Tradisi

Therawada (150) Mahayana (24) Vajrayana (9) zen (6)

Kamis, 02 September 2010

Kemanakah Seseorang Akan Melangkah


Kemanakah Seseorang Akan Melangkah

Oleh Raju Anandani


Sayang apabila seseorang telah dilahirkan sebagai manusia tetapi melupakan sama sekali tujuan hidupnya. Begitu asyik menikmati kesenangan inderawi, membaktikan diri kepada hal-hal duniawi, sehingga tidak mempunyai waktu untuk memikirkan yang lain. Sibuk dengan dunai beserta segala daya tariknya, dengan akibat lupa akan muat yang tak dapat dihindarkan itu; serta tetap bersikap demikian walaupun sering melihat bagaimana handai-taulannya satu-persatu pergi untuk tidak kembali lagi. Mereka pergi dengan tangan kosong dan meninggalkan semuanya di dunia ini. Kadang seseorang berpikir bahwa kematian hanya berlaku untuk orang lain dan bukan untuk diri mereka. Mereka terlalu sibuk bekerja dan melupakan siklus lahir dan mati, serta juga tak berusaha berhenti sejenak untuk merenungkannya. Mereka menghamburkan seluruh tenaganya, menjadi budak dari pikirannya dan tertipu oleh keinginannya. Sibuk bekerja dan tidak berhenti sebentar untuk memikirkan tujuan utama hidup manusia.

RUMAH KITA SEDANG TERBAKAR tetapi kita sibuk berusaha MEMADAMKAN API RUMAH ORANG LAIN. Rumah kita sendiri sedang dirampok, tetapi kita sibuk menjaga rumah orang lain. Kita hampir tidak dapat menanggung beban kita yang berat, tetapi kita menjadikan diri sebagai hewan beban buat orang lain. Kita tidak saja menipu diri sendiri melainkan juga dunia.

Pikiran bagaikan bola lampu. Bagaimana terangnya suatu bola lampu, tidak dapat memancarkan cahayanya apabila terbungkus oleh banyak lapisan kain hitam yang tebal. Meskipun ia menyala, ruangan di mana ia beraa tetap gelap gulita. Tetapi pada saat kita mulai melepaskan pembungkusnya maka ruangan akan menjadi semakin terang dan sewaktu pembungkus yang terakhir dibuka, ia akan menjadi terang-menderang. Semua daya upaya dan teknik yang digunakan haruslah ditujukan untuk menaklukkanb pikiran. Setiap agama mempunyai tujuan yang sama dan menekankan betapa pentingnya menaklukkan pikiran. Untuk mengendalikan pikiran seseorang, kadang ia mencoba seribu satu macam cara, sepertiL Berpaling pada pembacaan kitab suci, penyiksaan diri, beribadat, dan mandi di sungai suci, membaca ayat-ayat suci dan buku keagamaan, memberi sedekah dan membuat amalm membakar kemenyan dan api suci, meninggalkan rumah dan mengasinkan diri di hutan berantaram, menyembunyikan diri di gua pengunungan.

Dengan berdisplin, kita memncoba untuk melepaskan keterikatan pikiran dari benda keduniawi, tetapi karena pikiran kita tidak terikat pada sesuatu yang unggul, lebih luhur, maka ia akan memberontak dan melawan serta berbalik ke dunia dengan kekuatan dan kelicikan yang sama seperti semula. Seseorang boleh membisu, meninggalkan sanak keluarga, melarikan diri ke hutan atau gua, meninggalkan pakaian, meninggalkan rumjah dan hidup atas sedekah orang lain, berziarah ke berbagai tempat suci, menjalani penyikasaan diri, namun kalau belum dilatih dengan benar maka pikiarn tetap tidak akan kehilangan kekotoran dan keterikatannya kepada benda-benda duniawi. Karena terjerat dalam kecintaan dan keterikatan pada dunia dan kesenangan duniawi, maka pikiran mengembar tanpa tujuan bagai seekor rusa yang mempunyai kelenjar wangi di pusatnya, tetapi berlari ke sana ke mari di dalam hutan secara membabi-buta guna mencari bau wangi itu. Dengan berlatih meditasi, misalnya meditasi vipassana, kita dapat belajar mengendalikan pikiran. Sila, samadhim dan panna akan membawa kita menuju ke tujuan yang sebenarnya, untuk mendapatkan penerangan sempurna.

Seorang pertapa pernah mengatakan kepada seorang tukang kebun: "Kebunku adalah dunia ini; Ketrampilanku adalah berbuatan baik; Lahanku adalah sila; Kapakku adalah konsentrasi/meditasi; Gagangnya adalah kewaspadaan; Pohon yang kutebas adalah kemelekatan; Dengan ini aku selalu bisa menebas dan memutuskan pohon kemelekatan dan menuai hasilnya"...

Beliau juga pernah mengatakan: "Meditasi yang berbaik adalah kesabaran; Kebahagiaan yang terbaik adalah kepuasan; Kejahatan yang terburuk adalah keserakahan; Kebaikan yang terbaik adalah belas kasihan; Senjata yang tercanggih adalah mengampuni.

Seseorang yang menanam padi, akan memanen padi; Seseorang yang menanam racun, tidak dapat mengharapkan akan memanen madu".....

Untuk menempuh kebenaran dan menjalani Dhamma, terutama di zaman sekarang, tentu saja banyak rintangan dan godaan.

Socrates harus terpaksa meminum racun karena mengatakan kebenaran

Galileo harus menderita karena berani mengatakan bahwa bumi ini berbentuk seperti bola....

Mahatma Gandi ditembak karena mengusahakan perdamaian.....

Sang Buddha pernah berkata, "Saya tidak bertentangan dengan dunia, namun dunialah yang bertentangan dengan saya"....

Seorang filsuf pernah menuliskan empat peraturan yang sederhana:

  1. Sederhana dalam berpakaian, makanan, dan cara hidup setiap hari

  2. Bersikap suci dalam hidup, seperti bunga teratai yang tak ternoda oleh lumpur

  3. Berdoa dan bermeditasilah setiap saat seperti bunga Diasy yang selalu menghadap ke matahari

  4. Bersiap diri untuk mengabdi dan menolong kepada sebanyak mungkin orang yang anda jumpai.

Bunga Padma mempunyai akar yang berada di dalam air, namun ia tetap kering.... Sebuah perahu harus masuk ke dqalam air untuk berlayar ke tujuan, tetapi air tidak boleh masuk ke dalam perahu karena ia akan tenggelam.....

Contoh yang mudah, kita dapat menjumpai kehidupan yang kontras di India, di masa industri nuklir. Stasiun angkasa luar yang sedang bekerja mengirimkan sunyal-sinyak ke makhluk-makhluk nagkasa-luar di planet-planet lain, berada berdampingan denga kuil-kil di mana para pendeta membacakan mantera-mantera kuni yang telah berusia ribuan tahun lamannya. Para ilmuwan dan pendeta dapat hidup rukun.

Kita harus selalu bercermin pada ajaran-ajaran luhur Sang Buddha dan mempraktekkan Dhamma dengan sungguh-sungguh walaupun lingkungan tidak mendukung. Sang Buddha bersabda, "Siapa yang melihat Aku, melihat Dhamma; siapa yang melihat Dhamma, melihat Aku".....

Akhir kata, seorang penyari pernah menuliskan:

"Apabila Dhamma adalah angin, aku akan menjadi awan; melayang melewati langit, menunju "Pembebasan".

Apabila Dhamma adalah lautan, aku akan menjadi kapal lalu, menyebrangi lautan Dhamma, menuju pelabuhan "penerangan sempurna", terbebaskan dari belenggu tumibal-lahir.

Apabila Dhamma adalah bulan purnama, aku akan menjadi bintang yang jatuh; terjatuh bersujud di bawah pohon Bodhi, agar manusia mempraktekkannya.

Apabila Dhamma adalah sinar, aku akan menjadi cerminl mereflesikan pantulannya ke jalan spiritual, memancarkan cinta kasih yang universal.

Aku akan tetap menjadi, membagi apa yang di anugerahkan Dhamma kepadaku.

Dhammaku yang luhur, aku akan tetap mengikutinya"......


[
Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar