Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Jumat, 17 September 2010

Penyebab Kematian






Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
(Dhammapada XIV, 4)


Sekarang tiba saatnya menerangkan tentang hakekat kematian. Dalam suatu acara peringatan kematian, hendaknya kita menyadari bahwa almarhum memang sudah wafat, namun kita dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk merenungkan Dhamma dengan baik. Ajaran Sang Buddha menyatakan bahwa kematian itu bisa datang kepada siapa pun juga. Apakah dia orang muda, apakah dia orang tua, apakah dia laki-laki, apakah dia perempuan, apakah dia orang kaya, apakah dia orang miskin, semuanya pasti mengalami kematian. Tidak ada orang yang terbebas dari kematian. Begitu pula dengan diri kita semua. Kita pun juga tidak bisa terbebas dari kematian. Kita sekarang hanya menunggu waktu. Kalau hari ini upacara 5 tahun wafatnya almarhum, kapan pula teman-teman datang untuk peringatan 3 hari wafatnya saya sendiri, 7 hari wafat saya sendiri? Kita masing-masing boleh berpikir tentang itu, karena tidak ada di antara kita yang terlewatkan dari kematian. Maka, kalau ada upacara peringatan kematian, kita harus cepat datang. Mari datang beramai-ramai. Kalau ada upacara membaca Paritta, datanglah beramai-ramai. Kita membaca Paritta bersama-sama. Mengapa? Karena kalau nanti jatuh temponya kita mati, kita tidak bisa membaca Paritta sendiri. Tidak bisa mengadakan peringatan 3 Hari kita sendiri. Tidak bisa mengadakan peringatan 7 hari sendiri. Jadi kita membutuhkan orang-orang lain. Kalau kita sering berkumpul begini, kita bisa bertemu dengan teman-teman lain.

Dalam Agama Buddha ada beberapa penyebab kematian. Agar lebih mudah dimengerti maka akan diberikan contoh dengan menggunakan lilin. Lilin ini punya api dan apinya bisa mati karena berbagai kondisi. Kalau api lilin ini kita ibaratkan sebagai kehidupan, maka penyebab pertama lilin itu mati adalah karena lilin atau bahan bakarnya habis. Jadi kalau lilin ini dipasang terus, pada mulanya masih tinggi, lalu tinggal separuh, sepertiga, seperempat, akhirnya habis. Lalu matilah lilin itu. Ketika lilinnya mati, kadang-kadang sumbunya masih ada. Masih tersisa sumbu sedikit. Di dalam kehidupan, hal ini menunjukkan kehidupan bahwa orang yang meninggal karena 'jatahnya' sebagai manusia sudah habis, walaupun umurnya masih di bawah usia rata-rata pada masa itu. Kita semua lahir sebagai manusia karena kita ini punya timbunan karma baik. Telah dinyatakan oleh Sang Buddha bahwa kemungkinan seseorang terlahir sebagai manusia dalam satu siklus kehidupannya adalah seperti debu tanah di ujung kuku Beliau dibandingkan debu yang ada di muka bumi ini. Sangat sedikit. Sangat sulit. Namun, kenapakah jumlah manusia selalu bertambah? Pertambahan jumlah ini dimungkinkan karena manusia yang meninggal dapat terlahir di surga, neraka, binatang, alam setan dlsb. Sebaliknya para makhluk dari alam yang lain pun ada kemungkinan terlahir sebagai manusia. Jadi, sudahkah kita menghitung para dewa atau malaikat yang meninggal dan lahir sebagai manusia?

Oleh karena itu, umat Buddha tidak mempermasalahkan lahir di surga atau lahir di neraka. Apalagi lahir di surga amatlah gampang, karena surga menawarkan 26 pilihan tempat tinggal. Tinggal pilih satu, langsung siap berangkat walaupun malam ini juga. Salah satu sarananya adalah: menjadi umat Buddha. Dengan modal keyakinan kita akan bisa terlahir di alam surga, di salah satu dari 26 alam surga. Yang susah justru terlahir sebagai manusia! Di dalam Dhammapada dikatakan, lahir sebagai manusia itu susah. Kesulitan ini karena kemungkinannya seperti debu di ujung kuku, dibandingkan debu yang ada di seluruh dunia. Karena itu, kalau sekarang kita sudah lahir sebagai manusia, apakah yang harus kita kerjakan? Tugas apa yang harus kita kerjakan? Itu yang harus kita renungkan. Sekarang marilah kita kembali pada proses kematian itu sendiri.

Jadi, penyebab kematian yang pertama adalah 'habis jatahnya', 'habis bahan bakarnya' sebagai manusia. Karena besarnya karma baik kitalah maka kita bisa lahir sebagai manusia, dan kita mempunyai batas waktunya - 'jatah'. ada yang 'jatahnya' menjadi manusia hanya tiga bulan. Jadi dikandung 3 bulan mati dia. Ada yang jatahnya 5 tahun. Begitu umur 5 tahun, dia mati. Maka jangan tanyakan: 'Kenapa ia meninggal pada usia 5 tahun?' 'Jatahnya' memang cuma 5 tahun. Ada yang menanyakan: 'Apakah kalau mati muda itu pertanda karma buruk?' Belum tentu! 'Apakah kalau mati tua itu pertanda karma baik?' Belum tentu! Semua itu tergantung di alam mana dia akan terlahir kembali. Bila dia mati umur 3 tahun tetapi setelah mati terlahir di surga, itu berarti matinya dapat memetik buah karma baik. Daripada susah-susah menjadi manusia, pusing-pusing memikirkan segala macam, lebih baik mati kemudian lahir di surga, happy-happy. Walaupun umur 90 tahun baru meninggal, bila lahirnya kemudian di alam neraka .... inilah buah karma buruk! Lebih enak di dunia, biar tua tetapi happy-happy. Bisa jalan ke sana sini. Daripada lahir di alam neraka yang merupakan alam menderita. Jadi, kematian itu sendiri sebetulnya tidak harus menunjukkan dia itu melakukan karma buruk atau tanam karma buruk. Belum tentu! Bisa baik, bisa buruk tergantung di mana dia terlahirkan kembali kemudian. Tapi yang jelas, Orang yang mati umur 3 tahun, 5 tahun, atau 15 tahun, pokonya yang sering kita anggap mati muda, kematiannya disebabkan karena memang 'jatahnya' sebagai manusia sudah habis.

Sekarang penyebab kedua. Kematian itu seperti lilin ini, tetapi sumbunya tidak sampai bawah. Sumbu hanya separo, atau sumbunya hanya seperempat. Jadi lilinnya hidup sampai sumbunya habis. Apinya lalu mati, walaupun lilinya masih panjang. Ini menunjukkan bahwa umur badan manusianya sudah habis. Umur rata-ratanya sudah selesai, umur jasmaninya sudah sampai. Misalnya, berapa usia jasmani rata-rata yang dapat kita miliki sekarang? Kalau ketahanan jasmani rata-rata adalah 50 tahun, maka begitu sampai usia 50 tahun, matilah dia. Walaupun jatahnya sebagai manusia masih ada, namun dia mati. Setelah maninggal, mungkin dia bisa terlahir sebagai manusia lagi. Misalnya, mestinya jatahnya sampai berusia 100 tahun, tetapi baru 50 tahun dia sudah mati. Maka mungkin dia akan terlahir lagi sebagai manusia, melanjutkan sisanya yang 50 tahun lagi. Jatahnya dihabiskan, kalau sempat. Tetapi kalau tidak, yang 50 tahun sebagai manusia ini ditunda. Mungkin nanti di dalam sekian periode kehidupan baru dia ambil sisa jatah kehidupannya sebagai manusia ini. Tetapi pokoknya dia masih memiliki sisa. Sisa 'jatah' sebagai manusia. Kita mungkin bertanya: 'Umur berapa ketika meninggal?' 'Enam puluh'. 'Sudah pantas. Sudah cukup merasakan kesenangan dunia.' Namun bukan berarti bahwa seseorang yang sudah berumur 60 tahun harus mati. Semua makhluk berproses sesuai dengan karmanya sendiri-sendiri. Kalau yang pertama tadi lilinnya habis, jatah manusianya habis, yang kedua ini sumbunya habis. Kekuatan jasmaninya sudah habis walaupun jatah hidupnya sebagai manusia masih cukup.

Penyebab yang ketiga adalah lilinnya habis berbareng dengan habisnya sumbu. Hal ini menunjuk pada kematian seseorang karena habisnya kekuatan jasmani bersamaan dengan habisnya karma yang mendukung kehidupannya sebagai manusia. Seperti lilin yang ketika dipakai, panjang sumbu dan jumlah lilin itu pas sama. Begitu api sampai di bawah, dia mati. Sumbunya pun tidak mempunyai sisa lagi. Lilinnya juga habis. Minyaknya sudah habis. Inilah orang yang mati lengkap. Memang masa hidupnya hanya sedemikian itu, usia manusianya juga hanya sampai di situ. Jadi, misalnya sekarang usia hidup manusia rata-rata 50 tahun dan dia jatah hidupnya pun hanya 50 tahun. Jadi, ketika meninggal, selesailah sudah semuanya.

Penyebab keempat. Lilin masih panjang, sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya mati terkena kipas angin. Inilah kematian karena kecelakaan. Bila usia kehidupan manusia rata-rata tadi 60 tahun, dia meninggal dalam usia 30 tahun. Mengapa? Mungkin ia meminum pembasmi serangga. Dia berkeputusan menghabisi umurnya sendiri. Atau orang yang mati kecelakaan. Namun, tidak semua orang yang meninggal karena kecelakaan itu adalah kematian yang seperti api lilin mati tertiup angin. Bisa juga karena habis karmanya sebagai manusia. Walaupun sumbunya masih panjang tetapi lilinnya sudah habis. Kondisi itu juga bisa menyebabkan seseorang mati kecelakaan. Tetapi yang jelas, ini adalah salah satu cara kematian karena hal-hal diluar dugaan.

Begitulah empat penyebab kematian. Tadi telah disebutkan bahwa Sang Buddha mengambil debu dengan kuku untuk memberikan gambaran sungguh sulit satu makhluk dapat terlahir sebagai manusia. Sekarang kenyataannya, kita sudah terlahir sebagai manusia. Pada baris kedua petikan ayat Dhammapada di atas disebutkan bahwa hidup sebagai manusia juga sulit. Terlahir sebagai manusia sulit, dan hidup sebagai menusia pun sulit. Namun justru kesulitan hidup inilah yang membuat hidup ada seninya. Sesungguhnya, pikiran kita sendirilah yang membuat kesulitan. Benarkah? Jelas benar! Andaikata seseorang yang mengalami sakit gigi. Memang sakit. Apabila ia hendak bersenang-senang, maka sakit gigi sungguh merupakan gangguan yang besar. Namun, bila ia tidak begitu senang dengan acara yang hendak diikuti pada hari itu, sakit gigi akan menjadi alasan yang tepat sekali untuk dia agar tetap tinggal di rumah sambil nonton televisi. Karena itu pikiran memainkan peranan besar dalam menentukan sulit dan tidak sulitnya kehidupan ini.

Baris ketiga pada syair di atas: mendengar Dhamma pun juga sulit. Buktinya, umat Buddha di setiap kota tentu tidak sedikit jumlahnya. Tetapi kenapa yang hadir kebaktian rutin hanya sebagian di antara mereka? Inilah bukti yang menunjukkan bahwa mendengar Dhamma memang tidak mudah. Kemudian, dari sejumlah umat yang hadir dan mendengarkan Dhamma ini, tidak banyak yang dapat mengerti uraian Dhamma ini dengan baik. Mungkin para umat ikut tertawa, senyum dan bereaksi spontan terhadap uraian Dhamma yang diberikan, tetapi bila telah selesai ceramah, mungkin tidak banyak butir-butir Dhamma yang masih dapat diingatnya.

Sekarang kita sudah terlahir sebagai manusia, sudah hidup sebagai manusia, dan sudah mendengarkan Dhamma dengan baik. Maka kita hendaknya betul-betul dapat menyerap Dhamma ini dengan sebaik-baiknya. Ibarat lidah yang dapat merasakan rasa sayur walaupun hanya sedikit sayur yang melewati bibir kita. Memang, walaupun baru sekali kita bertemu Dhamma, kita harus dapat merasakan enaknya Dhamma. Oleh karena itu, sebagai seorang umat Buddha, setelah kita lahir sebagai manusia, hidup sebagai manusia, dan mendengarkan Dhamma dengan baik, marilah kita mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Setelah mendengarkan Dhamma dengan sungguh-sungguh, praktekkanlah Dhamma dengan baik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Praktek Dhamma yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah menjalankan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis adalah latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Dengan melatih melaksanakan Pancasila, kita akan memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan ini. Kebahagiaan yang muncul karena kita tidak melakukan segala perbuatan yang tidak menyenangkan makhluk lain. Kita terbebas dari kesalahan. Selain itu, kita pun akan memperoleh kebahagiaan setelah kematian, terlahir di salah satu dari 26 alam surga. Bahkan apabila dikembangkan lebih tinggi lagi, kita pun bisa mencapai Nibbana.

Oleh karena itu, semoga kita bisa menyadari bahwa untuk dapat terlahir sebagai manusia itu sulit. Jangan di sia-siakan. Selagi masih menjadi manusia cepat-cepatlah berbuat baik, minimal Pancasila Buddhis.


[Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.samaggi-phala.or.id ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar