Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 01 April 2010

MARILAH BERMEDITASI Oleh: Sri Pannavaro Mahathera



MARILAH BERMEDITASI

Oleh: Sri Pannavaro Mahathera


Transkrip Dhamma Class di Vihara Dhamma Sundara Solo
27 Agustus 2008
Ditulis oleh: Locky Thitasilo

MARILAH BERMEDITASI - Bagian 1: Sebab Penderitaan

Para ibu, bapak dan saudara-saudara,

Saya akan berbicara dengan topik yang lebih mendalam tidak hanya
dasar. Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak begitu
mendengar
lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa secara nalar.
Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri. Sehingga
saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau uraian ajaran
Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.

Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan
imitasi. Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang....
Tidak usah di pikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena
kalo mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus. Orang pinter
biasanya... Senang apa tidak ya???

Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang....

Ibu, bapak dan saudara
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang bhante...

Dimana letaknya senang itu?
Di sini....? ( sambil menunjukan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )

Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.

Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq (
sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini... bukan di
situ ( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong (
berlubang ), entah kecantol tas ( tersangkut ), entah kecantol pakaian
( tersangkut pakaian ). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh... kepijek
( terinjak ) pecah.

Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek ( hancur ).
Ibu, bapak bagaimana reaksinya?
Senang apa tidak senang?
Tidak senang bhante...

Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek ( hancur ) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini ( sambil menunjuk dada/hati )?
Jawabannya: Di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang membuat
kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita, yang
membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam diri
kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada di luar!

Karena kalo kita susah, sedih di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar....!!!!

Tetapi kalo ibu bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya bhante sedih di
sini ( sambil menunjuk dada/hati ), gembira juga di sini ( sambil
menunjuk dada/hati ). Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya
tidak mendapat gelang tretes ( berlian )/jam, kita kan tidak bisa
ujug-ujug ( tiba-tiba ) senang. Karena gelang tretes saya senang,
karena jamnya rusak saya menderita.
Jalarannya kan yang di luar juga bhante.... tidak hanya di dalam (
sambil menunjuk dada/hati ).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?
Kelihatannya betul.... tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi senang?
Iya bhante... kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi senang.
Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam
itu datang ke pak Joni...
Pak Budi senang tidak?
Tidak senang...

Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana ( sambil menunjukkan ke Pak Joni ), bukan ke sini (
sambil menunjukkan ke Pak Budi ).

Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang....
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (
pergi ke orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?
Tidak...

Kenapa gak senang bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq bukan ke sini.

Kenapa dia susah, sedih?
Gelangnya hilang bhante... tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek ( hancur ) terinjak.

Apa betul???
Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya orang lain
saya tidak menderita...
Jadi ibu bapak dan saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU...

Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia... aku tidak menderita.
Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut menderita
Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal... Oh....
sama sekali tidak menderita!

Mengapa?
Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya anak-KU, bukan
gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang lain, Aku tidak
kenal.... maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU ibu, bapak dan saudara.
Itu yang membuat kita menderita......

Mengapa bisa menderita bhante?
Karena terlalu lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya
AKUnya.... maka dia menderita.
Berharga, mahal, milyaran
Tetapi barang yang sama yang berharga, mahal, milyaran
Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU..... AKU tidak apa-apa.... tenang
.. tentram.

Jadi sang AKU-lah

Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life..., The Truth....,
Kesunyataan Hidup.
Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu meng-iya-kan, tetapi
saudara bisa mencocokkan apa yang saudara pernah alami ibu, bapak
sekalian dalam kehidupan sehari-hari.
Benar... Tidak???

Ibu, bapak dan saudara jangan sepelekan AKU.
Ada orang mengatakan.. Ah... bhante.. AKU kan bukan kejahatan toh..,
paling kalo AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq
Sombong-Sombing banget....!!! Arogan....
Paling kan hanya dikatakan begitu... kan bhante...

Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan...
Kalo suatu ketika yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di
belakang sana...
AKU di suruh duduk di belakang sana???
AKU ini ... jasaku ini tidak dihargai.. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa???

Saya pernah diberitahu seorang bhikkhu, Oh... dia bukan pemimpin bhante...
Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin.
Koq bisa???
Dia ingin duduk di muka.. kelihatan di muka..
Oh beda ya.. pemuka sama pemimpin...
Oh ya... beda bhante... ( joke )

Jangan Meremehkan ke-AKU-an ibu, bapak dan saudara...

Ke-AKU-an punya anak... Anaknya ke-AKU-an adalah:

Kalo dia senang..
AKU ingin senang lagi.. AKU ingin senang terus.. AKU ingin senang yang
lebih banyak..
*KESERAKAHAN..... ( Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan ).
Kalo dia untung..
AKU ingin untung terus.. AKU gak mau rugi.. tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus..
AKU ingin sehat terus..
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.. Loh koq bisa bhante? Siapa yang
ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua kan, AKU ingin tua terus..
( Itu KESERAKAHAN)

dan

Kalo tidak senang..
**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan pemenuhan.


Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan... Oh..
KESERAKAHAN-nya membara-bara.

( Joke )
Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat. Dia ingin mencalonkan
dirinya lagi, dia ingin menjabat lagi.
Pak... apa bapak menjabat itu enak toh?
Ya... bhante enaknya cuma 10%..
Oh.... begitu. Loh yang 90% pak?
Yang 90% enak banget.... bhante... ( Peserta Dhamma Class meledak tertawa ).
Oh makanya kepingin lagi menjabat. Saya pikir enaknya hanya 10%....
yang 90% tidak enak...
Ternyata yang 10% enak.. dan yang 90% enak banget...

Nanti kalo gagal bagaimana?
Kalo gagal dia bisa kecewa... Jengkel... Bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju... Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN...

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak "SENANG
MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM"

Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN " IRI HATI / TIDAK SENANG
MELIHAT ORANG LAIN SUKSES"

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin... ingin.. ingin... lagi.. lagi.. lagi..
( KESERAKAHAN ), terhalang marah maka kebencian muncul.. kekejian
muncul.. kejahatan muncul.
Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak -
pinak.. ( berkembang biak ) melahirkan kejahatan-kejahatan.

Ibu, bapak dan saudara.... ibu bapak bisa memahami ya.. yang saya uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang AKU.
Tidak ada sangkut pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (
AKU-nya ) terkendali... anda tidak perlu menderita.

Bhante saya mendengar penderitaan itu.. terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk..
melakukan karma buruk.. lalu berbuah.. buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.
Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk / akibat
karma yang buruk bhante?
BUKAN.... saudara...

Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah mendengar toh..?
Empat Kesunyataan Mulia:

1. Ada Dukha

2. Apakah Sebabnya Dukha? Apakah sebabnya dukha di sebut akibat karma
buruk berbuah maka membuat kita menderita ( Dukha ). TIDAK....
Sebabnya dukha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang luar
biasa. Darimana datangnya Tanha.. sang AKU. Sang AKU ingin lagi..
ingin lagi.. ingin lagi... Kalo tidak senang ingin menghancurkan..
ingin menyingkirkan terus.. terus.. terus.. sampai
tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi bhante kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?
Terserah saudara.. saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita bhante?
TIDAK... Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini... mau menderita
atau tidak... tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang
muncul.

Dari cerita ini lagi... ibu bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut pautnya!!!
Susah, menderita, sengsara itu karena " KITA SENDIRI SEPENUH-PENUHNYA"
Karena apa bhante?
Karena sang AKU kita biarkan....
Jangan main-main dengan sang AKU.. bukan masalah persoalan sombong-sombing saja.
Berbahaya.. ia menjadi biang penderitaan...

Baik.. paragraph pertama, chapter pertama saya tutup...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar