Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 20 November 2010

Perdukunan




Perdukunan
Oleh UP. Dharma Mitra (Peter Lim)

Beberapa waktu yang lalu , masyarakat kota Medan disentakkan dari lamunan , yang seakan akan bagaikan mimpi yaitu dengan ditemukannya 42 korban kebiadaban, dukun Ahmad Suraji (AS) alias Nasib Kelewang (Datuk), di dusun I Aman Damai, Desa Sei Semayang Kecamatan Sunggal Deli Serdang. Semua korbannya adalah wanita, yang dijadikan tumbal untuk kesempurnaan ilmu hitam, yang di dalami (dituntut). Jasa praktek perdukunan, sudah merupakan rahasia umum, yang diharapkan bagi segelintir orang orang, yang tidak tahan di dalam menghadapi rintangan rintangan hidup atau tidak memiliki kepercayaan diri, menatap kenyataan kenyataaan yang telah terjadi. Di daerah daerah yang masih terpencil dan jauh dari jangkauan teknologi, praktek perdukunan sangat dominan mempengaruhi pola hidup masyarakat di sekitarnya. Di saat menghindari rintangan hidup, misalnya untuk mendapatkan kesembuhan, meminta hujan, menolak bencana alam atau mendapatkan kesejahteraan hidup, jasa dukun sangatlah diharapkan, apakah memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, itu adalah nomor dua. Yang terpenting, sang dukun telah berusaha, untuk memenuhi apa yang diminta (diinginkan). Kalau praktek perdukunan terjadi di daerah yang terpencil, itu adalah hal yang sangat lumrah dan umum dijumpai serta rasanya, tidaklah perlu diherankan lagi, karena kondisi masyarakatnya masih lugu, polos dan taraf pendidikannya, masih sangat minim. Tetapi di era teknologi yang serba canggih ini, terutama sekali di perkotaan, ternyata praktek perdukunan, juga tidak mengalami penurunan dalam hal "omzet : pemasukan", dan tidak sedikit yang dijumpai, baik yang datang secara terang terangan maupun sembunyi sembunyian. Dengan terungkapnya kasus Dukun Ahmad Suraji ( AS), yang telah membantai 42 orang korbannya dengan sadis, nampaklah dengan jelas bahwa praktek perdukunan, sesungguhnya lebih banyak dampak negatifnya, daripada yang diharapkan. Kasus korban dukun Ahmad Suraji (AS), bisa saja hanya merupakan satu, diantara sekian banyak kasus korban, yang dirugikan oleh praktek perdukunan, yang telah berhasil diketemukan (dibongkar) oleh aparat keamanan. Seperti yang telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, seseorang menggunakan jasa perdukunan adalah:
  1. Kurangnya rasa percaya diri, dalam arti kata, tidak memiliki suatu keyakinan bahwa dia mampu, untuk menyelesaikan problema problema yang sedang atau yang telah terjadi.
  2. Tidak sabar dan ingin secepatnya meraih atau menyelesaikan, apa yang diharapkan.
  3. Tidak yakin akan adanya hukum karma, bahwa setiap makhluk pasti akan memiliki, mewaisi dan terlindung oleh perbuatannya masing masing.
Selanjutnya, faktor faktor lain yang menjadi penyebab, sampai terjeremusnya seseorang menggunakan jasa perdukunan, pada umumnya adalah :
  1. MASALAH PERJODOHAN
    Hingga saat ini, masih terdapat anggapan keliru yang menyatakan bahwa hidup berdampingan alias sampai berumah tangga adalah hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan adanya anggapan yang keliru ini, bagi yang masih lajang / gadis, akan berusaha untuk mendapatkan pasangan yang didambakan, baik secara halus maupun kasar. Yang halus misalnya dengan menggunakan jasa dukun, yang salah satu wujudnya adalah dengan cara memasang "pemanis" untuk memikat yg diinginkan. Sedangkan cara yang kasar adalah dengan menculik atau menggunakan kekerasan lainnya. Ada juga pameo yang mengatakan jika " cinta ditolak maka dukun pun bertindak " Di dalam sabdanya, Sang Buddha menyabdakan, bahwa kebahagiaan bisa diraih, selain melalui jalur berumah tangga juga "non" berumah tangga, misalnya menjadi anggota Sangha (Bhikkhu / ni). Hidup berpasangan yang katanya "setia sehidup semati" , tidaklah bertentangan dengan Buddha Dharma, sejauh diraih dengan jalur yang benar dan tidak dengan cara cara yang kurang terpuji alias pemaksaan, misalnya melalui jasa perdukunan. Di media massa, hampir setiap hari bisa dijumpai berita berita perceraian, yang pada umumnya terjadi setelah beranak satu atau dua. Mengapa perihal ini sampai terjadi……? Ini merupakan salah bukti yang nyata bahwa jalur percintaan yang diawali dengan ketulusan hingga ke pelaminan, tidaklah menjamin kebahagiaan hingga ke anak cucu dan apalagi jika diraih dengan cara yang tidak benar, misalnya melalui jasa perdukunan (pemakaian "susuk ", " pemanis " atau " guna - guna ") Kalau demikian halnya, untuk apakah hidup berdampingan jika kebahagiaan jauh keberadaannya…? Bukankah setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan…? Bagi pasangan yang mendambakan kebahagiaan yang sesungguhnya, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat empat syarat yang harus dipenuhi.
    Pertama : milikilah samma saddha : keyakinan yang sama " Jika:
    1. Yakin bahwa setiap perbuatan (baik /jahat), pasti akan berdampak negatif maupun positif bagi si pembuat.
    2. Yakin bahwa ketidak kekalan, pasti akan dialami oleh setiap makhluk.
    3. Yakin bahwa kebahagiaan maupun penderitaan, sumber utamanya adalah diri sendiri .
    4. Yakin bahwa Triratna (Buddha, Dhamma dan Sangha) adalah tiga permata mulia, yang merupakan acuan, untuk mencapai pantai seberang NIBBANA/ NIRWANA dan seterusnya… maka milikilah pasangan yang demikian, agar jalur kehidupan yang dilalui, tidak saling bertentangan.
    Kedua : milikilah " samma sila : moral yang sama baik". Kalau pada dasarnya, kita memiliki sifat yang selalu berusaha, untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perzinahan, pendustaan dan memakan/ meminum yang menyebabkan, hilangnya kesadaran (bermabuk-mabukkan), maka carilah pasangan yang penuh dengan cinta kasih, jujur, setia,lemah lembut tutur katanya dan senantiasa mawas diri.
    Ketiga : milikilah " samma caga : keluhuran budi yang sama". Di kala kita berkenan melepaskan beban derita makhluk lain, hendaknya dia pun menyokong niat mulia ini. Dikala kita beraktivitas sosial, hendaknya dia pun ikut berpartisipasi dan seterusnya.
    Keempat : milikilah " samma panna : kebijaksanaan yang sama ". Di dalam tutur kata dan tindakan, hendaknya sama sama tidak merugikan, pihak manapun juga.
    Dengan dimilikinya ke empat (berkeyakinan, bermoral, berkeluhuran budi dan berkebijaksanaan yang sama) persamaan ini, maka pasangan (jodoh) yang dijumpai adalah yang abadi, di kehidupan ini maupun mendatang akan senantiasa bersama. Apakah dalam hal ini, jasa perdukunan masih dibutuhkan…?
  2. Masalah Materi
    Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di era yang serba materialistis ini, semua kedudukan dan ada kalanya kehormatan seseorang, ditakar atau diukur dari jumlah meteri yang dimiliki. Tetapi apakah materi yang berlimpah ruah, akan menjamin kebahagiaan bagi si pemilik……? Fakta telah membuktikan bahwa sejumlah hartawan yang hartanya ada dimana-mana , hidupnya berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan, misalnya ketakutan, stress dan bahkan ada yang melakukan bunuh diri agar terlepas dari cengkraman problema problema kehidupan ini. Bagi yang berpengertian benar, harta materi hanya dimanfaatkan sebatas sarana, untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik bagi diri sendiri maupun makhluk lain yang membutuhkan uluran tangannya. Materi yang diraih dengan jalur yang benar, penuh dengan semangat dan kesabaran serta tanpa menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain, juga merupakan salah satu modal awal, untuk dinikmatinya dengan penuh kebahagiaan. Oleh Sang Buddha ditekankan bahwa kelebihan materi yang berhasil diraih juga bisa dijadikan motivasi awal, untuk meraih kebahagiaan apabila diperoleh dengan cara yang benar serta tidak melanggar kesilaan. Akan adakah manfaatnya, jika kelebihan materi yang berlimpah ruah ini, mengisi kehidupan dengan segala perasaan yang tidak menentu, misalnya: " was was, takut, kecewa dan cemas"? Dan dapatkah dalam hal ini jasa pedukunan membuat orang menjadi kaya bagaikan mie yang serba " instant : segera "….? Kalau dapat, mengapa realitanya para dukun, kebanyakan dijumpai masih berada dalam kondisi melarat (miskin), sedangkan disisi yang sebaliknya, kelebihan materi adalah dambaan setiap orang….? Adakah dukun yang mengharamkan kekayaan materi bagi dirinya ….? Bukankah ini suatu hal yang cukup ironis….? Sesuai dengan konsep hukum karma yang diajarkan oleh Sang Buddha, sesuai dengan apa yang ditanam maka itulah yang akan dipetik. Jika jagung yang ditanam maka jagung pulalah yang akan dipanen dan tidaklah mungkin tomat dan sebaliknya. Dan jika sering berdana dalam bentuk materi maka akan terlimpahi dengan kelebihan - kelebihan meteri. Mengapa pula harus gelisah dan takut, untuk menghadapi masa mendatang, bukankah kitalah penentuannya….? Ingin kaya, maka rutinlah berdana dalam bentuk materi !, itulah satu satunya cara yg terlogis, yang seharusnya diterapkan agar terbebas dari dampak negatif yg tidak diharapkan.
  3. Masalah Penyakit
    Yang namanya makhluk hidup adalah ladang yang tersubur, untuk diserang oleh bibit bibit penyakit. Kalau berdasarkan " diagnosa " dokter disimpulkan bahwa kita menderita sakit A, B atau C, maka alangkah bijaksananya, sesegera mungkin membeli obat - obatan yang telah diresepkan . Tetapi pada kenyataannya, masih ada juga yang telah berobat ke dokter, masih menjumpai dukun untuk memohon penyembuhan. Alhasil apa yang didapatnya….? Umumnya adalah kekecewaan dan diluar dari yang dikehendaki.
    Di alam pemikiran yang logis, apakah mungkin dengan hanya mengumandangkan sejumlah kalimat, yang menurut empunya memiliki kekuatan gaib dan ampuh, serta bisa menyembuhkan beragam penyakit..? Kalau benar adanya, ngapain lagi seseorang mengikuti kuliah yang lamanya, bisa saja puluhan tahun, untuk mengambil spesialis ini dan itu…? Sering dijumpai, kasus yang seharusnya bisa diselamat,eeeeh akhirnya menjadi tamat (mati) karena tidak meyakini, akan hasil diagnosa dokter. Dibawah ini terdapat sebuah kisah nyata, yang pernah terjadi pada seorang usahawan yang cukup sukses. Suatu hari, usahawan tersebut mengeluh kesakitan, di sekitar sebelah kiri dadanya bagaikan ditusuk jarum halus. Setelah di diagnosa oleh seorang dokter spesialis jantung (cardiologist) maka disimpulkan bahwa dia menderita "angina pectoris: penyumbatan pembuluh darah jantung " dan disarankan agar sesegera mungkin, menjalani " coronary bypass : operasi jantung " dan jika tidak, maka kemungkinan hidup hanya 50 % saja. Usahawan yang termasuk kaum "behave : beruang " ini, , bukannya mengikuti nasehat dokter, malahan mencari dukun. Setelah dikonsultasikan dengan Sang dukun maka disimpulkan bahwa bedah jantung tidaklah diperlukan dan semua keluhan yang dirasakan, tidak lain penyebab utamanya adalah gangguan dari makhluk halus. Setelah dijampi jampi dengan sejumlah kalimat yang sukar sekali dimengerti, si usahawan dinyatakan sembuh. Sebulan kemudian, si usahawan diberitakan meninggal mendadak akibat dari penyumbatan di pembuluh darah jantung. Dan masih banyak lagi kisah kisah nyata, yang tidak sepantasnya terjadi, eeeeh malahan terjadi….Siapakah yang bodoh dalam hal ini…….? Sang Buddha kalau sakit tetap makan obat, mengapa kita sebagai siswanya mau dipengaruhi untuk mempercayai sesuatu yang tak seyogyanya diyakini…..? Inilah yang namanya "moha : kebodohan" ! 
  4. Masalah Kegagalan, Kekuasaan dan Masa Depan
    Kegagalan….. siapa sich yang tidak pernah mengalaminya…? Berawal dari belajar merangkak, berjalan dan berlari, rasanya sudah tak terhitung lagi, kita mengalami jatuh bangun…? Demikian juga halnya, dikala ingin meraih juara satu, tetapi kenyataannya, jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah dewasa, begitu berkeinginan memikat si A, ternyata sudah di booking orang (ada yang punya) dan seterusnya. Berdasarkan pada pengalaman ini, haruskah kita mencari jalan pintas, dengan menggunakan jasa perdukunan agar terbebas dari kegagalan…..? Begitu pula halnya dengan kekuasaan, siapapun pasti mendambakannya. Tetapi jika diraih dengan jalur yang tidak benar, akankah bermanfaat..? Bukankah, alangkah nikmatnya hidup ini jika kita selalu disegani daripada ditakuti…? Dan sudah merupakan hukum alamnya bahwa jika kita disegani maka akan menimbulkan rasa enggan dan simpati, dan tiada niat jahat dari pihak manapun juga, untuk mau menyakiti dan apalagi mencederai diri kita. Tetapi jika kita selalu ditakuti oleh orang lain maka konsekwensinya adalah bersiap sedialah 24 jam non-stop, menyewa seorang tukang pukul agar hidup ini bisa berjalan normal dan selamat. Pada umumnya, unsur ketakutan bisa muncul kepermukaan karena adanya perasaan yang tertekan oleh kekuasaan yang otoriter/diktator, tetapi rasa segan/kagum bisa muncul (timbul) karena adanya rasa simpati yang mendalam disertai oleh unsur kelembutan serta keluwesan. Selanjutnya, berbicara mengenai masa depan…apakah perlu dirisaukan…? Sesuai dengan konsep hukum karma bahwa keberadaan atau kondisi yang dimiliki/dirasakan hari ini, tidaklah terlepas daripada timbunan perbuatan perbuatan yang telah diperbuat. Kalau ingin (mengharapkan) kondisi masa depan yang lebih bahagia dan sejahtera maka kuncinya hanya satu yaitu dengan menimbun kebajikan sebanyak banyaknya.
KESIMPULAN :
Praktek perdukunan tidaklah sesuai dengan Konsep Buddhis. Di dalam " Vinaya : peraturan kebhikkuan " ditekankan bahwa seorang Bhikkhu yang meramal - ramal masa depan siapapun juga akan dikenakan sanksi. Untuk terhindar dari jeratan prakter perdukunan, marilah kita tingkatkan;
  1. Rasa percaya diri yang kuat Yakinlah selalu bahwa dia bisa mengapa pula aku tidak…?
  2. Memiliki kesabaran dalam segala hal. Oleh bersabarlah baru kita bisa melatih diri dengan baik.
  3. Yakinlah hukum karma dengan sebaik - baiknya jangan mencari perlindungan diluar dirimu dan berlindunglah dengan kekuatan dari karma (perbuatan baik) yang diperbuat.
    Semoga dengan adanya pengertian yang benar, hendaknya kita tidak lagi terjerumus kepandangan- pandangan salah, untuk meraih sesuatu yang diluar logika…. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu- sabbe satta bhavantu sukhitata…sadhu….sadhu……… .sadhu……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar