Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Senin, 15 November 2010

Hidup Harmonis di Dalam keluarga


Hidup Harmonis di Dalam keluarga
Oleh Biksu Thich Nhat Hanh

Berikut adalah cuplikan ceramah Biksu Thich Nhat Hanh kepada peserta retret anak-anak dan remaja di Plum Village, Perancis. Ia menjelaskan kepada anak-anak pentingnya belajar untuk mendengarkan secara mendalam di dalam keluarga, di antara ibu, ayah, dan anak-anak, agar tercipta suasana yang harmonis.

Ada yang bertanya, “Dapatkah Anda memberitahu saya apakah ayah yang ideal itu?”

Orang yang lain menjawab, “Ayah yang ideal adalah ayah yang tahu bagaimana mencintai Ibu dan bagaimana membuat Ibu bahagia.”

Sepertinya ini adalah jawaban sangat sederhana, namun juga sangat dalam. Apa yang paling dibutuhkan seorang bocah? Apakah dia butuh uang untuk membeli hadiah? Apakah ia butuh uang untuk membeli mainan? Apa yang paling dibutuhkan seorang anak? Yang paling dibutuhkan seorang anak adalah kasih sayang ayahnya.

Ada banyak anak yang punya begitu banyak mainan dan begitu banyak uang saku, akan tetapi mereka tidak bahagia karena ayah mereka selalu membuat ibu menderita. Dan sering kali anak-anak itu begitu sedih. Mereka ingin kabur saja karena atmosfir dalam keluarga terasa begitu berat, seperti keadaan sebelum datangnya badai. Atmosfir itu adalah atmosfir penderitaan, di dalam rumah maupun di dalam keluarga. Ayah menghadirkan atmosfir ini ketika ia membuat ibu menderita. Sehingga si anak ingin melarikan diri, tapi lari kemana?

Dulu kita mungkin mempunyai rumah dan kebun yang indah, dengan sebuah kolam kecil, banyak kamar, dan anak bisa lari keluar ke kebun serta duduk di dekat kolam. Atau lari ke tetangga, menemui seorang bibi atau paman di desa ….

Akan tetapi sekarang, kita mungkin tinggal di apartemen yang tinggi dan anak yang berada di dalam lingkungan ini tidak ada tempat untuk lari – hanya ada satu tempat, yaitu toilet atau kamar mandi, tutup pintu dan melarikan diri ke sana.

Atmosfir yang berat dan menyesakkan ini menghancurkan dan membuat layu si anak, sehingga dia ingin lari, namun tidak tahu mau lari ke mana. Maka larilah ia ke toilet dan menangis di sana. Tapi bahkan di dalam toilet pun dia tidak merasa aman, karena masih dapat mendengar suara tangisan ibunya atau bicara ayahnya.

Anak-anak yang hidup di tengah atmosfir yang demikian tidak bisa tumbuh dalam cara yang segar dan indah. Bagaikan pohon di taman yang tidak mendapatkan sinar matahari ataupun siraman air hujan, atau tukang kebun yang merawat. Ketika pohon itu besar, ia akan berkeluarga: ia akan mempunyai istri, suami, dan anak-anak. Tapi dia tidak tahu bagaimana membuat keluarganya bahagia, karena anak itu belum pernah belajar dari ayah.

Anak itu tidak tahu bagaimana mencintai ibu, bagaimana merawat ibu. Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara, yang artinya lingkaran tunimbah lahir yang tidak pernah berhenti dan derita ini diturunkan terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara ....

Hanya ketika dapat bersentuhan dengan ajaran sejati dan belajar cara-cara praktek, kita dapat mematahkan lingkaran derita yang disebuat samsara ini.

Ketika anak-anak datang ke sini, di Plum Village, mereka bisa belajar cara-cara untuk mematahkan lingkaran ini, sehingga mereka dapat membuka area baru di mana ayah akan mempunyai kapasitas, seni membawakan kebahagiaan, kepedulian, dan cinta kasih kepada isterinya. Banyak oarang muda mengatakan bahawa hadiah paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah kebahagiaan orang tua itu sendiri.

Anak-anak tidak butuh banyak: yang mereka butuhkan adalah kedua orang tua mereka dapat bahagia bersama dan itu sudah cukup buat anak-anak untuk menjadi bahagia. Jadi jika kita adalah seorang ibu atau ayah, kita harus tahu bahwa hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Dan jika kedua orang tua kita ingin membahagiakan satu sama lainnya, paling tidak mereka perlu tahu bagaimana mempraktekkan Latihan Perhatiah Murni Keempat. Latihan Perhatian Murni Keempat adalah kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam dan berbicara dengan lembut dan penuh cinta kasih. Inilah yang perlu dipelajari semua orang tua dan mereka akan mampu membangun komunikasi, dan tidak membuat satu dan lainnya menderita. Lalu mereka akan dapat memberikan anak-anak mereka banyak kebahagiaan.

Mendengar secara mendalam adalah sesuatu yang harus kita pelajari untuk dapat melakukannya – kita tidak bisa melakukannya begitu saja. Saat orang lain bicara, dia sedang berusaha mengungkapkan kesulitan maupun deritanya, dan membutuhkan kita mendengarkan hal-hal itu. Tapi jika kita tidak mampu mendengarkan, orang yang sedang bicara tidak akan merasa deritanya berkurang sedikitpun dan akhirnya akan berhenti bicara.

Jadi, tatkala kita mencintai seseorang, isteri kita, suami kita, anak-anak kita, ayah kita, kita perlu berlatih untuk mendengarkan orang itu secara mendalam. Mungkin ayah kita tidak tahu bagaimana mendengarkan ibu kita dan ibu tidak tahu bagaimana mendengarkan ayah secara mendalam. Tapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita tahu bagaimana mendengarkan ayah dan ibu secara mendalam? Kadang kita berkata, “Ibu tidak mendengarkan ayah, ayah tidak mendengarkan ibu.”

Namun kita sendiri juga tidak mendengarkan ibu ataupun ayah secara mendalam. Oleh karena itu, ibu, ayah, mapun anak, ketika ke wihara, ketika pergi ke pusat meditasi, mereka harus berlatih mendengarkan secara mendalam, karena mendengarkan secara mendalam adalah praktek Bodhisattwa Awalokiteshwara. Pagi ini para biksu dan biksuni telah melantunkan puji-pujian tentang Bodhisattwa Awalokiteshwara, yang memiliki cara yang sangat terampil dalam mendengarkan secara mendalam. Itulah sebabnya Ia disebut Quan The Am (Kuan Se Im) yang berarti “memperhatikan suara yang datang dari dunia.”

... hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Orang-orang yang menderita, yang mempunyai perasaan yang disembunyikan jauh di dalam lubuk hati mereka, yang belum mampu mereka ungkapkan, mereka butuh kesempatan untuk mengungkapkan derita ini. Jika tidak ada seorang pun yang duduk mendengarkan mereka, bagaiamana mereka bisa memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan derita yang disembunyikan itu? Oleh karena itu kita perlu berupaya memahami mereka secara mendalam dan itulah cara untuk menunjukkkan bahwa kita mengasihi mereka.

Jika kita adalah seorang ayah dan kita ingin mendengarkan anak-anak, kita bisa duduk berdampingan dengan mereka di dalam hening kemudian berkata, “Anakku sayang, tolong beritahu Papa, apakah kamu ada kesulitan? Apakah kamu ada penderitaan? Kasih tahu Papa. Papa ingin dengar sehingga Papa bisa melihat apakah Papa dapat membantu.”

Jadi ayah mengatakan ini dengan setulus hati. Dan jika kita adalah seorang isteri dan kita tahu suami kita ada derita dan kesulitan yang belum sanggup ia utarakan, kita hampiri suami kita, duduk dengan hening, dengan sangat segar, di sisinya, lalu kita katakan, “Suamiku sayang, apakah engkau ada penderitaan apapun? Apakah engkau ada kesulitan yang disembunyikan dalam hatimu? Beritahukanlah aku hal-hal itu.”

Isteri harus mengatakan itu. Jika kita adalah seorang suami atau seorang ayah dan kita punya penderitaan – kita semua punya penderitaan, sebagian dari kita punya banyak, sebagian dari kita punya sedikit – saat orang lain mengatakan itu kepada kita, kita melihat kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin kita ungkapkan. Awalnya sulit bagi kita untuk mengatakannya. Sebelumnya belum pernah ada orang yang berusaha untuk mendengarkan kita dan sekarang, ketika ada orang mengundang kita untuk mengungkapkannya, kita tidak yakin apakah kita benar-benar dapat mempercayainya.

Akan tetapi isteri atau siapa pun yang menanyakan pertanyaan, patut bersabar dan berkata, “Harap beritahukanlah aku. Mungkin ini dikarenakan ketidak-terampilanku, kebodohanku, engkau menderita, aku ingin mendengarnya. Harap beritahu aku jika aku ada melakukan sesuatu yang bodoh atau ceroboh yang telah membuatmu menderita. Aku berjanji akan duduk di sampingmu dengan sangat tenang dan hening dan mendengarkan, karena aku sedang berlatih sebagai murid Bodhisatwa Awalokisteshwara.

“Aku tidak akan menghakimi, aku tidak akan bereaksi, aku tidak akan marah. Guru dan Sangghaku sudah memberitahu aku bagaimana cara berlatih menjadi damai dan tenang, bagaimana makan dengan damai, berjalan dengan damai, bagaimana duduk dengan damai, dan sekarang aku sudah mampu untuk duduk dan mendengarkan. Aku sudah tidak seperti diriku yang dulu.”

Kita bisa berusaha membujuk suami kita seperti itu, sehingga dia dapat mengungkapkan kesulitan-kesulitannya kepada kita untuk didengar.

Jika kita adalah anak-anak, jangan pikir hanya kita saja yang menderita, sebagai anak. Ayah menderita. Ayah punya berbagai kesulitan. Maka dari itu, kita bisa berlatih dan kita bisa mengatakan, “Papa, saya tahu Papa adalah ayah saya, tapi saya tahu Papa ada kesulitan. Kadang Papa marah kepada saya, kadang Papa kecewa kepada saya, kadang saya tidak melakukan apa yang Papa inginkan. Tapi itu terjadi karena saya belum tahu hati Papa, saya belum tahu kesulitan-kesulitan Papa. Dan sekarang saya ingin mendengarkan Papa. Saya ingin mendengar hal-hal yang tidak Papa sukai dari saya, yang menurut Papa bisa saya perbaiki.

“Saya  akan mendengarkan Papa, saya akan mendengarkan dengan hati Bodhisattwa Awalokiteshwara karena saya sudah pergi ke pusat meditasi. Saya sudah bertemu dengan biksu dan biksuni. Saya sudah bertemu dengan Sanggha dan saya sudah belajar bagaimana untuk duduk dan mendengarkan secara mendalam. Jadi tolong Pa, beritahukan kepada saya, dan saya akan menjadi seperti Bodhisattwa Awalokiteshwara. Saya akan duduk dan mendengarkan dengan sangat seksama.

“Saya akan mendengar dengan kedua telinga saya, bukan dengan satu telinga dan saya akan mendengar dengan hati saya, karena Awalokiteshwara adalah orang yang dapat mendengarkan dengan dua telinga dan hati, dan dapat mendengarkan seperti itu selama satu jam.”

Ketika anak mendengarkan ayah seperti itu selama satu jam, ayah akan merasa jauh lebih baik.

Kita semua harus berlatih dalam keluarga: ibu, ayah, dan anak. Tidak bisa kita langsung dapat mendengarkan secara mendalam hanya karena kita ingin melakukannya. Kita harus berlatih terlebih dahulu, karena jika kita berhenti mendengar setengah jalan, orang lain akan merasa, “Buang-buang waktu saja!”

Jika kita mendengarkan dan orang-orang mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak benar – mereka sepenuhnya keliru memahami kita – ketika mereka menjelaskan hal-hal ini, kita rasakan kurangnya loyalitas mereka kepada kita, kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

... kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

Sudah berhasilkan ayah dan ibu dalam latihan mendengarkan secara mendalam? Jika ibu dan ayah belum berhasil, kita sebagai anak harus membantu mereka. Kita harus mendengarkan ayah dan ibu. Kita harus buktikan bahwa sebagai anak, kita mampu mendengarkan secara mendalam. Kita mampu memahami ayah kita, mampu mendengarkan dan memahami ibu kita.

Kita bisa mendatangi ibu kita sambil berkata, “Ma, Mama tahu saya datangi Papa. Saya dengarkan Papa secara mendalam dan sekarang saya sudah memahami Papa. Saya lihat Papa sudah tidak begitu menderita. Mohon Mama lakukah hal yang sama. Saya akan bantu Mama untuk menjadi mampu duduk dan mendengarkan Papa secara mendalam.”

Jika Anda hanyalah seorang bocah, kendati masih kecil, walaupun belum mempunyai kebijaksanaan besar, namun Anda sudah bersentuhan dengan Buddha, Dharma, dan Sanggha, dengan para biksu dan biksuni. Dan Anda juga bisa membantu ayah Anda. “Papa, Papa sudah latihan mendengarkan Mama belum? Mama ada begitu banyak kesulitan dan kesedihan dalam hatinya, banyak hal yang belum Papa ketahui. Jadi, tolong Pa, dengarkan Mama secara mendalam. Saya sudah berlatih mendengarkan Mama secara mendalam dan saya tahu Papa juga dapat melakukannya. Saya akan dukung Papa. Papa tolong dengarkanlah Mama secara mendalam.

“Tolong lakukan dalam hening dan ketika Mama mengatakan sesuatu yang tidak benar, jangan marah Pa. Bernafaslah dan dengarkanlah secara sepenuh hati sehingga Mama tidak begitu menderita. Jangan dengarkan secara mendalam agar dapat menyalahkan, agar dapat mengritik. Jika Papa belum sanggup melakukannya, silahkan pergi ke pusat meditasi dan belajarlah meditasi jalan, belajarlah meditasi duduk, belajarlah bagaimana berjalan dalam Perhatian Murni dan makan dalam Perhatian Murni. Selang beberapa hari Papa akan mampu berlatih mendengarkan secara mendalam.”

Mendengarkan secara sungguh-sungguh adalah praktek Buddha dan Bodhisattwa Awalokiteshwara yang paling menakjubkan. Saat kita menyebut nama Bodhisattwa Awalokteshwara, itu berarti kita menerima Awalokiteshwara sebagai guru kita. Awalokiteshwara memiliki kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam.

“Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Oleh karena itu, jika kita adalah murid Awalokiteshwara, kita juga harus berlatih mendengarkan secara mendalam. Hari ini, kalian anak-anak yang masih sangat kecil telah mendengar hal ini. Ingatlah kata-kata yang baru saja saya ajarkan. Kita ayah dan ibu tidak bahagia bersama, kalian harus menggabungkan kedua telapak tangan dan berkata kepada mereka, “Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Itulah Lonceng Kesadaran untuk membangunkan ibu dan ayah. Setelah itu ibu dan ayah akan mencoba untuk berlatih.

Hari ini, apa yang telah berusaha saya sampaikan kepada kalian, anak-anak, adalah belajarlah untuk mengatakan kepada orang tua kalian, “Mama dan Papa tercinta, hadiah terbesar yang dapat Mama dan Papa berikan kepada saya adalah kebahagiaan Mama dan Papa sendiri. Mohon berikanlah saya hadiah tersebut.”

            Hari ini juga, kita mulai belajar tentang metode mendengarkan secara mendalam. Seperti yang sudah kita ketahui, kita harus berlatih sebelum dapat mendengarkan secara mendalam. Kadang “mendengar secara mendalam” bisa juga kita terjemahkan sebagai mendengarkan dengan kasih sayang. Kita mendengar dengan hanya satu tujuan: kita mendengar bukan untuk mengritik, menyalahkan, mengoreksi orang yang sedang bicara atau menyalahkan orang tersebut. Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu, mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan.

            Kita harus duduk dengan diam, kita harus duduk dengan kebebasan dari dalam. Tubuh dan batin kita harus hadir seratus persen, mendengarkan sehingga orang lain dapat meringankan deritanya. Jika orang itu mengatakan hal-hal yang tidak benar, yang merupakan persepsi yang keliru, mungkin timbul niat untuk menanggapi, untuk mengatakan, “Itu tidak benar!”

Lalu berdebat dengan mereka. Namun, jangan lakukan itu – kita harus duduk dan mendengarkan. Jika kita dapat duduk selama satu jam, maka satu jam tersebut adalah satu jam yang gemilang. Satu jam tersebut adalah satu jam yang dapat menyembuhkan dan mengubah.

Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan....

Kita bisa melakukan jauh lebih baik daripada para psikoterapis, karena ada psikoterapis yang belum belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam, belum belajar mendengarkan dengan kasih sayang. Para psikoterapis punya penderitaan mereka sendiri, mungkin banyak sekali penderitaan, sehingga kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam mereka tidak besar. Kita tidak tahu banyak teori psikoterapis, namun kita sudah berlatih berhenti dan melihat secara mendalam. Kita sudah berlatih mendengarkan secara mendalam. Oleh karena itu, kita bisa lakukan lebih baik daripada para psikoterapis.

            Kita gunakan metode mendengar secara mendalam, pertama kepada orang yang kita cintai dan keluarga kita. Begitu berhasil dengna keluarga, kita bisa membantu teman-teman kita. Kita bisa mendengar dengan sepenuh hati sehingga derita dunia berkurang: itulah praktek kita. Tentu saja, psikoterapis harus belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam sesuai latihan ini agar dapat menjadi psikoterapis yang baik.

            Saat sudah dapat mendengarkan secara mendalam, saat sudah tahu bagaimana melakukannya, saat sudah tahu bagaimana bicara dengan penuh kasih sayang, semuanya ini berfungsi menghidupkan kembali komunikasi di antara dua insan. Sebenarnya, saat tahu bagaimana mendengarkan secara mendalam, kita dengan sendirinya sudah bicara dengan kasih sayang. Pada ceramah berikut, kita akan belajar tentang menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan itu merupakan bagian dari Latihan Perhatian Murni Keempat. Kita akan belajar lebih banyak mengenai hal-hal ini dalam diskusi Dharma kita.

            Di zaman sekarang, tehnologi komunikasi sudah sedemikian maju. Kita punya segala jenis media komunikasi, seperti email, faksimil, dan telepon. Oleh karenanya, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain dengan cepat sekali dan dalam tempo beberapa jam saja, berita bisa datang dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya. Namun, ada hambatan dalam komunikasi antar insan di dalam keluarga, antara ayah dan anak, antara isteri dan suami. Maka dari itu, sungguh sangat penting bagi kita untuk belajar bagaimana mendengarkan secara sungguh-sungguh.

            Anak-anak telah mengatakan yang sebenarnya: alasan ayah dan ibu saling membuat diri mereka menderita adalah karena mereka tidak saling memahami, mereka tidak tahu bagaimana saling mendengarkan secara betul-betul. Mereka tidak punya kapasitas untuk menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih.

Ayah dan ibu tidak tahu, saat tengah membuat diri masing-masing menderita, mereka juga membuat anak-anak mereka menderita. Dan siapakah anak-anak mereka? Anak-anak mereka adalah kelanjutan mereka sendiri. Dengan kata lain, anak-anak kita adalah diri kita sendiri.

Saat membuat diri kita menderita, saat membuat suami atau isteri kita menderita, kita juga membuat anak-anak kita menderita. Anak-anak kita akan membuat cucu-cucu kita menderita, karena kita belum mempunyai kapasitas untuk menunjukkan seni menciptakan kebahagiaan atau seni membuat pasangan kita bahagia kepada anak-anak kita. Dan bagaimana anak-anak mempelajari hal-hal tersebut jika mereka tidak dapat mempelajarinya dari kita?

Jika mereka tidak belajar hal itu, mereka akan tumbuh besar dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang sudah kita lakukan, dan lingkaran samsara ini akan terus berlanjut dalam diri anak-anak kita. Derita kita akan diturunkan kepada anak-anak kita, lalu derita anak-anak kita akan diturunkan kepada cucu-cucu kita, sehingga lingkaran samsara ini tidak akan pernah berakhir.

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih...

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih. Menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan mendengarkan secara mendalam akan menbangun komunikasi. Ketika ada komunikasi dan pengertian di antara kita, kebahagiaan akan hadir di sana.




Sumber: Biksu Thich Nhat Hanh, “Hidup Bersama Secara Harmonis”, Penerbit Dian Dharma dan Pustaka Dharmajala, Jakarta, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar