Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Rabu, 17 November 2010

TELAAH MUSIBAH

 
TELAAH MUSIBAH
Oleh Dr. K. Sri Dhammananda Maha Nayaka Thera
 
 
Pembabar adalah bhikkhu asal Sri Lanka yang menjadi Ketua Sangha Malaysia dan Singapura. Artikel ini dituliskan berdasarkan ceramah yang disampaikan dalam "Dewan Berkah Dharma untuk Korban Tsunami", di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 15 Januari 2005. Sumber: The Buddhist Channel, 24 Februari 2005. Judul asal: The Anatomy of Disaster. Penerjemah: Suheryati, Palembang. Penyunting: Handaka Vijjananda, Yangon. Pelansir: Ehipassiko Foundation.

 
Prahara tsunami yang melanda negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia pada Desember tahun lalu telah mempertontonkan kedahsyatan kekuatan alam dengan berbagai cara. Banyak orang mempertanyakan penyebab terjadinya bencana semacam itu; apakah ini suatu pertanda "murka Tuhan" untuk menghukum umat manusia atas segala kesalahan yang diperbuat di bumi?
 
Sebelum kita melangkah dan membuat asumsi-asumsi bahwa beberapa kekuatan eksternal adalah penyebab kerusakan besar-besaran seperti itu, terlebih dahulu kita harus belajar memahami sifat hakiki keberadaan, khususnya keberadaan manusia.
 
Kata "manusia" diturunkan dari kata Sanskerta "manussa" yang berarti 'manusia'. Kata "manussa" berasal dari "mana" yang berarti 'pikiran'. Di antara segenap alam kehidupan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berkesempatan untuk menjadi Buddha. Manusia mempunyai kesempatan ini karena mereka memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan untuk mempertanyakan keberadaan mereka, bagaimana dan mengapa mereka terlahirkan di dunia ini, dan tentang arti kehidupan itu sendiri.
 
Melalui pengerahan kecerdasan seperti itu, manusia mampu mengembangkan pengetahuan mendalam tentang sifat kehidupan, apa yang membentuk kehidupan manusia, dan sifat makhluk itu sendiri. Melalui penyelidikan seperti ini, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa segenap makhluk hidup dan alam semesta merupakan gabungan berbagai unsur dan energi.
 
Unsur-unsur ini—tanah, angin, air, dan panas—diatur oleh hukum-hukum kosmik alamiah dan universal yang berlangsung dalam siklus abadi pemunculan, pertumbuhan, penuaan, dan pelenyapan. Dunia objek-objek bernyawa dan tak bernyawa ini eksis di atas berbagai dasar kondisi dan keberlangsungan fenomena mental dan fisik yang diatur oleh hukum-hukum alam (dhammaniyama).
 
Buddha berbicara tentang lima hukum alam, salah satunya adalah hukum energi (utuniyama). Energi, dalam kedua wujud panas dan dingin, menyebabkan banyak perubahan di dalam tubuh dan lingkungan. Energi selalu dalam keadaan mengalir, terus berubah, dan selalu mencari keseimbangan. Inilah kaidah yang mengatur perubahan-perubahan di dalam tubuh, seperti usia tua dan sakit, atau dalam konteks ekologis berkenaan dengan hal-hal seperti iklim, musim, dan pergerakan bumi.
 
Buddha telah menerangkan dengan sangat gamblang bahwa kerja hukum ini tidak terbatas pada dunia fisik ini saja, tetapi juga di segenap alam semesta. Hukum ini mempengaruhi setiap tata surya dan semua bentuk metafisika kosmik, baik berupa materi maupun non-materi. Semua unsur ini mengalami perubahan, mengalami ketidakseimbangan dari waktu ke waktu.
 
Begitu pula kehidupan, kehidupan manusia dan bumi dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Mereka menjadi renta, mati, dan lahir, lagi dan lagi, tunduk pada suatu siklus kosmik nan tak berkesudahan. Bencana terjadi dari waktu ke waktu karena unsur-unsur dasar seperti air, tanah, angin, dan api senantiasa dalam perubahan konstan dan perlu mencari keseimbangan. Karena itulah Buddha mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah tidak memuaskan (dukkha), karena manusia juga mengalami perubahan semacam itu. Dikarenakan perubahan universal ini, tanpa pandang status atau spesies, setiap makhluk mengalami dukkha.
 
Di satu sisi, ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri dan bahwasanya sebagai manusia pada akhirnya kita dapat mengendalikan kekuatan kamma kita, namun demikian, umat buddha tidak menganut kepercayaan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma belaka. Umat Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan lain dari alam. Seperti yang kita lihat, kamma hanyalah salah satu aspek dari hukum alam. Oleh karena itu, paham yang menggampangkan bahwa semua pengalaman hidup hanya disebabkan oleh kamma adalah tidak benar.
 
Pemahaman adanya berbagai unsur yang bersemayam di alam fisik dan mental ini akan membantu kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih jernih mengenai bagaimana suatu kejadian tunggal bisa diakibatkan oleh lebih dari satu penyebab dan bagaimana berbagai faktor penentu bisa serempak terlibat dalam pengondisian peristiwa atau pengalaman tertentu. Biasanya, ketika ada lebih dari satu kaidah yang bekerja, kaidah yang lebih dominanlah yang akan berlaku.
 
Sebagai contoh, suhu (utuniyama) yang ekstrem dapat mempengaruhi kondisi pikiran (cittaniyama) dan mengakibatkan seseorang gampang merasa tidak nyaman; atau kekuatan tekad membaja (cittaniyama) mungkin untuk sementara waktu mengatasi pengaruh lingkungan (utuniyama) negatif dan buah kamma (kammaniyama). Dalam kasus bencana alam, energi kamma menjadi non-aktif karena dahsyatnya daya pergerakan tanah dan air, seperti gempa bumi dan tsunami. Pemusnahan akibat bencana tsunami Asia adalah suatu perunjukan tak berdayanya hukum kamma terhadap hukum alam (utuniyama).
 
Gelombang pemusnah yang merenggut ratusan ribu kehidupan berlangsung tanpa pandang kebaikan para korban. Mereka yang punya kamma baik dan punya kamma buruk sama-sama menderita. Tak seorang pun, dan apa pun, mampu melarikan diri dari kekuatan seperti ini, yang menunjukkan bahwa ketidak-kekalan adalah sesuatu yang kekal adanya. Ajaran Buddha dilandaskan pada penerimaan akan kebenaran universal ini. Memiliki pemahaman mendalam mengenai pengetahuan tersebut akan memungkinkan kita untuk menerima dengan batin seimbang apa yang tidak dapat diubah, dan oleh karena itu memungkinkan kita menyalurkan energi positif untuk penggunaan yang lebih produktif, lebih spiritual.
 
Mengembangkan belas kasih dan mempertahankan kebaikan adalah hal yang penting bagi manusia sebagai cara untuk belajar hidup dengan perubahan yang terus-menerus seperti itu. Untuk hidup tenang tidak berarti kita harus menaklukkan alam. Kita perlu memiliki pemahaman dan penghargaan mendalam terhadap kekuatan-kekuatan alam. Inilah alasan yang tepat; menyalahkan kekuatan-kekuatan eksternal (seperti Tuhan) atas petaka besar akibat bencana tsunami adalah hal yang keliru. Tak perlu menyalahkan siapa pun, dan tak ada apa pun yang perlu dipersalahkan.
 
Tidak perlu mencari-cari alasan tindakan Tuhan karena bencana tsunami dengan jelas telah menunjukkan kefanaan unsur-unsur bumi. Hal ini telah nyata-nyata membuka mata kita terhadap keterkondisian alam, kefanaan, dan ketiadaan inti yang ajek. Inilah pula alasan bahwa kita perlu belajar untuk tidak mengembangkan nafsu keinginan terhadap hal-hal duniawi. Kemelekatan terhadap diri fisik kita sendiri dan terhadap lingkungan pasti akan membuat kita lebih menderita karena kelahiran kembali pada masa mendatang bisa membuat kita mengalami kekuatan-kekuatan hukum alam yang tak terduga seperti itu. Kita bahkan dapat menggunakan peristiwa ini sebagai suatu pelajaran demi keselamatan, yaitu untuk berusaha terlahir di "tempat yang sesuai" (patiropadesavaso, dari Mangala Sutta, Ceramah Tentang Berkah), bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh hukum-hukum alam seperti itu.
 
Bencana ini juga merupakan pengingat tepat waktu bagi kita untuk mengkaji kembali bagaimana kita hidup, dan untuk meninjau kembali hubungan kita dengan alam. Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (paticcasamuppada) menjelaskan tentang kejadian pikiran dan tubuh dalam suatu ikatan saling interaksi dan ketergantungan. Apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan membawa dampak jauh melampaui keberadaan jasmani kita ini. Jika kita mencemari tanah, dampaknya akan datang menghantui kita melalui air yang tercemar. Jika kita mengambil sikap selalu ingin menaklukkan alam, berpikir bahwa kepandaian kita adalah yang paling unggul, kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi kemurkaan alam.
 
Bencana adalah suatu pengingat bagi kita untuk kembali menyikapi kebenaran silam akan kebersahajaan. Ini terasa benar dalam masa-masa dewasa ini, ketika pembangunan yang berlebihan telah menyebabkan menganganya ketidakseimbangan ekologis. Studi menunjukkan bahwa jika gosong karang di lepas pantai Sri Lanka masih utuh, itu akan berperan sebagai penyangga untuk mengurangi dampak ombak yang menghantam pantai. Sepanjang pantai India, keberadaan rawa bakau telah menunjukkan dengan jelas bahwa karya alam semacam itu dapat membantu mencegah musibah yang lebih besar.
 
Hidup bersahaja dalam masyarakat dewasa ini tidak berarti menyerah pada kemiskinan. Hal ini berarti memiliki kemampuan dan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam sekitar. Itu berarti tidak merusak alam dan menciptakan llingkungan buatan untuk memuaskan selera kita. Hidup dalam kebersahajaan berarti saling mendorong untuk menjadi baik dan berbelas kasih, sehingga nilai-nilai kemanusiaan mengungguli hasrat-hasrat keduniawian.
 
Tatkala dunia berduka untuk para korban, marilah kita memupuk rasa belas kasih dan melimpahkan jasa bagi mereka yang meninggal. Kita dapat melakukan hal ini dengan berbagai cara. Satu, kita berbuat jasa dengan kita sendiri memberikan usaha pertolongan, sehingga kita dapat memberikan bantuan langsung bagi mereka yang menderita. Yang kedua, kita memancarkan energi batin positif untuk orang-orang yang meninggal agar mereka terlahir kembali dengan lebih baik. Yang ketiga, mari kita juga memancarkan pikiran cinta kasih untuk para relawan penolong yang pada saat ini tengah berbuat yang terbaik untuk menyokong para korban.
 
Semoga kita semua belajar untuk menjadi sadar dan lebih peka terhadap diri kita dan alam sehingga kita dapat hidup selaras dengan alam dan semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar