Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 30 September 2010

Menggali Sebuah Impian




Menggali Sebuah Impian

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Abhayanando





“ATITAM NANVAGAMEYYA, NAPPATIKANKHE ANAGATAM. YADATITAMPAHINATAM, APPATANCA ANAGATAM.”

“Janganlah seseorang menyesali masa lalu, atau melamun tentang masa mendatang. Yang lalu sudah lewat, yang akan datang belumlah tiba.”


A. Wacana

Dulu, ketika kita masih kecil, kita sering ditanya oleh orang tua kita, tetangga, teman dan oleh siapa saja yang bertemu dengan kita. Maklum anak kecil, jawabannya tentu sangat polos. Aku mau menjadi guru, aku mau jadi pilot, aku mau jadi presiden, dan lain-lain jawabannya. Apakah cita cita yang dilontarkan pada masa kecil itu akan menjadi kenyataan? Tidak, tidak semua cita-cita kita bisa tercapai, bahkan cita cita itu terkadang tidak sama dengan kemampuan kia sehingga kandas di tengah jalan. Seperti halnya yang saya alami sekarang. Dahulu saya tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi bhikkhu, namun saat ini saya menjadi seorang bhikkhu. Cita cita hanyalah tinggal cita cita dan hanya menjadi sebuah kenangan.

Masing-masing orang mempunyai kemampuan yang tidak sama, karena pengalaman masa lampaunya yang tidak sama. Dalam Brahma Vihara ada syair yang berbunyi:

Sabbe satta
Kammassaka
Kammadayada
Kammayoni
Kammabhandhu
Kammapatisarana
Yam kammam karissanti
Kalyanam va papakam va
Tassa dayada bavissanti

Semua makhluk
Memiliki kammanya sendiri
Mewarisi kammanya sendiri
Lahir dari kammanya sendiri
Berhubungan dengan kammanya sendiri
Apapun kamma yang diperbuatnnya
Baik atau buruk
Itulah yang akan diwarisinya.

Dari syair di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing orang mempunyai potensi yang tidak sama, tergantung dari proses kammanya dan tentunya kondisi yang ada. Jadi kita tidak bisa iri dengan orang yang sukses dan juga tidak perlu merasa rendah kalau saat ini kita belum berhasil. Orang bisa saja sukses dengan potensi yang ada dalam dirinya, menjadi dokter, teknisi, ekonom, birokrat, dan lain sebagainya.

Sebenarnya ada dua potensi yang ada dalam diri manusia yang jika dikembangkan akan membawa kebahagiaan. Potensi yang dapat dikembangkan oleh manusia itu ada dua macam yaitu:

  1. potensi keduniawian

  2. potensi spiritual

Dua potensi ini jika diarahkan dan dikembangkan akan menuju kepada kebahagiaan duniawi dan batin. Potensi duniawi tentunya hanya mengalrah kepada harta, kehormatan, kedudukan, istri yagn cantik atau suami yang tampan, dan kebahagiaan yang bersifat duniawi lainnya. Dan sifatnya hanya sementara. Potensi spiritual juga akan membawa kebahagiaan dan kebahagiaan spiritual ini terus menerus akan membawa kedamaian batin.

Cita-cita duniawi dan cita-cita spiritual ini tidak mudah kita dapatkan, semuanya memerlukan tekad, usaha, perjuangan dan pengorbanan. Tanpa adanya faktor faktor tersebut adalah tidak mungkin cita cita itu berhasil dicapai. Bolehkah kita bercita-cita? Tentunya yang bersifat positif, tetapi harus kita ingat bahwa berhasil atau mungkin gagal akan kita hadapi.

B. Cara menghadapi masa depan.

Suatu hari ada seorang bapak yang datang ke vihara, orang itu kelihatan seperti orang yang putus asa. Kebetulan waktu itu saya sendiri yang menemui orang itu. Orang tersebut bertanya kepada saya, “Bhante, hidup ini tidak menyenangkan, rutinitas hidup yang saya hadapi hanya itu-itu saja. Pernah orang mengatakan bahwa masa depan saya suram. Tolong Bhante, saya diramal atau dikasih jimat ataupun mantra yang ampuh. Supaya saya hidup mantap menghadapi masa depan.” Tentu saja yang saya berikan bukan jimat sembarangan, tapi jimat Dhamma. Kemudian orang ini saya arahkan sampai memahami benar tentang makna sebuah kehidupan.

Kisah seperti di atas bukan hanya dialami oleg seorang bapak dalam cerita diatas saha, tetapi juga dialami oleh banyak orang. Pada saat dihadapkan pada realita kehidupan muncul benih-benih keraguan, kecemasan bahkan takut menghadapi masa depan. Terkadang masa depan menjadi momok bagi sebahagian besar orang. Mereka pergi ke tukang ramal, ke dukun, ke tempattempat keramat yagn dianggap mempunyai kekuatan gaib dan magis untuk menghadapi realita kehidupan. Seorang pelajar cemas menghadapi masa masa setelah ia selesai sekolah, seorang dewasa cemas menghadapi kehidupan berumah tangga, orang tua cemas menghadapi masa tuanya. Inilah yang sering muncul dalam kehidupan manusia.

Semua orang menginginkan hidupnya sukses, tetapi mereka terkadang hanya berhenti di angan-angan belaka. Sebagian besar orang hanya bisa menghayalkan cita cita, kalau harapan itu tidak disertai tindakan nyata juga memunculkan rasa kecemasan. Karena yang namanya menghayal tentunya tidak menjadi kenyataan. Pada saat hidupnya tidak seperti yang terjadi dalam mimpi-mimpinya, muncul rasa sedih, kecewa, cemas, takut, bahkan putus asa. Jangan hanya sekedar bermimpi karena hidup bukanlah mimpi. Tetapi mimpi adalah bagian dari kehidupan.

Kita juga harus ingat bahwa yang namanya cita-cita itu kadang-kadang bisa sukses dan bisa juga gagal. Oleh karenanya yang terpenting dalam hidup ini adalah usaha meraih cita-cita, tetapi harus disertai kebijaksanaan. Jangan melekat pada cita-cita. Semakin melekat pada cita cita, maka rasa cemas semakin berkembang. Kalau cita-cita itu berhasil kita tidak akan meras cemas. Jika keberhasilan itu berubah menjhadi sebuah kejatuhan maka kita harus tetap tegar dalam menghadapinya. Begitu pula saat menghadapi kegagalan akan timbul rasa putus asa, kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi hidup ini. Iringilah cita-cita atau harapan kita dengan Dhamma, maka saat mengalami apapun yang baik ataupun yang buruk maka rasa cemas tidak akan berkembang.

Jika anda sering ikut meditasi di vihara, cetiya atau pusat pusat meditasi lainnya, maka anda akan mendengar kalimat “hidup saat ini”. Kalimat ini sering diungkapkan guru-guru meditasi kepada siswanya. Kalau kita tidak memahami kalimat itu maka aikan muncul pandangan yang keliru tentang agama Buddha. Hidup saat ini seolah-olah hanya diarahkan untuk hidup pasrah, tidak punya harapan, kosong, hanya menerima apa yang ada. Kalimat ini sering disalah artiklanb oleh orang yang belum memahami ajaran agama Buddha. Sehinga mempunyai pandangan bahwa agama buddha itu pesimis, tidak ada gairah hidup, loyo, hampa. Memang sang Buddha dan para siswa Arya pernah berpesan, “hidup saat ini” tetapi bukan berarti agama Buddha tidak mengajarkan tetang misi dan visi, Pernyataan orang itu salah dan wajar karena mereka belum mengerti. Saat ditanya mengapa makhluk-makhluk mulia yang telah mengembangkan pikiran, mereka kelihatan demikian tentang dan bersinar? Sang Buddha menjawab

“Mereka tidak sedih pada masa lalu, mereka tak mengejar apa yang belum datang.
Saat sekarang cukup buat mereka karenanya mereka demikian bercahaya.
Merindukan masa depan, menyesali masa lalu, dengan cara ini orang dungu merana seperti ilalang yang dibakar.”


Rahasia hidup bahagia dan sukses terletal pada apa yang dilakukan pada saat ini, kita jangan cemas pada masa lalu dan masa depan. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk membetulkan apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu, dan kita juga tidak dapat mengantisipasi apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Karena kondisi dunia yang terus menerus berubah, maka hanya ada satu momen yang bisa dikendalikan secara sadar adalah saat ini.

Salakha punya keinginan? Pertanyaan ini sering muncul dalam diri umat Buddha sendiri. Hal ini wjar karena umat buddha setiap saat mendengarkan ceramah terkadang menduga kalimat “kurangi keinginan”. Mengurangi keinginan yang dimaksud adalah keinginan rendah yang egosi, yang hanya mengumbar keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang tidak membawa manfaat spiritual. Jika cita-cita atau keinginan kita tidak didasari oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin tentunya akan membawa manfaat bagi kehidupan kita.

Seperti halnya Sang Buddha, Beliau sebelumnya juga mempunyai keinginan menjadi seorang sammasambuddha. Keinginan sang Buddha bukanlah keinginan rendah. Tetapi keinginan yang membawa kehidupan spiritual diriNya sendiri dan tentunya bagi semua makhluk. Boleh saja kita mempunyai cita-cita, tentunya cita-cita itu harus membawa manfaat bagi kehidupan spiritual kita. Cita-cita duniawi hanyalah sebagai sarana untuk kesuksesan cita-cita spiritual kita. Jadi jangan sampai potensi dunia ini disalah artikan yang akhirnya membawa kemerosotan batin.

Dalam mencapai keberhasilan tentunya perlu adanya program atau perencanaan. Seperti halnya sang Buddha, setelah Beliau bertekad dihadapan Buddha Dipankara, Beliau kemudian menyempurnakan Dasa Paramita untuk mencapai kesempurnaan dan akhirnya berhadil menjadi Buddha. Cita-cita yang tanpa disertai tindakan hanya akan menjadi impian saja. Untuk sukses duniawi kita perlu kerja keras sesuai dengan profesi masing-masing baik sebagai doketer, birokrat, ekonom, petani dan lainlain sebagainya. Begitu pula dalam hal cita-cita spiritual kita juga harus mempunyai kemauan, usaha, pengorbanan, dan kesabaran. Niscaya dengan faktor-faktor ini cita-cita kita akan tercapai.

Misi dan visi sudah ada, tetapi program ini harus disertai tindakan yang nyata dan jelas. Walaupun programnya bagus tetapi tidak ada tindakan nyata dan jelas, maka program inipun hanya tinggal program, benih-benih kesuksesan tidak akan nampak. Sekarang muncul sebuah pertanyaan, kapan waktunya yang tepat untuk melakukan tindakan yang nyata sehingga program itu terlaksana?

Dalam Samyutta Nikaya I, 227, Sang Buddha bersabda “Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

Dari sabda sang Buddha tersebut jelas disebutkan tentang perencanaan yang matang sehingga membuahkan hasil yang bagus. Kurang hati-hati dalam berencana akan berakibat fatal, bukannya kesuksesan tapi kehancuran yang didapatkan. Kesempatan yang baik untuk berencana adalah pada saat badan ktia sehat, karena dengan fisik yang sehat kita akan dapat menjalankan tugas dengan baik. Sebaliknya, jika kondisi badan kita tidak sehat sangat sulit untuk menjalankan perencanaan hidup. Sewaktu masih ada kesempatan untuk melakukan hal yang positif, maka gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya.

Perencanaan hidup yang matang akan mengakibatkan perubahan yang pesat, oleh karena itu tidak perlu cemas terhadap masa depan. Orang merasa cemas yang berlebihan terhadap kesehatan kelaurganya, penghasilan, nama baik dan harta kekayaan. Mereka berusaha membuat stabil yang malah menjadi tidak stabil. Semakin mereka mecemaskan masa depan, semakin mereka merasa kehiilangan rasa percaya diri dalam hidup ini, dan mulailah mereka mengembangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri. Orang yang terus meneruskan berusaha keadaan hidup, tidak pernah mengenal kata kedamaian pikiran.

Orang yang percaya kepada nasib akan berpikir bahwa ini sudah ditakdirkan, ini sudah ditentukan untukku oleh Makhluk Agung. Karena aku harus berdoa kepada Makhluk Agung untuk memperbaiki nasibku. Ia bahkan akan berdoa dengan mengabaikan kewajibannya setiap hari. Jika yakin terhadap hukum kamma, maka kita akan memahami hal ini sebagai hasil dari apa yang telah kita lakukan pada masa yang silam. Dan kita mestinya memperbanyak perbuatna baik dan menguatkan pikiran kita dengan meditasi. Dengan berbuat demikian, benih-benih kesuksesan akan berkembang.

Segala bentuk keinginan yang positif disertai dengan perencanaan yang matang dan dilaksanakan pada saat yang tepat serta berpegang pada hidup saat ini akan menghasilakan kesuksesan yang mantap. Oleh karena itu kita harus menjaga cita-cita ini sehingga kesuksesan itu berjalan sesuai dengan Dhamma.

C. Hidup saat ini dan perencanaan hidup

Hidup saat ini dan perencanaan hidup kelihatannya bertentangan. Akan tetapi hidup saat ini dan perencanaan adalah hal yang sejalan. Hidup saat ini mengingatkan kita untuk tidak melekat pada keinginan kita, karena segala keinginan itu akan dihadapkan dengan keberhasilan dan kegagalan. Memahami keberhasilan dan kegagalan itu akan membuat pikiran kita damai setiap saat.

Terlalu melekat pada target perencanaan hidup akan mengakibatkan kesedihan, kekecewaan bahkan putus asa. Segala sesuatu kadang-kadang tidak sesuai dengan bayangan kita. Sedih, kecewa, dan putus asa muncul karena kita hanya bisa menerima satu sisi yaitu target kesuksesan, padahal kegagalan juga akan kita hadapi dan harus kita terima kenyataannya. Banyak orang menjadi putus asa mengadapi hidup ini gara-gara tidak bisa menerima kenyataan hidup. Kita harus bisa bersikap realistis dalam menghadapi kenyataan hidup ini.

Hidup saat ini dan perencanaan hidup sebenarnya merupakan dua hal yang selaras dan tidak bertentangan karena keduanya sesuai dengan Dhamma. Hidup saat ini sebagai kontrol perencanaan hidup sehingga jika terjadi kegagalan tidak mudah bersedih. Kecewa maupun putus asa. Sebaliknya jika terjadi keberhasilan tidak mudah sombong, angkuh, dan takabur.

Dengan demikian, tidak perlu cemas menyongsong masa depan hidup kita karena jika kita dapat menindaklanjuti perencanaan hidup dengan prinsip saat ini maka kecemasan itu akan sirna dan kita akan mantap dalam menghadapi masa depan.

Cemas terhadap masa depan adalah hal yang keliru dan harus diluruskan. Kita harus siap menghadapi masa depan dengan perencanaan yang matang disertai dengan prinsip hidup saat ini. Seperti halnya orang mengharapkan tahun baru yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Semua orang berharap tahun baru harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun yang pasti adalah tindakan yang nyata pada saat sekarang sebab hal ini menentukan hari esok. Semoga sukses selalu ada pada anda semua dan selalu dalam lindungan Sang Tiratana.

Kalagatanca hapeti attham
Orang yang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan.
(Khuddaka Nikaya, Jataka Chakkanipata)

[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.25/Tahun VIII/2002
]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar