Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Minggu, 28 November 2010

Menuju Pandangan Terang



Menuju Pandangan Terang
Oleh: Alm. Yang Arya Bhikkhu Girirakkhito Mahatera



Dalam setiap kebaktian pembacaan paritta yang diterjemahkan dengan baik, mudah-mudahan akan meresap dan semoga lambat laun akan menimbulkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Berarti setiap minggu saudara-saudara dengan rajin memupuk pengetahuan, kebijaksanaan, moral dan budi pekerti sehingga benar-benar menjadi umat Buddha yang kualitatif.

Saudara, kita sangat perlu menjaga batin kita dengan kebijaksanaan. Pengetahuan Dhamma yang kita kumpulkan jadikanlah backing yang ampuh bagi gerak-gerik mental kita, jangan sampai kita dipengaruhi oleh kebodohan, pandangan keliru atau sesat yang akan mengakibatkan malapetaka, rintangan dan ancaman-ancaman. Jangan sampai berhenti menjaga batin dengan kebijaksanaan, sebab dewasa ini kita hidup dalam keadaan yang semakin terdesak, terancam pengaruh-pengaruh negatif, dan semakin gencarnya godaan kehidupan duniawi yang serba gemerlapan. Oleh karena itu mutlak batin kita dijaga oleh kebijaksanaan, kalau tidak demikian kita akan mudah didikte oleh pengaruh rangsangan duniawi dan pandangan keliru yang menyebabkan kita sering salah jalan. Mengapa saya mengatakan demikian? Sebagai contoh ketika masyarakat dilanda demam porkas, terdengar salah satu vihara digunakan untuk kegiatan demam porkas. Ini terjadi disebabkan karena mental yang lemah tanpa diobati oleh kebijaksanaan/pañña atau pengetahuan Dhamma.

Daya tahan mental persis seperti daya tahan jasmani yang stamina atau daya tahan tubuhnya lemah. Saudara-saudara kalau mencari rezeki tidak perlu dengan judi, karena judi adalah spekulasi, kalau saudara berpandangan mencari rejeki dengan berjudi berarti saudara memiliki pandangan keliru. Kalau ingin mendapat rejeki, berbuat jasa sebanyak-banyaknya, jangan membiarkan kesempatan untuk menanam jasa kebaikan itu lewat; dengan demikian pasti akan mendapat perbaikan. Jadi, kalau ingin kaya harus berbuat jasa; melakukan kebaikan dengan menolong, berdana, bersimpati, ulet, bekerja keras, hemat, dan hati-hati dalam menggunakan uang, serta memancarkan cinta kasih dengan mendoakan semua makhluk bahagia. Dengan demikian saudara berpandangan benar, memiliki kebijaksanaan.

Apakah kebijaksanaan itu saudara? kebijaksanaan adalah memiliki perhatian penuh, kesadaran penuh dan kewaspadaan penuh, dari gerak-gerik jasmani, perasaan dan pikiran sendiri. Kesabaran juga dapat ditangkap dengan jelas, dimengerti, dan dipahami dengan sempurna sekali. Hal itu disebabkan karena latihan perkembangan dari perhatian, kewaspadaan, pengetahuan itu sendiri; maka orang yang seperti itu adalah orang yang mungkin sekali mencapai kebijaksanaan dan akan berakhir mencapai kebebasan. Tidak perlu saudara melihat dari pandangan-pandangan yang sulit untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan bukan timbul dari membaca buku sebanyak-banyaknya. Saya sarankan kepada saudara untuk mulai belajar dari hal yang mendasar, misalnya dari huruf A sampai dengan Z. Bagaimana cara belajarnya saudara? Sesungguhnya pangeran Siddharta sendiri dengan pengorbanan yang luar biasa baru dapat mencapai kebijaksanaan sempurna, pengetahuan sempurna, dan Beliau melihat Dhamma yang sesungguhnya adalah hukum-hukum yang berlaku di alam semesta. Pangeran Siddharta mencapai Samma Sambuddha.

Hukum ini bekerja melalui 2 (dua) cara, yaitu:
  1. Apabila batin tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan, pengetahuan benar, keyakinan kuat, semangat, perhatian murni, konsentrasi, maka kebodohan bisa masuk, pandangan sesat ikut serta, kemelekatanpun ikut hadir pula. Akibatnya adalah sengsara, derita, malapetaka, tumimbal lahir berkali-kali. Girang, sedih, rindu, cemas bercampur dan selanjutnya akan menimbulkan kita terlahir terus.
  2. Batin itu yang mengetahui jasmani, sedangkan jasmani tidak mengetahui batin. Jadi sebagai makhluk hidup kita harus memberikan perhatian pada soal batin, karena sebenarnya yang bahagia atau menderita itu batin.
Semua proses atau kejadian adalah Anicca atau selalu berubah-ubah, tidak memuaskan atau Dukkha, Anatta atau tidak ada pribadi dari kesadaran, pikiran, perasaan, pencerapan, dan jasmani ini. Pikiran timbul karena ada yang menunjang, terjadi kontak, ada kesadaran yang tergantung pada faktor apa yang ada dalam batin. Apabila orang serakah melihat sesuatu dan tertarik, maka pertama orang tersebut akan kagum, menghargai, ingin memiliki. Tapi bila orang tersebut bijaksana, sehingga tidak mempunyai sifat keserakahan, maka ia tidak berniat untuk memiliki. Oleh karena itu dianjurkan kepada saudara-saudara apabila melihat sesuatu, berpikirlah yang sewajarnya. Apabila saudara melakukan latihan Vipassana, maka akan timbul kesadaran dan kebijaksanaan pada diri sendiri. Kebijaksanaan adalah pengetahuan Dhamma, apabila kita mengerti sesungguhnya tentang Anicca, Dukkha, dan Anatta, maka kita bisa terhindar dari sifat kemelekatan. Agar kita mencapai kebijaksanaan, pelajarilah Dhamma dan mempraktekannya langsung dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat pula mencapai Nibbana.

Obat dari kemelekatan adalah kebijaksanaan, jadi jangan melekat pada kehidupan sehingga takut mati, sebab mati itu berarti lahir. Oleh karena itu, apabila kita ditinggal mati oleh seseorang yang kita sayangi kita tidak boleh menangis, melainkan kita harus tersenyum.

Akhir kata semoga Dhamma yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara, semoga semua makhluk berbahagia.

Dikutip dari Malam Pagelaran Karya Cipta Girirakkhito 24 Januari 1998 ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar