Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Sabtu, 11 September 2010

Pengendalian Melalui Pikiran



Pengendalian Melalui Pikiran
Oleh Ariya Saputra


Dalam kehidupan ini, kita jarang sekali memperhatikan gerak atau jalannya pikiran ini. Memang disaat-saat kita melakukan meditasi, kita mencoba mengarahkan pikiran ini ke satu titik. Tetapi ti saat tidak melakukan meditasi, pikiran begitu cepatnya bergerak. Satu contoh, saat kita memikirkan bahwa besok akan ada ujian tetapi sebentar saja kita sudah memikirkan hal-hal yang lainnya.

Sebenarnya kalau kita memiliki pengendalian diri melalui pikiran atau pikiran ini kita arahkan ke hal-hal yang baik, niscaya problem yang kita punya dapat kita atasi.

Penah saya mendengar bahwa hidup yang cuma sekali ini harus kita senang-senangkan, urusannya cuma senang-senang, berfoya-foya, makan yang enak, pokoknya sesuatu yagn enak, pokoknya sesuatu yang serba wah…! Lho ini khan namanya hanya mengumbar keuasan yang tiada habisnya?! Pikiran, kalau itkda dikendalikan, ia akan menuntut ini dan itu. Apakah dengan bersenang-senang, berfoya-foya, besok kita tak hidup atau sudah tidak perlu makan lagi? Pandangan itu tentu sangat keliru. Hidup ini harus kita isi dengan banyajk berbuat kebajikan, karena kalau kita masih dicenkram oleh lobha, dosa dan moha maka kita masih berputar di lingkaran tumimbal-lahir.

Pernah saya mendengar bahwa tanggal ini, bulan ini, tahun ini akan terjadi kiamat. Orang-orang merasa takut, merasa cemas akan hartanya, sehingga semua hartanya dihabiskan untuk makan sebelum tanggal itu. Namun setelah tanggal itu berlalu, apa yang terjadi? Kecemasan dan ketakutan tetap membayanginya. Karena apa yang mereka cemaskan atau takutkan itu tidak pernah terjadi, kecemasan dan ketakutan lama hilang karena tak terjadi apa-apa tetapi kecemasan dan ketakutan yang baru mengikutinya. Mengapa? Karena hartanya tetalh abis maka mereka cemas dan takut besok makan apa, apa untuk membayar SPP anak-anak? Dan lain-llain, megnapa kejadian itu bisa terhadi? Karena mereka kurang pengendalian diri.

Untuk itulah Sati dan Sampajanna sangat diperlukan; selalu memperhatikan dan mengerti apa yang sekarang kita hadapi. Peperangan dan kekacauan terjadi karena masing-masing pihak saling ngotot mempertahankan pendapatnya, mau memang sendiri, mempertahankan ego; inilah aku, inilah diriku, seakan-akan akulah yang mampu. Bila mereka tidak berprinsip seperti itu maka peperangan dan kekacauan tidak pernah terjadi, karena segala sesuatu ini ditentukan oleh pikiran. Maju mundurnya kehidupan kita, bukan dari orang lain tetapi dari usaha kita, dari bagaimana kita bisa mengendalikan pikiran kita sendiri.

Saya mempunyai seorang teman, dia kos. Karena tidak ada pengendalian diri, tidak dapat membedakan antara di rumah sendiri dengan rumah orang lain, maka yang terjadi, kos di rumah orang lain dianggapnya rumah sendiri. Masalah perbuatan, ucapan , dianggapnya sama. Tetapi kalau kita dapat mengarahkan pikiran ke hal-hal yang baik maka segala ucapan dan perbuatan kita dapat kita kendalikan. Kalau ucapan dan perbuatan kita tidak benar, mana mungkin orang lain akan mempercayai kita.

Kedewasaan maupun ketidakdewsaan bukan ditentukan dari fisik orangnya tetapi dari perbuatannya orang itu. Seorang anak kadang bisa berbuat seperti orang dewasa di dalam pemikiran atau dalam berskipa tetapi ada juga orang dewasa yang bersifat kekanak-kanakan. Memang fisiknya sudah dewasa tetapi segala tindakannya seringkali tanpa perhitungan, apakan ini merugikan atau menguntungkan orang lain.

Begitu pentingnya pengendalian melalui pikiran; kalau kita kurang memperhatikan pikiran kita sendiri kita biarkan ia tanpa kita kendalikan maka yang terjadi adalah kita akan terjerumus ke hal-hal yang kurang baik. Kita sering menganggap barang ini jelek, barang ini bagus, semua itu adalah karena pengaruh pikiran. Bukan kita anti terhadap barang-barang yang bagus tetapi disinilah kebijaksanaan kita mainkan. Orang sakit, orang gemuk, orang kurus, salah satu faktornya adalah pengaruh pikiran. Bahkan kelahiran-kembali selain kamma sebagai salah satu faktornya, juga ditentukan oleh pengaruh pikiran.

Orang yang menjelang kematian, tetapi pikirannya masih dipengaruhi kebodohan maka ia akan terlahir di alam Tiracchana (alam binatang), begitu juga orang yang saat-saat kematiannya masih dipenuhi dengan pikiran lobha maka terlahir di alam peta (setan) atau asura (raksasa). Orang yang disaat-saat kematiannya pikirannya dipenuhi oleh dosa atau kebencian maka ia akan terlahir di alam niraya (neraka).

Marilah kita selalu berbuat kebajikan, mengendalikan pikiran dari yang tidak baik menjadi baik, agar kita bisa merasa bahagia. Dan tingkatkanlah terus kebajikan kita, karena kebahagiaan yang kita dapati di dunia ini masih dapat berubah. Capailah kebahagiaan yang tertinggi, yakni terbebasnya penderitaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


(
Dikutip dari Mutiara Dhamma XIV )

1 komentar:

  1. Apakah mungkin jika kita tidak dpt mengedalikan pikiran kita? sehingga kita membuat karma buruk lewat pikiran tetatapi tidak ada niatnya sama sekali. Apakah karma kita tetap buruk?

    BalasHapus