Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 02 September 2010

Keyakinan Dalam Agama Buddha



Keyakinan Dalam Agama Buddha
Oleh: YM Bhikkhu Jinadhammo Mahathera


Umat Buddha di seluruh dunia menyatakan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Buddha, Dhamma dan Sangha dengan kata-kata dalam suatu rumusan kuno yang sederhana, namun menyentuh hati dan terkenal dengan nama TISARANA atau Tiga Perlindungan.

Rumusan itu berbunyi sebagai berikut:

Buddham Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Buddha
Dhammam Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Dhamma
Sangham Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Sangha
(selalu diucapkan ketika Visudhi Tisarana sebagai bukti pernyataan seorang umat telah beragama Buddha).

Rumusan ini disabdakan oleh Sang Buddha Siddharta Gotama sendiri bukan oleh para siswanya, kepada Enam puluh orang arahat siswa beliau, ketika mereka akan berangkat menyebarkan Dhamma demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Sang Buddha bersabda “Para Bhikkhu, ia yang akan ditahbiskan menjadi Samanera dan bhikkhu hendaknya setelah mencukur rambut kepala dan mengenakan jubah kuning kemudian bersujud kepada para bhikkhu: guru, Upajayo dan Kammavaca sebagai pelaksana upasampada dengan merangkapkan kedua tangan di dada dan berkata “Aku berlindung kepada Buddha, Aku berlindung kepada Dhamma, Aku berlindung kepada Sangha.”

Sang Buddha Siddharta Gotama menetapkan rumusan tersebut bukan hanya bagi mereka yang akan ditabhiskan menjadi Samanera atau bhikkhu tetapi juga kepada umat biasa (umat awam). Setiap orang yang memeluk agama Buddha baik ia seorang awam maupun seorang bhikkhu menyatakan keyakinan eengan kata-kata rumusan Tisarana tersebut. Nampaklah betapa luhurnya kedudukan Buddha Dhamma Sangha.

Bagi umat Buddha berlindung kepada Tisarana merupakan ungkapan ‘keyakinannya’. Tisarana adalah ungkapan keyakinan atau saddha bagi umat Buddha. Saddha yang diungkapkan dengan kata ‘berlindung’ itu mempunyai 3 (tiga) aspek:

  1. Aspek kemauan seorang umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan penuh kesadaran, bukan sekedar sebagai kepercayaan teoritis, adat kebiasaan atau tradisi belaka. Tiratana akan benar-benar menjadi kenyataan bagi seseorang, apabila ia sungguh-sungguh berusaha mencapainya. Karena adanya unsur kemauan inilah, maka dalam agama Buddha merupakan suatu tindakan yang aktif dan sadar yang ditujukan untuk mencapai kebebasan, dan bukan suatu sikap yang pasif menunggu berkah dari atas.

  2. Aspek pengertian inilah mencakup pengertian akan perlunya perlindungan yang memberi harapan yang menjadi tujuan bagi semua mahluk dalam samsara ini, dan pengertian akan adanya hakekat dari perlindungan itu sendiri.

Adanya Tiratana sebagai perlindungan telah diungkapkan sendiri oleh Sang Siddharta Gotama. Tetapi hakekatnya Tiratana sebagai perlindungan terakhir hanya dapat dibuktikan oleh setiap orang dengan mencapainya dalam bathinnya sendiri. Dalam diri seseorang perlindungan itu akan timbul dan tumbuh bersama dengan proses untuk mencapainya.

Buddha sebagai perlindungan pertama, mengandung arti bahwa setiap orang mempunyai benih kebuddhaan dalam dirinya, bahwa setiap orang dapat mencapai apa yang telah dicapai oleh Sang Buddha.

“Seperti sayalah para penakluk yang telah melenyapkan kekotoran bathin”.
(Ariya pariyesana Sutta, Majjhima Nikaya).

Sebagai perlindungan, Sang Buddha bukanlah pribadi petapa Gotama melainkan para Buddha sebagai manifestasi dari Bodhi atau Kebuddhaan yang mengatasi keduniawian “Lokuttara”.

Dhamma sebagai perlindungan ke dua, bukan berarti kata-kata yagn terkandung dalam kitab suci atau konsepsi ajaran yang terdapat dalam bathin manusia biasa yang masih berada dalam alam keduniawian atau lokiya, melainkan “empat tingkat kesucian” (sotapanna, sakadagami, anagami dan arahat) beserta Nibbana yang dicapai pada akhir jalan.

Sangha sebagai perlindungan ke tiga bukan berarti kumpulan para bhikkhu-bhikkhu yang anggota-anggotanya yang masih belum bebas dari kekotoran bathin (bhikkhu Sangha), melainkan pasamuan para bhikkhu suci yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (ariya Sangha).

Mereka ini menjadi teladan yang patut dicontoh. Namun landasan sesungguhnya dari perlindungan ini ialah kemampuan yang ada pada setiap orang untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian itu.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha dalam aspeknya sebagai perlindungan mempunyai sifat mengatasi keduniawian (Lokuttara). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha merupakan manifestasi daripada yang mutlak, esa, yang menjadi tujuan terakhir semua makhluk.

Buddha Dhamma dan Sangha sebagai Tiratana adalah bentuk kesucian yang tertinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia biasa dan oleh karena itu diajarkan sebagai perlindungan yang tertinggi oleh Sang Buddha.

Buddha Dhamma dan Sangha atau Tiratana adalah manifestasi, perwujudan, pengejawantahan dari Ketuhanan Yang Mahaesa dalam alam semesta ini, yang dipuja dan dianut oleh seluruh umat Buddha di dunia ini.

  1. Aspek perasaan yang berlandaskan aspek pengertian di atas, dan mengandung unsur-unsur keyakinan, pengabdian dan cinta kasih.

Pengertian akan adanya perlindungan memberikan keyakinan yang kokoh dalam diri sendiri serta menghasilkan ketenangan dan kekuatan. Pengertian akan perlunya perlindungan mendorong pengabdian yang mendalam kepadanya dan pengertian akan hakekat perlindungan memenuhi bahtin dengan cinta kasih kepada yang maha tinggi, yang memberikan semangat, kehangatan dan kegembiraan.

Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa “berlindung” dalam agama Buddha berarti “suatu tindakan yang sadar, yang bertujuan untuk mencapai pembebasan yang berlandaskan pengertian dan dorongan oleh keyakinan. Atau secara singkat suatu tindakan-tindakan sadar dari pada keyakinan, pengertian dan pengabdian.

Ketiga aspek daripada berlindunga ini sesuai dengan aspek kemauan, aspek pengertian dan aspek perasaan dari bathin manusia. Oleh karena itu untuk mendapatkan pengembangan bathin yang harmonis, ketiga aspek ini harus dipupuk bersama-sama.

Berlindung kepada Tiratana sebagai pengucapan kata-kata belaka tanpa dihayati, berarti kemerosotan dari suatu kebiasaan kuno yang mulia. Perbuatan demikian melenyapkan makna dan manfaat dari perlindungan. Berlindung kepada Tiratana seharusnya merupakan ungkapan dari suatu dorongan bathin yang sungguh-sungguh seperti seseorang yang apabila melihat suatu bahaya besar akan bergegas mencari perlindungan. Orang yang melihat rumahnya terkabar tidak akan memperoleh kesempatan hanya dengan memuja keamanan dan kebebasan di luar tanpa bertindak untuk mencapainya.

Tindakan pertama ke arah keselamatan dan kebebasan ialah dengan berlindung secara benar, yaitu suatu tindakan sadar daripada keyakinan, pengertian dan pengabdian.

Aku berlindung kepada Buddha:

Disamping kita berlindung kepada Buddha Siddharta Gotama, Buddha yang sekarang “Paccuppanna Buddha”, kita berlindung juga kepada Buddha yang telah lampau (Atita Buddha) dan Buddha-Buddha yang akan datang (Anagata Buddha).

Aku berlindung kepada Dhamma:

Yang dimaksud dengan kita berlindung kepada Dhamma adalah berlindung kepada Dhamma yang lampau (Atita Dhamma), Dhamma yang sekarang (Pacuppanna Dhamma), dan Dhamma yang akan datang (Anagata Dhamma).

Aku berlindung kepada Sangha:

Yang dimaksud dengan kata berlindung kepada Sangha adalah berlindung kepada sangha yang lampau (atita Sangha), Sangha yang sekarang (Pacuppanna Sangha), dan Sangha yang akan datang (Anagata Sangha).

Aku tidak mencari perlindungan lain, Sang Buddha, Dhamma dan Sangha pelindungku yang tiada bandingannya, semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini, kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku, secara hikmah dan menundukkan kepala pada kaki yang maha suci aku menghormati beliau semoga Dhamma mengampuni aku dan semoga sangha mengampuni aku.

Demikianlah tulisan ini kami ambil dari buku pengetahuan Dhamma yang mana sangat membantu anda terutama bagi yang belum mengerti sama sekali mengenai perlindungan dalam agama Buddha yang selama ini dianut dan dipercayainya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar