Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Minggu, 04 April 2010

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan oleh Master Cheng Yen — Tzu Chi

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan
Oleh: Master Cheng Yen — Tzu Chi

Suatu ketika, seekor raja burung memimpin rombongannya yang terdiri dari lima ratus ekor burung untuk mencari makanan di luar istana. Mereka tanpa sengaja terbang melewati batas dan memasuki kebun milik seorang kaisar. Mendengar bahwa lima ratus ekor burung sedang berkeliaran di kebunnya, Sang Kaisar berpikir hal ini pasti akan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Lalu, ia pun memerintahkan para pelayannya untuk menebar jala di atas kebun untuk menangkap burung-burung tersebut ketika mereka akan terbang kembali.

Burung-burung itu tidak tahu bahwa kaisar sudah memerintahkan agar jala dipasang di sana. Oleh karenanya, ketika mereka terbang, semua burung tertangkap.Dengan gembira, Sang Kaisar memerintah para pelayannya untuk memberi makan burung-burung itu dengan beras setiap hari. “Jika mereka sudah cukup gemuk, masaklah mereka sehingga saya dapat menyiapkan pesta untuk semua menteri!” demikian titah Sang Kaisar.
Sewaktu raja burung mendengar apa yang direncanakan Sang Kaisar, ia menyalahkan dirinya terhadap situasi ini. “Semua ini adalah salahku sehingga rakyatku terbang masuk ke kebun kaisar, dan sekarang mereka akan dibunuh untuk menjadi makanan Kaisar dan menteri-menterinya. Apa yang dapat aku lakukan?”
Sewaktu beras dibawa masuk, tiba-tiba raja burung mendapat ide. Ia memperingatkan semua burung, ”Jika kalian ingin terus hidup, jangan makan beras tersebut.” “Tapi, jika kami tidak makan, kami akan mati kelaparan! Bagaimana mungkin kami dapat hidup?” kata burung-burung itu pada rajanya.
Raja burung memberitahu mereka, “Kaisar memberi kita makan agar kita menjadi gemuk. Jika kita memakan beras itu dan menjadi gemuk, Kaisar akan segera membunuh kita untuk dijadikan makanan. Jadi, janganlah makan apapun dalam beberapa hari. Jika kita menjadi kurus, kita akan memiliki kesempatan yang baik untuk melarikan diri.”

Lima ratus burung tersebut selalu patuh pada raja burung sehingga mereka sama sekali tidak menyentuh beras yang diberikan oleh Kaisar. Prajurit yang menjaga burung-burung itu menghidangkan beras yang sangat banyak ke dalam sangkar mereka setiap hari, tetapi makanan tersebut tetap tidak dijamah. Raja burung berpikir keras, berusaha mencari jalan untuk membebaskan diri dari sangkar. Suatu hari, ia melihat lubang kecil di atas sangkar. Ia memerintahkan semua burung untuk mematuk lubang tersebut setiap hari. Beberapa hari kemudian lubang menjadi semakin besar dan cukup untuk dilewati burung-burung karena badan mereka sekarang menjadi kurus. Atas petunjuk raja, lima ratus ekor burung tersebut akhirnya diam-diam terbang keluar melalui lubang tersebut.

Melihat sangkar burung yang kosong, raja burung sangat gembira. Ia memilih untuk keluar paling akhir. Lima ratus ekor burung telah menunggu di luar sambil mengepak-ngepakkan sayap mereka. Ketika pada akhirnya raja burung terbang di angkasa bersama-sama dengan seluruh burung, suara merdu mereka segera menyelimuti udara.

=====================
Kita harus waspada pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran kita. Jika kita ceroboh, penderitaan akan terjadi sebagai akibatnya.
Segala kesalahan dan penderitaan disebabkan oleh pikiran-pikiran kita. Jika kita patuh pada peraturan, kita akan hidup dengan aman. Jika kita hati-hati dan bijaksana di dalam tindakan kita, hidup kita akan damai dan bahagia.

Sumber: http://kmbij.wordpress.com/artikel-dhamma/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar