Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 02 September 2010

Kemarahan

Kemarahan
Oleh R. Nanda


Apakah Anda pernah marah pada seseorang? Bagaimanakah pikiran Anda sewaktu Anda memarahi seseorang? dan kedua pertanyaan itu kita balik menjadi, Apakah seseorang pernah marah pada Anda? Bagaimanakah pikiran Anda sewaktu seseorang memarahi Anda?

Tentu kita semua pernah dimarahi dan memarahi seseorang, jika kita dimarahi oleh seseorang dan kita belum dapat mengatasi kemarahan maka kita akan marah juga, banyak hal yang dapat terjadi jika ada dua orang yang saling memarahi dan keduanya tidak dapat mengendalikan pikirannya, ucapannya dan perbuatannya. Ada juga yang dimarahi tetapi orang tersebut tidak dapat membalasnya pada saat itu dan ada kemungkinan pikirannya yang penuh dengan rasa dosa (kebencian) akan menjadi dendam dan berusaha untuk membalasnya.

Dengan pertanyaan diatas tentu kita sudah bisa merasakan bagaimana rasanya dimarahi, Apakah kita harus marah? Apakah dengan marah maka akan menyelesaikan masalah ?. Tentu kita tidak harus marah dan kemarahan tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan menghilangkan suatu keceriaan dan senyum persahabatan.

Kemarahan bersumber dari pikiran kita dan kemarahan adalah suatu bentuk pikiran yang harus dihancurkan karena kemarahan dapat menyebabkan penderitaan. Kita dapat lihat dan dengar yang sekarang banyak terjadi penderitaan yang disebabkan oleh kemarahan, karena kemarahan sudah terpancing keluar maka apapun akan dihabisi / dihancurkan / dimusnahkan tanpa rasa belas kasihan, dan jika sudah seperti itu maka manusia bukanlah manusia tetapi seperti binatang atau bahkan lebih buruk daripada binatang yang marah karena diganggu, tetapi manusia membantai manusia yang tak tahu menahu hanya untuk pikiran jahatnya, atau manusia merasa dirinya hebat dan kuat jika dia ditakuti oleh semua orang karena dia bisa membantai / menghancurkan / memusnahkan yang dia inginkan, sesungguhnya orang itu adalah orang lemah dan picik.

Sesungguhnya menaklukkan ribuan orang bukanlah disebut orang hebat melainkan yang dapat menaklukkan diri sendirilah yang disebut orang hebat, seperti diungkapkan di atas bahwa sumber kemarahan adalah pikiran, jadi pikiran itulah yang harus kita hancurkan makan kita disebut pemenang.

Setiap kali kita akan marah maka kita perhatikanlah pikiran kita lalu kita dapat berpikir "Begini toh orang marah!" dan kita jaga marah itu jangan sampai keluar, jangan kita lakukan kesalahan kedua yaitu Akusala Vacikamma (perbuatan buruk yang dilakukan oleh ucapan) karena kita telah melakukan Akusala Manokamma (perbuatan buruk yang dilakukan oleh pikiran), dan jangan kita biarkan pikiran kita dipenuhi dosa (kebencian) maka marah itu akan hilang dan Anda disebut pemenang.

Perlu kita perhatikan jika kita ingin memarahi orang lain berusahalah untuk berhitung dahulu dalam pikiran kita sampai angka 100 dan berhitungnya sesuai dengan detak jarum detik atau Anda dapat bercermin ketika Anda marah dan Anda perhatikan wajah Anda yang sedang marah, mungkin cara seperti itulah yang harus dilakukan oleh orang yang pemarah dan ingin memarahi orang lain dan alangkah lebih baik jika Anda hilangkan sama sekali rasa marah itu.

Pikiran yang penuh dengan rasa benci dan marah akan sangat berbahaya bagi kesehatan fisik kita karena dapat menimbulkan penyakit-penyakit, bahkan sering kita dengar orang tua kita berkata "Janganlah cepat marah nanti cepat tua". Sifat marah itu sendiri bukan merupakan faktor tunggal penyebab penyakit jantung koroner. Tetapi diyakini bahwa setiap episode kemarahan akan menambah stess pada jantung, yakni dalam bentuk peningkatan tekanan darah. Kalau episode kemarahan ini berlangsung bertahun-tahun, artinya sifat pemarah tersebut menetap pada diri individu, maka dampak buruk pada jantung berpeluang besar untuk terjadi,. (gampang marah buruk bagi jan-tung dan kekebalan tubuh, Kompas, 02 Februari 1997). Sebaliknya pikiran tenang dan damai akan mendatangkan kesehatan pada pikiran dan jasmani juga kita akan disukai dan dicintai oleh semua orang.

Marilah kita membulatkan tekad dengan mengendalikan pikiran dengan jalan memancarkan rasa cinta kasih kita kepada semua makhluk, janganlah sampai kita rusak senyum persahabatan dengan senyum kebencian dan "Semoga semua makhluk selamanya hidup berbahagia, bebas dari kebencian".

Sebagai penutup penulis menuliskan Dhammapada 104, LPD (Sahasa Vagga 5) :

Penaklukan diri sendiri itulah yang jauh lebih luhur. Bahkan dewata maupun Gandhabba, Mara maupun Brahma tidak dapat mengalahkan kembali orang semacam itu, yang memiliki pengendalian dan penguasaan diri.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar