Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 02 September 2010

Mahalnya Kebenaran


Mahalnya Kebenaran

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro


Proses kehidupan manusia merupakan perjalanan yang panjang, unik, rumit, dan sulit untuk dapat diselami. Karena kehidupan ini bukanlah semata-mata apa yang hanya kita lihat. Kehidupan ini tidaklah demikian, tetapi kehidupan ini ada yang lebih dari sekedar materi yang nampak oleh indria.

Maka tidak sedikit bila kita jumpai orang-orang yang berkecukupan materi bahkan berlimpah-limpah. Tetapi kehidupannya merasa tidak tenang dan bahagia, selalu resah dan gelisah, khawatir dan takut. Dan sebaliknya yang materinya kurang mencukupi, pasti gresulo (merana).

Mengapa mereka merasa tidak tenang dan bahagia ? Karena batinnya yang labil, tidak matang, dewasa dan bijak. Apa sesungguhnya kebutuhan batin itu ? kebutuhan batin tiasa lain adalah Dhamma (kebenaran). Dhamma itu apa dan seperti apa ? Dhamma adalah mustika (permata) ajaran Buddha yang memiliki 6 keistimewaan, yaitu :

  • Yang telah Sempurna dibabarkan/diajarkan.

  • Berada sangat dekat.

  • Tidak lapuk/usang oleh waktu.

  • Mengundang untuk dbuktikan.

  • Menuntun ke dalam batin.

  • Dapat diselami oleh para bijaksana ke dalam batin masing-masing.

Bagaimana caranya agar kita dapat memiliki permata Dhamma yang sudah tentu mahal harganya ? Sudah tentu untuk mendapatkan permata Dhamma kita harus membayarnya dengan mahal, penuh pengorbanan, kegigihan dan keuletan (viriya). Maka usaha yang harus kita lakukan adalah berusaha memadamkan kesenangan dan keinginan-keinginan yang rendah (tanha), yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun dikeloni, dan dimanjakan. Yang berupa hobi memancing, merebus/goreng ikan, kepiting, kerang, udang dan lainnya; suka minum-minuman, obat-obatan (narkoba), judi dan jugud (wil).

Memang untuk meninggalkan kesenangan yang sudah melekat dan mendarah daging sangat sulit untuk dilepaskan. Seperti seseorang yang sudah terbiasa tidur di kasur atau spring bed, kemudian tidur di lantai tanpa alas, ia akan sangat tersiksa. Demikian pula harga yang harus kita bayar untuk mendapatkan permata Dhamma, kita merasa tersiksa untuk meninggalkan kesenangan, kesukaan dan hobi kita.

Untuk mendapatkan permata Dhamma kita harus berani mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta. Dalam pepatah cina dikatakan waktu adalah uang. Tetapi dalam Agama Buddha, waktu adalah Dhamma. Kita biasanya mengorbankan waktu untuk bersenang-senang, nonton, nyanyi-nyanyi, nongkrong dan gosip serta lainnya. Harusnya kita ke vihara membaca buku-buku Dhamma, meditasi, mendengarkan ceramah dan berdiskusi Dhamma. Maka keteguhan, keuletan dan keberanian kita akan mendapatkan harta mulia yang tiada bandingnya di dunia.

Keteguhan hati untuk menghindari ucapan, perbuatan dan pikiran yang salah / keliru dan senantiasa berusaha untuk melatih dan melakukan yang benar itulah Dhamma. Selalu bersikap rendah hati, tiada sombong, dan selalu mengembangkan kesabaran, bersikap manis dan senyum walau dicela, dimaki, dihina bahkan mungkin dipukul dan berusaha mengembangkan dan menyelami pengertian tentang hukum kesunyataan yang meliputi empat kebenaran mulia, yaitu : hukum tentang adanya dukkha (penderitaan), sumbernya dukkha, lenyap/terhentinya dukkha dan Jalan menuju lenyapnya dukkha itu adalah permata mulia; memahami hukum kamma (hukum perbuatan) bahwa sesuai dengan benih yang kita tanam demikian buah yang akan kita petik. Ia yang melakukan perbuatan kebajikan akan memperoleh kebahagiaan, ia yang melakukan perbuatan jahat akan mengalami penderitaan, dan mengerti adanya hukum sebab dan akibat (paticcasamupada) bahwa adanya yang sekarang adalah akibat adanya yang lampau, dan yang sekarang akan menjadi sebab untuk yang akan datang.

Dalam suatu waktu Sang Buddha mengajar Dhamma kepada para siswanya dengan kalimat yang sangat indah; "Hiduplah pada saat sekarang, yang akan datang belum tiba dan yang lalu sudah berlalu". Kalimat ini sangat realistis walau mungkin kita sangat sulit untuk merealisasikan. Maka karena itulah Dhamma menjadi mahal harganya.

Memang demikian jika kita bersikap hidup pada saat sekarang, senantiasa berusaha melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat tanpa menghiraukan nanti, esok dan yang akan datang. Justru kita telah menyiapkan diri dengan baik dan matang untuk nanti, esok dan yang akan datang. Tetapi jika kita selalu dirundung oleh kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan dan ketakutan akan hari nanti, esok dan yang akan datang, secara tidak langsung kita telah menghancurkan masa depan kita sendiri. Dengan pengertian yang benar (samma-ditthi) kita dapat memiliki permata Dhamma.

Untuk lebih memantapkan diri dalam menyelami Dhamma, di dalam Sutta Pitaka Sang Buddha menjelaskan ada delapan cara yang menandai apakah hal itu merupakan Dhamma dan Vinaya dan apakah bukan merupakan Dhamma dan Vinaya. Apabila suatu Dhamma bertujuan: merangsang indria dan pikiran yang tidak membebaskan diri dari dukkha, tidak membuat puas dan bahagia dengan apa yang dimiliki, dan masih memiliki banyak keinginan. Maka ini adalah bukan Dhamma dan Vinaya atau ajaran Sang Buddha.

Tetapi apabila Dhamma ini, apapun juga mereka adanya, adalah untuk tujuan : Mengurangi rangsangan indria-indria dan pikiran (indria samvara), membebaskan diri dari dukkha, tidak memupuk kilesa dan kekotoran batin (dosa, lobha dan moha), puas dengan sedikit, puas dan bahagia dengan apa yang telah diperoleh (santuti), hidup di tempat-tempat yang sunyi, jauh dari orang lain (bagi para samana), usaha yang gigih dan semangat (viriya), mudah dirawat dan dibantu. Maka ini adalah Dhamma dan Vinaya yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Hanya seseorang yang memiliki ketekunan, keteguhan, keuletan, dan keberanian untuk berkorbanlah yang akan memperoleh Mustika Dhamma yang nilai dan harganya tiada bandingnya. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan dapat memiliki Permata Dhamma yang akan membawa kebahagiaan dan kebebasan tertinggi (Nibbana).

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka, Edisi 21 Januari 2001 ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar