal yang sepele saja Anda tidak bisa, berarti tanggung jawab dan tekad Anda tidak cukup kuat; bagaimana mungkin Anda bisa melatih diri untuk hal-hal yang lebih besar?

8. Pancasila Buddhis bersifat negatif. Pancasila memuat hal-hal yang hendaknya tidak dilakukan, tetapi tidak mengatakan hal-hal yang hendaknya dilakukan.

Pancasila merupakan dasar moralitas umat Buddha, jadi belum mencakup semuanya. Kita mulai belajar mengenali kebiasaan buruk alamiah kita dan berusaha untuk menghentikannya. Itulah fungsi Pancasila sebagai dasar. Setelah kita berhenti berbuat buruk, kemudian kita mulai berbuat baik. Sebagai contoh, berbicara. Sang Buddha menganjurkan agar mulai dengan manahan diri untuk tidak berbicara tidak benar.

Selanjutnya, kita berbicara dengan benar, halus, sopan, dan pada saat yang tepat. Beliau bersabda:

"Meninggalkan pembicaraan yang tidak benar, dia menjadi pembicara kebenaran, dapat diandalkan, dapat dipercaya, dia tidak memperdayai dunia. Meniggalkan pembicaraan yang jahat, dia tidak mengulang di sana apa yang dia dengar di sini, tidak mengulang di sini apa yang dia dengar di sana, dalam upaya memecah belah mesyarakat. Dia mendamaikan yang bermusuhan dan mengakrabkan kembali yang berseteru. Keharmonisan adalah kegembiraannya, keharmonisan adalah kebahagiaannya, keharmonisan adalah kasih sayangnya, inilah yang mendorong dia berbicara. Meninggalkan pembicaraan yang kasar, dia berbicara tanpa cela, nyaman didengar, ramah tamah, menggembirakan hati, halus tutur katanya, disukai banyak orang. Meninggalkan obrolan kosong, dia berbicara pada saat yang tepat, apa yang sebenarnya, tidak bertele-tele, mengenal Dhamma dan kedisiplinan. Dia membicarakan hal yang bermanfaat dan berharga, sesuai dengan keadaannya, pantas untuk diungkapkan, dirumuskan dengan baik, dan tepat pada sasarannya." (MI 179)
 
Sumber: http://www.dhammacakka.org/forum/archive/index.php?t-3866.html 

BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN Oleh: Piyadassi Mahathera



BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN
Oleh: Piyadassi Mahathera

Orang yang mempelajari agama Buddha secara objektif yang dengan teliti membaca buku tentang agama Buddha di masa awalnya secara menyeluruh, (dalam buku manapun) akan menemukan kepribadian yang dinamis dari seorang manusia yang telah mencapai Penerangan Tertinggi dan Kebebasan Mutlak melalui kesempumaan moral, intelektual dan spiritual. Seorang guru yang berusaha dengan semangat tanpa kenal lelah dan tekad yang bulat untuk menyebarkan kebenaran yang telah disadari-Nya. Orang yang memiliki kepribadian dinamis itu adalah Buddha.

Buddha bukanlah seorang filsuf di antara ahli filsafat lainnya, melainkan seorang Guru suci yang telah mencapai Penerangan, yang ajaran-Nya bertujuan merombak pikiran dan kehidupan umat manusia. Semangat pengorbanan diri, cinta kasih yang tanpa batas, kebaikan hati dan toleransi yang terkombinasi dengan kepribadian-Nya yang luar biasa, membangunkan mereka yang mengikuti-Nya dari ninabobo kebodohan dan membangunkan mereka untuk menyadari kebenaran.
 
Ajaran-Nya berawal di India Utara tetapi pesan-Nya menarik perhatian seluruh dunia. Buddha berbicara kepada seluruh umat manusia dan untuk sepanjang jaman. Ajaran dan disiplin-Nya (dhamma-vinaya) adalah untuk seluruh umat manusia, apapun bahasa yang mereka gunakan, apapun pakaian yang mereka kenakan, apapun negara yang mereka sebut "rumah". Bahasa Buddha adalah kebenaran. Beliau mengenakan pakaian kebenaran dan seluruh dunia adalah "rumah"Nya; karena kebenaran terdapat dimana-mana dan setiap saat dapat disadari oleh setiap orang. Inilah yang dimaksud keuniversalan Buddha Dharma atau Agama Buddha. Kebenaran yang dibicarakan dalam Agama Buddha bukan konsep, oleh karena itu tidak dapat disebarkan hanya dengan kata-kata saja. Buddha dapat menuntun kita dengan menunjukkan jalan menuju kebenaran, kita sendiri yang harus mengikuti cara-cara meditasi untuk menyadari kebenaran dan menjadikannya milik sendiri.
 
Buddha adalah Pengendali Pikiran. Beliau mengembangkan pengendalian pikiran berkat meditasi dan berbagai bentuk peningkatan spiritual lain dalam rangkaian kehidupan berturut-turut. Dengan inilah Beliau dapat memahami dan menyatakan kebenaran pokok mengenai kehidupan, mengenai arti dan tujuannya. Meskipun begitu kebanyakan orang yang tertarik pada agama Buddha dewasa ini bukanlah memperhatikan kebenaran-kebenaran pokok ini, tetapi mempelajari, bagaimana ia dapat menghasilkan penyelesaian yang berguna untuk mengatasi keragu-raguan dan kesulitan yang mengacaukan dan membingungkan dirinya dalam usaha untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan.
 
Salah satu kebenaran pokok yang telah dinyatakan oleh Buddha adalah kekuatan yang luar biasa dari pikiran. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang siswa-Nya, Beliau menjelaskan kebenaran ini dengan tegas sekali, "Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran."1) Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya menyelidiki kekuatan dan pikiran, tetapi lebih dari 2500 tahun yang lalu Buddha telah menyadari keunggulannya dalam setiap aspek kehidupan. Agama Buddha di masa awal memandang pikiran merupakan suatu kekuatan besar yang harus dikembangkan dalam usaha untuk mencapai tujuan tertinggi, Nirwana (Nibbana). Agama Buddha yang juga tidak mengingkari dunia yang penuh persoalan dan dampak luar biasa yang diakibatkan oleh dunia fisik terhadap kehidupan rohani, menekankan lebih pentingnya pikiran manusia. Kekuatan pikiran merupakan hal yang sangat nyata.
 
Banyak orang yang mencari ilham dan kebahagiaan dari sumber-sumber di luar dirinya merasa kecewa. Hanya ketika seseorang menyadari keunggulan pikiran dan mengerti bahwa pikiran yang dimiliki seseorang dapat membuat dunia ini menjadi surga atau neraka bagi dirinya sendiri, maka ia akan belajar bagaimana untuk merasa bahagia. Sang Pengendali Pikiran memberikan pertolongan lebih lanjut, seperti yang dikatakan dalam Dhammapada (165):
 
"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan. Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan. Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri.Tak seorang pun dapat membuat orang lain suci."
 
Selain itu Sang Pengendali Pikiran berkata: "Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Buddha hanya menunjukkan jalan."2) Kebenaran-kebenaran yang berharga ini mengajarkan manusia untuk menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri dan melalui dirinya sendiri.
Kebenaran pokok lain yang datang dari Sang Pengendali Pikiran adalah:

"Segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal, Mereka timbul dan lenyap, itulah sifat dasarnya; Mereka dilahirkan dan meninggal dunia,
Terbebas dari hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi." (D. ii.157)
 
"Segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap."3) Perubahan ini merupakan inti dari segala sesuatu. Manusia tidak berbahagia karena semua hal yang diinginkannya - istri dan anak-anak, kekayaan dan kekuasaan - tidak bertahan selamanya. Dalam pekerjaan apa pun setiap orang mengalami kecemasan yang sama untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Hanya jika manusia menyadari kebenaran pokok mengenai ketidakkekalan segala sesuatu maka ia akan melatih dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari nafsu keinginan, karena nafsu keinginan rendah membawa ketidakbahagiaan. Dalam hubungan ini, Sang Pengendali Pikiran mengucapkan sabda sebagai berikut: "Dari nafsu keinginan timbul kesedihan, Dari nafsu keinginan timbul ketakutan, Bagi orang yang telah bebas dari nafsu keinginan, Tiada lagi kesedihan maupun ketakutan" (Dhp. 216)
 
Buddha kadangkala lebih memperhatikan tujuan yang mengandung unsur pengobatan daripada analisis obyektif. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian-Nya adalah pandangan analitis terhadap segala sesuatu, karena hal ini membantu seseorang untuk memahami sesuatu sebagaimana hakekat yang sesungguhnya. Melalui meditasi, Buddha menemukan akar dari penyakit-penyakit universal yang terdapat di hati dan pikiran manusia. Pengetahuan-Nya yang luar biasa sampai ke dalam cara berpikir menempatkan Buddha sebagai Pengendali Pikiran, seorang ahli psikologi, dan seorang ilmuwan terbesar. Tidak disangkal, caranya mencapai kebenaran-kebenaran dari kehidupan rohani ini tidak selalu bersifat eksperimen, namun apa yang ditemukan oleh Buddha tetap benar, dan dalam kenyataannya telah dibuktikan oleh para ahli percobaan. Akan tetapi tujuan Buddha terkait dengan penyelidikan ini berbeda dengan tujuan para ilmuwan. Para ilmuwan lebih memusatkan perhatian untuk memperoleh pengetahuan objektif mengenai sifat-sifat dasar, tetapi pernyataan Buddha tentang sifat-sifat dasar dari pikiran dan jasmani di arahkan untuk mencapai kebebasan, pembebasan tertinggi dari keterikatan. Ajaran-Nya banyak menekankan fenomena pikiran dan mental karena hal ini memainkan peranan penting dalam menimbulkan perbuatan. Dalam agama Buddha pikiran merupakan basis, "Pikiran mendahului segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran membentuk segalanya." (Dhp.1)
 
Buddha adalah seorang manusia. Bahkan sesudah Beliau menjadi Buddha Beliau tidak menyatakan diri-Nya sebagai Dewa, Tuhan atau Brahma, yang menciptakan dunia dan mengadili nasib manusia. Ia adalah seorang MANUSIA di antara banyak manusia. Bila ditanya siapakah Dia, jawabannya adalah: "Aku seorang yang telah sadar" dan Beliau menyimpulkan pencapaianNya dalam kata-kata berikut ini:

"Aku mengetahui apa yang harus diketahui, Apa yang harus dikembangkan telah Kukembangkan. Apa yang harus ditinggalkan telah Kutinggalkan,
Maka, Aku adalah BUDDHA, Dia yang bangun." (Sn. 558)
 
Pengikut-Nya, menyadari bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah akibat dari perbuatan baik dan perbuatan tidak baik yang dilakukan seseorang, tidak memohon kepada-Nya dan tidak mengharapkan dari-Nya balas jasa ataupun hukuman. Mereka berlindung kepada Buddha dengan menyadari bahwa hidup-Nya dan ajaran-Nya menawarkan pada mereka sebuah teladan dan tuntunan. Dengan mengikuti ajaran-Nya mereka mampu meningkatkan kehidupan rohani dari tingkat yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, dan akhimya mencapai kebahagiaan yang merupakan hasil dari perkembangan spiritual tertinggi, kebahagiaan Nirwana.
 
Buddha dapat juga disebut sebagai seorang revolusioner dalam pengertian sesungguhnya. Tujuan-Nya yang utama adalah mengadakan perubahan dalam kehidupan rohani manusia, termasuk dunia dan menunjukkan jalan menuju kesucian batin, kedamaian dan kebahagiaan. Akan tetapi Beliau menemukan bahwa masyarakat India sangat memerlukan perubahan secara radikal, karena begitu banyaknya ketimpangan sosial, serta diskriminasi ekonomi dan sosial. Sejauh mengenai perhatian pada ketimpangan ekonomi, Buddha berhasil menciptakan jaminan ekonomi yang stabil dalam kelompok para bhikkhu dan bhikkhuni. Apa pun dasarnya wihara dan dana yang disumbangkan oleh umat awam kepada Sangha selalu merupakan milik Sangha, dan bukan milik perseorangan.
 
Bagaimanapun juga, Bhagawa menentang semua bentuk diskriminasi sosial. Ketika membicarakan Dharma dalam ajaran-Nya, Beliau tidak membeda-bedakan kasta, suku, kelas, jenis kelamin ataupun perbedaan lainnya Pria dan wanita dari berbagai pekerjaan - kaya dan miskin, kalangan rendah dan kalangan atas, yang terpelajar dan yang buta huruf, brahmana dan luar kasta, pangeran dan fakir miskin, orang suci dan penjahat — semuanya mengindahkan Buddha, berlindung kepada-Nya dan mengikuti jalan menuju kedamaian dan penerangan yang telah ditunjukkan oleh Beliau kepada mereka. Jalan ini terbuka bagi semua orang.
 
Sebagai orang yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang di- khotbahkan-Nya, Buddha selalu memusatkan perbuatan kepada Empat Keadaan Luhur (brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), simpati atau bahagia melihat kebahagiaan orang lain (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha). Buddha dikenal sebagai orang yang telah meletakkan gada (nihita danda), seseorang yang telah meletakkan senjata (nihita sattha). Satu-satunya senjata yang berhasil digunakan-Nya adalah cinta kasih dan belas kasih. Beliau mempersenjatai diri dengan kebenaran dan belas kasih.
 
Beliau adalah penjelajah terbesar di dunia. Ia berjalan dan berjalan terus sepanjang jalan raya dan jalan kecil di India, merangkul semuanya kedalam pancaran kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas.
Ia bergerak di antara pria dan wanita, bukan sebagai manusia super atau penjelmaan dewa, tetapi sebagai manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya, sifat dasar kemanusiannyalah yang terlihat nyata dalam catatan kehidupan dan kegiatan-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci. Buddha membuat orang-orang mengerti bahwa semua orang dapat menjadi Buddha asalkan mau mengembangkan sifat dasar penting yang dapat menuntun menuju penerangan.
 
Buddha memiliki rasa humor yang tinggi dan sifat ramah yang membuah orang-orang yang datang berhubungan dengan-Nya merasa senang. Namun, agak lucu pula bila kita perhatikan bahwa sebagian orang pada zaman itu, terutama anggota kepercayaan lain, merasa takut kepada Buddha dan tidak berani mengirimkan para murid dan pengikut mereka kepada Buddha, takut kalau-kalau mereka beralih agama. Hal ini tampak jelas dalam catatan berikut ini:
 
Suatu ketika Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira) ingin mengirim seorang siswanya yang terkenal, Upali, menemui Buddha untuk menyangkal kata-kata-Nya dalam perdebatan. Kemudian Dighatapassin, pengikut Jaina, berkata kepada Nataputta: "Bagiku, Yang Mulia, sebenarnya tidak perlu sekali mengirim Upali untuk menyangkal kata-kata Petapa Gotama, karena Petapa Gotama penuh tipu daya; Ia tahu mantra sihir yang dengan itu menarik para pengikut dari sekte-sekte lain. (Gotamo mayavi avattananim mayam janati)" (M.56; A. ii, 190).
 
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa metta yang dimiliki Buddha, kebesaran cinta kasih dan kebaikan hatinyalah yang menarik orang- orang kepada-Nya dan bukan dengan "muslihat yang menarik hati."
 
Buddha merupakan perwujudan dari metta, contoh dari cinta kasih dalam tuntunan dan keteladanan. Dalam perdebatan, Beliau selalu tenang dan menghadapi penantang tanpa merasa terganggu, tanpa menunjukkan kemarahan. Saccaka, lawan debatnya, pada akhir perdebatan dengan Buddha, tidak dapat menahan diri untuk berkata: "Bagus sekali, mengagumkan, Gotama yang baik, walau dicecar secara bertubi-tubi, walau diserang dengan kata-kata yang penuh tuduhan, sifat Gotama yang baik begitu jelas, dan wajahnya menunjukkan kebahagiaan sebagai seorang Arahat, yang sempuma, yang telah mencapai Penerangan Tertinggi." (M36)
 
Bahkan ketika orang-orang menyerang-Nya dan berusaha mempermalukan dengan kata-kata kasar, air muka Buddha tidak pernah berubah. Dikatakan bahwa Beliau tersenyum, senyuman selalu mengawali ucapan-Nya (mihita pubbangama).
 
Ernest F. Fenollosa menilai: "Kesan terhadap tokoh ini (Buddha), berdasar pandangan orang untuk pertama kali, menunjukkan Dia memiliki kesucian yang hebat. Anggaplah berkelakar, seorang Kristiani yang berwawasan luas (=dirinya sendiri) juga dapat dengan bebas terdorong untuk membungkukkan diri di hadapan senyuman-Nya yang manis dan penuh kekuatan."
 
Tak ada sifat manusia yang menjadi milik khusus (prerogatif) agama, negara, ras atau kebudayaan tertentu. Bagi mereka, semua memiliki mata untuk melihat dan pikiran untuk mengerti akan menyadari bahwa sifat-sifat seperti persahabatan, belas kasih dan kebesaran hati umumnya terdapat dalam diri setiap umat manusia. Akan tetapi ketika orang-orang itu salah jalan dan tersesat, mereka membicarakan dan merencanakan "perang demi keadilan" - kita bahkan membaca mengenai "perang suci". Perang adalah perang; "adil ataupun suci"; tidak pemah membawa kedamaian. Semua bentuk perang adalah biadab.
 
Suatu kejadian pada suatu ketika membawa Buddha menuju medan perang. Sakya dan Koliya, dua negara yang bertetangga sampai di ambang peperangan karena memperebutkan air Sungai Rohini. Mengetahui bencana yang akan timbul, Bhagawa lalu menghampiri mereka dan menanyakan kepada mereka manakah yang lebih berharga, air atau darah manusia. Mereka mengakui bahwa darah manusia lebih berharga. Bhagawa berbicara kepada mereka dan perang yang hampir pecah dapat dicegah.4)
 
Dalam bidang agama dan filosofi, perubahan terbesar yang dilakukan, oleh Buddha ketika Beliau mengecam konsep atta atau atman, roh yang kekal, diri atau aku yang kekal. Ajaran mengenai anatta, tanpa roh yang kekal, semata-mata merupakan ajaran agama Buddha. Buddha menunjukkan bahwa menjadi apapun, dengan berbagai maksud kita menamakan pria, wanita atau pribadi, bukanlah merupakan sesuatu yang statis melainkan dinamis. Perpaduan antara jasmani dan rohani selalu dan terus menerus berubah.
Kini jika seseorang melihat kehidupan dari pandangan ini dan mengerti secara analitis bahwa keberadaannya merupakan rangkaian agregat rohani dan jasmani secara keseluruhan, ia melihat benda-benda sebagaimana yang sesungguhnya. la tidak berpegang pada pandangan salah mengenai "kepercayaan akan adanya pribadi" (sakkaya ditthi), kepercayaan terhadap adanya roh atau diri yang kekal, abadi, tidak berubah dan tetap, karena ia mengetahui melalui pengertian benar bahwa seluruh bentuk kehidupan yang nyata merupakan rangkaian sebab-musabab yang saling bergantungan (paticca samuppada). Melihat bahwa segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain dan kehidupan berhubungan dengan keadaan itu, ia menyadari bahwa sebenarnya tak ada "aku", tidak ada prinsip aku yang kekal, tak ada diri atau sesuatu mengenai diri, tidak dalam proses kehidupan sekarang maupun di luar kehidupan saat ini. Oleh karena itu, ia bebas dari pikiran mengenai jiwa mikrokosmis (jivatma) atau jiwa makrokosmis (paramatma) atau bahkan jiwa kosmis.
Buddha tidak mengakui segala bentuk atman, jiwa atau diri, besar atau kecil yang kekal, karena hal-hal itu hanya merupakan bayangan dalam pikiran. Beliau bertanya: "Ketika suatu atman, jiwa atau diri tidak ditemukan, bukankah bodoh untuk menyatakan alam semesta sebagai atman atau diri dan mengatakan: aku akan menjadi atman setelah kematian, kekal, abadi, tidak berubah dan akan tetap sebagai atman untuk selama nya?"'5)
 
Barang siapa yang berakar pada pemikiran mengenai jiwa atau diri itu akan merasa takut dan khawatir ketika ia mendengar bahwa segala keindahan yang disenanginya akan hancur dan ia akan dihancurkan. Oleh karenanya ia menyukai pemikiran mengenai atman, jiwa atau diri yang kekal untuk mempertahankan dirinya sendiri. Itu sebabnya mengapa Buddha mengingatkan para pengikut-Nya agar memandang Beliau bukan sebagai juru selamat yang menyelamatkan jiwa makhluk ciptaannya, tetapi sebagai seorang guru yang menuntun mereka pada jalan yang benar dan mendorong mereka untuk memiliki kepercayaan pada diri sendin. Beliau juga menerangkan kepada para siswa-Nya bahwa jika Beliau meninggal dunia nanti, mereka harus mencari tempat berlindung dan perlindungan dalam diri mereka sendiri sebagaimana juga di dalam Dharma, ajaran-Nya dan bukan pada tempat lain (attasarana anannasarana dhammasarana anannasarana)6)
Namun, sebagian orang terpelajar, tidak dapat menerima ajaran tanpa aku ini, dan oleh karena itu mereka mencoba untuk mengubah ajaran Buddha dengan mengakui pemikiran mengenai "diri" (atta). Radhakrishnan, contohnya, salah menerjemahkan Dhammapada ayat 160 yang berbunyi: "Diri sendiri adalah tuan dari diri sendiri, siapa pula yang dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri? Setelah dapat menaklukkan dirinya sendiri dengan baik, seseorang akan menemukan tuan yang hanya sedikit orang saja dapat menemukannya."7) Di sini kata "atta" tidak memiliki hubungan dengan jiwa atau diri. Kata itu digunakan sebagai refleksi atau kata ganti tak tentu yang berarti saya sendiri, kau sendiri, aku sendiri, diri sendiri atau lain-lain. Berikut ini adalah terjemahan yang benar: "Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengenali dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari."
 
Para peterjemah juga salah mengartikan kata kunci "natha" yang berarti perlindungan, pertolongan dan bukan "tuan". Penjelasan pada ayat itu mengatakan "nattho ti patitha"; nattha artinya perlindungan (bantuan, tempat berlindung, pertolongan). Pikirkan lawan katanya "anatha". Apakah artinya menjadi "tanpa tuan"'? Tidak, ini artinya tanpa bantuan, tanpa perlindungan, tanpa pertolongan. Terjemahan yang salah menimbulkan pemikiran yang keliru mengenai diri yang besar menguasai diri yang kecil, jiwa makrokosmis menguasai jiwa mikrokosmis.
 
Sebagian orang suka berpikir keliru bahwa Buddhisme dapat diperbandingkan dengan filsafat Marxisme karena keduanya dianggap menyangkal Dewa yang kekal dan roh yang kekal. Salah bila mengatakan bahwa agama Buddha mempengaruhi filsafat Marx, atau ajaran agama Buddha mendekati dasar-dasar ajaran Marxisme. Ajaran Buddha mengenai hukum sebab akibat moral (kamma), kehidupan sebelum kelahiran, kehidupan setelah kematian (punnabhava) dan kebebasan tertinggi dari keterikatan (Nibbana), sama sekali asing bagi Marxisme.
 
Penganut Marxisme percaya bahwa tidak ada yang hidup terpisah dari materi. Bahkan pikiran merupakan hasil dari materi. Mereka percaya bahwa setelah kematian badan jasmani, "kepribadian" yang berhenti hidup.
Bagi penganut agama Buddha pertanyaan mengenai agama dan asal mulanya bukanlah merupakan pertanyaan yang bersifat metafisika, tetapi merupakan pertanyaan yang bersifat psikologis dan intelektual. Baginya agama bukan semata-mata keyakinan atau kitab wahyu ataupun ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diketahui atau ketakutan terhadap makhluk gaib yang memberi pahala terhadap perbuatan baik dan memberi hukuman terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh makhluk ciptaannya. Tidak hanya perhatian mengenai teologi, tetapi lebih kepada soal psikologis dan intelektual yang diakibatkan karena pengalaman merasa dukkha, yaitu penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap keberadaan empiris dalam sifat kehidupan.
 
Ketika kita mempertimbangkan isi ajaran agama Buddha, kita dapat melihat sesungguhnya ajaran agama Buddha berbeda dengan ajaran agama lain terutama mengenai konsep penciptaan. Ada banyak kepercayaan dalam agama Buddha, tetap tidak dapat dimasukkkan di antara agama-agama yang terpusat pada penciptaan dan kekuatan-kekuatan supranatural. Agama Buddha tidak mengenal Dewa pencipta yang kekal dan tidak menganjurkan upacara pemujaan dalam bentuk apa pun dan permohonan kepada para dewa. Tidak ada kepercayaan terhadap kekuatan supernatural di luar manusia yang menguasai nasibnya. Dalam agama Buddha manusia menghubungkan seluruh pencapaian dan prestasinya kepada usaha dan pengertiannya sendiri. Agama Buddha bersifat antroposentris, tidak teosentris. Bagi umat Buddha, agama merupakan pandangan hidup, kurang lebih mengenai pandangan moral, latihan spiritual dan intelektual yang menuntun ke arah pencapaian pengetahuan tertinggi, yang mengakhiri seluruh penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang dan berhasil mencapai kebebasan batin yang sempurna.
 
Dilihat dari pandangan filosofis, Buddha tidak merisaukan masalah yang dikhawatirkan oleh para ahli filsafat Timur maupun Barat dari zaman dahulu hingga sekarang. Dalam pandangan-Nya masalah-masalah metafisika hanya membingungkan manusia dan mengganggu keseimbangan rohaninya. Beliau tahu bahwa pemecahannya tidak akan menghindari seseorang dari penderitaan, dari ketidakpuasan terhadap sifat kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Beliau tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dan pada saatnya menahan diri untuk menjelaskan hal itu yang dirumuskan secara salah.
 
Tantangan dari agama Buddha merupakan sarana yang mendorong para pemikir keagamaan untuk meninjau kembali definisi kuno mereka tentang agama, dan menemukan definisi baru yang dapat selaras dengan agama Buddha. Cara umat Buddha memahami kebenaran tertinggi, bangun dari kebodohan untuk mencapai pengetahuan sempurna, tidak tergantung hanya kepada perkembangan kepandaian teoritis intelektual akademis, tetapi kepada pelaksanaan dari ajaran yang praktis. Gabungan yang menyenangkan dari teori dan praktik inilah yang menuntun penerangan dan pembebasan akhir.

Catatan:
1. A. ii, 117
2. Dhp. 276
3. Vin. i, 10; S. v, 420.
4. AA. I, 241; SnA 357; Thag A. 141.
5. Alagaddupama Sutta, M. 22, 138
6. Maha Parinibbana Sutta D. 16, 100.
7. S. Radhakrishnan, Gautama the Buddha (Hinds Kitabs, Bombay)






--
Sumber : Spektrum Ajaran Buddha, kumpulan tulisan Piyadassi Mahathera
Penerbit : Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna, Jakarta, 2003
Y.A. Piyadassi adalah bhikkhu Srilanka. Beliau telah wafat pada tanggal 18 Agustus 1998 di Colombo, Srilanka.


Dikutip dari: http://www.wayn.com/waynblog.html?wci=viewentry&entry_key=93861

Kamis, 01 April 2010

MARILAH BERMEDITASI Oleh: Sri Pannavaro Mahathera



MARILAH BERMEDITASI

Oleh: Sri Pannavaro Mahathera


Transkrip Dhamma Class di Vihara Dhamma Sundara Solo
27 Agustus 2008
Ditulis oleh: Locky Thitasilo

MARILAH BERMEDITASI - Bagian 1: Sebab Penderitaan

Para ibu, bapak dan saudara-saudara,

Saya akan berbicara dengan topik yang lebih mendalam tidak hanya
dasar. Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak begitu
mendengar
lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa secara nalar.
Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri. Sehingga
saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau uraian ajaran
Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.

Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan
imitasi. Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang....
Tidak usah di pikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena
kalo mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus. Orang pinter
biasanya... Senang apa tidak ya???

Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang....

Ibu, bapak dan saudara
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang bhante...

Dimana letaknya senang itu?
Di sini....? ( sambil menunjukan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )

Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.

Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq (
sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini... bukan di
situ ( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong (
berlubang ), entah kecantol tas ( tersangkut ), entah kecantol pakaian
( tersangkut pakaian ). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh... kepijek
( terinjak ) pecah.

Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek ( hancur ).
Ibu, bapak bagaimana reaksinya?
Senang apa tidak senang?
Tidak senang bhante...

Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek ( hancur ) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini ( sambil menunjuk dada/hati )?
Jawabannya: Di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang membuat
kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita, yang
membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam diri
kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada di luar!

Karena kalo kita susah, sedih di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar....!!!!

Tetapi kalo ibu bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya bhante sedih di
sini ( sambil menunjuk dada/hati ), gembira juga di sini ( sambil
menunjuk dada/hati ). Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya
tidak mendapat gelang tretes ( berlian )/jam, kita kan tidak bisa
ujug-ujug ( tiba-tiba ) senang. Karena gelang tretes saya senang,
karena jamnya rusak saya menderita.
Jalarannya kan yang di luar juga bhante.... tidak hanya di dalam (
sambil menunjuk dada/hati ).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?
Kelihatannya betul.... tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi senang?
Iya bhante... kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi senang.
Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam
itu datang ke pak Joni...
Pak Budi senang tidak?
Tidak senang...

Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana ( sambil menunjukkan ke Pak Joni ), bukan ke sini (
sambil menunjukkan ke Pak Budi ).

Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang....
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (
pergi ke orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?
Tidak...

Kenapa gak senang bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq bukan ke sini.

Kenapa dia susah, sedih?
Gelangnya hilang bhante... tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek ( hancur ) terinjak.

Apa betul???
Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya orang lain
saya tidak menderita...
Jadi ibu bapak dan saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU...

Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia... aku tidak menderita.
Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut menderita
Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal... Oh....
sama sekali tidak menderita!

Mengapa?
Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya anak-KU, bukan
gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang lain, Aku tidak
kenal.... maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU ibu, bapak dan saudara.
Itu yang membuat kita menderita......

Mengapa bisa menderita bhante?
Karena terlalu lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya
AKUnya.... maka dia menderita.
Berharga, mahal, milyaran
Tetapi barang yang sama yang berharga, mahal, milyaran
Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU..... AKU tidak apa-apa.... tenang
.. tentram.

Jadi sang AKU-lah

Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life..., The Truth....,
Kesunyataan Hidup.
Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu meng-iya-kan, tetapi
saudara bisa mencocokkan apa yang saudara pernah alami ibu, bapak
sekalian dalam kehidupan sehari-hari.
Benar... Tidak???

Ibu, bapak dan saudara jangan sepelekan AKU.
Ada orang mengatakan.. Ah... bhante.. AKU kan bukan kejahatan toh..,
paling kalo AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq
Sombong-Sombing banget....!!! Arogan....
Paling kan hanya dikatakan begitu... kan bhante...

Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan...
Kalo suatu ketika yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di
belakang sana...
AKU di suruh duduk di belakang sana???
AKU ini ... jasaku ini tidak dihargai.. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa???

Saya pernah diberitahu seorang bhikkhu, Oh... dia bukan pemimpin bhante...
Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin.
Koq bisa???
Dia ingin duduk di muka.. kelihatan di muka..
Oh beda ya.. pemuka sama pemimpin...
Oh ya... beda bhante... ( joke )

Jangan Meremehkan ke-AKU-an ibu, bapak dan saudara...

Ke-AKU-an punya anak... Anaknya ke-AKU-an adalah:

Kalo dia senang..
AKU ingin senang lagi.. AKU ingin senang terus.. AKU ingin senang yang
lebih banyak..
*KESERAKAHAN..... ( Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan ).
Kalo dia untung..
AKU ingin untung terus.. AKU gak mau rugi.. tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus..
AKU ingin sehat terus..
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.. Loh koq bisa bhante? Siapa yang
ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua kan, AKU ingin tua terus..
( Itu KESERAKAHAN)

dan

Kalo tidak senang..
**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan pemenuhan.


Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan... Oh..
KESERAKAHAN-nya membara-bara.

( Joke )
Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat. Dia ingin mencalonkan
dirinya lagi, dia ingin menjabat lagi.
Pak... apa bapak menjabat itu enak toh?
Ya... bhante enaknya cuma 10%..
Oh.... begitu. Loh yang 90% pak?
Yang 90% enak banget.... bhante... ( Peserta Dhamma Class meledak tertawa ).
Oh makanya kepingin lagi menjabat. Saya pikir enaknya hanya 10%....
yang 90% tidak enak...
Ternyata yang 10% enak.. dan yang 90% enak banget...

Nanti kalo gagal bagaimana?
Kalo gagal dia bisa kecewa... Jengkel... Bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju... Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN...

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak "SENANG
MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM"

Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN " IRI HATI / TIDAK SENANG
MELIHAT ORANG LAIN SUKSES"

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin... ingin.. ingin... lagi.. lagi.. lagi..
( KESERAKAHAN ), terhalang marah maka kebencian muncul.. kekejian
muncul.. kejahatan muncul.
Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak -
pinak.. ( berkembang biak ) melahirkan kejahatan-kejahatan.

Ibu, bapak dan saudara.... ibu bapak bisa memahami ya.. yang saya uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang AKU.
Tidak ada sangkut pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (
AKU-nya ) terkendali... anda tidak perlu menderita.

Bhante saya mendengar penderitaan itu.. terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk..
melakukan karma buruk.. lalu berbuah.. buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.
Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk / akibat
karma yang buruk bhante?
BUKAN.... saudara...

Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah mendengar toh..?
Empat Kesunyataan Mulia:

1. Ada Dukha

2. Apakah Sebabnya Dukha? Apakah sebabnya dukha di sebut akibat karma
buruk berbuah maka membuat kita menderita ( Dukha ). TIDAK....
Sebabnya dukha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang luar
biasa. Darimana datangnya Tanha.. sang AKU. Sang AKU ingin lagi..
ingin lagi.. ingin lagi... Kalo tidak senang ingin menghancurkan..
ingin menyingkirkan terus.. terus.. terus.. sampai
tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi bhante kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?
Terserah saudara.. saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita bhante?
TIDAK... Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini... mau menderita
atau tidak... tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang
muncul.

Dari cerita ini lagi... ibu bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut pautnya!!!
Susah, menderita, sengsara itu karena " KITA SENDIRI SEPENUH-PENUHNYA"
Karena apa bhante?
Karena sang AKU kita biarkan....
Jangan main-main dengan sang AKU.. bukan masalah persoalan sombong-sombing saja.
Berbahaya.. ia menjadi biang penderitaan...

Baik.. paragraph pertama, chapter pertama saya tutup...

KRONOLOGI PERKEMBANGAN BUDDHISME (TIMELINE BUDDHISME)



 KRONOLOGI PERKEMBANGAN BUDDHISME
(TIMELINE BUDDHISME)

Inilah garis besar peristiwa sejarah Buddhisme di dunia berdasarkan kronologi waktu dari kehidupan Sang Buddha sampai abad ke-21. 
Tahun Buddhis
(B.E)
Tahun Umum
(C.E)
Peristiwa Utama
-80
B.E
623 B.C.E
atau
563 B.C.E
Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhattha Gotama, pangeran dari suku Sakya, pada bulan Vesak. Berdasarkan penanggalan tradisional pada tahun 623 B.C.E (Sebelum Masehi). Dan berdasarkan pada penanggalan "sejarah" pada tahun 563.
-51
B.E
594 B.C.E atau
534 B.C.E
Pangeran Siddhattha meningggalkan istana dan kehidupan sebagai perumahtangga untuk menjadi seorang petapa.
-45
B.E
588 B.C.E
atau
528 B.C.E
Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna di bawah pohon Bodhi (Ficus religiosa) di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India) tepat saat bulan purnama Siddhi di Bulan Vesak (Mei) selama bermeditasi di bawah pohon Boddhi. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun.

1
B.E
543 B.C.E
atau
483 B.C.E
Buddha Gotama Parinibbana (kemangkatan mutlak) di Kusinara (Sekarang Kushinagar, India) pada usia 80 tahun. Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuhan Agung pertama di dekat Rajagaha, India, di Gua Sattapanni yang dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat, yang dipimpin oleh Y.A. Mahakassapa Thera. Pada Persamuhan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Y.A. Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Y.A. Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Ajatasattu.

100
B.E
444 B.C.E
atau
384 B.C.E
Persamuhan Agung Kedua di Vesali, 100 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana. Persamuhan Agung ini diselenggarakan karena para bhikkhu Vajji dari Vesali telah melangggar pacittiya. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Kalasoka dan dipimpin oleh YA. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 bhikkhu. Keretakan sangha yang pertama timbul antara aliran Mahasanghika dan Sthaviravada yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi Agama Buddha di utara Asia (China, Tibet, Jepang dan Korea).

119
B.E
425 B.C.E
atau
365 B.C.E
Persamuhan Buddhis di Pataliputta (tidak membahas mengenai kitab suci).
231
B.E
313 B.C.E
atau
253 B.C.E
Persamuhan Agung Ketiga diselenggarakan di Pataliputta (India), dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuan ini, sehingga lengkaplah pengertian Tipitaka (Vinaya,Sutta, dan Abhidhamma). Y.A. Tissa Moggaliputta menyelesaikan kitab Kathavatthu. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan. Dalam Pesamuhan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Persamuhan ini di bawah naungan Kaisar Asoka. Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan aliran Sarvastivada dan Vibhajjavada.

234
B.E
310 B.C.E
atau
250 B.C.E
Kaisar Asoka mengeluarkan beberapa ragam dekrit (edict) mengenai kerajaannya yang mendukung Agama Buddha. Kaisar Asoka mengirim putranya, Y.M. Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan Buddha Dhamma di Sri Lanka, Kanara, Karnataka, Kashmir, wilayah Himalaya, Myanmar, Afghanistan dan bahkan Mesir, Macedonia dan Cyrene. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk Agama Buddha.

 241
B.E
303 B.C.E
atau
243 B.C.E
Y.M. Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas aliran Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravada . Kemudian saudara perempuan Y.M. Mahinda Thera, Bhikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Bodhi dan mendirikan Sangha Bhikkhuni di Sri Lanka.

 284
B.E
260 B.C.E atau
200 B.C.E
Kemunculan benih awal aliran Mahayana.
Penyusunan literatur Prajnaparamita.
Pembangunan Stupa Sanchi di Amaravati, Bodh Gaya, India.
 
299
B.E
245 B.C.E atau
185 B.C.E
Runtuhnya dinasti Maurya dan digantikan oleh dinasti Sunga. Pada masa ini Agama Buddha mengalami tekanan oleh pemerintahan Pusyamitra Sunga.
304
B.E
240 B.C.E
atau
180 B.C.E
Demetrius, raja Greco-Bactrian, menginvasi India sampai ke Pataliputta dan mendirikan kerajaan Indo-Greek/India-Yunani (180-10 B.C.E), dimana di bawah kerajaan tersebut Agama Buddha kembali berkembang.
334
B.E
210 B.C.E atau
150 B.C.E
Menander I (Milinda), raja Indo-Greek/India-Yunani memeluk Agama Buddha setelah berdiskusi dengan Y.A. Nagasena. Kumpulan diskusi yang berisikan mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Raja Menander I (Milinda) kepada Y.A. Nagasena, mengenai Buddha Dhamma ini, kemudian dikenal dengan sebutan Milinda Panha atau Pertanyaan Milinda.
409
B.E
135 B.C.E
atau
75 B.C.E
Theodorus, gubernur Indo-Greek/India-Yunani, menyimpan relik Sang Buddha, mendedikasikannya untuk menghormati "Yang Termulia Shakyamuni".
450
B.E
94 B.C.E
atau
34 B.C.E
Peristiwa kelaparan dan perang yang terjadi di Sri Lanka menimbulkan kekhawatiran akan kemerosotan moral yang mengancam kelestarian Buddha Dhamma. Dengan alasan ini Persamuhan Agung Keempat diselenggarakan dan kitab suci Tipitaka ditulis untuk pertama kalinya pada daun lontar/palem. Persamuhan ini di bawah naungan Raja Vattagamani Abhaya dari Sri Lanka, diselenggarakan di Vihara Aloka, Desa Matale atau Malaya, Sri Lanka, dan dihadiri oleh 500 bhikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara.

543
B.E
2 B.C.E
Catatan Sejarah Dinasti Han Timur (Hou Hanshu), mencatat kunjungan utusan Yuezhi ke ibu kota China, dan memberikan pengajaran Sutra Buddhis secara oral (diucapkan).

545
B.E
1 C.E
Dimulainya tahun umum (C.E) atau disebut dengan tahun Masehi
609
B.E
65 C.E
Pendanaan Agama Buddha oleh Liu Ying, putra Kiasar Guangwu dari dinasti Han, yang merupakan dokumentasi pertama atas praktik Agama Buddha dalam suatu komunitas.

611
B.E
67 C.E
Agama Buddha tiba di China dari India bersama dengan dua orang bhikshu dari India yaitu Kasyapa-Matanga dan Dharmaraksha. Mereka menerjemahkan berbagai teks Buddhis diantaranya yaitu Sutra 42 Bab.

612
B.E
68 C.E
Agama Buddha secara resmi bediri di China dengan didirikannya Kuil Kuda Putih (Baima), pada kekuasaan Kekaisaran Ming dari Dinasti Han Timur.

622
B.E
78 C.E
Jenderal China, Ban Chao, menduduki kerajaan Buddhis, Khotan (sekarang Hotan / Hetian).
633
B.E
89 C.E
Menurut aliran Mahayana, Raja Kaniska (78-101), mengadakan Persamuhan Agung Keempat di Jalandhar, India. (Persamuhan ini tidak diakui oleh aliran Theravada).
644
B.E
 100 C.E
Para bhikkhu dari Sri Lanka menyebarkan Agama Buddha aliran Theravada di Kamboja dan Thailand Tengah untuk pertama kalinya.
692
B.E
148 C.E
An Shih-Kao seorang pangeran dari Parthian (Ashkanian) dan para bhikkhu dari India tiba di China dan untuk pertama kalinya menerjemahkan teks Buddhis India ke dalam bahasa China dengan menggunakan terminologi Taoisme sehingga beberapa masyarakat China menganggap Agama Buddha sebagai bentuk lain dari Taoisme.

694
B.E
150 C.E
- Penyusunan Saddharma Pundarika Sutra (Sutra Teratai) dan teks-teks Mahayana lainnya.
- Kemunculan Mahayana sebagai aliran yang terpisah.
- Kedatangan Agama Buddha untuk pertama kalinya ke Vietnam dari Asia Tengah dan India.

712
B.E
168 C.E
Seorang bhikshu bernama Lokaksema dari Kushan, berkunjung ke ibu kota China, Loyang, untuk menerjemahkan teks-teks Mahayana untuk pertama kalinya ke dalam bahasa China.

744
B.E
200 C.E
- Jaman Filsuf Buddhis India.
- Nagarjuna, penemu aliran Madhyamika (Jalan Tengah) yang menekankan pada ajaran sunyata (kekosongan).
- Biara pertama di China didirikan.
- Dhamaraksa menerjemahkan banyak sutra ke dalam bahasa China diantaranya Sutra Teratai.
- Agama Buddha mulai masuk ke Tibet dan mempengaruhi kepercayaan setempat (Bon) di kerajaan Shang-Shung (Tibet Selatan).
- Pengaruh Buddhis di Persia menyebar melalui perdagangan.

840
B.E
296 C.E
- Penyusunan Zhu Fo Yao Ji Jing (kitab Buddhis China tertua yang baru ditemukan pada tahun 2005 C.E), telah rampung pada masa Dinasti Jin Barat (265-317).
- Aliran Yogacara (meditasi) ditemukan oleh Maitreyanatha.
- Kitab-kitab Buddhis mulai tiba di kerajaan-kerajaan Tibet (Tibet Utara) semasa pemerintahan Raja Lhatotori Nyentsen.

861
B.E
317 C.E
Fo-T'u-Teng mendirikan sangha bhikshuni di China.
864
B.E
320 C.E
- Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India, merupakan pusat pelajaran Agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun dan memiliki 2 ribu orang guru dan 10 ribu siswa di dalamnya.
- Penyebaran Agama Buddha ke Myanmar dan Laos.

874
B.E
330 C.E
- Kehidupan Asanga dan Vasubhandu. Bersama dengan Maitreyanatha mereka sebagai penemu dan Guru Besar dari aliran Yogacara. Mereka terkenal akan ajarannya mengenai Cittamatrin (Pikiran Semata).
- Pemikiran akan penghormatan terhadap Amitabha dan kelahiran di tanah suci, mulai muncul dan merupakan cikal bakal perkembangan aliran Tanah Suci.
- Perkembangan aliran Vajrayana.

916
B.E
372 C.E
Agama Buddha masuk ke Korea dari China. Dua bhikshu dari China membawa beberapa kitab ke kerajaan Goguryeo di Korea dan mendirikan pembuatan kertas di Korea.

922
B.E
378 C.E
Penerjemahan teks-teks Buddhis ke dalam bahasa China oleh Kumarajiva (344-413) dan Hui-yüan (334-416).
Agama Buddha memasuki Korea.

 943
B.E
399 C.E
Fa-hsien (Fa Xian), seorang bhikshu dari China mengunjungi India (399-414) dan kembali dengan membawa teks-teks Buddhis dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa China.

946
B.E
402 C.E
Aliran Amitabha Tanah Suci (Ching t'u) mulai muncul di China. T'an-Luan (476-542) sebagai sesepuh pertama.
969
B.E
425 C.E
- Y.M. Bhikkhu Buddhaghosa Thera dari Sri Lanka membuat komentar terhadap kitab Tipitaka Pali yang kemudian disebut sebagai Maha Atthakatha. Beliau juga menyusun Visuddhimagga (Jalan Kemurnian) yang menjadi buku teks klasik ajaran Sang Buddha di Sri Lanka.
- Agama Buddha aliran Mahayana sampai di Myanmar, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan diperkenalkan oleh imigran asal India.

977
B.E
433 C.E
- Para Bhikkhuni Theravada dari Sri Lanka memperkenalkan garis silsilah penahbisan penuh ke China.
- Agama Buddha mengalami penyiksaan dan kekerasan oleh pemerintahan Kaisar Wu (Shih-tusu) di China (424-451).

998
B.E
454 C.E
- Dhammapala dari Sri Lanka, menyusun komentar terhadap kitab Tipitaka Pali yang terlewatkan oleh Buddhaghosa (seperti kitab Udana, Itivuttaka, Theragatha, dan Therigatha), bersama dengan sub-komentar yang luas pada karya Buddhaghosa.
- Pemulihan Agama Buddha di China pada masa kaisar yang baru, Wen-ch'eng-ti.

1008
B.E
464 C.E
Buddhabhadra seorang Guru Dhyana (meditasi) India sampai di China untuk mengajarkan Agama Buddha. Beliau menjadi ketua dan Sesepuh Pertama Vihara Shaolin.

1014
B.E
470 C.E
Aliran T'ien Tai ditemukan oleh Hui-Wen di China Selatan.
1039
B.E
495 C.E
Vihara Shaolin didirikan di China atas nama Buddhabhadra atas dekrit Kaisar Wei Xiao Wen.
1064
B.E
520 C.E
- Bodhidharma tiba di China dari India dan menetap di Vihara Shaolin di provinsi Henan, China. Beliau menjadi Sesepuh Pertama dari aliran Ch'an (Zen).
- Berdirinya aliran Ch'an (Zen).

1096
B.E
552 C.E
- Agama Buddha diperkenalkan di Jepang melalui Korea (mungkin juga melalui China) dan menjadi agama negara (594).
- Berdirinya aliran T'ien-tai oleh Chih-i (538-597) di China, dikenal juga dengan nama Fa-hua atau aliran Teratai; merupakan bentuk sinkretisme (perpaduan) dari semua aliran Mahayana.

1121
B.E
577 C.E
- Berdirinya aliran Hua-yen oleh Fa Shun (557-640) di China.
- Kisah Jataka diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Raja Khosrau I (531-579).
- Pengikut aliran Zen masuk ke Vietnam dari China.
- Pangeran Shotoku mendanai Agama Buddha di Jepang.

1133
B.E
589 C.E
- Penulisan teks-teks komentar Buddhis China.
- Agama Buddha berkembang di Indonesia.
- Percampuran antara agama Hindu Shivaism dan Mahayana di Kamboja, berlangsung sampai abad ke-11. Aliran non-Mahayana juga ada namun tidak menonjol.
- Berdirinya Dinasti Sui di China, awal dari jaman keemasan Agama Buddha di China.

1151
B.e
607 C.E
- Utusan kerajaan Jepang diutus ke kerajaan Sui di China untuk mendapatkan salinan sutra-sutra.
- Agama Buddha mulai menyebar di Tibet.
- Pembangunan kuil Horyu-ji dan selesai pada tahun 615 C.E.

1162
B.E
618 C.E
- Berdirinya Dinasti Tang di China (618-907) dan merupakan jaman keemasan bagi Agama Buddha di China.
- Harsa-vardhana memimpin kerajaan besar di India Utara. Ia adalah salah satu raja Buddhist teladan yang mendirikan institusi-institusi untuk para peziarah, orang miskin, dan orang sakit.

1185
B.E
641 C.E
- Raja Songtsen Gampo mempersatukan Tibet dan menikahi putri dari China, Wen Cheng dan putri dari Nepal Bhrkuti yang membawa rupang Buddha.
- Pembangunan Istana Potala, Jokang dan vihara Ramoche di Tibet untuk menaruh rupang Buddha (641-650).

1187
B.E
643 C.E
Hsuan Tsang (602-664) mengunjungi India dan setelah pulang menerjemahkan berbagai kitab Buddhis.
1202
B.E
658 C.E
- Aliran Ch'an Selatan atau Ch'an baru, mulai meluas dengan Hui-neng (638-713) sebagai Sesepuh Ke-6.
- Pengembangan aliran Hua-yen oleh Fa-tsang (643-712)

1215
B.E
671 C.E
- Bhiksu Peziarah dari China pada Dinasti Tang, Yi Jing (I-Tsing), mengunjungi Palembang, ibu kota dari kerajaan Srivijaya di pulau Sumatera, Indonesia, dan melaporkan terdapat lebih dari 1000 orang bhikkhu di sana. Dan pada masa itu, mayoritas Agama Buddha tradisi Theravada telah berkembang pesat di seluruh Nusantara, kecuali di daerah Melayu yang sedikit mengadopsi tradisi Mahayana.
- Seorang bhikshu sarjana asal Korea, Uisang (625 - 702), kembali ke Korea setelah mempelajari aliran Hua-yen dan mendirikan aliran Hwaom (Hua-yen dalam bahasa Korea).

1257
B.E
713 C.E
Aliran esotorik dari Dinasti Tang diperkenalkan di China oleh Subhakarasimha, Vajrabodhi and Amoghavajra.
1263
B.E
719 C.E
Agama Buddha berkembang di Thailand.
1274
B.E
730 C.E
Diperkenalkannya aliran Hua-yen dari China ke Jepang, yang dikenal dalam bahasa Jepang sebagai Kegon.
1296
B.E
752 C.E
Patung besar Buddha Vairocana di kuil Todai-ji di Nara (Jepang), selesai dibangun.
1304
B.E
760 C.E
- Candi Borobudur didirikan pada masa Dinasti Sailendra di Jawa Tengah.
- Aliran akademis (Jöjitsu, Kusha, Sanron, Hossö, Ritsu, and Kegon) tumbuh di Jepang.
- Aliran Ch'an sampai ke Tibet.

1317
B.E
773 C.E
Raja Trisong Detsen mengundang Shantarakshita ke Tibet.
1318
B.E
774 C.E
- Raja Trisong Detsen mengundang Padmasambhava untuk mendirikan Agama Buddha aliran Tantra di Tibet.
-Agama Buddha menyebar cepat ke Sikkim dan Bhutan.
- Kisah Jataka diterjemahkan ke dalam bahasa Syriac dan Arab seperti Karataka and Damanaka. Kisah mengenai kehidupan Sang Buddha di terjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh John dari Damascus.

1331
B.E
787 C.E
Pembangunan Samye, vihara pertama di Tibet, oleh Trisong Detsen dan Padmasambhava. Kemunculan aliran Nyingma cabang dari Agama Buddha Tibet.

1336
B.E
792 C.E
Perdebatan besar antara aliran Tibet dengan aliran Mahayana di vihara Samye, dan memutuskan bahwa aliran Tibet sebagai bentuk dari aliran Mahayana.

1338
B.E
794 C.E
Satu juta miniatur stupa (pagoda) dibangun di Jepang. Ibu kota Jepang dipindahkan dari Nara ke Kyoto.
1348
B.E
804 C.E
Di bawah pemerintahan Kaisar Kammu dari Jepang, Bhikshu Kukai (774-835) berkunjung ke daratan China. Ia menyerap ajaran dari aliran Vajrayana di Chang'an dan kembali ke Jepang untuk mendirikan aliran Shingon (806). Berada dalam rombongan yang sama, Bhikshu Saicho (767-822) menyerap ajaran dari aliran T'ien-tai dan kembali ke Jepang untuk mendirikan aliran Tendai (805).

1354
B.E
810 C.E
Raja Devapala dari India menyumbang "pemasukan dari 5 desa" untuk pendanaan dan pemeliharaan perpustakaan Buddhis dan fasilitas penyalinan Sutra di Universitas Nalanda.

1366
B.E
822 C.E
Penegakkan Peraturan (vinaya) Mahayana di Jepang. 
1380
B.E
836 C.E
- Raja Lang Dharma menganiaya Buddhis Tibet. Periode konflik dan perang sipil di Tibet dimulai.
- Seorang pendeta aliran Tendai dari Jepang bernama Ennin melakukan perjalanan ke China (838-847) dan mencatat penekanan terhadap Agama Buddha di China

1389
B.E
845 C.E
- Penekanan dan penganiayaan terhadap Buddhis di China oleh Kaisar Wu-tsung (841-7) seorang Taois, yang juga memerintahkan untuk memusnahkan seluruh komponen yang berunsur Buddhis, menandakan kemunduran Agama Buddha di China.
- Penemuan alat pencetak oleh Buddhis di China. Buku tertua yang dicetak dan masih ada adalah buku Tun-hung pada tahun 868, yang berisi kutipan dari Sutra Intan.

1421
B.E
877 C.E
Kehancuran dinasti Tibet. Agama Buddha hampir lenyap seluruhnya dari Tibet.
1444
B.E
900 C.E
- Pembangunan Kuil Buddhis di Bagan, Myanmar, dimulai
- Agama Islam menggantikan Agama Buddha di Asia Tengah.

1516
B.E
972 C.E
Kaisar Pertama dari Dinasti Sung memerintahkan untuk menyelesaikan mencetak Tripitaka. Selesai pada tahun 983, dikenal dengan nama Shu-pen (Edisi Szechuan).

1522
B.E
978 C.E
Awal dari periode kedua Buddhis di Tibet.
1553
B.E
1009 C.E
Dinasti Ly di Vietnam. Para Raja Ly melindungi Agama Buddha Mahayana.
1569
B.E
1025 C.E
Kerajaan Buddhis, Srivijaya, di Sumatera, diserang oleh Kerajaan Chola dari India Selatan. Srivijaya masih bisa bertahan tetapi mengalami kemunduran. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Palembang ke Jambi.

1582
B.E
1038 C.E
Atisha (982-1054), datang ke Tibet dan mendirikan aliran Kadampa (yang kemudian menjadi aliran Gelugpa).
1583
B.E
1039 C.E
Marpa (1012-1097) seorang penerjemah, mulai mendirikan aliran Kargyu bagian dari Agama Buddha di Tibet, melakukan perjalanan ke India, dan belajar di bawah bimbingan Naropa.

1588
B.E
1044 C.E
Di Myanmar, raja Pagan pertama, Raja Anoratha mulai memerintah. Ia mengalihyakinkan negaranya menjadi Agama Buddha Theravada dengan bantuan para bhikkhu dan buku-buku dari Sri Lanka.

1594
B.E
1050 C.E
Komunitas Bhikkhu dan Bhikkhuni di Anuradhapura, Sri Lanka, hancur karena invasi dari India bagian selatan. 
1604
B.E
1060 C.E
- Penemuan silsilah aliran Sakya oleh Brogmi (992-1072).
- Gonchok Guelpo (1034-1102) mendirikan biara pertama bagi sangha aliran Sakya.
- Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma (Myanmar).

1614
B.E
1070 C.E
Para Bhikkhu dari Pagan (Myanmar) tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis penahbisan bhikkhu aliran Theravada di Sri Lanka.

1628
B.E
1084 C.E Di Myanmar, pada pemerintahan Raja Pagan ke-2, Kyanzittha (putra dari Anawrahta) menyelesaikan Stupa Shwezigon, tempat untuk menyimpan relik Sang Buddha, termasuk relik gigi Sang Buddha yang dibawa dari Sri Lanka.
1644
B.E
1100 C.E Pemerintahan Huizong pada masa Dinasti Song di China melarang Agama Buddha dan mempromosikan Taoisme.
1668
B.E
1124 C.E Di Jepang, Ryonin (1072-1132) menemukan aliran Yuzu-gatari atau aliran Nembutsu (Nianfo) yang memfokuskan pada ritual pengulangan nama Buddha Amitabha.
1708
B.E
1164 C.E Polonnaruwa, di Sri Lanka Utara dihancurkan oleh penyerangan bangsa asing. Dengan bimbingan dua bhikkhu dari cabang tradisi Mahavihara yaitu tradisi Y.A. Mahakassapa dan Y.A. Sariputta, Raja Parakramabahu menyatukan kembali seluruh bhikkhu di Sri Lanka dalam tradisi Mahavihara.
1719
B.E
1175 C.E Honen Shonin (1133-1212) mendirikan aliran Jodo atau "Tanah Suci" (Pure Land) di Jepang.
1725
B.E
1181 C.E Raja Jayavarman VII dari Kamboja yang merupakan penganut Mahayana mendirikan kuil Bayon salah satu bagian akhir dari pembangunan Angkor Wat yang dimulai pada pemerintahan Raja Suryavarman II. Kemudian hari situs ini menjadi salah satu tempat bagi penganut Theravada.
1734
B.E
1190 C.E Di Myanmar, garis keturunan Raja Anawrahta mengendalikan pemerintahan dengan bantuan dari Sri Lanka. Pemerintah baru memperbaharui Buddhisme Myanmar mengacu pada model di Sri Lanka.
1735
B.E
1191 C.E - Eisai (1141-1215) mendirikan aliran Rinzai dari Zen Buddhisme di Jepang.
- Agama Buddha berkembang di Korea di bawah dinasti Koryo.
1737
B.E
1193 C.E Kaum Muslim menyerang India dan menaklukkan negara Magadha, pusat Agama Buddha. Mereka menghancurkan vihara-vihara dan universitas Buddhis seperti Nalanda dan Valabhi. Pusat Pendidikan Buddhis Terbesar di Nalanda dimana berbagai hal diajarkan seperti Buddhisme, Logika, Filsafat, Hukum, Pengobatan, Tata Bahasa, Matematika, Kimia, dan Astrologi, mengalami kemunduran dan pembubaran akibat penyerangan Muslim Turki. Peristiwa ini merupakan tonggak sejarah bagi kemunduran Agama Buddha di India.
1744
B.E
1200 C.E - Di Kamboja, Agama Buddha Theravada menggantikan Mahayana yang sebelumnya dianut secara berdampingan dengan agama Hindu oleh masyarakat Kamboja. Perubahan ini mendapat pengaruh dari Sri Lanka dan Thailand.
1768
B.E
1224 C.E Shinran (1173-1262) mendirikan aliran Jodo-Shin di Jepang. Ia membawa doktrin keselamatan dengan hanya kepercayaan kepada Buddha Amitabha dan dengan hanya penguncaran secara ekstrem nama Buddha Amitabha. Ia mendukung pernikahan para biarawan dan ia sendiri menikah. Populasi penganut aliran ini hanya ada di Jepang dan beberapa Korea. "Pembaharuan" Shinran (penyelamatan dengan kepercayaan semata, pernikahan para biarawan, makan daging, dan sebagainya) tidak dapat diterima oleh tradisi-tradisi Buddhis di Asia Timur.
1771
B.E
1227 C.E Dogen Zenji (1200-1253) membawa tradisi Zen Caodong dari China ke Jepang dan mendirikan aliran Soto Zen.
1780
B.E
1236 C.E Para Bhikkhu dari Kañcipuram, India, tiba di Sri Lanka untuk menghidupkan kembali garis upasampada (penahbisan) Theravada.
 1782
B.E
1238 C.E Kerajaan Thailand dari Sukhothai berdiri, dengan Agama Buddha Theravada sebagai agama negara.
1791
B.E
1247 C.E Di Tibet, Pandita Sakya mengakui Godan Khan; merupakan awal dari hubungan antara Lama Tibet dengan Khan (Penguasa) dari Mongol.
1796
B.E
1252 C.E Rupang (patung) raksasa Buddha Amitabha dibangun di Kamakura, Jepang.
1797
B.E
1253 C.E Nichiren Daishonin (1222-1282) mendirikan aliran Nichiren di Jepang yang sampai sekarang beberapa cabang dari aliran ini seperti Nichiren Shoshu masih merupakan aliran yang kontroversi dimana menganggap Nichiren sebagai Buddha yang asli dan sesungguhnya.
1799
B.E
1255 C.E Dinasti Yuan di China dalam kekuasaan Mongol dan pengaruh Lamaisme dari Tibet. Pada masa ini terjadi kontroversi antara Buddhis dan Taois sebelum pemerintahan Magun Khan tahun 1255. Perdebatan sengit yang telah berlangsung selama 1000 tahun, diselesaikan karena keinginan Buddhis dengan dekrit Kublai Khan pada tahun 1281.
1805
B.E
1261 C.E - Tibet dipersatukan kembali oleh para Pandita Sakya, dan menjadikan Lama Agung Sakya menjadi raja.
- Rashid al-Din seorang sejarahwan asal Persia, mencatat ada sebelas literatur Buddhis yang diterjemahkan dalam bahasa Arab seperti Sukhavati-vyuha Sutra dan Karanda-vyuha Sutra, serta beberapa bagian dari Samyutta Nikaya dan Anguttara Nikaya, dan bersama dengan Maitreya-vyakarana.
1819
B.E
1275 C.E Ippen (1239-1289) menemukan aliran Ji di Jepang.
1823
B.E
1279 C.E Bukti tertulis terakhir mengenai vihara bhikkhuni Theravada di Myanmar.
1831
B.E
1287 C.E Kerajaan Buddhis Theravada di Pagan, Myanmar, jatuh oleh Mongol, dan mulai mengalami masa kemunduran.
1839
B.E
1295 C.E Pemimpin Mongol, Ghazan Khan memeluk agama Islam, dan merupakan akhir dari garis pemimpin penganut Buddhis Tantra.
1865
B.E
1321 C.E - Buddhis di Persia berusaha mengalihyakinkan Uldjaitu Khan.
- Kuil Zen Sojiji Soto dan biara didirikan oleh Keizan Zenji.
1865
B.E
1350 C.E Di Tibet, Raja Changchub Gyaltsen menaklukkan Sakya dan mendirikan dinasti sekular.
1895
B.E
1351 C.E - Garis penahbisan Buddhisme tradisi Hutan dari Sri Lanka tiba di Myanmar dan Thailand.
- Theravada menyebar ke Laos.
- Biara Theravada Thailand pertama berdiri di Kamboja tidak lama setelah rakyat Thailand memenangkan kemerdekaannya dari Khmer.
1904
B.E
1360 C.E Para penguasa dari Utara (Chieng-mai) dan Timur Laut (Sukhothai) Thailand mengadopsi Agama Buddha Theravada dan menjadikannya agama negara.
1909
B.E
1365 C.E Di Indonesia, Kerajaan Srivijaya ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dan pada masa ini pula Agama Buddha mengalami masa keemasan yang kedua setelah masa Kerajaan Srivijaya.
1935
B.E
1391 C.E Lahirnya Gyalwa Gendun Drubpa, Dalai Lama Pertama. Awal dari garis silsilah Dalai Lama dalam Buddhisme Tibet.
1941
B.E
1397 C.E Kuil Kinkaku-ji atau Paviliun Emas dibangun di Kyoto, Jepang.
1953
B.E
1409 C.E Ganden, Biara aliran Tibet tradisi Gelug ("Topi Kuning") pertama dibangun oleh reformer kebiaraan, Tsong-khapa (1357-1419) yang sekaligus menandakan berdirinya aliran Gelug oleh Tsong-khapa.
2022
B.E
1478 C.E Di Indonesia, Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit wafat, dimulailah masa keruntuhan Kerajaan Majapahit dengan adanya serangan dari Kerajaan Kediri. Dengan dimulainya keruntuhan Kerajaan Majapahit maka dimulai pula masa kemunduran Agama Buddha di Nusantara.
2043
B.E
1499 C.E - Taman Batu di Kuil Ryoan-Ji di Tokyo dibangun.
- Meninggalnya Rennyo (1415-1499), seorang pembaharu aliran Jodo-Shin.
2071
B.E
1527 C.E Di Indonesia, Kerajaan Kediri yang merupakan sisa-sisa Kerajan Majapahit, ditaklukkan oleh Kerajaan Demak Muslim. Riwayat Kerajaan Majapahit benar-benar tamat.
2122
B.E
1578 C.E - Salah satu penguasan Mongol, Altan Khan, memberikan titel Dalai ("Lautan") kepada pemimpin aliran Tibet tradisi Gelug yaitu Sonam Gyatso yang kemudian dikenal sebagai Dalai Lama Ketiga.
- Pergerakan pengharmonian antar aliran Agama Buddha (khususnya aliran Cha'n dan Tanah Suci) di China pada masa Dinasti Ming. Master Chu-hung, (lahir 1535) meresmikan pergerakan umat Buddha di China.
2146
B.E
1602 C.E Aliran Jodo-Shin di Jepang terbagi menjadi dua, yaitu tradisi Higashi (Timur) dan tradisi Nishi (Barat) Hongan-ji.
2157
B.E
1613 C.E Sistem Danka atau Sistem Kuil Keluarga diterapkan di Jepang.
2158
B.E
1614 C.E Toyotomi Hideyoshi dari Jepang membangun rupang (patung) Buddha besar di Kuil Hokoji di Kyoto.
2159
B.E
1615 C.E Suku Oirat dari Mongol memeluk Agama Buddha Tibet aliran Gelug.
2186
B.E
1642 C.E Gushri Khan menobatkan Dalai Lama Kelima, Ngawang Lobsang Gyatso sebagai penguasa sementara di Tibet.
2197
B.E
1653 C.E Dalai Lama Kelima bertemu dengan Kaisar Qing, Shunzhi, dari China di dekat Beijing.
2198
B.E
1654 C.E Ingen atau Yin-yuan (1592-1673) memperkenalkan aliran Obaku dari Zen Buddhisme di Jepang.
2225
B.E
1681 C.E - Literatur-literatur Buddhis versi China diterbitkan oleh Tetsugen.
- Agama Buddha di Jepang dalam pengawasan Tokugawa Shögunate (penguasa pemerintah feudal).
2226
B.E
1682 C.E Dalai Lama Kelima wafat; wali pemerintahan menyembunyikan kewafatannya selama 14 tahun.
2241
B.E
1697 C.E Penobatan Dalai Lama Keenam, Tsangyang Gyatso (1683-1706) pada usianya yang ke-14 tahun.
2244
B.E
1700 C.E Hakuin (1686-1769) seorang bhiksu, penulis, dan seniman membantu menghidupkan kembali aliran Zen Rinzai dalam Agama Buddha di Jepang.
2261
B.E
1717 C.E Suku Dzungar dari Mongol menyerang Tibet dan merampok Lhasa. Kuburan Dalai Lama Kelima dijarah.
2264
B.E
1720 C.E Suku Dzungar berhasil dipukul mundur, Pasukan Pemerintah Qing (China) mengangkat Kelsang Gyatso sebagai Dalai Lama Ketujuh.
2265
B.E
1721 C.E Kedudukan Amban (Perwakilan Pemerintah China) dibuat oleh 13 pokok ketetapan Pemerintah Qing (China). 29 pokok ketetapan Pemerintah Qing menentukan penggunaan undian "jambangan emas" ("golden urn") untuk memilih Dalai Lama dan Panchen Lama.
2299
B.E
1755 C.E - Raja Kirti Sri Rajasinghe menerima para bhikkhu dari Kerajaan Thailand untuk mengembalikan lagi garis penahbisan bhikkhu yang lenyap di Sri Lanka. Berdirinya tradisi Siam Nikaya di Kandy, Sri Lanka, oleh Bhikkhu Upali dari Thailand yang berusaha membenahi Sangha di Kandy.
- Tentara kolonial menduduki Sri Lanka, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam.
2310
B.E
1766 C.E Di Thailand, banyak literatur Buddhis hancur ketika Myanmar menyerang Ayutthaya.
2321
B.E
1777 C.E Raja Rama, pendiri dinasti yang ada sekarang di Thailand, memperoleh salinan Tipitaka dari Sri Lanka dan menyokong suatu Dewan untuk menstandardisasi Tipitaka versi bahasa Thailand, dan salinannya kemudian disumbangkan ke vihara-vihara di seluruh negeri.
2346 1802 C.E Nguyen Anh memerintah setelah Vietnam bersatu. Setelah berkuasa ia membuat pemerintahan Confucianis ortodoks dan membatasi penyebaran Agama Buddha. Ia melarang pria dewasa untuk menghadiri perayaan Buddhis.
2347
B.E
1803 C.E Umat Sri Lanka yang ditahbiskan oleh para bhikkhu dari kota Amarapura, Myanmar, mendirikan tradisi Amarapura Nikaya untuk memperbaiki tradisi Siam Nikaya yang terakhir mengalami penyimpangan.
2358
B.E
1814 C.E Di Jawa Tengah, Indonesia, setelah lama tertimbun, Candi Borobudur diketemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles.
2364 1820 C.E Rezim Minh Mang di Vietnam membatasi Agama Buddha lebih lanjut. Ia bersikeras bahwa semua bhikkhu harus tinggal di biara dan memiliki dokumen identitas.
2372
B.E
1828 C.E Pangeran Thailand, Mongkut (yang kemudian menjadi Raja Rama IV) yang sebelumnya pernah menjadi bhikkhu, mendirikan tradisi Dhammayut yang berarti Sesuai Dhamma. Mongkut yang melihat ketidaksesuaian antara praktik yang diterapkan oleh para bhikkhu Thai dengan apa yang ada dalam Tipitaka Pali. Ia berusaha mereformasi dengan meniadakan segala hal yang bukan Buddhis, dongeng kepercayaan rakyat, dan takhayul.
2384
B.E
1840 C.E Lahirnya Master Hsu Yun (1840-1959), Guru Besar Ch'an di China di era modern.
2396
B.E
1852 C.E - Terjemahan Sutra Teratai dalam bahasa Jerman.
- Perintis Sarjana Buddhis Neumann dan Odlenburg.
- Bhikkhu Jerman pertama, Nyanatiloka Mahathera.
2397
B.E
1853 C.E Kuil China pertama di Amerika Serikat (San Francisco)
2406
B.E
1862 C.E - Para bhikkhu dari tradisi Hutan, dipimpin oleh Y.M. Paññananda mengunjungi Myanmar untuk penahbisan ulang, dan sekembalinya ke Sri Lanka kemudian mendirikan tradisi Ramañña Nikaya.
- Terjemahan pertama Dhammapada ke dalam bahasa barat (Jerman).
2412
B.E
1868 C.E Di Jepang, Agama Buddha ditekan oleh kaum Shinto pada masa Restorasi Meiji.
2415
B.E
1871 C.E Persamuhan Agung Kelima diselenggarakan di Myanmar, di bawah perlindungan Raja Mindon Min. Kitab Tipitaka Pali ditulis pada 729 batu marmer. Masing-masing batu marmer memiliki ukuran panjang 5,5 kaki ( +/-165 cm), lebar 3,5 kaki (+/- 105 cm), dan ketebalan 5 inchi (+/- 10 cm).
2416
B.E
1872 C.E Di Jepang, perselibatan dan vegetarianisme diperbolehkan dengan ijin pemerintah, dan kaum wanita diperbolehkan kembali memasuki vihara.
2417
B.E
1873 C.E - Kebangkitan Agama Buddha terjadi di Sri Lanka ketika Y.M. Sri Sumangala dan Y.M. Dharmanada mendirikan dua perguruan tinggi kebiaraan yaitu Vidyodaya dan Vidyolanka Pirivenas (perguruan tinggi kebiaraan) secara berturut-turut pada tahun 1873 dan 1875.
- Seorang bhikkhu muda, Y.M. Mohottivatte Gunananda mengalahkan misionaris Kristen dalam debat publik, sehingga menyalakan secara luas kebanggaan nasional masyarakat Sri Lanka terhadap tradisi Buddhis.
- Di Jepang, semua agama berada dalam kendali pemerintah.
2423
B.E
1879 C.E Sir Edwin Arnold dari Inggris mempublikasikan syair "Light of Asia", yang kemudian menjadi buku yang paling laris terjual di Inggris dan Amerika, menyebabkan tertariknya orang-orang barat akan Agama Buddha.
2424
B.E
1880 C.E Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott, pendiri dari Theosophical Society, tiba di Sri Lanka dari Amerika Serikat, kemudian memeluk Agama Buddha dan memulai kampanye pengembangan Agama Buddha dengan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Buddhist di Sri Lanka.
2425
B.E
1881 C.E Pali Text Society didirikan di Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Selama lebih dari 100 tahun , banyak bagian dari Tipitaka dipublikasikan dalam tulisan romawi dengan terjemahan ke bahasa Inggris.
2426
B.E
1882 C.E Vihara Buddha Giok (Jade Buddha Temple) di dirikan di Shanghai, China, dimana terdapat dua buah rupang (patung) Buddha dari batu giok (jade) yang didatangkan dari Myanmar (Burma).
2435
B.E
1891 C.E Maha Bodhi Society didirikan di India oleh umat dari Sri Lanka pengikut Anagarika Dharmapala, dalam rangka memperkenalkan kembali Agama Buddha di India.
2436
B.E
1892 C.E Vihara Theravada pertama didirikan di Australia oleh para pekerja mutiara di pulau Thursday yang berasal dari Sri Lanka.
2440
B.E
1896 C.E Menggunakan catatan yang ditulis oleh Fa-hsien (Fa Xian), para arkeolog Nepal menemukan pilar batu besar Asoka di Lumbini.
2442
B.E
1898 C.E Lahirnya Upasaka Lu K'uan Yu (Charles Luk), penerjemah dan penulis Ch'an di Canton, China.
2443
B.E
1899 C.E Bikkhu Theravada barat pertama (Gordon Douglas) ditahbiskan di Myanmar (Burma).
2444
B.E
1900 C.E Y.M. Ajahn Mun dan Y.M. Ajahn Sao menghidupkan kembali tradisi meditasi Hutan di Thailand.
2446
B.E
1902 C.E Raja Rama V dari Thailand mendirikan Sangha Act (Perundangan Sangha) yang secara formal menandakan permulaan dari tradisi Mahanikaya dan Dhammayut. Kepengurusan Sangha yang pada waktu itu berada di tangan pejabat awam yang ditunjuk oleh raja, sekarang diserahkan kepada para bhikkhu itu sendiri.
2447
B.E
1903 C.E Buddhist Mission Society di Jerman, didirikan.
2448
B.E
1904 C.E Pasukan Inggris di bawah Kolonel Younghusband memasuki Tibet dan menduduku Lhasa.
2451
B.E
1907 C.E - Buddhist Society of Great Britain, didirikan di Inggris.
- Lahirnya Y.M. Rahula Walpola, bhikkhu sarjana asal Sri Lanka.

2454
B.E
1910 C.E Pasukan China menduduki Tibet, menembaki massa tak bersenjata yang hendak memasuki Lhasa.
2457
B.E
1913 C.E Dalai Lama Ke-13 menyatakan Tibet sebagai negara religius dan merdeka.
2466
B.E
1922 C.E - Zenshuji Soto Mission didirikan di Little Tokyo di Los Angeles, California dan berdirinya kuil pertama dari aliran Soto Zen di Amerika Utara.
- Majalah Buddhis pertama di Indonesia dengan nama Moestika Dharma, di bawah pimpinan Kwee Tek Hoay.
2474
B.E
1930 C.E - Soka Gakkai didirikan di Jepang. Organisasi ini berasaskan pada aliran Nichiren yang kontroversi dimana umatnya memposisikan Nichiren sebagai seorang Buddha yang sesungguhnya. Penguncaran kalimat "Nam-Myōhō-Renge-Kyō" (Terpujilah Saddharmapudarika Sutra) mencadi hal yang mendasar dalam praktik kesehariannya.
- Di China, Wong Mou-Lam menerjemahkan The Platform Sutra (Sutra Hui Neng) ke dalam bahasa Inggris dan menemukan jurnal Chinese Buddhisme.
- Organisasi Java Buddhists Association yang merupakan bagian dari The International Buddhists Missionary ( Berpusat di Thaton, Myanmar ), berdiri di Indonesia, diketuai oleh Ernest Erle Power.
2476
B.E
1932 C.E - Suan Mokkhabalarama (Hutan Kekuatan dari Pembebasan) didirikan oleh Bhikkhu Buddhadasa.
- International Buddhist Mission Java Section berdiri di Batavia (Jakarta) tahun 1932 dengan Deputy Director General-nya adalah Josias van Dienst.
2477
B.E
1933 C.E Dalai Lama Ke-13 meninggal dunia. Gencatan senjata berakhir, China dan Tibet berperang.
2478
B.E
1934 C.E - Buddhis Literatur versi China edisi Taishö Shinshü Daizokyö selesai dicetak di Tokyo, jepang, dalam 100 jilid.
- Kedatangan Y.M. Bhikkhu Narada Thera dari Sri Lanka ke Indonesia pada tanggal 4 Maret 1934. Beliau menanamkan kembali benih-benih Buddha Dhamma yang telah menghilang di Indonesia sejak kemunduran kerajaan Majapahit.
- Pada tanggal 10 Maret 1934, Y.M. Bhikkhu Narada Thera melakukan penanaman pohon Bodhi di pelataran Candi Borobudur, yang merupakan pohon keturunan langsung dari pohon Bodhi induk di Bodg Gaya, dimana Petapa Gotama mencapai Pencerahan.
2484
B.E
1940 C.E Tenzin Gyatso yang berusia lima tahun, dinobatkan sebagai Dalai Lama Ke-14.
2489
B.E
1945 C.E Sekolah Inggris yang baru dibuka ditutup setelah diprotes oleh para bhiksu.
2493
B.E
1949 C.E - Vihara Mahabodhi di Bodh Gaya, India, kembali di bawah kendali Buddhis.
- Mahasi Sayadaw (U Sobhana Mahathera) yang menghidupkan kembali meditasi Vipassana, menjadi guru kepala di pusat meditasi Vipassana di Rangoon, Myanmar.
2494
B.E
1950 C.E
- Konferensi Buddhis Sedunia Pertama, di Colombo, Sri Lanka, yang akhirnya mendirikan World Fellowship of Buddhists atau Persahabatan Buddhis Sedunia (WBF) didirikan di Colombo, Sri Lanka. Bendera Buddhis Internasional diresmikan. Dan Menetapkan hari Vesak (Waisak) sebagai hari libur umum untuk menghormati Buddha.

2496
B.E
1952 C.E Konferensi Buddhis Sedunia Kedua diadakan di Tokyo, Jepang.
2497
B.E
1953 C.E
- Chinese Buddhist Association dibentuk oleh pemerintah Republik Rakyat China.
- Pada tanggal 22 Mei 1953, untuk pertama kalinya pada masa kemerdekaan Indonesia, perayaan Waisak diadakan di Candi Bodobudur, Magelang, Jawa Tengah.
2498
B.E
1954 C.E
- Persamuhan Agung Keenam diadakan di Gua Mahapasana, Kaba-Aye, Yangon, Myanmar. Persamuhan ini berakhir pada tahun 1956 tepat pada peringatan Buddha Jayanti.
- Pada tanggal 23 Januari 1954, Boan An atau Samanera Ti Chen di tahbiskan menjadi bhikkhu yang selanjutnya dikenal dengan Y.M. Ashin Jinarakhita Mahathera. Beliau adalah putera Indonesia pertama yang menjadi seorang bhikkhu di Indonesia.
- Y.M. Mingun Sayadaw U Vicittasarabhivamsa, berhasil mengingat seluruh isi kitab Tipitaka Pali yang berjumlah 16.000 halaman. Beliau mendapatkan gelar “Tipitakadhara” (Pembawa Tipitaka) dan juga mendapat gelar “Dhammabhandagarika” (Penjaga Dhamma). Beliau juga sebagai Pemecah Rekor "Ingatan Terkuat" yang masuk dalam The Guinness Book of Records (Buku Rekor Dunia) edisi tahun 1985.

2500
B.E
1956 C.E
- Tahun Buddha Jayanti, memperingati 2500 tahun Agama Buddha.
- Dalai Lama Ke-14 mengunjungi India untuk memperingati Buddha Jayanti.
- Di India pemimpin kaum Dalit (kaum diluar kasta), Dr. Bhimrao Ramji Ambedkar bersama dengan lebih dari 350 ribu pengikut, memeluk Agama Buddha.
- Zen Studies Society didirikan di New York, Amerika Serikat, untuk mendukung D.T. Suzuki.

2501
B.E
1957 C.E
- Gua-gua dekat puncak gunung Pai-tai di distrik Fangshan, 75 kilometer barat-daya Beijing kembali dibuka dan mengungkapkan ribuan sutra Buddhis yang dipahat pada batu sejak abad ke-7. Tujuh buah duplikat telah dibuat dan batu-batu tersebut diberi nomor serta pengerjaannya dilakukan sampai tahun 1959.
- Misi pertama Buddhis Sri Lanka ke Jerman, dilakukan oleh Y.M Soma Thera, Y.M. Kheminda dan Y.M Vinitha.

2502
B.E
1958 C.E
Y.M. Nyanaponika Thera mendirikan Buddhist Publication Society di Sri Lanka untuk menerbitkan buku-buku Buddhisme Theravada dalam bahasa Inggris.

2503
B.E
1959 C.E
Bersama dengan 100 ribu rakyat Tibet, Dalai Lama Ke-14 meninggalkan Tibet yang telah diduduki oleh pemerintah Cina menuju ke India. Di pengasingannya di India Dalai Lama Ke-14 mendirikan komunitas Tibet.

2506
B.E
1962 C.E San Francisco Zen Center, didirikan oleh Shunryu Suzuki. Awal penyebaran Agama Buddha di dunia Barat pada masa modern.
2507
B.E
1963 C.E Dalai Lama Ke-14 menyetujui pembentukan konstitusi demokrat bagi komunitas pengasingan masyarakat Tibet.
2509
B.E
1965 C.E
- Pemerintah Myanmar menangkap lebih dari 700 bhikkhu di Hmawbi, dekat Rangoon, karena mereka menolak menerima peraturan pemerintah.
- Revolusi Kebudayaan di China (1965-1975). Kuil-kuil dan vihara-vihara Buddhis ditutup dan semakin terpuruknya Sangha yang telah memiliki kondisi yang lemah.
- Teks-teks Tibet dikumpulkan, diterjemahkan dan disebarkan oleh penerbit Buddhis.

2510
B.E
1966 C.E
- Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. Diprakarsai oleh umat Theravada Sri Lanka yang berharap dapat menjembatani perbedaan yang ada dan bekerja sama antar tradisi Agama Buddha. Konvensi WBSC yang pertama ini dihadiri oleh para bhikkhu pemimpin dari berbagai negara dan tradisi baik dari Mahayana maupun Theravada. Dalam Konvensi ini juga di rumuskan pokok-pokok dasar pemersatu antara tradisi Theravada dan Mahayana.
- Vihara Theravada pertama berdiri di Amerika Serikat.
- Y.M. Cheng Yen mendirikan Tzu Chi Compassion Relief Association dan Tzu Chi Compassion Foundation (1980).

2512
B.E
1968 C.E - Terbentuknya International Buddhist Exchange Centre (Pusat Pertukaran Pelajar Buddhis Internasional) di Jepang.
- Pada konferensi ke-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
2513
B.E
1969 C.E Berbagai organisasi Buddhis bermunculan di Indonesia, menunjukkan geliat kebangkitan agama Buddha di Indonesia.
2515
B.E
1971 C.E - Pusat Tibetan (Sakya) pertama didirikan di Amerika Serikat.
- Pengungsi dari perang Vietnam, Kamboja, dan Laos, menempati Amerika Utara, Australia, dan Eropa, mendirikan banyak komunitas Buddhis di Barat.
2517
B.E
1973 C.E Penduduk Sri Lanka di Australia, mendirikan vihara Theravada pertama di New South Wales.
2518
B.E
1974 C.E - Naropa Institute, sekarang bernama Naropa University, didirikan di Boulder, Colorado di Amerika Serikat.
- Di Myanmar, ketika demonstrasi saat pemakaman U Thant (Sekretaris Jenderal PBB yang ke-3), 600 bhikkhu ditangkap dan beberapa ditembak oleh pasukan pemerintah.
- Pada tanggal 14 Januari 1974 Sangha Agung Indonesia terbentuk.

2519
B.E
1975 C.E - Y.M. Ajahn Chah, mendirikan vihara (Wat) Pah Nanachat, sebuah vihara hutan di Thailand untuk melatih bhikkhu-bhikkhu Barat, dan Y.M. Sumedho menjadi kepala vihara yang pertama yang dijalankan oleh dan untuk para bhikkhu berbahasa Inggris.
- Wat Buddharangsee didirikan di Sydney, Australia oleh Y.M. Bhikkhu Khantipalo dari Inggris dan 3 orang bhikkhu dari Thailand.
- Di Laos, para pemimpin Komunis Lao berusaha untuk mengubah prilaku dalam keagamaan, di antaranya adalah para bhikkhu harus bekerja, bukan menerima derma. Hal ini menyebabkan banyak bhikkhu yang kembali ke kehidupan umat awam, tetapi Agama Buddha tetap populer.
- Insight Meditation Society didirikan di Barre, Massachusetts di Amerika Serikat.
- Kaum Komunis Kamboja di bawah pemerintahan Pol Pot mencoba untuk menghancurkan Agama Buddha secara menyeluruh, dan hampir berhasil.
2520
B.E
1976 C.E - Setelah berlangsungnya demonstrasi, pemerintah junta militer Myanmar mendiskreditkan Bhikkhu La Ba dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang kanibal dan pembunuh.
- Sangha Theravada Indonesia berdiri pada tanggal 23 Oktober 1976, di Vihara Maha Dhammaloka (sekarang Vihara Tanah Putih), Semarang, Indonesia.
2521
B.E
1977 C.E
Y.M. Ajahn Chah, diundang ke Inggris oleh English Sangha Trust.
2522
B.E
1978 C.E
- Di Myanmar (Burma), lebih banyak lagi bhikkhu dan umat yang ditangkap, dipaksa melepaskan jubah, dan dipenjarakan oleh pemerintah junta militer. Banyak vihara yang ditutup dan propertinya disita. Bhikkhu U Nayaka yang bersikap kritis ditangkap dan meninggal, pemerintah mengklaim bahwa ia melakukan bunuh diri.
- Sangha Mayahana Indonesia berdiri pada tanggal 10 September 1978 di Vihara Buddha Murni, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

2523
B.E
1979 C.E
- Y.M. Ajahn Chah kembali ke Inggris dan mendirikan komunitas keci para bhikkhu di vihara Hamsptead yang kemudian pindah ke Sussex, Inggris, dan sekarang dikenal sebagai Chithurst Forest Monastery.
- Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI) didirikan. Nama WALUBI diberikan oleh Menteri Agama pada waktu itu yaitu Alamsyah Ratu Perwiranegara.
2524
B.E
1980 C.E
Pemerintah junta militer Myanmar menyatakan otoritasnya atas sangha, kekerasan terhadap para bhikkhu terus berlanjut.
2525
B.E
1981 C.E - Vihara Taungpulu Kaba Aye didirikan oleh Y.M. Taungpulu Sayadaw dan Dr. Rina Sircar dari Myanmar, di California Utara, Amerika serikat.
2527
B.E
1983 C.E - Shanghai Institute of Buddhism didirikan di Vihara Buddha Giok (Jade Buddha Temple), Sanghai, China, di bawah naungan Shanghai Buddhist Association.
- Di Indonesia, melalui Keputusan Presiden No. 03/1983 tertanggal 19 Januari 1983, ditetapkan bahwa hari Waisak (Vesak) merupakan hari libur nasional.
2528
B.E
1984 C.E Vihara Amaravati didirikan di Hemel Hempstead, Hertfordshire, Inggris oleh siswa-siswa dari Y.M. Ajahn Chah. Vihara ini merupakan vihara dari tradisi Hutan dari Theravada.
2531
B.E
1987 C.E Nichiren Shoshu Indonesia dikeluarkan dari keanggotaan WALUBI karena perbedaan ajaran dan ketidaksesuaian dengan Buddha Dhamma.
2532
B.E
1988 C.E
- Bhavana Society, vihara Theravada tradisi Hutan yang pertama di Amerika Serikat, didirikan di Virginia Barat.
- Di Myanmar, semasa pemberontakan State Peace and Development Council (rezim militer Myanmar), pasukan militer menembaki para bhikkhu. Setelah pemberontakan, seorang bhikkhu senior bernama U Nyanissara, merekam pembicaraan mengenai diskusi demokrasi dalam ajaran Buddhisme.
2533
B.E
1989 C.E Dalai Lama Ke-14 menerima Penghargaan Nobel Perdamaian.
2534
B.E
1990 C.E
- Lebih dari 7000 bhikku berkumpul di Mandalay di Birma (Myanmar) untuk menyerukan boikot terhadap pemerintah militer yang otoriter. Mereka menolak menerima derma dari keluarga militer. Pemerintah militer menyita vihara dan menangkap beberapa bhikku termasuk bhikkhu senior U Sumangala dan U Yewata. Para bhikkhu menerima hukuman penjara yang panjang, dan semua bhikkhu yang memboikot dipaksa melepas jubah. Beberapa bhikkhu disiksa ketika dalam masa interogasi.
- Perkembangan Sangha Theravada di Barat. Metta Forest Monastery, didirikan di California, Amerika Serikat oleh Y.M. Ajaan Suwat. Kedua vihara ini merupakan vihara tradisi Hutan. Abhayagiri Monastery didirikan oleh Y.M. Ajahn Amaro dan Y.M. Ajahn Pasanno di California, Amerika Serikat.
2536
B.E
1992 C.E
- Patung Buddha di Hyderabad, India , didirikan atas prakarsa kepala pemerintah Andhra Pradesh, Sri N. T. Rama Rao. Patung ini memiliki tinggi 16 meter dan terbuat dari batu granit putih.
- Buddhisme memasuki era Cyberspace (dunia maya). Beberapa edisi dari Tipitaka Pali dapat diakses secara online melalui internet.
2540
B.E
1996 C.E Garis sangha bhikkhuni muncul kembali di Sarnath, India oleh upaya dari Sakyadhita, sebuah asosiasi wanita Buddhist Internasional. Kemunculan sangha bhikkhuni ini menjadi kontroversi sendiri sampai sekarang.
2542
B.E
1998 C.E - 25 Januari 1998, Tentara Teroris Pembebasan Macan Tamil atau Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE), melakukan aksi bunuh diri dengan bom dan menyerang tempat Buddhis paling suci dan pusat warisan Dunia UNESCO di kota Kandy, Sri Lanka yaitu Sri Dalada Maligawa atau Vihara Relik Gigi yang merupakan tempat menyimpan relik gigi Sang Buddha.
- Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI) membubarkan diri karena konflik yang terjadi di dalam tubuh organisasi umat Buddha Indonesia tersebut.
- Setelah WALUBI membubarkan diri, Sangha Agung Indonesia bersama-sama dengan Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia, membentuk Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) yang bertugas untuk mengambil keputusan yang berpedoman pada Dhamma (Dhammaniyoga).
2543
B.E
1999 C.E The Chant of Metta, sebuah musik gubahan Imee Ooi, diproduksi oleh I.M.M. MUSICWORKS, di Malaysia. Musik dengan syair mengenai kasih sayang universal (metta) dan berbahasa Pali ini, menjadi musik yang banyak dinikmati oleh kalangan Buddhis di seluruh dunia di awal abad ke-21.
2544
B.E
2000 C.E Sasanarakkha Buddhist Sanctuary, sebuah vihara di Taiping, Malaysia didirikan oleh Y.M. Aggacitta. Vihara ini digunakan sebagai pusat melatih para bhikkhu Theravada di Malaysia. Misinya adalah melatih bhikkhu-bhikkhu baru.
2545
B.E
2001 C.E Pada bulan Maret, dua Patung Buddha tertinggi di dunia, "Buddha dari Bamyan", dihancurkan oleh kelompok Muslim militan Taliban, di Bamyan, Afghanistan.
2549
B.E
2005 C.E - Para ilmuwan berhasil menyelamatkan pohon Bodhi di Bodh Gaya, India. Pohon yang merupakan generasi keenam dari pohon Bodhi dimana tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan ini, selama tiga tahun sebelumnya dihinggapi suatu penyakit yang aneh.
 2550
B.E
 2006 C.E - Perayaan Waisak Nasional pertama di Candi Borobudur yang diadakan oleh Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).
- Pertama kali dalam sejarah Amerika Serikat, dua orang Buddhist yaitu Mazie Hirono dan Hank Johnson, terpilih untuk menjadi anggota Kongres Amerika Serikat.
 2551
B.E
 2007 C.E - Ribuan kaum Dalit (kaum di luar kasta) di India, meninggalkan agama Hindu dan memeluk agama Buddha sebagai bentuk protes atas sikap diskriminasi yang dilakukan oleh kaum berkasta tinggi.
- Bulan September, ribuan bhikkhu Birma
(Myanmar) melakukan aksi damai dalam rangka menyuarakan penderitaan rakyat. Pemerintah junta militer Myanmar menggunakan kekerasan untuk membubarkan aksi damai tesebut. Aksi brutal pemerintah Myanmar yang menelan korban ini dikecam oleh masyarakat dunia. Peristiwa ini dikenal dengan "Revolusi Safran".

Catatan:

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhis, Sang Buddha lahir pada tahun 623 B.C.E (Before Common Era), dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha.

Tahun 563 B.C.E adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Peristiwa pada garis waktu sebelum tahun 2 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Tahun masehi bagian atas adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber "tradisi" yaitu 623 B.C.E, kemudian tahun masehi bagian bawah adalah tahun kelahiran Sang Buddha berdasarkan pada tahun "sejarah" 563 sebelum masehi. Setelah tahun 2 sebelum masehi, tahun "sejarah" dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat.

Untuk mendapatkan tahun Buddhis adalah dengan cara menambah 544 pada tahun masehi. Dan penanggalan Buddhis yang digunakan pada timeline ini adalah penanggalan versi Sri Lanka. Untuk mendapatkan tahun Buddhis versi Thailand cukup menambahkan 543 pada tahun masehi. Dalam versi Sri Lanka, penanggalan Buddhis dimulai pada tahun dimana Sang Buddha parinibbana dan dihitung sebagai tahun 1 B.E. Sedangkan dalam versi Thailand, penanggalan Buddhis dimulai pada tahun dimana Sang Buddha parinibbana dan dihitung sebagai tahun 0 B.E.

Pada timeline tidak terdapat tahun 0 C.E (masehi), hal ini disesuaikan dengan kesepakatan internasional yang meniadakan tahun 0 (zero). Dengan demikian setelah tahun 1 B.C.E adalah tahun 1 C.E.

Timeline ini bersifat tidak tetap dimana sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan peristiwa yang terjadi dikemudian hari.


Sumber: http://www.bhagavant.com/home.php?link=sejarah&tipe=timeline