Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Selasa, 16 November 2010

True Power

True Power
Oleh Thích Nhất Hạnh
Diterjemahkan oleh: Chân Pháp Tử (B. Nyanabhadra)

Anggap saja engkau adalah seorang abang atau kakak, ketika engkau melihat adik kecilmu, engkau bisa melihat bahwa dirimu ada di dalam adikmu, adikmu adalah dirimu juga. Anggap saja engkau adalah seorang ayah atau ibu, ketika engkau menatap anak kandungmu, engkau juga bisa merasakan bahwa anakmu adalah dirimu sendiri juga. Anak-anakmu adalah keturunanmu (kelanjutan dari dirimu). Ketika engkau sudah tidak melihat ada perbedaan antara dirimu dengan adikmu atau orang tuamu, maka kemarahanmu akan menguap seketika itu juga.

Engkau bisa melihat dengan jelas bahwa deritamu merupakan derita dia juga, kebahagiaan mereka juga merupakan kebahagiaanmu. Pengertian yang lahir atas pemahaman seperti ini akan membantumu untuk mengurangi penderitaanmu, persepsi keliru; pengertian ini membantu kamu bebas dari rasa tidak nyaman.

Ketika engkau menjadi seorang yang memegang tampuk kepemimpinan, dan engkau begitu menderita karena harus berhadapan dengan berbagai pihak, maka engkau akan merana sekali, namun apabila engkau tahu cara memeditasikan “tiada aku”, engkau akan mengetahui tindakan apa yang harus ditempuh untuk mengurangi penderitaanmu sendiri maupun penderitaan orang lain yang sedang kamu hadapi.

Ketika ayah dalam kobaran api kemarahan kemudian menyebabkan anaknya menderita, sesungguhnya sang ayah sedang membuat dirinya sendiri menderita juga, karena sang anak merupakan satu garis keturunan dirinya. Mengerti bahwa ayah dan anak memiliki koneksi erat, pengertian seperti ini akan membantu mereka memadamkan kobaran api kemarahan, meredakan penderitaan diantara mereka. Pengertian ini bisa disebut sebagai suatu jenis kekuatan (power), kekuatan yang bisa membantu kita terbebas dari penderitaan, pembebasan dalam ajaran Buddha bukanlah berasal dari anugerah, tapi pembebasan yang bisa dihasilkan dari pengertian! Pengertian merupakan hasil dari konsentrasi, pembebasan ini yang kita sebut Nirwana.

Begitu banyak penderitaan yang hadir dari landasan persepsi keliru, diskriminasi, gagasan tentang “aku / ego”, gagasan tentang kelahiran dan kematian, gagasan “sama” dan “beda”, gagasan datang dan pergi, gagasan seperti ini sungguh banyak membawa penderitaan dan ketakutan. Nirwana adalah terlepas dari gagasan seperti itu.

Selama kita hidup dalam kesadaran, kita tahu persis bahwa kesadaran memiliki kekuatan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, peristiwa apa yang sedang terjadi di sekarang ini dan di momen ini. Ketika engkau mengetahui ada sesuatu yang positif, engkau bisa menerima manfaat darinya, membantu kita untuk menuju penyembuhan luka. Ketika energi kesadaran mendeteksi ada sesuatu yang negatif, maka energi ini akan membantu menyembuhkan, membantu kita menjadi lebih ringan, jadi energi kesadaran merupakan energi yang sanggup menyangga penderitaan, kemarahan, keputusasaan, ketika engkau tahu bagaimana menyangga penderitaan melalui cara demikian, engkau akan lebih cepat lega, energi kesadaran membantu kita untuk melihat lebih dalam, menghadirkan pengertian dan pembebasan.

Kesadaran penuh (sati), merupakan energi yang menarik, energi ini bisa membantu sekaligus menjadi sumber energi baru untuk penyembuhan. Dalam ajaran Buddha kita berbicara sejenis kekuatan, namun kekuatan ini berbeda dengan kekuataan (kekuasaan, pengaruh) duniawi, kekuatan yang hanya menghadirkan kebahagiaan, bukan sebaliknya malah mendatangkan penderitaan.

Di dunia ini, semua orang mengejar kekuatan dan kekuasaan, terutama banyak orang terus mengejar kekuasaan politik, kekuasaan finansial, banyak orang merasa bahwa ketika mereka mendapat kekuasaan seperti itu, maka kekuasaan seperti itu akan mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan, namun ketika engkau melihat lebih dalam, ternyata banyak orang yang mengejar kekuasaan seperti itu malah menderita sekali, karena kekuasaan seperti itu ternyata sungguh tidak mudah untuk memperolehnya.

Dalam perjalanan perebutan kekuasaan, mereka yang sudah mendapatkan kekuasaan di dalam genggamannya juga menderita, karena mereka selalu merasa kekuasaanya selalu tidak mencukupi, sebut saja perdana menteri British, tentu saja dia punya banyak kekuasaan, namun saya tahu dia tak berdaya, bahkan sama sekali tak bisa berbuat apa-apa! Engkau sudah punya kekuasaan dan namun pada saat bersamaan engkau merasa tak berdaya. Demikian juga presiden Amerika terdahulu, “Bush”, mau melanjutkan tugasnya sebagai presiden tapi justru dia ditentang oleh banyak orang, mau mundur juga menabrak tembok gengsi, dia seperti orang terjepit, seperti orang yang menelan buah simalakama, di muntahkan tidak bisa, ditelan juga rasanya pahit sekali! Sungguh kasihan nasib mereka, lihatlah perdana menteri British dan presiden Amerika, mereka dibelit begitu banyak penderitaan, syukur engkau bukan presiden Amerika.

Apabila engkau berlatih 5 kekuatan (power) sebagaimana yang dijelaskan oleh Buddha maka engkau di posisi aman, apabila engkau tidak berlatih 5 kekuatan ini maka, kekuasaan yang ada ditanganmu akan berbalik menyerangmu, karena tanpa dimensi spiritual 5 kekuatan itu, engkau cenderung menyalah gunakan kekuasaan yang ada digenggamanmu, engkau selalu bertindak sewenang-wenang dengan menggunakan kekuasaan itu.

Anggap saja engkau adalah seorang kakak, engkau punya tendensi untuk bertindak sewenang-wenang terhadap adikmu, menggunakan kekuasaanmu sebagai kakak untuk menindas adik kecilmu. Apabila engkau sebagai ayah atau ibu, engkau juga sangat tergiur untuk menggunakan kekuasaanmu untuk menekan dan mengendalikan anakmu, dengan cara demikian engkau melahirkan tumpukan penderitaan-penderitaan bagi anakmu dan dirimu sendiri. Zaman sekarang banyak anak yang membenci orang tuanya karena orang tua banyak menyalahgunakan kekuasaannya, menyalahgunakan otoritasnya, banyak orang tua yang sangat terdorong untuk melakukannya.

Ketika terjadi pertengkaran antara ayah dan anak, maka terjadi ketidakadilan di situ, karena ayah selalu punya kekuasaan lebih, namun kekuasaan ini ternyata membawa begitu banyak penderitaan bagi sang anak juga dirinya sendiri, oleh karena itu engkau perlu hati-hati dalam menggunakan kekuasaan yang kamu miliki, walaupun itu kekuasaan kecil, ternyata kegiuran untuk menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain ternyata sangat besar.


Kekuatan Pertama: “Kebajikan Memotong”
Dalam ajaran Buddha ada kekuatan atau otoritas seorang guru, seorang guru memiliki 3 kekuatan (kemampuan, kebajikan) sejati, kekuatan pertama adalah kekuatan untuk memotong. Memotong apa? Guru memiliki kekuatan untuk memotong kemarahanmu, memotong keserakahanmu, memotong ketidaktahuanmu, ketika engkau berlatih menjalankan sila maka engkau secara perlahan-lahan memotong keserakahan, kemarahan, kekotoran batin. Apabila gurumu tidak memiliki kekuatan itu maka, dia tidak bisa disebut seorang guru sejati dan orang lain tidak akan respek padanya. Setelah memotong keserakahan, kemarahan, ketidaktahuan, maka engkau memperoleh kekuatan baru!

Ketika engkau melihat seorang kakak memiliki kebajikan seperti itu, kebajikan untuk memotong, maka rasa respek akan muncul secara natural, nasihat yang dia berikan akan diterima dan dilaksanakan secara natural, inilah jenis kekuatan yang dimiliki olehnya, kekuatan bukanlah otoritas menindas seorang kakak, ayah, guru karena posisinya yang lebih tinggi. Inilah kekuatan sesungguhnya, kemampuan membantu kita memotong keserakahan, kemarahan, kekesalan, ketidaktahuan, dan sebagainya.

Kekuatan Kedua : “Kebajikan untuk Memberikan”
Kekuatan kedua yang dimiliki seorang guru yang baik adalah kekuatan (kemampuan) untuk mencintai, guru memberikan cinta, memberikan bantuan, karena seorang guru adalah seseorang yang siap memberi, memberikan uluran tangan, inilah yang disebut cinta (sayang), dengan demikianlah banyak orang menghormati guru ini, banyak orang menghormati guru ini bukan karena dia berteriak karena menggunakan kekuasaan sebagai guru, engkau tidak bertindak demikian, namun engkau siap memberikan, memberikan cinta kasih dan mengulurkan tangan untuk membantu.

Kekuatan Ketiga: “Kebajikan Pengertian Mendalam”
kekuatan ketiga yang dimiliki oleh seorang guru adalah pengertian mendalam (kebijaksanaan), guru yang bijaksana bukanlah dia yang punya banyak pengetahuan tentang sutra, walaupun dia telah banyak mengumpulkan berbagai jenis pengetahuan tentang sutra namun pengetahuan ini bukanlah pengalaman nyata dalam latihan yang melahirkan pengertian mendalam. Ada orang yang bisa menghafal seluruh isi Tripitaka, ada orang yang bisa mengajar dengan mantap namun mereka tidak punya pengertian yang dihasilkan dari praktik, mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Jadi seorang guru sejati adalah guru yang memiliki pengertian mendalam, pengertian yang membantu mereka untuk menerangi jalan hidup untuk mengatasi derita.

Ketika engkau berada dalam situasi sulit, engkau tidak tahu harus berjalan ke arah mana, engkau terjebak! Ketika engkau pergi bertemu dengan guru ini, maka dia akan membantu kamu menerangi jalan yang harus dilalui, engkau akan melihat berbagai solusi atas masalah itu, karena seorang guru memiliki 3 jenis kebajikan, dan kebajikan inilah yang merupakan kekuatan sesungguhnya, kekuatan ini bukan karena semata-mata karena jabatannya. Bukan karena dia memiliki jabatan sehingga dia punya kekuatan! Jabatan saja bukanlah kekuatan sesungguhnya, namun memiliki kemampuan memotong, kemampuan memberikan kasih sayang dan uluran tangan untuk membantu, Pengertian mendalam atau kebijaksanaan yang bisa disebut sebagai kekuatan sesungguhnya (True Power).

Bayangkan saja kalau seorang perdana menteri memiliki 3 jenis kekuatan ini, barangkali dia akan bisa bertugas lebih baik, bahkan dia tahu bagaimana menggunakan 3 kekuatan ini untuk membawa rekonsiliasi dan perdamaian antara berbagai pihak yang sedang bertikai, menghadirkan harmonisasi di negaranya, demikian juga bisa membantu negara lain, oleh karena itu sebagai pemimpin kita perlu mencari kekuatan seperti ini.

Khalayak ramai percaya bahwa ketika mereka memiliki kekuasaan politik, mereka bisa melakukan banyak hal demi kebahagiaan negaranya bahkan dunia, namun kenyataanya tidaklah demikian, jika engkau tidak memiliki kekuatan sesunggunya yakni kekuatan spiritual, engkau akan cenderung menyalahgunakan kekuatan itu, engkau akan menciptakan penderitaan lebih banyak lagi bagi dirimu sendiri, orang disekitarmu dan semua orang.

Pangeran Siddharta, sebelum beliau pergi berlatih sebagai seorang petapa, dia sudah melihat dan mengerti kondisi ayahnya, walaupun ayahnya seorang raja namun serasa tak berdaya sama sekali, melihat koruptor disekelilingya, namun ayahnya tidak sanggup membasmi korupsi karena ayahnya masih terjebak dalam ketakukan akan kehilangan orang-orang cakap yang membantunya, oleh karena itulah Siddharta tidak ingin menjadi raja, tidak mau terjun dalam politik, karena dia tahu bahwa kekuasaan seperti itu tidak akan membuat dirinya maupun rakyatnya bahagia.

Tentu saja kita tahu para politisi dan pebisnis memiliki banyak kekuasaan, namun ketika engkau melihat lebih dalam, engkau bisa mengerti bahwa kekuasaan yang mereka miliki justru menciptakan banyak penderitaan disekitar mereka. Oleh karena itu, sekarang adalah saatnya untuk merenungkan ulang tentang gagasan Kekuatan (kekuasaan) kemudian merubah haluan hidup kita.

Rosseau pernah berkata, “The one who is the strongest, is never strong enough, the strongest is never strong enough in order always to be the master or boss”

Orang yang memegang tampuk kekuasaan selalu akan ditantang oleh orang lain, Jika kekuasaan itu bukan berasal dari kekuatan spiritual dalam konteks hidup sadar (eling), konsentrasi, dan pengertian mendalam, keyakinan, dan semangat. Landasan kekuatan spiritual akan diterima secara alami orang orang lain, mereka akan menyanjung tinggi kekuatan ini, kekuatan keadilan, kekuatan untuk memberi perintah.

Jika seseorang memiliki kekuasaan dan seseorang lainnya tidak memiliki kekuasaan, walaupun orang lain harus menerima otoritas atas dirinya, kita bahkan harus tunduk pada orang berkekuasaan itu, namun terus saja ada tendensi untuk menantang. Apabila kita berbicara tentang kekuatan spiritual, maka tidak ada pergolakan di situ, tidak ada orang yang ingin menantangnya, ketika kekuatan (kekuasaan) yang dilandasi oleh cinta kasih, pengertian mendalam, terbebas dari dengki, kekuatan seperti ini tidak akan pernah ditantang.

Kita semua termotivasi untuk menjadi bahagia, kita perlu sejumlah kekuatan untuk menjadi bahagia, namun kekuatan seperti apa yang perlu kita upayakan, inilah pertanyaannya, inilah topik nyata untuk meditasi buat semua orang di sini.

Ketika ada suatu kejadian yang membuatmu tidak senang, ketika kejadian itu terjadi pada dirimu, keluargamu, komunitasmu, engkau sangat terdorong untuk segera merubahnya, engkau juga sudah tergiur untuk menggunakan kekuasaan kecil yang kamu miliki, kekuasaan sebagai seorang ayah, ibu, kakak tua, atau kekuasaan karena memiliki uang, engkau hendak merubah situasi dengan menggunakan kekuasaan seperti itu, inilah saat paling tepat bagimu untuk berlatih melihat lebih dalam, apakah cara yang engkau pakai itu akan membuat diri sendiri atau orang lain merasa nyaman atau tidak, apakah cara itu berlandaskan kekuatan spiritual atau tidak?

Ketika engkau punya murid yang tidak mau berlatih sesuai petunjuk, tentu saja sang guru akan terdorong untuk menggunakan kekuasaan yang dimilikinya sebagai guru untuk memaksa muridnya untuk berlatih, bahkan dengan cara teriak, menghukum. Tentu saja seorang guru yang masih muda selalu salah langkah ketika dalam karir awalnya sebagai guru, seorang guru patut berlatih seperti para orang tua, para kakak, kita perlu terus belajar dan mengerti.

Engkau tahu persis bahwa untuk membantu murid, demi membantu anakmu, engkau sudah seharusnya tidak menyalahgunakan kekuasaan yang engkau miliki, engkau perlu belajar mengikuti cara buddhis, engkau hendaknya menggunakan kekuatan yang tidak mendatangkan duka, kekuatan itu adalah kekuatan untuk memotong kemarahan, memotong ketidaktahuan, memotong keserakahan, engkau perlu menggunakan kekuatan untuk memberi cinta, memberi maaf (memaafkan), engkau perlu menggunakan kekuatan pengertian mendalam (kebijaksanaan). Ketika engkau menggunakan kekuatan ini, engkau aman! Engkau bisa membantu muridmu, anakmu, bawahanmu tanpa harus menciptakan duka bagi diri sendiri dan orang lain.

Ketika engkau bisa melihat dengan jelas hal demikian, engkau selayaknya berlatih untuk menumbuhkan kekuatan demikian dalam dirimu, karena inilah kekuatan sesungguhnya, karena kekuatan ini memiliki kemampuan untuk merubah, mentransformasi dan tidak akan mendatangkan penderitaan dan keputusasaan.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar